Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN KERAPATAN LAMUN (SEAGRASS) DENGAN KELIMPAHAN SYNGNATHIDAE DI PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU Tishmawati, Rr. Nadia Chairina; Suryanti, -; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.066 KB)

Abstract

Pulau Panggang terletak di Taman Nasional Kepulauan Seribu yang memiliki ekosistem lamun dengan cukup baik. Banyak biota yang berasosiasi dengan lamun, salah satunya famili Syngnathidae yang merupakan unsur kekayaan keanekaragaman hayati laut yang terdiri dari seahorses, pipefishes dan sea dragon. Tingginya harga pasar dan manfaat yang begitu besar bagi manusia, membuat permintaan komoditas tersebut meningkat dari waktu ke waktu sehingga mengancam kelestarian jenis tersebut di habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan lamun, mengetahui kelimpahan famili Syngnathidae, serta mengetahui hubungan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan famili Syngnathidae di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2014 di perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode observasi dengan metode samplingnya random sampling. Pengambilan sampel syngnathidae dilakukan pada ketiga stasiun lamun dengan kerapatan jarang, sedang, dan padat. Penghitungan pemetaan lamun dan kelimpahan Syngnathidae menggunakan kuadran 1m x 1m dan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 6 jenis lamun yaitu Enhallus acoroides, Cymodoceae serulata, Thalasia hemprichii, Syringodium isoerifolium, Halodule uninervis, dan Cymodoceae rotundata. Jumlah tegakan lamun pada kerapatan jarang 6185 tegakan/ 75m2, kerapatan sedang 13429 tegakan/ 75m2, dan kerapatan padat 26920 tegakan/ 75m2. Famili syngnathidae yang didapatkan di Pulau Panggang yaitu sebanyak 3 spesies pada kerapatan padat sejumlah 10 individu/ 75m2, kerapatan sedang 6 individu/ 75m2, dan pada kerapatan jarang 3 individu/ 75m2. Hasil analisa statistika kerapatan lamun dengan kelimpahan Syngnathidae terdapat korelasi r = 0.996, menunjukan korelasi erat sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh melimpahnya syngnathidae. Panggang Island is located in the National Park of Kepulauan Seribu that has good enough seagrass ecosystem. Many biota associated to seagrass, is  Syngnathidae family is one of the elements of marine biodiversity which consists of seahorses, pipefishes, and sea dragon. The high market price and benefits to humans have made its demand commodity for this been increasing time to time, so threaten its sustainability in its habitat. This study aims to determine the density of seagrass, the abundance of family Syngnathidae as well as the relationship between the density of seagrass with the abundance of Syngnathidae family in the Panggang Island, Kepulauan Seribu. The research was conducted in May-June 2014 at Panggang Island waters, Kepulauan Seribu. The method used in this study is observation sampling using random sampling. The sampling of Syngnathidae at three stations seagrass on the difference density which are rarely, medium, and high. The calculation of seagrass mapping abundance Syngnathidae using 1m x 1m quadrant, were done in three times repetition. The results showed that there are six types of seagrass which are Enhallus acoroides, Cymodoceae serulata, Thalasia hemprichii, Syringodium isoerifolium, Halodule uninervis, and Cymodoceae rotundata. The number of seagrass stands obtained at a rarely 6185 stands/ 75m2, medium 13429/ 75m2, and high density 26920 stands/ 75m2. There are three species of Syngnathidae obtained in the Panggang Island in which at high density 10 individuals/ 75m2, at medium density 6 individuals/ 75m2, and at rarely density 3 individual/ 75m2. The result of statistical analysis showed closed correlation between seagrass density and Syngnathidae abundance with the r value of = 0.996, so that higher density of seagrass will be followed by abundance Syngnathidae.
ANALISIS PRODUKTIVITAS PRIMER TAMBAK IKAN BANDENG (Chanos chanos, FORSSKAL) DENGAN DATA CITRA SATELIT IKONOS DI KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH Juniarta, Andrian; Hartoko, Agus; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.382 KB)

