Claim Missing Document
Check
Articles

STRATEGI PASAR DUA SISI (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Eisenmann, Parker dan Alstyne dalam Harvard Business Review, edisi Oktober 2006 ada tiga hal yang harus dilakukan untuk menggunakan strategi pasar dua sisi, yaitu merancang platform model bisnis, memimpin kemenangan dalam seluruh pertempuran dan menghadapi ancaman platform lain yang menyelimuti platform perusahaan. Dalam industri yang kompetitif, harga ditentukan secara luas oleh biaya marginal untuk memproduksi suatu unit ekstra dengan margin yang tipis. Dalam industri yang penghalang masuknya tinggi, harga yang tinggi ditetapkan berdasarkan kesediaan bayar konsumen dengan margin lebih besar. Untuk pasar dua sisi, penetapan harga lebih kompleks. Penyedia platform harus memilih untuk masing-masing sisi, berdasarkan unsur yang mempengaruhi pertumbuhan dan kesediaan membayar. Khusus untuk pasar dua sisi, mempunyai ”sisi subsidi” yang merupakan kelompok dengan mengandalkan volume penjualan, dan ”sisi uang” yang mengandalkan nilai tinggi penjualan dari kelompok yang lain. Untuk menguasai persaingan platform dapat dilakukan dengan dua proses. Pertama, manajer harus menentukan apakah pasar jaringan yang dibidik untuk dilayani merupakan sebuah platform tunggal. Dengan demikian, maka langkah kedua, manajer harus memutuskan apakah bertarung atau bekerjasama dalam platform merupakan keputusan perusahaan yang dipertaruhkan. Untuk bertarung secara sukses, manajer membutuhkan keunggulan biaya atau diferensiasi. Perusahaan harus mengenali peluang yang tersembunyi dan memobilisasi sumberdaya untuk mengeksploitasi peluang tersebut. Pasar dua sisi, khususnya dalam bidang teknologi berkembang sangat cepat dan kaya akan peluang yang tersembunyi yang membuat batasan pasar kabur. Misalnya, telepon bergerak sekarang menggabungkan fungsionalitas musik dan video player, PC dan kadangkala credit card. Seperti halnya, eBay telah memperoleh PayPal dan VoIP start-up Skype yang merupakan bagian yang bertabrakan dengan Google, yang juga menyediakan pelayanan pembayaran (Google Checkout), VoIP (Google Talk) dan pelayanan listing (Google Base). Sony telah bertahan dengan mengkoordinasikan strategi yang melintasi consumer electronic, video game, movie, dan bisnis musik. Produk Walkman dari Sony mulai dirampas oleh Apple dengan IPod. Kesalahan seperti ini dari perusahaan yang mapan inilah yang menyebabkan mengapa perusahaan seperti Google, eBay dan Yahoo menjadi raksasa. Real-Network merupakan pionir perangkat lunak media streaming sebagai contoh yang baik pasar dua sisi. Meskipun, industri jaringan dan daya tarik sebuah platform yang sukses secara wajar ada di mana-mana, implikasi strategis pasar dua sisi belum tereksplorasi secara luas. Pada masa lalu, para manajer kurang memahami masalah karena para manajer biasanya menggunakan perumusan strategis yang muluk-muluk untuk pasar dua sisi melalui trial and error.
