Claim Missing Document
Check
Articles

Kontribusi Berpikir Positif terhadap Kesejahteraan Emosional Anak Asuh di Dua Panti Asuhan di Pekanbaru Ryeni Yusvita Saragih; Azhar; Dafetta Fitrilinda
Transformasi : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Non Formal Informal Vol. 12 No. 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Pendidikan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jtni.v12i2.18553

Abstract

Abstract: Children and young people living in residential care may face emotional challenges associated with loss, disrupted family relationships, and limited individualized support. Although positive thinking has been linked to well-being in student and general adolescent populations, evidence from Indonesian residential-care settings remains limited. This study examined the statistical contribution of positive thinking to emotional well-being among residents of Rumah Bintang and Maranatha orphanages in Pekanbaru. A quantitative, non-experimental ex post facto correlational design was employed. Of a population of 51 residents, 46 participants aged 8–24 years were included through proportionally allocated purposive sampling. Positive thinking was measured using a 30-item scale covering positive expectations, self-confidence, and religiosity (Cronbach’s α = .892), while emotional well-being was assessed using a 29-item scale covering life satisfaction, emotion regulation, and social relationships (Cronbach’s α = .885). Both constructs were at a high level (M = 4.07 and M = 3.99 on a five-point scale, respectively). Religiosity was the strongest positive-thinking dimension (M = 4.25), whereas emotion regulation was the lowest emotional-well-being dimension (M = 3.81). Positive thinking correlated positively with emotional well-being, r = .680, p < .001. Simple linear regression was significant, F(1, 44) = 37.947, p < .001, with R² = .463 and an unstandardized slope of B = .794. Thus, positive thinking explained 46.3% of the variance in emotional well-being, without establishing causality. The findings support structured mentoring, self-confidence development, emotion-regulation training, and context-sensitive spiritual support in residential care. Abstrak: Anak asuh yang tinggal dalam pengasuhan institusional dapat menghadapi tantangan emosional yang berkaitan dengan kehilangan, terputusnya relasi keluarga, dan keterbatasan dukungan individual. Meskipun berpikir positif telah dikaitkan dengan kesejahteraan pada populasi pelajar dan remaja umum, bukti pada konteks panti asuhan di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini menganalisis kontribusi statistik berpikir positif terhadap kesejahteraan emosional anak asuh di Panti Asuhan Rumah Bintang dan Panti Asuhan Maranatha Pekanbaru. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional ex post facto yang bersifat non-eksperimental. Dari populasi 51 anak asuh, sebanyak 46 responden berusia 8–24 tahun dipilih melalui purposive sampling dengan alokasi proporsional. Berpikir positif diukur menggunakan 30 butir yang mencakup harapan positif, percaya diri, dan religiusitas (Cronbach’s α = 0,892), sedangkan kesejahteraan emosional diukur menggunakan 29 butir yang mencakup kepuasan hidup, kemampuan mengelola emosi, dan hubungan sosial (Cronbach’s α = 0,885). Kedua variabel berada pada kategori tinggi, masing-masing dengan mean 4,07 dan 3,99 pada skala lima poin. Religiusitas merupakan dimensi berpikir positif tertinggi (M = 4,25), sedangkan kemampuan mengelola emosi merupakan dimensi kesejahteraan emosional terendah (M = 3,81). Berpikir positif berkorelasi positif dengan kesejahteraan emosional, r = 0,680, p < 0,001. Regresi linear sederhana signifikan, F(1,44) = 37,947, p < 0,001, dengan R² = 0,463 dan koefisien B = 0,794. Dengan demikian, berpikir positif menjelaskan 46,3% variasi kesejahteraan emosional, tetapi tidak membuktikan hubungan kausal. Temuan mendukung penguatan mentoring, kepercayaan diri, keterampilan regulasi emosi, dan dukungan spiritual yang kontekstual di panti asuhan.
Hubungan Pelatihan Berbasis Kompetensi dengan Kesiapan Kerja Peserta Pelatihan di Balai Latihan Kerja Marpoyan Damai Marisa; Azhar; Dafetta Fitrilinda
Transformasi : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Non Formal Informal Vol. 12 No. 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Pendidikan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jtni.v12i2.18996