Abstract

Kabupaten Pati salah satu sentra penghasil ikan bandeng terbesar di Propinsi Jawa Tengah. Hal tersebut tentunya dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan kualitas kesuburan perairan yang dipengaruhi oleh adanya unsur hara, klorofil-a, nitrat, fosfat, dan fitoplankton. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2015 di tambak ikan Bandeng Kabupaten Pati, bertujuan mengetahui kandungan klorofil-a, nitrat, fosfat, dan fitoplankton di beberapa wilayah tambak ikan bandeng dengan citra satelit resolusi tinggi serta mengetahui keterkaitan antara klorofil-a dengan nitrat, fosfat serta fitoplankton. Metodenya yaitu metode deskriptif dengan teknik purposive random sampling, dan interpretasi citra IKONOS. Kandungan klorofil-a di tambak semua tergolong oligotrofik, kecuali VI tergolong mesotrofik. Kandungan nitratnya di tambak II, III, IV, V, VII, dan VIII tergolong oligotrofik, dan tambak I, VI, dan IX tergolong mesotrofik. Berdasarkan kandungan fosfatnya, semua tambak tergolong oligotrofik. Fitoplankton yang mendominasi yaitu genus Nitzchia, Navicula, dan Ulothrix. Pada tambak I, II, III, IV nilai indeks keanekaragaman, kestabilan komunitas dan penyebaran jumlah individu setiap jenis fitoplankton termasuk dalam kategori sedang, pada tambak V, VI, VII, VIII, IX dalam kategori rendah. Nilai indeks keseragaman tambak I dan II yaitu stabil, relatif sama dan tidak ada yang mendominasi sedangkan tambak III, IV, V, VI, VII, VIII, IX tidak merata dan ada jenis yang mendominasi. Hubungan antara klorofil-a dengan nitrat lebih kuat daripada klorofil-a dengan fosfat yang dibuktikan pada hasil regresi polinomial dimana nilai (r) klorofil-a dengan nitrat sebesar 0,771 sedangkan nilai (r) klorofil-a dengan fosfat sebesar 0,301, klorofil-a dengan fitoplankton dengan nilai (r) 0.3951. Pati regency one of the largest center's milkfish producer in The Central Java Province. It certainly can give effect to changes in fertility quality of waters affected by the presence of nutrients, nitrates, phosphates, chlorophyll-a, phytoplankton. This research was conducted in May 2015 in Pati regency milkfish ponds, aims to determine the content of chlorophyll-a, nitrate, phosphate, and phytoplankton in some areas milkfish ponds with high-resolution satellite imagery and determine the relationship between chlorophyll-a by nitrates, phosphates and phytoplankton. The method used is descriptive method with purposive random sampling technique, and interpretation of IKONOS imagery. The results based on content of chlorophyll-a in ponds I, II, III, IV, V, VII, VIII, IX classified oligotrofik, and pond VI classified mesotrofik. Based on the content of nitrate in ponds II, III, IV, V, VII, and VIII classified oligotrofik, and ponds I, VI and IX classified mesotrofik. Based on the content of phosphate, all ponds classified oligotrofik. Namely of phytoplankton dominate the genus Nitzschia, Navicula, and ulothrix. At the ponds I, II, III, IV value of diversity index, the stability of communities and the spread of the number of individuals of each species of phytoplankton in medium category, in ponds V, VI, VII, VIII, IX index value of diversity, the stability of communities and the spread of the number of individuals of each species phytoplankton are included in the low category. Ponds uniformity index value I and II are stable, relatively the same and no one dominates, while ponds III, IV, V, VI, VII, VIII, IX is uneven and there is a dominant species. The relationship between chlorophyll-a by nitrate is stronger than chlorophyll-a with phosphate as evidenced in the results of polynomial regression in which the value (r) of chlorophyll-a with nitrate of 0.771 while the value (r) of chlorophyll-a with phosphate at 0.301, chlorophyll-a with phytoplankton value (r) 0.3951.
HUBUNGAN KELIMPAHAN BULU BABI (SEA URCHIN) DENGAN BAHAN ORGANIK SUBSTRAT DASAR PERAIRAN DI PANTAI KRAKAL, YOGYAKARTA Arthaz, Ca Perdana; Suryanti, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.899 KB)

