agung Suryanto
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

KEPEDULIAN MASYARAKAT DAN EFEKTIVITAS KAMPANYE ZONA INTI DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Widyatmoko, Bima Tri; Purwanti, Frida; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 1, No 1 (2012): Journal of Management of Aquatic Resources
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.022 KB)

Abstract

  Taman Nasional didefinisikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. Persepsi yang salah  mengenai pemanfaatan sumberdaya oleh masyarakat akan menjadi pemicu kerusakan ekosistem. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui kegiatan penangkapan masyarakat dan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan  Zona Inti, sekaligus mengetahui efektivitas kampanye dalam  hal media komunikasi untuk membantu pemahaman masyarakat terhadap  keberadaan Zona Inti. Metode penelitian dilakukan dengan Observasi Lapangan, dengan pengambilan data yang dilakukan dengan melakukan jajak pendapat kepada masyarakat dengan acuan pertanyaan dari kuisioner. Kuisioner yang digunakan dalam kampanye Zona Inti adalah menurut Strategic Plan RARE Coral Triangle 2010-2011 Marine Thematic Cohort. Gambaran kuisioner yang akan diberikan meliputi Profil responden, Kegiatan penangkapan dan lokasi kegiatan penangkapan, Pengetahuan masyarakat mengenai Zona Inti, dan Efektivitas media komunikasi yang digunakan dalam kampanye Zona Inti. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa penangkapan dilakukan dalam kegiatan ramah lingkungan karena 46% menggunakan pancing tonda. Sebesar 76% mengakui perbedaan jarak penangkapan yang semakin jauh. Pengetahuan lokasi Zona Inti mengalami peningkatan dan kesediaan menjadi kelompok partisipatif dalam pengawasan Zona Inti sebesar 68,4 %. Efektivitas kampanye terlihat dari penggunaan SMS (Short Message Service) yang menjadi media komunikasi dua arah. Hal ini yang menjadikan SMS sebagai media komunikasi yang efektif dalam penyampaian pesan-pesan kampanye. Kata Kunci : Kepedulian, Masyarakat, Taman Nasional Karimunjawa, Kampanye Zona Inti   Abstract   National Parks are defined as having a nature conservation area of ​​native ecosystems, managed by the zoning system, and used for research purposes. Karimunjawa community that relies on the natural result will be a problem that would arise if there is no clarity and knowledge on natural resources will be exhausted. This study aimed to determine the incidence of community and public awareness of the existence of the Core Zone, as well as the effectiveness of media campaigns in terms of communication to help people's understanding of the existence of the Core Zone. Data is collected by the distribution of questionnaires. The questionnaire used in the Core Zone campaign is under the Strategic Plan 2010-2011 RARE Coral Triangle Marine Thematic Cohort. Overview will be given a questionnaire that includes profiles of respondents, fishing activities and the location of fishing activities, public knowledge about the core zone, and the effectiveness of the communication media used in the Core Zone campaign. Based on the research note that the arrests were made in an environmentally friendly activity because 46% using a fishing rod Tonda. 76% recognize the difference that the farther the distance catching. Knowledge of the location of the Core Zone and the willingness to increase participation in the surveillance group core zone of 68.4%. The effectiveness of the campaign can be seen from the use of SMS (Short Message Service) is a two-way communication media. This is what makes SMS as effecttive at communications media in the delivery of campaign messages. Keywords: Caring, Community, National Park Karimunjawa, Core Zone Campaign  Taman Nasional didefinisikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. Persepsi yang salah  mengenai pemanfaatan sumberdaya oleh masyarakat akan menjadi pemicu kerusakan ekosistem. