WELLY SURYANDOKO
Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Seni Drama, Tari Dan Musik - Fakultas Bahasa dan Seni UNESA

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Kolaborasi seniman dan kecerdasan buatan (AI) dalam membangkitkan gelombang kreativitas di era revolusi seni digital Anggraini, Devi; Handayaningrum, Warih; Rahayu, Eko Wahyuni; Suryandoko, Welly; Sabri, Indar
Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Vol. 22 No. 2 (2024): October
Publisher : FBSB UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v22i2.69734

Abstract

Dunia seni telah berubah secara signifikan akibat dari kemajuan teknologi, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI). Seniman melihat teknologi sebagai alat yang dapat membantu dalam proses kreatif. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana dampak kehadiran AI dalam membangkitkan gelombang kreatif di era revolusi seni digital, ditinjau dari algoritma yang digunakan AI, pemanfaatan AI sebagai pendukung munculnya kreatifitas, hingga pemanfaatan AI sebagai media seniman dalam proses kreatif. Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan analisis data dari berbagai literatur yang relevan terkait seniman dan AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seniman dan AI telah berkolaborasi untuk menghasilkan gelombang kreatif yang mengubah dunia seni. Misalnya, AI dapat membantu seniman memahami preferensi audiens, menganalisis tren seni, atau bahkan membuat karya seni yang dapat berinteraksi dengan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi modern seperti AR atau VR. Kolaborasi ini memberikan akses seniman untuk mengeksplorasi konsep dan ekspresi yang sebelumnya belum atau sulit dicapai. Dengan adanya AI, proses kreatif menjadi lebih mudah, dan memungkinkan seniman untuk melihat seni dengan cara yang lebih kontekstual serta berkelanjutan. Seniman dapat menciptakan karya yang relevan dan resonan di tengah dinamika masyarakat digital dengan merespons secara dinamis terhadap perubahan budaya dan sosial berdasarkan algoritma dan data.Kata kunci: Kecerdasan buatan (AI), kreativitas, seniman, seni digital Collaboration between Artists and Artificial Intelligence (AI)in Generating a Wave of Creativity in the Era of Digital Art Revolution AbstractThe art world has changed significantly as a result of technological advancements, particularly in the field of artificial intelligence (AI). Contemporary artists see technology as a tool that can assist in the creative process. The purpose of this research is to analyze the impact of AI in generating creative waves in the era of the digital art revolution, in terms of the algorithms used by AI, the use of AI as a support for the emergence of creativity, and the use of AI as a medium for artists in the creative process. The research method uses a literature study with data analysis from various relevant literature related to artists and AI. The results showed that artists and AI have collaborated to produce creative waves that change the art world. For example, AI can help artists understand audience preferences, analyze art trends, or even create artworks that can interact with society by utilizing modern technologies such as AR or VR. This collaboration gives artists access to explore concepts and expressions that were previously unattainable or difficult to achieve. With AI, the creative process becomes easier, and allows artists to look at art in a more contextualized and sustainable way. Artists can create work that is relevant and resonant in a dynamic digital society by responding dynamically to cultural and social changes based on algorithms and data.Keywords: Artificial Intelligence (AI), creativity, artists, digital art
Seni Mural Sebagai Media Pendidikan Seni Rupa: Mendorong Kreativitas dan Penyampaian Ekspresi Siswa. Fahmi, Khairul; Sabri, Indar; Suryandoko, Welly
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 15 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v15i2.5567

