Claim Missing Document
Check
Articles

LAJU SEDIMENTASI PADA KARANG MASSIVE DAN KARANG BERCABANG DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA Rahmitha, Inesa Ayuniza; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.991 KB)

Abstract

Pulau panjang merupakan kawasan perairan laut di utara Kota Jepara. Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang terdapat di wilayah pantai daerah tropis. Terumbu karang memiliki berbagai macam bentuk morfologi yaitu tipe bercabang, massive, kerak, meja, daun, serta jamur. Laju sedimentasi diduga berbeda pada dua bentuk morfologi karang yaitu karang massive dan bercabang. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengambilan data penutupan karang menggunakan metode Line Transect. Sedimen dalam pengukuran laju sedimentasi diambil menggunakan sediment trap yang diletakkan masing-masing pada karang tersebut selama 14 hari. Terdapat 3 genera karang massive yang ditemukan di lokasi penelitian yaitu genus Goniastrea, Favites dan Goniopora sementara pada karang bercabang adalah genus Porites dan Acropora. Nilai presentase penutupan karang hidup dari karang massive yaitu 36,83% dan karang bercabang 46,84%. Laju sedimentasi pada karang massive dan karang bercabang di perairan Pulau Panjang, Jepara yaitu antara 0,54 – 2,78 mg/cm3/hari pada karang massive sedangkan pada karang bercabang antara 0,43 – 1,25 mg/cm3/hari. Laju sedimentasi pada dua tipe karang menunjukkan perbedaan dimana laju sedimentasi pada karang massive lebih tinggi dibandingkan dengan karang bercabang. Panjang island is an island that located in the north of Jepara city. Coral reefs is one of teh ecosystem in the coastal area in the tropical region. Coral reefs has various morphology type such as branching, massive, encrusting, tabulate, foliose and mushroom. Sedimentation rate are suppossed to be different in two coral morphology. The method of this study is descriptive method. The method of data collection is Line Transect. Sediment in sedimentation rate measurement, taken by sediment trap that placed in those coral types for 14 days. There are 3 genera coral founded in the study site were Goniastrea, Favites and Goniopora genus from massive coral then Porites and Acropora genus from branching coral. The coral nappe of massive coral is 36,83% whereas branching coral is 46,84%. Sedimentation rate in Panjang island waters are 0,54 – 2,78 mg/cm3/day in massive coral then branching coral are 0,43 – 1,25 mg/cm3/day. Sedimentation rate between two types coral shows the difference, where the sedimentation rate in the massive coral are higher than in the branching coral.
PENGARUH PENGGUNAAN ALAT TANGKAP IKAN HIAS RAMAH LINGKUNGAN TERHADAP TINGKAT KERUSAKAN TERUMBU KARANG DI GOSONG KARANG LEBAR KEPULAUAN SERIBU Marwadi, Alifhannizar; Anggoro, Sutrisno; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.099 KB)

Abstract

Terumbu karang merupakan ekosistem pesisir yang memiliki produktivitas tinggi. Banyak ancaman yang mempengaruhi kehidupan karang, salah satunya adalah aktivitas penangkapan ikan hias laut. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dan observasi, yaitu dengan membandingkan data tutupan karang di area tangkap ikan hias perairan Gosong Karang Lebar Kepulauan Seribu yang telah diambil pada tahun 2003, 2005, 2007, 2009 dan 2011 oleh Yayasan Terumbu Karang Indonesia. Perbandingan data tutupan karang tersebut nantinya digunakan untuk mengetahui perbedaan tingkat kerusakan terumbu karang sebelum diterapkannya alat tangkap ikan hias ramah lingkungan yaitu sebelum tahun 2006 dan setelah diterapkan alat tangkap ikan hias ramah lingkungan yaitu tahun 2006 sampai sekarang. Dari hasil analisis statistik independent sample t-test didapatkan nilai Probabilitas/ Sig. (2-tailed) sebesar 0,458. Hal ini berarti probabilitasnya di bawah taraf signifikansi 0,46. Maka H0 ditolak atau dapat dinyatakan bahwa persentase tutupan karang sebelum dan setelah adanya penerapan alat tangkap ikan hias ramah lingkungan berbeda. Hasil statistik deskriptif menunjukkan adanya peningkatan rata-rata persentase tutupan karang setelah adanya penerapan alat tangkap ikan hias ramah lingkungan adalah sebesar 34.2075%. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan persentase tutupan karang sebelum adanya penggunaan alat tangkap ikan hias ramah lingkungan yaitu sebesar 27.7100%.
KANDUNGAN NITROGEN TOTAL DAN FOSFAT SEDIMEN MANGROVE PADA UMUR YANG BERBEDA DI LINGKUNGAN PERTAMBAKAN MANGUNHARJO, SEMARANG Chrisyariati, Ika; Hendrarto, Boedi; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.14 KB)

