Claim Missing Document
Check
Articles

PERBEDAAN KELIMPAHAN BINTANG MENGULAR (Ophiuroidea) PADA DAERAH TELUK DAN DAERAH LEPAS PANTAI PADA PERAIRAN PANTAI KRAKAL, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Aziz, Dhany Rosyid; Suryanti, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.025 KB)

Abstract

Bintang mengular (Ophiuroidea) merupakan Echinodermata yang banyak tersebar di seluruh belahan dunia. Bintang mengular memiliki peranan terhadap ekologi suatu perairan.Pantai Krakal pada daerah Teluk dan daerah Lepas Pantai merupakan deretan pantai di pesisir selatan pulau Jawa yang menjadi daerah obyek wisata. Di daerah tersebut terdapat rataan substrat mati yang merupakan habitat atau tempat hidup dari bintang mengular.Pada lokasi tersebut diestimasikan terdapat kelimpahan bintang mengular. Aktivitas manusia pada pantai tersebut diduga telah mempengaruhi perbedaan kelimpahan bintang mengular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan bintang mengular (Ophiuroidea) pada daerah Teluk dan Lepas Pantai pada perairan Pantai Krakal, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2014. Metode pengambilan data kelimpahan bintang mengular (Ophiuroide) dan data persentase penutupan substrat menggunakan metode line transek sepanjang 50 meter dan metode kuadran transek dengan luas 1 x 1 meter. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini pada daerah Teluk didapatkan kelimpahan individu bintang mengular sebanyak 979 individu / 150 meter2, sedangkan kelimpahan individu bintang mengular pada daerah Lepas Pantai sebanyak 464 individu / 150 meter2. Hasil yang didapatkan dari persentase penutupan substrat di daerah Teluk sebesar 89,12%. Sedangkan nilai persentase penutupan substrat di daerah Lepas Pantai sebesar 84,78%. Pada kedua stasiun didapatkan 3 jenis bintang mengular yaitu Ophiocoma erinaceus, Ophiocoma riseii, dan Ophiocoma scolopendrina. Kelimpahan jenis bintang mengular yang paling banyak ditemukan di daerah Teluk dan daerah Lepas Pantai adalah jenis Ophiocoma scolopendrina. Brittle Star (Ophiuroidea) is echinodermata which many scattered all around the world. Brittle Star having role against ecology a waters. Krakal the coast in the gulf and the regions off shore of is a row of a beach in the southern coast of java island which is to be the tourist attractions. In the area there are equivalent die which is coral habitats or place life from the brittle star. On the location being estimated there is an abundance of a brittle star. Human activity upon the shore was suspected to have influenced the difference abundance brittle star. Research is aimed to tell the difference abundance of brittle star (Ophiuroidea) in the gulf and coast off krakal, in coastal waters district Gunungkidul, Yogyakarta. This research done on November 2014. A method of data retrieval abundance brittle star (Ophiuroidea) and data coral the percentage of the closure using methods line transek along 50 meters and quadrant transek method with broad 1 x 1 meter. In the gulf was obtained abundance individual brittle star as many as 979 individu / 150 meter2, while abundance individual brittle star in the areas off the coast of as many as 464 individu / 150 meter2.The results obtained from this research and that is that the percentage of the substrat of the value of coralin the gulf as much as 89,12 %. While the value of the percentage of the substrat off shore of coralin the area of 84.78 %.At the second stations found 3 sets of the brittle stars are Ophiocoma erinaceus, Ophiocoma riseii, and Ophiocoma scolopendrina. A kind of brittle star abundance the most common to find in the gulf and the regions off shore of is the type Ophiocoma scolopendrina.
KUALITAS PERAIRAN SUNGAI SEKETAK SEMARANG BERDASARKAN KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON Sumartini, Susi; -, Suryanti; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.06 KB)

