Claim Missing Document
Check
Articles

EBTANAS : KEBOCORAN DAN "KEPALSUAN"NYA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.332 KB)

Abstract

       Kasus bocornya soal-soal Ebtanas yang tahun lalu sempat mengguncang dunia pendidikan kita, sekaligus menampar wajah Depdikbud, rasanya akan terulang lagi pada pelaksanaan Ebtanas tahun ini. Kali ini ada dugaan tentang bocornya Ebtanas SD di salah satu daerah di wilayah Jawa Timur. Sebuah tim yang terdiri dari beberapa unsur tengah  dikirim untuk bekerja intensif guna mengklarifikasi dugaan tersebut.         Sebagai warga negara yang baik tentu kita berharap agar dugaan tersebut tidak terbukti kebenarannya, tetapi kalau sampai dugaan atas kebocoran tersebut nantinya ter bukti  kebenarannya maka Depdikbud harus menyiapkan diri untuk kena tampar. Betapa tidak, di tengah-tengah adanya kritik tajam tentang kurang efektifnya lagi pola Ebtanas untuk dipertahankan sebagai sistem evaluasi belajar pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, ternyata beberapa (ada) daerah mengalami kebocoran. sudah barang tentu ter jadinya kasus kebocoran ini, kalau terbukti,  akan makin memperkuat argumentasi terhadap kritik-kritik yang dila-yangkan kepada depdikbud mengenai kurang efektifnya pola Ebtanas tersebut.          Kalau kita sempat bernostalgia sejenak kasus bo-cornya Ebtanas memang bukan barang baru lagi. Tahun yang lalu beberapa wilayah sempat terkena "penyakit" ini, tak terkecuali wilayah DKI Jakarta.  Berdasarkan pengalaman ini ternyata ada juga teman yang masih sempat bercanda; kalau di Jakarta tempat berkumpulnya top manager Depdik-bud saja bisa terjadi kebocoran yang meresahkan masyara-kat, apalagi di Jawa Timur. Duh, ....
HINDARI MISTERI KURSI KOSONG SIPENMARU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.263 KB)

Abstract

       SIPENMARU, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, tahun yang lalu ternyata membawa pengalaman pahit yang cukup mahal harganya,ialah tentang "misteri kursi kosong". Diantara ratusan ribu calon mahasiswa baru yang memperebutkan 'kursi kuliah' pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang sangat terbatas jumlahnya ternyata pada akhirnya banyak ditemui "kursi kosong". Tanpa penghuni. Bahkan tanpa peminat.       Tentu saja hal ini menjadi "misteri" mengingat jumlah kursi kosong tersebut yang tidak sedikit. Ratusan bahkan ribuan!       Tahun lalu terdapat 900.000 lulusan SMTA yang rata-rata mendambakan dapat meneruskan studinya di perguruan tinggi. Namun demikian melihat kenyataan bahwa daya tampung PTN sangat terbatas maka banyak diantaranya yang "menyerah", kalah sebelum berperang. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya lulusan SMTA yang mendaftarkan diri pada PTN atau sebagai peserta Sipenmaru.       Peserta Sipenmaru untuk  tahun akademik 85/86 tercatat sebanyak 512.050 peserta. Setelah mengalami proses seleksi akhirnya yang dinyatakan diterima pada PTN sebanyak 71.280 orang  (tidak termasuk PMDK yang jumlahnya lebih dari 2000 orang). Jumlah ini tentu saja sudah disesuaikan dengan daya tampung maksimal PTN.
KEMAKNAAN YANG BERKURANG Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.557 KB)

