Claim Missing Document
Check
Articles

BISNIS KAUM KINDAH (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaum Kindah merupakan kaum migrasi dari Yamanseperti halnya kaum Gassan dan kaum Lakhmi. Kaum Kindah berhubungan dengan raja Tubba’ terakhir di Yaman. Sedangkan kaum Gassan menjadi sekutu Bizantium dan kaum Lakhmi menjadi sekutu Persia. Di kawasan semenanjung, kaum Kindah satu-satunya penguasa yang menerima gelar malik (raja), gelar yang biasanya ditujukan oleh bangsa Arab pada para penguasa asing. Meskipun berasal dari Arab Selatan dan menjelang masa kelahiran Islam, mendiami kawasan sebelah barat Hadramaut, kaum Kindah yang kuat itu tidak disebutkan dalam berbagai tulisan-tulisan Arab Sealatan paling awal; mereka pertama kali disebutkan dalam sejarah pada abad keempat Masehi. Pendirinya yang terkenal, Hujr, yang dijuluki Akil al-Murar, menurut sebuah riwayat adalah saudara tiri Hassan ibn Tubba’ dari Himyar, dan diangkat olehnya pada 480 M. Sebagai penguasa suku-suku tertentu yang telah ditaklukkan oleh Tubba’ di Arab bagian Tengah. Hujr kemudian digantikan oleh anaknya, ’Amr. Selanjutnya anak ’Amr al-Harits, raja Kindah paling bengis, menjadi raja yang setelah meninggalnya raja Persia, Qubadz, segera mengangkat dirinya sebagai penguasa Hirah, yang kemudian (sekitar 529) jatuh ke tangan al-Mundzir II dari kerajaan Lakhmi. Al-Mundzir menghukum mati al-Harits pada 529 beserta sekitar 50 anggota keluarga kerajaan, yang merupakan pukulan mematikan terhadap kekuasaan Kindah. Al-Harits mungkin pernah menetap di al-anbar, sebuah kota di kawasan Efrat sekitar 40 mil sebelah barat laut Baghdad. Sengketa di antar anak-anak al-Harits, yang msing-masing menjadi pemimpin suku, mengakibatkan pecahnya konfederasi dan jatuhnya kerajaan itu. Sisa-sisa kekuatan Kindah terpaksa mundur ke pemukiman mereka semula di Hadramaut. Peristiwa itu menandai berakhirnya salah satu kerjaan pesaing Hirah dalam perebutan supremasi antara tiga kerajaan di kawasan Arab Utara, pesaing lainnya adalah kerajaan Gassan. Penyair terkenal, Imru’ al-Qays, salah satu Penyair Emas, adalah keturunan keluarga kerajaan Kindah, yag berkali-kali gagal untuk memperoleh kembali warisannya. Puisi-puisinya bernada pedas, memancarkan nuansa perlawanan pada kerajaan Lakhmi. Dalam rangka mencari bantuan ia pergi hingga ke Konstantinopel, berharap memperoleh simpati Justine, musuh Hirah. Dalam perjalanan pulang, demikian menurut riwayat, ia diracun (sekitar 540) di Ankara oleh seorang utusan kaisar.
STRATEGI BISNIS PEDAGANG ANGKRINGAN (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.191 KB)

Abstract

 Para pedagang kecil biasanya tidak tahu, apa yang disebut strategi. Menurut Webter’s New World Dictionary, definisi strategi ádalah ilmu perencanaan dan penentuan arah operasi-operasi militer berskala besar. Strategi adalah bagaimana menggerakkan pasukan ke posisi paling menguntungkan sebelum pertempuran aktual dengan musuh. Menggunakan strategi yang baik adalah bagaimana bertahan hidup dalam dunia kompetitif. Itulah yang banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan kecil atau pedagang kecil. Berbagai cara dilakukan oleh pedagang kecil agar perusahaannya tetap hidup atau dagangannya tetap laku. Cara-cara yang dilakukan pedagang kecil tersebut sesungguhnya yang disebut strategi. Saya teringat seorang pedagang angkringan yang dapat kita contoh dalam menjalankan bisnisnya, yang menurut saya menggunakan strategi. Sebelum bertemu saya, pedagang angkringan tersebut bertemu dengan istri saya lebih dahulu. Ketika itu, istri saya membaca koran Kedaulatan Rakyat menemukan iklan baris berbunyi “Dijual rumah cepat. butuh uang”. Istri saya iseng untuk menelpon nomor yang ditayangkan di iklan tersebut. Ternyata benar, rumah tersebut dijual murah. Rumah tersebut dijual tunai tanpa perantara. Istri saya mengajak untuk melihat rumah tersebut dan bertemu dengan pemiliknya. Ternyata pemiliknya adalah pedagang ankringan. Saya mohon maaf saya tidak akan menyebut nama pedagang angkringan tersebut. Setelah saya dan istri saya saling berkenalan dengan pedagang angkringan, saya dan istri saya langsung percaya, demikian pula sebaliknya. Seperti biasanya, istri saya membeli dengan tawar menawar yang sederhana dan mudah. Setelah cocok harganya, kami berjanji besoknya untuk melakukan pembayaran tunai pada Notaris di Jalan Kaliurang. Selama menunggu pembuatan surat perjajian jual-beli, pedagang angkringan tersebut bercerita tentang mengapa ia menjual rumah tersebut dan bagaimana ia bertahan hidup dengan bisnisnya, ia ceritakan semua kepada saya dan istri saya. ”Keuntungan saya setiap hari Rp. 250.000,-,Pak. Dengan 2 angkringan, maka keuntungan saya Rp. 500.000,- ” kata penjual angkringan. Saya menghitung dalam hati, kalau begitu satu bulan pendapatannya Rp. 15 juta. Gaji Gubernur saja kalah, luar biasa. Kemudian saya bertanya :”Pak, kok bisa pendapat sebegitu besar, apa strategi yang digunakan?”