Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Differences in Hemoglobin Levels 6 Hours and 24 Hours After Packed Red Cells Transfusion Surawijaya Bakhtiar Kaslam; Usi Sukorini; Teguh Triyono
INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY Vol. 30 No. 2 (2024)
Publisher : Indonesian Association of Clinical Pathologist and Medical laboratory

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24293/ijcpml.v30i2.2093

Abstract

The hemoglobin examination instructed by Dr. Sardjito General Hospital attending doctors was 6 hours after the PRC transfusion. It is recommended that a hemoglobin examination be carried out 24 hours after transfusion to determine the patient's hemoglobin after complete equilibrium occurs. This study aimed to determine the mean increase in Hb levels 6 hours and 24 hours after PRC transfusion and to examine the difference in Hb levels 6 hours and 24 hours after PRC transfusion, respectively, compared with baseline Hb levels in non-hematological malignancy patients. This prospective analytic observational study examined hemoglobin at 6 hours and 24 hours after PRC transfusion. The differential test between delta Hb levels 6 hours after PRC transfusion compared to baseline Hb levels and delta Hb levels 24 hours after PRC transfusion compared to baseline Hb levels were analyzed using paired T-test. There was a statistically significant difference between baseline Hb levels and Hb levels 6 hours after PRC transfusion (p<0.0001) and a statistically significant difference between baseline Hb levels and Hb levels 24 hours after PRC transfusion (p<0.0001). The differential test between delta Hb levels 6 hours after PRC transfusion compared to baseline Hb levels and delta Hb levels 24 hours after PRC transfusion compared to baseline Hb levels obtained a statistically significant difference (p=0.0024). The mean increase in hemoglobin was 1.76+0.78 g/dL 6 hours after PRC transfusion and 1.9+0.78 g/dL 24 hours after PRC transfusion. There were differences in delta Hb levels 6 hours and 24 hours after PRC transfusion, respectively, compared with baseline Hb levels in non-hematological malignancy patients, which were statistically significant but not clinically significant.
Turnaround time for the provision of packed red cells (PRC) and factors affecting their achievements in the Blood Transfusion Unit of Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta Kaslam, Surawijaya Bakhtiar; Sukorini, Usi; Triyono, Teguh
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 55, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19106/JMedSci005503202304

Abstract

Turnaround time (TAT) is defined as the time it takes since request/sample is received at the blood bank until blood is cross-matched/reserved and available for transfusion. Turnround time prolongation affects patient care and satisfaction. This study aimed to evaluate TAT for the provision of packed red cells (PRC) at the Blood Transfusion Unit of Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta, analyze factors affected in TAT prolongation, and provide solution the prolongation.  It was an analytical descriptive study with a qualitative design, by calculating the time since receipt of the PRC request at the Blood Transfusion Unit or since blood collection from donors until data input of the crossmatch results in Dr. Sardjito General Hospital management information system (SIMETRIS) completed. Moreover, the  delay in the provision of PRC at the Blood Transfusion Unit was also analyzed. There were 3 (1.5%) of 200 ER samples that met TAT for the provision of the PRC, which was 30 min after receipt of the request at the Blood Transfusion Unit in cito conditions. There were 20 (10%) of 200 samples from the wards that met TAT for the provision of the PRC, which was 2 h after receipt of the request at the Blood Transfusion Unit if the blood stock was available. There were 55 (27.5%) of 200 samples from the wards that met TAT for the provision of the PRC, which was 4 h after the blood was collected from the donor. TAT for the provision of the PRC at the Blood Transfusion for the available blood stock group was 179.08 (67.2 – 396.27) min, replacement blood donor group was 485.38 (126.43 – 910.68) min, and cito group was 121.29 (27.68 – 421.38) min. In conclusion, there is TAT prolongation of PRC provision at the Blood Transfusion Unit of Dr. Sardjito General Hospital.
RANCANGAN PENGABDIAN DALAM PEMBUATAN TEMPAT TIDUR TINGKAT TERINTEGRASI MEJA BELAJAR DI PONDOK PESANTREN Surojo, Eko; Triyono, Teguh; Muhayat, Nurul; Chamim, Moch; Margono, Bambang; Triyono
Abdi Masya Vol 1 No 3
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52561/abma.v1i3.143