Abstract

Sungai Seketak terletak di kelurahan Tembalang, kecamatan Tembalang, kota Semarang.  Semakin bertambahnya jumlah penduduk dan berdirinya pusat-pusat pendidikan di daerah Tembalang serta rencana pembangunan waduk pendidikan Diponegoro yang memanfaatkan aliran Sungai Seketak tentunya memberikan dampak bagi organisme yang hidup di perairan tersebut. Salah satunya adalah fitoplankton yang merupakan produsen utama. Masukan bahan organik maupun anorganik dari kegiatan manusia ke dalam badan air menyebabkan perubahan terhadap kualitas air dan keberadaan fitoplankton.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni – Juli  2012 di Sungai Seketak, Tembalang Semarang. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air yang diambil dari Sungai Seketak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan metode pengambilan sampel adalah purposive sampling method. Frekuensi sampling dilakukan setiap 2 minggu sekali. Lokasi sampling terdiri dari 3 stasiun yaitu stasiun 1 merupakan inlet dari perencanaan waduk pendidikan Diponegoro. Lokasi ini berdekatan dengan jembatan dan gerbang pintu masuk UNDIP dan merupakan kawasan padat penduduk dimana di lokasi ini banyak ditemukan limbah rumah tangga dari warga sekitar yang dibuang langsung ke badan sungai. Stasiun 2 merupakan bagian tengah dari perencanaan waduk pendidikan Diponegoro berdekatan dengan Rusunawa UNDIP. Stasiun 3 merupakan stasiun yang sudah jauh dari kawasan padat penduduk yang merupakan outlet dari perencanaan waduk pendidikan Diponegoro.Hasil penelitian didapatkan 11 genera fitoplankton yaitu Oscillatoria sp., Anabaena sp., Nitzschia sp., Asterionella sp., Scenedesmus sp., Pediastrum sp., Volvox sp., Mougeotia sp., Closterium sp., Navicula sp., dan Dictyocha sp. Kelimpahan fitoplankton tertinggi yaitu pada stasiun 2 sebesar 7.451 Ind/L yang didominasi oleh Mougeotia sp. Indeks keanekaragaman pada tiap stasiun menunjukkan nilai 1,49 pada stasiun 1, 1,29 pada stasiun 2 dan 1,12 pada stasiun 3 dimana nilai dari ketiga stasiun menunjukkan kisaran 1 – 3 yang berarti perairan termasuk dalam kategori tercemar sedang. Indeks keseragaman mendekati 1 yang artinya jumlah setiap spesies sama atau setidaknya hampir sama.
HUBUNGAN ANTARA KANDUNGAN NITRAT, FOSFAT DAN KLOROFIL-α DI SUNGAI KALIGARANG, SEMARANG Herlianti, Julia; Suryanti, -; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.65 KB)