. Saya kan tidak berpendidikan tinggi seperti Bapak dan Ibu, saya hanya sebisa saya saja. Kalau itu disebut strategi, maka yang saya lakukan hanya membuat supaya pembeli itu senang dan nikmat makan di warung angkringan saya. Rahasianya hanya sederhana Pak. Nasinya selalu saya buat panas Pak. Meskipun lauknya seadanya, kalau nasinya panas dan ada sambalnya, pembeli itu makannya lahap. Katanya nasi panas dapat meningkatkan selera makan. Begitulah yang saya lakukan. Tidak ada strategi lain Pak. Wong saya tidak tahu strategi, ya hanya itu yang bisa saya lakukan Pak” cerita pedagang angkringan dengan lugas. ”Bapak luar biasa. Meskipun hanya sederhana, tetapi itu luar biasa Pak” puji saya kepada pedagang angkringan tersebut. ”Saya hanya biasa Pak, hanya pedagang angkringan” jawabnya merendah.
PEMIMPIN TANPA ISTANA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jeff Bezos merupakan pendiri Amazon.com, yang pada awalnya hanya merupakan toko buku. Mengapa ia menamakan perusahaannya dengan Amazon? Karena, "sungai Amazon merupakan sungai terbesar di dunia," kata Jeff Bezos. Bagaimana dengan sungai Nil? Sungai Nil merupakan sungai terpanjang di dunia, jika dibandingkan dengan Sungai Amazon volume airnya hanya merupakan anak sungai Amazon. Sungai Amazon memuat 20 persen air bersih dunia, maka Jeff Bezos mempunyai tentang perusahaannya kelak menjadi perusahaan yang menguasai 20 persen pasar dunia. Amazon.com yang membuka situs E-Commernya pada bulan Juli 1995, bermula dari toko buku kemudian meluas ke compact disk (CD) kemudian ke lelang dan sekarang ribuan produk yang berbeda dan pedagang yang berbeda. Pada tahun 1996 dapat menjual 15,7 juta dolar dan melonjak menjadi 600 juta dolar pada tahun 1998. Amazon.com dilaporkan pada tanggal 1 November sampai 23 Desember 2002, konsumen yang melakukan order di seluruh dunia 56 juta item sehingga menjadi toko online terbaik tahun 2002 versi majalah Yahoo. John F Welch Jr, CEO dari General Electric, menyatakan: Kami menggunakan tiga prinsip operasi untuk menetapkan suasana dan perilaku di General Electric tanpa perbatasan dalam semua perilaku kami, kecepatan dalam segala hal yang kami lakukan dan peregangan dalam setiap sasaran yang kami tetapkan. Perilaku tanpa perbatasan memperpadukan dua belas bisnis global besar, masing-masing nomor satu atau nomor dua di pasar, ke dalam laboratorium luas yang produk utamanya adalah gagasan baru, bersama dengan komitmen umum untuk menyebarkannya keseluruh perusahaan. Kecepatan adalah sesuatu yang biasanya tidak ditemukan dalam perusahaan sebesar General Electric, tetapi di General Electric ditemukan dalam bentuk kecepatan pengembangan produk, rancangan ulang daur (dari pesanan sampai pengiriman), menetapkan kembali kemampuan dengan mengurangi investasi pabrik dan peralatan. Peregangan berarti menggunakan impian untuk menetapkan sasaran yang melebihi target yang telah ditetapkan. Meskipun demikian banyak pemimpin yang tidak memiliki unsur spiritual dalam visi hidup meraka, maka tidak heran banyak pemimpin yang sepintas tampak bahagia, makmur dan sukses duniawi yang melimpah, tetapi hidup mereka hampa tak bermakna. The New York Times melaporkan bahwa pendapatan riil telah meningkat lebih dari 16 persen selama tiga puluh tahun ini di Amerika, namun orang Amerika yang menggambarkan diri mereka sendiri sebagai "sangat bahagia" sesungguhnya dalam kurun waktu yang sama telah turun dari 36 persen menjadi 29 persen. Dalai Lama mengatakan, "Orang dapat lebih bahagia jika saja mereka saling berbagi kekayaan, berbagi teman yang lebih banyak, nama yang lebih harum, hal-hal positif yang diwariskan, dan juga berkurangnya penyesalan saat mereka meninggal nanti. Mereka dapat berkata pada diri sendiri, setidaknya aku telah menggunakan uangku untuk membantu orang lain", demikian tulis Howard C Cutler dalam buku The Art of Happiness at Work. Pemimpin besar yang tidak bergelimang harta, bahkan tidur di tikar yang membekas pada tubuhnya, bersahabat dengan kemiskinan dan orang yang lemah, tidak punya istana, tetapi hidupnya penuh makna adalah Muhammad SAW.