KEPEMIMPINAN GAYA SURGA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Peter F. Drucker, kepemimpinan tak terlepas dari kaitan budaya (kultur) yang disandang oleh masyarakat yang dilayaninya. Kultur itu bahkan tampil sebagai bagian terpadu dalam keseluruhan kepemimpinan itu, menjadi semacam bingkai yang lazim disebut gaya (style), hingga terdapat terminologi kepemimpinan Gaya Jepang atau kepemimpinan Gaya Cina atau kepemimpinan Gaya Barat dan seterusnya. Kepemimpinan bertugas mengemban misi bagi lembaga yang dilayaninya, beroperasi berlandaskan budaya dan kepemimpinan bertugas mengembangkan tiap kegiatan kerja manjadi produktif dan membuat agar tiap kerja berprestasi, melakukannya berlandaskan nafas, semangat dan jiwa budaya. Dalam mengelola dampak sosial dan tanggung jawab sosial, eksistensi dan kegiatan lembaga yang dilayaninya, pemimpin melakukannya dalam penghayatan terhadap budaya. Di Asia Timur dan Tenggara barangkali kita dapat tanpa ragu-ragu bicara tentang  budaya Jepang, budaya Korea, budaya Cina dan budaya Indonesia di samping budaya-budaya yang lain yang lebih lokal dan regional sifatnya. Tentang budaya Indonesia, yang menurut Ki Hajar Dewantara adalah puncak dari semua kebudayaan daerah, yang kemudian saling berinteraksi dan beradaptasi berangsur larut menjadi satu kepribadian. Gaya kepemimpinan yang diajarkan Ki Hajar Dewantoro, “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”, yaitu di depan harus menjadi teladan, di tengah harus mendukung dan di belakang harus mengikuti, merupakan salah satu gaya kepemimpinan dengan landasan budaya Indonesia. Kita juga mengenal gaya kepemimpinan Hasta Brata, yaitu kepemimpinan memiliki sifat matahari, bulan, bintang, angin, api, awan, samudra dan bumi.  Pemimpin yang memiliki sifat matahari, harus mampu memberikan semangat yang membara dan kekuatan spirit kepada anak buahnya. Pemimpin dengan sifat bulan, harus menarik, memberikan keindahan suasana kerja, dan pergaulan, serta membuat terang saat muncul kegelapan. Pemimpin yang memiliki sifat bintang, harus dapat memberikan arah yang benar bagi perjalanan suatu organisasi atau lembaga. Pemimpin juga harus mempunyai sifat angin. Dia harus mampu  berkomunikasi dengan baik, mampu memotivasi dan dapat mengisi kekurangan anak buahnya dengan ungkapan kata menyejukkan, bukan sekadar mencela. Pemimpin dengan sifat api, dapat bersikap tegas, tanpa pandang bulu menindak yang bersalah tanpa ragu-ragu. Sifat awan memiliki kewibawaan kuat, dihormati sekaligus dicintai rakyat. Pemimpin juga harus memiliki sifat samudera dan bumi. Yakni pemimpin harus mampu menampung segala permasalahan, tetap sabar dan tenang dalam memberikan solusi. Dia juga harus teguh dan kuat pendirian tetapi siap pula mendengar masukan dari mana pun untuk dijadikan bahan pertimbangan. Sejarah membuktikan bahwa hantaman badai waktu dan zaman, tidak mampu mengubah sendi-sendi dasar budaya. Yaitu kepercayaan pada Dzat Yang Maha Tinggi, Sang Maha Pencipta serta kebersamaan dalam konteks  kegotongroyongan. Maka secara sosiologis, pola dasar budaya kepemimpinan Indonesia adalah kepemimpinan paguyuban. Rasulullah SAW. bersabda “ Sesungguhnya Allah menciptakan anak Adam dengan delapan sifat. Empat sifat untuk ahli Surga, yaitu wajah yang manis, lisan yang fasih, hati yang suci dan tangan yang memberi bantuan, dan empat sifat untuk ahli Neraka, adalah mereka yang berwajah muram, ucapan yang keji, hati yang keras, tangan yang tidak mau membantu”. Pemimpin berlandaskan akhlak dengan wajah yang manis, lisan yang fasih, hati yang suci dan tangan yang memberi bantuan merupakan Kepemimpinan  Gaya Surga.
