Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Analisis Modulus Geser dan Pengaruhnya terhadap Kekakuan Panel Laminasi Kayu Samama (Antocephallus Macrophyllus) Cahyono, Tekat Dwi; Wahyudi, Imam; Priadi, Trisna; Febrianto, Fauzi; Ohorella, Syarif
Jurnal Teknik Sipil Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.381 KB)

Abstract

Abstrak. Modulus geser perlu dijadikan pertimbangan pada produkkayu, khususnya untuk desain yang memiliki rasio tinggi/panjang bentangnya besar.Penelitian ini mendesain 6 tipe panel laminasi kayu Samama (Antocephallus macrophyllus), menganalisis modulus geser dan pengaruhnya terhadap nilai kekakuan (MOEstatis) masing-masing panel laminasi. Hasilnya kemudian dibandingan dengan kekakuan hasil pengujian non destruktif (MOEd). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modulus geser panel laminasi kayu Samama memberikan pengaruh sebesar 2 - 8% terhadap kekakuan kayu Samama, tergantung pada tipe laminasi dan panjang bentangnya. Sementara itu nilai pengujian non-destruktif memiliki nilai yang lebih besar 11 - 20% dibandingan dengan kekakuan panel laminasi kayu Samamayang telah terkoreksi oleh modulus geser. Abstract. Shear modulus need to be considered in designing wood product that has high ratio of height/length. This study designed 6 types of panel lamina made of Samama wood (Antocephallus macrophyllus). The shear modulus was measured and its effect on the stiffness (MOE static) was analyzed in comparison to those of non-destructive test (MOEd). The results showed that shear modulus affected the stiffness of the laminas by 2-8%;the value was determined by the type of lamination and the length of span. Meanwhile, non-destructive test showedthat the laminas had 11-20% of higher stiffness than those of laminas with shear modulus corrected-stiffness.
Sudut Kontak dan Keterbasahan Dinamis Kayu Samama pada Berbagai Pengerjaan Kayu Cahyono, Tekat Dwi; Wahyudi, Imam; Priadi, Trisna; Febrianto, Fauzi; Ohorella, Syarif
Jurnal Teknik Sipil Vol 24, No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1741.771 KB) | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.3

Abstract

AbstrakSudut kontak dan keterbasahan dinamis penting diketahui untuk menganalisis keteguhan rekat. Penelitian ini bertujuan mengetahui sudut kontak dan keterbasahan dinamis kayu samama pada berbagai pengerjaan kayu. Metode yang digunakan adalah meneteskan air destilata, perekat UF dan isosianat dengan ukuran tertentu pada permukaan kayu hasil gergaji dan hasil mesin kupas. Permukaan kayu gergajian yang ditetesi oleh cairan adalah permukaan radial, tangensial dan permukaan yang membentuk sudut 45° antara radial dan tangensial. Sementara itu permukaan finir hasil pengupasan adalah permukaan tight dan loose. Kayu gergajian maupun finir yang dianalisis pada penelitian ini, keduanya diambil dari bagian juvenil dan dewasa. Keterbasahan dinamis dianalisis menggunakan model SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa porositas permukaan bahan berpengaruh terhadap keterbasahan kayu samama oleh cairan. Permukaan tangensial memiliki sifat yang lebih mudah mengalami keterbasahan dibandingkan dengan permukaan radial maupun TR (permukaan antara radial dan tangensial) sementara bagian juvenil memiliki tingkat keterbasahan lebih baik dibandingkan dewasanya. Finir samama memiliki tingkat keterbasahan setara dengan permukaan TR kayu samama dimana bagian juvenil finir memiliki laju keterbasahan yang lebih baik dibandingkan dengan finir dewasa. Disamping itu, bagian loose finir lebih cepat terbasahi oleh cairan dibandingkan bagian tight.AbstractContact angle and dynamic wettability is important in determining bonding strength, therefore, this study addressed contact angle and dynamic wettability of samama wood in various woodworking. Method used in the study was by dripping distill water, UF and isocyanate adhesives in particular size on the surface of wood processed by circular saw and peeling machine. The surfaces of sawn wood which dripped by those liquids were radial, tangential, and surface which made a 45° angle between radial and tangential. Meanwhile the tested surfaces of peeled-veneer were tight and loose surfaces. Both sawn wood and veneer in this study were taken from juvenile and mature part of the samama wood. Dynamic wettability was analyzed using SD model. The results showed that porosity of the surface significantly affected the wettability of samama wood by liquid. The profile of tangential surface made it had a better wettability than radial and TR (i.e. surface between radial and tangential) surfaces. Meanwhile, juvenile part showed better wettability than the mature one. The samama veneer had equal wettability with TR surface of sawn wood in which the juvenile one showed better wettability than the mature veneer. Further, it was noticed that loose surface of the veneer was wetted faster than the tight one.
Efektivitas Kelembagaan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Hutan pada Masyarakat Rumahkay di Seram Bagian Barat, Maluku Syarif Ohorella; Didik Suharjito; Iin Ichwandi
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 17 No. 2 (2011)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.392 KB)

