Sonny Tilaar
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado

Published : 80 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 42 Documents
Search
Journal : SPASIAL

ANALISIS TINGKAT KEKUMUHAN KAWASAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN KUMUH DI ENAM KAWASAN PESISIR KECAMATAN MANOKWARI BARAT Indriani, Reggi; Tilaar, Sonny; Tinangon, Alvin J.
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Manokwari merupakan Ibukota Provinsi Papua Barat yang merupakan Kota yang sedang berkembang. Kabupaten Manokwari sebagai pusat pemerintahan Provinsi dan Kabupaten dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan migrasi semakin meningkat mengakibatkan masyarakat membangun tempat tinggal yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak sesuai dengan standar sehingga menyebabkan permasalahan tumbuhnya permukiman kumuh. Berdasarkan SK Bupati Kabupaten Manokwari Nomor 96 Tahun 2015 Tentang Penetapan Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kabupaten Manokwari. Terdapat 15 lokasi yang telah teridentifikasi kumuh dan pada daerah pesisir terdapat 6 kawasan pesisir yang diteliti yakni kawasan Pasar sanggeng, kawasan Arkuki, kawasan Fanindi pante, kawasan Borobudur, kawasan Anggrem dan kawasan Rodi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat kekumuhan permukiman kumuh yang ada di 6 kawasan pesisir perkotaan Manokwari dengan menggunakan 7 aspek fisik kekumuhan yaitu kondisi bangunan gedung, kondisi jalan lingkungan, kondisi penyediaan air minum, kondisi drainase lingkungan, kondisi pengelolaan limbah, kondisi pengelolaan persampahan dan kondisi proteksi kebakaran berdasarkan Peraturan Menteri PUPR NOMOR 2/PRT/M/2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif dan metode analisis kuantitatif dengan menggunakan skoring atau pembobotan. Hasil dari penelitian setelah dilakukan analisis berdasarkan 7 aspek fisik didapatkan bahwa kondisi kekumuhan terdapat 5 kawasan yang termasuk kumuh ringan dan 1 kawasan termasuk kumuh sedang. Kriteria kumuh ringan yaitu pada Kawasan Pasar Sanggeng, Kawasan Arkuki, Kawasan Fanindi Pante, Kawasan Anggrem dan Kawasan Rodi. Kriteria kumuh sedang yaitu pada Kawasan Borobudur dengan bobot tertinggi yaitu pada kondisi proteksi kebakaran kondisi pengelolaan persampahan.Kata Kunci: tingkat kekumuhan, perumahan permukiman, pesisir
ANALISIS MORFOLOGI PERMUKIMAN DI KAWASAN PESISIR KECAMATAN TUMPAAN Simaela, David Heryyanto; Tilaar, Sonny; Warouw, Fela
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan morfologi di sebabkan karena pekembangan perumahan dan permukiman sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan intensitas pembangunan yang semakin meningkat. Perkembangan perumahan dan permukiman mempunyai fisik terbesar dalam pertumbuhan kota. Berdasarkan RTRW Kab.Minahasa Selatan 2014-2034 luas wilayah kecamatan Tumpaan 7.853 ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan permukiman dan proses perubahan hunian di kawasan pesisir kecamatan Tumpaan. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini menggunakan metode distribusi frekuensi kumulatif dan metode analisis diakronik dengan pendekatan spasial. Teknik analisis yang di gunakan dalam pertumbuhan permukiman berupa peta perubahan permukiman tahun 2005-2010-2017 dari software Arcgis 10.3 untuk menggambarkan morfologi permukiman pesisir kecamatan tumpaan ke arah daratan atau sejajar dengan garis pantai dan menentukan proses perubahan hunian berupa peta time series pola hunian (ha), Aksesibilitas (Km), Kepadatan Bangunan (bangunan/ha). Dari hasil analisis yang dilakukan pertumbuhan permukiman pesisir kecamatan Tumpaan tergolong dalam klasifikasi neighborhood serta membentuk morfologi arah daratan dan morfologi selari. Proses perubahan hunian berdasarkan pola hunian tertinggi di desa Tumpaan Dua sebesar 58,66 ha. Berdasarkan Aksesibilitas tertinggi di desa Matani sebesar 14 Km. Berdasarkan Kepadatan Bangunan tertinggi di desa Matani Satu sebesar 137 bangunan/ha.Kata Kunci : Morfologi, Permukiman, Pesisir.
