Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

VALUES CONTAINED IN THE BADEWA TRADITIONAL CEREMONY OF THE COMMUNITY IN BERANGAS TIMUR VILLAGE, ALALAK SUB-DISTRICT, BARITO KUALA REGENCY IN 1998–2010: Nilai-Nilai Yang Terkandung Dari Upacara Adat Badewa Masyarakat Desa Berangas Timur Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala Tahun 1998–2010 Tantawi jauhari, Rabiatul nita; Melisa Prawitasari; Sriwati
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 9 No 6 (2025): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA)
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v9i6.5702

Abstract

This study explores the Badewa traditional ceremony as an alternative healing practice among the Dayak Bakumpai community in Berangas Timur Village, Alalak Subdistrict, Barito Kuala Regency, South Kalimantan. Thebadewa ritual represents a cultural tradition rooted in spiritual and social values that has long served as a community-based healing method. The research aims to examine the background, existence, and cultural values of the badewa ceremony during the period 1998–2010. A historical method was employed, involving four key stages: heuristics (data collection through interviews, literature studies, and field observations), source criticism (both internal and external), interpretation, and historiography (historical writing). Findings indicate that badewa has existed since before the arrival of Islam in South Kalimantan. In 1998, the practice was reintroduced to Berangas Timur by the family of H. Idrus from Marabahan and began to gain recognition as an alternative healing option. Despite a decline in public interest after 2010, the ritual continues to be preserved through intergenerational transmission and annual large-scale performances. The novelty of this research lies in documenting and analyzing a local healing tradition that integrates spiritual beliefs with community solidarity. The badewa ceremony not only offers alternative medical treatment but also functions as a medium for cultural preservation and identity reinforcement within the Bakumpai community.
Tantangan dan Strategi Membangun Komunikasi Efektif melalui Literasi Sejarah di SMAN 1 Martapura Fitri Mardiani; Melisa Prawitasari; Sriwati Sriwati; Oktavian Hendra P.; Nelly Amelia; Muhammad Ikhsan hafidz
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol. 15 No. 4 (2025): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v15i4.3644

Abstract

Transformasi perspektif, dan akses pengetahuan di era digital menghadirkan tantangan tersendiri pada pembelajaran sejarah di sekolah. Pola komunikasi dan keaktifan peserta didik masih dinilai pasif. Maka, tanpa kemampuan literasi sejarah yang tepat, peserta didik berisiko pada misinformasi dan distorsi narasi sejarah yang ahistoris. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan, tantangan dan strategi guru dalam membangun komunikasi efektif melalui penguatan literasi sejarah di SMAN1 Martapura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui studi dokumen, observasi, dan wawancara mendalam kepada guru dan peserta didik kelas XI dan XII. Uji keabsahan data melalui teknik triangulasi sumber dan waktu kemudian dianalisis secara deskriptif interpretatif dengan langkah reduksi, penyajian data, serta diakhiri dengan membuat simpulan. Hasil penelitian menunjukan, literasi sejarah di SMAN1 Martapura telah berjalan dengan baik dan diintegrasikan pada kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler seperti Jumat Literasi dan pojok literasi sejarah. Kendala yang ditemui ialah rendahnya minat baca, dominasi budaya populer Gen Z, serta beban administratif guru yang tinggi. Strategi yang dilakukan guru ialah pendekatan partisipatif dengan pemanfaatan media digital, pembelajaran berbasis proyek, serta eksplorasi sejarah lokal. Penguatan literasi sejarah sebagai sarana komunikasi edukatif memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan, khususnya dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, kritis, dan sadar sejarah.
STRENGTHENING HISTORICAL LITERACY THROUGH AUTHENTIC ASSESSMENT IN HISTORY LEARNING IN THE CITY OF BANJARMASIN Fitri Mardiani; Melisa Prawitasari; Sriwati; Dewicca F. Nadilla
JURNAL HISTORICA Vol. 9 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : History Education, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Literasi sejarah, salah satu jalur yang dapat diambil untuk memberikan pembelajaran sejarah yang kontekstual dan bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penguatan literasi sejarah melalui penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran sejarah di SMAN 5 Kota Banjarmasin. Jenis penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sumber data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjeknya adalah guru sejarah dan siswa kelas X. Untuk analisis data, teknik berdasarkan Miles dan Huberman: pengumpulan data, reduksi data, presentasi data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasilnya adalah bahwa pembelajaran sejarah dengan penilaian autentik dapat menjembatani siswa menjadi melek sejarah. Guru menekankan pentingnya memberikan penilaian berbasis proses yang autentik (penilaian formatif) dengan berbagai aspek, seperti kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam penerapannya, hal ini dapat mengakomodasi keterampilan berpikir sejarah tingkat tinggi. Adanya penilaian autentik dengan menghadirkan strategi untuk memperkuat literasi sejarah menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa di SMAN 5 Banjarmasin.