Abstract

Bulu babi (Sea urchin) dapat ditemui mulai dari daerah intertidal sampai ke kedalaman 10 m. Bulu babi umumnya menghuni ekosistem terumbu karang dan padang lamun, biasanya  hidup  mengelompok  tergantung dari  jenis habitatnya. Bulu babi memiliki peranan penting terhadap ekologi suatu perairan dan rantai makanan. Di dalam rantai makanan, bulu babi memiliki kedudukan sebagai herbivora, omnivora, ataupun sebagai pemakan detritus sehingga sampah-sampah organisme tak akan hilang begitu saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kandungan bahan organik terhadap kelimpahan Bulu Babi di Pantai Krakal, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2014 di Pantai Krakal, Yogyakarta dan analisa kandungan bahan organik di laksanakan di Laboratorium Teknik Lingkungan, Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro. Metode pengambilan data kelimpahan Bulu Babi menggunakan metode kuadran transek berukuran 1 x 1 meter dan metode analisa kandungan bahan organik menggunakan metode gravimetri. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu kandungan bahan organik di perairan Pantai Krakal stasiun 1 berkisar antara 4,09 – 4,71%, pada stasiun 2 berkisar antara 3,65 – 3,98% dan pada stasiun 3 berkisar antara 5,04 – 5,60%. Pada Pantai Krakal di temukan 3 jenis bulu babi yaitu Stomopneustus sp, Echinometra sp, Echinometra mathaei. Kelimpahan individu bulu babi stasiun 1 pengulangan 1 sebanyak 148/150 m2 dan pengulangan 2 sebanyak 157/150 m2, stasiun 2 pengulangan 1 sebanyak 161/150 m2 dan pengulangan 2 sebanyak 172/150 m2 dan stasiun 3 pengulangan 1 sebanyak 174/150 m2 dan pengulangan 2 sebanyak 190/150 m2. Berdasarkan uji regresi dapat dikatakan hubungan yang cukup lemah antara substrat dasar perairan dengan kelimpahan bulu babi meskipun masing-masing berkecenderungan meningkat. Sea urchin can be easily found in intertidal area to the depth of 10 m. Groups of sea urchins usually inhibits coral reefs and seagrass bedsbased on their habitat. Sea urchin is essential in water ecology and food chain. In the food chain, sea urchin has the role as herbivore, omnivore, or detritus consumer to process the organism waste. The study was aimed to determine the correlation of organic materials of water-base substrate to the abundance of sea urchin in Krakal Beach, Yogyakarta.  The research was performed in October-November 2014 in Krakal Beach, Yogyakarta and the organic matter analysis was conducted in the Laboratory of Environmental Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University. The sampling method on sea urchin abundance was transect quadrant of 1 x 1 meter with 50 m length and organic matter analysis was gravimetric analysis method. The result obtained from the study is that the organic substance of Krakal Beach ranges between 4,09 – 4,71%in station 1, 3,65 – 3,98%in station 2, and 5,04 – 5,60% in station 3. There are 3 species of sea urchin in Krakal Beach namedStomopneustus sp, Echinometra sp, Echinometra mathaei. The abundance of sea urchin is 148/150 m2 and 157/150 m2in station 1, 161/150 m2 and 172/150 m2in station 2 and 174/150 m2 and 90/150 m2in station 3. Based on the regression test, it can be said that the water-base substrate and the abundance of sea urchin although each tended to rise.
KARAKTERISTIK UKURAN TINGGI DAN DIAMETER BATANG SEEDLING Rhizophora mucronata PADA SUBSTRAT DENGAN KANDUNGAN LUMPUR YANG BERBEDA DI PULAU PAHAWANG KABUPATEN PESAWARAN, LAMPUNG Maulana, Fandi; Hendrarto, Boedi; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.676 KB)

