Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Nilai Kepentingan Budaya Keanekaragamaan Jenis Sayuran Indegenous Dalam Kehidupan Masyarakat di Kampung Sire Distrik Mare Timur Kabupaten Maybrat Papua Barat Azis Maruapey; Syarif Ohorella; Sedek Karepesina
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.119

Abstract

Sayuran indigenous adalah sayuran asli suatu daerah di Indonesia yang berasal dari daerah atau ekosistem tertentu. Sayuran indigenous merupakan salah satu sumberdaya hayati yang kaya manfaat dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sayuran alternative. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan telaah informasi dan dokumentasi dari masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara terhadap masyarakat melalui Focus Group Disscusion (FGD) dan observasi lapangan. Jenis jenis sayuran indegenous yang penting dalam kehidupan budaya masyarakat di Kampung Sire Distrik Mare Timur Kabupaten Maybrat ditemukan sebanyak 10 (sepuluh) jenis antara lain Melinjo, Rebung, Paku, Pakis, Kecipir, Labu, Buah merah, Jamur, Gohi dan Gedi. Nilai penting sayuran indegenous berdasarkan nilai manfaat tertinggi ada pada jenis Melinjo (1,34), Paku (1,2) dan Gohi (1,2). Ini membuktikan bahwa jenis sayuran indegenous ketiga jenis tersebut sangan bermanfaat bagi kehidpan masyarakat di Kampung Sire sebagai pangan sayuran alternatif. Nilai Kepentingan Budaya (Index of Cultural Significanse / ICS) jenis sayuran indegenous yang teringgi ada pada jenis Melinjo yakni dengan nilai ICS sebesar 96, sehingga dapat dijelaskan bahwa jenis sayuran indegenous Melinjo tersebut memiliki nilai kepentingan budaya yang tinggi dalam hal nilai intensitas dan nilai eklusifitas bagi kehidupan masyarakat di Kampung Sire.
Efektifitas dan Potensi Fungi Mikoriza Arbuskula dari Bawah Tegakan Jati Ambon (Tectona grandis Linn F) Sedek Karepesina; Syarif Ohorella; Kamaruddin Kamaruddin
Jurnal Agrohut Vol 12 No 2 (2021): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v12i2.132

Abstract

Jati adalah tanaman dengan daur panjang dan masuk kategori kayu Istimewa. Oleh karena itu diperlukan pengembangan teknik budidaya untuk memperoleh benih yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis FMA yang efektif dan potensial untuk pertumbuhan bibit jati Ambon. Penelitian ini dilaksanakan dengan mencoba faktor tunggal dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), yaitu inokula tanah Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terdiri dari 6 taraf (0 g, 10 g, 20 g, 30 g, 40 g, 50 g). Pengamatan dilakukan terhadap pertambahan tinggi, diameter, jumlah daun, kekeringan total biomassa, rasio pucuk-akar, dan persen infeksi akar. Hasil penellitian menunjukkan bahwa efektivitas dan potensi inokulum tanah FMA dari dosis 50 gram sangat baik dan dapat meningkatkan pertambahan tinggi, diameter, jumlah daun, kekeringan tanaman biomassa, rasio pucuk-akar, persen infeksi akar bibit jati Ambon.
Potensi Pohon pada Petak Ukur Permanen di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Model Wae Tina Desa Wamkana, Kabupaten Buru Selatan Solikin Solikin; Syarif Ohorella; Fitriyanti Kaliky
Jurnal Agrohut Vol 12 No 2 (2021): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v12i2.144

Abstract

Inventarisasi pohon pada suatu kawasan dilakukan untuk minimal dua tujuan, pertama adalah melihat proses regenerasi pohon dan yang kedua adalah persiapan kegiatan penebangan. Penelitian ini dilakukan pada kawasan petak ukur permanen (PUP) Kesatuan Pengelolan Hutan (KPH) Model Wae Tina. Lokasinya di Desa Wae Tina, Kabupaten Buru Selatan. Tujuannya adalah untuk melihat potensi pohon yang terdapat di kawasan tersebut. Metode yang digunakan adalah analisis vegetasi dan mengukur diameter, tinggi, azimut dan jarak antar pohon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga jenis pohon dominan adalah kayu Meranti (Shorea selanica), Kayu Sapin (Castanopsis buruana), Kayu Merah (Eugenia sp). Volume masing-masing pohon tersebut masing-masing adalah 101,43 m3, 22,54 m3 dan 7,07 m3. Dominasi ketiga jenis ini dan beberapa jenis tumbuhan lain yang ditemukan disebabkan karena faktor iklim dan jenis tanah yang memadai.
Kelembagaan Lokal Masyarakat Suku Maybrat Kampung Kamisabe Dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan Inawati Irnawati; Syarif Ohorella; Nurhidaya Nurhidaya
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.095 KB) | DOI: 10.33506/md.v14i2.1936

