Claim Missing Document
Check
Articles

SISTEM KREDIT DALAM PERSPEKTIF Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.091 KB)

Abstract

Dalam sejarah pendidikan kita barangkali tahun 82/83/84 merupakan tahun yang mempunyai catatan khusus tersendiri. Betapa tidak,berbagai ide dan gagasan saling bermunculan dalam interval waktu yang relatif pendek bagaikan tumbuhnya jamur dimusim penghujan.Serentetan gagasan dan masalah yang sempat menghangat serta seringkali bahkan menjadi polemik mungkin belumlah mengendap dalam benak kita. Dari konsep pendidikan humaniora, pendalaman materi, sistem the best ten, sistem pra-seleksi, universitas terbuka yang sebagian masih bersifat 'premature' dalam artian belum diikuti dengan langkah nyata (operasional), kini muncul satu gagasan lagi tentang penerapan Sistem Kredit Semester (SKS) di SMA.'Last but not least' kata Raquel Sarinem yang senang berbahasa manca negara. Ide yang muncul dipelataran mass media (nampaknya) merupakan ide/gagasan yang paling akhir ditahun 1983 ini tentu tidak lebih dari pada ide/gagasan yang telah muncul sebelumnya.Beberapa tokoh telah berbicara (banyak) tentang keuntungan-keuntungan yang dapat dipetik dari penerapan sistem ini, serta disinggung pula (sedikit) tentang kerugian-kerugiannya.Tentu saja kita hanya dapat berdo'a semoga 'yang diatas sana' masih belum lupa bahwa beberapa gagasan belum bisa/sempat direalisir sampai saat ini, dan pada saatnya nanti manakala ide-ide tersebut telah direalisir benar-benar bermanfaat bagi perkembangan dunia pendidikan kita.
MEMPERTANYAKAN PERAN KONSORSIUM PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN BERNAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.601 KB)

Abstract

       Baru-baru ini sejumlah mahasiswa mendatangi kantor Mendikbud di Jakarta untuk menyampaikan aspirasi mengenai kebijakan penggabungan program studi di perguruan tinggi.  Bila dilihat dari jumlahnya memang tidak seberapa tetapi layak dipublikasi sehubungan dengan konteks aspirasi yang disampaikannya.  Mahasiswa dari program studi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) tersebut minta penjelasan dari Menteri Pendidikan dan sekaligus memohon diadakannya peninjauan ulang tentang kebijakan dilakukannya pemotongan ("cutting-of") terhadap program studi PLS.          Sebelum mendatangi kantor Mendikbud konon sebagian dari me-reka telah melaksanakan demonstrasi dengan mengarak peti mati di depan kantor Rektorat IKIP Yogyakarta sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan "pematian" program studi PLS.          Dua kejadian tersebut di atas menandakan bahwa penggabungan atau penataan atau apapun namanya terhadap program-program studi di perguruan tinggi dianggap sebagai persoalan yang serius; lebih dari pada itu kejelasan mengenai konsep penataan itu sendiri masih kurang jelas diterima oleh masyarakat sehingga timbullah berbagai reaksi atas (rencana) kebijakan yang diturunkan Depdikbud.
MUTU ORGANISASI PROFESI KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.403 KB)

Abstract

       Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Emil Salim, dalam presentasinya di hadapan peserta kongres dan pekan ilmiah Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia (ISPsI) baru-baru ini di Semarang sempat mengkomunikasi "uneg-uneg" yang telah lama dipendam. Menurutnya, selama lebih dari 25 tahun mengabdikan diri pada pemerintah Pak Emil belum pernah melihat secara nyata adanya peran psikologi dalam membuat kebijakan pemerintah. Karena itulah Pak Emil menyarankan agar peran ke arah itu harus makin diperbesar; karena pembuatan tiap kebijakan harus selalu dilihat dampaknya pada perilaku manusia.          Penyampaian "uneg-uneg" Pak Emil tersebut apabila diterima mentah-mentah oleh kalangan psikologi memang cu kup pahit; akan tetapi apabila diterima secara bijaksana kiranya justru dapat dijadikan cambuk untuk meningkatkan prestasi bagi ISPsI dengan segenap anggotanya.          Lebih dari itu,  pernyataan "uneg-uneg"  Pak Emil tersebut sesungguhnya sekaligus merupakan "warning" bagi semua organisasi profesi di negara kita; sejauh mana or-ganisasi profesi  telah berupaya meningkatkan mutu serta memainkan peran dalam kehidupan nyata.
KOMITMEN PENDIDIKAN SWASTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.486 KB)

