Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Biomassa dan Karbon dibawah Permukaan Tanah Tegakan Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) pada Lahan Agroforestry Fitriyanti Kaliky; Syarif Ohorella
Jurnal Agrohut Vol 2 No 2 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i2.18

Abstract

Dalam menghitung jumlah massa karbon pada pohon sengon sering ditemui kesulitan khususnya dalam menghitung massa karbon bagian akar karena letaknya yang berada di bawah tanah. Oleh karena itu diperlukan metode tertentu untuk menduga massa karbon dalam akar pohon. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengukur kandungan biomassa yang terdapat pada akar sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), (2) Menduga potensi karbon di bawah permukaan tanah (below ground) tegakan sengon pada lahan agroforestri. Pengukuran biomassa dilakukan dengan metode destructive yaitu melakukan perusakan terhadap pohon. Pohon yang akan ditebang adalah 2 pohon pada kelas diameter > 30 cm dan < 10 cm. Komponen biomassa yang akan diukur adalah leher akar, akar tunggang dan akar lateral. Masing- masing komponen dibagi menjadi sub-sub sampel dan masing sub sampel diambil sebagian untuk dijadikan sampel berat kering (dikeringkan). Potensi kandungan biomassa total below ground dari 18 tegakan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) yang di peroleh adalah sebesar 0,370 ton/ha. Dari potensi biomassa yang telah diperoleh, kemudian diubah kedalam bentuk karbon (ton C/ha) yaitu dengan mengalikan nilai biomassa dengan factor konversi sebesar 0,5 (Brown, 1997), sehingga di peroleh kandungan karbon below ground tegakan sengon pada lahan agroforestri seluas 3 hektar adalah sebesar 0,185 ton C/ha.
Kajian Kandungan Bahan Organik Tanah yang tersimpan pada Lahan Agroforestri dengan Sistem Tebas dan Bakar (Slash and Burn) Syarif Ohorella; Rudi Hilmanto
Jurnal Agrohut Vol 2 No 2 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i2.19

Abstract

Dalam menghitung jumlah massa karbon pada pohon sengon sering ditemui kesulitan khususnya dalam menghitung massa karbon bagian akar karena letaknya yang berada di bawah tanah. Oleh karena itu diperlukan metode tertentu untuk menduga massa karbon dalam akar pohon. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengukur kandungan biomassa yang terdapat pada akar sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), (2) Menduga potensi karbon di bawah permukaan tanah (below ground) tegakan sengon pada lahan agroforestri. Pengukuran biomassa dilakukan dengan metode destructive yaitu melakukan perusakan terhadap pohon. Pohon yang akan ditebang adalah 2 pohon pada kelas diameter > 30 cm dan < 10 cm. Komponen biomassa yang akan diukur adalah leher akar, akar tunggang dan akar lateral. Masing-masing komponen dibagi menjadi sub-sub sampel dan masing sub sampel diambil sebagian untuk dijadikan sampel berat kering (dikeringkan). Potensi kandungan biomassa total below ground dari 18 tegakan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) yang di peroleh adalah sebesar 0,370 ton/ha. Dari potensi biomassa yang telah diperoleh, kemudian diubah kedalam bentuk karbon (ton C/ha) yaitu dengan mengalikan nilai biomassa dengan factor konversi sebesar 0,5, sehingga di peroleh kandungan karbon below ground tegakan sengon pada lahan agroforestri seluas 3 hektar adalah sebesar 0,185 ton C/ha
Inventarisasi Biomassa Komponen Vegetasi Untuk Membangun Persamaan Allometrik (Studi Kasus pada Tanaman Agroforestry Dusun di Maluku) Syarif Ohorella; Fitriyanti Kaliky
Jurnal Agrohut Vol 2 No 1 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i1.23

