Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN TIGA KIT EKSTRAKSI RNA UNTUK ANALISIS TRANSKRIPTOMIKA PADA KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) Zulaeha, Siti; Purwoko, Devit; Cartealy, Imam; Tajuddin, Teuku; Karyanti, .; Khairiyah, Hayat
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 6 No. 1 (2019): June 2019
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.283 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v6i1.3372

Abstract

Comparison of Three RNA Extraction Kits for Transcriptome Analysis of Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.) ABSTRACTObtaining high-quality RNA is very important at an early stage of molecular biology research. To isolate RNA, high skill and caution are required in following laboratory procedures because RNA is easily degraded, especially samples from plant tissue culture. One of the parameters used to check the total RNA quality is RIN (RNA Integrity Number). The aim of this study was to obtain RNA extraction methods on oil palm leaves, callus and somatic embryos that were of good quality and high concentrations for transcriptomic analysis. RNA extraction was carried out using Plant RNA PureLink (Ambion), Genezol RNA Extraction (Geneaid) and RibospinTM Plant (Geneall) kit methods. The results showed that oil palm leaf, callus and somatic embryo RNA were successfully extracted using the RibospinTM (Geneall) kit. Based on the total RNA number of more than 4 μg and the RIN value of more than 7, the extracted RNA could be used in RNA sequencing for transcriptomic analysis. Keywords: callus, oil palm, RNA analysis, RNA quality, somatic embryo ABSTRAKMenghasilkan RNA berkualitas tinggi sangatlah penting pada tahap awal penelitian biologi molekuler. Untuk mengisolasi RNA diperlukan keterampilan dan kehati-hatian tinggi dalam mengikuti prosedur di laboratorium karena RNA lebih mudah terdegradasi, khususnya sampel hasil kultur jaringan tanaman. Salah satu parameter yang digunakan pada pengecekan kualitas RNA total adalah RIN (RNA Integrity Number). Penelitian bertujuan mendapatkan metode ekstraksi RNA pada daun, kalus dan embrio somatik kelapa sawit yang berkualitas baik dan memiliki konsentrasi tinggi untuk analisa transkriptomika.  Ekstraksi RNA dilakukan menggunakan metode kit Plant RNA PureLink (Ambion), Genezol RNA Extraction (Geneaid) dan RibospinTM Plant (Geneall). Hasil menunjukkan bahwa RNA daun, kalus dan embrio somatik kelapa sawit telah berhasil diekstraksi dengan menggunakan kit RibospinTM (Geneall). RNA hasil ekstraksi tersebut dapat digunakan untuk sekuensing RNA dengan tujuan analisis transkriptomika, dilihat dari jumlah total RNA yang lebih dari 4 μg dan nilai RIN lebih dari 7. Kata Kunci: analisis RNA, embrio somatic, kalus, kelapa sawit, kualitas RNA 
A REVISED METHOD FOR SUCKER STERILIZATION TO SUPPORT THE IN VITRO PROPAGATION OF SAGO PALM (Metroxylon sagu Rottb.) Tajuddin, Teuku; ., Karyanti; Sukarnih, Tati; Haska, Nadirman
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 1 No. 1 (2014): December 2014
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.57 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v1i1.548

Abstract

Hutan sagu (Metroxylon sagu Rottb.) dapat ditemukan dalam area yang cukup luas di wilayah Maluku dan Papua. Besarnya keanekaragaman hayati dari pohon sagu dapat dilihat di areal ini. Pohon sagu tumbuh secara alami terutama di daerah dataran atau rawa dengan sumber yang air melimpah. Tanaman sagu dapat diperbanyak dengan metode generatif melalui biji, dan vegetatif melalui tunas anakan. Dalam rangka mendukung perbanyakan pohon induk yang unggul secara in vitro dalam skala besar, perbaikan metode sterilisasi tunas anakan mutlak diperlukan. Tunas anakan muda (15-20 cm) yang diperoleh dari Propinsi Papua digunakan sebagai eksplan. Tujuan percobaan sterilisasi ini dilakukan untuk mendukung perbanyakan pohon sagu secara in vitro. Pada percobaan ini antibiotik digunakan untuk membersihkan jaringan internal eksplan dari jamur dan bakteri. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa campuran alkohol dan antibiotik dapat menekan pertumbuhan kontaminan.Kata kunci: Antibiotik, kontaminan jamur dan bakteri, kultur in vitro, metode sterilisasi, sagu ABSTRACTNatural sago (Metroxylon sagu Rottb.) forest can be found in large area in Maluku and Papua regions. There are wide genetic diversities of sago palm found in these areas. This palm grows along riverbanks and in swampy areas which are not suitable for other crops. Sago palm is propagated generatively by seed and vegetatively by suckers. With the purpose of establishing the in vitro culture method for a large-scale of mass clonally propagation of superior genotypes of sago palm, generating sterilized explants are very important. Young suckers (15-20 cm) obtained from areas of Papua Province were used as explants. The sterilization experiments were carrying out to support the tissue culture of sago palm. Sterilization was conducted using antibiotics in order to get rid of fungi and bacteria from inner part of explants tissues. The results showed that from all sterilization methods tested, the best result was treatment using alcohol and antibiotic as disinfectant agents.Keywords: Antibiotics, fungi and bacteria contaminants, in vitro culture, sterilization method, sago palm
Preface JBBI Vol 4, No 2, December 2017: Foreword and Acknowledgement Tajuddin, Teuku
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 4 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.164 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v4i2.2612