Abstract

Pondok Pesantren adalah salah satu jenis tempat pendidikan formal maupun non formal yang selain memberi materi pelajaran agama juga mengajarkan adab hidup sehari-hari sehingga siswa/santri harus menginap di asrama selama proses pendidikan. Untuk itu, selain sarana prasarana pendidikan, pondok pesantren juga harus menyediakan sarana prasarana kehidupan sehari-hari seperti kamar dan tempat tidur, dapur, sarana olah raga dan lain sebagainya. Karena keterbatasan lahan dan bangunan, satu ruang asrama biasanya dihuni oleh 30-40 santri dengan menggunakan tempat tidur bertingkat. Karena ruang kamar asrama yang kurang memadai, santri biasanya belajar, membaca, mengerjakan Tugas Sekolah di atas tempat tidur. Untuk memberi kenyamanan dalam belajar santri, maka meja belajar yang dirancang terintegrasi dengan tempat tidur untuk menghemat ruang sangat penting untuk dilakukan. Rancangan tempat tidur tingkat terintegrasi dengan meja belajar berbahan dasar baja siku yang bisa dibongkar pasang dengan mudah karena system sambungannya dengan mur-baut. Alas tidur bagian bawah bisa dipisah setengah, lalu dilipat ke arah tiang tempat tidur dan meja belajar bisa didapatkan dengan membuka lipatan berikutnya. Desain ini digunakan untuk program pengabdian yang melibatkan kerjasama bengkel las Sumber Rejeki desa Sawahan, Jaten dan Pondok Pesantren Wirausaha Masjid Fatimah Ar Royyan desa Jongkang, Buran, Karanganyar.
IMPLEMENTASI TEACHING FACTORY DI PONDOK PESANTREN WIRAUSAHA FATIMAH AR-ROYYAN KARANGANYAR Surojo, Eko; Triyono, Teguh; Cahyono, Sukmaji Indro; Muhayat, Nurul; Triyono, Triyono
Abdi Masya Vol 1 No 4
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52561/abma.v1i4.185

Abstract

Pondok Pesantren Wirausaha Fatimah Ar-Royyan mengajarkan teori dan praktek kepada santri-santrinya agar mampu mandiri berwirausaha. Selama proses belajar mengajar, hasil praktek santri baik kain maupun kertas tidak termanfaatkan dengan baik dan lebih banyak yang menjadi sampah, padahal biaya BHP (Bahan Habis Pakai) praktek desain grafis dan sablon cukup tinggi. Oleh karena itu, penerapan konsep teaching factory pada pondok pesantren ini sangat penting. Implementasi teaching factory adalah dengan menjadikan materi pelajaran praktek santri sebagai pengerjaan pesanan dari pelanggan atau produk yang bisa dijual. Langkah-langkah penerapan konsep teaching factory adalah sebagai berikut: (1) memberi pelatihan dan pendampingan konsep teaching factory, (2) merancang bangun alat-alat sablon kaos, (3) memberi bantuan fasilitas desain grafis, (4) menguruskan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), (5) merancangkan logo, iklan, materi promosi dan papan nama. Hasil implementasi teaching factory, Kegiatan Belajar Mengajar di Pondok Pesantren Wirausaha Fatimah Ar-Royyan bisa menghemat BHP bahkan bisa menghasilkan keuntungan finansial. Dengan keuntungan finansial ini, Pondok Pesantren Wirausaha Masjid Fatimah Ar Royyan bisa tetap gratis dan bisa meningkatkan kapasitas santrinya sehingga semakin banyak pemuda-pemuda putus sekolah dan dari keluarga tidak mampu bisa menimba ilmu keterampilan dan kewirausahaan.
PENGEMBANGAN MANUFAKTUR JUNGKAT JUNGKIT DI TAMAN MEKARSARI BOYOLALI UNTUK WISATA ANAK Triyono, Triyono; Muhayat, Nurul; Triyono, Teguh; Cahyono, Sukmaji Indro; Ubaidillah, Ubaidillah; Arifin, Zainal; Prasetyo, Singgih Dwi
Abdi Masya Vol 4 No 2
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52561/abma.v4i2.294