ANALISIS KESESUAIAN PEMANFAATAN LAHAN TERHADAP RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN MERAUKE Haurissa, Destela; Rondonuwu, Dwight M.; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Distrik Merauke merupakan wilayah dengan tingkat perkembangan yang cukup pesat karena merupakan kawasan strategis yang disebabkan keberadaanya pada perbatasan antar negara serta kondisi kawasan yang landai sehingga peninggkatan pembangunan sangat cepat. Distrik Merauke mengalami peningkatan jumlah penduduk yang cukup pesat dari tahun ketahun, peningkatan ini menyebabkan peningkatan akan kebutuhan lahan. Dalam upaya pengendalian pemanfaatan lahan di yang terbatas perlu dilakukan monitoring dan evaluasi agar dapat diperoleh kesesuaian pemanfaatan lahan yang sesuai dengan rencana pemanfaatan lahan.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan lahan pada bagian wilayah perkotaan Merauke serta menganalisis kesesuaian pemanfaatan lahan tahun 2019 terhadap rencana pemanfaatan lahan dalam Rencana Detail Tata Ruang kawasan Perkotaan Merauke Tahun 2017-2037. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan menggunakan teknik analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS). Hasil overlay menggunakan GIS antara peta pemanfaatan lahan eksisting tahun 2019 dan peta perencanaan pemanfaatan lahan pada RDTR Kawasan Perkotaan Merauke Tahun 2017-2037, maka diperoleh peta kesesuaian pemanfaatan lahan. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh identifikasi pemanfaatan lahan pada kawasan perkotaan Merauke diperoleh pemanfaatan lahan dengan zona ruang terbuka hijau merupakan kawasan dengan luasan terbesar yaitu seluas 2878,86 ha atau 41,02% dari luas kawasan perkotaan Merauke. Sedangkan kesesuaian pemanfaatan lahan diperoleh kesesuaian pemanfatan lahan kawasan perkotaan Merauke dengan kriteria sesuai  seluas 5001,90 ha atau 73,39%, kriteria belum sesuai seluas 1553,31 ha atau 22,79%  sedangkan kriteria tidak sesuai 260,21 ha atau 3,82%  dari luas kawasan perkotaan Merauke.Kata Kunci : Lahan, Pemanfaatan Lahan, Kesesuaian Lahan, RDTR
IDENTIFIKASI IDENTIFIKASI KAWASAN RAWAN BANJIR DI AMURANG KABUPATEN MINAHASA SELATAN Duwila, Nurul Mentari; Tilaar, Sonny; Warouw, Fela
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Amurang berada di pesisir dan memiliki kondisi wilayah berbukit dengan kelerengan bervariasi antara 0-45%. Wilayah Amurang juga termasuk salah satu wilayah yang berkembang dengan jumlah penduduk yang setiap harinya meningkat serta memiliki berbagai macam kegiatan perkotaan yang menyebabkan kebutuhan akan ruang meningkat. Sebagai dampak dari perkembangan wilayah yang cukup pesat ini, terjadilah perubahan kondisi lahan. Di dalam RTRW Kabupaten Minahasa Selatan tahun 2014-2034 kawasan rawan banjir di wilayah Kabupaten Minsahasa Selatan yang dimaksud adalah banjir yang dapat terjadi selama atau setelah hujan lebat. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis tingkat kerawanan banjir dan memetakan kawasan rawan banjir di Amurang Kabupaten Minahasa Selatan. Penelitian Ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis spasial dengan bantuan alat analisis GIS (Geography Information system) dan analisis scoring. Dalam menganalisis tingkat kerewanan banjir di Amurang Kabupaten Minahasa Selatan menyajikan hasil overlay dimana tingkat kerawanan tinggi paling banyak tersebar di Kecamatan Amurang Barat seluas 134,71 Ha meliputi 6 Desa yaitu Rumoong Bawah, Elusan, Kapitu, Pondos, Teep dan Tewasen. Disusul Kecamatan Amurang seluas 126,96 Ha meliputi 6 Desa Yaitu Buyongon, Bitung, Lewet, Ranoyapo, Uwuran Satu, Uwuran Dua dan yang paling sedikit adalah Kecamatan Amurang Timur seluas 94,21 Ha meliputi 4 desa yaitu Kota Menara, Lopana, Pondang, Ranomea. Kata Kunci : Banjir, Tingkat Kerawanan, Amurang