Abstract

Sistem pengusahaan Hutan Alam dalam prakteknya, masyarakat memiliki perangkat hukum yaitu berupa aturan-aturan adat yang sangat baik dalam mengatur status penguasaan/kepemilikkan lahan hutan, sampai dengan mengelola hasil-hasil tanaman ”tertentu” yang diusahakannya. Di Kampung Kamisabe Distrik Muswaren, untuk status kepemilikan sumberdaya lahan di hutan Alam, sejak dulu telah diatur secara adat berdasarkan masing-masing kelompok marga atau yang yakni suatu kesatuan kekerabatan masyarakat yang terdiri dari beberapa rumah tangga dengan memakai nama keluarga berupa marga yang sama di dalam suatu wilayah perkampungan. Penelitian ini bertujuan untuk Mengkaji bentuk dan peran kelembagaan adat masyarakat dalam mengatur dan mengelola sumberdaya hutan. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sistem Kelembagaan Adat dalam pengelolaan Sumberdaya Hutan. Penelitian ini di rancang dengan menggunakan metode studi kasus dengan beberapa teknik pengumpulan data yakni melalui : Wawancara individual (individual interview), pengamatan terlibat (participant observation), dan diskusi kelompok terfokus (focused group discussion). Hasil penelitian menunjukan bahwa Masyarakat Kampung Kamisabe memiliki sistem kekerabatan masyarakat yang terdiri dari kesatuan-kesatuan geneologis yang berperan dalam pengaturan pengelolaan sumberdaya hutan termasuk Tanah dan Air didasarkan pada teritorial geneologis. Pengelolaan hasil-hasil Hutan diatur melalui sistem Kelembagaan Adat yang berlaku di wilayah Kelembagaan Adat yang diselenggarakan oleh Kepala Pemerintah Kelembagaan Adat dan para dewan Kelembagaan Adat kampung melalui musyawarah Kelembagaan Adat di tingkat Kampung.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Sosialisasi Pemanfaatan Lahan dengan Sistem Agroforestry di Kampung Della Kabupaten Tambrauw Ihsan Febriadi; Syarif Ohorella; Fajrianto Saeni; Muharuddin
Abdimas: Papua Journal of Community Service Vol. 5 No. 1 (2023): Januari
Publisher : LP3M Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/pjcs.v5i1.2167

Abstract

Aktivitas perladangan berpindah merupakan bagian dari kearifan local masyarakat Della, namun juga memberikan dampak pada lingkungan. Permasalahan ini terjadi karena: sikap apatis masyarakat kampung Della yang tidak mau memanfaatkan lahan-lahan bekas perladangan, karena dianggap mengurangi kualitas produksinya, Minimnya informasi yang diterima masyarakat terkait pemanfaatan lahanlahan bekas perladangan berpindah, kurangnya pemahaman masyarakat dalam pengelolaan lahan dengan menggunakan model agroforestry serta penerapannya di lahan, dan Pengetahuan masyarakat dalam menanam komoditi yang diusahakan masih sangat terbatas sehingga menyebabkan pendapatan yang diterima masyarakat Kampung Della masih tergolong rendah. Sosialisasi dilakukan dengan tahapan survey kondisi lahan untuk mengetahui kondisi tanah, jenis tanah dan PH tanah yang akan digunakan sebagai referensi pada tahap sosialisasi. Dari hasil evaluasi yang dilakukan  terdapat peningkatan antara (5-60 %). Dengan diterapkannya sistem Agroforestri di Kampung Della Distrik Selemkai Kabupaten Tambrauw, diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumberdaya hutan dalam melakukan fungsinya secara optimal dan berkesinambungan terhadap pola budidaya lahan, mampu memberdayakan masyarakat Kampung Della dalam peningkatan pola pikir dalam memanfaatkan potensi daerahnya serta meningkatkan mutu pertanian dengan aplikasi system agroforestri secara berkelanjutan.  
Peningkatan Hardskill Guru SMA Al-Amin Muhammadiyah Kota Sorong melalui Pelatihan Teknologi Hidroponik Mira Herawati Soekamto; Reijeng Tabara; Syarif Ohorella; Marlinda Indah Eka Budiarti
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 7 No. 01 (2023): Abdimas Mahakam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v7i01.1976