Abstract

       Tepat pada Sabtu 29 Mei 1993 yang baru lalu hasil Evaluasi Belajar Tahap Akhir tingkat Nasional (Ebtanas) SMA diumumkan secara serentak pada seluruh wilayah tanah air tercinta.  Para siswa SMA yang beberapa minggu sebe-lumnya telah tersita perhatian dan konsentrasinya sudah dapat melihat hasil jerih payahnya dalam ber-Ebtanasria; berhasil atau gagal.          Ebtanas SMA tahun 1992/1993 kali ini diikuti oleh lebih dari satu juta siswa yang semuanya berharap supaya hasilnya optimal,  meskipun tidak semua peserta Ebtanas tersebut benar-benar optimal mempersiapkan dirinya dalam mengikuti moment penting ini. Dari jumlah yang lebih da-ri satu juta siswa ini sebagian besar mengharapkan kalau berhasil menempuh Ebtanas dan lulus SMA-nya dapat segera melanjutkan studi ke perguruan tinggi, meskipun di dalam kenyataannya nanti hanya sebagian kecil saja dari jumlah tersebut yang dapat melanjutkan studinya.          Setelah Ebtanas SMA diumumkan maka terbukti bahwa sebagian besar peserta Ebtanas memang berhasil dan lulus studinya di SMA.  Secara nasional tahun ini ada sekitar satu juta lulusan (baru) SMA; jumlah ini tentu tidak ter masuk lulusan SMA tahun-tahun yang sebelumnya. Kemanakah para lulusan SMA ini akan "berjalan"? Umumnya mereka ber keinginan untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, PTN atau PTS.  Persoalannya sekarang adalah daya tampung keseluruhan perguruan tinggi kita jauh lebih kecil kalau dibandingkan jumlah lulusan SMA tersebut.
UNIVERSITAS YANG TAK TERTINGGAL KERETA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.498 KB)

Abstract

       Ada sepotong pertanyaan "urgent" yang akhir-akhir ini berkembang secara meluas di kalangan kaum akademisi pada khususnya dan di kalangan masyarakat ilmiah pada umumnya; yaitu universitas atau perguruan tinggi yang bagaimanakah yang sanggup mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi yang teramat dahsyat dalam dua atau tiga dasa warsa terakhir ini?       Pertanyaan tersebut muncul karena akhir-akhir ini terdapat fenomena akademis yang sangat gampang dicermati tentang betapa tertinggalnya ilmu dan teknologi perguruan tinggi dibandingkan dengan ilmu dan teknologi yang berkembang di lapangan.       Ilmu dan teknologi komputer kiranya sangat tepat untuk diangkat sebagai ilustrasi.  Kalau pengajaran ilmu dan teknologi komputer di perguruan tinggi pada umumnya masih dilaksanakan secara "amatiran", bahkan di berbagai perguruan tinggi tertentu sama sekali tidak dilaksanakan pengajaran ilmu dan teknologi komputer, maka perkembangan  ilmu dan teknologi komputer di lapangan sudah begitu dahsyatnya.
KR TELAH MENDUNIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.408 KB)

Abstract

Yudil Chatim adalah seorang karyawan Depdiknas Jakarta yang sempat membantu ketika saya menjalankan tugas sebagai Sekretaris Komisi Nasio-nal (Komnas) Pendidikan Indonesia yang berkantor di Kantor Depdiknas, Jakarta. Sekarang ia menempuh master degree di Huazhong Normal Uni-versity Wuhan, China. Wuhan adalah ibu kota provinsi Hubei yang berpen-duduk 9 jutaan jiwa dengan kepadatan yang sangat tinggi. Dari Wuhan, China ia meng-email saya dan mengabarkan kalau situs Kedaulatan Rakyat, www.kr.co.id, sangat jelas dan cepat diakses, terutama pada halaman awal. Sesekali ada sedikit gangguan pada icon-nya; tetapi secara umum tidak masalah untuk menikmati KR dari China.          H. Wargahadibrata adalah dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan bersama saya membantu di Pusat Bahasa Depdiknas. Ia sedang mengambil doctor degree di University of Syracuse New York Amerika Serikat (AS). Ia mengabarkan bahwa KR dapat diakses dari AS dengan jelas dan cepat. Menurutnya banyak orang Indonesia di AS, utamanya di New York, yang mengakses KR.          Para kolega saya di negara-negara lain seperti di Singapura, Malaysia, Australia, Jepang, dsb, mengabarkan hal yang sama. Saya sendiri ketika ?jalan-jalan? di luar negeri juga mencoba mengakses KR; adapun hasilnya ternyata baik dan memuaskan. Kesimpulannya, KR (KR online) memang sudah mendunia, sudah dapat diakses dari manca negara.
GANTI KURIKULUM, PROBLEM BARU PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.373 KB)