Abstract

Untuk mendukung aktifitas pengurangan emisi maka melalui program Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) perlu dilakukan pengukuran cadangan karbon pada berbagai tipe lahan, salah satu diantaranya yaitu lahan yang dikelolah oleh masyarakat dengan pola agroforestri dusun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persamaan allometrik untuk menduga biomassa tanaman dengan parameter diameter setinggi dada (dbh) dalam rangka membantu pemerintah daerah mempersiapkan agenda akademik terkait Program REDD++ di Maluku serta pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang karbon hutan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode destruktif sampling dengan pemilihan pohon sampel secara purposive dan dipilih 3 sampel pohon pala dengan diameter setinggi dada (dbh) yang berbeda namun berumur sama yaitu 27 tahun yang mewakili tegakan pala pada lahan agroforestri dusun di desa Liang Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh persamaan allometrik untuk mengestimasi kandungan biomassa batang pada tanaman pala (Miristica pragrans) di lahan agroforestri dusun yaitu B.batang = 0,456 dbh4,542 (kg/pohon) (R2 0,918) dan kandungan biomassa akar (below ground) adalah B.akar = 7,359 dbh2,889 (kg/pohon) (R2 0,996). Angka Biomass Expansion Factor (BEF) adalah 1,94 dan angka Root to shoot ratio (R/S) adalah 0,08.
Sifat Fisis Kayu Bintangur (Calophyllum Soulattri Brum.f.) Asal Makbon Kota Sorong Wahidin Wahidin; Ponisri Ponisri; Syarif Ohorella
Jurnal Agrohut Vol 11 No 2 (2020): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v11i2.34

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi kerapatan dan kadar air basah berdasarkan posisi vertikal dan horisontal. Kayu bintangur dipilih dari tegakan yang baik dan tanpa cacat dan ditebang sebanyak 2 pohon. Setelah ditebang, kemudian dibuat contoh uji dari bagian bawah, tengah dan ujung batang. Bagian bawah berjarak 50 cm dari tanah, sedangkan jarak dari bagian bawah ke bagian tengah dan bagian tengah ke bagian ujung masing-masing adalah 4 meter. Contoh uji dipotong berbentuk disk dengan tebal 15 cm dan segera dianalisis kadar air dan berat jenisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air basah kayu bintangur bagian gubal lebih tinggi dibandingkan teras. Bagian bawah batang memiliki kadar air basah yang lebih tinggi dibandingkan bagian ujung. Sementara itu, berat jenis bagian gubal lebih rendah dibandingkan dengan teras. Berat jenis kayu teras menunjukkan kenaikan dari bagian atas batang ke bawah dan fenomena tersebut juga ditemukan pada bagian kayu gubal.
Etnobotani Masyarakat Dalam Pemanfaatan Serat Kulit Melinjo Sebagai Bahan Baku Pembuatan Noken Di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat azis maruapey; Ponisri Ponisri; Syarif Ohorella
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v12i2.963

Abstract

Tas rajutan tangan rakyat Papua, Noken, telah resmi masuk dalam daftar UNESCO warisan budaya. Pengakuan UNESCO akan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken. Inskripsi UNESCO ini membuat kami melakukan penelitian etnobotani pembuatan Noken oleh masyarakat di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui etnobotani dan pengetahuan lokal (local knouwledge) masyarakat dalam memanfaatkan serat kulit pohon Melinjo, proses dan kriteria pengambilan bahan baku serta proses pembuatan Noken oleh masyarakat di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat.  Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan wawancara semi struktural (semi structural interview). Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan etnobotani pemanfaatan serat kulit pohon Melinjo dan disajikan dalam bentuk gambar.Hasil menunjukkan bahwa pemanfaatan serat kulit pohon Melinjo untuk pembuatan Noken oleh masyarakat Kampung Esyo ,,,,,’Distrik Aifat Kabupaten Maybrat, dengan memanfaatkan serat kulit pohon Melinjo dengan ukuran diameter antara 10 - 20 cm. Proses pengambilan serat dengan cara ditebang dan menguliti pohon tersebut. Perlakuan bahan baku melalui perendaman, penjemuran, penghalusan dan pewarnaan dengan maksud agar serat kulit kayu tidak cepat rusak dan lebih tahan lama (awet). Proses pembuatan Noken mengikuti pola sulaman dan anyaman, yang disesuaikan dengan pola dan ukuran Noken yang diinginkan. Pemberian warna Noken memakai pewarna alami dengan memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan anggrek alam. Proses perajutan Noken dilakukan pada saat santai atau istirahat, tempat perajitan Noken bisa di rumah, pasar atau tempat pertemuan di kampung.
Analysis of Biomass Content of Bottom Plants and Biomass Litter on Agroforestry Land with Slash and Buring System Syarif Ohorella; Mira Herawati Soekamto
Tropical Small Island Agriculture Management Vol 1 No 2 (2021): Tropical Small Island Agriculture Management
Publisher : Pattimura University Ambon Maluku Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.652 KB) | DOI: 10.30598/tsiam.2021.1.2.99