Abstract

Konsep merdeka belajar sebagai konsep baru kurikulum yang menekankan kepada siswa dengan mengembangkan minat dan bakat serta kemandirian sehingga bisa meningkatkan kualitas siswa. Upaya peningkatan tersebut harus dibarengi dengan peningkatkan tenaga pendidik atau guru, sehingga dapat mencapai tujuan kurikulum merdeka belajar. Melalui kegiatan pelatihan teknologi hidroponik bagi guru-guru akan memberikan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki guru yang dapat disalurkan untuk mengembangkan kreativitas siswa sebagai dasar dalam mengembangkan ilmu dan teknologi. adanya peningkatakan pengetahuan yang dilakukan melalui pretest dan post test tentang teknologi hiroponik pada guru-guru SMA Al-Amin Muhamamdiyah Kota Sorong yang mencakup tingkat pengetahuan pada tahap pembibitan, larutan nutrisi, penanaman, perawatan atau pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit serta panen. Diharapkan agar dilakukan pendampingan untuk dapat lebih meningkatkan ketrampilan pada berbagai jenis tanaman yang dapat dibudidayakan pada media hidroponik.
Sosialisasi dan Pelatihan Optimalisasi Lahan dengan Metode Agroforestri di Desa Sausapor, Kabupaten Tambrauw Ihsan Febriadi; Syarif Ohorella; Fajrianto Saeni
Abdimas: Papua Journal of Community Service Vol. 5 No. 2 (2023): Juli
Publisher : LP3M Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktek perladangan berpindah menjadi bagian dari tradisi lokal masyarakat Sausapor, tetapi juga membawa dampak buruk pada lingkungan sekitar. Ada beberapa kendala yang menjadi dasar masalah ini, seperti kurangnya informasi yang diterima masyarakat tentang pemanfaatan lahan bekas perladangan berpindah, pemahaman masyarakat yang terbatas dalam pengelolaan lahan dengan metode agroforestri dan implementasinya, serta pengetahuan terbatas dalam menanam berbagai komoditas, yang berakibat pada pendapatan masyarakat yang masih rendah. Sosialisasi dilaksanakan melalui proses survei kondisi lahan untuk mendapatkan data mengenai kondisi tanah, jenis tanah, dan pH tanah yang akan digunakan sebagai acuan dalam tahap sosialisasi. Evaluasi hasil melalui pre-tes dan post-tes dari 32 orang masyarakat, menunjukkan bahwa pengetahuan peserta bisa dibagi menjadi tiga kriteria berdasarkan rata-rata rentang skor. Di kategori baik, ada peningkatan dari 16% menjadi 81%, di kategori cukup ada penurunan dari 25% menjadi 16% dan di kategori kurang, terjadi penurunan yang cukup besar dari 59% menjadi 3%. Berdasarkan data yang didapatkan setelah kegiatan, terdapat peningkatan pengetahuan peserta selama proses sosialisasi berlangsung.
Sengon Biomass Carbon Stock in Tradisonal Agroforestry land Tipe; Climate Change Implication Ohorella, Syarif; Febriadi, Ihsan; Sangadji, Zulkarnaen
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 15 No. 2 (2022): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v15i2.1380