Abstract

ABSTRAKSeni mural telah menjadi elemen penting dalam pendidikan seni rupa, bukan hanya sebagai karya seni yang mempercantik ruang fisik, tetapi juga sebagai alat pendidikan yang berdaya. Penelitian ini menjelaskan mengapa seni mural memiliki peran vital dalam pendidikan seni rupa, menguraikan tujuan, manfaat, dan kerangka penelitian yang digunakan. Mural adalah bentuk seni rupa yang menggunakan dinding atau permukaan bangunan sebagai medianya, dan memiliki persyaratan khusus terkait dengan arsitektur, desain, usia, perawatan, dan kenyamanan.Seni mural memiliki sejarah panjang yang mencakup zaman prasejarah, dan eksistensinya masih berlanjut di Indonesia. Mural memiliki beragam tujuan, mulai dari ekspresi artistik hingga penyampaian pesan sosial, ideologi, atau branding produk. Penelitian ini memfokuskan pada peran seni mural dalam pendidikan dan bagaimana siswa terlibat dalam proses kreatif.Metode penelitian ini adalah kualitatif dan melibatkan siswa dari berbagai tingkatan pendidikan, guru seni rupa, dan seniman yang terlibat dalam proyek seni mural di sekolah. Data dikumpulkan melalui survei, wawancara, dan analisis karya seni mural siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni mural mempengaruhi positif siswa dalam mengembangkan kreativitas, ekspresi pribadi, pemahaman estetika, dan keterampilan sosial. Mural juga membantu siswa menyuarakan pesan sosial dan lingkungan serta memperkuat ikatan dengan sekolah.Penelitian ini mempertegas pentingnya seni mural dalam konteks pendidikan seni rupa, tidak hanya sebagai medium ekspresi visual, tetapi juga sebagai alat yang memperkaya pengalaman belajar siswa secara holistik. Seni mural berperan dalam memadukan estetika, ekspresi pribadi, dan pemahaman seni rupa dalam proses pendidikan. 
Media Flashcard sebagai Suplemen Pembelajaran Rhythm Musik Anak Usia Dini Indyana, Luth; Suryandoko, Welly; Sabri, Indar
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 13 No. 1 (2024): Grenek: Jurnal Seni Musik
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v13i1.54041

Abstract

Rhythm atau ritmis merupakan pembelajaran penting dalam dunia musik. Kesulitan anak usia dini dalam berhitung menyebabkan pembelajaran ritmis menjadi kompleks dan kurang memahami makna ritmis itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan alternatif pembelajaran ritmis melalui penggunaan flashcard dengan materi ritmis silabel sebagai media yang dapat mempermudah pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian didapatkan bahwa flashcard mampu menjadi alternatif media karena memiliki kemampuan untuk menciptakan suasana belajar interaktif dengan berbagai aktivitas menyenangkan seperti game dan komposisi musik mandiri.
Transformasi Pendidikan Seni di Indonesia Pacsa Kemerdekaan Tahun 1945-1950 Setiyawan, Dimas Bagus; Handayaningrum, Warih; Suryandoko, Welly
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 13 No. 1 (2024): JPS - Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 13, Nomor 1, Tahun 2024
Publisher : Program Magister Pendidikan Sejarah FISH UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JPS.131.04

Abstract

The development of art education in Indonesia has a long history, including during the early period of Indonesian independence. This research aims to analyze the development of art education during the early years of independence from 1945 to 1950. One of the methods used in this research is qualitative research with a historical approach, which involves five stages: topic selection, heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results of this research indicate that at the beginning of Indonesian independence in 1945, art education played a significant role in building cultural identity and national recovery. During the colonial era, education in Indonesia was heavily discriminated against, with limited educational opportunities only available to children from privileged backgrounds. In the period from 1945 to 1950, art education became a means to awaken nationalism, strengthen cultural identity, and appreciate traditional art as cultural heritage. During this period, art education not only shaped a generation of creative artists but also explored Indonesia's rich cultural roots and used them as a source of inspiration. In the early years of independence, there were not many formal educational institutions established, but the rapid development of art significantly influenced the formation of art education institutions in Indonesia. Therefore, art organizations and art exhibitions played a crucial role in nurturing the creativity of artists.
The Role of Cangkruk Culture in Developing Skills and Creativity of Junior Graphic Designers in Surakarta Kusuma, Rizqi Fajar; Martadi, Martadi; Sabri, Indar; Suryandoko, Welly; Agista, Yogha Adhi
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 12, No 1 (2025): June 2025
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v12i1.15018