TIDAK PUNYA MODAL Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anda mempunyai ide usaha yang bagus, tetapi tidak punya modal, maka Anda masih dapat memulai usaha dengan kerjasama modal. Anda mempunyai kawan yang dekat atau relasi yang dekat yang percaya kepada Anda, maka Anda dapat menghubungi mereka dan meyakinkan mereka untuk mendapatkan dukungan modal. Keuntungan dari usaha tersebut dapat dibagi dua atau sesuai dengan perjanjian. Semakin Anda libatkan mereka, semakin besar pula tingkat kepercayaan kepada Anda, yang berarti pula semakin besar modal yang ditanamkan pada usaha yang Anda rintis bersama mereka. Untuk melakukan strategi ini, Anda mulai dari orang paling dekat dan dan yang paling percaya kepada Anda. Setelah itu baru kepada orang yang lebih jauh atau yang relatif kurang percaya kepada Anda. Kejujuran merupakan hal paling utama dalam memulai usaha dengan kerjasama modal. Keterbukaan dan keadilan harus dijunjung tinggi agar mereka percaya kepada Anda. Kepercayaan yang mereka berikan kepada Anda, ibarat mereka menabung. Dari sedikit demi sedikit lama-lama tabungan akan menjadi besar. Demikian halnya kepercayaan, sedikit demi sedikit semakin percaya kepada Anda. Ketika saya bertemu salah seorang kawan dekat, langsung dia menawarkan kepada saya untuk menjadi dealer komputer Epson. Kawan saya tersebut saat itu sebagai sales representative Metrodata. ”Kamu mau Med menjual komputer Epson ?” tanya kawan saya. Med adalah nama panggilan saya ketika di SMA I Madiun. ”Saya tidak punya modal” jawab saya. ”Ini tidak perlu modal. Cukup kamu pajang komputer Epson itu. Kemudian setelah komputernya laku baru kamu bayar. Saya beri tenggang waktu dua bulan” kata kawan saya. ”Baiklah. Saya akan mencoba untuk jualan komputer Epson” saya mengiyakan. Mengapa kawan saya tersebut percaya dengan saya?. Karena kawan saya tersebut ketika di SMA I Madiun sebangku, berangkat sekolah bersama. Jika berangkatnya saya membonceng dia, maka pulangnya gantian dia membonceng saya. Saya membeli bakso dan es bersama, jika saya yang mempunyai uang, maka saya yang membayar, sebaliknya ketika dia punya uang, dia yang membayar. Ketika saya sakit, saya tiduran di rumahnya, sedangkan dia berangkat sekolah sendiri. Saya sering makan di rumahnya dan belajar bersama. Saya sering menghibur adiknya dengan permainan sulap. Saya sering berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya. Saya pernah meminjam uang dengan dia untuk membayar SPP dan saya  mengembalikan pinjaman sesuai dengan janji saya.  Saya sangat beruntung diberi kepercayaan kawan dekat saya. Kawan saya tersebut bernama Agus Honggo Widodo, saat ini dia sebagai Direktur PT. Metrodata. Anda dapat mencoba memulai usaha dengan kerjasama modal melalui kawan terdekat Anda.  
MEMODIFIKASI SPG JADI PRA-IKIP Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.833 KB)

Abstract

       Pada awal tahun ajaran 1988/1989 nampaknya masa keemasan atau kejayaan sekolah menengah pendidikan guru (SPG), di negara kita benar-benar mulai surut. Pamor akademik yang pernah berbinar-binar dalam beberapa tahun yang lalu, saat ini mulai redup, untuk tidak mengatakan padam sama sekali.       Kalau kita sempat mengamati keadaan disekeliling kita, maka terlihat fakta tentang mulai menurunnya minat masyarakat terhadap lembaga pendidikan guru tersebut.       Dibandingkan dengan keadaan beberapa tahun yang silam, saat SPG masih menjadi "rebutan" para kandidat, maka keadaan sekarang boleh dikata tengah berputar  mendekati sudut 180 derajat.  Para pengelola SPG sekarang banyak yang mengeluh karena antusiasme masyarakat untuk "mempercayai" lembaganya tidaklah sehebat dulu.  Hal ini tertandai dengan terdapatnya gejala kurang-nya peminat pada berbagai SPG.       Untuk sekedar ilustrasi pada salah satu daerah di Jawa Tengah, tepatnya di Salatiga dilaporkan bahwa animo masyarakat untuk masuk ke SPG Negeri turun 60 persen dibanding tahun sebelumnya.  Keadaan seperti ini kiranya juga dialami oleh daerah-daerah yang lainnya, meskipun dengan angka penurunan yang bervariasi.