Abstract

Akhir tahun 1998 yang lalu telah terbit sebuah buku yang penting untuk kitabaca isinya, berjudul 'Financing of Education in Indonesia'. Buku setebal 135halaman yang berisi laporan keuangan dalam penyelenggaraan pendidikan diIndonesia itu diterbitkan atas kerja sama dari Asian Development Bank (ADB) dan The University of Hong Kong (UHK).Buku yang keseluruhannya terdiri dari sembilan bab tersebut laporanpembahasannya dimulai dari latar belakang sosio kultural Indonesia, sistempendidikan serta sistem keuangan di negara kita, sampai kesimpulan danrekomendasi. Sementara itu substansi atas laporannya ialah menyangkut bagaimana pemerintah Indonesia mem-buat perencanaan keuangan pendidikan, seberapa berani pemerintah kita mengalokasi anggaran pendidikan dari RAPBN maupun GNP, posisi Indonesia bila dibandingkan dengan negara-negara lain dalam mengalokasi anggaran pendidikan, serta bagaimana dana pendidikan itu dijalankan dalam tataran operasional.Secara detail buku tersebut melaporkan berapa banyak dana pendidikan yangdihabiskan oleh lembaga pendidikan pada masing-masing satuan; dalam hal ini SD, Madrasah Ibtidaiyah (MI), SLTP, Madrasah Tsanawiah (MTs), SMU, MadrasahAliah (MA), SMK, PT, dan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI).Salah satu bagian yang menarik dalam laporan ADB dan UHK tersebut adalahpada perbandingan dana pendidikan yang diberikan kepada sekolah-sekolah negeri dengan sekolah-sekolah swasta; uta-manya yang berupa dana penyelenggaraan (recurrent budgets) dan dana pengembangan (development budgets).
EFEKTIVITAS PEMAKAIAN NILAI EBTANAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.297 KB)

Abstract

           Berbicara tentang instrumen untuk menyeleksi para kandidat mahasiswa perguruan tinggi  berarti kita tengah berbicara mengenai tes prediksi (prediction test) yang moment pelaksanaannya dilakukan awal terminal. Sementara itu secara ideal yang didasarkan pada argumentasi akademik maka pembuatan atau penyusunannya disarankan memakai pendekatan prediksi (prediction approach).              Mengapa pendekatan prediksi perlu digunakan dalam menyusun instrumen atau materi tes masuk perguruan tinggi? Jawabnya jelas, karena melalui pendekatan ini maka prestasi atau hasil belajar mahasiswa dapat dideteksi seawal mungkin. Sementara itu "treatment" yang perlu dilakukan oleh lembaga untuk menaikkan prestasi mahasiswanya pun dapat dilaksanakan secara efektif,  karena akan lebih tepat sasarannya.              Semua itu sangat argumentatif untuk dilaksanakan karena apabila dibandingkan dengan hasil tes prestasi  maka hasil tes prediksi lebih mencerminkan kemampuan dasar  para calon mahasiswa untuk mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
"PRAFORMAL", MODEL PENDIDIKAN BARU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.847 KB)

