Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Sosialisasi Pemanfaatan Lahan dengan Sistem Agroforestry di Kampung Della Kabupaten Tambrauw Ihsan Febriadi; Syarif Ohorella; Fajrianto Saeni; Muharuddin
Abdimas: Papua Journal of Community Service Vol. 5 No. 1 (2023): Januari
Publisher : LP3M Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/pjcs.v5i1.2167

Abstract

Aktivitas perladangan berpindah merupakan bagian dari kearifan local masyarakat Della, namun juga memberikan dampak pada lingkungan. Permasalahan ini terjadi karena: sikap apatis masyarakat kampung Della yang tidak mau memanfaatkan lahan-lahan bekas perladangan, karena dianggap mengurangi kualitas produksinya, Minimnya informasi yang diterima masyarakat terkait pemanfaatan lahanlahan bekas perladangan berpindah, kurangnya pemahaman masyarakat dalam pengelolaan lahan dengan menggunakan model agroforestry serta penerapannya di lahan, dan Pengetahuan masyarakat dalam menanam komoditi yang diusahakan masih sangat terbatas sehingga menyebabkan pendapatan yang diterima masyarakat Kampung Della masih tergolong rendah. Sosialisasi dilakukan dengan tahapan survey kondisi lahan untuk mengetahui kondisi tanah, jenis tanah dan PH tanah yang akan digunakan sebagai referensi pada tahap sosialisasi. Dari hasil evaluasi yang dilakukan  terdapat peningkatan antara (5-60 %). Dengan diterapkannya sistem Agroforestri di Kampung Della Distrik Selemkai Kabupaten Tambrauw, diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumberdaya hutan dalam melakukan fungsinya secara optimal dan berkesinambungan terhadap pola budidaya lahan, mampu memberdayakan masyarakat Kampung Della dalam peningkatan pola pikir dalam memanfaatkan potensi daerahnya serta meningkatkan mutu pertanian dengan aplikasi system agroforestri secara berkelanjutan.  
Sosialisasi dan Pelatihan Optimalisasi Lahan dengan Metode Agroforestri di Desa Sausapor, Kabupaten Tambrauw Ihsan Febriadi; Syarif Ohorella; Fajrianto Saeni
Abdimas: Papua Journal of Community Service Vol. 5 No. 2 (2023): Juli
Publisher : LP3M Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktek perladangan berpindah menjadi bagian dari tradisi lokal masyarakat Sausapor, tetapi juga membawa dampak buruk pada lingkungan sekitar. Ada beberapa kendala yang menjadi dasar masalah ini, seperti kurangnya informasi yang diterima masyarakat tentang pemanfaatan lahan bekas perladangan berpindah, pemahaman masyarakat yang terbatas dalam pengelolaan lahan dengan metode agroforestri dan implementasinya, serta pengetahuan terbatas dalam menanam berbagai komoditas, yang berakibat pada pendapatan masyarakat yang masih rendah. Sosialisasi dilaksanakan melalui proses survei kondisi lahan untuk mendapatkan data mengenai kondisi tanah, jenis tanah, dan pH tanah yang akan digunakan sebagai acuan dalam tahap sosialisasi. Evaluasi hasil melalui pre-tes dan post-tes dari 32 orang masyarakat, menunjukkan bahwa pengetahuan peserta bisa dibagi menjadi tiga kriteria berdasarkan rata-rata rentang skor. Di kategori baik, ada peningkatan dari 16% menjadi 81%, di kategori cukup ada penurunan dari 25% menjadi 16% dan di kategori kurang, terjadi penurunan yang cukup besar dari 59% menjadi 3%. Berdasarkan data yang didapatkan setelah kegiatan, terdapat peningkatan pengetahuan peserta selama proses sosialisasi berlangsung.
Sengon Biomass Carbon Stock in Tradisonal Agroforestry land Tipe; Climate Change Implication Ohorella, Syarif; Febriadi, Ihsan; Sangadji, Zulkarnaen
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 15 No. 2 (2022): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v15i2.1380