RIBA (3) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam Eksodus dan Ulangan, istilah Alkitab (bahasa Yahudi) untuk bunga neshekh, meskipun dalam Letivikus istilah neshekh muncul bersama dengan tarbit atau marbit. Dalam Encyclopedia Judaica dikatakan bahwa neshekh, yang artinya ‘gigitan’, adalah istilah yang digunakan untuk permintaan bunga dari sudut pandang debitur, dan tarbit atau marbit, yang artinya ‘tambahan’ adalah istilah yang digunakan untuk perolehan bunga oleh kreditur (Cohn, 1971:28). Namun dalam kedua arti itu nampak bahwa pelarangan atas bunga bukanlah pelarangan atas riba (usury) dalam pengertian masa kini dari istilah tersebut, yaitu, bunga yang berlebihan, melainkan pelarangan terhadap semua bunga, meskipun sedikit. Cohn menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan dalam hukum di antara berbagai macam tingkat bunga, karena semua bunga dilarang (Lewis and Algaoud, 2001:269). Tiga segi lainnya dari perintah Musa adalah: Pertama, paling tidak dalam dua hal, pelarangan riba dikaitkan dengan pinjaman untuk kemiskinan dan pinjaman untuk konsumsi (kemungkinan merupakan bentuk pinjaman yang paling banyak pada masa itu). Kedua, dua dari pasal-pasal itu memperluas pelarangan sampai pada setiap bentuk pinjaman, tidak hanya uang, termasuk makanan (pinjaman makanan) yang diberikan untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu perjanjian bersyarat bisa dianggap sebagai perjanjian ribawi. Ketiga, tiga segi itu semuanya menjelaskan bahwa pelarangan tersebut menunjuk kepada pinjaman terhadap ‘saudara’, yaitu sesama anggota suku atau penganut agama yang sama. Membebankan bunga kepada ‘orang asing’ dibolehkan. Dengan demikian, kaum Yahudi membolehkan penarikan bunga dari non-Yahudi, dan kaum Kristen membebankan bunga pada kaum ‘Saracen’ (sebutan untuk bangsa Arab dan, lebih luas lagi, kaum muslim pada umumnya pada Abad Pertengahan) (Nelson,149:15). Tiga kualifikasi ini ternyata membantu penghapusan larangan riba. Bahkan pada waktu itu, ‘standar ganda Ulangan’, demikian Nelson (1949) menyebutnya, sulit dihilangkan dengan alasan apapun oleh kaum Kristen, karena Yesus telah menyatakan kesatuan dan kesamaan kawan dan lawan. Selain itu, pemikiran bahwa riba bagi sesuatu kelompok bisa dianggap benar secara agamis, dikontradiksikan dengan pasal dari kitab Mazmur tersebut di atas. Satu cara yang mungkin di sekitar teka-teki ucapan ini adalah mengikuti arahan para pemimpin Gereja Yahudi yang mempertahankan praktik saudara mereka yang memberi pinjaman berbunga kepada kaum non-Yahudi dengan alasan bahwa ayat dari kitab Mazmur dapat dinisbatkan kepada Daud yang merupakan murid Musa dan, karena itu, tidak bisa memosisikan dirinya secara bertentangan dengan gurunya dengan cara mengubah hukum Musa  (Cohn, 1971). Proses evolusi yang sama terjadi pada Gereja Kristen awal, dan undang-undang gereja dibuat oleh dewan gereja, para Paus dan Uskup. Gereja awal pertama-tama mengutuk riba dengan Peraturan Apostolik ke-44 pada Dewan Arles, 314, disusul oleh Nicea pada 325, dan Laodicia pada 371. undang-undang Gereja pertama yang menentang riba adalah Ensiklik Kepausan Nec hoc quoque Santo Leo yang Agung, Paus dari 440-61 dan seorang Doktor Gereja. Ensiklik Kepausan terakhir yang menentang riba Vix pervenit dikeluarkan pada 1745 oleh Paus Benedict XIV (meskipun itu bukanlah sebuah dekrit yang mutlak). Di antaranya, gereja Katolik mempertahankan penentangannya terhadap praktik riba, meskipun penekanannya benar-benar berubah sepanjang waktu.  