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui kegiatan penangkapan masyarakat dan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan  Zona Inti, sekaligus mengetahui efektivitas kampanye dalam  hal media komunikasi untuk membantu pemahaman masyarakat terhadap  keberadaan Zona Inti. Metode penelitian dilakukan dengan Observasi Lapangan, dengan pengambilan data yang dilakukan dengan melakukan jajak pendapat kepada masyarakat dengan acuan pertanyaan dari kuisioner. Kuisioner yang digunakan dalam kampanye Zona Inti adalah menurut Strategic Plan RARE Coral Triangle 2010-2011 Marine Thematic Cohort. Gambaran kuisioner yang akan diberikan meliputi Profil responden, Kegiatan penangkapan dan lokasi kegiatan penangkapan, Pengetahuan masyarakat mengenai Zona Inti, dan Efektivitas media komunikasi yang digunakan dalam kampanye Zona Inti. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa penangkapan dilakukan dalam kegiatan ramah lingkungan karena 46% menggunakan pancing tonda. Sebesar 76% mengakui perbedaan jarak penangkapan yang semakin jauh. Pengetahuan lokasi Zona Inti mengalami peningkatan dan kesediaan menjadi kelompok partisipatif dalam pengawasan Zona Inti sebesar 68,4 %. Efektivitas kampanye terlihat dari penggunaan SMS (Short Message Service) yang menjadi media komunikasi dua arah. Hal ini yang menjadikan SMS sebagai media komunikasi yang efektif dalam penyampaian pesan-pesan kampanye. Kata Kunci : Kepedulian, Masyarakat, Taman Nasional Karimunjawa, Kampanye Zona Inti   Abstract   National Parks are defined as having a nature conservation area of ​​native ecosystems, managed by the zoning system, and used for research purposes. Karimunjawa community that relies on the natural result will be a problem that would arise if there is no clarity and knowledge on natural resources will be exhausted. This study aimed to determine the incidence of community and public awareness of the existence of the Core Zone, as well as the effectiveness of media campaigns in terms of communication to help people's understanding of the existence of the Core Zone. Data is collected by the distribution of questionnaires. The questionnaire used in the Core Zone campaign is under the Strategic Plan 2010-2011 RARE Coral Triangle Marine Thematic Cohort. Overview will be given a questionnaire that includes profiles of respondents, fishing activities and the location of fishing activities, public knowledge about the core zone, and the effectiveness of the communication media used in the Core Zone campaign. Based on the research note that the arrests were made in an environmentally friendly activity because 46% using a fishing rod Tonda. 76% recognize the difference that the farther the distance catching. Knowledge of the location of the Core Zone and the willingness to increase participation in the surveillance group core zone of 68.4%. The effectiveness of the campaign can be seen from the use of SMS (Short Message Service) is a two-way communication media. This is what makes SMS as effecttive at communications media in the delivery of campaign messages. Keywords: Caring, Community, National Park Karimunjawa, Core Zone Campaign
PRODUKSI DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH MANGROVE BERDASARKAN TINGKAT KERAPATANNYA DI DELTA SUNGAI WULAN, DEMAK, JAWA TENGAH Widhitama, Sena; Purnomo, Pujiono Wahyu; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.243 KB)