Abstract

Banyaknya aktifitas penanaman mangrove oleh masyarakat di Pulau Pahawang memberikan gambaran pentingnya ekosistem mangrove. Penanaman tersebut tidak mengkaji faktor pendukung khususnya kandungan lumpur yang terdapat pada substrat di lokasi penanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik ukuran tinggi dan diameter seedling Rhizophora mucronata pada kandungan lumpur yang berbeda di kawasan rehabilitasi mangrove di Pulau Pahawang, Lampung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sampel (Sample Survey Method). Variabel data utama yang dibutuhkan yaitu: data tinggi dan diameter seedling selama 6 minggu untuk dianalisis dengan lokasi yang memiliki kandungan lumpur yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan perubahan pola tinggi dan diameter di lokasi yang memiliki kandungan lumpur rendah memiliki pertambahan ukuran lebar diameter yang lebih baik hal ini disebabkan karena daerah yang memiliki kandungan lumpur yang tinggi menyebabkan kurangnya oksigen bagi perakaran seedling yang baru ditanam. Plantation activities by stakeholders in Pahawang Island showed to us the importance of ecosytem mangrove in costal. The study of a main factors for successful mangrove rehabilitation is never introduce to those activity, especially for silt contents in the research locations. The purpose of this research  was determined  height and diameter characteristic of Seedling Rhizophora mucronata on differences silt contents in Pahawang Island, Lampung Province. The method of the research was sample survey method, The main variabele was needed: height and diameter data of seedling for 6 weeks to be analyzed with the silt contents in differents locations. The result of this research was changing height and diameter pattern in low silt contents had more wide of diameter, due to content of high silt caused low oxygent for roots of new seedling. 
ANALISIS KESUBURAN PERAIRAN BERDASARKAN BAHAN ORGANIK TOTAL, NITRAT, FOSFAT DAN KLOROFIL-a DI SUNGAI JAJAR KABUPATEN DEMAK Wijayanto, Adhitya; Purnomo, Pujiono Wahyu; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.226 KB)

Abstract

Perkembangan pemanfaatan lahan pada kawasan dan lingkungan perairan sungai dapat memberikan pengaruh terhadap penurunan kualitas perairan yang dicirikan dengan penurunan kesuburan perairan. Kesuburan suatu perairan dipengaruhi oleh sediaan materi bahan organik, unsur hara (nitrat dan fosfat), dan klorofil-a, serta variabel fisika kimia perairan. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2014 – Januari 2015 di Sungai Jajar, yang bertujuan untuk mengetahui kandungan Bahan Organik, NO3, PO4, dan klorofil-a di beberapa wilayah Sungai Jajar dan mengetahui keterkaitan antara bahan organik total dengan nitrat dan fosfat serta nitrat dan fosfat dengan klorofil-a untuk melihat tingkat kesuburannya. Metode  yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesuburan perairan berdasarkan kandungan nitrat tergolong dalam kesuburan rendah (oligotrofik) hingga sedang (mesotrofik). Berdasarkan kandungan fosfatnya tergolong dalam kategori subur (eutrofik). Berdasarkan kandungan klorofil-a kesuburan perairan Sungai Jajar tergolong kesuburan yang rendah (oligotrofik). Keterkaitan antara klorofil-a dengan nitrat dan fosfat di perairan Sungai Jajar secara parsial lebih kuat hubungan antara fosfat terhadap klorofil-a. Nitrat tidak menunjukkan hubungan yang kuat terhadap klorofil-a. Berdasarkan analisa statistik regresi linier berganda, secara keseluruhan nitrat dan fosfat mempunyai korelasi dan hubungan linier positif atau memberikan pengaruh terhadap kandungan klorofil-a. As the development of land use in the area and the river water environment can influence mainly the alleged decline of the quality of water that is characterized by a decrease in aquatic fertility. The fertility of a aquatic area is also affected by the total organic matter, hara unsure (nitrate and phosphate), and chlorophyll-a, as well as the variable of aquatic physics and chemist. This research was done on December 2014-January 2015 in River Jajar, which is aimed to identify the relationship between Total Organis Matter NO3, PO4, and Chlorophyll-a in some areas approaching flow Jajar River estuary and determine the link between nitrate and phosphate with a total organic matter and chlorophyll -a with nitrate and phosphate to see the level of fertility.. This research used the descriptive method  using purposive sampling. The results showed that the fertility waters by nitrate content belonging to the low fertility (oligotrophic) to moderate (mesotrophic). Based on the phosphate content of classified in the category fertile (eutrophic). Based on the content of chlorophyll-a fertility Jajar river waters classified as low fertility (oligotrophic).The linkage between chlorophyll-a by nitrate and phosphate in the waters of the Jajar River partially stronger relationship between phosphate to chlorophyll-a. Nitrates did not showed a strong relationship to the chlorophyll-a. Based on statistical analysis of multiple linear regression, together nitrates and phosphates have a positive correlation and linear relationship or have influence on the content of chlorophyll-a.
KESESUAIAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG UNTUK KEGIATAN WISATA BAHARI KATEGORI SELAM DI PULAU KAYU ANGIN GENTENG, KEPULAUAN SERIBU Wijaya, Daniel Nugroho; Suryanti, -; Supriharyono, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.147 KB)

