Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Penggunaan Obat Nyamuk dan Pencegahan Demam Berdarah di DKI Jakarta dan Depok Wahyono, Tri Yunis Miko; MW, Oktarinda
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari hasil salah satu studi diketahui bahwa penggunaan obat nyamuk memiliki efek lebih besar dalam menanggulangi penyakit Demam Berdarah dibandingkan penggunaan larvasida dan fogging. Tujuan studi ini untuk mendapatkan informasi tentang penggunaan obat nyamuk di masyarakat. Studi ini merupakan studi deskriptif yang pengumpulan datanya dilaksanakan pada Februari-Maret 2013 di DKI Jakata dan kota Depok. Dari hasil studi ini didapatkan bahwa: Dari 83 responden yang mengisi kuesioner (terdiri dari 65% perempuan, 45% berpendidikan SLTA dan 11% salaah satu anggota keluarganya pernah menderta demam berdarah), didapatkan bahwa Jenis obat nyamuk yang sering digunakan adalah obat nyamuk lotion (32,5%), disusul dengan spray (26,5%), semprot/cair (18,1%), elektrik (15,7%) dan bakar (1,2%). Obat nyamuk yang dianggap paling efektif; lotion (29%), spray (19%), elektrik (16%) dan semprot/cair (13%). Obat nyamuk yang dianggap paling aman; lotion (31%), elektrik (30%), spray (15%) dan semprot/cair (12%). Alasan penggunaan obat nyamuk oleh masyarakat yaitu; murah, mudah di dapat dan memiliki aroma khusus. Studi menyarankan agar masyarakat menggunakan obat nyamuk dengan baik, benar dan aman.
The Relationship between Type 2 Diabetes Mellitus with Chronic Kidney Disease In Indonesian Population In 2014-2015 (Data Analysis of IFLS 5) Simanjuntak, Tri Damayanti; Wahyono, Tri Yunis Miko
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Global Burden of Disease research in 2010 reveal that cases of chronic kidney disease increase and became a serious health problem. Indonesia Basic Health Research data in 2013 reveal that the proportion of patients with chronic kidney failure aged > 15 years old based on doctor’s diagnosis was 0,2% and 0,6% kidney stones. The study aimed to analyze the relationship be tween type 2 diabetes mellitus and chronic kidney disease in the population of Indonesia in 2014-2015. This design of research used cross-sectional and secondary data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) 5. The minimum sample size in this study was 792 people with technique used total sampling, which found 34,012 people who meet the inclusion and exclusion criteria. The prevalence of chronic kidney disease in Indonesia population in 2014 – 2015 was 1%. The result of chi-square test of the rela tionship between type 2 diabetes mellitus and chronic kidney disease in the Indonesian population showed POR=2.48 (95%CI 1.422-4.071; p-value =0.0002). Multivariate analysis with logis tic regression tests POR 1.88 (95% CI 1.124 - 3.168; p-value = 0.016) after smoking status and history of high cholesterol were controlled. Patients with type 2 diabetes mellitus expects to make appropriate treatment efforts to prevent complications of chronic kidney disease.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Leptospirosis di 2 Kabupaten Lokasi Surveilans Sentinel Leptospirosis Provinsi Banten tahun 2017 – 2019 Ariani, Novie; Wahyono, Tri Yunis Miko
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leptospirosis termasuk dalam zoonosis, penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptopira. Terjadinya kasus leptopsirosis terkait erat dengan rantai penularan, dan rantai penularan leptospirosis terkait dengan banyak faktor. Faktor risiko leptospirosis dapat diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok utama: faktor hewan, faktor lingkungan, dan faktor manusia. Banten yang merupakan daerah endemis Leptospirosis, terpilih untuk menjadi lokasi surveilans Sentinel Leptospirosis, tepatnya berlokasi di Kab, Tangerang dan Kab. Serang. Penelitian tentang leptospirosis masih sangat jarang dilakukan di provinsi Banten, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi kejadian leptospirosis di 2 kabupaten lokasi surveilans sentinel leptopspirosis provinsi Banten selama tahun 2017 – 2019. Rancangan penelitian adalah cross sectional dengan populasi sampel adalah suspek Leptospirosis di lokasi Sentinel. Penelitian dilakukan dengan data dari Sentinel Leptospirosis di Kab. Serang dan Kab. Tangerang selama tahun 2017 – 2019. Sampel penelitian adalah seluruh suspek yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Variabel yang di teliti adalah kejadian Leptospirosis, jenis kelamin, umur, pekerjaan, keberadaan tikus, tempat penyimpanan makanan, keberadaan hewan peliharaan, keberadaan hewan ternak, rumah banjir, kontak air tergenang, aktivitas di air/sungai, membersihkan saluran air dan membersihkan sampah. Dilakukan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan menggunakan regresi logistik. Dari hasil penelitian di dapat hasil faktor faktor yang mempengaruhi kejadian leptospirosis di 2 kabupaten lokasi surveilas sentinel Leptospirosis di Provinsi Banten tahun 2017 – 2019 adalah jenis kelamin POR 2,2 95%CI: 1,099 - 4,327 , umur POR 0,13 95%CI: 0,134 - 0,523, penyimpanan makanan tertutup POR 0,44 95%CI: 1,012 - 5,109, keberadaan tikus POR 4,08 95%CI : 1,738 - 9,566, keberadaan hewan peliharaan POR 2,24 95%CI: 1,104 - 4,544 dan k