Abstract

Sungai adalah salah satu sumber daya alam yang bersifat mengalir (flowing resource), sehingga pemanfaatan di hulu dapat menurunkan kualitas air, pencemaran dan biaya sosial bagi pelestariannya. Sungai Kaligarang sebagai salah satu sungai besar di kota Semarang memegang peran penting dalam kualitas air di pesisir Semarang. Adanya kegiatan pertanian, pertambangan, industri dan aktifitas penduduk yang ada di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Kaligarang berperan penting dalam kualitas air DAS Kaligarang tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi lingkungan perairan berdasarkan kandungan nitrat, fosfat dan klorofil-α di perairan Sungai Kaligarang, dan Mengetahui kandungan nitrat, fosfat dan klorofil-α di perairan Sungai Kaligarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, yaitu suatu metode penelitian yang menelaah suatu masalah pada waktu tertentu dan hasil yang diperoleh belum tentu dapat berlaku di daerah lain, meskipun objek penelitiannya sama. Hasil penelitian yang diperoleh klorofil-α tertinggi terdapat pada stasiun I, sedangkan klorofil-α terendah terdapat  pada stasiun III . Kandungan kadar nitrat tertinggi terdapat pada stasiun I dan kadar nitrat terendah terdapat pada stasiun III. Tingginya kandungan nitrat diduga dekat dengan lingkungan masyarakat yang mempengaruhi ekosistem sungai. Kandungan kadar fosfat tertinggi terdapat pada stasiun II dan kadar fosfat terendah terdapat pada stasiun III. Tingginya fosfat pada ekosistem sungai diduga akibat dari kegiatan industri yang membuang banyak limbah dari hasil industri tersebut ke daerah sekitar sungai. The river is one of the natural resources that are flowing (flowing resource), so that the utilization of upstream can degrade water quality, pollution and social costs for preservation. Kaligarang river as one of the major rivers in the city of Semarang plays an important role in the quality of coastal water in Semarang. The activities of agriculture, mining, industry and population activity is around Watershed (DAS) Kaligarang play an important role in water quality of the watershed Kaligarang. The aim of this study was to determine the environmental condition of the waters by nitrate, phosphate and chlorophyll-α in the waters of the River Kaligarang, and Knowing the content of nitrates, phosphates and chlorophyll-α in the waters of the River Kaligarang. The method used in this research is a case study, is a research method that examines a problem at certain times and the results obtained can not necessarily apply in other areas, though the object of research together. The results obtained chlorophyll-α is highest in the first station, chlorophyll-α while the lowest was at station III. The content of nitrate concentration is highest at the first station and the lowest levels of nitrates found in station III. The high content of nitrates allegedly close to the community environment that affects the river ecosystem. The content of the highest phosphate levels found in the station II and phosphate levels are lowest at station III. The high phosphate on the ecosystem of the river thought to result from industrial activities were dumped from the results of the industry to the area around the river.
HUBUNGAN KERAPATAN RUMPUT LAUT DENGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA PADA SUBSTRAT BERBEDA DI PANTAI TELUK AWUR JEPARA Sunarernanda, Yanuareza Putra; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.97 KB)

Abstract