Abstract

ABSTRAK Salah satu proses pada ekosistem mangrove yang memberikan kontribusi  besar terhadap kesuburan perairan adalah proses dekomposisi atau penghancuran serasah mangrove. Penghancuran serasah merupakan bagian dari tahap proses dekomposisi, yang dapat menghasilkan nutrient  penting dalam rantai makanan, melalui produktivitas perairan disekitarnya, sebagaimana yang terjadi di Delta Sungai Wulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produksi serasah mangrove dan laju dekomposisinya berdasarkan tingkat kerapatan mangrove.Metode yang digunakan adalah metode survai hal ini dilakukan dalam tiga titik sampling, yang dikelompokkan pada tiga kategori kerapatan mangrove yaitu rendah, sedang dan tinggi.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari sampai maret 2016. Hasil penelitian  menemukan  tiga spesies mangrove yaitu Rhizopora mocrunata, Rhizopora apiculata, dan Avicennia marina. Jumlah serasah yang diperoleh pada kerapatan mangrove rendah adalah 701.51 gram, mangrove kerapatan sedang berjumlah 837.94 gram dan mangrove kerapatan tinggi berjumlah 1276.85 gram. Laju dekomposisi dalam 30 hari pengamatan dengan laju tertinggi berada pada mangrove kerapatan tinggi dengan persentase 29 – 30 %, sedangkan kerapatan mangrove rendah dan kerapatan mangrove sedang dengan persentase 28%. Kata kunci : Delta Sungai Wulan;Produksi Serasah;Laju Dekomposisi ABSTRACTOne of the processes at mangrove ecosystem which contributes greatly to the fertility waters is the process of decomposition or destruction of mangrove manure. Destruction of Manure is a part of the decomposition process, can produce an important nutrient in the food chain, by means of  productivity of the surroundings waters, as happened in Delta Wulan. The purpose of this study was to find out the mangrove manure production and the rate of decomposition is based on the density of mangrove. The method used is a survey method  to divide the three point sampling, which grouped in three categories mangrove density, low, medium and high. This research was conducted in January to March 2016. The result of research to found  three species of mangrove that Rhizopora mocrunata, Rhizophora apiculata and Avicennia marina. The amount of manure that is obtained at a low density is 701.51 grams, medium density amounted to 837.94 grams and high density mangrove amounted to 1276.85 grams. The rate of decomposition in the 30 days of observation by the highest rates are in the high density mangrove with a percentage of 29% - 30%, meanwhile low density mangrove and mangrove medium density with a percentage of 28%. Keywords : Delta Wulan River;Manure production;Decomposition rate
ANALISIS LOGAM BERAT CU DAN PB PADA AIR DAN SEDIMEN DENGAN KERANG HIJAU (P. VIRIDIS) DI PERAIRAN MOROSARI KABUPATEN DEMAK Falah, Suudul; Purnomo, Pujiono Wahyu; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 2 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.587 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i2.22545

Abstract

Kawasan perairan Morosari mempunyai jarak yang dekat dengan Teluk Semarang yang dicirikan dengan adanya pelabuhan, kegiatan industri disekitar perairan, irigasi dari kegiatan perkotaan dan limbah kegiatan pertanian. Wilayah ini terindikasi pencemaran logam berat. Kadar logam berat pada perairan dan sedimen dapat dapat berpengaruh pada biota yang hidup di dalamnya terutama Perna viridis L. yang dibudidayakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dari perairan morosari dan status pada perairan, sedimen dan biota (P.viridis). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi yang didesain dalam bentuk survey. Data yang diamati adalah logam Cu dan Pb, suhu, salinitas, pH, arus, kedalaman, kecerahan yang diambil dari 3 titik yang berbeda dan dilakukan sebanyak 2 kali pengulangan di masing-masing titik. Hasil analisis menunjukkan kandungan logam berat pada perairan adalah berkisar antara dari 0,016 - 0,063 mg/l untuk Cu dan 0,224 - 0,351 mg/l untuk Pb, kedua logam tersebut telah melebihi ambang batas aman atau sudah tercemar. Logam berat pada P.viridis untuk Cu berkisar antara 3,761 ­- 30,167 mg/kg sedangkan logam Pb memiliki kisaran nilai 2,790 - 26,667 mg/kg, hasil pengukuran tersebut menunjukan bahwa kandungan logam berat pada kerang hijau bervariasi mulai dari dibawah baku mutu hingga melebihi ambang batas baku mutu.    The Morosari waters area has close range to Semarang Bay which is characterized by the harbor, industrial activities around the water, irrigation of urban activities and agricultural waste. This region is indicated by heavy metal contamination. Heavy metal concentrations in waters and sediments can have an effect on the living biota, especially the cultured Perna viridis L. This study means to determine the water quality, sediment and green sheal of morosari. The method used in this research is description method designed by survey. The observed data are Cu and Pb metals, temperature, salinity, pH, current, depth, brightness taken from 3 different points and performed 2 repetitions at each. The results showed that the heavy metal content in the waters was in the range of 0.016-0.063 mg/l for Cu and 0.224 0.351 mg/l for Pb, both metals had exceeded the safe or contaminated threshold. Heavy metals in P.viridis for Cu ranged from 3.761 30.167 mg / kg whereas metal Pb has a range of values 2,790 26,667 mg/kg, the measurement results show that the heavy metal content in green shells varies from below to exceed the quality standard threshold. 
LUASAN DAN DISTRIBUSI MANGROVE DI KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG DENGAN PENGGUNAAN GOOGLE EARTH DAN SOFTWARE ARCGIS (STUDI KASUS : DESA PESANTREN, DESA MOJO DAN DESA LIMBANGAN) Fatmawati, Rifky Annisa; Suryanto, Agung; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.818 KB)