Epidemiologi Difteri di Indonesia Tahun 2020-2022: Distribusi Kasus, Tingkat Keparahan Gejala, Riwayat Imunisasi dan Risiko Kematian Fardani, Sekar Astrika; Wahyono, Tri Yunis Miko
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 7, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Difteri menjadi salah satu penyebab utama kematian anak dan dewasa pada era pre-vaksin. Insiden difteri secara global kembali meningkat pada beberapa tahun terakhir dengan case fatality rate (CFR) mencapai 10%. Manusia tidak memiliki kekebalan alami terhadap difteri, sehingga pemberian imunisasi sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap infeksi difteri, mengurangi tingkat keparahan dan risiko kematian. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran distribusi kasus, tingkat keparahan gejala, riwayat imunisasi difteri dan risiko kematian pada penderita difteri di Indonesia tahun 2020 s.d 2022. Penelitian dilakukan dengan desain studi cross-sectional dengan menggunakan data sekunder laporan kasus difteri nasional tahun 2020 s.d 2022. Dari 563 responden, studi kami menunjukkan penderita difteri paling banyak berusia 5 s.d 17 tahun (53,8%), laki-laki (55,8%) dan memiliki riwayat imunisasi difteri tidak lengkap/ tidak diimunisasi sama sekali (75,8%). Analisis multivariat menunjukkan bahwa penderita difteri dengan gejala berat memiliki kemungkinan 2,30 (aOR 2,30; 95%CI 1,32-4,01) kali lebih tinggi untuk mengalami kematian dibandingkan penderita difteri dengan gejala ringan, sedangkan pada penderita difteri dengan riwayat imunisasi tidak ada/ tidak lengkap memiliki kemungkinan 2,70 (aOR 2,70; 95%CI 1,16-6,25) kali lebih tinggi untuk mengalami kematian dibandingkan penderita difteri dengan riwayat imunisasi difteri lengkap setelah dikontrol variabel umur, hasil kultur spesimen C.diphtheria dan tingkat keparahan gejala. Dengan mengetahui distribusi kasus, tingkat keparahan gejala, riwayat imunisasi difteri dan risiko kematian pada penderita difteri, diharapkan pencegahan dan pengendalian difteri dapat dilakukan lebih optimal oleh pemerintah melalui kolaborasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, para ahli, Non-Government Organization dan dan pihak swasta terkait sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat difteri.
Analisis Potensial Kejadian Luar Biasa DBD Berdasarkan Kasus DBD 5 Tahun Terakhir 2019-2024 : Studi Ekologi di Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan Anggraini, Sely; Wahyono, Tri Yunis Miko; Fitria, Fitria; Putri, Nadia
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 9, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease in Indonesia, with a high potential for outbreaks, particularly in tropical and densely populated regions such as Lubuklinggau City. This study aimed to assess the outbreak potential of DHF in Lubuklinggau by analyzing the five-year trend of minimum and maximum case numbers (2019–2023) and comparing them with 2024 data using the epidemic threshold approach. A descriptive ecological study design was employed, with all primary health centers (puskesmas) in the city as units of analysis. Data sources included annual DHF surveillance reports from the District Health Office, field observations, demographic data from the Central Bureau of Statistics (BPS), and rainfall distribution maps from the South Sumatra Meteorological Agency (BMKG). The findings revealed a significant increase in DHF cases in 2024, with a total of 284 cases and a monthly average of 23.67, exceeding the epidemic threshold of 16.85. Outbreak conditions were identified in six months: April, May, July, August, November, and December. Exceptionally high rainfall in November 2024 is suspected to have contributed to the spike in cases observed in December. The highest number of cases occurred in the service area of the Citra Medika Health Center, which has the second-highest population density in the city. The main risk factors identified included inadequate mosquito breeding site control (PSN) practices and limited laboratory diagnostic capacity. These results underscore the need to strengthen active surveillance at the primary healthcare level, implement widespread public education on the 3M Plus strategy, enhance community participation in larval monitoring and vector control activities, and improve laboratory capacity to support early diagnosis and effective outbreak response. Keywords : Dengue Hemorrhagic Fever, Outbreak, Surveillance, Lubuklinggau, Ecological Study
Analisis Masalah Penyakit Menular Prioritas Di Provinsi Sulawesi Tengah Rizaldi, Mohamad; Wahyono, Tri Yunis Miko; Suardiyasa, I Made
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 13 No. 1 (2022): Volume 13 No.1 (2022)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v13i1.464

