Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search
Journal : JURNAL TEKNIK MESIN

PENGARUH AUSTEMPERING TERHADAP BENTUK DAN UKURAN GRAFIT SERTA SIFAT TRIBOLOGIS BESI COR KELABU UNTUK KOMPONEN REM KERETA API Yusuf Umardani; Agrie F Mizan
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 3, No 3 (2015): VOLUME 3, NOMOR 3, JULI 2015
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.46 KB)

Abstract

Di indonesia sendiri komponen rem kereta logam masih diproduksi secara industri rumahan. Bahan baku yang digunakan adalah dengan memanfaatkan logam bekas. Dengan memanfaatkan logam bekas biaya produksi menjadi rendah. Namun disamping biaya produksi rendah.bahan baku barang bekas dapat menyebabkan mutu rem yang diproduksi menjadi rendah dikarenakan adanya unsur paduan pada logam barang bekas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu blok rem kereta api yang adadengan cara meningkatkan kekerasan serta meningkatkan ketahanan aus abrasif gesek pada roda kereta api. Untuk meningkatkan daya tahan rem kereta maka dapat dilakukan proses perlakuan panas. Sehingga produk rem dari bahan besi cor dapat ditingkatkan nilai ketangguhanya. Proses penelitian ini adalah dengan melakukan proses perlakuan panas Austemper terhadap spesimen besi cor untuk rem kereta untuk meningkatkan ketangguhanya terhadap beban gesek maupun tekan. Proses Austemper sendiri yaitu memanaskan spesimen gray iron hingga temperature austenite 900oC menggunakan furnance chamber  dengan frekuensi menengah dengan waktu 120 menit. Untuk kemudian dilakukan proses perlakuan Austemper yaitu dicelup pada salthbath dengan  larutan garam KNO3  dengan variasi penahanan temperatur pada temperature 375 oC dengan variasi  penahanan  waktu yang berbeda, Yaitu 30, 60, dan 60 menit. Sehingga dihasilkan peningkatan kekerasan sesuai dengan lama penahanan waktu penahanan Austemper.
PENGARUH VARIASI KETINGGIAN HAK SEPATU TERHADAP PENGURANGAN TEKANAN DI TELAPAK KAKI BELAKANG Azhar Azzyumardi Pasha; Dwi Basuki Wibowo; Yusuf Umardani
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 10, No 2 (2022): VOLUME 10, NOMOR 2, APRIL 2022
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepatu hak tinggi adalah jenis sepatu dimana tinggi bagian tumit sepatu lebih tinggi dari pada bagian jari kaki. Salah satu ketidaknyamanan ketika memakai sepatu hak tinggi adalah gaya benturan yang dihasilkan pada saat tumit menghentak landasan (heel strike), benturan tersebut tidak hanya berdampak pada telapak kaki (plantar) namun merambat ke seluruh area kaki hingga tulang belakang. Proses tekanan pada plantar dapat di pindai dengan sistem pemindaian (scanning). Untuk mengetahui perubahan distribusi beban di telapak kaki pada berbagai variasi ketinggian hak sepatu dapat dilakukan dengan cara memasang 9 sensor Force Sensing Resistor (FSR 400 produk Interlink Electronics) pada mika berbentuk mengikuti pola alas sepatu bagian depan (metatarsal) dan belakang (heel) lalu diletakkan di atas permukaan alas sepatu hak tinggi. Pengujian dilakukan terhadap 4 subjek dengan berdiri di atas wedges yang terpasang sensor dan memiliki varisai ketinggian hak yaitu 2 cm, 4 cm dan 6 cm.  Penurunan tekanan terbesar terdapat di area heel pada subjek 4 ketika dilakukan pengujian di variasi ketinggan hak 6 cm pada sensor 1 sebesar 262.09 Pa dan kenaikan tekanan terbesar terdapat di area metatarsal pada subjek 4 di variasi ketinggian hak 6 cm pada sensor 6 sebesar 100.19 Pa. Hasil distribusi tekanan tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik fungsi dari kaki manusia.
PENGARUH PROSES NORMALIZING TERHADAP NILAI KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA SAMBUNGAN LAS THERMITE SIMILLAR BAJA UIC-54 (Union Internasionale des Chemins de fer -54) Adityo Ristyanto; Gunawan Dwi Haryadi; Yusuf Umardani
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2014): VOLUME 2, NOMOR 2, APRIL 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.863 KB)