INDUSTRI TEKSTIL (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.135 KB)

Abstract

Industri tekstil di Hijaz merupakan industri yang maju. Tenun merupakan suatu bentuk seni di pertengahan awal Arabia yang berkembang karena ketersediaan berbagai bahan mentah.  Wol tersedia melimpah sebagai bahan untuk membuat benang, digunakan pengrajin tenun lokal menjadi barang rumah tangga dan pakaian.  Mencelup dan menjahit pakaian juga merupakan sub sektor kunci industri ini. Bukhari menyajikan beberapa bab dalam bukunya tentang pekerjaan yang mereka kerjakan. Beberapa Sahabat Rasulullah s.a.w. , di antaranya Ubaidillah, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah `Uthman bin `Affan merupakan pedagang pakaian yang memasarkan produknya di pasar Madinah. Rasulullah s.a.w. menyebut jenis-jenis pakaian ketika ditanya seorang laki-laki tentang pakaian ihram. Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah mengenai pakaian yang dikenakan oleh orang yang berihram, maka Rasulullah bersabda : ”Janganlah kau kenakan gamis / baju, surban, celana, tutup kepala dan terompah. Bagi orang yang tidak memiliki sandal, bolehlah mengenakan terompah dengan dipotong lebih rendah daripada mata kaki. Janganlah mengenakan pakaian yang diolesi dengan minyak za’faran atau minak wars” (Muslim).  Hal ini merupakan sektor regional yang nyata, baik dalam perdagangan maupun dalam produksi. Al-Waqidi mensitir bahwa persediaan dari seorang pedagang sekitar 1.500 barang dari pakaian dan 20 bal pakaian dari Yaman yang dijual di Madinah selama masa Rasulullah  s.a.w. dan pada masa Nabi Muhammad s.a.w. tidak kurang dari 7 kafilah dagang membawa pakaian Syiria yang tiba di Madinah setiap hari. Demikian pula tekstil orang Mesir membuat rute perdagangan dengan baik sepanjang jalan mereka pada berbagai pasar Hijaz. Perbudakan muncul dikarenakan berhubungan secara erat dengan produksi pakaian yang dilakukan orang Hijaz. Al-Isfahani menyatakan bahwa `Umar bin Abi Rabi`ah mempunyai 70 budak yang dilibatkan dalam bidang pertenunan, anggota Bani Makhsum mempekerjakan budak untuk tujuan yang sama dan sisanya dilibatkan dalam menganyam daun palem dan kurma menjadi keranjang dan produk yang bermafaat lainnya.