Abstract

Preface JBBI Vol 3, No 1, June 2016: Foreword and Acknowledgement Tajuddin, Teuku
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.1 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.1065

Abstract

PENANGANAN ANAKAN MUDA PADA KULTUR EX VITRO UNTUK MENGHASILKAN BIBIT SAGU (Metroxylon sagu Rottb.) SIAP TANAM ., Karyanti; Sigit, Yusuf; Tajuddin, Teuku; ., Erwinda; ., Minaldi; Haska, Nadirman
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.729 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.20

Abstract

To fulfill market demand and prevent its extinction, sago palm plantation need to be developed by planting elite varieties in other areas. For these reasons the large number of seedling is needed. In this study we developed the method for an ex vitro propagation technique combining with maintaining samples freshness for several days. Young suckers were treated using aquades, Na-hypochlorite or alcohol. After 3 days, suckers were sterilized, followed by dipping in vitamin solutions and IBA for an hour. The shoots were then planted in the mixture of soil and organic fertilizer. The results of our study showed that young sucker treated with alcohol 96% was the best treatment for maintaining the freshness of samples upto 3 days. During 20 weeks of culture, the optimum root induction was achieved after applying IBA 50 mg/L. Our result may serve as a base for mass propagation of sago palm.Keywords: Ex vitro, IBA, root induction, sample freshness, young suckers ABSTRAKUntuk memenuhi kebutuhan pasar serta mencegah kepunahannya, perkebunan sagu perlu dikembangkan dengan menanam tanaman sagu berkualitas di daerah lain yang sesuai. Untuk mendukung program ini, bibit sagu dibutuhkan dalam jumlah yang sangat besar. Dalam studi ini kami mengembangkan perbanyakan bibit sagu dengan teknik ex vitro yang dikombinasikan dengan metode untuk menjaga kesegaran sampel selama beberapa hari. Anakan muda sagu diberi perlakuan dengan aquades, Na-hipoklorit atau alkohol. Setelah disimpan selama 3 hari, anakan yang terlihat tetap segar dilanjutkan ke tahap sterilisasi, dan selanjutnya direndam dalam larutan campuran vitamin dan IBA selama 1 jam. Akhirnya anakan muda ditanam dalam media campuran tanah dan pupuk kandang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan alkohol 96% adalah yang terbaik untuk menjaga kondisi anakan tetap segar setelah disimpan hingga 3 hari. Selanjutnya setelah dikultur selama 20 minggu, induksi akar yang optimal dapat dicapai dari perlakuan IBA 50 mg/L. Hasil yang kami peroleh dapat menjadi acuan dalam perbanyakan bibit sagu secara masal.Kata kunci: Ex vitro, IBA, induksi akar, kesegaran sampel, anakan muda
SKRINING DAN IDENTIFIKASI MIKROBA LIGNINOLITIK PADA PENGOMPOSAN ALAMI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT Rupaedah, Bedah; Purwoko, Devit; Safarrida, Anna; Tajuddin, Teuku; Wahid, Abdul; Sugianto, Mahmud; Sudjai, Imam; Suyono, Agus
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 6 No. 1 (2019): June 2019
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.706 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v6i1.3237