Abstract

       Adalah Bimbingan Tes (Masuk Perguruan Tinggi) dan Pendidikan Pra Universitas. Lembaga pendidikan ini dalam dua atau tiga tahun terakhir ini ramai dibicarakan, dimasalahkan dan didiskusikan. Bahkan tidak jarang menjadi polemik diantara para pengamat pendidikan, dari yang "kelas kroco" sampai para "jamhur".  Para pengelola lembaga dan para pemakai jasa lembaga ini tentu saja banyak yang ikut terlibat didalamnya.       Di setiap sekitar awal tahun ajaran (tahun akademika) baru masalah ini selalu muncul di permukaan yang lengkap dengan "warna-warni"nya disana-sini. Masalah ini memang senantiasa akan muncul terus karena setiap polemik dan diskusi yang berlangsung hampir tak pernah menghasilkan "kata akhir" sepotongpun.       Banyak diantara para pengamat yang membahas masalah ini dengan meninjaunya dari satu dimensi,  tanpa dengan mengaitkan de-ngan dimensi lainnya.  Ada pula yang pembahasannya lebih bersifat emosional dengan mengaitkan nya kepada kepentingan tertentu.  Aki-batnya tentu bisa ditebak, pembahasannya akan menjadi "rancu" dan tak berujung pangkal.  Tidak jarang pula yang akhirnya menjadi tidak proporsional.       Dua kutub yang saling berlawanan arah akhirnya menjadi lebih jauh jaraknya. Dari yang "pro-100%" terhadap kegiatan lembaga se-macam tersebut diatas sampai yang "kontra bulat-bulat".
PRESTASI MATEMATIKA SISWA INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.04 KB)

Abstract

         Oleh sang penelitinya sendiri, Ramon Mohandas, saya diberi satu dokumen laporan penelitian dengan titel "Report on The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) : Indonesian Student Achievement in Mathematics and Science Compared to Other Countries" (2000).  Dari laporan penelitian ini bisa dilihat perbandingan prestasi Matematika (dan IPA) antar siswa antar daerah di Indonesia, di samping bisa pula dilihat perbandingan prestasi siswa Indonesia dengan siswa di negara-negara manca. Dalam hal ini yang dimaksud dengan siswa ialah anak-anak kelas 1 dan 2 SLTP beserta ekuivalennya.         Ternyata, menurut penelitian tersebut, siswa Aceh dan Jambi  mempunyai prestasi Matematika yang lebih baik daripada siswa dari daerah lain pada umumnya;  sedangkan  siswa dari Sumatera Barat mempunyai prestasi yang paling jelek daripada siswa dari daerah lain pada umumnya. Selisih prestasi di antara siswa Aceh dan Jambi dengan siswa Sumatera Selatan adalah sangat signifikan, atau baha-sa mudahnya sangat mencolok (mata).          Dalam skala internasional prestasi Matematika siswa Indonesia ternyata amat jelek, bahkan termasuk kelompok "terburuk", apabila dibanding dengan siswa dari negara-negara lainnya. Dari 42 negara pertisipan TIMSS, ternyata siswa Indonesia hanya menduduki rank-ing ke-39. Dalam hal ini siswa dari Singapura menduduki peringkat pertama,  sementara itu urutan kedua sampai dengan kelima bertu-rut-turut ditempati oleh siswa dari Korea, Jepang, Hong Kong, dan Belgia. Siswa dari Thailand berhasil menempati peringkat ke-20; sementara itu siswa kita hanya "leading" dari Kuwait, Columbia dan Afrika Selatan.
MEMBURU DANA PENELITIAN KE LUAR KAMPUS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.587 KB)

Abstract

       Kiranya sangat tepat apa yang pernah dikemukakan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud Prof. DR. Soekadji Ranoewihardjo bahwa produktivitas dan kualitas penelitian merupakan salah satu tolok ukur kualitas perguruan tinggi; makin tinggi produktivitas dan kualitas penelitian pada sebuah perguruan tinggi maka semakin bermutu perguruan tinggi yang bersangkutan.       Berbagai perguruan tinggi pada negara-negara maju umum-nya sangat menyadari benar akan hal tersebut di atas, oleh karena itu aktivitas meneliti pada kalangan civitas akademikanya menjadi sangat dinamis.  Produktivitas dan kualitas penelitian pun menjadi begitu relatif tinggi.       Bagaimana dengan perguruan tinggi di negara kita? Kesadaran tentang pentingnya penelitian memang sudah tumbuh pada berbagai perguruan tinggi,  akan tetapi karena adanya berbagai hambatan dan keterbatasan maka aktivitas penelitian pun banyak yang menjadi tersendat-sendat. Adapun  salah satu hambatan yang menyebabkan tersendatnya aktivitas penelitian adalah masalah dana; yaitu berkisar pada minimnya dana lembaga yang dapat dialokasikan untuk menunjang aktivitas penelitian.
TIP BAGI YANG SUKSES UMPTN “91 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.183 KB)

