Claim Missing Document
Check
Articles

Aktivitas Anti UV-B Ekstrak Fenolik dari Tongkol Jagung (Zea mays L.) Lumempouw, Liemey; Suryanto, Edi; Paendong, Jessy
Jurnal MIPA Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.1.1.2012.422

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kandungan total fenolik dari ekstrak tongkol jagung dan aktivitasnya sebagai anti UV-B. Tongkol jagung diekstrak dengan pelarut etanol 20 (E20), 40 (E40), 60 (E60) dan 80% (E80) dengan cara refluks. Setelah itu, ekstrak dianalisis kandungan total fenolik dengan metode Folin-Ciocalteu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tongkol jagung E20, E40, E60 dan E80 mengandung total fenolik berturut-turut adalah 38,98; 56,02; 66,84 dan 73,06 mg/kg. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak tongkol jagung memiliki kandungan senyawa fenolik yang dapat berpotensi sebagai bahan aktif tabir surya.
Aktivitas Antioksidan dari Tepung Pisang Goroho Yang Direndam Dengan Lemon Kalamansi Togolo, Etni; Suryanto, Edi; Sangi, Meiske S.
Jurnal MIPA Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.2.2.2013.2998

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan dari pisang goroho yang direndam dengan lemon kalamansi. Pisang goroho segar mula-mula direndam dengan lemon kalamansi dengan kadar 25, 50, 75 dan 100%. Selanjutnya pisang goroho dikeringkan di dalam oven dengan suhu 50-60 oC kemudian digiling dan diayak dengan ayakan 65 mesh. Ekstraksi tepung pisang menggunakan metode maserasi selama 24 jam. Analisis kandungan total fenolik dan penentuan aktivitas penangkal radikal bebas menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazil). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak tepung pisang dengan perendaman lemon kalamansi 75% memiliki kandungan total fenolik lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak tepung pisang yang direndam dengan lemon kalamansi 100, 50, 25 dan 0%. Kandungan total fenolik berturut-turut adalah 74,80; 58,18; 45,82; 34,90 dan 20,70 µg/mL. Ekstrak tepung pisang yang direndam dengan lemon kalamansi 100% memiliki aktivitas antioksidan yang tidak berbeda nyata dengan perendaman 50 dan 75% (p>0,05). Hasil penelitian diperoleh bahwa pisang goroho yang direndam dengan lemon kalamansi memiliki kandungan senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan.This research was aimed to determine the total phenolic content and antioxidant activity of banana goroho marinated in lemon kalamansi. Fresh banana Goroho was first marinated in 25, 50, 75, and 100 % lemon kalamansi. The product was dried in an oven at 50-60 °C and then was milled and sieved to 65 mesh. Banana flour extraction was conducted through maceration for 24 hours. The total phenolic content was analyzed and the free radical scavengers activity was determined using DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazil). The results of this study showed that extracts of banana flour obtained by soaking in 75% lemon kalamansi had total phenolic content higher than that in 100, 50, 25, and 0% lemon kalamansi. Total phenolic content were 74.80, 58.18, 45.82, 34.90, and 20.70 mg/mL respectively. Extract of banana flour obtained by soaking in 100% lemon kalamansi have antioxidant activity which is not significantly different from that in 50 and 75% (p> 0,05). The research obtained that banana goroho soaked in lemon kalamansi had phenolic compounds and antioxidant activity.
Aktivitas Penangkal Radikal Hidroksil Fraksi Flavonoid dari Limbah Tongkol Jagung pada Tikus Wistar Maanari, Chaleb P.; Suryanto, Edi; Pontoh, Julius
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5990

