Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Penggunaan Obat Nyamuk dan Pencegahan Demam Berdarah di DKI Jakarta dan Depok Wahyono, Tri Yunis Miko; MW, Oktarinda
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari hasil salah satu studi diketahui bahwa penggunaan obat nyamuk memiliki efek lebih besar dalam menanggulangi penyakit Demam Berdarah dibandingkan penggunaan larvasida dan fogging. Tujuan studi ini untuk mendapatkan informasi tentang penggunaan obat nyamuk di masyarakat. Studi ini merupakan studi deskriptif yang pengumpulan datanya dilaksanakan pada Februari-Maret 2013 di DKI Jakata dan kota Depok. Dari hasil studi ini didapatkan bahwa: Dari 83 responden yang mengisi kuesioner (terdiri dari 65% perempuan, 45% berpendidikan SLTA dan 11% salaah satu anggota keluarganya pernah menderta demam berdarah), didapatkan bahwa Jenis obat nyamuk yang sering digunakan adalah obat nyamuk lotion (32,5%), disusul dengan spray (26,5%), semprot/cair (18,1%), elektrik (15,7%) dan bakar (1,2%). Obat nyamuk yang dianggap paling efektif; lotion (29%), spray (19%), elektrik (16%) dan semprot/cair (13%). Obat nyamuk yang dianggap paling aman; lotion (31%), elektrik (30%), spray (15%) dan semprot/cair (12%). Alasan penggunaan obat nyamuk oleh masyarakat yaitu; murah, mudah di dapat dan memiliki aroma khusus. Studi menyarankan agar masyarakat menggunakan obat nyamuk dengan baik, benar dan aman.
The Relationship between Type 2 Diabetes Mellitus with Chronic Kidney Disease In Indonesian Population In 2014-2015 (Data Analysis of IFLS 5) Simanjuntak, Tri Damayanti; Wahyono, Tri Yunis Miko
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Global Burden of Disease research in 2010 reveal that cases of chronic kidney disease increase and became a serious health problem. Indonesia Basic Health Research data in 2013 reveal that the proportion of patients with chronic kidney failure aged > 15 years old based on doctor’s diagnosis was 0,2% and 0,6% kidney stones. The study aimed to analyze the relationship be tween type 2 diabetes mellitus and chronic kidney disease in the population of Indonesia in 2014-2015. This design of research used cross-sectional and secondary data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) 5. The minimum sample size in this study was 792 people with technique used total sampling, which found 34,012 people who meet the inclusion and exclusion criteria. The prevalence of chronic kidney disease in Indonesia population in 2014 – 2015 was 1%. The result of chi-square test of the rela tionship between type 2 diabetes mellitus and chronic kidney disease in the Indonesian population showed POR=2.48 (95%CI 1.422-4.071; p-value =0.0002). Multivariate analysis with logis tic regression tests POR 1.88 (95% CI 1.124 - 3.168; p-value = 0.016) after smoking status and history of high cholesterol were controlled. Patients with type 2 diabetes mellitus expects to make appropriate treatment efforts to prevent complications of chronic kidney disease.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Leptospirosis di 2 Kabupaten Lokasi Surveilans Sentinel Leptospirosis Provinsi Banten tahun 2017 – 2019 Ariani, Novie; Wahyono, Tri Yunis Miko
