Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Studi Dramaturgi dalam Presentasi Diri Dalang Gejul Pada Program Acara Wayang Golek Si Cepot Show SMTV Yanuar Ilham; Dina Atila Fazriah; Hanafi Hanafi; Anggita Lestari; Nugraha Sugiarta
ArtComm Vol 6 No 2 (2023): ArtComm
Publisher : Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/artcomm.v6i2.719

Abstract

Presentasi diri menjadi suatu tindakan yang dilakukan setiap individu dalam memilih perilaku mana yang dapat ditampilkan di lingkungan tertentu agar terbentuk kesan yang ingin dicapai oleh individu. Dalang wayang golek di SMTV Sumedang tentunya melakukan presentasi diri dalam pertunjukannya, termasuk Dalang Wayang Golek Ki Andrian Syaputra atau biasa dikenal dengan Dalang Gejul. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui panggung depan dan realitasnya di belakang panggung dalang serta tanggapan dari budayawan dan penonton pada presentasi diri dalang. Metode yang digunakan kualitatif dengan pendekatan studi dramaturgi Erving Goffman. Perolehan data penelitian ini didapatkan dari hasil observasi, wawancara, studi pustaka, dan studi dokumentasi. Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling dan Teknik keabsahan data yaitu Triangulasi sumber. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa pada panggung depan dalang Ki Andrian memainkan perannya sebagai seorang dalang dengan pakaian yang dikenakan menggunakan baju adat sunda, totopong dan menggunakan makeup yang natural, selain itu karakter yang ditunjukan humoris, dan lucu. Pada panggung belakang cenderung menampilkan jati dirinya sesuai dengan realitas di kehidupan nyata yakni penampilan yang sederhana dan memiliki sifat yang humoris, namun mudah tersentuh atau perasa dan tidak bisa mengontrol emosinya ketika marah. Tanggapan penonton dan budayawan mengenai presentasi diri dalang Ki Andrian telah memenuhi karakteristik dalang yang mengacu kepada mengikuti peraturan perdalangan. Dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa dalang Ki Andrian melakukan presentasi diri pada panggung depan dan panggung belakang sehingga ditemukan perbedaan dari penampilan dan perilaku dalang di setiap panggungnya.
Dramaturgi Performance Team Vokal Grup Metal Ensembel Tikoro Anggita Lestari; Faisal Reza; Hilman Mulyadi; Nugraha Sugiarta; Yanuar Ilham
ArtComm Vol 7 No 1 (2024): ArtComm
Publisher : Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/artcomm.v7i1.812

Abstract

This research is titled “Dramaturgy of the Vocal Group Metal Ensemble Tikoro.” Dramaturgy is a concept that examines the complex roles of individuals in everyday life, especially when performing on stage, which has both front and back stages. This study aims to understand the reality that occurs on the front and back stages of Ensemble Tikoro vocal group members, as well as to uncover how each member presents themselves. The research method used is qualitative with a dramaturgical concept approach. The research subjects involve all members of the Ensemble Tikoro. Data was collected through in-depth interviews, observations, and documentation. The data validity test used is source triangulation. The results of this study reveal that on the front stage, Ensemble Tikoro members perform with unique characteristics, namely wearing all-black costumes from head to toe. On the back stage, Ensemble Tikoro members interact with family and other activities using Sundanese and Indonesian languages, creating a familiar atmosphere. In self-presentation, Ensemble Tikoro members naturally express themselves through the choice of black costumes that become their identity. Thus, this research reveals the dynamics between the realities on stage and backstage of Ensemble Tikoro members, as well as how they radiate self-presentation through elements such as costumes and language they use.
Makna Kesetaraan Gender Dalam Revitalisasi Seni Penca Sobrah Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Mitos Ketidakberdayaan Tubuh Perempuan Sunda Nugraha Sugiarta; Anggita Lestari
ArtComm Vol 7 No 1 (2024): ArtComm
Publisher : Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/artcomm.v7i1.945

