Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : POSITRON

Analisis Pengaruh Waktu Hidrolisis Terhadap Sifat Mekanis Selulosa Kristalin Dari Campuran Serbuk Gergaji Kayu Belian, Bengkirai, Jati dan Meranti Neng Ayu Arini; Mariana Bara'allo Malino; Dwiria Wahyuni
POSITRON Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.325 KB) | DOI: 10.26418/positron.v5i2.12136

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh waktu hidrolisis terhadap sifat mekanis selulosa kristalin dari campuran serbuk gergaji kayu belian, bengkirai, jati dan meranti. Isolasi selulosa kristalin dari serbuk gergaji dilakukan melalui 3 tahap yaitu ekstraksi, bleaching dan hidrolisis asam. Tahap ekstraksi menggunakan larutan alkohol-benzena (1:2) dan larutan NaOH dengan Na2S. Tahap bleaching menggunakan hipoklorit 30%. Sedangkan tahap hidrolisis asam menggunakan HCl 37% dengan asam: selulosa yaitu 4:1. Selulosa kristalin dibuat dengan variasi waktu hidrolisis yaitu 30 menit, 45 menit dan 90 menit. Nilai optimum diperoleh dari hasil hidrolisis 30 menit dengan derajat kristalinitas 74,49%, kekuatan tarik 20,09 kPa, kekuatan putus 17,64 kPa dan modulus elastisitas 1,3393 MPa. Nilai derajat kristalinitas berbanding lurus dengan parameter mekanis selulosa kristalin yang dihasilkan.
Effect of Calcination Temperature on the Powder of Freshwater Snail Shells (Sulcospira testudinaria) Properties Nugroho, Bintoro Siswo; Wahyuni, Dwiria; Asri, Asifa; Mustafa, Usliana
POSITRON Vol 13, No 2 (2023): Vol. 13 No. 2 Edition
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/positron.v13i2.70055

Abstract

Gastropod shells, such as those from the freshwater snail (Sulcospira testudinaria), have garnered interest as potential sources of calcium precursors. These shells are rich in calcium carbonate (CaCO3), which can be thermally decomposed into calcium oxide (CaO) through calcination. However, more information is needed on optimizing calcium extraction from the Sulcospira testudinaria (SST) shells. This study aims to investigate the influence of calcination temperature on the characteristics of powder of these shells. The study involves two sample treatments: uncalcined shells and shells calcined at temperatures ranging from 500°C to 1100°C for 1 hour. Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) analysis of uncalcined shell powder revealed the presence of aragonite functional groups within the CaCO3 structure. X-ray diffraction (XRD) analysis provided insights into the transformation of crystalline phases of CaCO3, starting from aragonite to calcite and eventually to calcium oxide, explaining the material's weight loss during calcination. The conversion of aragonite to calcite occurs between 500°C and 700°C, while optimal decomposition into CaO is achieved at 1000°C. X-ray fluorescence (XRF) analysis indicated reduced impurities in the samples post-calcination. Scanning electron microscopy (SEM) detailed the morphological characteristics of the shell powders, highlighting temperature-dependent surface features. In conclusion, the optimal calcination temperature for extracting calcium from SST shells is 1000°C. The resulting calcium oxide can be a valuable precursor for various material applications. This research contributes to the efficient utilization of biowaste resources, emphasizing the potential of freshwater snail shells in the sustainable production of calcium-derived materials.
Analisis Sifat Fisik dan Mekanik Papan Partikel Berbahan Dasar Sekam Padi Fauziah, .; Wahyuni, Dwiria; Lapanporo, Boni Pahlanop
POSITRON Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.257 KB) | DOI: 10.26418/positron.v4i2.8728

Abstract

Abstrak Telah dilakukan pembuatan papan patikel dari sekam padi dengan menggunakan perekat urea formaldehyde (UF). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat fisik dan mekanik pada papan partikel. Pembuatan papan partikel menggunakan bahan baku sekam kasar dan sekam halus dengan perbandingan bahan baku 60 : 40, dan penambahan perekat urea formaldehyde (UF) dengan persentase berat perekat yang digunakan adalah 18%, 20%, dan 22%. Papan partikel kemudian dikempa dengan tekanan 25 kg/cm2 pada suhu 140°C selama 8 menit. Papan partikel yang dihasilkan kemudian diuji sifat fisik dan mekaniknya menurut standar JIS A 5908-2003. Dari hasil penelitian  sifat fisik yang memenuhi standar JIS A 5908-2003 yaitu kerapatan dengan nilai 0,703  sampai 0,709  dan kadar air dengan nilai 8,75% sampai 9,92%. Akan tetapi, sifat mekanik papan partikel tidak memenuhi standar JIS A 5908-2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa papan partikel dari sekam padi dapat digunakan sebagai bahan baku papan partikel.  
Pengaruh Susunan Serat pada Papan Komposit Serat Bambu terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Nurhanisa, Mega; Wahyuni, Dwiria; Masela, Patrisia
POSITRON Vol 11, No 2 (2021): Vol. 11 No. 2 Edition
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/positron.v11i2.64319