Abstract

This research was conducted on agroforestry land in Kampung Della, Selemkay District, Tambrauw Regency, West Papua. The research objectives were (1) to estimate the biomass and carbon stored potential of sengon stands and (2) to determine the allometric equation of biomass to estimate the carbon stored potential of sengon stands on agroforestry land types. Biomass measurements were carried out using the destructive method on 2 sample trees with a diameter of 32 cm and 12 cm. The components of biomass measured were the above ground biomass, namely stems, branches, twigs and leaves. Laboratory tests were carried out to determine the dry weight of the biomass. From these results an allometric model was created to estimate carbon stocks. The best equation was chosen using regression analysis based on the highest R-Sq value. The results of research on sengon stands showed that there were differences in the carbon content of tree parts (stems, branches, twigs and leaves). The highest carbon content is in the stem and the smallest in the leaves. The total carbon content is 0.3091 ton C/ha. The selected biomass estimation model for sengon stands on the stem section was W = 0.762 D 1.288, the branch section was W = 0.075 D 1.549, the twig section was W = 0.011 D 1.948 and the leaf section was W = -5.379 + 0.485 D. Meanwhile the model selected for total biomass is W = 0.623 D 1.471.
A, of Analisys of Area Function Using a Geographic Information System in the Utilization of the City of Sorong, West Papua: Fungsi Kawasan Menggunakan system Informasi Geografis terhadap pemanfaatan wilayah Kota Sorong Irnawati, Irnawati; Soekamto, Mira Herawati; Ohorella, Syarif
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 16 No. 1 (2023): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v16i1.1476

Abstract

This study aims to determine the physical condition of land use in fact according to the physical condition and condition of the area from the scoring of the rainfall map, slope and soil type overlaid with the 2004 land use map and regional spatial planning. This research uses descriptive qualitative data collected into the form of tables and maps in order to obtain an overview of the suitability of the function of the area with the characteristics of the area. Based on the results of the scoring analysis of the map (slope, rainfall and soil type) there are three function zoning areas namely protected area area of ​​80.36 km², forestry cultivation area area of ​​158.57 km² and non forestry cultivation area area of ​​105.56 km². While the results of the analysis of the interpretation of the iconos path/row 107-61 image map obtained 12 land use patterns in the Sorong City area in the form of primary dryland forest, secondary dryland forest, airport, primary mangrove forest, primary swamp forest, gardens, sand, settlements, dry land farming, grass/shrubs, ponds and vacant land. In accordance with the physical conditions and land use, there are three zoning functions of the area for the direction of the Sorong City spatial plan, namely a protected area of ​​165.17 km² (47.95%), a forestry cultivation area of ​​108.47 km² (31.49%) and a cultivation area non-forestry 70.84 km² (20.56%) of the total area of ​​Sorong City 344.49 km².
The Role of Albizia Saman to Improving Soil Properties in Oil Mining Areas: Improving Soil Properties in Oil Mining Areas ohorella, syarif; Karepesina, Sedek; Tueka, Fadila
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 16 No. 2 (2023): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v16i2.1900

Abstract

Perubahan sifat kimia tanah bekas lahan pertambangan berdampak pada kondisi air tanah dan air permukaan, berlanjut secara fisik perubahan morfologi dan topografi lahan serta merubah iklim mikro yang disebabkan perubahan oleh kecepatan angin, gangguan habitat biologi berupa flora dan fauna, serta penurunan produktivitas tanah yang mengakibatkan tanah menjadi tandus atau gundul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan pohon trembesi dalam memperbaiki sifat fisik tanah di lahan pertambangan minyak. Penelitian dilakukan dengan cara observasi, inventarisasi serta uji laboratorium terhadap sampel tanah berbeda yakni tanah yang diambil dari lokasi yang di tanami pohon trembesi dan yang tidak di tanami pohon trmbesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pohon Trembesi mempunyai peranan yang sangat penting dalam memperbaiki sifat fisik tanah di daerah penghasil minyak. Terbukti antara lokasi pohon asam jawa dan lokasi yang tidak ditanam pohon Trembesi mempunyai tingkat perbedaan sifat fisik tanah yang signifikan pohon Trembesi dimana hanya mampu tumbuh pada daerah minyak dan debu yang mengandung bahan organik, mempunyai berat volume tanah kecil, kepadatan partikel tanah rendah, porositas tanah tinggi dan kadar air tinggi. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa pohon Trembesi mempunyai peranan yang sangat penting dalam memperbaiki sifat fisik tanah di ladang minyak. Hal ini juga terlihat dari manfaat pohon asam jawa sendiri sebagai pohon yang paling banyak menyerap emisi karbon dan mempunyai jaringan akar yang luas yang menyebar sehingga mampu memperbaiki sifat fisik lahan di ladang minyak.
DISEMINIASI TEKNOLOGI PUPUK ORGANIK DALAM USAHA TANI KONSERVASI DI KAMPUNG WALAL DISTRIK SALAWATI Soekamto, Mira Herawati; Tabara, Reijeng; Ohorella, Syarif; Irnawati, Irnawati
Batara Wisnu : Indonesian Journal of Community Services Vol. 5 No. 1 (2025): Batara Wisnu | Januari - April 2025
Publisher : Gapenas Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53363/bw.v5i1.310