Abstract

Penelitian telah dilakukan untuk menentukan kemampuan menangkal radikal hidroksil pada homogenat hati, jantung dan otak tikus wistar dari fraksi flavonoid limbah tongkol jagung. Penelitian dimulai dengan mengekstraksi serbuk tongkol jagung yang sudah dikering anginkan menggunakan cara refluks selama dua jam dengan pelarut etanol 80%. Ekstrak kemudian dipartisi berturut-turut menggunakan petroleum eter, etil asetat, n-butanol dan air, selanjutnya ditentukan kandungan total flavonoid serta aktivitas penangkal radikal hidroksil pada homogenat jaringan hati, jantung dan otak tikus wistar. Hasilnya menunjukkan ekstrak etil asetat yang memiliki kandungan total flavonoid yang paling tinggi yaitu 41,926 mg/kg ekstrak, serta kemampuan menangkal radikal hidroksil pada homogenat jaringan hati, jantung dan otak tikus wistar sebesar 90,964%; 86,875% dan 68,235%.This research has been conducted to determine radical hydroxyl scavenging ability on a wistar rat tissue homogenate of liver, heart and brain from corn cob waste extract. Research started with with extracting the powder of corn cob which had been air-dried using reflux method during two hours with 80% ethanol solvent. Then the extract successively partitioned with petroleum ether, ethyl acetate, n-buthanol and water, next determined the flavonoid total content with activities of hydroxyl radical on a wistar rat tissue homogenate. The result showed ethyl acetate extract which has good result for flavonoid total content that is 41,926 mg/kg extract, with ability of free radical scavenger on a rat tissue homogenate of liver, heart and brain as much as 90,964%; 86,875% and 68,235%.
AKTIVITAS PENANGKAL RADIKAL BEBAS DARI FRAKSI KULIT KAYU SAGU BARUK (Arenga microcarpha Beccari) Adrian, Gerild; Suryanto, Edi; Wewengkang, Defny S.
PHARMACON Vol 10, No 1 (2021): PHARMACON
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.10.2021.32777

Abstract

ABSTRACTThis study aims to determine the antioxidant activity and free radical antidote from fraction of bark sago baruk (Arenga microcarpha Beccari). This study initiated by extracting the powder of bark sago baruk using the maceration method for 3 days with ethanol 80%. The extract then partitioned using a series of solvent such as petroleum ether, ethyl acetate, buthanol, aquadest. The results showed that the ethyl acetate fraction had the highest free radical antidote content followed by the aquadest fraction, buthanol fraction, petroleum ether fraction. The content of free radical antidote respectively was 86,25%; 66,30%; 65,32%; 43,43%. Based on this study, the ethyl acetate fraction was the best fraction can act as an antidote to free radicals better than other fractions. Keywords: Bark sago baruk, fraction, free radical antidote ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan Aktivitas penangkal radikal bebas dari fraksi kulit kayu sagu baruk (Arenga microcarpha beccari). Penelitian ini dimulai dengan mengekstraksi serbuk kulit kayu sagu baruk menggunakan cara maserasi selama 3 hari dengan pelarut etanol 80%. Ekstrak kemudian dipartisi menggunakan pelarut petroleum eter, etil asetat, butanol, dan aquades. kemudian ditentukan aktivitas antioksidan dan penangkal radikal bebas. Hasilnya menunujukan bahwa fraksi etil asetat memiliki kandungan penangkal radikal bebas tertinggi diikuti fraksi aquades, fraksi butanol, dan fraksi petroleum eter. Kandungan penangkal radikal bebas berturut-turut adalah 86,25%; 66,30%; 65,32%; 43,43%. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa fraksi etil asetat dapat berperan sebagai penangkal radikal bebas lebih baik dibandingkan dengan fraksi lainnya. Kata Kunci:  Kulit Kayu Sagu Baruk, Fraksi, Penangkal Radikal Bebas
AKTIVITAS ANTIOKSIDATIF DAN ANTI-GLIKASI EKSTRAK FENOLIK BEBAS DAN FENOLIK TERIKAT DARI TONGKOL JAGUNG Suryanto, Edi; Taroreh, Mercy
CHEMISTRY PROGRESS Vol 13, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.13.2.2020.31393