Abstract

Kelompok Tani Dukuh (POKTAN) Mekarsari mendirikan Taman Mekarsari di Desa Kaligentong, Boyolali yang dulunya merupakan tempat pembuangan sampah. Mekarsari telah diubah menjadi tujuan wisata dengan tiga tujuan utama. Pertama adalah untuk menjaga sungai dan ekologinya, termasuk flora dan satwa liarnya, sehingga dapat terus menjadi tumpuan kehidupan pedesaan. Tujuan kedua adalah sebagai tempat hiburan warga, pendidikan sains dan alam, serta pengembangan seni dan budaya daerah. Sedangkan tujuan terakhir adalah merevitalisasi ekonomi lokal dengan menyelenggarakan pasar rakyat di kawasan wisata. Permasalahan yang dihadapi masyarakat khususnya kelompok tani terutama yang terlibat langsung dalam pengelolaan Taman Wisata Mekarsari adalah tidak adanya lahan kosong untuk anak-anak bermain dan belajar. Taman bermain prasekolah membantu anak-anak bergerak dan bermain. Bermain di taman bermain dapat memberikan banyak manfaat perkembangan bagi anak, antara lain belajar dan melatih keterampilan sejak usia dini. Saat merencanakan taman bermain anak-anak, seseorang harus mempertimbangkan aspek berwujud dan tidak berwujud. Banyak taman bermain prasekolah yang telah dibuat selama ini, namun kebanyakan berfokus pada faktor keamanan daripada manfaat perkembangan bagi anak. Pengabdian ini dilaksanakan pada taman Mekarsari dengan pembuatan wahana taman bermain berupa ayunan jungkat jungkit. Malalui wahana ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan keberanian untuk menghadapi suatu hal yang baru. Koordinasi dan keseimbangan lagi-lagi dibutuhkan saat bermain jungkat-jungkit. Tak hanya itu dengan bermain permainan ini anak-anak juga belajar saling bekerja sama satu sama lain.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS IHRISH CREATIVE STUDIO DENGAN DIVERSIFIKASI PRODUK Triyono; Surojo, Eko; Muhayat, Nurul; Triyono, Teguh; Cahyono, Sukmaji Indro; Margono, Bambang
Abdi Masya Vol 5 No 2
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52561/abdimasya.v5i2.381

Abstract

Ihrish creative studio merupakan usaha rintisan yang terletak di dusun Jongkang, Tasikmadu, Karanganyar. Usaha rintisan ini didirikan seorang pemuda yang merupakan mantan anak jalanan. Pemuda ini masuk di Pondok Pesantren Wirausaha yang dikelola oleh Yayasan Usaha Umat Karanganyar dan mendirikan Ihrish creative studio dengan modal seadanya. Saat ini, usaha rintisan ini telah berumur kurang lebih 1 tahun dan mendapat Nomor Izin Berusaha (NIB) tanggal 22 Juli 2022. Lingkup kegiatan ekonomi Ihrish creative studio adalah jasa desain dan cetak MMT, layout buku dan kalender, dan sablon kaos. Sebagaimana lazimnya usaha rintisan, pelaku usaha ini masih mencari format usaha yang sesuai bagi unit usahanya. Pelaku usaha dalam level ini akan melakukan trial dan error sambil mengevaluasi besarnya modal dan keuntungan untuk memperlancar pengembangan usaha. Tim PKM UNS melihat usaha rintisan Ihrish creative studio ini perlu diarahkan untuk meningkatkan produktivitasnya dengan cara diversifikasi produk yaitu memperbanyak jenis usaha sehingga bidang usaha menjadi lebih luas dan kemungkinan mendapat konsumen akan lebih besar. Langkah-langkah tim PKM UNS adalah sebagai berikut: (1) memberi pelatihan dan pendampingan konsep desain dan percetakan, (2) merancang bangun alat-alat cetak selain alat sablon kaos (sablon lengan kaos, sablon mug dan gelas, sablon payung), (3) memberi bantuan fasilitas desain grafis, (5) merancangkan iklan, materi dan media promosi. Hasil pelaksanaan PKM ini mampu meningkatkan sustainability (keberlangsungan) Ihrish creative studio dengan tambahan keuntungan finansial. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata nilai omset pada 2 bulan setelah selesainya program ini yang meningkat 25% dari 2 bulan sebelumnya. Dengan stabilnya usaha ini, keuntungan sosial yang diperoleh adalah pemilik Ihrish creative studio yang awalnya anak jalanan akan istiqomah/tetap pendiriannya untuk tetap melakukan usaha ekonomi yang layak. Selain itu, jika Ihrish creative studio menjadi perusahaan besar, pemiliknya dapat menjadi teladan bagi anak-anak jalanan yang lain atau dapat memberi lowongan pekerjaan bagi teman-teman anak jalanan.
MANUFAKTUR MESIN PEMIPIL JAGUNG UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIFITAS KELOMPOK PETANI SUBER REJEKI II KECAMATAN JUMANTONO KABUPATEN KARANGANYAR Akbar, Hammar Ilham; Triyono, Teguh; Pramudi, Ganjar
Jurnal Abdikarya: Jurnal Karya Pengabdian Dosen Dan Mahasiswa Vol. 08 No. 01 Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/abdikarya.v8i01.11547