Abstract

Adalah Curtis R. Finch dan John R. Crunkilton. Dua pakar kurikulum dari Virginia Polytechnic Institute and State University ini dalam karyanya 'Curriculum Development in Vocational and Technical Education : Planning, Content and Implementation' (1979) menyatakan bahwa untuk menyusun dan mengimplementasi kurikulum baru setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan; masing-masing menyangkut bagaimana metode mengembangkan materi dan bagaimana membangun sistem desiminasinya.          Untuk mengembangkan materi kurikulum ada tiga hal yang harus diperhatikan; masing-masing menyangkut ketersediaan waktu (time), pakar (expertise), serta dana ("dollars"). Sedangkan untuk mendesiminasikannya terdapat tiga hal yang harus dipertimbangkan; masing-masing menyangkut sejauh mana kesiapan pemakai dan pelaksana (audience), kondisi geografis (geographical consideration), serta beaya penyebaran informasi (cost).          Apa yang ditulis oleh kedua pakar tentang penyusunan dan pengimple-mentasian kurikulum tersebut sekarang menjadi aktual kembali manakala pemerintah akan mengakhiri masa berlakunya KBK serta menggantinya dengan kurikulum baru.  
EBTANAS : MENGUJI GURU ?! Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.858 KB)

Abstract

       Beberapa saat setelah mendengar rencana pemerintah tentang akan diselenggarakannya EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir tingkat Nasional) disekolah-sekolah maka kini berkembang beberapa spekulasi prediktif, terutama yang menyangkut hasil EBTANAS bagi siswa yang akan menghantarkan pada satu keputusan lulus atau tidak lulus.       Bagi para siswa yang terlibat langsung dalam pengerjaan soal-soal ujian, biasanya EBTANAS akan dihadapi dengan 'semangat juan yang tinggi', walaupun tidak boleh dilupakan bahwa disela-sela kepingan semangat tersebut akan terselip goresan kecemasan yang merata.       Soal-soal yang dibuat dari 'pusat' (tidak dibuat oleh guru mengajar dikelas) kemudian didistribusikan ke sekolah-sekolah sesaat ujian akan dimulai adalah sangat sulit diantipasi baik bentuk maupun kualitasnya. Inilah kiranya yang memberikan andil besar untuk membangun kecemasan siswa dalam menghadapi EBTANAS, yang akhirnya beberapa spekulasi prediktif saling bermunculan.       Sebagian orang berpendapat bahwa dengan EBTANAS berarti beberapa masalah akan terselesaikan sekaligus, diantaranya masalah-masalah 'keruwetan routine tahunan' penerimaan mahasiswa baru, standardisasi kualitas keluaran antar lembaga pendidikan, homogenitas materi pelajaran dsb.
MENCUCI MUKA BURUK PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.07 KB)

Abstract

Sistem konversi yang telah diterapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam penentuan kelulusan siswa peserta Ujian Akhir Nasional (UAN) akhirnya menunai ?badai?. Setelah mengetahui bahwa ternyata dalam penentuan kelulusan telah dipakai sistem konversi yang selama ini dirahasiakan kepada publik maka banyak siswa, orang tua, guru, kepala sekolah dan masyarakat pada umumnya menyatakan kekecewaan terhadap cara kerja Depdiknas.          Kalau sebagian masyarakat menyatakan kecewa maka sebagiannya lagi menyatakan keberatan dengan penerapan sistem konversi karena ada pihak yang merasa dirugikan. Adapun pihak yang merasa dirugikan ialah para siswa yang justru mencapai prestasi belajar yang memadai, bahkan sangat memadai.          Wajah atau muka pendidikan nasional kita selama ini memang sudah buruk, dan itu terlihat lebih buruk lagi ketika kasus konversi mencuat di tengah-tengah masyarakat yang sedang menghadapi masa ?panca roba?. Sistem konversi yang diterapkan Depdiknas tidak saja mencoreng muka pendidikan tetapi telah ?menguliti? topeng yang dipakai sehingga terli-hatlah warna asli muka buruk pendidikan nasional kita.
KESADARAN PENDIDIKAN NU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.144 KB)