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan dan anti glikasi ekstraks fenolik bebas dan ekstrak fenolik terikat dari tongkol jagung. Tongkol jagung diekstraksi secara sekuensial berbantu ultrasonikasi dengan pelarut etanol dan aseton selama 60 menit yang untuk mendapatkan ekstrak fenolik bebas. Residu dari ekstraksi fenolik bebas dihidrolisis dengan NaOH 2 M dan dinetralkan serta diekstraksi dengan etil asetat untuk mendapatkan ekstrak fenolik terikat. Ketiga ekstrak tersebut dilakukan analisis kandungan total fenolik dan pengujian aktivitas antioksidan dan anti glikasi. Kandungan total fenolik ekstrak  ekstrak fenolik terikat (EFT), ekstrak fenolik bebas aseton (EFBA) dan ekstrak fenolik bebas etanol (EFBE) berturut-turut adalah 288,39; 100,32 dan 92,95 μg/mL yang dinyatakan sebagai ekuivalen asam galat. Ekstrak EFT menunjukkan aktivitas penangkalan radikal bebas DPPH dan total antioksidan lebih tinggi daripada ekstrak EFBA dan ekstrak EFBE. Sejalan dengan itu, aktivitas anti glikasi dari EFT, EFBA dan EFBE berturut-turut adalah 61,93; 64,42 dan 66,31%. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak EFT dari tongkol jagung mengandung senyawa yang memilki sifat antioksidan dan berpotensi sebagai anti glikasi. ABSTRACTThis objective of this research was to determine the antioxidant activity and inhibition of AGEs formation of free phenolic and bound phenolic extract from corn cobs. Corn cobs were extracted sequentially assisted by ultrasonication with ethanol and acetone solvents for 60 minutes to obtain free phenolic extract. The residue from free phenolic extraction was hydrolyzed with 2 M NaOH and neutralized and extracted with ethyl acetate to obtain bound phenolic extract. The three extracts were analyzed for total phenolic content and evaluated for antioxidant activity and inhibitory activity of AGEs formation. The total phenolic content of bound phenolic extract (EFT), acetone-free phenolic extract (EFBA) and ethanol-free phenolic extract (EFBE) were 288,39; 100,32 and 92,95 μg/mL expressed as gallic acid equivalents, respectively. EFT extract showed higher DPPH free radical scavenging activity and total antioxidants more than EFBA extract and EFBE extract. Anti-glication of EFT, EFBA and EFBE were 61,93; 64,42 dan 66,31%, respectively. These result concluded that the EFT extract from corn cobs contains compounds having antioxidant properties and potential as anti-glication.
KARAKTERISASI DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SERAT PANGAN DARI DAGING BUAH PALA (MYRISTICA FRAGRANS Houtt) Dareda, Christina Tang; Suryanto, Edi; Momuat, Lidya I.
CHEMISTRY PROGRESS Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.13.1.2020.29661

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik fisikokimia dan potensi antioksidan serat pangan dari daging buah pala. Parameter yang digunakan adalah komposisi proksimat, serat pangan, kandungan hemiselulosa, selulosa, lignin, karakteristik gugus fungsi, aktivitas antioksidan, dan kapasitas penangkal nitrit. Hasil  karakteristik  secara  fisik  dengan analisis  Fourier Transform Infra Red (FT-IR) menunjukkan  adanya  daerah serapan gugus –OH, -CH, -CH2, C-O-C yang merupakan identifikasi adanya selulosa pada sampel. Hasil analisis Particle Size Analysis (PSA) menunjukkan ukuran partikel dari daging buah pala 137.08 µm. Analisis X-ray Difraction (XRD) menunjukkan adanya karakteristik dari selulosa dari sampel daging buah pala. Hasil karakterisasi secara kimia menunjukkan komposisi kimia dari daging buah pala seperti air (9.11%), abu (3.43%), lemak (1.81%), protein (4.04%), serat kasar (17.57%), serat pangan tak larut (48.61%), serat pangan terlarut (1.67%), serat pangan total (50.28%), hemiselulosa (10.72%), selulosa (15.66%) dan lignin (19.09%). Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak fenolik bebas daging buah pala lebih besar dibandingkan dengan ekstrak fenolik terikat daging buah pala dan aktivitas penangkal nitrit dari daging buah pala menunjukkan bahwa ekstrak fenolik bebas daging buah pala lebih besar dibandingkan dengan ekstrak fenolik terikat daging buah pala.ABSTRACT The purpose of this study was to determine the physicochemical characteristics and antioxidant potential of food fiber from nutmeg meat. The parameters used are proximate composition, dietary fiber, hemicellulose content, cellulose, lignin, functional group characteristics, antioxidant activity, and nitrite repellent capacity. The results of physical characteristics with Fourier Transform Infra Red (FT-IR) analysis showed the absorption area of the -OH, -CH, -CH2, C-O-C groups which was an identification of cellulose in the sample. The results of the Particle Size Analysis (PSA) show the particle size of the nutmeg flesh 137.08 µm. X-ray Difraction (XRD) analysis showed the characteristics of cellulose from nutmeg meat samples. Chemical characterization results showed the chemical composition of nutmeg meat such as water (9.11%), ash (3.43%), fat (1.81%), protein (4.04%), crude fiber (17.57%), insoluble food fiber (48.61% ), dissolved food fiber (1.67%), total food fiber (50.28%), hemicellulose (10.72%), cellulose (15.66%) and lignin (19.09%). The results of antioxidant activity testing showed that the extract of phenolic-free nutmeg was greater than the phenolic extract bound to nutmeg meat and the nitrite-antidote activity of nutmeg showed that the phenolic extract of nutmeg-free flesh was greater than that of phenolic extract bound to nutmeg meat. 
KARAKTERISASI DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SERAT PANGAN DARI TEPUNG BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill) Parinding, Yosep Rudol; Suryanto, Edi; Momuat, Lidya Irma
CHEMISTRY PROGRESS Vol 14, No 1 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.14.1.2021.34078