Abstract

Kelompok Usaha Tani Sumber Rejeki II berlokasi di Dk. Kleco RT 4 RW 3, Ds. Sambirejo, Kec. Jumantono, Kab. Karanganyar, Prov. Jawa Tengah. Fokus utama kelompok ini adalah pengembangan usaha pertanian, khususnya dalam produksi jagung. Pentingnya jagung sebagai komoditas pangan kedua setelah beras membuat kebutuhan jagung meningkat seiring pertambahan penduduk dan perkembangan industri pakan. Di Indonesia, produksi jagung pada tahun 2021 mencapai 23.042.764,84 ton, dengan dominasi wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Namun, di Desa Sekembang, Jumantono, kelompok menghadapi permasalahan dalam proses pemipilan jagung. Petani jagung di daerah tersebut masih menggunakan alat sederhana, terutama pemipilan secara manual atau dengan tangan. Proses manual membutuhkan waktu yang relatif lama, menghasilkan jagung pipilan dalam jumlah yang terbatas, dan menyebabkan kelelahan dan keluhan tangan yang sakit. Meskipun ada mesin pemipil jagung mekanis, petani di daerah tersebut kesulitan mengaksesnya karena harga yang mahal dan kapasitas yang umumnya lebih besar dari yang diperlukan oleh petani kecil. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kelompok mengidentifikasi kebutuhan akan mesin pemipil jagung dengan kapasitas kecil atau rendah yang dapat membantu petani meningkatkan hasil pipilan jagung dengan biaya yang lebih terjangkau. Mesin tersebut diharapkan dapat menggantikan metode manual yang tidak efektif. Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, kelompok menciptakan dan merancang mesin pemipil jagung semi-mekanis. Mesin ini menggunakan teknologi sederhana dan dapat membantu petani dalam penanganan pascapanen jagung.
PENGARUH PERLAKUAN PANAS SERAT TERHADAP SIFAT TARIK SERAT TUNGGAL DAN KOMPOSIT CANTULA-rHDPE Fathoni, Akhmad; Raharjo, Wijang Wisnu; Triyono, Teguh
Simetris: Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol 8, No 1 (2017): JURNAL SIMETRIS VOLUME 8 NO 1 TAHUN 2017
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1392.308 KB) | DOI: 10.24176/simet.v8i1.818

Abstract

Sifat komposit ditentukan oleh sifat serat, matrik, dan ikatan yang terbentuk antara serat dan matrik. Peningkatan sifat serat serta komposit dapat dilakukan dengan perlakuan panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh perlakuan panas terhadap sifat tarik serat dan komposit. Pada penelitian ini, perlakuan panas serat dilakukan selama 10 jam dengan variasi temperatur 100°C, 120°C, 140°C dan160°C. Pembuatan spesimen serat tunggal mengacu pada American Standard Testing and Material C1557. Pembuatan komposit dilakukan dengan metode tekan panas.  Parameter proses yang  dipilih meliputi temperatur 150°C, waktu penahanan 25 menit dan tekanan pengepressan 50 bar. Pengujian yang dilakukan terdiri dari uji tarik serat tunggal dan uji tarik komposit. Selain itu, pengamatan permukaan serat dan ikatan antar muka serat-matrik dilakukan menggunakan scanning electron microscope. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekuatan tarik serat dan komposit mengalami peningkatan pada perlakuan panas serat sampai dengan 140°C selama 10 jam dan akan menurun pada perlakuan panas diatasnya.
DIFFERENCES OF APOLIPOPROTEIN A1 AND APOLIPOPROTEIN B LEVELS IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS (T2DM) PATIENTS WITH DIABETIC RETINOPATHY AND WITHOUT DIABETIC RETINOPATHY hanifah, shabrina; Agni, Angela Nurini; Mahayana, Indra Tri; Suhardjo, Suhardjo; Triyono, Teguh
International Journal of Retina Vol 4 No 2 (2021): International Journal of Retina (IJRetina) - INAVRS
Publisher : Indonesian Vitreoretinal Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35479/ijretina.2021.vol004.iss002.153