Abstract

Daerah mangrove merupakan daerah dengan produktivitas primer yang tinggi. Produktivitas primer sangat mempengaruhi pertumbuhan mangrove. Salah satu indikator pertumbuhan mangrove dipengaruhi oleh sedimen tempat hidupnya yang banyak mengandung makro dan mikronutrien, oksigen, serta air tawar untuk menjaga keseimbangan kadar garam dalam fisiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Nitrogen Total dan Fosfat dalam sedimen mangrove dan hubungannya terhadap umur mangrove. Sampel diambil dari tiga stasiun yang memiliki umur mangrove berbeda dengan tujuh titik replikasi. Kedalaman pengambilan sampel adalah 30 cm. Pada masing-masing titik diambil sampel tanah untuk analisa tekstur dan analisa kandungan bahan organik. Pengukuran tinggi pohon dilakukan di setiap titik yang diasumsikan sebagai umur mangrove. Analisa data menggunakan uji regresi linear dan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara Nitrogen Total dengan tinggi pohon (regresi linear P = 0,025 < P 0,05). Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang nyata antara Fosfat dengan tinggi pohon (regresi linear P = 0,524 > P 0,05). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti iklim, suhu, pH, dan jenis sedimen yang terdapat pada lokasi penelitian. Mangrove was an area with high primary productivity. The primary productivity greatly affects mangrove growth.One of the indicator mangrove growths was sediments by its place that contains macro and micronutrients, oxygen and fresh water to maintain salinity balanced in the physical. The purpose of this study was to determine the content of total nitrogen and phosphate in sediments of mangrove and mangrove relation to age and the results of this study were expected to provide an overview and information about the nutrient content in the form of Total Nitrogen and Phosphate in sediment of Mangunharjo village, Semarang. Samples were taken from three mangrove stations which have a different age with a seven point replication. Samples were collected from three stations of different ages of mangrove with seven replication points. The depth of sampling was 30 cm. At each of these points, soils were sampled for texture analysis and analysis of Total Nitrogen and Phosphate contents. Measurementstree height was applied at each point of different age of the mangrove. Analysis of the data used linear regression and correlation tests. The results showed that there was a significant relationship between Total Nitrogen with height of trees (linear regression P = 0,025 < P 0,05). Otherwise, there was no significant relationship between the phosphates with high of trees (linear regression P = 0,524 > P 0,05). It may be caused by other factors such as climate, temperature, pH, and type of sediment found in the study sites. 
KELIMPAHAN BINTANG MENGULAR (Ophiuroidea) DI PERAIRAN PANTAI SUNDAK DAN PANTAI KUKUP KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Nugroho, Waskito; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.456 KB)