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang makna kesetaraan gender dalam revitalisasi seni penca Sobrah sebagai bentuk perlawanan terhadap mitos ketidakberdayaan tubuh perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pesilat perempuan mengalami diskriminasi gender. Setelah mendalami seni penca sobrah, pesilat perempuan mampu menghadapi kebimbangan dan memiliki kekuatan dalam mengatasi berbagai berbagai permasalahan, mampu menjaga diri, dan menyadari bahwa perempuan dengan segala atribut kecantikan dan keanggunan yang dimilikinya justru memiliki keberdayaan dan kekuatan. Pada in order to motives, pesilat perempuan ingin melestarikan budaya Sunda melalui revitalisasi seni penca Sobrah yang bertujuan untuk membangun kebanggaan dan penghargaan terhadap identitas perempuan Sunda. Pada because motives pesilat perempuan ingin melakukan perlawanan terhadap ketidaksetaraan gender yang muncul melalui ilusi zona nyaman perempuan sehingga mereka merasa perlu melakukan pembuktian diri terhadap kemampuan yang dimiliki perempuan. Pesilat perempuan memaknai kesetaraan gender dalam revitalisasi seni penca Sobrah sebagai usaha untuk menghadirkan identitas kekuatannya dalam wilayah domestik. Tindakan membuka gelung rambut memperlihatkan sikap yang bersumber pada kemandirian dan ketegasan perempuan Sunda dalam melindungi dirinya maupun keluarganya. Melalui seni penca Sobrah, perempuan Sunda membongkar identitas kekuatannya dalam wilayah domestik. Perempuan Sunda dalam khazanah mitologi Sunda pada akhirnya memiliki kuasa atas dirinya sendiri
KESADARAN GENDER MELALUI STRATEGI KREATIF TRADISI FESTIVAL ALUNAN BUDAYA DESA DI PRINGGASELA LOMBOK TIMUR Lestari, Anggita; Sugiarta, Nugraha; Ari Sandhy, Muhammad Rizcky
JURNAL DARMA AGUNG Vol 32 No 6 (2024): DESEMBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Darma Agung (LPPM_UDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/ojsuda.v32i6.4770

Abstract

Penelitian ini membahas isu gender dalam konteks pariwisata lokal di Pringgasela, Lombok Timur, dengan tujuan untuk memahami peran perempuan dalam pengembangan ekonomi kreatif. Metode penelitian yang digunakan meliputi wawancara mendalam dan survei terhadap responden yang terdiri dari perempuan dan laki-laki di desa tersebut. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa peningkatan peran perempuan dalam sektor pariwisata dapat mengurangi kesenjangan gender. Temuan menunjukkan bahwa meskipun perempuan berkontribusi signifikan dalam kegiatan ekonomi, mereka masih menghadapi hambatan dalam akses pendidikan dan pengambilan keputusan. Kontribusi tulisan ini terletak pada pentingnya strategi termasuk keanggotaan perempuan, dan bagaimana festival tradisional dapat menjadi alat untuk meningkatkan kesadaran gender dan daya tarik pariwisata. Hasil penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi pengembangan kebijakan yang mendukung kesetaraan gender dan keberlanjutan pariwisata di Pringgasela
Komunikasi Terapeutik Pengasuh Pada Lansia Di Panti Sosial Rachmawati, Selvy; Putri, Shinta Hartini; Sugiarta, Nugraha; Adi, Achwan Noorlistyo; Lestari, Anggita; Reza, Faisal
In Search (Informatic, Science, Entrepreneur, Applied Art, Research, Humanism) Vol 23 No 2 (2024): In Search
Publisher : LPPM UNIBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/insearch.v23i2.887