Abstract

Debate on the role of local institution in ensuring natural resources sustainability was re-tested in this research. The local institution in question consisted of kewang, church, and sasi darat (rules) being practiced in the management of dusun (forest) in Rumahkay village. This study described the effectiveness of local institution in the sustainable management of dusun under various types of property rights i.e. dusun dati, dusun negeri, dusun pusaka, and dusun parusahaan. Case study method was used in this research. Data were collected through semi-structured interview, participant observation, field observation, dusun stand measurement, and focus group discussion (FGD). The results of this study showed that Rumahkay community had for generations categorized their forest and regulated the rights of ownership and their utilizations through institutional development such as sasi negeri and kewang based upon mata rumah i.e. mata rumah anakele, anauweng, and anarete. While Sasi Gereja complemented kewang institution to be very effective in rules enforcement based on understanding, trust, and obedience. Overall, the strong local institution had been able to enhance the performance of dusun as shown by the vegetation density in dusun dati, dusun negeri, dusun pusaka, and dusun parusahaan.
Analisis Modulus Geser dan Pengaruhnya terhadap Kekakuan Panel Laminasi Kayu Samama (Antocephallus Macrophyllus) Tekat Dwi Cahyono; Imam Wahyudi; Trisna Priadi; Fauzi Febrianto; Syarif Ohorella
Jurnal Teknik Sipil Vol 21 No 2 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2014.21.2.3

Abstract

Abstrak. Modulus geser perlu dijadikan pertimbangan pada produkkayu, khususnya untuk desain yang memiliki rasio tinggi/panjang bentangnya besar.Penelitian ini mendesain 6 tipe panel laminasi kayu Samama (Antocephallus macrophyllus), menganalisis modulus geser dan pengaruhnya terhadap nilai kekakuan (MOEstatis) masing-masing panel laminasi. Hasilnya kemudian dibandingan dengan kekakuan hasil pengujian non destruktif (MOEd). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modulus geser panel laminasi kayu Samama memberikan pengaruh sebesar 2 - 8% terhadap kekakuan kayu Samama, tergantung pada tipe laminasi dan panjang bentangnya. Sementara itu nilai pengujian non-destruktif memiliki nilai yang lebih besar 11 - 20% dibandingan dengan kekakuan panel laminasi kayu Samamayang telah terkoreksi oleh modulus geser. Abstract. Shear modulus need to be considered in designing wood product that has high ratio of height/length. This study designed 6 types of panel lamina made of Samama wood (Antocephallus macrophyllus). The shear modulus was measured and its effect on the stiffness (MOE static) was analyzed in comparison to those of non-destructive test (MOEd). The results showed that shear modulus affected the stiffness of the laminas by 2-8%;the value was determined by the type of lamination and the length of span. Meanwhile, non-destructive test showedthat the laminas had 11-20% of higher stiffness than those of laminas with shear modulus corrected-stiffness.
Sudut Kontak dan Keterbasahan Dinamis Kayu Samama pada Berbagai Pengerjaan Kayu Tekat Dwi Cahyono; Imam Wahyudi; Trisna Priadi; Fauzi Febrianto; Syarif Ohorella
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.3