Abstract

Bintang mengular (Ophiuroidea) merupakan Echinodermata yang banyak tersebar di seluruh belahan dunia. Bintang mengular memiliki peranan terhadap ekologi suatu perairan. Adapun Pantai Sundak dan Pantai Kukup merupakan deretan pantai di pesisir selatan pulau Jawa yang menjadi daerah obyek wisata. Di daerah tersebut terdapat rataan karang mati pada kedua pantai tersebut merupakan habitat atau tempat hidup dari bintang mengular. Pada kedua lokasi tersebut diestimasikan terdapat kelimpahan bintang mengular. Aktivitas manusia pada kedua pantai tersebut diduga telah mempengaruhi perbedaan kelimpahan bintang mengular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan bintang mengular (Ophiuroidea) di perairan Pantai Sundak dan Pantai Kukup, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2014. Metode pengambilan data persentase penutupan karang menggunakan metode line transek sepanjang 50 meter, sedangkan pengambilan data kelimpahan bintang mengular (Ophiuroidea) menggunakan metode kuadran transek berukuran 1 x 1 meter. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu bahwa nilai persentase penutupan karang mati di Pantai Sundak sebesar 92.06 %. Sedangkan nilai persentase penutupan karang mati di Pantai Kukup sebesar 86.20 %. Pada daerah Pantai Sundak didapatkan kelimpahan individu bintang mengular sebanyak 755 individu/ 150 meter2, sedangkan kelimpahan individu bintang mengular pada daerah Pantai Kukup sebanyak 366 individu/ 150 meter2. Pada  kedua lokasi didapatkan 3 jenis bintang mengular yaitu Ophiocoma riseii, Ophiocoma scolopendrina, dan Ophiocoma erinaceus. Kelimpahan jenis bintang mengular yang paling banyak ditemukan di daerah Pantai Sundak dan Pantai Kukup adalah jenis Ophiocoma scolopendrina.  Berdasarkan hasil Uji “T” test dapat disimpulkan bahwa kelimpahan jenis bintang mengular yang paling tinggi adalah pada Pantai Sundak sehingga terdapat perbedaan kelimpahan bintang mengular antara Pantai Sundak dan Pantai Kukup.  Brittle star (Ophiuroidea) is a part of Echinoderm which is available in the territorial waters around the world. Ophiuroidea actually has a pivotal role for water ecosystem. Sundak Beach and Kukup Beach, the coastal areas situated in the south of the Java Island that become the tourist destinations, has a site called dead reef as an inhabitant of brittle stars. At both locations are being estimated, there is an abundance of brittle stars. It is also supposed that the human activity in those two beaches has affected the difference of brittle stars affluence. This research is aimed to study these differences exactly located in Gunugkidul, Yogyakarta, while the observation itself done in April 2014. The method to take the data percentage for the closure of coral uses line transect method in 50 meters length. For the sampling of Ophiuroidea abundance, it utilizes quadrant transect in 1 square meters. As the results, the percentage data shows the closure of dead reef is 92, 06% for Sundak Beach and 86, 20% for Kukup Beach. In term of individual affluence, Sundak Beach has 775 individuals / 150 sqm., while Kukup Beach has 366 individuals / 150 sqm. In these locations, there are three species of brittle star; Ophiocoma riseii, Ophicoma scolopendrina, and Ophiocoma erinaceus. The high rate abundance is Ophiocoma scolopendrina which is mostly found in Sundak Beach waters. Based on the “T” test, that such differences happen in Sundak Beach and Kukup Beach.
PRODUKTIVITAS PRIMER DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON PADA AREA YANG BERBEDA DI SUNGAI BETAHWALANG, KABUPATEN DEMAK Setiawan, Nur Eko; Suryanti, -; 'Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.945 KB)

Abstract

Sungai Betahwalang banyak dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat yang tentunya berpengaruh terhadap kesuburan perairan. Kesuburan peraiaran perlu diketahui untuk melihat daya dukung perairan dalam menopang kehidupan organisme. Salah satu cara untuk mengetahui nilai kesuburan perairan adalah dengan menghitung produktivitas primer dan kelimpahan fitoplankton serta variabel fisika-kimia perairan. Penelitian dilakukan pada bulan Februari–Maret 2015 di sungai Betahwalang Demak, yang bertujuan untuk mengetahui nilai produktivitas primer; mengetahui kelimpahan fitoplankton, mengetahui perbedaan nilai produktivitas primer dan kelimpahan fitoplankton pada area yang berbeda dan mengetahui hubungan kedua variabel tersebut di sungai Betahwalang. Metode yang digunakan adalah metode Deskriptif Lokasi sampling ditentukan berdasarkan tiga stasiun dengan aktivitas yang berbeda dimana Stasiun I merupakan dermaga kapal dan pertanian; Stasiun II merupakan kawasan domestik; Stasiun III merupakan area mangrove. Nilai rata-rata produktivitas primer perairan sungai Betahwalang pada ketiga stasiun adalah: Stasiun I 667,2-999,6 mgC/m3/hari; Stasiun II 500,4-999,6 mgC/m3/hari; Stasiun III 667,2-1375,2 mgC/m3/hari. Berdasarkan nilai tersebut sungai Betahwalang dapat dikategorikan sebagai perairan Mesotrofik - Eutrofik. Kelimpahan fitoplankton sungai Betahwalang pada ketiga stasiun adalah: Stasiun I 2.739-4.140 ind/l; Stasiun II 1.656-3.185 ind/l; Stasiun III 1.274-3.822 ind/l. Berdasarkan nilai tersebut sungai Betahwalang dapat dikategorikan sebagai perairan Mesotrofik Berdasarkan uji chi-kuadrat, terdapat perbedaan pada masing-masing stasiun dan pengulangan dimana, nilai X2hitung pada produktivitas primer (X2hitung=396,27) dan kelimpahan fitoplankton (X2hitung=14310,24)  lebih besar dari X2tabel (13,28). Hubungan antara produktivitas primer dan kelimpahan fitoplankton menunjukan tidak ada hubungan kuat dimana dibuktikan hasil uji korelasi (r) sebesar -0,00841. Betahwalang River used for human activities which influnced fertility waters. Fertility waters need to know the carrying capacity of the water to sustain the organism. The value and characterize of the fertility waters can determine by calculate the primary productivity, phytoplankton abundance and also physics-chemical variable of water. This research was conducted in February-March 2015 in the Betahwalang River, Demak, which aims to determine the value of primary productivity; the value of phytoplankton abundan, the different that variable based on different areas and determine the relationship between the primary productivity of phytoplankton abundance in the Betahwalang River, Demak. The method used is Descriptive method with the determination of the sampling point, that is purposive sampling. Sampling locations are determined by three stations with different activities in which the First Station is a dock and agriculture; Second Station is a domestic area; and Third Station is a mangrove area. The average value of primary productivity of three stations in the waters of the Betahwalang River are: Station I 667,2-999,6 mgC/m3/day; Station II 500,4-999,6 mgC /m3/day; Station III 667,2-1375,2 mgC/m3/day. Based on the average values of each station, Betahwalang river can be categorized as Mesotrofic-Eutrofic. Phytoplankton abundance in Betahwalang river at three stations are: Station I 2.739-4.140 ind/l; Station II 1.656-3.185 ind/l; Station III 1.274-3.822 ind/l. Based on the average values of each station, Betahwalang river can be categorized as Mesotrofic.  Based on the chi-square test, there are differences in each station and repetition where in, the calculated value of primary productivity (X2count = 396,27) and abundance of phytoplankton (X2count = 14310,24) is greater than X2table (13,28). The relationship between primary productivity and phytoplankton abundance showed no significant relationship as evidenced in the results of the linear regression where the value (r) with the primary productivity of phytoplankton abundance of -0,00841.
KAJIAN KUALITAS AIR DALAM MENILAI KESESUAIAN BUDIDAYA BANDENG (Chanos chanos Forsk) DI SEKITAR PT KAYU LAPIS INDONESIA KENDAL Sustianti, Annisa Fitrias; Suryanto, Agung; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.223 KB)