MOTIVASI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam dunia bisnis yang keras seperti sekarang ini, kadangkala kita saling membunuh dan saling merampas harta. Sikut kanan-sikut hanya ingin mendapatkan harta yang banya. Berusaha menginjak orang yang susah dan bawahan dengan semena-mena, arena kita sebagai atasan. Bulan Puasa ini mudah mudahan menjadi sekolah kita untuk memperbaiki diri dan minta maaf kepada orang yang kita sakiti.  Dikatakan bahwa di tengah-tengah Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang bekerja sebagai penangkap ikan. Dia menafkahi anak isterinya dari hasil tangkapan ikannya. Pada suatu hari dia dapat mengkap seekor ikan yang sangat besar. Dia sangat gembira dan berkata, “Aku akan pergi membawa ikan ini dan akan menjualnya. Uangnya akan aku berikan kepada keluargaku.” Di perjalanan dia bertemu dengan seorang laki-laki tua. Orang tua itu berkata kepada si penagkap ikan. “Apakah engkau hendak menjual ikan ini . ?” Si penangkap ikan berkata dalam hatinya, “Jika aku katakana benar, dia akan membelinya dengan setengah harga.” Dia akhirnya berkata, “Tidak. Aku tidak bermaksud menjualnya.” Orang tua itu memukulnya dengan kayu pada punggungnya dengan pukulan yang sangat menyakitkan. Kemudian orang tua itu merampas ikan tersebut darinya. Penagkap ikan itu berdoa dengan mengatakan, ‘Tuhanku, Engkau telah menciptakan aku dalam keadaan kuat dan gagah. Ya Tuhan, ambillah hakku dari dia di dunia ini karena aku tidak akan sabar menunggu sampai hari akhirat tiba.” Sementara itu, orang yang merampas ikan itu pulang ke rumahnya dan menyuruh isterinya untuk membakar ikan tersebut. Setelah masak, isterinya menghidangkan ikan tersebut kepada suaminya. Ketika dia mengulurkan tangannya untuk memakannya, ikan tersebut membuka mulutnya dan menggigit jari orang itu dengan kuat. Dia tidak tahan dan kesakitan karena gigitan ikan tersebut. Dia mengadukan hal itu kepada seorang tabib dan menceritakan apa yang terjadi. Tabib itu berkata, “Jari-jari ini harus dipotong agar rasa sakitnya tidak menyebar ke pergelangan tangan.” Lalu dipotonglah jari-jarinya. Akan tetapi, sakitnya pindah ke pergelangan tangannya. Sakitnya semakin parah sehingga ia menggigil karena rasa sakit pada otot-ototnya. Tabib berkata,”Pergelangan tanganmu mesti dipotong agar rasa sakitnya tidak menyebar ke lengan bawah.” Lantas, dipotonglah lagi pergelangan tangannya. Akan tetapi, rasa sakitnya berpindah ke lengan bawah tangannya. Tabib berkata lagi, “Lengan bawah tanganmu harus dipotong agar sakitnya tidak menyebar ke bahu.” Kemudian, dipotonglah lagi lengan bawah tangannya. Akan tetapi, rasa sakit sudah berpindah ke bahunya. Dengan wajah bingung atas kejadian itu, dia berdoa kepada Tuhannya agar diberi petunjuk atas apa yang terjadi. Dia melihat sebuah pohon. Dia menghampiri pohon itu dan tidur dibawahnya. Tiba-tiba, dalam mimpinya, dia melihat seseorang berkata kepadanya,”Wahai orang miskin, sampai mana tanganmu akan kau potong. Pergilah kepada orang yang telah engkau rampas ikannya dan mintalah kerelaan darinya.” Orang itu lantas terbangun dan berpikir sambil mengingat-ingat dan berkata,”Dulu aku telah merampas ikan orang lain dengan paksa. Aku telah memukul seorang panangkap ikan. Dan ikan itulah yang telah menggigitku.” Dia bangkit bermaksud untuk pergi menuju kota. Dia mencari si penangkap ikan itu dan dia pun menemukannya. Dia bersimpuh dihadapan si penangkap ikan, memberinya sedikit harta, serta meminta maaf atas perbuatannya. Akhirnya, si penangkap ikan itu memaafkannya. Seketika itu juga, hilanglah rasa sakit yang dia derita. Pada malam harinya ia tidur diranjangnya dengan perasaan tobat dan menyesali perbuatannya. Dia tidur dengan nyenyak. Pada hari kedua, turunlah rahmat dari Tuhannya. Tangannya kembali sembuh seperti sediakala berkat kekuasaan Tuhannya. Lalu turunlah wahyu kepada Musa a.s: Musa, demi kemuliaan-Ku, kesempurnaan-Ku, dan kekuasaan-Ku, jika laki-laki yang dirampas haknya tidak merasa rela kepadanya, niscaya Aku akan menyiksanya sepanjang hidupnya.
