Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Physical and Mechanical Properties of Samama Wood (Antocephalus macropylus Roxb.) Grown in Mollucas Island Tekat D Cahyono; Syarif Ohorella; Fauzi Febrianto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.039 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v10i1.123

Abstract

People are less interest to the fast growing species since the quality is inferior compared to commercial wood. A research has been done to identify the physical and mechanical properties of samama wood (Antocephalus macrophylus (Roxb.)) from Mollucas island. Eight years old samama wood with diameter of 30 - 45 cm and height of 8 – 11 meter were used as samples. The parameters measured were moisture content (MC), specific gravity (SG), tangential and radial shrinkages, bending strength (MOR and MOE), tension and compression strengths parallel to grain and hardness. The result showed that the MC of samama wood decreased from bottom to upper and from outer to inner parts, while SG decreased from bottom to upper and from inner to outer part. Tangential and radial shrinkages of samama wood were much affected by vertical position. The MOE and MOR of samama wood decreased from bottom to upper part, while tension and compression strengths parallel to grain direction decreased form inner to outer part. On the other hand, hardness of samama wood decreased from bottom to upper and from inner to outer parts. Based on PKK NI5-1961 classification, samama wood belonged to strength class of III and IV.Key words: mechanical properties, Mollucas Island, physical properties, samama wood
Some Chemical Properties and Natural Durability of Samama Wood (Antocephalus macrophylus Roxb.) against Subterranean Termite Tekat D Cahyono; Syarif Ohorella; Fauzi Febrianto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.59 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v10i2.116

Abstract

Samama wood (Antocephalus macrophylus Roxb.) is an endemic wood of Sulawesi and Moluccas. This wood belongs to the 3rd class of wood strength. However, its natural durability against termite attack is still unknown. Therefore, the research about its extractives, ash content, heating value, and natural durability is paramount to appropriate usage of the wood. The samples were prepared from samama wood with diameter and height of 30-45 cm and 8.2-11.4 m, respectively. The results indicated that the extractive solubility in hot water, cold water and ethanol benzene were 7.83, 3.86, and 4.47%, respectively. The ash content was 1.31%, meanwhile the heating value was 4059 cal g-1. Based on its weight loss value, according to SNI 01-7207-2006 standard, the natural durability of samama wood against subterranean termite (Coptotermes curvignathus) is classified as in the 2nd class.Key words : Antocephalus macrophylus, extractives, heating value, natural durability, subterranean termite
Physical and Mechanical Properties of Samama Wood Glulam Tekat D Cahyono; Syarif Ohorella; Fauzi Febrianto; Trisna Priadi; Imam Wahyudi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.208 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v12i2.74

Abstract

In the present research, four types of samama wood (Anthocephallus macrophyllus) glulam of (3 x 6 x 120) cm3 (thickness, width, length) in size were prepared. Two types of glulam were assembled with the same thickness of lamina and two other types were assembled with lamina of different thickness. The result showed that the average moisture content and densities of the glulam were of 12.48% and 0.41, respectively. The MOE, MOR, and shear strength of the glulam were in the average of 6.08 GPa, 33.06 MPa, 30.08 kg cm-2, respectively. The highest MOE and MOR were obtained by the D type glulam. All types of the produced glulam contributed to the increase of MOE and MOR by 31 and 23% of those of its solid wood, respectively.Keywords: glulam, mechanical properties, physical properties, samama wood
Sifat Fisis Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) pada Lahan Agroforestry di Ambon, Maluku Irfan Lessy; Syarif Ohorella; Sedek Karepesina
Jurnal Agrohut Vol 9 No 1 (2018): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v9i1.13

Abstract

Sifat-sifat kayu penting sekali dalam industri pengolahan kayu. Dengan mengetahui sifat tersebut, tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis tersebut sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal. Kayu sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) merupakan salah satu spesies pohon yang penting dalam pembangunan HTI di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis kayu sengon (kadar air, berat jenis, dan penyusutan) yang ada pada lahan agroforestri Dusun Waringin Cap, Maluku. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat variasi berat jenis pada posisi vertikal dan horisontal. Berat jenis dari empulur ke bagian tepi semakin meningkat, sebaliknya tidak ditemukan tren yang sama dari ujung ke pangkal batang. Persentase kadar air rata-rata tertinggi terdapat pada posisi pada ujung batang dengan persentase kadar air sebesar 112,4%. Penyusutan tangensial pada suhu 0°-50° tertinggi berada pada bagian pangkal batang dengan nilai persentase penyusutan sebesar 3,86%. Untuk arah radial, penyusutan tertinggi berada pada bagian pangkal batang adalah 2,99%. Penyusutan tangensial tertinggi pada suhu 50° - 100° berada pada bagian tepi batang dengan nilai sebesar 2,90%. Untuk arah radial, penyusutan tertinggi ditemukan pada pangkal batang dengan nilai persentase penyusutan sebesar 2,83%.
Biomassa dan Karbon dibawah Permukaan Tanah Tegakan Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) pada Lahan Agroforestry Fitriyanti Kaliky; Syarif Ohorella
Jurnal Agrohut Vol 2 No 2 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i2.18