Abstract

Banyak industri atau suatu pusat kegiatan kerja yang membuang limbahnya ke lingkungan melalui sungai, danau atau langsung ke laut menjadi penyebab utama terjadinya pencemaran air, salah satunya kasus hubungan antara keberadaan industri dan lingkungan adalah kegiatan PT Kayu Lapis Indonesia (KLI) di Kendal. Limbah yang dibuang keluar lingkungan (sungai dan laut) akan mempengaruhi air masuk ke dalam tambak-tambak di sekitarnya khususnya untuk biota yang hidup di dalamnya (bandeng). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian kualitas air untuk tambak budidaya bandeng, dan mengetahui bagaimana cara agar budidaya bandeng dapat menguntungkan ditinjau dari kesesuaian kualitas air pada tambak di sekitar PT Kayu Lapis Indonesia Kendal. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan (Maret, April dan Mei  2013). Pengambilan sampel dilakukan satu bulan dua kali. yaitu pada saat pasang dan surut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dan untuk pengambilan data menggunakan metode survey lapangan yang diperkuat dengan metode komparatif. Pengambilan sampel air dilakukan di ekosistem tambak yang diambil berdasarkan jarak dengan jumlah 2 lokasi. Variabel diukur secara in situ dan analisa laboratorium. Analisis data mengunakan scoring untuk digunakan dalam penilaian atau penentuan tingkat kesesuaian perairan untuk budidaya ikan bandeng. Selanjutnya, konsep penilaian potensi perairan mengunakan metode matching untuk membandingkan antara karakteristik lingkungan fisika dan kimia perairan suatu lokasi dengan kriteria kesesuaian yang diinginkan untuk budidaya ikan bandeng. Hasil penelitian tingkat kesesuaian penataan kualitas air untuk kegiatan budidaya tambak bandeng di sekitar PT Kayu Lapis Indonesia Kendal, menunjukan kondisi kualitas air di kawasan pertambakan berada dalam dua kategori, yaitu kategori cukup sesuai (S2) dan sangat sesuai (S1). Dengan melihat kondisi tersebut, diperlukan penyumbat pergantian air. Persyaratan inilah yang digunakan untuk mengetahui nahwa tambak budidaya bandeng di sekitar PT Kayu Lapis Indonesia bermanfaat untuk petani tambak dan masyarakat sekitar. Many industries or work activities centre disposes their waste into the environment through the river, lake or straight to the ocean becoming major cause of water pollution. One of the case that related with industrial existence and the environment was the activity of PT Kayu Lapis Indonesia in Kendal. The industrial waste disposed on the environment (river and sea) will influence the inlet that filled nearby fishponds especially the biota (milkfish) which lives in it. The purpose of this research is to acknowledge the level of water quality compatibility for milkfish cultivation, and knowing how to make the milkfish compatibility on the fishpond around PT Kayu Lapis Indonesia, Kendal. This research was held for 3 month (March, April and May 2013). Samples were gathered twice a month during high tide and low tide. The method used in this research was purposive sampling and for data collection was the field survey method that supported with comparative method. Collection of water sample are conducted in the fishpond ecosystem based on the distance between two locations. The variable are measured with ‘insitu’ and laboratorium analysis. Data analysis are using the ‘scoring’ method to value or determined the level of water compatibility in milkfish cultivation. The next steps are the value of water compatibility concept using matching method to compare between the characteristics of physical and chemical environment on the location with compatibility criteria desired for milkfish cultivation.The compatibility level results of the water quality for milkfish cultivation on activity around PT Kayu Lapis Indonesia in Kendal shows that the water quality of fishpond areas are in to two categories, which is suitable enough (S2) and very suitable (S1) category.  These requirements will be used to acknowledge that milkfish cultivation fishponds around PT Kayu Lapis Indonesia and will be beneficial to fish farmers and surrounding society.
Mangrove Carbon Biomass at Kemujan Island, Karimunjawa Nasional Park Indonesia Cahyaningrum, Siska Tri; Hartoko, Agus; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.682 KB)