Abstract

Suatu ketika sahabat saya seorang profesor yang menjadi pengurus Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengatakan bahwa kalau ada orang Muhammadiyah mendirikan universitas maka universitasnya akan berkem-bang, tetapi kalau mendirikan pesantren maka pesantrennya akan mati; sebaliknya kalau ada orang NU mendirikan pesantren maka pesantrennya akan berkembang, tetapi kalau mendirikan universitas maka universitasnya akan mati.          Pada ketika yang lain sahabat saya seorang kiai haji (KH) yang menjadi personal Pengurus Besar (PB) NU mengatakan bahwa kalau ada orang yang memimpin do?a dengan bahasa Arab menggunakan kalimat pendek dan Arabnya tidak lancar (plegak-pleguk) itu pertanda dia orang Muhammadi-yah; tetapi sebaliknya kalau ada orang yang memimpin do?a dengan bahasa Arab menggunakan kalimat panjang dan Arabnya lancar namun tidak tahu maksudnya (terjemahannya) itu pertanda dia orang NU.          Apa yang dinyatakan dua sahabat saya tersebut di atas memang sangat sensitif akan tetapi mengandung makna yang dalam. Sensitif karena kalau didengar secara tidak langsung oleh fanatikan Muhammadiyah dan NU, atau didengar langsung tetapi tidak paham konteksnya, bisa menimbulkan perkara; di sisi yang lain maknanya dalam karena di satu sisi Muham-madiyah tertinggal dalam soal kepesantrenan; sebaliknya NU tertinggal dalam soal pendidikan persekolahan.
PENULISAN SEJARAH BAGI ANAK DIDIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.252 KB)

Abstract

"Historian write history for the government,  but educational scientist write history for students".  Dari kalimat yang sangat tidak mengenakkan (bagi ahli sejarah) tersebut setidak-tidaknya terdapat dua pesan yang bisa dipetik;  pertama,  penulisan sejarah harus dijelaskan benar untuk apa dan bagi siapa kepentingannya,  dan kedua, penulisan sejarah bagi kepentingan pendidikan perlu memperhatikan siapa yang menulisnya.       Pesan tersebut  memang sangat relevan diaktualisasi sekarang ini ketika pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) menyatakan keinginannya untuk membenahi kurikulum sejarah nasional bagi anak-anak didik di sekolah.  Seperti kita ketahui bersama baru-baru ini menteri pendidikan Juwono Sudarsono menyatakan bahwa Depdikbud  akan mengajak komunitas ilmuwan sejarah, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI),  untuk menyusun kurikulum baru sejarah nasional.       Tim penyusun kurikulum baru sejarah nasional  nantinya ditugasi menelusuri kembali kurikulum sejarah semenjak Revolusi 1945, masa demokrasi parlementer,  pemerintah Sukarno sampai dengan Suharto, serta menuliskannya kembali secara menyeluruh, proporsional, berim-bang dan wajar.  Penyusunan kurikulum baru sejarah itu merupakan bagian dari program pembaruan seluruh kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang akan dikerjakan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Pusat Kurikulum Depdikbud.       Khusus mengenai pembaruan kurikulum sejarah nasional tersebut Pak Juwono menyatakan tidak mau terburu-buru. Nampaknya beliau ingin mendapatkan hasil yang optimal dengan melibatkan komunitas ilmuwan sejarah.  Pelibatan ilmuwan sejarah (dan para tokoh) diharap dapat mengemukakan secara adil hal-hal yang baik dan buruk pada masing-masing periode pemerintahan.