Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Evaluasi Sistem Drainase di Lingkungan Kampus Politeknik Negeri Manado Takaendengan, Teddy; Rangkang, Jeanely; Sudarno, Sudarno; Soukotta, Dwars
Prosiding Seminar Nasional Produk Terapan Unggulan Vokasi Vol 2 No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional Produk Terapan Unggulan Vokasi Politeknik Negeri Manad
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Politeknik Negeri Manado merupakan salah satu perguruan tinggi yang ada di Sulawesi Utara yang menyelenggarakan Pendidikan vokasi. Politeknik Negeri Manado semakin diminati oleh masyarakat yang bukan hanya berasal dari kota Manado, tetapi juga dari kota/kabupaten lainnya yang ada di Propinsi Sulut maupun dari propinsi lainnya. Seiring dengan penambahan jumlah mahasiswa, dilakukan juga penambahan ruang kelas. Diketahui bahwa curah hujan di kota Manado cukup tinggi dengan intensitas cukup banyak mengakibatkan terjadinya genangan air yang meresahkan, hal ini juga dialami oleh kampus Politeknik Negeri Manado yang sempat mengalami genangan air yang cukup tinggi. Metode yang digunakan adalah metode perhitungan analisis curah hujan Log Pearson III, dan juga menggunakan peersamaan Mononobe untuk mendapatkan Intensitas, Dimensi saluran yang didapat, dievaluasi dan hasilnya merupakan rekomendasi. Dari hasil analisis diperoleh nilai Intensitas curah hujan adalah 86,5 mm/jam, dimensi saluran yang didapat adalah lebar saluran 30 cm, dan tinggi saluran 30 cm. Hasil obseervasi dilapangan ditemui bahwa dimensi saluran yang eksisting adalah lebar saluran 30 cm, dan tinggi saluran 50 cm. Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah dimensi saluran yang eksisting masih dapat ditoleransi untuk mengalirkan air hujan. Ditempat tertentu, dilokasi Gedung GKT, ditemui dimensi saluran yang kecil, sehingga tidak mampu mengalirkan debit air hujan yang berasal dari Gedung Teknik Sipil sehingga mengakibatkan genangan yang cukup mengganggu kenyamanan.
Identifikasi Risiko Dalam Tahap Pelaksanaan Proyek Green Construction Peginusa, Stefani Switly; Kandiyoh, Geertje Efraty; Sari, Dian Puspita; Soukotta, Dwars; Moningka, Olivia
Borneo Engineering : Jurnal Teknik Sipil Volume 8 Nomor 3 Tahun 2024
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/be.v8i3.5856

Abstract

Konsep bangunan hijau adalah sebuah konsep pembangunan dimana perencanaan dan pelaksanaan proses konstruksi yang didasarkan pada dokumen kontrak untuk meminimalkan dampak negatif  proses konstruksi terhadap lingkungan agar terjadi keseimbangan antara kemampuan lingkungan dan kebutuhan hidup manusia untuk generasi sekarang dan mendatang. Dengan semakin maraknya penerapan bangunan hijau di Indonesia dan dukungan pemerintah lewat peraturan – peraturan yang ditetapkan, maka pembangunan  dengan konsep green construction akan terus berkembang. Namun karena rendahnya tingkat popularitas konstruksi bangunan hijau di Indonesia dan rendahnya kesadaran lingkungan masyarakat umum, terlebih lagi konsep pembangunan ini mempunyai ciri-ciri masa pembangunan yang lama, investasi yang besar, jumlah sumber daya manusia yang besar. Oleh karena itu, pelaksanaan konstruksi bangunan hijau pada proyek konstruksi di Indonesia, perlu melakukan manajemen risiko dengan lebih baik dan identifikasi risiko proyek di antara risiko-risiko proyek tersebut merupakan prioritas utama. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi risiko – risiko yang dapat dialami dalam konstruksi bangunan green construction di Indonesia, menentukan hirarki dari risiko – risiko yang dialami tersebut. Metode penelitian dilakukan dengan survei metode Delphi selanjutnya untuk penentuan hirarki risiko menggunakan metode pair wise comparasion. Adapun jenis risiko yang teridentifikasi adalah 27 (dua puluh tujuh) jenis risiko dengan tingkatannya masing-masing. Tingkatan pertama terdapat 1 (satu) jenis risiko yaitu biaya proyek yang tidak terduga meningkat. Tingkatan kedua terdiri dari 25 (dua puluh lima jenis risiko). Sedangkan, tingkatan ketiga terdiri dari 1 (satu) jenis risiko yaitu ketentuan kontrak yang tidak jelas untuk klaim dan litigasi, risiko ini merupakan sumber dari semua risiko yang ada.
TANDA TERITORI PRIMER RUMAH-RUMAH DI KAMPUNG JAWA TONDANO (Studi Kasus Lingkungan III Kampung Jawa Tondano) Soukotta, Dwars
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 2 No. 2 (2014): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v2i2.53