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leptospirosis termasuk dalam zoonosis, penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptopira. Terjadinya kasus leptopsirosis terkait erat dengan rantai penularan, dan rantai penularan leptospirosis terkait dengan banyak faktor. Faktor risiko leptospirosis dapat diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok utama: faktor hewan, faktor lingkungan, dan faktor manusia. Banten yang merupakan daerah endemis Leptospirosis, terpilih untuk menjadi lokasi surveilans Sentinel Leptospirosis, tepatnya berlokasi di Kab, Tangerang dan Kab. Serang. Penelitian tentang leptospirosis masih sangat jarang dilakukan di provinsi Banten, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi kejadian leptospirosis di 2 kabupaten lokasi surveilans sentinel leptopspirosis provinsi Banten selama tahun 2017 – 2019. Rancangan penelitian adalah cross sectional dengan populasi sampel adalah suspek Leptospirosis di lokasi Sentinel. Penelitian dilakukan dengan data dari Sentinel Leptospirosis di Kab. Serang dan Kab. Tangerang selama tahun 2017 – 2019. Sampel penelitian adalah seluruh suspek yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Variabel yang di teliti adalah kejadian Leptospirosis, jenis kelamin, umur, pekerjaan, keberadaan tikus, tempat penyimpanan makanan, keberadaan hewan peliharaan, keberadaan hewan ternak, rumah banjir, kontak air tergenang, aktivitas di air/sungai, membersihkan saluran air dan membersihkan sampah. Dilakukan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan menggunakan regresi logistik. Dari hasil penelitian di dapat hasil faktor faktor yang mempengaruhi kejadian leptospirosis di 2 kabupaten lokasi surveilas sentinel Leptospirosis di Provinsi Banten tahun 2017 – 2019 adalah jenis kelamin POR 2,2 95%CI: 1,099 - 4,327 , umur POR 0,13 95%CI: 0,134 - 0,523, penyimpanan makanan tertutup POR 0,44 95%CI: 1,012 - 5,109, keberadaan tikus POR 4,08 95%CI : 1,738 - 9,566, keberadaan hewan peliharaan POR 2,24 95%CI: 1,104 - 4,544 dan k
Epidemiologi Difteri di Indonesia Tahun 2020-2022: Distribusi Kasus, Tingkat Keparahan Gejala, Riwayat Imunisasi dan Risiko Kematian Fardani, Sekar Astrika; Wahyono, Tri Yunis Miko
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 7, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Difteri menjadi salah satu penyebab utama kematian anak dan dewasa pada era pre-vaksin. Insiden difteri secara global kembali meningkat pada beberapa tahun terakhir dengan case fatality rate (CFR) mencapai 10%. Manusia tidak memiliki kekebalan alami terhadap difteri, sehingga pemberian imunisasi sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap infeksi difteri, mengurangi tingkat keparahan dan risiko kematian. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran distribusi kasus, tingkat keparahan gejala, riwayat imunisasi difteri dan risiko kematian pada penderita difteri di Indonesia tahun 2020 s.d 2022. Penelitian dilakukan dengan desain studi cross-sectional dengan menggunakan data sekunder laporan kasus difteri nasional tahun 2020 s.d 2022. Dari 563 responden, studi kami menunjukkan penderita difteri paling banyak berusia 5 s.d 17 tahun (53,8%), laki-laki (55,8%) dan memiliki riwayat imunisasi difteri tidak lengkap/ tidak diimunisasi sama sekali (75,8%). Analisis multivariat menunjukkan bahwa penderita difteri dengan gejala berat memiliki kemungkinan 2,30 (aOR 2,30; 95%CI 1,32-4,01) kali lebih tinggi untuk mengalami kematian dibandingkan penderita difteri dengan gejala ringan, sedangkan pada penderita difteri dengan riwayat imunisasi tidak ada/ tidak lengkap memiliki kemungkinan 2,70 (aOR 2,70; 95%CI 1,16-6,25) kali lebih tinggi untuk mengalami kematian dibandingkan penderita difteri dengan riwayat imunisasi difteri lengkap setelah dikontrol variabel umur, hasil kultur spesimen C.diphtheria dan tingkat keparahan gejala. Dengan mengetahui distribusi kasus, tingkat keparahan gejala, riwayat imunisasi difteri dan risiko kematian pada penderita difteri, diharapkan pencegahan dan pengendalian difteri dapat dilakukan lebih optimal oleh pemerintah melalui kolaborasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, para ahli, Non-Government Organization dan dan pihak swasta terkait sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat difteri.