Perairan Pantai Teluk Awur Jepara merupakan daerah teluk dengan ombak yang tidak begitu besar. Salah satu potensi yang ada di tempat tersebut adalah rumput laut dimana rumput laut dapat memengaruhi kelimpahan biota bentik yang termasuk di dalamnya adalah epifauna yang pergerakannya terbatas. Rumput laut dalam persebaran dan pertumbuhannya dipengaruhi oleh kesesuaiannya dengan substrat dasar, begitu pula dengan epifauna. Selain itu, kondisi perairan dilihat dari parameter fisika maupun kimia juga dapat berpengaruh terhadap persebaran dan pertumbuhan biota tersebut. Faktor-faktor seperti predator maupun kompetisi makanan antar sesama jenis juga dapat menyebabkan perubahan distribusi dari rumput laut dan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kerapatan rumput laut berdasarkan substrat perairan, kelimpahan epifauna berdasarkan substrat perairan, dan hubungan antara kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Langkah penelitian yang digunakan yaitu survey lokasi penelitian, sampling, identifikasi, analisis data, dan uji korelasi Spearman. Hasil yang diperoleh yaitu delapan jenis rumput laut dan sepuluh jenis epifauna. Kerapatan relatif tertinggi dari rumput laut di perairan Pantai Teluk Awur Jepara yaitu pada substrat pasir seluas 188,29 m² oleh jenis Padina crassa sebesar 44,38% (600 individu/300 m²). Kelimpahan relatif tertinggi dari epifauna di perairan Pantai Teluk Awur Jepara yaitu pada substrat pasir seluas 188,29 m² oleh jenis Cerithium kochi sebesar 30,144% (63 individu/300 m²). Berdasarkan uji korelasi Spearman kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan sangat kuat antara kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna. Coastal waters Teluk Awur Jepara is the bay area with the waves were not so big. One of the potential that exists in these places is a seaweed which can affect the abundance of benthic biota including epifauna which its movement is limited. Seaweed in the spread and growth are affected by suitability with the substrate, as well as epifauna. In addition, the condition of the waters seen from the parameters of physics and chemistry can also influence the spread and growth of such biota. Factors such as predators and food competition among the same species can also lead to changes in the distribution of sea grass and epifauna. The purpose of this study was to determine the seaweed density based on substrates, an epifauna abundance based on substrates, and the relationship between the seaweed density with epifauna abundance. This study was conducted in November 2013. This research uses descriptive method. Measures used in this study is a survey of study location, sampling, identification, data analysis, and the Spearman correlation test. The results obtained are eight species of seaweed and ten species of epifauna. The highest density of seaweed in the waters of the Coast Teluk Awur Jepara is on sand substrate area of 188,29 m² is a Padina crassa was 44,38% (600 individual/300 m²). The highest abundance of epifauna in the waters of the Coast Teluk Awur Jepara is on sand substrate area of 188,29 m² is a Cerithium kochi was 30,144% (63 individual/300 m²). Based on the Spearman correlation test the density of seaweed with an abundance of epifauna can be concluded that there is a very strong relationship between the seaweed density with epifauna abundance.
ESTIMASI SERAPAN KARBON PADA HUTAN MANGROVE DESA BEDONO, DEMAK, JAWA TENGAH Fella Suffa Azzahra; Suryanti Suryanti; Sigit Febrianto
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 2 (2020): JFMR VOL 4. NO.2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.02.15