Abstract

ABSTRAK Adanya upaya pelestarian pola hidup yang baik antar tetangga yaitu selalu menjaga jalinan tali silaturahmi dengan tidak membuat pembatas masif antara satu pekarangan rumah dengan rumah lainnya. Ini merupakan aturan baku tidak tertulis dari Tua Kampung Bapak Abubakar Nurhamidin (1939-1942). Rumah-rumah Lingkungan III inilah yang masih mengikuti aturan tersebut, bahkan ditemukan cara hidup bersama-sama dalam satu rumah ditinggali 2-3 kepala keluarga dan dalam satu petak tanah dengan ukuran ±3600m2didirikan 4 rumah didalamnya. Selain itu, penggunaan pekarangan yang dipakai bersama dengan tetangga lain (antar rumah) jika ada kegiatan peribadatan dan sosial lainnya, serta penggunaan KM/WC yang dapat digunakan secara bersama. Penelitian ini ingin mengidentifikasi sejauhmana kesadaran memenuhi rasa teritori primerkeluarga mereka terhadap pola hidup demikian.Dikarenakan teritori berkaitan dengan kebutuhan ruang fisik, kepemilikan dengan pendekatan derajat privasi, afiliasi dan kemungkinan pencapaiannya maka penggunaan pembatas simbolik lazim digunakan.Penggunaan tanda inilah yang menjadi fokus penelitian yaitu penggunaan tanda sebagai upaya pemaknaan keberadaan zona teritori primer keluarga pada rumah-rumah di Lingkungan III Kampung Jawa Tondano. Teori Tanda (Ferdinand de Saussure) dan Teori Teritori (Altman) diambil sebagai teori dasar untuk diuji pada penelitian ini.Kedua teori ini dipilih karena kecocokan dengan situasi/kasus penelitian. Adapun penelitian ini menggunakan Metode Kualitatif dengan Pendekatan Ilmu Rasionalistik, dengan 11 informan orang dan 9 informan kasus rumah tinggal dan pekarangannya yang dipilih secara purposive sampling.Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa masih adanya kesadaran memenuhi kebutuhan teritori primer keluarga mereka baik bagi keluarga mereka sendiri maupun antara keluarga/tetangga lainnya dengan penggunaan tanda-tanda sebagai pemaknaan keberadaan teritori tersebut.tanda-tanda tersebut berupa elemen-elemen lingkungan alami seperti towaang/tumbuhan merambat, pohon besar, palawija, batu, dan elemen-elemen lingkungan binaan seperti benda-benda interior/perabot dan tindakan intervensi keluarga atasnya dalam hal perletakan dan posisi. Keywords : Tanda, Teritori Primer, Keluarga
KARAKTERSITIK HUNIAN MASYARAKAT PESISIR Studi Kasus : Permukiman Tepi Pantai Desa Botutonuo Kabupaten Bone Bolango Soukotta, Dwars; Bagulu, Achmad
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 6 No. 2 (2018): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v6i2.176