Abstract

Dalam menghitung jumlah massa karbon pada pohon sengon sering ditemui kesulitan khususnya dalam menghitung massa karbon bagian akar karena letaknya yang berada di bawah tanah. Oleh karena itu diperlukan metode tertentu untuk menduga massa karbon dalam akar pohon. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengukur kandungan biomassa yang terdapat pada akar sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), (2) Menduga potensi karbon di bawah permukaan tanah (below ground) tegakan sengon pada lahan agroforestri. Pengukuran biomassa dilakukan dengan metode destructive yaitu melakukan perusakan terhadap pohon. Pohon yang akan ditebang adalah 2 pohon pada kelas diameter > 30 cm dan < 10 cm. Komponen biomassa yang akan diukur adalah leher akar, akar tunggang dan akar lateral. Masing- masing komponen dibagi menjadi sub-sub sampel dan masing sub sampel diambil sebagian untuk dijadikan sampel berat kering (dikeringkan). Potensi kandungan biomassa total below ground dari 18 tegakan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) yang di peroleh adalah sebesar 0,370 ton/ha. Dari potensi biomassa yang telah diperoleh, kemudian diubah kedalam bentuk karbon (ton C/ha) yaitu dengan mengalikan nilai biomassa dengan factor konversi sebesar 0,5 (Brown, 1997), sehingga di peroleh kandungan karbon below ground tegakan sengon pada lahan agroforestri seluas 3 hektar adalah sebesar 0,185 ton C/ha.
Kajian Kandungan Bahan Organik Tanah yang tersimpan pada Lahan Agroforestri dengan Sistem Tebas dan Bakar (Slash and Burn) Syarif Ohorella; Rudi Hilmanto
Jurnal Agrohut Vol 2 No 2 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i2.19

Abstract

Dalam menghitung jumlah massa karbon pada pohon sengon sering ditemui kesulitan khususnya dalam menghitung massa karbon bagian akar karena letaknya yang berada di bawah tanah. Oleh karena itu diperlukan metode tertentu untuk menduga massa karbon dalam akar pohon. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengukur kandungan biomassa yang terdapat pada akar sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), (2) Menduga potensi karbon di bawah permukaan tanah (below ground) tegakan sengon pada lahan agroforestri. Pengukuran biomassa dilakukan dengan metode destructive yaitu melakukan perusakan terhadap pohon. Pohon yang akan ditebang adalah 2 pohon pada kelas diameter > 30 cm dan < 10 cm. Komponen biomassa yang akan diukur adalah leher akar, akar tunggang dan akar lateral. Masing-masing komponen dibagi menjadi sub-sub sampel dan masing sub sampel diambil sebagian untuk dijadikan sampel berat kering (dikeringkan). Potensi kandungan biomassa total below ground dari 18 tegakan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) yang di peroleh adalah sebesar 0,370 ton/ha. Dari potensi biomassa yang telah diperoleh, kemudian diubah kedalam bentuk karbon (ton C/ha) yaitu dengan mengalikan nilai biomassa dengan factor konversi sebesar 0,5, sehingga di peroleh kandungan karbon below ground tegakan sengon pada lahan agroforestri seluas 3 hektar adalah sebesar 0,185 ton C/ha
Inventarisasi Biomassa Komponen Vegetasi Untuk Membangun Persamaan Allometrik (Studi Kasus pada Tanaman Agroforestry Dusun di Maluku) Syarif Ohorella; Fitriyanti Kaliky
Jurnal Agrohut Vol 2 No 1 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i1.23

Abstract

Untuk mendukung aktifitas pengurangan emisi maka melalui program Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) perlu dilakukan pengukuran cadangan karbon pada berbagai tipe lahan, salah satu diantaranya yaitu lahan yang dikelolah oleh masyarakat dengan pola agroforestri dusun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persamaan allometrik untuk menduga biomassa tanaman dengan parameter diameter setinggi dada (dbh) dalam rangka membantu pemerintah daerah mempersiapkan agenda akademik terkait Program REDD++ di Maluku serta pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang karbon hutan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode destruktif sampling dengan pemilihan pohon sampel secara purposive dan dipilih 3 sampel pohon pala dengan diameter setinggi dada (dbh) yang berbeda namun berumur sama yaitu 27 tahun yang mewakili tegakan pala pada lahan agroforestri dusun di desa Liang Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh persamaan allometrik untuk mengestimasi kandungan biomassa batang pada tanaman pala (Miristica pragrans) di lahan agroforestri dusun yaitu B.batang = 0,456 dbh4,542 (kg/pohon) (R2 0,918) dan kandungan biomassa akar (below ground) adalah B.akar = 7,359 dbh2,889 (kg/pohon) (R2 0,996). Angka Biomass Expansion Factor (BEF) adalah 1,94 dan angka Root to shoot ratio (R/S) adalah 0,08.
Sifat Fisis Kayu Bintangur (Calophyllum Soulattri Brum.f.) Asal Makbon Kota Sorong Wahidin Wahidin; Ponisri Ponisri; Syarif Ohorella
Jurnal Agrohut Vol 11 No 2 (2020): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v11i2.34