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan aktivitas antioksidan serat pangan dari tepung biji alpukat yang diekstraksi menggunakan gelombang ultrasonik dengan pelarut etanol dan aquades. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap yaitu mikronisasi, ekstraksi dan karakterisasi. Parameter yang digunakan adalah komposisi proksimat, serat pangan, kandungan hemiselulosa, selulosa, lignin, karakteristik gugus fungsi, aktivitas antioksidan dan kapasitas penangkal nitrit. Hasil karakterisasi secara fisik tepung biji alpukat yang diekstraksi dengan etanol (EBA) dan aquades (ABA) dengan Fourier Transform Infra Red (FTIR) tidak mengalami perubahan mendasar pada komponen utama setelah proses penggilingan dan ekstraksi secara sonikasi. Hasil karakterisasi secara kimia menunjukkan EBA mengandung komposisi kimia seperti air (7,94%), abu (1,87%), protein (5,32%), lemak (0,47%) serat pangan tak larut (18,40%), serat pangan larut (0,24%), serat pangan total (18,64%), hemiselulosa (42,69%), selulosa (4,35%) dan lignin (15,14%). ABA mengandung air (8,84%), abu (1,64%), protein (5,20%), lemak (0,79%) serat pangan tak larut (17,79%), serat pangan larut (0,37%), serat pangan total (18,16%), hemiselulosa (37,71%), selulosa (5,47%) dan lignin (20,08%). Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak fenolik terikat EBA (95,93%) tertinggi diikuti oleh ekstrak fenolik terikat ABA (92,22%), ekstrak fenolik bebas EBA (85,04%) dan ekstrak fenolik bebas EBA (77,51%).ABSTRACTThe objectives of this research were to determine the characteristics and antioxidant activity of dietary fiber from avocado seed powder extracted using ultrasonic waves with ethanol and aquades as solvents. This research consisted of 3 stages, namely micronization, extraction and characterization. The parameters used were proximate composition, dietary fiber, hemicellulose content, cellulose, lignin, functional group characteristics, antioxidant activity and nitrite-scavenging capacity. The results of physical characterization of avocado seed flour extracted with ethanol (EBA) and distilled water (ABA) with Fourier Transform Infra Red (FTIR) did not experience a fundamental change in the main components after the milling and extraction process by sonication. The results of chemical characterization showed that EBA contained chemical compositions such as water (7,94%), ash (1,87%), protein (5,32%), fat (0,47%) insoluble dietary fiber (18,40%), soluble dietary fiber (0,24%), total dietary fiber (18,64%), hemicellulose (42,69%), cellulose (4,35%) and lignin (15,14%). ABA contains water (8,84%), ash (1,64%), protein (5,20%), fat (0,79%) insoluble dietary fiber (17,79%), soluble dietary fiber (0,37%), total dietary fiber (18,16%), hemicellulose (37,71%), cellulose (5,47%) and lignin (20,08%). The results of the antioxidant activity test showed that EBA had the highest bound phenolic extract (95,93%) followed by ABA bound phenolic extract (92,22%), EBA-free phenolic extract (85,04%) and EBA-free phenolic extract (77,51 %).
KARAKTERISASI SERAT PANGAN DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI TEPUNG KULIT KAKAO (Theobroma cacao L.) Palente, Ivon; Suryanto, Edi; Momuat, Lidya Irma
CHEMISTRY PROGRESS Vol 14, No 1 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.14.1.2021.34773