Abstract

The Javanese culture of Cangkruk, a tradition of casual social interaction, has a positive chain effect for aspiring graphic designer students. This research aims to analyze the role of Cangkruk in developing creativity in junior graphic designers in Surakarta. The method used is a case study on students majoring in fine arts education at Sebelas Maret University, with a Peer Teaching approach and analysis of the creativity process according to Wallas, which includes four stages, which are preparation, incubation, illumination, and verification. This research found that Cangkruk culture functions as a space that supports peer learning and collaboration, a medium for reflection and design criticism, a source of inspiration and creative exploration, as well as emotional support and motivation. The creative process that occurs in Cangkruk allows designers to learn through real practice based on social interaction. By creating an open space that encourages dialog of ideas, collaboration, and reflection of design work, it can enrich the creative process to produce creative products that are compatible with the design industry. In conclusion, cangkruk can be positioned as an alternative pedagogical tool or informal learning space in developing the skills and creativity of junior graphic designers. This research recommends further exploration of the potential of Cangkruk culture in other disciplines and diverse cultural backgrounds and institutions. Peran Budaya Cangkruk dalam Mengembangkan Keterampilan dan Kreativitas pada Desainer Grafis Junior di Surakarta Abstrak Budaya Cangkruk merupakan tradisi masyarakat Jawa berupa interaksi sosial santai, memiliki efek berantai positif bagi mahasiswa calon desainer grafis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Cangkruk dalam mengembangkan kreativitas pada desainer grafis junior di Surakarta. Metode yang digunakan adalah studi kasus pada mahasiswa jurusan pendidikan seni rupa di Universitas Sebelas Maret, dengan pendekatan Peer Teaching dan analisis proses kreativitas menurut Wallas, yang meliputi empat tahap, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Penelitian ini menemukan bahwa budaya Cangkruk berfungsi sebagai ruang yang mendukung peer learning dan kolaborasi, media refleksi dan kritik desain, sumber inspirasi dan eksplorasi kreatif, serta dukungan emosional dan motivasi. Proses kreatif yang terjadi dalam Cangkruk memungkinkan desainer untuk belajar melalui praktek nyata berbasis interaksi sosial. Dengan menciptakan ruang terbuka yang mendorong dialog ide, kolaborasi, dan refleksi karya desain dapat memperkaya proses kreatif untuk menghasilkan produk kreatif yang seusai dengan industri desain. Kesimpulannya, cangkruk dapat diposisikan sebagai alat pedagogis alternatif atau ruang pembelajaran informal dalam pengembangan keterampilan dan kreatifitas desainer grafis junior. Penelitian ini merekomendasikan eksplorasi lebih lanjut terhadap potensi budaya Cangkruk dalam disiplin ilmu lain dan latar belakang budaya serta institusi yang beragam.
Media Flashcard sebagai Suplemen Pembelajaran Rhythm Musik Anak Usia Dini Indyana, Luth; Suryandoko, Welly; Sabri, Indar
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 13 No. 1 (2024): Grenek: Jurnal Seni Musik (June)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v13i1.54041

Abstract

Rhythm atau ritmis merupakan pembelajaran penting dalam dunia musik. Kesulitan anak usia dini dalam berhitung menyebabkan pembelajaran ritmis menjadi kompleks dan kurang memahami makna ritmis itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan alternatif pembelajaran ritmis melalui penggunaan flashcard dengan materi ritmis silabel sebagai media yang dapat mempermudah pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian didapatkan bahwa flashcard mampu menjadi alternatif media karena memiliki kemampuan untuk menciptakan suasana belajar interaktif dengan berbagai aktivitas menyenangkan seperti game dan komposisi musik mandiri.
Sistem Pewarisan Tenun Sasak sebagai Pendidikan Budaya Sasak Fahmi, Khairul; Sabri, Indar; Supratno, Haris; Suryandoko, Welly; Abdillah, Autar
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 2 (2025): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i2.28487

Abstract

One of Indonesia's cultural heritages that deserves to be preserved is the art of weaving, which symbolizes identity and local wisdom, especially among the Sasak tribe in Lombok. Weaving is not just a skill, but also rich in cultural and spiritual values. For Sasak women, weaving skills are even an important requirement in marriage. The weaving tradition in Pringgasela Village, East Lombok, faces significant challenges in its preservation. Changes in lifestyle toward modernization, a lack of regeneration among the younger generation, and low income from weaving products have led to a decline in interest in the art of weaving. This study aims to explore the role of Sasak women in preserving and passing down the weaving tradition as part of Sasak cultural education. The research findings indicate that while there are groups of women who remain committed to preserving this tradition, external factors such as modernization and competition from industrial products are affecting the sustainability of the weaving tradition. Therefore, support from the government and society is needed to preserve and maintain the art of weaving so that it remains an integral part of Indonesia's cultural identity.
Pemertahanan Budaya Alat Musik Gamolan Melalui Penciptaan Lagu Gamolan Sakti Dinata, Riki Rahmat; Sabri, Indar; Suryandoko, Welly; Trisakti, Trisakti; Sekti, Retnayu Prasetyanti
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 2 (2025): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i2.28709