Abstract

       Kalau tiada aral melintang, maka hari ini tanggal 3 Agustus 1991 hasil Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) diumumkan secara serentak di seluruh Indonesia. Ada yang sukses, dan ada pula yang gagal; hal ini pasti akan terjadi karena merupakan bagian dari romantika akademik perguruan tinggi kita.          Seandainya ada aturan bagi yang sukses harus ter-tawa sekeras-kerasnya dan bagi yang gagal harus menangis sekeras-kerasnya maka hampir dapat dipastikan suara tawa akan "tertelan" oleh bunyi tangisan. Betapa tidak, untuk periode kali ini setiap ada satu orang yang tertawa karena sukses maka di sekitarnya ada enam atau tujuh orang yang menangis karena gagal. Seperti diketahui persaingan dalam UMPTN memang ketat; untuk dapat menembus dinding PTN melewati jalur UMPTN ini maka setiap kandidat harus siap bersanding serta bersaing untuk menyisihkan sekitar enam atau tujuh kandidat lainnya. Tentu saja hanya kanidat yang siap sajalah yang bisa melakukannya; terkecuali bagi kandidat yang tengah mendapatkan "lucky".          Bagi yang sukses dalam pengumuman UMPTN 1991 kali ini maka beberapa hari berikutnya akan mendapat predikat baru; yaitu sebagai mahasiswa perguruan tinggi, tentunya setelah melaksanakan herregistrasi di perguruan tinggi-nya masing-masing. Tulisan ini bermaksud memberi semacam tip berdasarkan pengalaman empirik  bagi kandidat yang berhasil menembus dinding PTN dan sebentar lagi akan me-nerima predikat barunya sebagai mahasiswa (baru).
PENDIDIKAN PASCAGEMPA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.737 KB)

Abstract

       Seperti yang terjadi di Yogyakarta, sekitar dua tahun lalu atau tepatnya pada tanggal 6 Maret 2004, daerah Nabire Irian Jaya dihantam gempa yang sangat dahsyat. Kedahsyatan gempa di Nabire ini melebihi apa yang terjadi di Yogyakarta karena kalau kekuatan gempa di Yogyakarta hanya 5,9 Skala Richter versi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) maka kekuatan gempa di Nabire mencapai 6,9 Skala Richter.          Mari kita bayangkan, kalau Yogyakarta sekali pukul dengan 5,9 Skala Richter saja banyak bangunan yang ambruk dan rata dengan tanah lalu bagaimana dengan Nabire yang kena ?pukulan? serupa yang kekuatannya lebih besar? Mayoritas bangunan di Nabire roboh dan hancur berkeping-keping, termasuk bangunan sekolah. Lantai ruang belajar dan dinding pun pecah-pecah, retak, bahkan roboh. Tidak hanya bangunan fisik akan tetapi fasilitas sekolah, seperti laboratorium, tempat praktik, kursi, meja, papan tulis, dan lemari, ikut rusak. Lebih daripada itu buku-buku yang ada di sekolah tidak dapat dipakai lagi.          Salah satu keluhan masyarakat yang kemudian muncul adalah kurang adanya penanganan pendidikan yang sungguh-sungguh dari pemerintah pascagempa. Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Nasional Kabupaten Nabire Blasius Nuhuyanan mengatakan, tak ada gempa saja kondisi pendi-dikan jauh di bawah standar nasional, apalagi setelah terjadi gempa. Apakah Yogyakarta akan seperti Nabire?