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik dan aktivitas antioksidan serat pangan dari tepung kulit kakao yang diekstraksi menggunakan gelombang ultrasonik dengan perbedaan pelarut. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap yaitu mikronisasi, ekstraksi dan karakterisasi. Hasil karakterisasi secara fisik tepung kulit kakao tanpa perlakuan (KKTP), yang diekstraksi dengan aquades (KKA) dan etanol (KKE) dengan Fourier Transform Infra Red (FTIR) tidak mengalami perubahan mendasar pada komponen utama setelah proses penggilingan dan ekstraksi secara sonikasi. Hasil difraksi sinar-X menunjukkan derajat kristalinitas KKTP (55,58%) lebih besar daripada KKA (54,24%) dan KKE (53,48%). Hasil karakterisasi secara kimia menunjukkan kandungan air KKTP lebih tinggi dari KKA dan KKE, kandungan protein, karbohidrat dan lignin KKA lebih tinggi dari KKTP dan KKE. Sedangkan kandungan abu, lemak, serat pangan tak larut, serat pangan terlarut, total serat pangan, hemiselulosa dan selulosa KKE lebih tinggi dari KKTP dan KKA. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan ekstrak fenolik terikat KKTP (88,38%), KKA (90,61%) dan KKE (92,78%) lebih tinggi dibandingkan ekstrak fenolik bebas KKTP (86,85%), KKA (88,19%) dan KKE (90,04%). Adapun kapasitas penangkal nitrit menunjukkan bahwa ekstrak fenolik terikat KKTP (40,28%), KKA (55,90%) dan KKE (67,92%) lebih besar dibandingkan ekstrak fenolik bebas KKTP (34,84%), KKA (53,22%) dan KKE (64,63%). ABSTRACT The purpose of this study was to determine the characteristics and antioxidant activity of dietary fiber from cocoa husk flour extracted using ultrasonic waves with different solvents. This research consists of 3 stages, namely micronization, extraction and characterization. The results of the physical characterization of untreated cocoa husk flour (KKTP), which was extracted with distilled water (KKA) and ethanol (KKE) with Fourier Transform Infra Red (FTIR) did not experience any fundamental changes in the main components after milling and sonication extraction. The results of X-ray diffraction showed that the degree of crystallinity of KKTP (55.58%) was greater than that of KKA (54.24%) and KKE (53.48%). The results of chemical characterization showed that the air content of KKTP was higher than KKA and KKE, the protein, carbohydrate and lignin content of KKA was higher than KKTP and KKE. Meanwhile, the content of ash, fat, insoluble dietary fiber, soluble dietary fiber, total dietary fiber, hemicellulose and KKE cellulose were higher than KKTP and KKA. The antioxidant test results showed that KKTP (88.38%), KKA (90.61%) and KKE (92.78%) phenolic extracts were higher than KKTP-free phenolic extracts (86.85%), KKA (88.19) % ) and KKE (90.04%). The nitrite antidote capacity showed that the phenolic extract supported KKTP (40.28%), KKA (55.90%) and KKE (67.92%) greater than KKTP-free phenolic extract (34.84%), KKA (53, 22%) and KKE (64.63%).
KARAKTERISASI DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SERAT PANGAN DARI TEPUNG KULIT LEMON CUI (Citrus microcarpa) Dika, Oki Oktaviani; Suryanto, Edi; Momuat, Lidya
CHEMISTRY PROGRESS Vol 14, No 1 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.14.1.2021.34129