Abstract

Salah satu penerapan metode pengelasan saat ini adalah pengelasan thermite yang merupakan pengembangan dari proses pengelasan yang umum dilakukan. Penerapannya terutama dalam bidang yang besar seperti rail crane, rel kereta api, gear yang besar, atau patahan pada komponen-komponen peralatan yang ukurannnya besar, ataupun perbaikan instalasi rel kereta api. Namun di Indonesia sendiri masih jarang digunakan. Pengelasan thermite adalah reaksi eksotermik antara alumunium dan besi oksida yang menghasilkan baja lebur yang kemudian dituangkan ke dalam suatu cetakan yang akan di-las. Dari pengujian yang telah dilakukan diketahui bahwa adanya penyetaraan nilai kekerasan dari base metal, HAZ (Heat Affected Zone), dan weld metal yang disebakan adanya pengaruh post weld heat treatment normalizing. Nilai kekerasan tertinggi pada daerah base metal terletak pada temperatur 850 ˚C, kekerasan tertinggi pada daerah HAZ (Heat Affected Zone) terletak pada temperatur 850˚C, dan kekerasan tertinggi pada daerah weld metal terletak pada temperatur 775 ˚C. Hasil pengelasan dari kedua sisi bahan baja UIC-54 (Union Internasionale des Chemins de fer-54) menghasilkan tiga daerah utama yaitu daerah logam dasar, daerah terpengaruh panas HAZ (Heat Affected Zone), dan daerah logam las. Dalam proses pengelasan thermite, bagian sambungan yang di las menerima panas pengelasan setempat dan selama proses berjalan suhunya terus berubah sehingga distribusi menjadi tidak merata. Karena panas tersebut, maka pada bagian terjadi pengembangan thermal, sedangkan bagian yang dingin tidak berubah sehingga terbentuk penghalang pengembangan yang menyebabkan terjadinya peregangan. Akibat peregangan ini akan timbul tegangan tetap yang disebut tegangan sisa.
¬PENGARUH PROSES HEAT TREATMENT TEMPERING TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN NILAI KEKERASAN PADA SAMBUNGAN LAS THERMITE BAJA UIC-54 Ian Wiharja; Gunawan Dwi Haryadi; Yusuf Umardani; Agus Tri Hardjuno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 4 (2014): VOLUME 2, NOMOR 4, OKTOBER 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1122.064 KB)

Abstract

Metode penyambungan menggunakan las thermite adalah metode penyambungan yang selalu digunakan, khususnya pada instalasi kereta api. Akan tetapi proses pengelasan yang tidak sesuai akan menjadikan material menjadi getas akibat pemanasan dan pendinginan yang tidak terkontrol. Hal tersebut dapat menimbulkan material mengalami keretakan pada sambungan las dan hal tersebut dapat membahayakan bagi penggunanya. Oleh karena itu diperlukan proses post weld heat treatment (PWHT) yang bertujuan untuk mengembalikan struktur material tersebut.Dengan dilakukannya post weld heat treatment – tempering ini bertujuan untuk memperbaiki struktur butiran akibat adanya tegangan sisa setelah terjadinya pengelasan thermite. Material yang digunakan dalam penelitian ini sendiri adalah baja UIC-54 yang merupakan high carbon steel (0.82%C).PWHT-Tempering dilakukan pada baja UIC-54 dengan variasi temperatur pemanasan 4250C, 4750C, 5250C, dan 5750C, dengan waktu penahanan 60 menit yang dilanjutkan dengan pendinginan ruangan. Setelah dilakukan proses tempering, didapat nilai kekerasan yang relatif turun, sebagai akibat pemanasan ulang yang diharapkan mampu menurunkan kegetasannya tetapi masih memiliki nilai kekerasan yang tinggi sesuai dengan standar yang berlaku
ANALISIS STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIS HASIL LAS TITIK DAN BRAZING UNTUK INDUSTRI RUMAHAN Deivandra Ginanjar Bhakti; Gunawan Dwi Haryadi; Yusuf Umardani
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 1, No 2 (2013): VOLUME 1, NOMOR 2, APRIL 2013
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.063 KB)