Abstract

AbstrakSudut kontak dan keterbasahan dinamis penting diketahui untuk menganalisis keteguhan rekat. Penelitian ini bertujuan mengetahui sudut kontak dan keterbasahan dinamis kayu samama pada berbagai pengerjaan kayu. Metode yang digunakan adalah meneteskan air destilata, perekat UF dan isosianat dengan ukuran tertentu pada permukaan kayu hasil gergaji dan hasil mesin kupas. Permukaan kayu gergajian yang ditetesi oleh cairan adalah permukaan radial, tangensial dan permukaan yang membentuk sudut 45° antara radial dan tangensial. Sementara itu permukaan finir hasil pengupasan adalah permukaan tight dan loose. Kayu gergajian maupun finir yang dianalisis pada penelitian ini, keduanya diambil dari bagian juvenil dan dewasa. Keterbasahan dinamis dianalisis menggunakan model SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa porositas permukaan bahan berpengaruh terhadap keterbasahan kayu samama oleh cairan. Permukaan tangensial memiliki sifat yang lebih mudah mengalami keterbasahan dibandingkan dengan permukaan radial maupun TR (permukaan antara radial dan tangensial) sementara bagian juvenil memiliki tingkat keterbasahan lebih baik dibandingkan dewasanya. Finir samama memiliki tingkat keterbasahan setara dengan permukaan TR kayu samama dimana bagian juvenil finir memiliki laju keterbasahan yang lebih baik dibandingkan dengan finir dewasa. Disamping itu, bagian loose finir lebih cepat terbasahi oleh cairan dibandingkan bagian tight.AbstractContact angle and dynamic wettability is important in determining bonding strength, therefore, this study addressed contact angle and dynamic wettability of samama wood in various woodworking. Method used in the study was by dripping distill water, UF and isocyanate adhesives in particular size on the surface of wood processed by circular saw and peeling machine. The surfaces of sawn wood which dripped by those liquids were radial, tangential, and surface which made a 45° angle between radial and tangential. Meanwhile the tested surfaces of peeled-veneer were tight and loose surfaces. Both sawn wood and veneer in this study were taken from juvenile and mature part of the samama wood. Dynamic wettability was analyzed using SD model. The results showed that porosity of the surface significantly affected the wettability of samama wood by liquid. The profile of tangential surface made it had a better wettability than radial and TR (i.e. surface between radial and tangential) surfaces. Meanwhile, juvenile part showed better wettability than the mature one. The samama veneer had equal wettability with TR surface of sawn wood in which the juvenile one showed better wettability than the mature veneer. Further, it was noticed that loose surface of the veneer was wetted faster than the tight one.
Sifat Fisis Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) Irfan Lessy; Sedek Karepesina; Syarif Ohorella
Jurnal Agrohut Vol 9 No 1 (2018): Jurnal Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.562 KB)

Abstract

Sifat-sifat kayu penting sekali dalam industri pengolahan kayu. Dengan mengetahui sifat tersebut, tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis tersebut sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal. Kayu sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) merupakan salah satu spesies pohon yang penting dalam pembangunan HTI di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis kayu sengon (kadar air, berat jenis, dan penyusutan) yang ada pada lahan agroforestri Dusun Waringin Cap, Maluku. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat variasi berat jenis pada posisi vertikal dan horisontal. Berat jenis dari empulur ke bagian tepi semakin meningkat, sebaliknya tidak ditemukan tren yang sama dari ujung ke pangkal batang. Persentase kadar air rata-rata tertinggi terdapat pada posisi pada ujung batang dengan persentase kadar air sebesar 112,4%. Penyusutan tangensial pada suhu 0°-50° tertinggi berada pada bagian pangkal batang dengan nilai persentase penyusutan sebesar 3,86%. Untuk arah radial, penyusutan tertinggi berada pada bagian pangkal batang adalah 2,99%. Penyusutan tangensial tertinggi pada suhu 50° - 100° berada pada bagian tepi batang dengan nilai sebesar 2,90%. Untuk arah radial, penyusutan tertinggi ditemukan pada pangkal batang dengan nilai persentase penyusutan sebesar 2,83%.
Kajian Kandungan Bahan Organik Tanah yang tersimpan pada Lahan Agroforestri dengan Sistem Tebas dan Bakar (Slash and Burn) Syarif Ohorella; Rudi Hilmanto
Jurnal Agrohut Vol 2 No 2 (2011): Jurnal Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.616 KB)

Abstract

Dalam menghitung jumlah massa karbon pada pohon sengon sering ditemui kesulitan khususnya dalam menghitung massa karbon bagian akar karena letaknya yang berada di bawah tanah. Oleh karena itu diperlukan metode tertentu untuk menduga massa karbon dalam akar pohon. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengukur kandungan biomassa yang terdapat pada akar sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), (2) Menduga potensi karbon di bawah permukaan tanah (below ground) tegakan sengon pada lahan agroforestri. Pengukuran biomassa dilakukan dengan metode destructive yaitu melakukan perusakan terhadap pohon. Pohon yang akan ditebang adalah 2 pohon pada kelas diameter > 30 cm dan < 10 cm. Komponen biomassa yang akan diukur adalah leher akar, akar tunggang dan akar lateral. Masing-masing komponen dibagi menjadi sub-sub sampel dan masing sub sampel diambil sebagian untuk dijadikan sampel berat kering (dikeringkan). Potensi kandungan biomassa total below ground dari 18 tegakan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) yang di peroleh adalah sebesar 0,370 ton/ha. Dari potensi biomassa yang telah diperoleh, kemudian diubah kedalam bentuk karbon (ton C/ha) yaitu dengan mengalikan nilai biomassa dengan factor konversi sebesar 0,5, sehingga di peroleh kandungan karbon below ground tegakan sengon pada lahan agroforestri seluas 3 hektar adalah sebesar 0,185 ton C/ha.
Biomassa dan Karbon dibawah Permukaan Tanah Tegakan Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) pada Lahan Agroforestry Fitriyanti Kaliky; Syarif Ohorella
Jurnal Agrohut Vol 2 No 2 (2011): Jurnal Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.692 KB)