Abstract

Akumulasi dari gas-gas rumah kaca dapat menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah meningkatkan peran hutan sebagai penyerap karbon melalui sistem pengelolaan yang baik. Ekosistem di kawasan pesisir yang memiliki fungsi ekologi sebagai penyerap karbon adalah hutan mangrove. Fungsi ekologi tersebut menjadikan hutan mangrove dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar baik pada vegetasi (biomassa) maupun bahan organik lain yang terdapat di hutan. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung biomassa karbon vegetasi mangrove diatas permukaan melalui persamaan alometrik, dan membangun pemodelan algoritma kandungan karbon jenis mangrove pada kawasan berdasarkan teknologi pengindraan jauh menggunakan citra satelit Quickbird. Penelitian menggunakan metode survey lapangan dengan eksploratif, dan pengambilan sampel di kawasan mangrove secara purposive sampling. Pengukuran biomassa tersimpan diatas permukaan dilakukan dengan tidak merusak vegetasi (non destructive sampling) melalui pengukuran diameter batang (DBH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 21 spesies mangrove ditemukan di kawasan mangrove Pulau Kemujan. Total biomassa atas permukaan (batang, cabang, daun) adalah 182.4 ton (setara 91.2 ton C), dengan simpanan karbon terbesar pada bagian batang. Berdasarkan hasil regresi polynomial untuk pemodelan kandungan karbon tiap jenis, didapatkan hasil pemodelan untuk Ceriops tagal dengan algoritma y = -0.003(B2/B3)2 + 0.267(B2/B3) – 3.452; Rhizophora apiculata dengan algoritma y = 0.001(B2/B3)2 – 0.116(B2/B3)2 + 3.415; Bruguiera cylindrica dengan algoritma y = -0.003(B2/B3)2 + 0.336(B2/B3) – 7.265; Xylocarpus granatum dengan algoritma y = 0.000(B2/B3)2 – 0.058(B2/B3) + 2.101; Rhizophora mucronata dengan algoritma y = 0.000(B2/B3)2 – 0.022(B2/B3) +1.941. The accumulation of greenhouse gases cause climate change. One of the effort to decrease accumulation gas is increasing the role of forests as carbon sinks through good management system. Ecosystems in coastal areas that have ecological function as a carbon sink is a mangrove forest. The ecological functions of mangrove forests can save carbon in large numbers both on the vegetation (biomass) and other organic materials which found in the forest. The purpose of this research to calculate the carbon biomass of mangrove vegetation on the surface through allometric equations, and to build modeling algorithms the carbon content of mangrove species in the region based on remote sensing technology using Quickbird satellite imagery. The research used an exploratory field survey and purposive sampling method in mangrove area. Measurements was performed on the surface of stored biomass without damaging vegetation (non-destructive sampling) through the measurement of trunk diameter (DBH). The results showed that there are 21 mangrove species found in mangrove areas Kemujan Island. Total biomass on the surface (trunk, branches, leaves) is 182.4 ton (91.2 tons C), with the largest carbon storage in the trunk. Based  on the results of polynomial regression for modeling the carbon content of each spesies, the results of modeling algorithm for Ceriops tagal with y = -0.003(B2/B3)2+ 0.267(B2/B3) – 3.452; Rhizophora apiculata with the algorithm y = 0.001(B2/B3 )2 - 0.116 (B2/B3) + 3.415; Bruguiera cylindrica with the algorithm y = -0.003(B2/B3)2 + 0.336(B2/B3) – 7.265; Xylocarpus granatum with algorithm y = 0.000(B2/B3)2 - 0.058(B2/B3) + 2.101; Rhizophora mucronata with the algorithm y = 0.000(B2/B3)2 - 0.022(B2/B3) +1.941.
DISTRIBUSI LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN CADMIUM (Cd) DI SEDIMEN, AIR DAN BIVALVIA DI LINGKUNGAN MUARA SUNGAI WISO JEPARA Partogi, Martin Arianto; Purnomo, Pujiono Wahyu; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.869 KB)