Abstract

Screening and Identification of Ligninolytic Microbes in the Natural Decomposition of Oil Palm Empty Fruit Bunch  ABSTRACTOPEFB (oil palm empty fruit bunch)could potentially be utilized as organic fertilizer or animal feed through composting. Information on microorganisms that play important roles in the natural decomposition of OPEFB is to date not much known yet. This research was aimed to obtain and, subsequently, to molecularly identify lignin-degrading microbial isolates responsible for naturally decomposing OPEFB in the Oil Plant Plantation and Palm Oil Refinery Plant, PTPN VIII Cikasungka, Bogor. Screening for active lignin-degrading isolates was carried out on 17 naturally decomposing OPEFB samples. A total of 19 isolates of fungi and 80 isolates of bacteria were obtained. Ligninolytic activity was measured by Sundman and Nase testing methods. Ligninolytic activity was found on 13 fungal isolates and 15 bacterial isolates. The active isolates were subsequently identified molecularly based on ITS sequence in the ribosome DNA area for fungi and in 16S rRNA genes for bacteria. The results showed that the lignin-degrading microorganisms obtained consisted of 5 bacterial isolates from the genus Bacillus and 3 fungal isolates from the genus Rhizopus and Aspergillus. Keywords: composting, lignin, microbes, OPEFB, 16S rRNA ABSTRAKTKKS (tandan kosong kelapa sawit) berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pakan ternak dengan cara pengomposan. Informasi mikroba yang berperan dalam pengomposan alami TKKS hingga saat ini belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan mendapatkan isolat mikroba pendegradasi lignin dalam pengomposan alami TKKS asal Perkebunan dan Pabrik Pemerasan Kelapa Sawit, PTPN VIII Cikasungka, Bogor, serta mengidentifikasi mikroba tersebut secara molekuler. Skrining mikroba aktif pendegradasi lignin dilakukan terhadap 17 sampel TKKS yang sudah lapuk secara alami. Sebanyak 19 isolat jamur dan 80 isolat bakteri telah dihasilkan. Aktivitas ligninolitik diukur dengan metode pengujian Sundman dan Nase. Isolat jamur yang memiliki aktivitas ligninolitik sebanyak 13 isolat, sedangkan bakteri sebanyak 15 isolat. Isolat-isolat aktif tersebut selanjutnya diidentifikasi secara molekuler berdasarkan pada sekuen ITS di daerah DNA ribosom untuk jamur dan menggunakan gen 16S rRNA untuk bakteri. Hasil menunjukkan bahwa 5 isolat bakteri yang memiliki kemampuan mendegradasi lignin berasal dari genus Bacillus, sedangkan 3 isolat jamur pendegradasi lignin berasal dari genus Rhizopus dan Aspergillus Kata Kunci: lignin, mikroba, pengomposan, TKKS, 16S rRNA 
PROLIFERATION OF OIL PALM (Elaeis guineensis Jacq.) EMBRYOGENIC CALLUS WITH REPEATED SUBCULTURES IN LIQUID MEDIUM Karyanti, Karyanti; Tajuddin, Teuku; Khairiyah, Hayat; Purwoko, Devit; Sukarnih, Tati; Rahmadara, Gemilang; Hanifah, Nurul Fitri; Rudiyana, Yayan; Kitagawa, Sayuri; Mira, Farida Rosana; Saga, Hirohisa
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 8 No. 1 (2021): June 2021
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.075 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v8i1.4715

Abstract

The availability of high-quality seeds is now a necessity. This is due to a government program to replace oil palm trees in smallholder plantations with high quality seeds. An efficient protocol to produce a large number of embryos is needed. To increase the number of embryogenic callus production, the callus proliferation experiment was carried out through suspension culture. This study aimed to examine the proliferation ability of embryogenic callus from three different oil palm clones, in several repeated subcultures. Liquid MS media added with 1 ppm 2.4-D and 0.1 ppm NAA were used. Embryogenic callus was weighed by 0.1 - 0.2 g, transferred into the liquid media, shaking at 60-80 rpm and 27 ºC for 8 weeks without light. Continues subcultures were repeated up to 7 times. The results showed that the growth rate of embryogenic callus increased in the third and fourth subcultures and then decreased in subsequent subcultures. It also revealed that the entire embryogenic callus from the first subculture up to seventh subculture still has the ability to regenerate into new plants. These results indicate that oil palm embryogenic callus can be proliferated by suspension culture with a limit up to the fourth subculture. Ketersediaan benih kelapa sawit berkualitas saat ini merupakan kebutuhan karena adanya program pemerintah untuk menggantikan tanaman sawit di kebun-kebun petani. Salah satu cara vegetatif yang dapat dilakukan adalah meningkatkan jumlah kalus embriogenik yang dihasilkan melalui pengembangan kultur suspensi. Penelitian ini bertujuan mengkaji kemampuan proliferasi kalus embriogenik dari tiga klon kelapa sawit, pada beberapa kali subkultur yang berulang. Media cair MS dengan penambahan 1 ppm 2,4-D dan 0,1 ppm NAA digunakan untuk memperbanyak 0,1–0,2 g kalus embriogenik, dikocok pada 60-80 rpm dan suhu 27 ºC tanpa cahaya selama 8 minggu. Subkultur berulang dilakukan hingga 7 kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kemampuan proliferasi kalus dipengaruhi oleh genotip tanaman induk. Rata-rata kalus embriogenik dapat meningkat pada subkultur ke-3 dan ke-4 dan semakin menurun pada subkultur selanjutnya. Kalus embriogenik hasil proliferasi subkultur pertama hingga ke-7 dapat tumbuh menjadi calon tanaman baru. Hasil ini menunjukkan bahwa kalus embriogenik kelapa sawit dapat diperbanyak dengan kultur suspensi pada batas sampai subkultur ke-4.
Preface JBBI Vol 1, No 1, December 2014: Foreword and Acknowledgement Teuku Tajuddin
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 1 No. 1 (2014): December 2014
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.781 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v1i1.1040

Abstract

Preface JBBI Vol 2, No 1, June 2015: Foreword and Acknowledgement Teuku Tajuddin
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 2 No. 1 (2015): June 2015
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.227 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i1.1058

Abstract

Preface JBBI Vol 2, No 2, December 2015: Foreword and Acknowledgement Teuku Tajuddin
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 2 No. 2 (2015): December 2015
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.589 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i2.1062

Abstract