STRATEGI BISNIS PEDAGANG EMPEK-EMPEK (3) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.366 KB)

Abstract

             Strategi bisnis ketiga dari pedagang empek-empek adalah menggunakan pemasaran yang paling modern. Kawan saya berasal dari Palembang, tetapi telah tinggl di Yogyakarta tersebut lebih dari 25 tahun. Bukan merupakan waktu tidak pendek. Ia menggunakan pengalaman pelanggan makan empek-empek. Pelanggan hobinya makan empek-empek pasti bisa membedakan empek-empek yang ia jual dengan empek-empek yang dibuat bukan dari ikan belida atau ikan kutak. Pengalaman pelanggan itulah yang dijadikan titik pusat dalam memasarkan empek-empeknya. Pengalaman pelanggan tidak hanya hubungan dengan pelanggan. Pengalaman pelanggan (customer experience) merupakan tanggapan pelanggan secara internal dan subjektif terhadap setiap berhubungan dengan perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan langsung pada umumnya terjadi pada bagian pembelian, penggunaan dan pelayanan yang biasanya dimulai oleh pelanggan. Hubungan tidak langsung kebanyakan sering melibatkan perjumpaan yang tidak direncanakan dengan penampilan produk, pelayanan dan merek perusahaan dan mengambil bentuk dari rekomendasi atau kritisi kata dari mulut, periklanan, laporan pemberitaan, kajian dan sebagainya. Manajemen pengalaman pelanggan (Customer Experience Management /CEM) berbeda dengan manajemen hubungan pelanggan (Customer Relationship Management /CRM) pada masalah subjek, waktu, monitor, audien dan tujuannya. Jika manajemen pengalaman pelanggan menangkap dan mendistribusikan apa yang dipikirkan pelanggan tentang sebuah perusahaan, maka manajemen hubungan pelanggan menangkap dan mendistribusikan apa yang perusahaan ketahui tentang pelanggan. Jika manajemen pengalaman pelanggan berfokus pada titik interaksi dengan pelanggan atau ‘titik sentuh’ dengan pelanggan, maka manajemen hubungan pelanggan berfokus pada setelah bersentuhan dengan pelanggan yang merupakan catatan dari interaksi dengan pelanggan. Jika manajemen pengalaman pelanggan melakukan survei, studi yang dibidik dan diobservasi adalah ‘suara pelanggan’, maka manajemen hubungan pelanggan melakukan hal tersebut dari data penjualan, riset pasar, click-through situs web dan pelacakan data pelanggan secara otomatis. Dalam manajemen pengalaman pelanggan yang menggunakan informasi tentang pelanggan adalah pemimpin bisnis atau fungsional agar dapat menciptakan ekpektasi pelanggan yang dapat dipenuhi dan pengalaman pelanggan yang lebih baik terhadap produk dan pelayanan, sedangkan dalam manajemen hubungan pelanggan informasi tentang pelanggan hanya digunakan oleh orang yang bersentuhan langsung dengan pelanggan, misalnya bagian pemasaran, pelayanan lapangan dan pelanggan agar dapat melaksanakan pelayanan pelanggan secara efisien dan efektif. Kadangkala memang kita hrus belajar dari pedagang kecil, seperti halnya pedagang empek-empek.