Abstract

Masuknya Logam berat Pb dan Cd di dalam perairan sungai Wiso yang berlokasi di Jepara Jawa Tengah bersumber dari pembuangan limbah domestik dan industri. Logam berat yang terlarut dalam badan air (bentuk ion) maupun yang mengendap di dasar perairan (sedimentasi), masuk ke dalam tubuh hewan air, baik melalui insang, bahan makanan, ataupun melalui difusi yang kemudian akan terakumulasi di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran dan distribusi logam berat di sekitar lingkungan muara sungai Wiso pada air dan bivalvia, perpindahan logam berat pada badan air ke dalam sedimen, serta perpindahan logam berat pada sedimen ke dalam bivalvia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga April 2014. Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pengumpulan data primer menggunakan metode observasi dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling.  Kemudian analisis kandungan logam berat dalam sampel menggunakan instrument Atomic Absorbtion Spectrophotometer (ASS) sesuai dengan SNI. Berdasarkan hasil laboratorium menunjukkan bahwa perairan muara Sungai Wiso telah tercemar logam berat Pb dan Cd berdasarkan baku mutu air laut menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tahun 2014 dan baku mutu sedimen Reseau National d’Observation (RNO) Tahun 1981. Tetapi pada daging bivalvia masih berada di bawah Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan SNI No. 7387 Tahun 2009. Berdasarkan hasil uji regresi didapatkan nilai Significance F sebesar 0,9302 dan 0,7062 yang menunjukkan bahwa logam berat Pb dan Cd pada sedimen tidak berhubungan erat dengan yang terdapat pada badan air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar logam berat dalam badan air di perairan Sungai Wiso lebih rendah dibandingkan dalam sedimen yang menunjukkan adanya akumulasi logam berat dalam sedimen.  The entry of heavy metals Pb and Cd in the river waters Wiso located in Jepara, Central Java sourced from domestic and industrial waste disposal. Heavy metals dissolved in the water body (form ions) or settles in the bottom waters (sedimentation), entered into the animal's body, either through the gills, food, or through diffusion which will then accumulate in the body. This study aims to determine the spread and distribution of heavy metals in the environment around river estuary Wiso on water and bivalves, the movement of heavy metals in water bodies into the sediment, and the transfer of heavy metals in sediments in the bivalves. The research was conducted in February 2014 until April 2014. The method used in this research is descriptive method, with the collection of primary data using the method of observation and sampling conducted with a purposive sampling method. Then the analysis of heavy metal content in the samples using Atomic Absorption Spectrophotometer instrument (ASS) according with SNI. Based on laboratory results indicate that the waters Wiso estuary has been polluted heavy metals Pb and Cd based on the sea water quality standards according to the Decree of the Minister of Environment in 2014 and sediment quality standardsReseau National d'Observation (RNO) 1981. But the flesh bivalves still under the Limit for Heavy Metal Contamination in Food SNI No.7387 in 2009.Based on test results obtained regression Significance F value of 0.9302 and 0.7062 which indicates that heavy metals Pb and Cd in sediments are not closely related to those of the water body so that it can be concluded that the levels of heavy metals in water bodies in the waters of the River Wiso more lower than in the sediments indicate the presence of heavy metal accumulation in the sediments.
KONSENTRASI BAHAN ORGANIK PADA PROSES PEMBUSUKAN AKAR, BATANG DAN DAUN ECENG GONDOK (Eichhornia sp.) (SKALA LABORATORIUM) Pangestu, Putri Cipta; Soedarsono, Prijadi; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.077 KB)