Abstract

ABSTRAK Kawasan pantai merupakan daerah yang sangat menarik untuk ditata dan diolah menjadi suatu kawasan area terbuka (open space) atau dengan cara eksplorasi waterfront city, namun kenyataan yang terjadi justru kawasan pantai ini menjadi daya tarik tersendiri oleh para nelayan untuk mendirikan bangunan hunian / pemukiman dengan tujuan agar dekat dengan tempat mencari nafkah mereka. Bangunan yang terdapat pada area tepian pantai (pesisir) secara teori harus memiliki karakter tersendiri yang berbeda dengan karakter bangunan yang ada di daerah daratan. Perbedaan itu bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal (menyangkut pola hidup/perilaku masyarakat, budaya dan sebagainya) maupun faktor eksternal (menyangkut iklim, lokasi dan sebagainya). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi jenis dan karakter bangunan yang ada di sepanjang pesisir Desa Botutonuo, mengkalsifikasikan ketersediaan sarana, prasarana lingkungan dan material bangunan dan Penataan pola Permukiman hunian masyarakat yang tersebar di pesisir Pantai Botutonuo. Lokasi penelitian dilakukan yakni di pesisir pantai Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango. Pusat penelitian ini berada di kawasan permukiman (hunian) masyarakat. Karaktersitik hunian pesisir diteliti berdasarkan fisik bangunan dan perilaku masyarakat pesisir terhadap penarapan pada pola bermukim, sedangkan hasil Pengukuran Panas lingkungan, kecepatan angin dan material serap panas pada bangunan diolah dengan menggunakan Microsoft Excell. Langkah selanjutnya melakukan sketsa ide (konsep) dalam bentuk desain pola permukiman (hunian) masyarakat pesisir pantai di Desa Botutonuo. Kata Kunci : Waterfront city, Karakteristik hunian, Pola permukiman masyarakat pesisir
TANDA TERITORI PRIMER RUMAH-RUMAH DI KAMPUNG JAWA TONDANO (Studi Kasus Lingkungan III Kampung Jawa Tondano) Soukotta, Dwars
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 2 No. 2 (2014): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2058.979 KB) | DOI: 10.37971/radial.v2i2.53

Abstract

ABSTRAK Adanya upaya pelestarian pola hidup yang baik antar tetangga yaitu selalu menjaga jalinan tali silaturahmi dengan tidak membuat pembatas masif antara satu pekarangan rumah dengan rumah lainnya. Ini merupakan aturan baku tidak tertulis dari Tua Kampung Bapak Abubakar Nurhamidin (1939-1942). Rumah-rumah Lingkungan III inilah yang masih mengikuti aturan tersebut, bahkan ditemukan cara hidup bersama-sama dalam satu rumah ditinggali 2-3 kepala keluarga dan dalam satu petak tanah dengan ukuran ±3600m2didirikan 4 rumah didalamnya. Selain itu, penggunaan pekarangan yang dipakai bersama dengan tetangga lain (antar rumah) jika ada kegiatan peribadatan dan sosial lainnya, serta penggunaan KM/WC yang dapat digunakan secara bersama. Penelitian ini ingin mengidentifikasi sejauhmana kesadaran memenuhi rasa teritori primerkeluarga mereka terhadap pola hidup demikian.Dikarenakan teritori berkaitan dengan kebutuhan ruang fisik, kepemilikan dengan pendekatan derajat privasi, afiliasi dan kemungkinan pencapaiannya maka penggunaan pembatas simbolik lazim digunakan.Penggunaan tanda inilah yang menjadi fokus penelitian yaitu penggunaan tanda sebagai upaya pemaknaan keberadaan zona teritori primer keluarga pada rumah-rumah di Lingkungan III Kampung Jawa Tondano. Teori Tanda (Ferdinand de Saussure) dan Teori Teritori (Altman) diambil sebagai teori dasar untuk diuji pada penelitian ini.Kedua teori ini dipilih karena kecocokan dengan situasi/kasus penelitian. Adapun penelitian ini menggunakan Metode Kualitatif dengan Pendekatan Ilmu Rasionalistik, dengan 11 informan orang dan 9 informan kasus rumah tinggal dan pekarangannya yang dipilih secara purposive sampling.Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa masih adanya kesadaran memenuhi kebutuhan teritori primer keluarga mereka baik bagi keluarga mereka sendiri maupun antara keluarga/tetangga lainnya dengan penggunaan tanda-tanda sebagai pemaknaan keberadaan teritori tersebut.tanda-tanda tersebut berupa elemen-elemen lingkungan alami seperti towaang/tumbuhan merambat, pohon besar, palawija, batu, dan elemen-elemen lingkungan binaan seperti benda-benda interior/perabot dan tindakan intervensi keluarga atasnya dalam hal perletakan dan posisi. Keywords : Tanda, Teritori Primer, Keluarga
KARAKTERSITIK HUNIAN MASYARAKAT PESISIR Studi Kasus : Permukiman Tepi Pantai Desa Botutonuo Kabupaten Bone Bolango Soukotta, Dwars; Bagulu, Achmad
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 6 No. 2 (2018): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1272.435 KB) | DOI: 10.37971/radial.v6i2.176