Abstract

Ekosistem terumbu karang memiliki hubungan sangat erat dengan kegiatan wisata bahari. Pulau Kayu Angin Genteng merupakan salah satu dari gugusan pulau-pulau kecil di kepulauan seribu, berada di wilayah zona inti kepulauan Seribu  dengan kondisi ekosistem terumbu karang yang sangat baik. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juni – November 2014 ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekosistem terumbu karang serta kesesuaiannya terhadap kegiatan wisata bahari di perairan pulau Kayu Angin Genteng. Pengamatan penutupan terumbu karang dan habitat dasar menggunakan metode visual transek kuadrat, jenis dan kelimpahan ikan karang menggunakan metode sensus visual dengan menggunakan peralatan selam SCUBA. Data hasil pengamatan di lapangan dianalisis dengan matriks kesesuaian wisata bahari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tutupan karang hidup yang terdapat di perairan pulau Kayu angin Genteng berada di kisaran 87,11% - 91,99% dengan kategori sangat baik, yang terdiri atas 10 marga (Genus) karang yakni Acropora, Montipora, Anacropora, Coeloseris, Heliopora, Herpolitha Astreopora, Oxypora, Porites, dan Pachiseris. Hasil pengamatan kelimpahan ikan karang secara menyeluruh diperoleh 22 jenis spesies ikan karang dengan spesies yang paling dominan ditemukan adalah Acanthurus-triostegus. Indeks Kesesuaian Wisata Bahari di Pulau Kayu Angin Genteng  diperoleh bahwa zona barat merupakan wilayah yang paling sesuai dengan nilai indeks kesesuaian 88,89 % dengan kategori sangat sesuai, sementara zona yang memiliki indeks kesesuaian terendah dengan 75,92% adalah zona utara dengan kategori sesuai untuk wisata kategori selam. Coral reef ecosystem has a very close relationship with the marine tourism activities. Kayu Angin Genteng island is one of a cluster of small islands in Seribu islands, located in the core zone of the Seribu Islands region with the condition  for coral reef ecosystems are very good. The Research was conducted in June - November 2014 aims to determine the potential of coral reef ecosystems as well as the suitability of the marine tourism activities in the waters of the Kayu Angin Genteng island. Observations closure coral reefs and habitats basis using quadratic visual transect, the type and abundance of reef fish using visual census using SCUBA diving equipment. Data from field observations were analyzed by matrix suitability marine tourism. The results showed that there is a live coral cover in the waters of the Kayu Angin Genteng island is in the range of 87.11% - 91.99% with a very well category, which consists of 10 genera (Genus) the coral Acropora, Montipora, Anacropora, Coeloseris, Heliopora, Herpolitha Astreopora, Oxypora, Porites, and Pachiseris. The observation of the overall abundance of reef fish obtained 22 species of reef fish with the most dominant species found are Acanthurus-triostegus. Suitability Index Marine Tourism of Kayu Angin Genteng island obtained that western zone is an area that best suits the suitability index value 88.89% with a very appropriate category, while the zones which have the lowest suitability index with 75.92% is the northern zone which still has a category corresponding for diving activity.
KELIMPAHAN BULU BABI (SEA URCHIN) PADA EKOSISTEM KARANG DAN LAMUN DI PERAIRAN PANTAI SUNDAK, YOGYAKARTA Firmandana, Tony Cahya; Suryanti, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.706 KB)