ANALISIS PENGGUNAAN LAHAN DI PULAU TERNATE Sarihi, Yan Rezki; Tilaar, Sonny; Rengkung, Michael M
SPASIAL Vol 7, No 3 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan wilayah di Pulau Ternate terus terjadi dari hari ke hari secara dinamis bersamaan dengan perkembangan jumlah penduduk dan aktivitas penduduk. Adanya pertumbuhan penduduk akan mengakibatkan meningkatnya permintaan lahan yang dipergunakan untuk menyelenggarakan kegiatan.Sementara lahan merupakan sesuatu yang bersifat terbatas, hal ini tentu saja akan menimbulkan persaingan dan konflik kepentingan dalam pemanfaatannya di antara penggunaan lahan kota.Oleh karena itu penelitian ini dilakukan  untuk melihat bagaimana kesesuaian antara rencana penggunaan lahan dengan penggunaaan lahan  yang terjadi  di lapangan . Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penggunaan lahan di kota ternate serta menganalisis penggunaan lahan tahun 2019 terhadap rencana penggunaan lahan dalam Rencana Tata Ruang WilayahKota TernateTahun 2010-2030. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara deskriptif kualitatif dan metode spasial, Analisis penggunaan lahan dilakukan dengan teknik tumpang tindih atau overlay antara data spasial yang berupa peta – peta yang dibuat dengan data atribut sebelumnya.Dari hasil penenltian disimpulkan menjadi 2 dari hasil identifikasi eksisting terdapat klarifikasi penggunaan lahan terbesar yaitu penggunaan lahan perkebunan seluas 4829,93 Ha dan terkecil untuk lahan kawasan bakau 1.73 Ha serta dari hasil analisis overlay terdapat beberapa ketidak sesuaian pada kondisi eksisting dan RTRW Kota Ternate Tahun 2010-2030 dengan luas 148.26 Ha yang terbagi pada wilayah kecamatan Pulau Ternate dengan luas  51.31 Ha, wilayah Kecamatan Ternate Barat dengan luas 46.25 Ha, wilayah Kecamatan Ternate Selatan dengan luas 21.59 Ha, wilayah Ternate Tengah dengan luas 11.16 Ha, wilayah Ternate Utara dengan luas 7.31 Ha.Kata Kunci : Penggunaan Lahan, Perubahan Fungsi Lahan
ANALISIS KAWASAN PARIWISATA PESISIR PANTAI DI KECAMATAN KOMBI KABUPATEN MINAHASA Dapas, Gisella A; Tilaar, Sonny; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata cukup dominan sebagai penggerak pembangunan di Indonesia dan telah memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat dan pemerintah. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara khususnya di Kecamatan Kombi memiliki kawasan objek wisata alam pantai yang indah namun belum terekspos dan terkelola dengan baik khususnya pada aspek prasarana dan sarana pariwisata. Berdasarkan hal itu maka dilakukan analisis mengenai kondisi prasarana dan sarana pada objek wisata di Kecamatan Kombi. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan kawasan pariwisata pesisir pantai menggunakan analisis SWOT untuk menentukan kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang, serta strategi pengembangan kawasan wisata pesisir pantai sesuai dengan variabel-variabel pariwisata yang ada. Metode analisis menggunakan pedoman analisis daya tarik objek wisata alam (ODTWA) sebagai pedoman dalam menetapkan skala prioritas pengembangan objek daya tarik wisata (ODTWA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi prasarana dan sarana masih perlu ditingkatkan; faktor-faktor internal dan external analisis pengembangan kawasan wisata pesisir pantai di Kecamatan Kombi dengan strategi pengembangannya yaitu mempromosikan wisata; memanfaatkan fasilitas yang sudah ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan; dan pelatihan untuk masyarakat dalam pengelolaan objek wisata.Kata Kunci:Analisis, Kecamatan Kombi Pariwisata, Pesisir Pantai, SWOT