Abstract

Abstract: Competency-based training is expected to align participants’ knowledge, practical skills, and professional attitudes with occupational standards; however, evidence concerning its association with work readiness among participants in Indonesian public job-training centers remains limited. This study aimed to describe the perceived level of competency-based training and participants’ work readiness and to examine the relationship between the two constructs at the Marpoyan Damai Job Training Center, Pekanbaru. A quantitative, non-experimental ex-post facto correlational design was used. The population comprised 128 training participants, of whom 97 were included in the analysis. Data were collected through observation, documentation, and two Likert-type questionnaires. Descriptive statistics, Kolmogorov–Smirnov normality tests, a deviation-from-linearity test, Pearson’s product–moment correlation, and the coefficient of determination were applied. Competency-based training had a mean score of 3.30 (moderate), whereas work readiness had a mean score of 3.84 (moderately high). Both variables met the normality assumption (p = .200 and p = .134), and their relationship was linear (p = .220). A positive, statistically significant relationship was found (r = .545, 95% CI [.388, .671], p < .001), with R² = .297. Thus, better perceived implementation of competency-based training was associated with higher work readiness, while 70.3% of the variance was related to other factors. Because the design was observational and based on self-reports, the findings should not be interpreted as causal. Abstrak: Pelatihan berbasis kompetensi diharapkan menyelaraskan pengetahuan, keterampilan praktis, dan sikap profesional peserta dengan standar pekerjaan, tetapi bukti mengenai hubungannya dengan kesiapan kerja peserta pada lembaga pelatihan kerja publik di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat persepsi terhadap pelaksanaan pelatihan berbasis kompetensi dan kesiapan kerja peserta, serta menguji hubungan kedua konstruk tersebut di Balai Latihan Kerja Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non-eksperimental ex-post facto korelasional. Populasi penelitian berjumlah 128 peserta pelatihan dan 97 peserta digunakan dalam analisis. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan dua kuesioner berskala Likert. Analisis meliputi statistik deskriptif, uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, uji deviasi dari linearitas, korelasi product–moment Pearson, dan koefisien determinasi. Pelatihan berbasis kompetensi memperoleh skor rata-rata 3,30 (sedang), sedangkan kesiapan kerja memperoleh skor rata-rata 3,84 (cukup tinggi). Kedua variabel memenuhi asumsi normalitas (p = 0,200 dan p = 0,134), dan hubungan keduanya linear (p = 0,220). Ditemukan hubungan positif dan signifikan secara statistik (r = 0,545; IK 95% [0,388; 0,671]; p < 0,001) dengan R² = 0,297. Dengan demikian, persepsi yang lebih baik terhadap pelaksanaan pelatihan berbasis kompetensi berkaitan dengan kesiapan kerja yang lebih tinggi, sedangkan 70,3% variansi kesiapan kerja berkaitan dengan faktor lain. Karena penelitian bersifat observasional dan menggunakan laporan diri, temuan tidak dapat ditafsirkan sebagai bukti hubungan kausal.
Pengaruh Budaya Patriarki terhadap Kesetaraan Gender Ibu Rumah Tangga di Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar Fitra Herlinda; Daeng Ayub; Dafetta Fitrilinda
Transformasi : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Non Formal Informal Vol. 12 No. 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Pendidikan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jtni.v12i2.19001

Abstract

Abstract: Patriarchal culture remains one of the social factors influencing gender relations within households, particularly in the division of domestic roles, decision-making, access to resources, and recognition of women’s contributions. This study aims to analyze the level of patriarchal culture, the level of gender equality, and the influence of patriarchal culture on gender equality among housewives in Tarai Bangun Village, Tambang District, Kampar Regency. This research employed a quantitative approach with an ex-post facto design. The population consisted of 767 housewives, and 89 respondents were selected using simple random sampling based on the Slovin formula with a 10% margin of error. Data were collected through observation, documentation, and questionnaires using a Likert scale. The patriarchal culture variable was measured through four indicators: marginalization, subordination, double burden, and violence. Meanwhile, the gender equality variable was measured through access, participation, control, and benefits. Data were analyzed using descriptive statistics and inferential statistics, including the Kolmogorov-Smirnov normality test, Pearson correlation, and simple linear regression. The results showed that patriarchal culture was in the moderate category with a mean score of 3.45, while gender equality was also in the moderate category with a mean score of 3.46. The regression analysis indicated that patriarchal culture had a significant influence on gender equality, with an R value of 0.542 and an R Square value of 0.294. This means that patriarchal culture contributed 29.4% to the variation in gender equality, while the remaining 70.6% was influenced by other factors outside this study. These findings indicate that household gender relations are still shaped by patriarchal values, although signs of transition toward more participatory and equal gender relations have begun to emerge. Abstrak: Budaya patriarki masih menjadi salah satu faktor sosial yang memengaruhi relasi gender dalam rumah tangga, terutama dalam pembagian peran domestik, pengambilan keputusan, akses terhadap sumber daya, dan pengakuan terhadap kontribusi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat budaya patriarki, tingkat kesetaraan gender, serta pengaruh budaya patriarki terhadap kesetaraan gender ibu rumah tangga di Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex-post facto. Populasi penelitian berjumlah 767 ibu rumah tangga, sedangkan sampel sebanyak 89 responden ditentukan melalui teknik simple random sampling menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan kuesioner berskala Likert. Instrumen budaya patriarki dikembangkan berdasarkan indikator marginalisasi, subordinasi, beban ganda, dan kekerasan, sedangkan instrumen kesetaraan gender meliputi akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial melalui uji normalitas, korelasi Pearson, dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya patriarki berada pada kategori sedang dengan nilai mean 3,45, sedangkan kesetaraan gender juga berada pada kategori sedang dengan nilai mean 3,46. Hasil regresi menunjukkan bahwa budaya patriarki berpengaruh signifikan terhadap kesetaraan gender dengan nilai R sebesar 0,542 dan R Square sebesar 0,294. Artinya, budaya patriarki menjelaskan 29,4% variasi kesetaraan gender, sedangkan 70,6% dipengaruhi oleh faktor lain. Temuan ini menunjukkan bahwa relasi gender dalam rumah tangga masih dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarkal, tetapi pada saat yang sama mulai terjadi pergeseran menuju relasi yang lebih partisipatif dan setara.