Abstract

Kadar karbondioksida (CO2) di alam semakin bertambah seiring dengan berkembangnya peradaban manusia. Hutan mangrove dapat menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah yang besar dan waktu yang lama, sehingga mampu menjadi strategi dalam mitigasi perubahan iklim. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kandungan karbon yang ada pada tegakan, sedimen, dan serasah daun mangrove serta tingkat penyerapan CO2. Penelitian ini dilaksanakan pada November 2019 di kawasan ekosistem hutan mangrove Desa Bedono, Sayung, Demak. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah metode purposive sampling di 4 stasiun dengan total titik sampling 12. Analisis karbon menggunakan persamaan allometrik untuk menghitung simpanan  karbon pada tegakan, sedimen dan serasah daun menggunakan metode Loss on Ignition (LOI). Hasil yang diperoleh yaitu ditemukan 2 jenis mangrove pada lokasi penelitian yaitu Avicennia marina, dan Rhizopora mucronata. Nilai kerapatan jenis masing-masing spesies yaitu 4875 indv/ha, dan 200 indv/ha. Persentese penutupan rata-rata sebesar 76,94%. Kandungan karbon yang ada pada tegakan, sedimen, dan serasah daun mangrove masing-masing yaitu mangrove sebesar 190,257 ton carbon/ha, 480,608 ton carbon/ha, dan 0,00165 ton carbon/ha /hari.
PERTUMBUHAN ZOOXANTHELLAE BERDASARKAN TIGA SPESIES KARANG BERBEDA DARI PERAIRAN PULAU PANJANG, JEPARA Dwi Kritiyasari; Pujiono Wahyu Purnomo; Suryanti Suryanti
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 13, No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/maspari.v13i1.13443