Abstract

Introduction Apolipoprotein A1 are antiatherogenic in blood serum and have an anti-inflammatory while Apolipoprotein B describes a protein structure that is potentially atherogenic.. Meanwhile, the inflammatory process plays a role in the diabetic retinopathy process. The aim of this study was to determine whether there were differences in the levels of apolipoprotein A1 and B in diabetic retinopathy patients and without diabetic retinopathy. Methods: This study used a cross sectional design. The subjects of this study were type 2 diabetes mellitus patients with diabetic retinopathy and without diabetic retinopathy at Dr. Sardjito General Hospital from July to September 2020. Subjects consisted of 32 patients in the group with diabetic retinopathy and 31 patients without diabetic retinopathy. The levels of apolipoprotein A1 and apolipoprotein B were analyzed using independent T test. The factors affecting apolipoprotein A1 and apolipoprotein B were analyzed using multiple regression tests. Result: There were no significant differences (p> 0.05) in age, gender, duration of diabetes, HDL, triglycerides, HbA1c, BMI, physical activity, and smoking history. The mean apolipoprotein A1 level in the diabetic retinopathy group was 1.46 ± 0.177 mg / dL higher than the non-diabetic retinopathy group, namely 1.44 ± 0.27 mg / dL (p = 0.699). The mean level of apolipoprotein B in the diabetic retinopathy group was 1.26 ± 0.289 mg / dl higher than the non-diabetic retinopathy group 1.01 ± 0.26 mg / dL (p = 0.001). The mean LDL levels were 162.5 ± 48.38 mmol / L in the diabetic retinopathy group and 127 ± 38.45 mmol / L in the group without diabetic retinopathy (p = 0.012). Conclusion: Apolipoprotein B levels were found to be higher in the group with diabetic retinopathy than in the group without diabetic retinopathy and there was a significant difference between the two assumed due to an atherogenic process in the diabetic retinopathy group. Further research is needed to assess the causal relationship between elevated levels of Apo B and the incidence of diabetic retinopathy by calculating the ratio of apolipoprotein B to apolipoprotein A1. Keywords: Apolipoprotein A1, Apolipoprotein B, Diabetic Retinopathy
Corrosion Performance of a Novel Aluminium 6061-Sea Sand Composite Under Electrochemical Method Surojo, Eko; Triyono, Teguh; Akbar, Hammar Ilham; Pramudi, Ganjar; Triyono; Raharjo, Wijang W.; Agiel, Raiddin Muhamad; Majid, Faishal M.; Seputro, Harjo; Habibi, Ilham
Emerging Science Journal Vol. 9 No. 5 (2025): October
Publisher : Ital Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28991/ESJ-2025-09-05-012

Abstract

The need for lightweight materials is increasing from year to year. In its application, lightweight and strong materials also need to be corrosion resistant. Corrosion resistance is an important property in automotive, especially in high humidity areas. Al6061-Sea sand material is a novel material that meets the mechanical standards required in the automotive sector. A previous study of Al 6061-sea sand conducted the mechanical properties of the composite. This current research focuses on the development of Al 6061 material with variations in weight fraction of sea sand reinforcement against the corrosion rate under the potentiodynamic method to determine the corrosion resistance of the composite material. The composite fabrication uses the electroless coating method on sea sand and the stir casting method with a melting temperature of 750°C. The agitation process used a four-bladed impeller for 10 minutes at 600 rpm with a stirring depth of ½ of the height of the molten metal. The tests include density testing, microstructure observation, and corrosion rate under the potentiodynamic method using an electrochemical potentiostat. The test result obtained the lowest corrosion rate results in 2% wt sea sand with a corrosion rate of 0.61875 mmpy. The increase in corrosion rate value is directly proportional to the addition of the weight fraction of sea sand.