STRATEGI PRODUK NABI SAW (3) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desain merupakan totalitas keistimewaan yang mempengaruhi cara penampilan dan fungsi suatu produk dalam hal kebutuhan pelanggan. Pakaian putih merupakan pakaian terbaik. Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah bersabda, ”Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih, karena pakaian putih adalah sebaik-baik pakaian kalian dan kafanilah mayit kalian dengannya.”(Abu Daud, Tirmidzi, ibnu Hibban). Ada tambahan : ”Karena sesungguhnya pakaian itu lebih suci dan lebih baik.”(Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Al Hakim).Dari Aisyah r.a., ia berkata : ”Rasulullah s.a.w. pernah keluar dengan memakai pakaian bulu yang dihiasi dengan gambar pelana unta dari rambut hitam.” (Muslim). Demikian pula kamar Rasulullah s.a.w. mempunyai desain interior yang menawan yang membuat tenteram penghuninya.Produk fisik atau berwujud membutuhkan kemasan agar tercipta manfaat-manfaat tertentu seperti misalnya perlindungan, kemuda­han, manfaat ekonomi dan promosi. Pedang Rasulullah s.a.w. mempunyai selongsong yang indah. Demikian pula tempat sikat gigi (siwak) Rasulullah s.a.w. mempunyai kemasan yang cantik.Pelayanan pada pelanggan yang memang diingini oleh para pelang­gannya. Nabi Muhammad s.a.w. tetap memberikan pelayanan terbaik, meskipun kadangkala pelanggannya berbuat kasar. Dari Abu Hurairah r.a. katanya : “Seorang laki-laki datang kepada Nabi s.a.w., menagih piutangnya. Dan orang itu menagih dengan sikap kasar. Karena itu timbullah para sahabat hendak memukul orang itu. Beliau bersabda, “Biarkanlah dia ! Dia berhak untuk menagih.” Selanjutnya beliau menambahkan, “Berikanlah kepadanya unta yang sebanding dengan untanya?” Kata mereka, “Ya, Rasulullah !Tidak kami dapati unta yang sebanding dengan untanya, tetapi ada yang lebih daripada untanya.” Sabda beliau, “Berikanlah kepadanya ! Sesungguhnya orang yang paling baik di antaramu, ialah yang paling baik pembayarannya.” (Bukhari).
BELAJAR DARI KESOMBONGAN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keangkungan ekekutif perusahaan salah satu penyebab jatuhnya perusahaan. Pada 2002, telah tdiketahuin ambruknya perusahaan minyak Enron, karena eksekutifnya perilakunya menjijikan tehadap karyawan dengan memecat karyawannya secara besar-besaran, tetapi dibalik itu dilaporkan perusahaan masih mampu menemukan dana $200.000 untuk mendanai peti kemewahan pada apa yang dulunya bernama Enron Field. Perusahaan Polaroid, dilaporkan membatalkan tunjangan kesehatan pensiunan-pensiunan perusahaan menjelang petisi, sebaliknya manajemdilaporkan mengajukan petisi kepada pengadilan kebangkrutan agar diijinkan untuk memberikan $19 juta sebagai bonus kepada para eksekutif supaya tidak meninggalkan perusahaan.  Demikian juga perusahaan Webvan yang membayar CEO-nya yang mendurkan diri $375.000 pertahun seumur hidup, sebelum perusahaan tersebut menghentikan operasinya yang mem-PHK karyawan. Berkat insiden-insiden yang dipublikasikan secara heboh tentang keserakahan dan kesombongan eksekutif, Amerika kini tidak lagi percaya pada perusahaan-perusahaan besar untuk tingkat yang baru. Amerika menjanjikan Ekonomi Baru dan era kemakmuran baru yang tidak terbatas. Namun semuanya ternyata isapan jempol, tulis Mark Ingebretsen dalam bukunya Why Companies Fail.   “Banyak eksekutif puncak cenderung membangun jarak dengan lini depan. Semakin besar perusahaan, semakin besar kemungkinan eksekutif-eksekutif puncak kehilangan kontak dengan lini depan. Ini bisa menjadi factor tunggal paling penting yang menghambat pertumbuhan perusahaan “kata Jack Trout. Pengalaman dari kegagalan para eksekutif top dunia ini dapat dipakai sebagai pelajaran yang sangat berharga dan tidak kita ulang kembali. Tetapi sebaliknya, Sam Walton sebagai pendiri Wal-Mart, dengan bersahaja dan rendah hati mengunjungi lini depan (pramuniaga) dari setiap toko Wal-Mart sepanjang hidupnya. Dia bahkan mengabiskan tengah malamnya didok bongkar-muat dan berbicaran dengan kru. Gaya kepemimpinan Sam Walton yang dekat dengan karyawan tersebut mewarnai budaya perusahaan Wal-Mart hingga saat ini. Pada 2003, Wal-Mart terpilih sebagai perusahaan peringkat satu yang paling mengagumkan dunia, versi majalah Fortune.Demikian pula, tatkala Umar bin Khatab pergi ke Syam naik onta bersama dengan pembantunya. Umar bergiliran dengan pembantunya dalam menaiki onta. Bila Umar naik onta, maka pembantunya yang memegang talinya, sebaliknya bila pembantunya yang naik onta Umar yang memegang talinya, begitu seterusnya sampai di tempat yang dituju. Ketika sampai di Syam datanglah giliran Umar yang menarik tali, dalam perjalan tersebut Umar memegang tali onta dan mengepit sandalnya di bawah ketiak kiri. Gubernur Syam, Abu Ubadah mengetahui dan berkata “Wahai Amirul Mukminin, para pembesar Syam telah keluar menjemput Anda, maka tidaklah pantas bila mereka melihat Anda seperti ini.” Umar berkata “Sungguh dengan sebab Islam kita telah menjadi mulia, maka tidak peduli dengan omongan orang”.  Pemimpin yang memimpin dengan rendah hati tersebut merupakan pemimpin yang mulia baik di sisi Allah maupun di sisi manusia.
RIBA DALAM BERBAGAI AGAMA (6) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.713 KB)

Abstract

 Allah mengancam pelaku riba, baik di dunia dan akhirat. Dalam surat Al Baqarah ayat 275 – 276 : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. Juga dalam surat Al Baqarah ayat 278-279 : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.           Dalam surat Ali ‘Imran ayat 130 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Surat An Nisaa’ ayat 161 : Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. Demikian pula dalam surat Ar Ruum ayat 39 : Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). Rasulullah s.a.w. juga melarang untuk bertransaksi yang melibatkan riba. Dari Jabir r.a., dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkannya, penulisnya, dua saksinya dan Rasulullah s.a.w. bersabda : Mereka itu sama saja (Muslim). Dari Umar bin Khaththab r.a. ia menceritakan dari Rasulullah saw. Sabdanya : ”Emas dengan emas, riba, melainkan dengan timbang terima. Kurma dengan kurma, riba, melainkan dengan timbang terima, dan sya’ir (anjelai) dengan sya’ir riba, melainkan dengan timbang terima.” (Bukhari). Dari Abu bakar r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda : Janganlah menjual emas dengan emas melainkan sama banyak : dan perak dengan perak melainkan sama banyak. Dan boleh kamu jual emas dengan perak dan perak dengan emas berapa kamu kehendaki.” (Bukhari). Dari Abi Sa’id Al Khudri r.a., katanya Rasulullah saw bersabda : ”Jangan kamu jual emas dengan emas melainkan sama banyak, dan jangan kamu lebihkan yang satu atas yang lain. Jangan kamu jual perak dengan perak melainkan sama banyak, dan jangan kamu lebihkan yang satu atas yang lian. Dan jangan kamu jual beli emas dan perak tanpa timbang terima (Bukhari).