Abstract

Provinsi Sulawesi Tengah masih menghadapi masalah penyakit endemis seperti Sistosomiasis serta KLB yang rutin terjadi menambah permasalahan penyakit menular. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menentukan masalah penyakit menular prioritas serta penyebab penyakit menular prioritas. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2020 hingga Februari 2021 di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan mereview profil kesehatan tahun 2015-2019 dan data terkait lainnya. Prioritas masalah menggunakan metode PAHO-Adapted-Hanlon dan analisis penyebab masalah prioritas menggunakan metode Root Cause Analysis. Hasil Identifikasi masalah penyakit menular di Provinsi Sulteng yaitu CNR TB 220/100.000 penduduk dengan CFR 3,5%. Kasus HIV sebanyak 1811 kasus dan AIDS sebanyak 913 kasus dengan CFR 7%. Prevalensi Kusta 0,83/100.000 penduduk. Cakupan penemuan kasus pneumonia balita hanya 55,3% dengan CFR 0,12%, IR diare 17,3/1000 penduduk. API Malaria sudah mencapai 0,04/1000 penduduk. Kasus GHPR 3461 kasus dengan kasus Rabies Lyssa 8 kasus. IR Filariasis 6,3/100.000 penduduk dengan CFR 2,1%. PR Sistosomiasis pada manusia 0,1% sedangkan pada keong 2,5%. Hanya 1 kasus difteri yang ditemukan, terdapat 5 kasus Rubella dan tidak ada kasus campak. AFP rate 2,17/100.000 penduduk. Dari uraian tersebut, prioritas masalah penyakit menular di Provinsi Sulawesi Tengah yaitu Tuberkulosis (skor: 35,7), Rabies (Skor: 26,2) dan Demam Berdarah Dengue (Skor:24,5). Diharapkan dapat meningkatkan angka penemuan kasus TB dan jumlah layanan TB-RO, meningkatkan jumlah rabies center dan pengetahuan masyarakat terkait rabies serta meningkatkan kesadaran masyarakat terkait PSN.
Pengaruh Jarak ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan terhadap Kejadian Default pada Penderita TB Paru di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Salam, Salam; Wahyono, Tri Yunis Miko
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 3 No. 3 (2020): September 2020
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.54 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v3i3.1121

Abstract

Terkonsentrasinya rumah sakit di wilayah perkotaan membuat tidak meratanya akses pelayanan kesehatan bagi penduduk yang berada di daerah pedesaan dikarenakan jarak ke rumah sakit menjadi jauh dari tempat tinggal dalam mencari pengobatan. Angka putus berobat pasien TB paru tertinggi di Kabupaten Purbalingga berada di Rumah Sakit Goeteng Taroenadibrata, Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan terhadap kejadian default pada penderita TB paru di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Tahun 2018-2019. Bahan dan metode Jenis penelitian ini adalah penelitian epidemiologi observasional analitik dengan menggunakan pendekatan case control study. Perbandingan kelompok kasus dan kelompok kontrol (1:1) jumlah seluruh kasus sebanyak 29 kasus dan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 28 kasus sehingga jumlah sampel yang didapat adalah 56 dengan rincian 28 kasus dan 28 kontrol. Hasil penelitian hasil analisis bivariat ada hubungan yang bermakna antara jarak rumah dengan rumah sakit dengan terjadinya default, OR=3,262 p=0,0321. Analisis Multivariat dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara jarak rumah dengan terjadinya default OR=5,21 p=0,012 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara jarak rumah dengan rumah sakit setelah dikontrol oleh variabel konfounding jenis kelamin. Kesimpulan ada hubungan yang bermakna antara jarak rumah ke rumah sakit dengan kejadian  default.
Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronis pada Kelompok Usia Dewasa : Literature Review: Risk Factors for Chronic Kidney Disease in the Adult Age Group : Literature Review Arriyani, Farida; Wahyono, Tri Yunis Miko
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 5 (2023): May 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i5.3239