Abstract

Komunikasi terapeutik merupakan teknik yang digunakan untuk memahami perilaku pasien dan membantu pasien dalam menghadapi masalah. Komunikasi terapeutik ini telah diterapkan di Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi oleh para pengasuh lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik komunikasi terapeutik yang digunakan pengasuh, mengetahui alasan dan juga hambatan dalam pelaksanaanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian studi kasus dan menggunakan konsep komunikasi terapeutik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi yang dilakukan pada pengasuh setempat. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi menggunakan tiga belas teknik teurapeutik kecuali teknik membagi persepsi. Teknik yang sering digunakan adalah bertanya dan mendengarkan. Selanjutnya alasan digunakannya teknik-teknik tersebut utamanya, guna membantu memahami keadaan lansia dan mencegah hipertensi. Hambatan komunikasi teurapeutik yang ditemukan adalah hambatan fisik seperti gangguan pendengaran pada lansia dan hambatan dari penerima pesan lainnya seperti enggan memberikan tanggapan dan memilih menyendiri.
REVITALISASI PENCAK SILAT MELALUI FESTIVAL SEREPAN PATALEKAN USIK SANYIRU DENGAN OPTIMALISASI TEKNOLOGI DIGITAL BERBASIS CULTURAL VISUALIZATION Reza, Faisal; Sarifiyono, Aggi Panigoro; Rizkiani, Meti Agni; Amni , Muhammad; Libertia, Yosi; Sugiarta, Nugraha; Ilham, Yanuar; Lestari, Anggita
Jubaedah : Jurnal Pengabdian dan Edukasi Sekolah (Indonesian Journal of Community Services and School Education) Vol. 4 No. 3 (2024): Jurnal Pengabdian dan Edukasi Sekolah (Jubaedah)
Publisher : LPPM Universitas Bina Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46306/jub.v4i3.245

Abstract

This community service focuses on the revitalization of pencak silat through the Serepan Patalekan Usik Sanyiru festival, by utilizing digital technology based on cultural visualization as an effort to create the first Penca Village tourism destination in West Java. The background of this service arises from concerns about the loss of the pencak silat tradition as an intangible cultural heritage recognized by UNESCO. The main purpose of this activity is to revive the public's interest in pencak silat, as well as to increase people's understanding and skills in preserving this martial art. The methods used in this community service include socialization and training for the community about the Usik Sanyiru Matching pencak silat technique, as well as the application of digital technology to support promotion and documentation. This activity also involved students and lecturers from the Indonesian University of Informatics and Business in the revitalization process held in Jayagiri Village. The results of the service show an increase in community participation in pencak silat activities, as well as the formation of an active pencak silat community. In addition, the use of social media and digital technology in festival promotion has also succeeded in increasing awareness of the existence of pencak silat art among the younger generation. By directly involving the community and utilizing technology, this activity not only has a positive impact on the preservation of local culture, but also contributes to the development of the tourism industry in the area
The Meaning of Environmental Journalism for Comic Journalists in "Stories from the Sea" on Social Media Instagram @JurnalisKomik Dewi, Eriyanti Nurmala; Darmawan, Ziddan Dwi; Sadiyyah, Zulfanida Nurul; Sugiarta, Nugraha
Sinergi International Journal of Communication Sciences Vol. 2 No. 2 (2024): May 2024
Publisher : Yayasan Sinergi Kawula Muda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61194/ijcs.v2i2.491

Abstract

This study explores the experiences, motives, and meanings of environmental journalism for comic journalists in Stories  from The Sea on the Instagram account @JurnalisKomik. Using a qualitative method with Alfred Schutz's phenomenological approach, this research examines how comic journalists perceive and convey environmental issues through visual storytelling. The findings reveal that environmental journalism is a field that presents environmental news with a meticulous and detailed reporting style, allowing the emergence of activism in journalism. Furthermore, environmental journalism should be considered a public issue, as many aspects of environmental sustainability are closely related to society. Therefore, there is a need for exemplary environmental journalists whose work can inspire various media, communities, and institutions. Their role is crucial in raising public awareness about environmental issues and encouraging collective action for environmental preservation.
Strategies of Local Television Media in Maintaining Existence Reza, Faisal; Agustin, Pramudita; Hartini Putri, Shinta; Sugiarta, Nugraha
Sinergi International Journal of Communication Sciences Vol. 2 No. 3 (2024): August 2024
Publisher : Yayasan Sinergi Kawula Muda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61194/ijcs.v2i3.497