EVALUASI KETERSEDIAAN PRASARANA DAN SARANA PARIWISATA DI KAWASAN WISATA PANTAI BUNGA INDAH DESA KUHANGA Asmudrono, Rani Karenina; Tilaar, Sonny; Suryono, Suryono
SPASIAL Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai..Bunga Indah Desa Kuhanga merupakan salah satu objek wisata alam di Sulawesi Utara tepatnya di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Kecamatan Bintauna yang mempunyai karakteristik wisata alam tersendiri, akan tetapi pesona keindahan wisata yang ada di Pantai Bunga Indah Desa Kuhanga  masih belum cukup memaksimalkan fungsi lokasi wisata tersebut, akibat sarana dan prasarana yang belum maksimal ketersediaan dan kegunaannya. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi kondisi prasarana dan sarana wisata kemudian mengevaluasi tingkat ketersediaan prasarana dan sarana wisata yang ada di Pantai Bunga Indah Desa Kuhanga. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekunder seperti survey  instansional, dan data primer dibutuhkan untuk menyempurnakan data sekunder dengan observasi dan membagikan kuesioner ke pihak-pihak yang terkait, tahap berikutnya untuk mengetahui karakteristik prasarana dan sarana yang ada di lokasi wisata Pantai Bunga Indah Desa Kuhanga dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif  kemudian dilanjutkan dengan analisis skala likert untuk melihat tingkat ketersediaan prasarana dan sarana wisata. Setelah dilakukan analisis dan diketahui hasil untuk  ketersediaan jaringan Internet adalah 94,4%, jalan yaitu 84%, listrik 78,8% , air bersih 30,8% , pos keamanan 89,2%, dermaga 20% pusat informasi wisata 20%, penunjuk arah 20%, papan selamat datang 75,40%, transportasi umum 71,20%, penginapan 67,20%, masjid/mushola 89,60%, restaurant/rumah makan 59,20%, toko souvenir 20%, toilet umum 47,20%, tempat duduk 72%, tempat sampah 57,69%. Untuk itu dalam meningkatkan kualitas kawasan wisata Pantai Bunga Indah Desa Kuhanga, sangat perlu dioptimalkan penyediaan  prasarana dan sarana wisata demi menunjang keberlangsungan kegiatan wisatawan ketika berada di kawasan wisata Pantai Bunga Indah Desa Kuhanga ini.Kata Kunci : Prasarana dan sarana wisata; Pantai Bunga Indah
ANALISIS KETERJANGKAUAN MASYARAKAT TERHADAP PASAR TRADISIONAL DI KOTA MANADO Fanataf, Patrisius A; Tilaar, Sonny; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran pasar tradisional masih sangat penting bagi masyarakat, karena pasar tradisional merupakan salah satu tempat untuk manusia berbelanja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu kebutuhan pangan dan sandang. Berdasarkan data dari PD Pasar Kota Manado, diketahui bahwa terdapat 6 pasar tradisional yang dikelola oleh pemerintah daerah yaitu Pasar Bersehati, Pasar Pinasungkulan, Pasar Orde Baru, Pasar Tuminting, Pasar Bahu dan Pasar Bobo. Dari 11 kecamatan yang ada, hanya terdapat 6 kecamatan yang memiliki pasar tradisional tersebut dengan rata-rata lebih dari 30.000 penduduk. Berarti bahwa persebaran pasar di Kota Manado tidak proporsional dan lokasi pasar yang jaraknya saling berdekatan serta radius pelayanannya yang saling tumpang tindih dan adanya kondisi fisik pasar serta kelengkapan fasilitas pasar yang bebeda-beda menyebabkan terjadinya preferensi konsumen juga berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan pasar tradisional dan menganalisis keterjangkauan masyarakat terhadap pasar tradisional. Metode yang digunakan adalah metode campuran yaitu kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data yaitu data primer dengan observasi lapangan dan kuesioner kepada masyarakat dibeberapa kecamatan penelitian dan data sekunder dari tinjauan pustaka dan survei lembaga terkait. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster sampling namun tetap menggunakan stratified random sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan alat bantu SPSS 21, analisis deskriptif kualitatif dan analisis spasial dengan alat bantu software arcgis 10.3 (Buffering). Dari tahapan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa ke Enam pasar tradisional yang ada di Kota Manado tidak hanya melayani daerah dimana pasar tradisional tersebut berada melainkan dapat juga melayani daerah lain di sekitarnya. Berdasarkan radius standar pelayanan pasar tradisional terdapat 4 pasar berskala kelurahan yang memiliki jangkauan pelayanan lebih luas dari radius jangkauan pelayanan standar 2000 M. Hasil analisis pada beberapa aspek sperti rata-rata waktu tempuh konsumen menuju pasar didominasi oleh 10-30 menit (cukup sesuai). Rata-rata Transportasi yang digunakan di dominasi oleh kendaran pribadi. Adanya daya beli masyarakat yang meningkat, tersedianya kebutuhan yang beragam, harga yang terjangkau, produk yang berkualitas. Kemudian lokasi yang strategis, jarak yang dekat dan akses yang memadai, kondisi jalan sangat baik, bersih dan luas, tersedia angkutan umum dengan rute pasar tradisional, efektifitas dan efisiensi berbelanja dan sangat minimnya ketersediaan tempat parker (luas, aman dan tertata). Kondisi fisik pasar yang bersih, tertata, aman dan nyaman serta rata-rata memiliki sarana fasilitas pendukung. Rata-rata tempat tinggal konsumen jauh dari rute pelayanan angkutan umum, sebagian menggunakan transportasi umum dan tidak mengganti rute pelayanan serta tidak mengganti kendaraan di terminal, selalu terjadi kemacetan lalulintas dan keberadan terminal di lokasi pasar tradisional. Rata-rata pasar tradisonal melayani sebagian besar daerah permukiman dan melayani daerah kepadatan penduduk tinggi, sedang dan rendah.Kata Kunci : Pasar Tradisional, Keterjangkauan Masyarakat, Kota Manado
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN AGROWISATA SALAK DI PULAU TAGULANDANG KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO Raule, Reveena Djaenny; Sela, Rieneke; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 7, No 3 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten kepulauan Siau Tagulandang Biaro merupakan daerah yang memiliki komoditas unggul buah salak dan merupakan satu hal penting dalam sektor pertanian. Pengembangan agrowisata kebun salak yang menjadi lokasi penelitian di kecamatan Tagulandang Utara di 5 desa yaitu desa Bawo, Bawoleu, Lumbo, Minanga, dan Wo. Perkebunan salak dikelola oleh masyarakat lokal, hasil produksinya dipasarkan berupa panen mentah dan belum ada pengelolaan pasca panen serta pengembangan partisipatif untuk kegiatan wisata, hal ini sangat diharapkan oleh masyarakat sebagai pendorong kelestarian budidaya salak dan promosi potensi pariwisata. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi bentuk partisipasi dan prinsip-prinsip agrowisata dalam pengembangan agrowisata salak dan menganalisis tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan agrowisata salak. Metode penelitian adalah analisis deskriptif dan kuantitatif dengan melakukan analisis Skala likert. Hasil penelitian mengidentifikasi bentuk partisipasi hasilnya adalah berpartisipasi memberikan pikiran, dan terdapat di desa Minanga, untuk hasil mengidentifikasi prinsip-prinsip agrowisata adalah berpartisipasi menekan serendah-rendahnya dampak negatif terhadap alam dan kebudayaan, dan terdapat di desa Bawoleu. Hasil analisis tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan agrowisata salak berada pada tingkat kedua yaitu cukup berpartisipasi. Kata Kunci : Agrowisata Salak, Partisipasi Masyarakat, Skala Likert
STUDI PENENTUAN TINGKAT KEKUMUHAN DAN SKALA PRIORITAS PENANGANAN PERMUKIMAN KUMUH DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN Tangkudung, Theogive Hosea; Tilaar, Sonny; Sela, Rieneke L.E.