Abstract

In the welding process there are several factors that determine the success of welding. The alteration of microstructure of joined metals are expected to change the structure of the material into more dense to make connections become stronger. In this study, the material used is ferrous steel plate with a maximum thickness of 1mm. In order to know the results, It required to use some variation of a parameter such as pressing time and plate thickness used for metal welding process. The process used home brazing welding machine, the connections are welded and welding receive local heat and during the process the temperature is constantly changing so that the temperature distribution is uneven. As a result of this stretch then analyzed the results of the micro structure of the welding process using brazing home welding machine. After analysis of the microstructure was done then analyze the mechanical properties of the weld joint, all this analysis needs to be done in order to ascertain the connection is really strong welds and brazing machine can be used for home-scale cottage industry.  The results of this study indicate that nugget on hardness Vickers test has a value higher than of the base metal which is 172.78 for 8.6 A current and welding time 20 second 191.58 for 6 A current and welding time of 10 second, and the value of base metals 165.7 so percentage obtained with increasing force to the current value of 8.6 A is 7.1 % and for the current 6 A 25.8 %
PENGARUH HEAT TREATMENT T6 PADA ALUMINIUM ALLOY 6061-O DAN PENGELASAN TRANSVERSAL TUNGSTEN INERT GAS TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO Andrea Tri Wibowo; Gunawan Dwi Haryadi; Yusuf Umardani
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 4 (2014): VOLUME 2, NOMOR 4, OKTOBER 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.726 KB)

Abstract

Aluminium 6061-T6 mempunyai keunggulan seperti kekuatan tarik relatif tinggi, sifat mampu bentuk (formability) baik, tahan korosi dan merupakan logam ringan. Kelemahan Al 6061-T6 adalah sifat mampu las (weldability) relatif rendah dan sambungan las rentan terhadap kegagalan (failure). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat mekanik dan struktur mikro dari Alumunium Alloy 6061-O pada arah pengelasan transversal dengan las tungsten inert gas (TIG) yang di-post weld heat treatment (PWHT) ataupun yang tidak di PWHT. Pengujian yang digunakan menggunakan perlakuan panas T6 dengan temperatur solution 520oC dan di quenching air dingin, kemudian artificial aging dengan temperatur 180oC dan variasi waktu selama 8 jam, 18 jam, dan 24 jam. Dari hasil pengujian yang dilakukan, material yang di-PWHT selama 18 jam mengalami peningkatan kekuatan dengan nilai tegangan luluh sebesar 118% (247.84MPa), nilai tegangan max sebesar 159% (304.42MPa) dan memiliki nilai regangan yang menurun sebesar 50% yaitu menjadi 9.8%. Nilai kekerasan mengalami peningkatan setelah di-PWHT. PWHT selama 18 jam memiliki nilai kekerasan tertinggi pada daerah heat affected zone (HAZ) yaitu sebesar 97% (129.9Hv). Dari perubahan struktur mikro terlihat adanya perbedaan struktur butir, material tanpa PWHT memiliki ukuran butir yang lebih besar dibanding material yang di-PWHT dan pada PWHT 18jam memiliki ukuran butir yang lebih kecil dari pada PWHT 24jam, namun lebih besar daripada 8jam dan lebih tersebar merata ke seluruh bagian akibat pengaruh panas las dan perlakuan post welding heat treatment.
PHYSICAL CHARACTERIZATION OF ALUMINA (Al2O3) BASED REFRACTORY APPLIED ON INDUCTION FURNACE LINING Ronald Sabtendra; Sri Nugroho; Yusuf Umardani
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 1, No 4 (2013): VOLUME 1, NOMOR 4, OKTOBER 2013
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (991.568 KB)