Abstract

This research was conducted on agroforestry land in Kampung Della, Selemkay District, Tambrauw Regency, West Papua. The research objectives were (1) to estimate the biomass and carbon stored potential of sengon stands and (2) to determine the allometric equation of biomass to estimate the carbon stored potential of sengon stands on agroforestry land types. Biomass measurements were carried out using the destructive method on 2 sample trees with a diameter of 32 cm and 12 cm. The components of biomass measured were the above ground biomass, namely stems, branches, twigs and leaves. Laboratory tests were carried out to determine the dry weight of the biomass. From these results an allometric model was created to estimate carbon stocks. The best equation was chosen using regression analysis based on the highest R-Sq value. The results of research on sengon stands showed that there were differences in the carbon content of tree parts (stems, branches, twigs and leaves). The highest carbon content is in the stem and the smallest in the leaves. The total carbon content is 0.3091 ton C/ha. The selected biomass estimation model for sengon stands on the stem section was W = 0.762 D 1.288, the branch section was W = 0.075 D 1.549, the twig section was W = 0.011 D 1.948 and the leaf section was W = -5.379 + 0.485 D. Meanwhile the model selected for total biomass is W = 0.623 D 1.471.
A, of Analisys of Area Function Using a Geographic Information System in the Utilization of the City of Sorong, West Papua: Fungsi Kawasan Menggunakan system Informasi Geografis terhadap pemanfaatan wilayah Kota Sorong Irnawati, Irnawati; Soekamto, Mira Herawati; Ohorella, Syarif
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 16 No. 1 (2023): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v16i1.1476

Abstract

This study aims to determine the physical condition of land use in fact according to the physical condition and condition of the area from the scoring of the rainfall map, slope and soil type overlaid with the 2004 land use map and regional spatial planning. This research uses descriptive qualitative data collected into the form of tables and maps in order to obtain an overview of the suitability of the function of the area with the characteristics of the area. Based on the results of the scoring analysis of the map (slope, rainfall and soil type) there are three function zoning areas namely protected area area of ​​80.36 km², forestry cultivation area area of ​​158.57 km² and non forestry cultivation area area of ​​105.56 km². While the results of the analysis of the interpretation of the iconos path/row 107-61 image map obtained 12 land use patterns in the Sorong City area in the form of primary dryland forest, secondary dryland forest, airport, primary mangrove forest, primary swamp forest, gardens, sand, settlements, dry land farming, grass/shrubs, ponds and vacant land. In accordance with the physical conditions and land use, there are three zoning functions of the area for the direction of the Sorong City spatial plan, namely a protected area of ​​165.17 km² (47.95%), a forestry cultivation area of ​​108.47 km² (31.49%) and a cultivation area non-forestry 70.84 km² (20.56%) of the total area of ​​Sorong City 344.49 km².
The Role of Albizia Saman to Improving Soil Properties in Oil Mining Areas: Improving Soil Properties in Oil Mining Areas ohorella, syarif; Karepesina, Sedek; Tueka, Fadila
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 16 No. 2 (2023): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v16i2.1900

Abstract

Perubahan sifat kimia tanah bekas lahan pertambangan berdampak pada kondisi air tanah dan air permukaan, berlanjut secara fisik perubahan morfologi dan topografi lahan serta merubah iklim mikro yang disebabkan perubahan oleh kecepatan angin, gangguan habitat biologi berupa flora dan fauna, serta penurunan produktivitas tanah yang mengakibatkan tanah menjadi tandus atau gundul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan pohon trembesi dalam memperbaiki sifat fisik tanah di lahan pertambangan minyak. Penelitian dilakukan dengan cara observasi, inventarisasi serta uji laboratorium terhadap sampel tanah berbeda yakni tanah yang diambil dari lokasi yang di tanami pohon trembesi dan yang tidak di tanami pohon trmbesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pohon Trembesi mempunyai peranan yang sangat penting dalam memperbaiki sifat fisik tanah di daerah penghasil minyak. Terbukti antara lokasi pohon asam jawa dan lokasi yang tidak ditanam pohon Trembesi mempunyai tingkat perbedaan sifat fisik tanah yang signifikan pohon Trembesi dimana hanya mampu tumbuh pada daerah minyak dan debu yang mengandung bahan organik, mempunyai berat volume tanah kecil, kepadatan partikel tanah rendah, porositas tanah tinggi dan kadar air tinggi. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa pohon Trembesi mempunyai peranan yang sangat penting dalam memperbaiki sifat fisik tanah di ladang minyak. Hal ini juga terlihat dari manfaat pohon asam jawa sendiri sebagai pohon yang paling banyak menyerap emisi karbon dan mempunyai jaringan akar yang luas yang menyebar sehingga mampu memperbaiki sifat fisik lahan di ladang minyak.