OPTIMISME Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Daniel Goleman, optimisme merupakan kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan. Orang dengan kemampuan ini tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan, bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya untuk gagal, memandang kegagalan atau kemunduran sebagai situasi yang dapat dikendalikan ketimbang kekurangan pribadi. Dr Moustafa Mahmoud, dalam buku Mind and Body, menyatakan bahwa ”Kita akan menghadapi segala yang kita harapkan dan ramalkan menjadi suatu kesuksesan”. Kita harus selalu meningkatkan terus harapan positif dan menjadi orang yang optimis. Kita juga harus belajar dari Helen Keller. Ia seorang yang tuli, buta dan bisu tetapi hatinya bercahaya. Akhirnya ia menjadi seorang penulis terkenal, yang dipenuhi rasa optimisme. Ia pernah mengatakan ”Optimisme adalah keyakinan yang menghantarkan kita menuju kesuksesan”. Saya merasa bersyukur kepada Allah, meskipun saya telah ditinggal oleh kedua orangtua saya pada usia sekitar 3 tahun, sehingga saya harus ikut nenek saya. Ketika masih kecil nenek saya selalu bercerita tentang putra-putranya, termasuk bercerita tentang Bapak saya. Suatu saat, nenek saya bercerita tentang Paman saya yang paling kecil. ”Om Kamil itu dahulu susah hidupnya, harus ikut orang lain supaya dapat sekolah. Tetapi sekarang sudah jadi Orang” kata nenek saya. Om saya ketika itu menjadi Marketing Manager Perusahaan Swedia. Setelah itu, beliau mendirikan pabrik kompresor di Bekasi. Saya mengidolakan beliau yang mempunyai pabrik atau jadi pengusaha. Saat yang lain nenek bercerita tentang Om saya yang bernama Om Tarjo yang selalu memeragakan cara menyetir mobil. Sayapun berharap suatu saat kelak mempunyai mobil seperti Om saya. Bahkan nenek juga bercerita tentang Om saya yang bernama Om Kamal. ”Om Kamal itu jadi guru di sekolah Telale Gajah” kata nenek saya. Saya mendengar sambil tersenyum, karena nenek saya menyebutkan hal yang lucu. Telale gajah adalah bahasa Jawa atau dalam bahasa Indonesianya belalai gajah. Tetapi maksudnya menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada. Membangkitkan optimisme saya suatu saat seperti Om saya yang dapat kuliah di Universitas Gadjah Mada. Nenek saya memang buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mengajarkan optimisme kepada saya dengan hati yang tulus. Ajaran tersebut menggores pada hati saya yang paling dalam, bekas goresan tersebut tidak dapat dihapus hingga saat ini, tetap membara tanpa bisa dipadamkan, kecuali oleh Sang Pencipta. Nenek saya adalah Guru terbaik yang tidak ada tandingannya. Saya sangat berutang budi kepada nenek saya, saya belum sempat membalas kebaikan nenek saya, tetapi Allah telah memanggilNya. Saya hanya dapat berdoa, mudah-mudahan Allah memberikan tempat terbaik di sisiNya. ”Berharaplah terhadap kebaikan, niscaya kalian akan mendapatkannya” sabda Rasulullah SAW.
RESIKO KAMI PAK Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak perusahaan mengandalkan kecepatan dalam bersaing, mulai dari kecepatan inovasi produk, kecepatan dalam menjangkau pasar, kecepatan pengembangan sumberdaya manusia sampai kecepatan dalam pelayanan. Perusahan yang dikagumi peringkat pertama, General Electric menggunakan kecepatan dalam bertindak melayani pelanggannya, selalu menggapai melebihi sasaran dan memasuki pasar tanpa batas.   dalam rangka meraih visinya. Demikian pula dengan Toyota dengan Toyota Production System (TPS) untuk mencapai kualitas, efisiensi dan kepemimpinan teknologi, sehingga mencapai tingkatan yang baru. Namun demikian, ada juga perusahaan kecil yang mencoba menggunakan kecepatan dalam bersaing tanpa harus menggunakan inovasi teknologi tingkat lanjut. Ketika bersama tiga kawan saya di Bandung, saya mampir untuk makan siang di rumah makan yang bersaing dengan caranya sendiri.. Dua orang pelayannya menghampiri kami beremapat. “Pesan minum apa Pak? “ tanya mereka. Kami berempat menyebutkan minuman yang kami pesan. Satu diantara kedua pelayan tersebut mencatat pesanan kami dan satu orang lainnya memperhatikan yang dicatat kawannya tersebut. “Bapak mau makan apa Pak? Ini menunya” kata seorang pelayan yang sedang mencatat tersebut dan seorang yang lainnya masuk ke dalam. Setelah kami menyebutkan pesanan, pelayan tersebut mencatatnya dan tiba-tiba kawannya tadi keluar sambil membawa koran. “Ini korannya Pak kalau mau membaca berita hari ini “ kata pelayan yang membawa koran sambil menyerahkan kepada kami. Kemudian