Dalam Eksodus dan Ulangan, istilah Alkitab (bahasa Yahudi) untuk bunga neshekh, meskipun dalam Letivikus istilah neshekh muncul bersama dengan tarbit atau marbit. Dalam Encyclopedia Judaica dikatakan bahwa neshekh, yang artinya âgigitanâ, adalah istilah yang digunakan untuk permintaan bunga dari sudut pandang debitur, dan tarbit atau marbit, yang artinya âtambahanâ adalah istilah yang digunakan untuk perolehan bunga oleh kreditur (Cohn, 1971:28). Namun dalam kedua arti itu nampak bahwa pelarangan atas bunga bukanlah pelarangan atas riba (usury) dalam pengertian masa kini dari istilah tersebut, yaitu, bunga yang berlebihan, melainkan pelarangan terhadap semua bunga, meskipun sedikit. Cohn menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan dalam hukum di antara berbagai macam tingkat bunga, karena semua bunga dilarang (Lewis and Algaoud, 2001:269). Tiga segi lainnya dari perintah Musa adalah: Pertama, paling tidak dalam dua hal, pelarangan riba dikaitkan dengan pinjaman untuk kemiskinan dan pinjaman untuk konsumsi (kemungkinan merupakan bentuk pinjaman yang paling banyak pada masa itu). Kedua, dua dari pasal-pasal itu memperluas pelarangan sampai pada setiap bentuk pinjaman, tidak hanya uang, termasuk makanan (pinjaman makanan) yang diberikan untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu perjanjian bersyarat bisa dianggap sebagai perjanjian ribawi. Ketiga, tiga segi itu semuanya menjelaskan bahwa pelarangan tersebut menunjuk kepada pinjaman terhadap âsaudaraâ, yaitu sesama anggota suku atau penganut agama yang sama. Membebankan bunga kepada âorang asingâ dibolehkan. Dengan demikian, kaum Yahudi membolehkan penarikan bunga dari non-Yahudi, dan kaum Kristen membebankan bunga pada kaum âSaracenâ (sebutan untuk bangsa Arab dan, lebih luas lagi, kaum muslim pada umumnya pada Abad Pertengahan) (Nelson,149:15). Tiga kualifikasi ini ternyata membantu penghapusan larangan riba. Bahkan pada waktu itu, âstandar ganda Ulanganâ, demikian Nelson (1949) menyebutnya, sulit dihilangkan dengan alasan apapun oleh kaum Kristen, karena Yesus telah menyatakan kesatuan dan kesamaan kawan dan lawan. Selain itu, pemikiran bahwa riba bagi sesuatu kelompok bisa dianggap benar secara agamis, dikontradiksikan dengan pasal dari kitab Mazmur tersebut di atas. Satu cara yang mungkin di sekitar teka-teki ucapan ini adalah mengikuti arahan para pemimpin Gereja Yahudi yang mempertahankan praktik saudara mereka yang memberi pinjaman berbunga kepada kaum non-Yahudi dengan alasan bahwa ayat dari kitab Mazmur dapat dinisbatkan kepada Daud yang merupakan murid Musa dan, karena itu, tidak bisa memosisikan dirinya secara bertentangan dengan gurunya dengan cara mengubah hukum Musa (Cohn, 1971). Proses evolusi yang sama terjadi pada Gereja Kristen awal, dan undang-undang gereja dibuat oleh dewan gereja, para Paus dan Uskup. Gereja awal pertama-tama mengutuk riba dengan Peraturan Apostolik ke-44 pada Dewan Arles, 314, disusul oleh Nicea pada 325, dan Laodicia pada 371. undang-undang Gereja pertama yang menentang riba adalah Ensiklik Kepausan Nec hoc quoque Santo Leo yang Agung, Paus dari 440-61 dan seorang Doktor Gereja. Ensiklik Kepausan terakhir yang menentang riba Vix pervenit dikeluarkan pada 1745 oleh Paus Benedict XIV (meskipun itu bukanlah sebuah dekrit yang mutlak). Di antaranya, gereja Katolik mempertahankan penentangannya terhadap praktik riba, meskipun penekanannya benar-benar berubah sepanjang waktu. Â