Abstract

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem khas perairan pesisir tropik, yang ditandai dengan keanekaragaman jenis biota tinggi yang hidup di dalamnya. Zooxanthellae adalah salah satu penyusun karang yang paling penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju pertumbuhan Zooxanthellae dari tiga jenis inang karang yang berbeda dan juga mengetahui faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan Zooxanthellae. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November – Desember 2019 di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) Jepara dengan pengambilan spesimen karang di perairan Pulau Panjang. Data hasil pengukuran laju pertumbuhan di analisis menggunakan SPSS Anova One Way dan data hasil pengukuran fisik dikaji secara deskriptif. Densitas awal Zooxanthellae yang ditanam dari spesies Acropora sp. sebanyak 1,70 x 108 sel/mL, Porites sp. sebanyak 1,74 x 108 sel/mL, dan spesies Favites sp. sebanyak 1,77 x 108 sel/mL. Faktor lingkungan yang dikontrol meliputi cahaya, suhu, salinitas, pH, dan nutrien mempengaruhi pola pertumbuhan Zooxanthellae. Rata-rata densitas Zooxanthellae dari spesies Acropora sp. sebanyak 1,57 x 108 sel/mL, Porites sp. sebanyak 1,63 x 108 sel/mL, dan Favites sp. sebanyak 0,97 x 108 sel/mL. Porites sp.memiliki pertumbuhan paling rendah dibandingkan dengan Acropora sp.dan Favites sp.Perbedaan pertumbuhan Zooxanthellae diperkirakan karena perbedaan jenis clade Zooxanthellae dari ketiga karang tersebut.Kata Kunci : Clade, densitas, lingkungan, pertumbuhan, spesies.
Kadar Logam Berat Pb, Cd Dan Kelimpahan Perifiton Pada Ekosistem Lamun Di Pantai Barat Bandengan Jepara Himatul Aliyah Febriana; Pujiono Wahyu Purnomo; Suryanti Suryanti
Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.996 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v5i2.15729

Abstract

Ekosistem lamun merupakan ekosistem yang memiliki produktivitas primer yang tinggi, hal tersebut didukung oleh keberadaan perifiton yang melekat pada permukaan daun lamun. Pengaruh tersebut dapat berkurang akibat adanya kegiatan perikanan atau aktivitas antropogenik yang menyebabkan pencemaran kandungan logam berat seperti Pb dan Cd. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis lamun, kelimpahan perifiton dan kandungan logam berat pada daun lamun serta hubungan kelimpahan perifiton dengan kandungan logam berat di Pantai Barat Bandengan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dilaksanakan pada bulan Maret - April 2016 di Pantai Barat Bandengan pada lingkungan lamun padat,  sedang dan jarang. Sampling menggunakan metode purposive random dengan menentukan obyek yang diambil sebagai sampel berdasarkan kerapatan lamun. Jenis lamun yang ditemukan di Pantai Barat Bandengan adalah Thalassia sp. Rata-rata kelimpahan perifiton pada kerapatan lamun padat, sedang dan jarang adalah 1742 (SD = 641,09)  ind/cm2, 1481 (SD = 369,06) ind/cm2, dan 1249 (SD = 116,15) ind/cm2. Perifiton yang ditemukan dari Kelas Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Euglenophyceae, Rodhophyceae, Dinophyceae dan Chlorophyceae. Hasil logam berat  Pb dan Cd selama tiga kali sampling diperoleh nilai yang sama yaitu Pb <100 mg/gr dan Cd <10 mg/gr Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa adanya kandungan logam berat Pb dan Cd tidak mempengaruhi keberadaan perifiton pada daun lamun di perairan Pantai Barat Bandengan. Kata kunci: Lamun, Perifiton, Logam Berat Pb dan Cd
Morfologi, Anatomi dan Indeks Ekologi Bulu Babi di Pantai Sepanjang, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta Suryanti Suryanti; Prasasti Nusa Pertiwi Nur Fatimah; Siti Rudiyanti
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.31740