setelah menyerahkan koran, ia kembali mendapingi pelayan yang mencatat pesanan kami dan masuk ke dalam kembali. “Makanannya cukup ini Pak?” tanya pelayan yang bagian mencatat pesanan tersebut. “Ya cukup“ jawab kami. Tiba-tiba pelayan yang masuk ke dalam tadi, keluar lagi sudah membawa minuman pesanan kami. Ketika itu saya terkejut melihat kejadian tersebut dan saya berkata dalam hati setengah penasaran: “Cepat sekali”. Tidak begitu lama pelayan yang mencatat pesanan kami tadi sudah menyusul membawa makanan yang kami pesan. “Luar biasa cepat” kata hati saya bertambah penasaran. Setelah selesai makan saya penasaran karena mendapatkan pelayanan dengan kecepatan luar biasa. Kemudaian saya memanggil pelayan tersebut dan bertanya “Mas kok bisa cepat dalam Anda menyajikan tadi rahasianya bagaimana?”. “Tadi kami berdua, pertama mencatat pesanan Bapak berupa minuman, setelah itu rekan saya membaca yang saya catat kemudian rekan saya tadi ke belakang pesan minuman yang Bapak pesan. Kemudian rekan saya tadi mengambil koran dan menyerahkan kepada Bapak. Setelah itu rekan saya tadi membaca makanan yang Bapak pesan pada catatan saya dan masuk ke dalam sambil pesan makanan yang Bapak pesan” kata pelayan tersebut. “Oh begitu. Mas kalau misalnya pesanan makanan itu saya ganti bagaimana?” tanya saya. “Itu resiko kami Pak” jawabnya tegas.  
MELAMBUNGKAN USAHA DENGAN BERBUAT MULIA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak pengusaha atau perusahaan ketika dalam keadaan resesi atau dalam kesulitan yang dilakukan dengan memPHK karyawan, bahkan BUMN milik pemerintahpun yang berfungsi menyediakan lapangan kerja sebagai tanggungjawab terhadap pelaksaan Undang-Undang Dasar, misalnya PT. Dirgantara Indonesia lebih memilih memPHK karyawan. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh perusahaan pakaian terkenal Levi Strauss.  Levi Strauss datang dari Bavaria. Ia tiba di New York pada 1847 dan bekerja sama dengan saudara tirinya dalam bisnis barang-barang yang dikeringkan. Pada 1853 Strauss pergi ke San Francisco untuk membangun bisnisnya sendiri. Kesempatan datang ketika salah seorang pelanggannya, penjahit Nevada bernama Jacob Davis, memperlihatkan sebuah ide dalam mengubah celana panjang pria. Hasilnya celana panjang yang kuat dan tahan lama, cocok dipakai bila Anda seorang penambang emas ataupun petani. Davis membutuhkan $68 untuk mendaftarkan hak paten desain itu. Pada 1873 Strauss dan Davis mempatenkan celana panjang tersebut, atau “waist-high overall” sebutannya ketika itu. Perusahaan semakin makmur dan ketika ia meninggal, perusahaan Levi Strauss mempunyai kekayaan $6 juta.  Tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan terjadi pada 1906, yaitu ketika terjadi gempa bumi diikuti kebakaran yang menghancurkan kantor pusat perusahaan dan dua pabriknya. Tindakan yang dilakukan Levi Strauss memberikan kredit pada pelanggan grosirnya sehingga mereka dapat bangun dan  kembali berbisnis. Perusahaan tetap membayar pegawai-pegawainya dan sebuah kantor sementara serta showroom terbuka untuk memberi mereka sesuatu untuk dilakukan, sementara kantor pusat baru dan sebuah pabrik dibangun. Pada saat depresi besar, ketika itu CEO Walter Haas Sr. Tetap mempekerjakan karyawan-karyawannya dengan menyuruh mereka membangun lantai baru di pabrik perusahaan di Valencia Street di San francisco  dan bukannya memberhentikan mereka. Ia beragumentasi bahwa tenaga kerja yang diberi kuasa, orang-orang yang berbagi nilai-nilai dan aspirasi yang sama dengan perusahaan seperti manajer-manajer dan pemilik, akan membuat perusahaan menjadi pemimpin pasar. “Anda tak dapat membuat orang bersemangat atau mendapatkan dukungan mereka kecuali organisasi tersebut memiliki jiwa “kata Haas. Kemudian memberikan kesempatan yang sama bagi orang Afrika-Amerika untuk bekerja di pabrik pabriknya pada 1950-an dan 1960-an, ketika mereka mengembangkan bisnisnya ke negara-negara selatan. Sejalan dengan perkembangan bisnisnya, komunitas masyarakat yang menganut tradisi mereka berkembang bersamaan. Levi-Strauss sekarang mendapatkan 40 persen keuntungannya dari bisnis internasional dan produk pabrik di lebih dari 50 negara seluruh dunia. Seperempat pegawainya bekerja di luar Amerika Serikat. Levi Strauss memilih berbuat mulia untuk melambungkan usahanya dengan tetap memperkerjakan karyawannya ketika perusahaan dalam kesulitan. Dengan berbuat mulia barangkali Tuhan ikut membantu. Kita berharap PT. Dirgantara Indonesia melakukan hal yang serupa.