Abstract

ABSTRAK Gambaran sumberdaya mangrove yang belum menunjukkan kondisi sesungguhnya dilapangan. Penginderaan jauh dari Google Earth untuk vegetasi mangrove dapat dikembangkan untuk memperoleh data luasan mangrove disuatu daerahTujuan penelitian ini adalah untuk menemukan kemungkinan penggunaan aplikasi Google earth dan Software ArcGis untuk menentukan luasan dan distribusi mangrove di kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang. Metode yang digunakan untuk menghitung luasan mangrove adalah digitasi on screen mangrove dari Google Earth lalu diolah kedalam Software ArcGis dan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Luasan mangrove di Desa Pesantren, Desa Mojo dan Desa Limbangan Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang sebesar 248,15 ha. Terdiri dari Desa Pesantren dengan luas mangrove 76,37 ha, Desa Mojo dengan luas mangrove sebesar 88,57 ha dan Desa Limbangan luas mangrove sebesar 83,21 ha. Distribusi mangrove di Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang terdapat di pinggir pantai dan sekekiling tambak. Desa Limbangan memiliki nilai perbandingan luas mangrove dan luas tambak 16,25 %, Desa Mojo 14,47 % dan Desa Pesantren 14,25 %. Kata Kunci : Luasan mangrove, distribusi mangrove ABSTRACT Mangrove database generally is still not showing the actual conditions in the field. Remote sensing for mangrove vegetation has been developed to obtain data on the extent of mangrove in an area.The purpose of this study was to find a possible use Google earth and Software ArcGIS to determine the extent and distribution of mangrove in subdistrict Ulujami Pemalang. The method used to calculate the extent of mangrove was digitizing on screen the extent and distribution of mangrove in Google Earth and then processed into ArcGIS Software and Microsoft Excel. The results showed that the area of mangrove in the village of Pesantren, Mojo Village and Limbangan Village District Ulujami Pemalang was 248.15 ha. Pesantren Village  had  76.37hectares of mangrove, Mojo village had 88.57 hectares of mangrove and Limbangan village had 83.21 hectares of mangrove.Mangrove in subdistrict Ulujami Pemalang was distributed near the coast and around the brackish water pond. Ratio of brackish water pond and mangrove areas in Limbangan  was 16 , 25%, in  Mojo 14.47% and Desa Pesantren was 14.25%.  Keywords:The area of mangrove, mangrove distribution.
DINAMIKA PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PESISIR DESA SURODADI KECAMATAN SAYUNG DENGAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT (Dynamics of Coastal Line Changes in the Surodadi Village of Sayung Sub District by Using Satellite Imagery) Riyanti, Aulia Huda; Suryanto, Agung; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.465 KB)