Abstract

The impact of the use of chemical fertilizers and pesticides has had an impact on the decline in soil fertility. while on the other hand the need for food continues to increase along with the increase in population. Conservation farming efforts with the use of organic fertilizers are a solution to increase soil fertility and quality. Approach efforts to change farmers' mindsets to use organic fertilizers need to be carried out by carrying out counseling, training, mentoring and creating sample plots for plant cultivation. The results of the activity showed an increase in farmers' knowledge by 72% after participating in the dissemination program, as shown through pre-test and post-test evaluations. In addition, farmers began to adopt the use of organic fertilizers on their agricultural land, resulting in increased crop productivity and improved soil quality. This success reinforces the importance of organic fertilizer technology as a solution in maintaining environmental sustainability and supporting farmer independence in the area. With significant results, this approach is recommended to be replicated in other areas with similar conditions.
Biomasa Karbon Below Ground Paraserianthes Falcataria (L.) Nielsen pada Lahan Agroforestri Tradisional di Distrik Aimas, Sorong Ohorella, Syarif; Siburian, Rima H; Febriadi, Ihsan
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 16 No. 3 (2024): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v16i3.4176

Abstract

Forests as part of the environment have a big role in maintaining ecosystem stability. One of them is as a carbon store. Vegetation in forests can prevent the release of carbon into the atmosphere through the process of photosynthesis where vegetation absorbs CO2 then breaks it down and stores it in the form of biomass. This is what makes it important for forest friends to study their ability to store biomass and carbon specifically on Agroforestry land as one of the site level forest management units. The aim of this research is to develop an allometric equation model to estimate the value of carbon biomass stored in bellow ground specifically for stands on traditional agroforestry land. The method used is a destructive sampling by selecting sample trees purposively and selecting three samples. trees with different diameters at breast height (dbh) but the same age representing stands on agroforestry land in Aimas District, Sorong Regency. biomass and carbon measurements were carried out through laboratory tests. The total below ground biomass content of the 19 of Paraserianthes falcataria stands obtained was 0.369 tons/ha. The below ground carbon content of sengon stands on 2.8 hectares of agroforestry land is 0.184 tonnes C/ha.
Studi Tingkat Pengetahuan Masyarakat terhadap Pengelolaan Hutan Adat Kampung Fategomi Distrik Aitinyo Utara Kabupaten Maybrat Irnawati, Irnawati; Syarif Ohorella; Niny J. Maipauw; Yulianus Yumame; Nurhidaya; Masniar; Mardhiah Gani
Abdimas: Papua Journal of Community Service Vol. 6 No. 2 (2024): Juli
Publisher : Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/pjcs.v6i2.3557