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (9) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.06 KB)

Abstract

Untuk mewujudkan tahap ketiga yang paling sulit untuk menjadi entrepreneur adalah mengambil langkah memulai bisnis. Hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara dalam menemukan peluang bisnis. Pendidikan kita dapat dipakai sebagai senjata untuk memulai bisnis. Pendidikan merupakan tindakan atau pengalaman yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pikiran, karakter dan kemampuan fisik individu. Pendidikan juga didefinisiakan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Ketika saya diterima di FMIPA Fisika Universitas Gadjah Mada, maka saya telah punya bekal ilmu yang diajarkan dosen saya mata kuliah alamiah dasar berupa Fisika, Kimia dan Matematika. Dengan bekal ilmu ini bergabung dengan kawan-kawan saya dapat menciptakan peluang bisnis berupa bimbingan belajar, ketika itu namanya bimbingan tes. Kawan saya lain ada yang dari Teknik Elektro yang dapat mengajar matematika, ada yang dari Fakultas Ekonomi yang dapat mengajar Bahasa Inggris dan Ekonomi dan ada juga yang berasal dari Biologi yang dapat memberikan pelajaran Biologi. Sedangkan pengajar atau saat itu kita sebut tentor, kita carikan kawan-kawan dekat yang dapat dibayar murah, karena belum mempunyai kemampuan untuk membayar mahal. Kalau ada uang dibayar, kalau tidak ada memohon kesabaran kepada kawan yang mengajar tersebut. Kawan kita tersebut sangat memakluminya. Mereka semua seperti keluarga. Kesulitan dan kesenangan kita arungi bersama dalam rangka menggapai cita-cita yang lebih besar, yaitu unit bisnis baru itu terlahir dan bermanfaat untuk orang banyak. Customer service kita juga kita perlakukan seperti halnya pengajar. “Mbak.. Kita dapat membayar gaji Mbak kalau yang mendaftar dan ikut bimbingan belajar, tetapi kalau tidak ada yang mendaftar ya tidak dapat mengaji” kata kita. “Nggak apa-apa. Saya bekerja di sini terutama karena cari pengalaman” kata Customer service kita. Dia satu-satunya orang yang duduk di kursi dengan meja sederhana, tempat untuk melayani calon peserta bimbingan. Sedangkan kami duduk di tikar, karena itulah yang kita miliki dan tempat mengatur strategi, tempat berdiskusi, tempat membuat materi dan soal-soal yang akan kita berikan kepada peserta bimbingan. Tikar adalah tempat kita untuk berdoa kepada Tuhan agar bisnis yang kita jalankan dapat berkembang dengan baik. Modal bimbingan belajar tersebut adalah patungan. Kebetulan ketika itu saya juga mengajar di Bimbingan belajar lain dan mengajar di SMP dan SMA di Yogyakarta, sehingga ada penghasilan sedikit untuk ikut memodali berdirinya bimbingan belajar tersebut. Demikian pula kawan-kawan saya lainnya, ada yang berasal dari uang kiriman dan ada pula uang yang digunakan untuk memasang listrik. Ada juga dari hasil penjualan buku. Termasuk meja dan kursi yang dipakai Customer service kita serta tikar tempat singgasana kita.  Sesungguhnya modal yang paling besar adalah karena pengelolanya selama hampir 2 tahun tidak digaji secara proporsional, tetapi uangnya dikumpulkan untuk menjalankan bimbingan belajar tersebut. Kami ketika itu hanya sekedar mendapatkan uang untuk makan masing-masing Rp. 50.000,-. per bulan. Memanglah kekeluargaan dan kebersamaan serta iringan doa merupakan modal yang tak ada tandingannya.