Abstract

Garis pantai Desa Surodadi mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Perubahan yang serius ini perlu untuk dilakukan pemantauan terus menerus. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang perubahan garis pantai dan kaitannya dengan tutupan lahan di pesisir Desa Surodadi Kecamatan Sayung Kabupaten Demak pada tahun 2015 dan 2016. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2017. Stasiun penelitian dibagi menjadi lima stasiun berdasarkan lokasi abrasi dan akresi yang telah terjadi. Dengan proses overlay kedua data citra satelit melalui sistem informasi geografis merupakan cara cepat untuk mengetahui perubahan garis pantai yang terjadi pada pesisir Desa Surodadi. Metode penelitian ini dengan menggunakan metode deskriptif studi kasus dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh pada pengolahan data citra SPOT 6 tahun 2015 dan tahun 2016 yang diperoleh dari Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh LAPAN Jakarta serta dilakukan survei lapangan sehingga diperoleh laju perubahan garis pantai serta tutupan lahan yang terdapat pada lokasi penelitian. Garis pantai yang terjadi dari tahun 2015 sampai tahun 2016 lebih banyak mengalami proses abrasi jika dibandingkan proses akresi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui laju perubahan panjang garis pantai sebesar 103,58 m, perubahan garis pantai yang terjadi berupa abrasi sebesar 1,197 ha dan perubahan yang berupa akresi sebesar 0,490 ha. Keterkaitan antara perubahan garis pantai dengan tutupan lahan di Desa Surodadi adalah tutupan mangrove yang ada cukup luas dan relatif rapat sehingga dapat mencegah intrusi air laut yang dapat menyebabkan perubahan garis pantai. Surodadi village coastline changes from year to year. This serious change is necessary for ongoing monitoring. This research was conducted to obtain information about coastline change and its relation to land cover in coastal village of Surodadi Sub-District of Sayung Regency of Demak in 2015 until 2016. This research was conducted from May to June 2017. The research station is divided into five stations based on the location of abrasion and Accretion that has occurred. With the second overlay process satellite image data through geographic information system is a quick way to find out the shoreline changes that occur in the coastal village of Surodadi. This research method is done by using descriptive method of case study by using remote sensing technology on SPOT image data processing of 6 year 2015 and year 2016 which obtained from Center of Technology and Remote Sensing Data of LAPAN Jakarta and conducted field survey so that obtained rate of change of coastline happened also Land cover located at the research location. Coastlines that occur from 2015 to 2016 more experienced abrasion process when compared to the accretion process. Based on the research results can be seen the rate of change of coastline length of 103.58 m, shoreline changes that occur in the form of abrasion of 1.197 ha and changes in the form of accretion of 0.490 ha. The link between coastline change and land cover in Surodadi Village is that the mangrove cover is wide enough and relatively close so it can prevent the intrusion of sea water which can cause coastline changes.
KONDISI HABITUS Rhizophora sp DI PANTURA KOTA SEMARANG BERDASARKAN NILAI HUE DAUN (Habitus Condition of Rhizophora sp in the Northern Coast of Semarang City based on the Hue Number) Frida Purwanti; Siti Rudiyanti; Agung Suryanto
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 9, No 1 (2013): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.745 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.9.1.75-79