Abstract

This study employs a qualitative method with a case study research approach. The subject of this research is I Channel TV Bandung, while the object is the media partnership on the Instagram account @inikpop. Informants were selected using purposive sampling. Data collection methods include observation, interviews, literature review, and documentation. Data analysis techniques involve data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Data validity testing is conducted through source triangulation. The results of this study indicate that the partnership established through media collaboration on the Instagram account @inikpop includes cooperation in the form of advertising and promotional media publications for event organizers, building a positive corporate image through program quality and partnerships, as well as engaging with the audience to foster closeness. Media partnerships help I Channel TV maintain its existence amidst competition from online and digital media through its flagship program, INIKPOP, which also has its own promotional media channels such as Instagram, YouTube, and TikTok. In addition to media partnerships, active engagement on social media also assists I Channel TV in attracting back television audiences, who have started to decline, by presenting information content that is packaged in an engaging and distinctive manner on social media. This approach helps balance television's existence with the advancement of online media technology in people's daily lives.
The Meaning of Ujungan Tradition in Seren Taun Ceremony: A Phenomenological Study of Kasepuhan Cibadak Community Sugiarta, Nugraha; Anggraeni, Risa; Reza, Faisal
Sinergi International Journal of Communication Sciences Vol. 2 No. 3 (2024): August 2024
Publisher : Yayasan Sinergi Kawula Muda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61194/ijcs.v2i3.498

Abstract

The Ujungan tradition is an attraction performed by a group of people, where participants whip each other using rattan. This tradition is held once a year during the Seren Taun traditional ceremony. The purpose of this study is to explore the experiences, motives, and meanings of the Ujungan tradition for its performers within the Kasepuhan Cibadak community, Lebak Regency, Banten. This study employs a qualitative method with Alfred Schutz’s phenomenological approach. Primary data collection techniques include active participant observation and semi-structured interviews, while secondary data are obtained from document studies/documentation. The study involves four key informants who are Ujungan performers and two supporting informants, consisting of spectators and cultural experts. Data validity is ensured through source triangulation. The findings reveal that the performers experience emotional enjoyment. The "because motives" are influenced by the role of traditional leaders and the performers’ self-awareness as part of the Kasepuhan Cibadak community. Meanwhile, the "in-order-to motives" focus on preserving the Ujungan tradition as a cultural heritage. For the performers, the Ujungan tradition carries meanings of tradition, ritual, and karesmen (artistic expression). Therefore, the Ujungan tradition in the Kasepuhan Cibadak community, Lebak Regency, Banten, is regarded as entertainment with local wisdom values. The tradition also fosters values of togetherness and trust, symbolizing protection for circumcised boys, ensuring their safety from misfortune.
The Symbolic Meaning of Communication in Rudat Dance Art: A Study of the Paleben Group in Subang Village, Kuningan Regency Sugiarta, Nugraha; Hanafi, Hanafi; Lestari, Anggita; Reza, Faisal; Ikbal, Dadan Muhammad
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 9, No 3 (2025): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Juli)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v9i3.8642

Abstract

The art of rudat dance is one of the arts from Subang Village, Kuningan Regency. Rudat is a type of art in which there is a dance accompanied by tambourine clapping where the dance elements contain elements of martial arts. The aim of this research is to find out the forms of communication symbols in rudat dance art in Subang Village, Kuningan Regency, and to find out the performers of rudat dance art in interpreting rudat dance art. The research method used is qualitative with a symbolic interaction study approach. Data was obtained based on interviews and observations. Data processing and data analysis techniques use the data analysis model of Miles and Huberman. The results obtained from this research are: First, the forms of symbols in rudat art are from the basic rudat dance movements. There are four symbols used, namely the Gojes symbol in a stance with the right hand directed to the left, the left hand positioned behind the body and has the meaning of preparing oneself for what is to come. The Kincar Symbol is in an attacking position, the right hand extended forward with the fingers clenched into a fist, and the left hand bent with the fingers clenched into a fist, which has the meaning of facing existing problems. The Alayya symbol with the body moving sideways to the right and left has the meaning of avoiding something bad. And finally, the Ogel symbol in a defensive position. The right hand, which is positioned to protect the chest, and the left hand holding the right arm, has the meaning of surviving all trials. The two rudat dancers want to preserve rudat art so that the people in Subang Village, Kuningan Regency don’t forget it by performing rudat dance performances regularly.