Abstract

Perairan pantai Sundak memiliki beberapa biota echinodermata salah satunya bulu babi. Bulu babi tersebar di ekosistem padang lamun dan karang, keberadaan bulu babi pada suatu ekosistem tidak bisa lepas dari pengaruh faktor fisika kimia pada lingkungan tersebut, walaupun tidak berpengaruh secara langsung. Karakteristik yang berbeda pada kedua ekosistem akan mempengaruhi populasi pada ekosistem tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem karang dan lamun di perairan pantai Sundak, untuk mengetahui kelimpahan bulu babi (sea urchin) di ekosistem karang dan lamun pantai Sundak, dan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan bulu babi pada ekosistem karang dan padang lamun pantai Sundak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei yang bersifat deskriptif. Metode sampling yang digunakan pada kegiatan penelitian ini yaitu penentuan lokasi sampling, pengambilan data penutupan karang, pengambilan data kelimpahan bulu babi. Pengukuran parameter kimia dan fisika berupa arus, suhu, salinitas, pH, kedalaman, kecerahan, dan bahan organik. Analisis data meliputi penutupan karang, kerapatan lamun, kelimpahan bulu babi, indeks keanekaragaman, dan indeks keseragaman. Penutupan substrat dasar pada lingkungan ekosistem karang di pantai Sundak didominasi oleh karang mati dengan presentase sebesar 62,2%, pecahan karang 24,25%, dan pasir 13,5%. Sedangkan kerapatan lamun di pantai Sundak sebesar 68 ind/m2. Kelimpahan bulu babi di pantai Sundak pada ekosistem karang dan lamun dengan jenis Stomopneustus sp., jenis Echinometra sp. A, jenis Echinometra sp. B, dan jenis Echinometra sp. C pada ekosistem karang dengan kelimpahan sebesar 329 ind/50m2 dan jenis Stomopneustus sp. dan jenis Echinometra sp. A. Pada ekosistem lamun dengan kelimpahan sebesar 34 ind/50m2. Terdapat perbedaan kelimpahan jumlah bulu babi pada ekosistem karang dan ekosistem padang lamun. Sundak coastal waters have some biota one of them is urchins echinoderms. Sea urchins spread over the seagrass beds and coral ecosystems, the existence of sea urchins in an ecosystem can not be separated from the influence of environmental factors on the chemical physics, although has no direct influence. The different characteristics in the two ecosystems will affect the population in the ecosystem. This study was conducted to determine the condition of coral and seagrass ecosystems in Sundak coastal waters, to determine the abundance of sea urchins on coral and seagrass ecosystems in Sundak Beach, and to determine the relationship of the abundance of sea urchins between the characteristic of habitats on coral and seagrass in Sundak beach. The method used is descriptive survey method. The sampling method used in this research is determining the location of sampling, coral cover data retrieval, data retrieval abundance of sea urchins. Measurement of chemical and physical parameters such as flow, temperature, salinity, pH, depth, brightness, and organic matter. Data analysis was includes coral cover, the density of seagrass, the abundance of sea urchin, diversity index, and uniformity index. Closure of bottom substrate on coral ecosystems in the coastal environment in Sundak beach dominated by dead coral with a percentage of 62.2%, 24.25% rubble, and 13.5% sand. While the density of seagrass on the Sundak beach ind/m2 68. Abundance of sea urchins on the Sundak beach in the reef and seagrass environments with type Stomopneustus sp., Kind Echinometra sp. A type of Echinometra sp. B, and type of Echinometra sp. C on coral ecosystems with an abundance of 329 ind/50m2 and the type of Stomopneustus sp. and types of Echinometra sp. A. on seagrass ecosystems with an abundance of 34 ind/50m2. There are differences in the abundance of sea urchins amount on coral and seagrass ecosystems.
ANALISA STATUS PENCEMARAN DENGAN INDEKS SAPROBITAS DI SUNGAI KLAMPISAN KAWASAN INDUSTRI CANDI, SEMARANG Ersa, Stela Monic Maya; Suryanto, Agung; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.163 KB)