SPASIAL Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

South Bolaang Mongondow is one of the regencies located in North Selawesi Province which is one of the regencies that is growing rapidly. Along with the increase in population, inadequate infrastructure, facilities and public utilities have resulted in many people in this district living in places that do not meet the standards, which are slums. Slum areas in South Bolaang Mongondow Regency according to the 2016 South Bolaang Mongondow Regency slum decree, there are 23 villages that are included in slum areas, these slums have three classifications, namely, heavy slums, medium slums and light slums. Based on this classification, it is combined with land status and other considerations so that a priority scale for handling slum settlements can be drawn up and how the pattern of handling slum settlements in Bolaang Mongondow Selatan Regency can be. The method used is a multi-criteria analysis method with 9 indicators, namely building conditions, environmental road conditions, environmental drainage conditions, drinking water supply conditions, wastewater management conditions, waste management conditions, fire protection conditions and land status and other considerations. Based on the results of the study, it was found that 16 villages would be treated with a rejuvenation pattern, 1 village would be resettled and 6 villages would be treated with a restoration pattern.Keyword  : Slums, Slum Level, Priority Scale, slum settlement pattern
Co-Authors Alexander M. P. Dalawir Alfath S.N. Syaban Alfonsa Londar, Alfonsa Ali, Sadam Aling, Faleri M. Alvin J. Tinangon Amanda Sembel Andi A. M. Malik Andy A. Malik Apriska G Djalil, Apriska G Asmudrono, Rani Karenina Astrid Iske R. R. Rawung Christina Seredity Cyntha Tendean Dapas, Gisella A Djati, Theresia Silvana Samba Duwila, Nurul Mentari Dwight M Rondonuwu, Dwight M Dwight M. Rondonuwu Esli D Takumansang Fanataf, Patrisius A Fela Warouw Fella Warouw Frits O. P. Siregar Frits O.P. Siregar Gobel, Ananda Van Gunawan Tamboeo, Gunawan Gunena, Andrey Roland Gunena, Cheintya Gwijangge, Lipen Hanny Poli Haurissa, Destela Hendriek H Karongkong Hendriek H. Karongkong Hendriek Karongkong, Hendriek Husin, Pratiwi Indriani, Reggi Ingerid L Moniaga, Ingerid L Ingerid Moniaga Jefrey I. Kindangen Jermias, Agatha Kirey Jikwa, Natalia Rossalia Johansz, Devid Abraham Josie Geraldy Meray, Josie Geraldy Judistia S. Makarau, Judistia S. Judy O Waani Judy O. Waani Kalimpung, Gloria J. Kartika R. Basarang, Kartika R. Katuuk, Rionald Jourdan Kumaseh, Martalita M. Kumolontang, Melita Lefrandt, Lucie I. R. Lestari, Nadira Astuti Linda Tondobala Lomban, Gracella Patricia Lucky Ridel Aruperes, Lucky Ridel Malik, Andy Anton Mangopa Manabung, Patrick I. I. Mareike Runtu Masloman, Kayla Maukar, Amanda Maychard M Pelambi, Maychard M Mentari Ngodu, Mentari Michael M Rengkung, Michael M Mirah, Edbert M Moh Yushar Fadhly, Moh Yushar Mokolensang, Falentino Muhammad Syahri Paputungan Ndari, Putriana A. Octavianus Hendrik Alexander Rogi Pangau, Christania M. Pangauw, Kindly Anugerah Imanuel Pangkey, Oksilina Papia J. C. Franklin Papia J.C. Franklin Peggy Egam Peter N. Y. P. Sumual, Peter N. Y. P. Pierre H Gosal, Pierre H Pierre H. Gosal Pinangkaan, Karfel Pontoh, Muh Reza Novian Prof. Sangkertadi Rachmat Prijadi Rachmatullah, Michael Raule, Reveena Djaenny Raymond Ch Tarore, Raymond Ch Raymond Ch. Tarore Rieneke L Sela, Rieneke L Rieneke L. E. Sela Rieneke L.E. Sela Rieneke Sela Riza S. E. Suot Romel R. Pandei Roosje J. Poluan Rumagit, Eliska S.G. Rungkat, Cindy F. Sakul, Fianna G. Sammy Piris Sangkertadi -, Sangkertadi Sarihi, Yan Rezki Satolom, Andre P. Sela, Rieneke Lusia Evani Sembel, Amanda S Sibula, Devid Silangen, Marcelino Gerry Sillia, Iskandar - Simaela, David Heryyanto Siregar, Frits Steven Lintong Surijadi Supardjo Surjadi Supardjo Suryadi Supardjo, Suryadi Suryono Suryono Susanto, Wahyu N. Syahrul, Syahril Tambajong, Gifly Jeremy Tambbotto, Syalom W. Tangkudung, Theogive Hosea Tarore, Raymond Tiara Putri Ananta Poli, Tiara Putri Ananta Tilaar, Natalia Tujuwale, David Hizkia Vicky H. Makarau Walandouw, Daniel Walandouw, Daniel Windy Mononimbar