Abstract

Bahan organik pada tanah dapat terbentuk karena ada penimbunan dari sisa-sisa tanaman yang telah mengalami pelapukan, salah satunya dapat berasal dari akar, batang dan daun Eceng Gondok yang merupakan sumber primer bahan organik di perairan Rawa Pening. Tingginya konsentrasi bahan organik pada perairan Rawa Pening dapat terlihat dengan banyaknya populasi Eceng Gondok yang tumbuh di perairan tersebut serta penimbunan sisa-sisa tumbuhan pada perairan yang tidak termanfaatkan. Penumpukan sisa-sisa dari tanaman ini dikhawatirkan akan mengakibatkan perombakan bahan organik secara besar-besaran dan berdampak pada kondisi perairan yang terlalu subur (eutrofikasi).Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah akar, batang dan daun Eceng Gondok. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposif sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen skala laboratorium. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu wadah percobaan yang masing-masing diisi akar, batang, dan daun Eceng Gondok. Data yang diamati meliputi konsentrasi bahan organik pada masing-masing bagian tumbuhan, rasio bobot masing-masing bagian tumbuhan, biomassa awal dan akhir sampel uji, kelarutan oksigen, suhu air, pH air serta pH tanah pada setiap wadah percobaan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga Juli 2013 di Laboratorium Hidrobiologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi bahan organik tertinggi terdapat pada wadah percobaan penelitian yang berisi akar Eceng Gondok dengan kisaran 50.25 – 57.3%. Wadah yang berisi batang mengandung konsentrasi bahan organik dengan kisaran 48.87 – 55.84%. Konsentrasi bahan organik terendah terdapat pada wadah yang berisi daun Eceng Gondok dengan kisaran 44.67 – 50.28%. Biomassa Eceng Gondok mengalami reduksi setelah 4 minggu terbukti dari biomassa awal masing-masing 200 gr dan biomassa rata-rata akhir pada akar yaitu 96,6 g, pada batang 72,6 g dan pada daun 56,3 g. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa konsentrasi bahan organik tertinggi terdapat pada akar Eceng Gondok. Hasil analisis data konsentrasi bahan organik dengan Anova One Way terdapat perbedaan yang signifikan antara akar, batang dan daun diperoleh nilai signifikansi 0,00 (p<0.05). Bagian tumbuhan yang paling cepat terdekomposisi adalah daun Eceng Gondok.
PENUTUPAN KARANG LUNAK (SOFT CORAL) PADA DAERAH RATAAN DAN DAERAH TUBIR DI PULAU CEMARA KECIL KEPULUAN KARIMUN JAWA Nababan, Sehat Martua Parulian; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.451 KB)