Abstract

Sungai Klampisan merupakan sungai yang mendapat aliran limbah dari PT. Marimas dan industri lain serta aliran dari rumah tangga dengan pencemaran cair yang berpengaruh terhadap perubahan warna air menjadi coklat secara kasat mata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan kualitas air dengan parameter fisika dan kimia yang meliputi : suhu, kedalaman, kecerahan, oksigen terlarut, pH, BOD dan COD, mengetahui kelimpahan plankton, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominasi dan mengetahui status pencemaran berdasarkan Saprobitas Indeks (SI) dan Tropik Saprobik Indeks (TSI) di Sungai Klampisan Kawasan Industri Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sistematik sampling. Penelitian ini mencari nilai Kelimpahan Jenis, Indeks Keanekaragaman, Indeks Keseragaman, Indeks Dominasi, Saprobik Indeks dan Tropik Saprobik Indeks serta uji regresi untuk hubungan antara kualitas air dengan plankton. Pengambilan sampel air dilakukan 2 minggu sekali pada bulan Januari dan Februari 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas plankton yang berada di Sungai Klampisan terdapat 14 genus. Jenis plankton yang banyak ditemukan adalah Nitzschia sp. Berdasarkan nilai kelimpahan plankton berkisar antara 1.093 – 2.357 ind/L, sedangkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar antara 0,2 – 0,272 dan Tropik Saprobik Indeks (TSI) berkisar antara 0 – 0,875. Sehingga berdasarkan nilai SI dan TSI Sungai Klampisan tergolong dalam kategori α-Mesosaprobik (pencemaran sedang sampai berat). Klampisan River is a river that gets waste streams from PT. Marimas. River Klampisan have pollution problems caused by waste from PT. Marimas, another companies and household activities that go into waters that affect the water color changes to brown by naked eyes. The purpose of this study was to determine the state of water quality by physical and chemical parameters which include: temperature, depth, brightness, dissolved oxygen, pH, BOD and COD, knowing plankton abundance, diversity index, uniformity index, dominance index and know the status of pollution by Saprobitas index (SI) and Tropical saprobic index (TSI) in Klampisan River Industrial Area, Semarang. The method used in this research is descriptive method. Sampling technique was used in systematic sampling with the assumption that the state of the river waters will be represented. This research measuring water quality and looking for value type of Abundance, Diversity Index, Uniformity Index, Dominance Index, Saprobic Index and Tropical Saprobic Index and regression test for the relationship between the quality of water with plankton. Water sampling is taken in once of 2 weeks in January and February 2014. The results showed that the there are 14 genus of plankton community located in the Klampisan River. Type of plankton that are found are Nitzschia sp. Based on plankton abundance values ranged between 1093-2357 ind / L, while the value of saprobic index (SI) ranging from 0.2 to 0.272 and Tropical saprobic index (TSI) ranged from 0 - 0.875. So based on the value of SI and TSI Klampisan River belong to the category of α-Mesosaprobik (medium to  high pollution).
KELIMPAHAN JENIS TERIPANG (Holothuroidea) DI RATAAN TERUMBU KARANG DAN LERENG TERUMBU KARANG PANTAI PANCURAN BELAKANG PULAU KARIMUNJAWA JEPARA Fadli, Muhamad; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.707 KB)

Abstract

Kepulauan Karimun Jawa Jepara Jawa Tengah sangat terkenal akan kekayaan sumberdaya alam yang ada di dalam laut. Jenis-jenis biota yang beragam hidup di dalamnya.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kelimpahan teripang pada lokasi rataan terumbu karang dan lereng terumbu karang serta mengetahui hubungan antara kelimpahan teripang dengan penutupan terumbu karang di lokasi penelitian. Metode yang digunakan adalah metode line transek.Hasil penelitian didapatkan prosentase penutupan karang hidup pada rataan terumbu karang 65,69 % dan pada lereng 69,26 %. Kelimpahan individu teripang pada daerah rataan terumbu karang 37 ind/ 300 m2 dan pada lereng terumbu karang 11 ind/ 300 m2. Berdasarkan hasil Uji Test “T” di dapatkan kelimpahan jenis teripang yang paling banyak adalah pada stasiun A rataan terumbu karang.
PROFIL KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT PADA POLIP KARANG Acropora sp. DI PULAU MENJANGAN KECIL TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Aini, Muslihuddin; Suryanti, -; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.082 KB)