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengekstraksi dan mengkarakterisasi antioksidan serat pangan dari kulit lemon cui (Citrus microcarpa) dengan perbedaan pelarut menggunakan gelombang ultrasonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung kulit lemon cui yang diekstraksi dengan perbedaan pelarut  tidak mengalami perubahan mendasar pada komponen utama ditunjukkan pada hasil spectra Fourier Transfrom Infra Red (FT-IR). Karakterisasi secara kimia menunjukkan TPKLC memiliki kandungan air (8,49%), abu (4,44%), lemak (0,8%), protein (12,45%), dan karbohidrat (73,99%). AKLC mengandung air (1,71%), abu (4,41%), lemak (0,56%), protein (10,56%), karbohidrat (82,76%). EKLC mengandung air (7,88%), abu (6,18%), lemak (1,04%), protein (7,68%), karbohidrat (77,22%). Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak fenolik EKLC (96,48%) tertinggi diikuti oleh ekstrak fenolik AKLC (95,45%), dan ekstrak fenolik TPKLC (94,29%).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pelarut etanol dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dibanding dengan pelarut aquades.ABSTRACTObjective of this study to extract and characterize antioxidant dietary fiber from lemon peel cui (Citrusmicrocarpa)with different solvents using wave ultrasonic. The results showed that the lemon cui peel powder extracted with different solvents did not experience a fundamental change in the main component as shown in the results of the Fourier Transfrom Infra Red (FT-IR) spectra. Chemical characterization showed that TPKLC contained water (8.49%), ash (4.44%), fat (0.8%), protein (12.45%), and carbohydrates (73.99%). AKLC contains water (1.71%), ash (4.41%), fat (0.56%), protein (10.56%), carbohydrates (82.76%). EKLC contains water (7.88%), ash (6.18%), fat (1.04%), protein (7.68%), carbohydrates (77.22%). The results of the antioxidant activity test showed that the highest EKLC phenolic extract (96.48%) was followed by AKLC phenolic extract (95.45%), and TPKLC phenolic extract (94.29%). The results of this study indicate that ethanol solvent can increase antioxidant activity compared to distilled water solvent.
ANALISIS FITOKIMIA DAN UJI EFEK SEDATIF DARI EKSTRAK ETANOL DAN BEBERAPA FRAKSI DAGING BUAH PALA (Myristica Fragrans Houtt) Makanaung, Eresia; Rorong, Johnly A; Suryanto, Edi
CHEMISTRY PROGRESS Vol 14, No 1 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.14.1.2021.34075