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi kerapatan dan kadar air basah berdasarkan posisi vertikal dan horisontal. Kayu bintangur dipilih dari tegakan yang baik dan tanpa cacat dan ditebang sebanyak 2 pohon. Setelah ditebang, kemudian dibuat contoh uji dari bagian bawah, tengah dan ujung batang. Bagian bawah berjarak 50 cm dari tanah, sedangkan jarak dari bagian bawah ke bagian tengah dan bagian tengah ke bagian ujung masing-masing adalah 4 meter. Contoh uji dipotong berbentuk disk dengan tebal 15 cm dan segera dianalisis kadar air dan berat jenisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air basah kayu bintangur bagian gubal lebih tinggi dibandingkan teras. Bagian bawah batang memiliki kadar air basah yang lebih tinggi dibandingkan bagian ujung. Sementara itu, berat jenis bagian gubal lebih rendah dibandingkan dengan teras. Berat jenis kayu teras menunjukkan kenaikan dari bagian atas batang ke bawah dan fenomena tersebut juga ditemukan pada bagian kayu gubal.
Etnobotani Masyarakat Dalam Pemanfaatan Serat Kulit Melinjo Sebagai Bahan Baku Pembuatan Noken Di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat azis maruapey; Ponisri Ponisri; Syarif Ohorella
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v12i2.963

Abstract

Tas rajutan tangan rakyat Papua, Noken, telah resmi masuk dalam daftar UNESCO warisan budaya. Pengakuan UNESCO akan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken. Inskripsi UNESCO ini membuat kami melakukan penelitian etnobotani pembuatan Noken oleh masyarakat di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui etnobotani dan pengetahuan lokal (local knouwledge) masyarakat dalam memanfaatkan serat kulit pohon Melinjo, proses dan kriteria pengambilan bahan baku serta proses pembuatan Noken oleh masyarakat di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat.  Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan wawancara semi struktural (semi structural interview). Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan etnobotani pemanfaatan serat kulit pohon Melinjo dan disajikan dalam bentuk gambar.Hasil menunjukkan bahwa pemanfaatan serat kulit pohon Melinjo untuk pembuatan Noken oleh masyarakat Kampung Esyo ,,,,,’Distrik Aifat Kabupaten Maybrat, dengan memanfaatkan serat kulit pohon Melinjo dengan ukuran diameter antara 10 - 20 cm. Proses pengambilan serat dengan cara ditebang dan menguliti pohon tersebut. Perlakuan bahan baku melalui perendaman, penjemuran, penghalusan dan pewarnaan dengan maksud agar serat kulit kayu tidak cepat rusak dan lebih tahan lama (awet). Proses pembuatan Noken mengikuti pola sulaman dan anyaman, yang disesuaikan dengan pola dan ukuran Noken yang diinginkan. Pemberian warna Noken memakai pewarna alami dengan memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan anggrek alam. Proses perajutan Noken dilakukan pada saat santai atau istirahat, tempat perajitan Noken bisa di rumah, pasar atau tempat pertemuan di kampung.
Analysis of Biomass Content of Bottom Plants and Biomass Litter on Agroforestry Land with Slash and Buring System Syarif Ohorella; Mira Herawati Soekamto
Tropical Small Island Agriculture Management Vol 1 No 2 (2021): Tropical Small Island Agriculture Management
Publisher : Pattimura University Ambon Maluku Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.652 KB) | DOI: 10.30598/tsiam.2021.1.2.99

Abstract

In this land use, humans act as ecosystem regulators, namely by getting rid of components that he considers useless or by developing features that are expected to support their land use (Mather, 1986; Gandasasmita, 2018), which is a residue and others that can increase soil fertility levels such as soil organic matter, biomass, and necromass. This study aims to measure the biomass content of lower plants and litter biomass on agroforestry land with a slash and burn system. Before and after the combustion process, the ten soil samples showed more C-organic content before the combustion treatment, with a total C-organic of 8.16% - 7.8% = 0.36% C-organic released. The organic matter available before burning is more when compared to after burning, which is 14.05% - 13.43% = 0.62% of the organic matter released. Biomass litter contained wet weight 2500g – 3910g dry weight = -1410 grams of carbon emitted.