Abstract

ABSTRAK Kawasan pantai merupakan daerah yang sangat menarik untuk ditata dan diolah menjadi suatu kawasan area terbuka (open space) atau dengan cara eksplorasi waterfront city, namun kenyataan yang terjadi justru kawasan pantai ini menjadi daya tarik tersendiri oleh para nelayan untuk mendirikan bangunan hunian / pemukiman dengan tujuan agar dekat dengan tempat mencari nafkah mereka. Bangunan yang terdapat pada area tepian pantai (pesisir) secara teori harus memiliki karakter tersendiri yang berbeda dengan karakter bangunan yang ada di daerah daratan. Perbedaan itu bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal (menyangkut pola hidup/perilaku masyarakat, budaya dan sebagainya) maupun faktor eksternal (menyangkut iklim, lokasi dan sebagainya). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi jenis dan karakter bangunan yang ada di sepanjang pesisir Desa Botutonuo, mengkalsifikasikan ketersediaan sarana, prasarana lingkungan dan material bangunan dan Penataan pola Permukiman hunian masyarakat yang tersebar di pesisir Pantai Botutonuo. Lokasi penelitian dilakukan yakni di pesisir pantai Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango. Pusat penelitian ini berada di kawasan permukiman (hunian) masyarakat. Karaktersitik hunian pesisir diteliti berdasarkan fisik bangunan dan perilaku masyarakat pesisir terhadap penarapan pada pola bermukim, sedangkan hasil Pengukuran Panas lingkungan, kecepatan angin dan material serap panas pada bangunan diolah dengan menggunakan Microsoft Excell. Langkah selanjutnya melakukan sketsa ide (konsep) dalam bentuk desain pola permukiman (hunian) masyarakat pesisir pantai di Desa Botutonuo. Kata Kunci : Waterfront city, Karakteristik hunian, Pola permukiman masyarakat pesisir
DESIMINASI PRODUK PAVING BLOK BERPORI UNTUK TAMAN BERMAIN DAN PENINGKATAN KETERAMPILAN PADA KELOMPOK BERMAIN ANAK DI DESA LIWUTUNG DUA KAB. MINAHASA TENGGARA Supit, Steve W. M; Soukotta, Dwars; Tendean, Cyntha
Jurnal Abdi Insani Vol 11 No 3 (2024): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v11i3.1709

Abstract

Pendidikan anak ditentukan sejak anak berada dalam usia dini yang tentunya perlu dibarengi dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Kelompok bermain anak “BUNDA” di Desa Liwutung Kec. Pasan Kab. Minahasa Tenggara merupakan kelompok anak-anak Sekolah Dasar yang terbentuk oleh karena kesukaan bermain dan berolahraga bersama sehingga mencari halaman pekarangan warga sebagai lokasi menyalurkan hobi dan keinginannya bermain. Kelompok ini pula merupakan kelompok belajar anak dimasa pandemi yang dengan berjalannya waktu menjadi solid dan membentuk kelompok bermain sendiri. Dengan mempertimbangkan kondisi dan fasilitas bermain anak-anak ini, tujuan program Pengabdian kepada Masyarakat ini bermaksud untuk menghilirisasi produk penelitian paving blok berpori sebagai bentuk diseminasi produk teknologi guna menciptakan lokasi bermain yang aman dan nyaman sehingga dapat membantu kelompok anak ini bermain sambil belajar. Metode kegiatan dilakukan dengan participatory action research melalui penerapan hasil teknologi paving blok berpori untuk tempat bermain anak serta metode observasi dan pelatihan keterampilan anak melalui pembuatan kerajinan tangan dari plastik daur ulang. Dari hasil kegiatan ini diperoleh perbaikan lokasi bermain anak yang lebih nyaman dibarengi dengan peningkatan pengetahuan dalam hal pengelolaan lingkungan khususnya terkait sampah plastik dan keterampilan membuat kerajinan tangan dari plastik daur ulang. Adapun keberlanjutan pendampingan terhadap anak-anak ini perlu terus dilakukan dalam menunjang terbetuknya individu-individu yang bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan hidup menuju ekosistem pedesaan yang bersih dan mandiri.