Abstract

In this land use, humans act as ecosystem regulators, namely by getting rid of components that he considers useless or by developing features that are expected to support their land use (Mather, 1986; Gandasasmita, 2018), which is a residue and others that can increase soil fertility levels such as soil organic matter, biomass, and necromass. This study aims to measure the biomass content of lower plants and litter biomass on agroforestry land with a slash and burn system. Before and after the combustion process, the ten soil samples showed more C-organic content before the combustion treatment, with a total C-organic of 8.16% - 7.8% = 0.36% C-organic released. The organic matter available before burning is more when compared to after burning, which is 14.05% - 13.43% = 0.62% of the organic matter released. Biomass litter contained wet weight 2500g – 3910g dry weight = -1410 grams of carbon emitted.
Nilai Kepentingan Budaya Keanekaragamaan Jenis Sayuran Indegenous Dalam Kehidupan Masyarakat di Kampung Sire Distrik Mare Timur Kabupaten Maybrat Papua Barat Azis Maruapey; Syarif Ohorella; Sedek Karepesina
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.119

Abstract

Sayuran indigenous adalah sayuran asli suatu daerah di Indonesia yang berasal dari daerah atau ekosistem tertentu. Sayuran indigenous merupakan salah satu sumberdaya hayati yang kaya manfaat dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sayuran alternative. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan telaah informasi dan dokumentasi dari masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara terhadap masyarakat melalui Focus Group Disscusion (FGD) dan observasi lapangan. Jenis jenis sayuran indegenous yang penting dalam kehidupan budaya masyarakat di Kampung Sire Distrik Mare Timur Kabupaten Maybrat ditemukan sebanyak 10 (sepuluh) jenis antara lain Melinjo, Rebung, Paku, Pakis, Kecipir, Labu, Buah merah, Jamur, Gohi dan Gedi. Nilai penting sayuran indegenous berdasarkan nilai manfaat tertinggi ada pada jenis Melinjo (1,34), Paku (1,2) dan Gohi (1,2). Ini membuktikan bahwa jenis sayuran indegenous ketiga jenis tersebut sangan bermanfaat bagi kehidpan masyarakat di Kampung Sire sebagai pangan sayuran alternatif. Nilai Kepentingan Budaya (Index of Cultural Significanse / ICS) jenis sayuran indegenous yang teringgi ada pada jenis Melinjo yakni dengan nilai ICS sebesar 96, sehingga dapat dijelaskan bahwa jenis sayuran indegenous Melinjo tersebut memiliki nilai kepentingan budaya yang tinggi dalam hal nilai intensitas dan nilai eklusifitas bagi kehidupan masyarakat di Kampung Sire.
Efektifitas dan Potensi Fungi Mikoriza Arbuskula dari Bawah Tegakan Jati Ambon (Tectona grandis Linn F) Sedek Karepesina; Syarif Ohorella; Kamaruddin Kamaruddin
Jurnal Agrohut Vol 12 No 2 (2021): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v12i2.132