Abstract

ABSTRAKPala adalah tanaman yang termasuk dalam jenis tanaman obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis total kandungan fitokimia dan uji efek sedatif  dari ekstrak etanol, fraksi petroleum eter, etil asetat dan air daging buah pala. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi, kemudian ekstrak etanol yang diperoleh difraksinasi dengan cara partisi. Analisis fitokimia dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis sehingga diperoleh hasil kandungan total fenolik ekstrak etanol, fraksi petroleum eter, etil asetat dan air daging buah pala secara berturut-turut adalah 26,284 μg/mL; 29,203 μg/mL; 28,725 μg/mL; 24,904 μg/mL. Total flavonoid secara berturut-turut adalah 9,999 μg/mL; 13,095 μg/mL; 13,729 μg/mL; 10,475 μg/mL. Total tanin secara berturut-turut adalah 16,642 μg/mL; 16,571 μg/mL; 16,357 μg/mL; 10,428 μg/mL. Uji efek sedatif dilakukan dengan metode traction test  dan diperoleh hasil ekstrak etanol dan ketiga fraksi memiliki pengaruh efek sedatif pada dosis 300 mg/kgBB dan 500 mg/kgBB dan dosis yang paling baik dalam memberikan pengaruh efek sedatif adalah 500 mg/kgBB. ABSTRACT Nutmeg is a plant that is included in a type of medicinal plant. This study aimed to analyze the total phytochemical content and test the sedative effect of ethanol extract, petroleum ether fraction, ethyl acetate and nutmeg pulp. Extraction was carried out by maceration, then the ethanol extract obtained was fractionated by partitioning. Phytochemical analysis was carried out using UV-Vis spectrophotometry method so that the total phenolic content of ethanol extract, petroleum ether fraction, ethyl acetate and nutmeg water was obtained, respectively, 26.284 μg/mL; 29,203 μg/mL; 28.725 μg/mL; 24,904 μg/mL. The total flavonoids were 9.999 μg/mL, respectively; 13.095 μg/mL; 13,729 μg/mL; 10,475 μg/mL. The total tannins were 16,642 μg/mL, respectively; 16,571 μg/mL; 16,357 μg/mL; 10,428 μg/mL. The sedative effect test was carried out by the traction test method and the results of the ethanol extract and the three fractions had a sedative effect at a dose of 300 mg/kgBB and 500 mg/kgBB and the best dose in giving a sedative effect was 500 mg/kgBB.
Co-Authors Abigael, Reliana Adisti A. Rumayar, Adisti A. Adithya Yudistira Adrian, Gerild Aliwu, Indriwati Alvin Febryanto Ginting, Alvin Febryanto Amelia Walangitan Aneke Korua, Aneke Assa, Jan Rudolf Audy Denny Wuntu Bolilera, Theressa Chairil Anwar Chaleb Paul Maanari Christine Mamuaja Colling, Erningsi Dareda, Christina Tang Defny S. Wewengkang, Defny S. Dewa Gede Katja Dika, Oki Oktaviani Djasibani, Hemy R. Dokri Gumolung Edam, Mariati Edam, Mariati Elisa Putri Tarigan, Elisa Putri Ering, Aprily A. P. Etni Togolo Fahcrudin, M Fajar Lestari Fetty Indriaty Fiky Andy Prastyawan FITRIA NINGRUM, FITRIA Frenly Wehantouw Gregoria S. S. Djarkasi Harry S. J. Koleangan Hasan Datu, Hasan Henry Aritonang Hindang S. Kaempe Indriawan, Rebecca Teisha Inneke F. M Rumengan Jeanette Manarisip Jemmy Abidjulu Jessy Paendong Johnly A Rorong Johnly A. Rorong Judith Mandei Juliana Christie Kurniawan Julius Pontoh Kabalmay, Julista Alfa Kaemba, Almawaty Kaemba, Almawaty Karepu, Meifry Gavrila Karisoh, Marsel Refanli Landeng, Patrisia Jaklin Landjang, Enrico Yoel Leo Arifsandi Budiarso, Leo Arifsandi Lexie Mamahit Lidya I. Momuat Lidya Irma Momuat Liemey Iviane Lumempouw Liemey Lumempouw Lies Mira Yusiati Lisa Purnawati Saleh Luayli, Lina Lucia Cecilia Mandey Makanaung, Eresia Mamuaja, Christin Mandalurang, Fitriani Manongko, Patricia Syaron Max R. J. Runtuwene Meiske Lumingkewas Meiske S. Sangi Mercy Taroreh Momuat, Lidya Mongan, Jemsi Muhammad Ilham Nancy Kiay, Nancy Nova . Olha Rantung, Olha Paijo, Auliya Rizky Harjono Palente, Ivon Pangemanan, David Albert Parinding, Yosep Rudol Pasanda, Immanuel M. Paulina yamlean Raganata, Tirza C. Riny Modaso Rizky H. Mawardi Robert Molenaar Roisu Eny Mudawaroch Rompas, Veckie Frankie Rondonuwu, Samuel D. J. Rorong, Johnly Alfrets Runtuwene, Max R. J Runtuwene, Max Revolta Jhon Ryan Vanly Saryana Sakalaty, Evanda Sakti, Dwi Selvian Talapessy Sembiring, Elia Sersermudy, Chesya Hana Setiyono Setiyono Shirley E. S. Kawengian Sri Febriani Hatam Sri Sudewi, Sri Suci Paramitasari Syahlani Susmantoyo, Adinda Putri Maharani Suyanto Suyanto SYARIFUDDIN KADIR Tapa, Fitriyanti La Taufik Hidayat Trina Tallei Waworuntu, Mutiara G. Wiranto, Rezky Ramadhani Putri Yenny Tambunan Yuny Erwanto