Abstract

Latar Belakang: Penyakit ginjal kronis adalah salah satu penyakit katastropik yang menjadi beban pembiayaan kesehatan. Perlunya mengetahui faktor risiko penyakit ini dapat menjadi salah satu upaya awal dalam pencegahan penyakit ginjal kronis. Tujuan: Penelitian ini untuk menganalisis literatur ilmiah yang membahas faktor risiko gagal ginjal kronis pada usia dewasa. Metode: Systematic review digunakan sebagai metode dalam penelitian ini. Artikel yang digunakan adalah artikel berbahasa inggris dengan rentang waktu tahun 2012-2022 yang didapat dari database Scopus, ScienceDirect dan ProQuest. Kriteria inklusi yaitu data-data yang memuat kata kunci faktor risiko, ginjal kronis, dan dewasa, sedangkan kriteria eksklusi adalah artikel yang tidak berhubungan dengan kata kunci tersebut. Artikel yang disertakan pada penelitian ini adalah desain cross-sectional dengan jumlah sampel yang besar dan dilakukan di berbagai negara seperti Nikaragua, Amerika Serikat, Ethiopia, Nepal, Malaysia, Nigeria, Iran, India dan Cina. Hasil: Diperoleh 10 artikel yang membahas faktor risiko penyakit ginjal kronis pada usia dewasa. Sebagian besar faktor risiko yang dibahas adalah usia, jenis kelamin, etnis, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, hipertensi, diabetes melitus, batu ginjal, obesitas, dislipidemia, dan merokok. Kesimpulan: Faktor yang meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis adalah individu dengan usia yang lebih tua, laki-laki, etnis tertentu (Afrika Amerika, Hispanik, Amerika Asli, atau Asia), memiliki riwayat penyakit ginjal keluarga, hipertensi, diabetes melitus, batu ginjal, obesitas, hiperkolesterolemia, dan merokok. Memahami faktor penyebab dan menerapkan skrining pada populasi yang berisiko akan meningkatkan deteksi dini, memulai pengobatan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, dan pengobatan yang tepat untuk PGK. Pencegahan dapat dilakukan melalui kegiatan promotif dan preventif untuk mengurangi kasus penyakit ginjal kronis di masyarakat, yaitu dengan menerapkan gaya hidup sehat.
Faktor Perilaku Pencegahan Terhadap Kejadian Malaria di Papua: Analisis Riskesdas 2010-2018 : Factors of Preventive Behavior Against Malaria Incidence in Papua: Riskesdas Analysis 2010-2018 Mufara, Chinta Novianti; Wahyono, Tri Yunis Miko
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 5 (2023): May 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i5.3294

Abstract

Latar belakang: Indonesia menyumbangkan sekitar 1% kematian akibat malaria. Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat selalu menempati urutan pertama kasus postif malaria terbanyak di Indonesia. Perilaku pencegahan malaria dilakukan dengan menggunakan kelambu, penggunaan repellent, pemakaian obat nyamuk, menggunakan kasa nyamuk pada jendela atau ventilasi. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk melihat faktor perilaku pencegahan yang dilakukan masyarakat terhadap kejadian malaria tahun 2010-2018 di Papua. Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas tahun 2010-2018 dengan rancangan penelitian cross-sectional. Populasi studi merupakan 88.302 orang anggota rumah tangga di Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat yang berhasil diwawancarai. Analisis menggunakan multivariat regresi logistic. Hasil: Hasil penelitian memperlihatkan Penggunaan kelambu dampak paling besar dalam pencegahan malaria tahun 2018 (AOR 1,820; 95% CI 1,732-1,913), penyemprotan obat nyamuk/insektisida tahun 2013 (AOR 1,252; 95% CI 1,118-1,401), menggunakan repellent (AOR 1,209; 95% CI 1,133-1,289), penggunaan kasa nyamuk (AOR 1,150; 95% CI 1,080-1,226) serta pemkaian obat nyamuk bakar/elektrik/ semprot (AOR 1,145; 95% CI 1,081-1,212). Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa perilaku penggunaan kelambu, menggunakan repellent, penggunaan kasa nyamuk serta pemakaian obat nyamuk dapat mencegah penularan penyakit malaria.