Abstract

The broad variety of pyro-processing applications across industry demands great diversity in the supply of refractory materials. In fact, many of these materials have been developed specifically to meet the service conditions of a particular process. The characteristic properties of each refractory class are a function of both their raw materials base and the methods used to manufacture the refractory products. This study aims to characterize alumina (Al2O3) based refractory materials applied on induction furnace lining based on its physical properties such as: the shape and grain size; chemical composition; and density of the specimens which sintered at various temperature. From the X-ray Diffraction Test compared with specification data from the manufacturer, the main composition of the base refractory material used in this study is alumina (Al2O3) with a low amount (less than 10%) of magnesia (MgO) and silica (SiO2). Alumina refractory material consists of coarse grains (with its size larger than 0,85mm) and fine grains (size is equal to 0,15mm or smaller). Grains shape of the  aggregates are mostly angular with its sharp edges. Values of density at temperature 1100C, 10000C, 13000C, 15000C in sequence are 2,92 g/cm3; 2,66 g/cm3;  2,80 g/cm3; 2,98 g/cm3. Density of the refractory will increase as the increase of sintering temperature.
PENGARUH VARIASI KONTUR SISIPAN DI MEDIAL ARCH TERHADAP PENGURANGAN DERAJAT FLAT FOOT Daniel Sijabat; Dwi Basuki Wibowo; Yusuf Umardani
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 10, No 2 (2022): VOLUME 10, NOMOR 2, APRIL 2022
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu organ tubuh manusia yang memiliki peran penting untuk beraktifitas adalah Telapak Kaki. Orang dengan telapak kaki yang sehat pastinya akan lebih seimbang untuk menopang beban tubuhnya. Ada beberapa tipe telapak kaki manusia yang dibagi menjadi tiga, diantaranya telapak kaki normal, telapak kaki high arch (pes cavus) dan flat foot (low arch atau pes planus). Telapak kaki dinyatakan high arch apabila AI ≤ 0.21, normal apabila 0.26 ≥ AI > 0.21 dan flat foot apabila AI > 0.26. Kondisi flat foot dapat membuat seseorang mudah lelah saat berjalan atau berlari, karena kemampuan penyerapan beban kejutnya menurun. Apabila kondisi tersebut diperparah oleh jaringan otot telapak kaki yang lemah, dampak lainnya membuat penderita akan mengalami nyeri pada tumit dan menimbulkan benjolan pada pangkal luar jempol kaki (bunion). Flat foot menjadi penelitian dalam tugas akhir ini dengan mengevaluasi dari hasil pemindaian 2D dan pemindaian 3D. Hasil pemindaian 2D menjadi acuan untuk proses perancangan sisipan di area medial arch dalam upaya mengurangi derajat flatfoot. Dalam proses perancangan nantinya akan menggunakan software Solidworks dan proses manufaktur dengan cara cetak 3D. Setelah hasil perancangan selesai, kemudian akan didistribusikan kepada dua subjek untuk mengevaluasi dampak dari sisipan. Berdasakan hasil evaluasi penggunaan sisipan, pemakaian sisipan terbukti efektif dalam mengurangi derajat flat foot.
PENGARUH PROSES HEAT TREATMENT ANNEALING TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN NILAI KEKERASAN PADA SAMBUNGAN LAS THERMITE BAJA NP-42 Huda Fathu Rohman; Gunawan Dwi Haryadi; Yusuf Umardani; Agus Tri Hardjuno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 3 (2014): VOLUME 2, NOMOR 3, JULI 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1191.149 KB)

Abstract

Pengelasan logam dengan menggunakan metode las thermite banyak digunakan, seperti pada rail crane, maupun perbaikan instalasi jalur rel kereta api. Beberapa masalah dalam pengelasan adalah terjadinya tegangan sisa dan kekerasan yang berlebih sehingga dapat menurunkan ketangguhan las. Salah satu cara mengurangi permasalahan ini adalah dengan  metode Post Weld Heat Treatment (PWHT) annealing. Post Weld Heat Treatment (PWHT) annealing memiliki beberapa fungsi yaitu mengurangi tegangan sisa, meningkatkan keuletan, menurunkan ketidak homogenan stuktur dan memperbaiki ketangguhan daerah logam las dan HAZ. PWHT Annealing dilakukan pada baja NP-42 dengan menvariasi temperatur pemanasan 7800C, 8000C, 8200C, dan 8400C. Dengan waktu penahanan 60 menit dari proses PWHT Annealing serta didinginkan dalam furnace. Hasil penelitian ini adalah diperoleh struktur ferrite dan pearlit pada semua spesimen, namun perbedaan yang signifikan adalah perbedaan ukuran grain size pada masing-masing temperatur annealing. Untuk nilai kekerasan antara 171,7 VHN – 259,1VHN, hal ini didukung  dengan foto mikro pada daerah disetiap temperatur
PENGARUH POST WELD HEAT TREATMENT (PWHT) – TEMPERING PADA SAMBUNGAN MEDIUM CARBON STEEL NP-42 DENGAN LAS THERMIT TERHADAP NILAI KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO Korna Ariesta; Gunawan Dwi Haryadi; Yusuf Umardani
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2014): VOLUME 2, NOMOR 2, APRIL 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.366 KB)