Abstract

Gamolan is a musical instrument made of bamboo that is played by beating so that it produces tones. The tones are distinguished by notes or scales. Gamolan comes from the word begamol, the word begamol in Lampung language is the same as the word begumul in Malay language which means gathering. The research “Cultural Preservation of Gamolan Musical Instruments through the Creation of Gamolan Sakti Songs” aims to explore how traditional songs can be used as a tool to preserve and promote the cultural heritage of Gamolan musical instruments in Lampung. The song created by Hasyim Kan combines traditional elements with modern musical innovations. This research uses a qualitative descriptive method. This research uses the theory of Anthropology from Koentjaraningrat with the Culture Knowlade approach and is conducted at the University of Lampung and Hasyim Kan as the main source. The main sources are observation of the process of playing Gamolan musical instruments, learning Gamolan Sakti songs performed by Hasyim Kan, literature studies in libraries, books, national journals and other literature. The results showed that the Gamolan Sakti song has had a positive impact on the youth community in Lampung, especially in strengthening their cultural identity as Lampung people and increasing their pride in local cultural heritage. The song has helped the younger generation develop interest and experience in playing Gamolan musical instruments, as well as raising awareness and appreciation of Gamolan culture in Lampung. Despite the challenges in preserving Gamolan music culture, “Gamolan Sakti” has successfully overcome these challenges and made an impact on the youth community in Lampung. This researcher hopes that the Gamolan musical instrument from Lampung will not be lost in the modern era and will continue to be appreciated and loved by future generations.
Pembelajaran Piano Klasik sebagai Latihan Fokus Anak Penderita ADHD Indyana, Luth; Sabri , Indar; Abdillah , Autar; Suryandoko, Welly
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 14 No. 1 (2025): Grenek: Jurnal Seni Musik (June)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v14i1.65490

Abstract

Anak berkebutuhan khusus selalu menarik perhatian dari berbagai pihak antara lain pendidik. ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder meurpakan salah satu penyakit yang menyebabkan penderita sangat sulit untuk memfokuskan dirinya sendiri sehingga mengganggu rangkaian aktivitas dalam kehidupannya sehingga diperlukan penanganan dan pendidikan yang tepat bagi penderita ADHD. Salah satu terapi yang dapat dilakukan untuk mengurangi ADHD adalah dengan bermain piano klasik. Memainkan lagu dengan piano akan membantu penderita ADHD untuk lebih fokus dan mampu memusatkan perhatian secara perlahan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi terhadap 5 anak penderita ADHD, wawancara kepada orang tua anak penderita ADHD, psikolog, hingga pengajar piano klasik. Peneliti juga menggunakan studi literatur dari jurnal ilmiah serta buku sebagai pendukung data inti. Hasil yang didapatkan adalah anak penderita ADHD mampu dilatih fokusnya dengan belajar piano klasik jika diberikan metode pengajaran yang tepat, antara lain (1) Metode drill and practice, (2) Metode time out, (3) Games.
Pemberdayaan Pelaku Seni Jaranan Nganjuk Dalam Menangani Cidera Melalui Keterampilan Masase Terapi Sifa, Agus; Hariyato, Agus; Suryandoko, Welly
Dinamis: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/dinamis.v2i2.5860

Abstract

Community Service entitled Empowering Jaranan Nganjuk Performers in Handling Injuries Through Massage Therapy Skills has a fundamental goal of implementing it in society, namely welfare by always maintaining health by maintaining physical condition. Jaranan actors need to be empowered so that their standard of living and vitality are better. So, through this service, you can make a good contribution, because the main purpose of carrying out this service is so that the actors can be independent in dealing with minor injuries or serious injuries during or after the show. Empowerment is carried out in the form of 1) Involvement of partners as training participants in massage therapy for injuries, 2) Involvement in handling injuries through massage therapy skills, 3) Involving other Jaranan actors to be empowered to have massage therapy skills, 5) Involvement in forming therapeutic massage groups to Jaranan perpetrators. The main goal is for practitioners of the Jaranan Art to understand the benefits, techniques, and practices of this therapeutic massage. Next is to provide legitimacy for Jaranan performers who are proficient at performing therapeutic massage in the form of certification that each Jaranan performer has the skills to handle Jaranan performers when they are injured.