Abstract

Pantai Sepanjang memiliki karakteristik pantai dengan substrat berupa pasir dan hamparan karang mati yang banyak ditumbuhi makroalga, merupakan habitat berbagai jenis biota, salah satunya bulu babi. Biota tersebut memiliki fungsi ekologi sebagai pemakan detritus dan pengendali populasi makroalga di ekosistem terumbu karang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis, morfologi, anatomi, dan kelimpahan bulu babi serta hubungannya dengan parameter lingkungan. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2019 di Pantai Sepanjang, Kabupaten Gunungkidul. Metode sampling menggunakan stratified random sampling dengan membagi lokasi pengamatan menjadi 3 stasiun (A, B, C) berdasarkan perbedaan tutupan substrat dasar perairan. Pengamatan dilakukan terhadap jenis, morfologi, anatomi, kelimpahan dan parameter lingkungan. Hasil penelitian ditemukan 6 jenis Bulu Babi yaitu Echinometra mathaei, Echinometra oblonga, Echinothrix calamaris, Heterocentrotus trigonarius, Diadema setosum dan Stomopneustes variolaris. Enam Jenis Bulu Babi tersebut memiliki karakteristik morfologi dan anatomi yang berbeda. Kelimpahan bulu babi pada stasiun A sebesar 474 ind/ 15m2, stasiun B sebesar 611 ind/ 15m2 dan stasiun C sebesar 81 ind/ 15m2. Berdasarkan Uji korelasi  menunjukkan bahan organik sedimen berkorelasi positif, sedangkan tekstur sedimen, suhu, salinitas berkorelasi negatif  dengan kelimpahan bulu babi. Sepanjang Beach has the characteristics of sand substrates and covered by dead corals, which are overgrown by macroalgae, and is a habitat for various types of biota, one of them sea urchins. This biota has an ecological function as a detritus feeder and macroalgae population controller in a coral reef ecosystem. The aims of the study is to determine the type, morphology, anatomy, and the linkage between the abundance of sea urchins to environmental parameters. The study was conducted in November 2019 at Sepanjang Beach, Gunungkidul Regency. The stratified random sampling was applied as sampling method, by dividing the observation location into 3 stations (A, B, C) based on the difference coverage of substrate. The observation covers the type, morphology, anatomy, abundance, and the environmental parameter. There were 6 sea urchins species namely Echinometra mathaei, Echinometra oblonga, Echinothrix calamaris, Heterocentrotus trigonarius, Diadema setosum and Stomopneustes variolaris, which have different characteristics of morphology and anatomy. The abundance of sea urchins at station A is 474 ind/ 15m2, station B is 611 ind/ 15m2, and station C is 81 ind/ 15m2. The sediment organic material and the abundance of sea urchins showed a significant correlation, while sediment texture, temperature, salinity have an insignificant correlation to the abundance of sea urchins.
Estimasi Serapan Karbon pada Kawasan Mangrove Tapak di Desa Tugurejo Semarang Nurul Yaqin; Mayang Rizkiyah; Epafras Andrew Putra; Suryanti Suryanti; Sigit Febrianto
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.38256

Abstract

Pemanasan global ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan bumi yang diakibatkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca diatmosfer seperti gas CO2 dan CH4 yang dihasilkan dari sektor industri, aktivitas transportasi, dan kegiatan pertanian maupun peternakan. Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis yang penting bagi wilayah pesisir sebagai penyerap dan penyimpan karbon dalam upaya mitigasi pemanasan global. Kawasan pesisir pantai di Desa Tugurejo yang memiliki mangove adalah wilayah Tapak. Luas mangrove di kawasan Tapak mencapai ±3,00 Ha. Maka perlu adanya penelitian tentang potensi mangrove tersebut sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui estimasi simpanan dan serapan CO2 dikawasan desa Tugurejo Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survey. Simpanan karbon pada batang mangrove menggunakan metode non-destructive sampling dengan persamaan alometrik untuk jenis dan penentuan karbon organik serasah dan sedimen menggunakan metode LOI (Loss On Ignition). Penentuan stasiun menggunakan metode purposive sampling.Hasil penelitian yang diperoleh ditemukan 2 jenis mangrove yaitu Rhizopora mucronata dan Avicennia marina. Kandungan karbon pada tegakan mangrove sebesar 399,06 tonC/ha. Serapan CO2 pada tegakan sebesar 1.463,22 ton/ha. Kandungan karbon pada sedimen 760,908 tonC/ha. Serapan CO2 pada sedimen sebesar 2.789,996 ton/ha. Kandungan karbon pada serasah sebesar 8,19 ton/ha/hari dan serapan CO2 sebesar 30,02 ton/ha/hari. Global warming is marked by an increase in the earth's surface temperature due to the increasing concentration of greenhouse gases in the atmosphere such as CO2 and CH4 gases produced from the industrial sector, transportation activities, and agricultural and livestock activities. Mangrove ecosystems have important ecological functions for coastal areas as carbon sinks and stores in efforts to mitigate global warming. The coastal area in Tugurejo Village which has a mangove is the Tapak area. The mangrove area in the Tapak area reaches ± 3.00 Ha. So there is a need for research on the potential of mangroves as carbon sinks and stores. The purpose of this research is to determine the estimated CO2 savings and absorption in the village area of Tugurejo, Semarang. The method used in this research is the survey method. The survey method is direct observation and sampling in the field. Determination of the station using purposive sampling method. The results obtained were found 2 types of mangroves, namely Rhizopora mucronata and Avicennia marina. The carbon content in the mangrove stands was 399.06 ton C / ha. CO2 uptake in stands was 1463.22 ton/ha. The carbon content in the sediment was 760,908 tonC / ha. The absorption of CO2 in the sediment is 2789,996 ton/ha. The carbon content in the litter is 8.19 ton/ha/ day and CO2 absorption is 30.02 ton/ha/day.
HUBUNGAN SUBSTRAT DOMINAN DENGAN KELIMPAHAN GASTROPODA PADA HUTAN MANGROVE KULONPROGO, YOGYAKARTA (The Relation of dominant substrate to Gastropods Abundance in the Mangrove Forest of Kulonprogo, Yogyakarta) Rendra Rini Rismatul Chusna; Siti Rudiyanti; Suryanti Suryanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.845 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.13.1.19-23