STRATEGI DI ERA SULIT Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ahli strategi, Gary Hamel melakukan survei terhadap 500 CEO ditanyai tentang, ”Siapa yang paling banyak mengambil keuntungan dari perubahan lingkungan bisnis industri dalam 10 tahun terakhir; Apakah pendatang baru, pesaing tradisional atau perusahaan Anda sendiri?” Jawaban nomor satu adalah ”pendatang baru”. Mereka kemudian ditanya ”Apakah pendatang baru tersebut berhasil memenangi persaingan dengan mengambil tindakan lebih cepat atau bisa mengubah peraturan permainan?” Sejumlah 62% CEO mengatakan ”pendatang baru mengubah peraturan permainan”. Namun para CEO dari perusahaan yang lama berkata ”masalah kami adalah eksekusi” atau lebih buruk lagi adalah ”strategi itu mudah, yang sulit implementasinya”. Hal ini didukung dengan pernyataan Bill Gates, bahwa ”Microsoft selalu dua tahun jauhnya dari kegagalan”. Apa yang dikatakan Bill Gates menunjukkan bahwa persaingan pada saat ini membuat siklus hidup produk semakin menyempit, demikian pula siklus hidup strategi juga semakin pendek. Dengan demikian konsep bisnis apapun, bahkan yang luar biasapun akan segera kehilangan efisiensi ekonomi. Perbedaan antara menjadi pemimpin dan pengekor dalam industri tidak dapat lagi diukur dengan dasa warsa atau sepuluh tahun, tetapi sudah harus dalam tahun atau bulan. Saat ini tidak bisa lagi strategi untuk satu dasa warsa, tetapi strategi hanya untuk tahun demi tahun. Pendatang baru yang mempunyai aturan permainan baru, misalnya adalah Hotmail. Strategi Hotmail untuk merebut jutaan peselancar dunia maya, dengan melalui email yang didukung iklan gratis untuk menempatkan situs web di Hotmail tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh American On Line (AOL) pada saat pertama kali meraih konsumennya, yaitu dengan besar-besaran melalui disket pendaftaran ke AOL. Dana yang lebih besar dan kemampuan yang lebih tidak di AOL tidak cukup untuk memenangkan persaingan dengan Hotmail. AOL hanya meraih 18 juta pelanggan. Sedangkan Hotmail dari 0 menjadi 10 juta pelanggan. Pertengahan 1999, menggelembung menjadi 40 juta dan akhirnya Hotmail menjadi sasaran akuisisi utama Microsoft. Charles Schwab dan Fidelity mengubah permainan baru dalam bidang keuangan dan perbankan yaitu dengan menganggap bahwa nasabah bank tersebut bukan hanya nasabah tetapi juga investor. Maka yang terjadi dalam dasa warsa terakhir, bank-bank kehilangan hampir separuh pangsa pasar pada aset finansial rumah tangga direbut pemain baru, seperti Charles Schwab dan Fidelity. Kata seorang CEO ”Dulu, saya menghabiskan sebagian besar waktu tentang bagaimana-bagaimana kami mengerjakannya? Bagaimana kami mengoperasikannya? Bagaimana efisiensi kami? Inti utamanya adalah ketika perusahaan telah memeras hingga 5% efisiensi terakhir dengan bagaimana, maka orang lain akan menciptakan apa yang baru atau membuat aturan permainan baru. Itulah strategi untuk meraih kemenangan di era persaingan pada dasa warsa terakhir ini yang penuh dengan kesulitan.