Abstract

Mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir penting yang berfungsi untuk melindungi daerah pesisir dan untuk mendukung produktivitas primer. Keanekaragaman hayati mangrove di Propinsi Jawa Tengah didominasi oleh Rhizopora sp. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi ksehatan hutan mangrove adalah daun. Nilai hue dapat digunakan untuk menunjukkan kondisi habitus mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah hue dari daun Rhizopora sp. baik di areal terbuka maupun daerah teduh, untuk menganalisis hubungan hue dengan parameter lingkungan, dan untuk mengidentifikasi kondisi habitus dari Rhizopora sp di pantai utara Kota Semarang. Purposive random sampling digunakan untuk mengumpulkan spesimen daun Rhizopora sp dan untuk mengukur kualitas perairan Kabupaten Tugu, kemudian nilai Hue dari masing-masing daun mangrove dianalisis menggunakan program komputer Adobe photoshop CS2. Korelasi Pearson digunakan untuk analisis korelasi nilai daun Hue terhadap paramater lingkungan. Penelitian ini dilakukan dari bulan September sampai November 2011, di Tugu, Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Hue Rhizophora apiculata di stasiun Mangunharjo lebih rendah dari stasiun Mangkang Kulon, baik di areal terbuka maupun ternaungi. Korelasi nilai Hue untuk suhu dan salinitas perairan memiliki korelasi yang sangat lemah untuk kedua kondisi areal.Habitus terbuka dan ternaungi dari Rhizophora apiculata di Tugu District menunjukkan nilai perbedaan Hue yang dipengaruhi oleh suhu udara dan substrat. Kata kunci: Mangrove, hue, korelasi, habitus Mangrove is one of the important coastal ecosystem that have function to protect coastland and to support primary productivity. Mangrove biodiversity at the Central Java Province is dominated by Rhizophoraceae. One indicator that can be used to detect the health of mangrove forest stands is the leaf. Hue number correspond to the color can be used to indicate mangrove habitus condition. The research aims to know the Hue number from the Rhizophora sp leaf on the open and shading areas; to analyse correlation its Hue to the environmental parameter; and to identify habitus condition of Rhizophora sp at the northern coast of Semarang city. Purposive random sampling was used to collect Rhizophora leafs specimen and to measure waters quality of the Tugu District, then Hue value from each mangrove leaf stand was analised using Adobe photoshop CS2 computer program. Pearson correlation was used to analysed correlation of Hue leaf value to environmental paramater. The research was conducted from September to November 2011, at Tugu District, Semarang. The result indicated that Hue value of Rhizophora apiculata at Mangunharjo station  is lower than Mangkang Kulon station, both at the open and shading areal.  Correlation of Hue value to water temperature and water salinity have a very weak correlation for both of open and shading areal.Habitus condition of Rhizophora apiculata at Tugu District show a difference value of Hue that affected by air temperature and substrat. Key words : Mangrove, Hue, correlation, habitus
Shrimp (Penaeus spp) Potential, Utilization (Penaeus spp) and Management Effort at Batang District Coastal Waters Sulistyowati Sulistyowati; Muhammad Zainuri; Aziz Nur Bambang; Agung Suryanto
International Journal of Marine and Aquatic Resource Conservation and Co-existence 2014: IJMARCC Volume 1 Issue 1 Year 2014
Publisher : International Journal of Marine and Aquatic Resource Conservation and Co-existence

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.345 KB) | DOI: 10.14710/ijmarcc.1.1.p

Abstract

The study of potential and shrimp resource utilization (Penaeus spp.) at  Batang Regency coastal waters made based on analysis of the catching data and shrimp fishing trip during the period 2002-2011. Analysis of the catch per unit effort (CPUE) is used to predict the long-lasting potential (MSY) shrimp and optimum fishing effort. The analysis was also conducted to determine the state of fishing season based on quarterly data. MSY value and shrimp fishing effort in Batang respectively 29,032 kg and 18,262 trip. The highest shrimp fishing season was in the first quarter that is in January-March and decreased in the third quarter (July–September). It is known that the status of the shrimp fishery in 2005-2006 and in 2010-2011 have shown overfishing, so the effort settings required. The sustainable resources is more aimed at limiting the catch and the catch effort with arad net, ie 80% of the sustainable resources. Key words: Analysis of CPUE, shrimp (Penaeus spp.), MSY, Batang regency coastal waters.
HUBUNGAN KONSENTRASI MINYAK DAN FENOL DENGAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI SUNGAI ASEM BINATUR, KOTA PEKALONGAN Mochammad Ardiansyah; Agung Suryanto; Haeruddin Haeruddin
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.605 KB) | DOI: 10.14710/marj.v6i1.19816