Abstract

Jati adalah tanaman dengan daur panjang dan masuk kategori kayu Istimewa. Oleh karena itu diperlukan pengembangan teknik budidaya untuk memperoleh benih yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis FMA yang efektif dan potensial untuk pertumbuhan bibit jati Ambon. Penelitian ini dilaksanakan dengan mencoba faktor tunggal dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), yaitu inokula tanah Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terdiri dari 6 taraf (0 g, 10 g, 20 g, 30 g, 40 g, 50 g). Pengamatan dilakukan terhadap pertambahan tinggi, diameter, jumlah daun, kekeringan total biomassa, rasio pucuk-akar, dan persen infeksi akar. Hasil penellitian menunjukkan bahwa efektivitas dan potensi inokulum tanah FMA dari dosis 50 gram sangat baik dan dapat meningkatkan pertambahan tinggi, diameter, jumlah daun, kekeringan tanaman biomassa, rasio pucuk-akar, persen infeksi akar bibit jati Ambon.
Potensi Pohon pada Petak Ukur Permanen di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Model Wae Tina Desa Wamkana, Kabupaten Buru Selatan Solikin Solikin; Syarif Ohorella; Fitriyanti Kaliky
Jurnal Agrohut Vol 12 No 2 (2021): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v12i2.144

Abstract

Inventarisasi pohon pada suatu kawasan dilakukan untuk minimal dua tujuan, pertama adalah melihat proses regenerasi pohon dan yang kedua adalah persiapan kegiatan penebangan. Penelitian ini dilakukan pada kawasan petak ukur permanen (PUP) Kesatuan Pengelolan Hutan (KPH) Model Wae Tina. Lokasinya di Desa Wae Tina, Kabupaten Buru Selatan. Tujuannya adalah untuk melihat potensi pohon yang terdapat di kawasan tersebut. Metode yang digunakan adalah analisis vegetasi dan mengukur diameter, tinggi, azimut dan jarak antar pohon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga jenis pohon dominan adalah kayu Meranti (Shorea selanica), Kayu Sapin (Castanopsis buruana), Kayu Merah (Eugenia sp). Volume masing-masing pohon tersebut masing-masing adalah 101,43 m3, 22,54 m3 dan 7,07 m3. Dominasi ketiga jenis ini dan beberapa jenis tumbuhan lain yang ditemukan disebabkan karena faktor iklim dan jenis tanah yang memadai.
Kelembagaan Lokal Masyarakat Suku Maybrat Kampung Kamisabe Dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan Inawati Irnawati; Syarif Ohorella; Nurhidaya Nurhidaya
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.095 KB) | DOI: 10.33506/md.v14i2.1936

Abstract

Sistem pengusahaan Hutan Alam dalam prakteknya, masyarakat memiliki perangkat hukum yaitu berupa aturan-aturan adat yang sangat baik dalam mengatur status penguasaan/kepemilikkan lahan hutan, sampai dengan mengelola hasil-hasil tanaman ”tertentu” yang diusahakannya. Di Kampung Kamisabe Distrik Muswaren, untuk status kepemilikan sumberdaya lahan di hutan Alam, sejak dulu telah diatur secara adat berdasarkan masing-masing kelompok marga atau yang yakni suatu kesatuan kekerabatan masyarakat yang terdiri dari beberapa rumah tangga dengan memakai nama keluarga berupa marga yang sama di dalam suatu wilayah perkampungan. Penelitian ini bertujuan untuk Mengkaji bentuk dan peran kelembagaan adat masyarakat dalam mengatur dan mengelola sumberdaya hutan. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sistem Kelembagaan Adat dalam pengelolaan Sumberdaya Hutan. Penelitian ini di rancang dengan menggunakan metode studi kasus dengan beberapa teknik pengumpulan data yakni melalui : Wawancara individual (individual interview), pengamatan terlibat (participant observation), dan diskusi kelompok terfokus (focused group discussion). Hasil penelitian menunjukan bahwa Masyarakat Kampung Kamisabe memiliki sistem kekerabatan masyarakat yang terdiri dari kesatuan-kesatuan geneologis yang berperan dalam pengaturan pengelolaan sumberdaya hutan termasuk Tanah dan Air didasarkan pada teritorial geneologis. Pengelolaan hasil-hasil Hutan diatur melalui sistem Kelembagaan Adat yang berlaku di wilayah Kelembagaan Adat yang diselenggarakan oleh Kepala Pemerintah Kelembagaan Adat dan para dewan Kelembagaan Adat kampung melalui musyawarah Kelembagaan Adat di tingkat Kampung.