Abstract

Material baja high carbon merupakan material yang diaplikasikan pada suatu sistem yang memerlukan nilai kekerasan dan ketangguhan yang tinggi. Pada sarana transportasi kereta api, tentunya diperlukan rel baja yang sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan agar kenyamanan serta keselamatan penumpang selalu terjamin.Salah satu faktor yang harus diperhatikan pada rangkaian baja rel kereta api adalah pada sambungan las. Proses pengelasan yang tidak sesuai akan menyebabkan material menjadi getas akibat pemanasan dan pendinginan yang tidak terkontrol. Hal ini dapat menimbulkan retak pada sambungan tersebut yang dapat membahayakan bagi pengguna kereta api. Oleh sebab itu, diperlukan perlakuan proses Post Weld Heat Treatment (PWHT) untuk mengembalikan kondisi struktur material tersebut. Dalam penelitian post weld heat treatment – tempering ini bertujuan untuk memperbaiki struktur butir akibat adanya tegangan sisa saat pengelasan thermit, selain itu untuk meningkatkan nilai kekerasannya. Baja rel yang digunakan adalah baja NP-42 yang merupakan medium-carbon steel  (0,56%C). Setelah dilakukan proses tempering, didapat nilai kekerasan yang relatif turun, sebagai akibat pemanasan ulang yang diharapkan mampu menurunkan kegetasannya tetapi masih memiliki nilai kekerasan yang tinggi sesuai dengan standar yang berlaku.
Co-Authors Adi Kurniawan Yusim Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adityo Ristyanto Agrie F Mizan Agus Suprihanto Agus Suprihanto Agus Suprihanto Agus Tri Hardjuno Agy Randhiko Alfitra Bin’arya Putratama Amadeus Bagas Maruli Jarwanto Andhika Krismaintya Putera Andrea Tri Wibowo Azhar Azzyumardi Pasha Basyith, Mohammad Rizqi Abdul Bayu Sasmita Bernard, Jovian Bona Frans Willy Simamora Catur Pramono Damar Nurwahyu Bima Daniel Sijabat Deivandra Ginanjar Bhakti Didik Ariwibowo Djoeli Satrijo Dwi Basuki Wibowo Dwi Basuki Wibowo Eko Julianto Sasono Febri Firmansyah Gilbert Fedrick Purba Glenn Natanael Samudera Grandy Yustisio Rizaldi Ginting Gunawan Dwi Haryadi Hartono Hartono Hartono Hartono Herriza, Rigo Muhammad Huda Fathu Rohman Ian Aditama Putra Ian Wiharja Indartono Indartono Juan Pratama Anandika Khairul Ayat Khoiri Rozi Khoiri Rozi Korna Ariesta Kusumaharja, Rezka Dwima Lie, Calvin M Faldy Syafar M Rafly Rafiqi Malik Sanjaya Matheus Agung Putra Yoga Mhd. Brian Awiruddin Misbah Bukhori Mohammad Nur Kholis Majid Mohd Ridwan Muhammad Ainus Sholikhin Muhammad Fajrur Rochmat Muhammad Fakhri Aji Pratomo Muhammad Farras Farshal Muhammad Iqbal Mukhamad, Alaya Fadllu Hadi Nofa Karsa Mustadzanah Norman Iskandar Ojo Kurdi Parven, Parven Paryanto Prasetia, Zakaria Frani Pratomo, Muhammad Fakhri Aji Putra, Diva Tsamara Rafikhul Fatah Ronald Sabtendra Rusnaldy Rusnaldy Saputra, Anggar Aji Sarwoko Sarwoko Sarwoko Sarwoko Satriyo Adhi Nugroho Seno Darmanto Seno Darmanto Seno Darmanto Sri Nugroho Sri Nugroho Sri Nugroho Sriyana Sriyana Sulistyo Sulistyo Sulistyo Sulistyo Sunarso Sugeng Sutan to Tari Purwanti, Tari Ulya Ramdhani Fikri Yuniarto Yuniarto, Yuniarto Yurianto Yurianto Yusim, Adi Kurniawan