Abstract

ABSTRAKSungai Asem Binatur terletak di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Sungai ini selain menerima limbah domestik juga menjadi objek buangan limbah batik oleh para pelaku industri batik di daerahnya. Kandungan minyak dan fenol yang terdapat pada pembuatan batik ini mengalir menuju ke perairan sungai. Kandungan ini akan berdampak terhadap kelimpahan fitoplankton sebagai indikator kualitas perairan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli – Agustus 2016 di Sungai Asem Binatur yang bertujuan untuk mengetahui konsentrasi minyak dan fenol, mengetahui kelimpahan dan struktur komunitas fitoplankton dan mengetahui hubungan antara minyak dan fenol dengan kelimpahan fitoplankton. Metode yang digunakan adalah metode survey. Teknik pengambilan sampel air di bagian tengah sungai selanjutnya dianalisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi minyak di lokasi penelitian berkisar antara 1,2 – 10,4 mg/l, sedangkan konsentrasi fenol berkisar antara 0,0005 – 1,167 mg/l. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 609 – 1649 ind/l, indeks keanekaragaman (H’) dengan nilai 1,894 – 2,484, indeks dominasi (d) diperoleh nilai 0,125 – 0,224, dan indeks keseragaman (e) dengan nilai 0,717 – 0,846. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara minyak dengan kelimpahan fitoplankton pada taraf kepercayaan 95% dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,585 menunjukkan korelasi cukup. Sedangkan, terdapat hubungan yang signifikan antara fenol dengan kelimpahan fitoplankton dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,861 menunjukkan korelasi kuat. Regresi linier berganda digunakan untuk membuktikan hubungan nyata antara minyak dan fenol dengan kelimpahan fitoplankton. Terdapat hubungan nyata dengan kelimpahan fitoplankton hanya pada konsentrasi fenol pada taraf kepercayaan 95% dengan nilai sig = 0,022, sedangkan konsentrasi minyak tidak terdapat hasil yang nyata sehingga dapat diabaikan dengan nilai sig = 0,809. Kata Kunci : Minyak; Fenol; Kelimpahan Fitoplankton; Limbah Batik; Sungai Asem Binatur. ABSTRACTAsem Binatur River is located in Pekalongan City, Central Java. Beside as an effluent of domestic waste, this river also an object to dump batik waste by batik industries nearby. Oil and phenol substance in these batik making flows into the river. These substance are going to cause an effect for the abundance of phytoplankton which is a water quality indicator. This research was done on July – August 2016 in Asem Binatur River and aimed to know oil and phenol substance, the abundance and phytoplankton community structure, also correlation of oil and phenol with the abundance of phytoplankton. Survey methode was used. Water sample which taken in the middle part of the river was analyzed. The result shown that oil concentration in the research location was around 1,2 – 10,4 mg/l, meanwhile phenol concentration was around 0,0005 – 1,167 mg/l. The abundance of phytoplankton was around 609 – 1649 ind/l, diversity index (H’) with 1,894 – 2,484 value, domination index value was 0,125 – 0,224, and uniformity index (e) with 0,717 – 0,846 value. There is no significant relation between oil and the abundance of phytoplankton at 95% trust level with correlation value (r) 0,585 which is an enough correlation. Meanwhile, there is a significant correlation between phenol and the abundance of phytoplankton with correlation value (r) 0,861 which is a strong correlation.  Double linier regretion was used to prove real correlation between phenol and oil with the abundance of phytoplankton. There is a real correlation with the abundance of phytoplankton but only in phenol concentration at 95% trust level with sig value = 0,022 while oil concentration did not have real result and could be ignored with sig value = 0,809.  Keywords: Oil; Phenol; The Abundance of Phytoplankton; Batik Waste; Asem Binatur River.                                                                                                                            
Upaya Peningkatan Produksi Rumput Laut Melalui Budidaya Metode Rakit Apung di Dusun Gerupuk, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat Faris, Muhammad; Hajar, St.; Alvia, Sakila; Iman, Atifatul; Cokrowati, Nunik; Musafir; Suhendri, Salwa; Agustina, Dwi; Soliyanti; Rafif, M. Roid Al; Izzati, Amaeliya; Sa’ban, M. Iman Nichfu; Suryanto, Agung; Zohri, M.; Suhdi, Suhdi; Ningsih, Shinta Wahyu; Irfani, Febriana; Oktaviani, Tannia Rosali; Suprayogi, Slamet; Hendriawan, Rizki; Hanan, Nasril
Jurnal Aplikasi dan Inovasi Iptek Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Aplikasi dan Inovasi Iptek No. 6 Vol. 1 Oktober, 2024
Publisher : Denpasar Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52232/jasintek.v6i1.168