Analisis Potensial Kejadian Luar Biasa DBD Berdasarkan Kasus DBD 5 Tahun Terakhir 2019-2024 : Studi Ekologi di Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan Anggraini, Sely; Wahyono, Tri Yunis Miko; Fitria, Fitria; Putri, Nadia
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 9, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease in Indonesia, with a high potential for outbreaks, particularly in tropical and densely populated regions such as Lubuklinggau City. This study aimed to assess the outbreak potential of DHF in Lubuklinggau by analyzing the five-year trend of minimum and maximum case numbers (2019–2023) and comparing them with 2024 data using the epidemic threshold approach. A descriptive ecological study design was employed, with all primary health centers (puskesmas) in the city as units of analysis. Data sources included annual DHF surveillance reports from the District Health Office, field observations, demographic data from the Central Bureau of Statistics (BPS), and rainfall distribution maps from the South Sumatra Meteorological Agency (BMKG). The findings revealed a significant increase in DHF cases in 2024, with a total of 284 cases and a monthly average of 23.67, exceeding the epidemic threshold of 16.85. Outbreak conditions were identified in six months: April, May, July, August, November, and December. Exceptionally high rainfall in November 2024 is suspected to have contributed to the spike in cases observed in December. The highest number of cases occurred in the service area of the Citra Medika Health Center, which has the second-highest population density in the city. The main risk factors identified included inadequate mosquito breeding site control (PSN) practices and limited laboratory diagnostic capacity. These results underscore the need to strengthen active surveillance at the primary healthcare level, implement widespread public education on the 3M Plus strategy, enhance community participation in larval monitoring and vector control activities, and improve laboratory capacity to support early diagnosis and effective outbreak response. Keywords : Dengue Hemorrhagic Fever, Outbreak, Surveillance, Lubuklinggau, Ecological Study
Analisis Masalah Penyakit Menular Prioritas Di Provinsi Sulawesi Tengah Rizaldi, Mohamad; Wahyono, Tri Yunis Miko; Suardiyasa, I Made
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 13 No. 1 (2022): Volume 13 No.1 (2022)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v13i1.464

Abstract

Provinsi Sulawesi Tengah masih menghadapi masalah penyakit endemis seperti Sistosomiasis serta KLB yang rutin terjadi menambah permasalahan penyakit menular. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menentukan masalah penyakit menular prioritas serta penyebab penyakit menular prioritas. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2020 hingga Februari 2021 di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan mereview profil kesehatan tahun 2015-2019 dan data terkait lainnya. Prioritas masalah menggunakan metode PAHO-Adapted-Hanlon dan analisis penyebab masalah prioritas menggunakan metode Root Cause Analysis. Hasil Identifikasi masalah penyakit menular di Provinsi Sulteng yaitu CNR TB 220/100.000 penduduk dengan CFR 3,5%. Kasus HIV sebanyak 1811 kasus dan AIDS sebanyak 913 kasus dengan CFR 7%. Prevalensi Kusta 0,83/100.000 penduduk. Cakupan penemuan kasus pneumonia balita hanya 55,3% dengan CFR 0,12%, IR diare 17,3/1000 penduduk. API Malaria sudah mencapai 0,04/1000 penduduk. Kasus GHPR 3461 kasus dengan kasus Rabies Lyssa 8 kasus. IR Filariasis 6,3/100.000 penduduk dengan CFR 2,1%. PR Sistosomiasis pada manusia 0,1% sedangkan pada keong 2,5%. Hanya 1 kasus difteri yang ditemukan, terdapat 5 kasus Rubella dan tidak ada kasus campak. AFP rate 2,17/100.000 penduduk. Dari uraian tersebut, prioritas masalah penyakit menular di Provinsi Sulawesi Tengah yaitu Tuberkulosis (skor: 35,7), Rabies (Skor: 26,2) dan Demam Berdarah Dengue (Skor:24,5). Diharapkan dapat meningkatkan angka penemuan kasus TB dan jumlah layanan TB-RO, meningkatkan jumlah rabies center dan pengetahuan masyarakat terkait rabies serta meningkatkan kesadaran masyarakat terkait PSN.
Tren Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Depok Tahun 2022–2024 Habibi, Aulia; Wahyono, Tri Yunis Miko
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.51589

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tren penyakit HIV di Kota Depok pada tahun 2022–2024. Metode penelitian berupa analisis deskriptif menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Depok dan SatuDataDepok yang dikaji meliputi jumlah kasus HIV baru, cakupan pengobatan antiretroviral (ARV) pada orang dengan HIV (ODHIV), serta distribusi kasus berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia. Hasil penelitian menunjukkan tren kasus HIV baru yang fluktuatif, meningkat sebesar 33,03% dari 327 kasus pada tahun 2022 menjadi 435 kasus pada tahun 2023, kemudian menurun sebesar 6,90% menjadi 405 kasus pada tahun 2024. Cakupan pengobatan ARV mencapai 100% pada tahun 2022–2023, namun menurun menjadi 85,43% pada tahun 2024. Kasus pada laki-laki mendominasi dengan proporsi 79–84%, sedangkan kasus pada perempuan sebesar 16–21% dengan kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Kelompok usia 25–49 tahun merupakan kelompok dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang periode penelitian. Temuan ini memberikan gambaran penting mengenai dinamika epidemi HIV di Kota Depok dan menjadi dasar dalam perumusan strategi pencegahan dan pengendalian HIV yang lebih efektif dan berkelanjutan. Kata Kunci: tren HIV; cakupan ARV; distribusi kasus HIV; jenis kelamin; usia