Abstract

 Substrat mangrove terdiri atas fraksi pasir (sand), lumpur (silt), dan liat (clay). Gastropoda adalah kelompok hewan dari filum moluska yang hidup di jenis substrat dari kasar ke halus. Kelimpahan gastropoda dipengaruhi oleh substrat dasar yang merupakan habitat dari gastropoda, serta kandungan nutrien yang berbeda pada tiap fraksi akan mempengaruhi kelimpahan Gastropoda yang berada di dalamnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan substrat dengan kelimpahan Gastropoda, karena Gastropoda salah satu faktor penting untuk menjaga keseimbangan ekologi pesisir khususnya ekositem mangrove. Penelitian  dilakukan di Hutan Mangrove Kulonprogo Yogyakarta bertujuan untuk mengetahui tipe substrat, kelimpahan Gastropoda dan hubungan kedua variabel tersebut. Penelitian  dilakukan pada bulan April sampai dengan  Mei 2017. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu metode penelitian yang memberikan gambaran secara sistematis, faktual, akurat mengenai faktor-faktor dan sifat-sifat dari suatu daerah atau populasi. Metode pengambilan sampel substrat dan Gastropoda menggunakan metode Purposive Sampling Method pada 3 stasiun berbeda yaitu stasiun I pada bagian dekat pemukiman penduduk, stasiun II pada bagian dekat tambak, dan stasiun III pada bagian muara sungai. Hasil penelitian menunjukkan jenis substrat pada tiap stasiun adalah lempung dan lempung berdebu yang didominasi oleh fraksi lumpur (silt) dan pasir (sand). Jenis Gastropoda yang didapatkan berasal dari genus Littoraria, Natica, Faunus, Cerithium, Neritina, Polinices, Conus, Telescopium, dan Nerita. Meningkatnya prosentase fraksi pasir (sand) dan liat (clay) akan diikuti oleh meningkatnya kelimpahan Gastropoda, sedangkan untuk fraksi lumpur (silt) akan sebaliknya yaitu meningkatnya fraksi lumpur akan diikuti oleh menurunnya kelimpahan Gastropoda. Kata kunci: Tipe Substrat, Gastropoda, Mangrove, Kulonprogo  Mangrove substrates formed by sands, silts, and clays. Gastropods is a group of animals of the phylum of mollusks lives on the type of substrate from rough to smooth. Gastropod abundance is affected by substrate which habitat of gastropods and nutrients influencing the distribution of gastropods. Therefore, it needs a deeper research about the correlation of substrate and the amount of gastropods , because gastropods are the importants factor of mangrove ecosystem. The research helds in Kulonprogo Mangrove Forest, Yogyakarta, and the goals are to know the type of substrate, the amount of gastropods, and the correlation among them. This research held on April – Mei 2017. This research use descriptivemethod wich research method that provide a systematic, factual, accurate description of the factors and quality an area or population. The method on sampling sediments and gastropods is purposive sampling in 3 station. Station 1 near the settlement, station 2 near ponds, station 3 on the estuary. The results of this research shows that the sediments on every station are clay and dusty clay, which is dominated by silt,and sand fraction. The gastropods that obtained are Littoraria, Natica, Faunus, Cerithium, Neritina, Polinices, Conus, Telescopium, and Nerita. The percentage increasing on sands and clays fraction would be more gastropods. Otherwise on silts fraction.   
Co-Authors 'Ain, Churun - Ruswahyuni - Supriharyono Abdul Ghofar Adhitya Wijayanto, Adhitya Aga Yuspriadipura Agfia Rizkmaylia agung Suryanto Agus Hartoko Ajeng Ganefiani Alifhannizar Marwadi Anastia Afika Riza Andreas Nur Hidayat Andrian Juniarta, Andrian Angelia Maharani Setya Putri Anggun P. Situmorang Anindya Wirasatriya Annisa Fitrias Sustianti Arinda Rosari Arizal Rusdiyato Boedi Hendrarto Ca Perdana Arthaz, Ca Perdana Churun Ain Churun A’in Churun A’in Churun A’in Churun A’in Daniel Nugroho Wijaya, Daniel Nugroho Dewati Ayu Febrianti Dhany Rosyid Aziz, Dhany Rosyid Djoko Suprapto Dwi Kritiyasari Epafras Andrew Putra Fandi Maulana Febrianto, Sigit Fella Suffa Azzahra Frida Purwanti Galih Arum Puspitaningtyas Aji Pangastuti Galuh Yuanita Maira Hadi Endarwati Hadi Endrawati Himatul Aliyah Febriana Ika Chrisyariati Inesa Ayuniza Rahmitha, Inesa Ayuniza Isnanda, Angghardian Julia Herlianti, Julia M. Mujiya Ulkhaq Mahdy Rohmadoni Martantya Bagus Permadi, Martantya Bagus Martin Arianto Partogi Mayang Rizkiyah Megawati Arsita Putri Mersi Liwa&#039;u Dina Monica Sofchah Febriyanti Muhamad Fadli Muhammad Mirza Mustaqim Muhammad Zainuri Muslihuddin Aini Nabila Fikri Dwi Cahyani Niniek Widyorini Nisa Ristianti Nur Eko Setiawan, Nur Eko Nurannisa Isnaeni, Nurannisa Nurul Hidayati Masruroh Nurul Latifah Nurul Yaqin Oktavianto Eko Jati Patric Erico Rakandika Nugroho Pradita Yusi Akshinta Prasasti Nusa Pertiwi Nur Fatimah Prijadi Soedarsono Pujiono Wahyu Purnomo Pujiono Wahyu Purnomo Putri Cipta Pangestu Rendra Rini Rismatul Chusna Reni Ria Yunita Reny Oktavianti Rian, Rica Riki Tristanto Rizqi Waladi Purwandatama Rosyid Paundra Gamawan Royhan Maulana Rr. Nadia Chairina Tishmawati Ruswahyuni Ruswahyuni Sehat Martua Parulian Nababan, Sehat Martua Parulian Setiaji Nugroho Siska Tri Cahyaningrum Siti Rudiyanti Siti Rudiyanti Stela Monic Maya Ersa Supriharyono Supriharyono Susi Sumartini Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Syahrul, Syahfilna Teja Arief Wibawa Tony Cahya Firmandana Untung Ismoyo Vina Aulia Firdausa Waskito Nugroho William Ben Gunawan Wishal Asdicky Falah Wiwiet Teguh Taufani Yanuareza Putra Sunarernanda