Abstract

Gerupuk merupakan daerah penghasil rumput laut di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Mayoritas masyarakat Gerupuk menekuni kegiatan budidaya rumput laut dan menjadi penggerak perekonomian masyarakat. Budidaya rumput laut merupakan salah satu mata pencaharian penduduk Gerupuk. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan upaya peningkatan ekonomi melalui pendampingan budidaya rumput laut dengan metode rakit apung. Kegiatan dilakukan di Dusun Gerupuk, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Sasaran kegiatan ini adalah pembudidaya rumput laut di Gerupuk. Kegiatan ini menggunakan metode pendampingan yang memiliki beberapa tahapan yaitu: Persiapan Rakit Apung, Persiapan Tali Ris, Pengikatan Bibit, Pengangkutan Rakit Apung, Penanaman Bibit, Monitoring Rakit Apung, Pemanenan dan Pasca Panen. Hasil dari kegiatan ini adalah budidaya rumput laut dengan metode rakit apung dapat dilaksanakan oleh tim kegiatan bersama pembudidaya rumput laut dan mampu meningkatkan produksi rumput laut. Kesimpulan kegiatan ini adalah kondisi perairan Gerupuk mendukung untuk untuk dilakukannya budidaya rumput laut metode rakit apung dan dapat meningkatkan produksi rumput laut
Lingga Bergema: Reinterpretasi simbolisme lingga Suryanto, Agung; Permana, Angga Sukma
Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Vol. 23 No. 1 (2025): April
Publisher : FBSB UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v23i1.83890

Abstract

Penelitian berbasis praktik ini mengkaji simbolisme lingga, yang merupakan representasi ikonik Dewa Siwa dalam agama Hindu, melalui penciptaan seni instalasi “Lingga Bergema”. Lingga, yang secara tradisional menjadi lambang kekuatan maskulin, potensi kreatif, dan dualitas, diinterpretasikan kembali sebagai objek falik yang dapat mengembang dan mengempis, memicu pertanyaan tentang makna spiritual, seksual, dan sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan penafsiran tentang lingga dalam seni instalasi serta untuk memfasilitasi dialog mengenai isu-isu aktual. Dengan menggunakan pendekatan Practice-based Research, peneliti terlibat secara langsung dalam proses kreatif, dan didukung oleh dokumentasi serta analisis kualitatif serta semiotik-hermeneutika. Karya “Lingga Bergema” telah memunculkan diskusi yang beragam, dengan interpretasi spiritual, seksual, dan sosial. Gerak lingga diartikan sebagai simbol dari kekuatan hidup, kreativitas, dan dualitas. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa simbolisme lingga dalam seni instalasi memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi dan dapat diinterpretasikan dalam berbagai cara, serta efektif sebagai sarana untuk mengeksplorasi simbol budaya dalam konteks modern.  Echoing Lingam: A reinterpretation of lingam symbolism Abstract This practice-based research examines the symbolism of the lingam, which is an iconic representation of the Hindu deity Shiva, through the creation of the art installation “Echoing Lingam”. The lingam, traditionally symbolizing masculine power, creative potential, and duality, is reinterpreted as an inflatable and deflatable phallic object, prompting inquiries into spiritual, sexual, and social meanings. The objective of this research is to unveil interpretations of the lingam within the installation art and to facilitate dialogue on contemporary issues. Employing a Practice-based Research approach, the researcher engaged directly in the creative process, supported by documentation and qualitative as well as semiotic-hermeneutic analysis. The artwork “Echoing Lingam” has elicited diverse discussions, encompassing spiritual, sexual, and social interpretations. The lingam’s movement is interpreted as a symbol of life force, creativity, and duality. This research concludes that the symbolism of the lingam in installation art possesses a high degree of flexibility and can be interpreted in various ways, effectively serving as a means to explore cultural symbols within a modern context.