Abstract

 Komunitas karang daerah yang satu dengan daerah lainnya juga akan memiliki perbedaan, sehingga sebaran karang lunak yang terdapat di daerah rataan dan tubir memiliki perbedaan. Komposisi karang lunak yang terdapat pada daerah rataan terumbu yang merupakan perairan dangkal dan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan perairan kemungkinan akan memiliki perbedaan komposisi jenis karang pada daerah tubir, yang merupakan perairan yang cukup dalam, serta memiliki tingkat kemiringan yang bervariasi. Sebaran jenis suatu komunitas akan mengalami perubahan bila lingkungan berubah, baik karena tekanan fisik, biologi maupun aktifitas manusiaTujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui penutupan karang lunak pada zona rataan dan pada zona tubir di perairan Pulau Cemara Kecil, Karimun jawa. Dan mengetahui nilai indeks keanekaragaman karang lunak pada daerah rataan dan daerah tubir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Dimana metode yang digunakan tergolong dalam metode survei yang bersifat deskriptif. Metode yang digunakan pengambilan data adalah Line Intercept Transect (LIT). Penelitian dilakukan pada dua lokasi yaitu daerah rataan terumbu dan daerah tubir. Panjang line transek adalah 10 m, diletakkan sejajar garis pantai, transek yang digunakan di daerah rataan terumbu sebanyak 3 line dan daerah tubir sebanyak 3 line. Jarak antar line dimasing – masing lokasi sampling 5 m.Hasil penelitian jenis karang lunak yang ditemukan di daerah rataan dan daerah tubir Lobophytum, Sarcophyton, nepthea dan Xenia. Prosentase penutupan karang lunak tertinggi pada daerah tubir yaitu yaitu sebesar 26,13% sedangkan pada daerah rataan sebesar 24,03%. Nilai indeks keanekaragaman (H’) pada stasiun A dan B sama yaitu 0,96 yang termasuk keanekaragaman rendah. Terdapat 4 genera karang lunak yaitu Lobopyhtum, Sarcophyton, Nepthea dan Xenia. Coral reef community are different in several areas so that the distribution of soft coral in reef flat areas and reef slope areas has difference. Composition of coral reef found in the reef flat areas which is shallow waters and more influenced by environmental factors will has difference with coral reef found in reef slope areas which is deep waters and has variation of slope. The distribution of coral reefs will change when the environmental factors change either physical pressure, biological or human activity.The purpose of this research is to tell abudance soft coral on reef flat areas (reef flat) with the reef slope areas (reef slope) in Cemara Kecil island, Karimunjawa. And knowing the value of diversity index soft coral on reef flat areas and the reef slope areas. Methods used in this research method of surveying. Actually, methods used characterizes method of surveying that is descriptive. Methods used in taking data is Line Intercept Transect (LIT). Research carried on two spots was station A (Reef flat) and station B (Reef slope). The line’s long size is 10m, put in parallel along the coast, line used in the reef flat as much as three line and reef slope about three line. The distance between line each other location is 5m.Species of soft coral found in the reef flat and reef slope is Lobophytum, Sarcophyton, Nepthea and Xenia. Closure of the highest percentage soft coral in reef flat  areas is 24,03%. While closing of the highest percentage of soft coral in reef slope areas is 26,13%. The value of diversity index (H’) in station A and B is 0,96 includes categories low diversity. There are 4 of soft coral, Lobophytum, Sarcophyton, Nepthea and Xenia.
Co-Authors 'Ain, Churun - Ruswahyuni - Supriharyono Abdul Ghofar Adhitya Wijayanto, Adhitya Aga Yuspriadipura Agfia Rizkmaylia agung Suryanto Agus Hartoko Ajeng Ganefiani Alifhannizar Marwadi Anastia Afika Riza Andreas Nur Hidayat Andrian Juniarta, Andrian Angelia Maharani Setya Putri Anggun P. Situmorang Anindya Wirasatriya Annisa Fitrias Sustianti Arinda Rosari Arizal Rusdiyato Boedi Hendrarto Ca Perdana Arthaz, Ca Perdana Churun Ain Churun A’in Churun A’in Churun A’in Churun A’in Daniel Nugroho Wijaya, Daniel Nugroho Dewati Ayu Febrianti Dhany Rosyid Aziz, Dhany Rosyid Djoko Suprapto Dwi Kritiyasari Epafras Andrew Putra Fandi Maulana Febrianto, Sigit Fella Suffa Azzahra Frida Purwanti Galih Arum Puspitaningtyas Aji Pangastuti Galuh Yuanita Maira Hadi Endarwati Hadi Endrawati Himatul Aliyah Febriana Ika Chrisyariati Inesa Ayuniza Rahmitha, Inesa Ayuniza Isnanda, Angghardian Julia Herlianti, Julia M. Mujiya Ulkhaq Mahdy Rohmadoni Martantya Bagus Permadi, Martantya Bagus Martin Arianto Partogi Mayang Rizkiyah Megawati Arsita Putri Mersi Liwa&#039;u Dina Monica Sofchah Febriyanti Muhamad Fadli Muhammad Mirza Mustaqim Muhammad Zainuri Muslihuddin Aini Nabila Fikri Dwi Cahyani Niniek Widyorini Nisa Ristianti Nur Eko Setiawan, Nur Eko Nurannisa Isnaeni, Nurannisa Nurul Hidayati Masruroh Nurul Latifah Nurul Yaqin Oktavianto Eko Jati Patric Erico Rakandika Nugroho Pradita Yusi Akshinta Prasasti Nusa Pertiwi Nur Fatimah Prijadi Soedarsono Pujiono Wahyu Purnomo Pujiono Wahyu Purnomo Putri Cipta Pangestu Rendra Rini Rismatul Chusna Reni Ria Yunita Reny Oktavianti Rian, Rica Riki Tristanto Rizqi Waladi Purwandatama Rosyid Paundra Gamawan Royhan Maulana Rr. Nadia Chairina Tishmawati Ruswahyuni Ruswahyuni Sehat Martua Parulian Nababan, Sehat Martua Parulian Setiaji Nugroho Siska Tri Cahyaningrum Siti Rudiyanti Siti Rudiyanti Stela Monic Maya Ersa Supriharyono Supriharyono Susi Sumartini Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Syahrul, Syahfilna Teja Arief Wibawa Tony Cahya Firmandana Untung Ismoyo Vina Aulia Firdausa Waskito Nugroho William Ben Gunawan Wishal Asdicky Falah Wiwiet Teguh Taufani Yanuareza Putra Sunarernanda