STRATEGI FAKTOR KELEKATAN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Strategi yang telah terbukti bahwa suatu produk dapat mencapai popularitas tertentu disebut tipping point. Salah satu unsur dari strategi tersebut adalah faktor kelekatan. Di sekitar penghujung tahun 1960 an , seorang produser televisi bernama Joan Gantz Cooney berniat memicu sebuah epidemic. Sasarannya adalah anak-anak berusia tiga, empat, dan lima tahun Agen penginfeksinya adalah televisi, sedangkan ”virus” yang ingin disebarluaskan olehnya adalah kemahiran membaca dan menulis. Tiap pertunjukan akan memakan waktu satu jam dan diputar selama lima hari dalam seminggu, dengan harapan bahwa jika perdalam dunia pendidikan: yang akan memberikan rangsangan kepada anak-anak, terlebih di lingkungan- lingkungan kurang beruntung, untuk mulai belajar menjelang memasuki usia sekolah dasar, menyebarluaskan nilai-nilai prolearning dari anak-anak dan orangtua mereka, dan menjadikan dampaknya tetap terasa kendati si anak sudah tidak menonton pertunjukan itu lagi. Cooney sendiri dahulu mungkin tidak menggunakan konsep-konsep di atas atau menguraikan sasaran-sasarannya seperti ini. Akan tetapi yang ingin diperbuatnya, pada intinya, adalah menciptakan suatu epidemic positif guna memerangi epidemic yang telah berkecamuk jauh lebih lama, kemiskinan dan buta aksara. Ia menyebut gagasannya Sesame Street. Dengan tolok ukur manapun, gagasan ini sesuatu yang hampir mustahil. Televisi memang media yang hebat untuk menjangkau banyak orang, sangat mudah, dan relatif murah. Fungsinya sebagai media hiburan tidak perlu dipertanyakan lagi. Akan sebagai media pendidikan? Tantangannya seberat memindahkan gunung. Gerald Lesser, seorang psikolog dari Harvard University yang kemudian bergabung dengan Cooney ketika mendirikan Sesame Street , mengatakan bahwa pada awalnya ia kurang yakin ketika diajak bergabung dalam proyek itu, sekitar tahun 1960 an. ”Waktu itu saya sangat berpegang pada prinsip bahwa untuk menentukan cara mengajar seorang anak kita perlu kenal dahulu dengan si anak, ”katanya.” Kita mencari tahu dahulu kekuatan yang dimilikinya, maka kita dapat bermain dengan kekuatan itu. Kita juga perlu mencari tahu kelemahan-kelemahannya, sehingga kita dapat menghindari titik lemah tersebut. Selanjutnya tiap anak perlu ditangani secara individu melalui profil masing-masing yang bisa saling berbeda. Televisi tidak memiliki kemampuan menerapkan metode tersebut.” Mengajar yang baik adalah mengajar dengan cara interaktif. Mengajar yang baik adalah melibatkan anak secara individu. Mengajar yang baik memanfaatkan semua indra yang ada. Mengajar yang baik memberikan tanggapan langsung kepada anak. Akan tetapi televisi hanya sebuah kotak yang bisa bicara. Dalam sejumlah eksperimen, anak-anak yang diminta membaca satu bab dari sebuah buku kemudian diuji untuk mengukur pemahaman mereka atas informasi di dalamnya menghasilkan skor lebih tinggi dibanding anak-anak yang mempelajari informasi serupa melalui sebuah tayangan video. Para pakar pendidikan memandang televisi sebagai media yang low involvement.. Televisi seperti sejenis penyakit pilek yang dapat menyebar secepat kilat ke banyak orang tetapi sakit mereka tidak parah dan keesokan harinya langsung sembuh. Akan tetapi Joan Gantz Cooney, Gerald Lesser, dan seorang mitra lagi Lloyd Morrisett dari Markle Foundation di New York bertekad untuk tetap mencoba. Mereka merekrut orang-orang paling kreatif yang ada pada masa itu. Mereka meniru teknik-teknik dari iklan-iklan televise untuk memperkenalkan bilangan kepada anak-anak. Mereka menggunakan animasi hidup ala kartun-kartun di surat kabar Sabtu untuk mengajarkan cara belajar alfabet. Mereka mengundang selebriti untuk bernyanyi dan berdansa, juga bintang komedi untuk mengajarkan manfaat kerja sama atau bicara soal emosi. Sesame Street memasang sasaran lebih tinggi melakukan upaya lebih keras daripada pertunjukan kanak-kanak lain yang pernah ada, maka yang istimewa dalam hal ini adalah karena ternyata kerja keras mereka berhasil. Hampir setiap kali nilai edukasi dalam pertunjukan ini diselidiki dan Sesame street telah menjadi acara televise paling mendapatkan sorotan akademik selama sejarah pertelevisian dibaning pertunjukkan televisi lain. Lebih dari itu, acara televisi ini terbukti telah meningkatkan ketrampilan membaca dan ketrampilan belajar pada para pemerhatinya. Tinggal sedikit pendidik dan psikolog anak yang meragukan kemapuan pertunjukkan tersebut dalam menyebarkan pesan-pesan pendidikan, karena yang tertular ternyata tidak hanya anak-anak dan orangtua yang secara teratur menyaksikannya.