Abstract

Dalam menghitung jumlah massa karbon pada pohon sengon sering ditemui kesulitan khususnya dalam menghitung massa karbon bagian akar karena letaknya yang berada di bawah tanah. Oleh karena itu diperlukan metode tertentu untuk menduga massa karbon dalam akar pohon. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengukur kandungan biomassa yang terdapat pada akar sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), (2) Menduga potensi karbon di bawah permukaan tanah (below ground) tegakan sengon pada lahan agroforestri. Pengukuran biomassa dilakukan dengan metode destructive yaitu melakukan perusakan terhadap pohon. Pohon yang akan ditebang adalah 2 pohon pada kelas diameter > 30 cm dan < 10 cm. Komponen biomassa yang akan diukur adalah leher akar, akar tunggang dan akar lateral. Masing-masing komponen dibagi menjadi sub-sub sampel dan masing sub sampel diambil sebagian untuk dijadikan sample berat kering (dikeringkan). Potensi kandungan biomassa total below ground dari 18 tegakan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) yang di peroleh adalah sebesar 0,370 ton/ha. Dari potensi biomassa yang telah diperoleh, kemudian diubah kedalam bentuk karbon (ton C/ha) yaitu dengan mengalikan nilai biomassa dengan faktor konversi sebesar 0,5, sehingga di peroleh kandungan karbon below ground tegakan sengon pada lahan agroforestri seluas 3 hektar adalah sebesar 0,185 ton C/ha.
Inventarisasi Biomassa Komponen Vegetasi Untuk Membangun Persamaan Allometrik (Studi Kasus pada Tanaman Agroforestry Dusun di Maluku) Syarif Ohorella; Fitriyanti Kaliky
Jurnal Agrohut Vol 2 No 1 (2011): Jurnal Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.875 KB)

Abstract

To support emission reduction activities, through the Regional Action Plan for Reducing Greenhouse Gas Emissions (RAD-GRK) it is necessary to measure carbon stocks on various types of land, one of which is land managed by communities with “dusun” agroforestry patterns. This study aims to obtain allometric equations to estimate plant biomass with diameter parameters at breast height (dbh) in order to help local governments prepare academic agendas related to the REDD ++ Program in Maluku and the development of knowledge in the field of forest carbon. Data collection was done by destructive sampling method by purposive sampling and 3 samples of nutmeg diameter with dbh diameter were different but the same age ie 27 years representing nutmeg stands in “dusun” agroforestry land in Liang village, Salahutu District, Central Maluku Regency. Based on the results of the study obtained allometric equations to estimate stem biomass content in nutmeg (Miristica pragrans) in hamlet agroforestry land, namely B. stem = 0.456 dbh4,542 (kg / tree) (R2 0,918) and the content of root biomass (below ground) is B .akar = 7.359 dbh2.889 (kg / tree) (R2 0.996). The number of Biomass Expansion Factor (BEF) is 1.94 and the number of Root to shoot ratio (R / S) is 0.08.
Kualitas Glulam Samama dengan Kombinasi Kayu Mangium dan Mahoni (The Quality of Samama Glulam and Its Combination with Mangium and Mahogany Wood) Tekat D Cahyono; Fauzi Febrianto; Syarif Ohorella
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.544 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v15i1.351

Abstract

Previous study on several types of samama glulam had shown the MOE and MOR which is not meet JAS 2007. The recent study addressed the glulam construction from samama wood combined with two commercial woods to improve the quality of resulting glulam. Mangium (Acacia mangium) and mahogany (Swietenia mahogany) woods were laminated with samama wood using isocyanate adhesive at a spread rate of 200 g m-2 and then clamped with 30 cm gap between the clamp for 3 hours. Nine types of glulam were made with and without a combination of 1 cm lamina from the three types of wood species. The results showed the difference of density between samama glulam with the other types. Furthermore, the moisture content, hot water delamination, cold water delamination, MOE and MOR of the products have met the requirements of JAS 2007 for structural wood. Bonding strengths of most types of glulam have met the standard except for samama and mahogany glulam without the combination. The results of this study strengthened the potency of samama as glulam material for the structural application.Keywords: glulam, mahogany, mangium, samama, structural.