Abstract

Hutan adat merupakan hutan negara dengan sistem pengelolaan hutan yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat tanpa menggangu fungsi pokoknya. Tujuan pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan nilai ekonomi, nilai budaya, memberikan manfaat terhadap masyarakat pengelola dan masyarakat setempat. Hutan adat Kampung Fategomi Distrik Aitinyo Kabupaten Maybrat adalah hutan yang dikelola oleh kelompok masyarakat adat hutan Kampung Fategomi Hutan adat ini dikelola oleh masyarakat Fategomi Distrik Aitinyo Kabupaten Maybrat yang bertujuan melestarikan hutan adat. Kelompok masyarakat tersebut tergabung dalam kelompok tani hutan yang diberi nama Kelompok masyarakat adat kampung fategomi yang memiliki anggota sebanyak 25 orang. Pengabdian ini dilaksanakan di Kampung Fategomi Distrik Aitinyo Utara Kabupaten Maybrat selama 2 bulan yakni bulan Maret-April 2023, Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan wawancara interview yang telah disediakan Quisioner dan disiapkan topik-topik pertanyaan kunci (key quistion). Berdasarka hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa dari 12 variabel berada pada skala baik dengan rata-rata 2.84, ini menunjukkan variabel yang dipertanyakan menunjukkan persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan di hutan adat Kampung Fategomi Sangat Setuju /Sangat Mengetahui/Sangat Perlu/Sangat Berperan/Sangat tergantung/sangat Bermanfaat, Secara umum memenuhi standar pada variabel yaitu pandangan masyarakat tentang Keberadaan hutan adat Kampung Fategomi, Perkembangan Hutan Adat, Pelibatan dalam pengelolaan dan pemeliharaan hutan adat, Penerapan pola pertanian dalam hutan adat
Potensi Dan Sebaran Diameter Batang Terhadap Dugaan Sekuestrasi Karbon Pada Tegakan Dipterocarpaceae Di Taman Wisata Alam Sorong Maruapey, Azis; Nanlohy, Lona H.; Saeni, Fajrianto; Ohorella, Syarif
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v16i1.3613

Abstract

This research was carried out in the Sorong Nature Tourism Park (TWA) Forest area from August 2023. This research aims to determine potential, biomass per diameter, biomass per unit area; and the amount of carbon stored in stands of Dipterocarpaceae species in the Sorong TWA forest. The potential stands of dipterocarpaceae species found in the Sorong TWA forest are 398 trees or an average of 39.8 trees/ha. The types of dipterocarpaceae stands found were Resak (Vatica papuana), Mersawa (Anisoptera spp.), and Merawan (Hopea sangol). The distribution of dipterocarpaceae stands is quite even, with the Vatica species being very dominant, namely 156 trees or 15.6 trees/ha, Mersawa with 132 trees or 13.2 trees/ha, and Hopea with 110 trees or 11.0 trees/ha. The total standing biomass of dipterocarpaceae species was 38.82 tonnes/ha, with details for the Vatica species contributing the most biomass, namely 16.58 tonnes/ha, Mersawa 12.49 tonnes/ha and Hopea 9.75 tonnes/ha. Meanwhile, the total biomass per area is 3.88 tons per hectare. The greatest amount of biomass is stored in stands of trees with a diameter > 30 cm compared to those with a diameter < 30 cm. The stored carbon reserve content of dipterocarpaceae stands is 1.78 tonnes/ha, so assuming the Sorong TWA forest has an area of ​​945.90 ha, it is estimated that the amount of carbon stored in dipterocarpaceae stands is 1683.70 tonnes.
Struktur dan Komposisi serta Profil Agroforestri Tradisional di Kampung Teluk Dore Kabupaten Sorong Kasi, Nikodemus; Ohorella, Syarif; Irnawati, Irnawati
Agriva Journal (Journal of Agriculture and Sylva) Vol. 2 No. 1 (2024): AGRIVA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/agriva.v2i1.3139

Abstract

Hutan merupakan suatu ekosistem yang dapat mempertahankan kondisi ekosistemnya dengan terus melakukan suksesi atau perbaikan. suksesi atau regenerasi alami oleh tegakan dilakukan untuk memperbaiki dan mempertahankan struktur dan komposisi tegakan. Hutan dengan struktur dan komposisi tegakan yang memadai dapat mempertahankan keberlangsungan ekosistem serta mempertahankan fungsinya terutama ekologi, ekonomi dan social budaya. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui Struktur dan Komposisi serta profil Agroforestri Tradisional. Metode penelitian yang di gunakan dalam pengumpulan data adalah dengan teknik inventarisasi system garis berpetak. Analisisnya menggunakan Analisa vegetasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur dan komposisi serta profil Agroforestri tradisional Kampung Teluk Dore, untuk tingkat pohon masing-masing didominasi oleh Durian dengan indeks nilai penting 69,1% dan 81,9%. Agroforestri Tradisional memiliki multistrata yang terdiri dari A, B, C dan D.  Secara horizontal dari persentase penutupan tajuk, Agroforestri Tradisional di Kampung Teluk Dore didominasi oleh Durian. Persentase penutupan tajuk yaitu 85,17%. Persentase penutupan tajuk seluruh jumlah jenis tanaman terhadap satuan lahan yang diamati di Lahan Agroforestri tradisional Kampung Teluk Dore adalah sebesar 78%.