Abstract

Terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang sangat kompleks dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Acropora sp. merupakan salah satu terumbu karang yang umum mendominasi daerah tropis karena sifatnya yang mudah berkembang dan ketahanannya terhadap lingkungan. Banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan karang Acropora sp., salah satunya adalah nitrat dan fosfat. Nitrat dan fosfat pada polip karang dibutuhkan oleh Zooxanthelhae untuk melakukan proses fotosintesis. Hasil dari proses fotosintesis seperti asam amino akan digunakan oleh karang untuk proses kalsifikasi atau pertumbuhan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil kandungan nitrat dan fosfat pada polip karang Acropora sp., dan mengetahui persentase penutupan terumbu karang di pulau Menjangan Kecil. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yang bersifat deskriptif, sedangkan metode yang digunakan dalam pengambilan sampel karang adalah metode purposive. Sampel karang Acropora sp. Diambil secara random pada kedalaman 1-2 meter dan pada kedalaman 3-5 meter, pada masing-masing kedalaman terdapat 4 titik sampling, dan pada tiap titik sampling tersebut diambil 2 sampel karang Acropora sp. Penelitian ini menganalisis kandungan nitrat fosfat dan jumlah bakteri nitrifikasi pada karang Acropora sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi fluktuasi kandungan nitrat dan fosfat pada polip karang. Kandungan nitrat sebesar 14.78 – 21.09 %  atau setara dengan 147.800 – 210.900 mg/L dan fosfat sebesar 23.40 – 28.18 % atau setara dengan 234.000 – 281.800 mg/L. Persentase penutupan terumbu karang pada stasiun I adalah 71,6 %, termasuk dalam kategori baik, sedangkan persentase penutupan terumbu karang pada stasiun II adalah 75 %, termasuk dalam kategori sangat baik. Semakin banyak kandungan nitrat dan fosfat pada polip karang, maka semakin tinggi persentase penutupan terumbu karangnya.
Co-Authors 'Ain, Churun - Ruswahyuni - Supriharyono Abdul Ghofar Adhitya Wijayanto, Adhitya Aga Yuspriadipura Agfia Rizkmaylia agung Suryanto Agus Hartoko Ajeng Ganefiani Alifhannizar Marwadi Anastia Afika Riza Andreas Nur Hidayat Andrian Juniarta, Andrian Angelia Maharani Setya Putri Anggun P. Situmorang Anindya Wirasatriya Annisa Fitrias Sustianti Arinda Rosari Arizal Rusdiyato Boedi Hendrarto Ca Perdana Arthaz, Ca Perdana Churun Ain Churun A’in Churun A’in Churun A’in Churun A’in Daniel Nugroho Wijaya, Daniel Nugroho Dewati Ayu Febrianti Dhany Rosyid Aziz, Dhany Rosyid Djoko Suprapto Dwi Kritiyasari Epafras Andrew Putra Fandi Maulana Febrianto, Sigit Fella Suffa Azzahra Frida Purwanti Galih Arum Puspitaningtyas Aji Pangastuti Galuh Yuanita Maira Hadi Endarwati Hadi Endrawati Himatul Aliyah Febriana Ika Chrisyariati Inesa Ayuniza Rahmitha, Inesa Ayuniza Isnanda, Angghardian Julia Herlianti, Julia M. Mujiya Ulkhaq Mahdy Rohmadoni Martantya Bagus Permadi, Martantya Bagus Martin Arianto Partogi Mayang Rizkiyah Megawati Arsita Putri Mersi Liwa'u Dina Monica Sofchah Febriyanti Muhamad Fadli Muhammad Mirza Mustaqim Muhammad Zainuri Muslihuddin Aini Nabila Fikri Dwi Cahyani Niniek Widyorini Nisa Ristianti Nur Eko Setiawan, Nur Eko Nurannisa Isnaeni, Nurannisa Nurul Hidayati Masruroh Nurul Latifah Nurul Yaqin Oktavianto Eko Jati Patric Erico Rakandika Nugroho Pradita Yusi Akshinta Prasasti Nusa Pertiwi Nur Fatimah Prijadi Soedarsono Pujiono Wahyu Purnomo Pujiono Wahyu Purnomo Putri Cipta Pangestu Rendra Rini Rismatul Chusna Reni Ria Yunita Reny Oktavianti Rian, Rica Riki Tristanto Rizqi Waladi Purwandatama Rosyid Paundra Gamawan Royhan Maulana Rr. Nadia Chairina Tishmawati Ruswahyuni Ruswahyuni Sehat Martua Parulian Nababan, Sehat Martua Parulian Setiaji Nugroho Siska Tri Cahyaningrum Siti Rudiyanti Siti Rudiyanti Stela Monic Maya Ersa Supriharyono Supriharyono Susi Sumartini Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Syahrul, Syahfilna Teja Arief Wibawa Tony Cahya Firmandana Untung Ismoyo Vina Aulia Firdausa Waskito Nugroho William Ben Gunawan Wishal Asdicky Falah Wiwiet Teguh Taufani Yanuareza Putra Sunarernanda