Abstract

Kebutuhan akan papan sebagai material untuk mebel semakin meningkat. Oleh karenanya, dibutuhkan alternatif material pengganti papan kayu, seperti papan komposit. Penelitian ini bertujuan untuk membuat papan komposit dari serat bambu dan polipropilena (PP) yang divariasikan susunan seratnya, yaitu susunan serat searah dan serat dua arah. Perlakuan variasi susunan serat dilakukan untuk melihat pengaruhnya terhadap sifat fisis (kerapatan dan pengembangan tebal) dan sifat mekanis (Moduluss of Elasticity (MOE) dan Modulus of Rupture (MOR)). Serat bambu yang digunakan berasal dari bambu buluh dan bambu tamiang. Papan komposit serat dibuat dengan perbandingan komposisi 40% serat bambu dan 60% plastik PP dengan metode lapisan (sandwich). Standar pengujian mengacu pada SNI 01-4449-2006 tentang papan serat. Sifat fisis papan komposit serat bambu yang dibuat sudah memenuhi standar dengan nilai kerapatan 0,65-0,70 g/cm3 dan nilai pengembangan tebal 4,82-14,64%. Sementara itu, untuk sifat mekanis, MOR papan komposit adalah 267,87-353,56 N/cm2, dengan komposit berbahan bambu buluh dengan susunan serat searah tidak memenuhi standar. Nilai MOE untuk semua papan komposit yang dibuat tidak memenuhi standar, dengan nilai MOE adalah 10.739-15.895 N/cm2. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa papan komposit dari bambu buluh dan bambu tamiang dengan susunan serat searah memiliki nilai fisis dan mekanis yang baik dengan memenuhi 3 dari 4 sifat yang diuji.
Implementasi Convolutional Neural Network dalam Menentukan Tingkat Kematangan Jeruk Siam Pontianak Berdasarkan Citra Sutanto, Yuris; H., Cindy Priscilla; Nurhasanah, Nurhasanah; Wahyuni, Dwiria; Arman, Yudha; Hasanuddin, Hasanuddin
POSITRON Vol 12, No 2 (2022): Vol. 12 No. 2 Edition
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/positron.v12i2.64594

Abstract

Pada umumnya, pemilihan jeruk dilakukan secara manual menggunakan pengamatan berdasarkan tingkat kematangannnya. Namun cara tersebut dianggap kurang efektif karena membutuhkan waktu lama dan tingkat keakuratan yang berbeda. Seiring berkembangnya teknologi, cara alternatif yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi suatu objek adalah dengan melakukan pengolahan citra. Penelitian ini bertujuan untuk mengkomparasi tingkat kematangan jeruk siam Pontianak berdasarkan citra menggunakan metode Convolutional Neural Network (CNN). Citra jeruk akan dibagi menjadi 2 kelas (belum matang dan sudah matang) dan 3 kelas (belum matang, tepat matang, dan terlalu matang). Citra yang digunakan sebanyak 120 data yang diambil menggunakan kamera smartphone. Pembagian citra dilakukan dengan menggunakan metode k-means clustering yang parameter pengelompokannya berdasarkan data hasil pengukuran kadar gula jeruk siam Pontianak dan data hasil ekstraksi fitur menggunakan metode Gray Level Co-occurrence Matrix (GLCM). Citra yang telah dikelompokkan akan di komparasi menggunakan metode CNN. Hasil akurasi yang diperoleh adalah 75% untuk citra berdasarkan data gula dengan 3 kelas, untuk citra berdasarkan data GLCM dengan 3 kelas sebesar 41.67% dan untuk 2 kelas sebesar 77.38%. Hasil tersebut mampu untuk menentukan tingkat kematangan buah jeruk. Akan tetapi berdasarkan parameter karakteristik, CNN hanya mampu mendapatkan akurasi yang baik pada 2 kelas saja
Reduksi Termal Oksida Grafena Berbasis Tandan Kosong Kelapa Sawit: Sintesis dan Aplikasinya sebagai Adsorben Metilen Biru Saron, Mawar; Wahyuni, Dwiria; Arman, Yudha
POSITRON Vol 15, No 1 (2025): Vol. 15 No. 1 Edition
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/positron.v15i1.92203

Abstract

Oksida grafena tereduksi (rGO) menjadi material yang menarik dalam berbagai aplikasi, termasuk dalam pengolahan limbah dan degradasi polutan. Dalam penelitian ini, rGO disintesis dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menggunakan proses reduksi termal untuk aplikasi degradasi metilen biru (MB). TKKS yang kaya akan serat digunakan sebagai prekursor untuk memproduksi grafena oksida (GO) melalui oksidasi dengan bahan kimia. GO kemudian direduksi secara termal menggunakan metode ultrasonikasi, gelombang mikro, dan hidrotermal untuk menghasilkan rGO. Karakterisasi material yang dihasilkan dilakukan menggunakan X-ray diffraction (XRD) untuk mengidentifikasi struktur dan kristalinitas dari GO dan rGO. GO memiliki puncak di 2θ = 6,2 ° sedangkan rGO memiliki puncak 2θ di antara 23-25 ° dan 43-45 °. rGO yang dihasilkan memiliki derajat kristalinitas diantara 65-69% artinya struktur rGO teridentifikasi semi kristal. Uji degradasi menunjukkan bahwa rGO hidrotermal dapat mengurangi konsentrasi metilen biru hingga 79,9% dalam waktu 3 jam, dengan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan rGO ultrasonikasi dan gelombang mikro. Penelitian ini menunjukkan potensi besar TKKS sebagai sumber bahan baku alternatif untuk sintesis rGO, serta memberikan bukti bahwa rGO yang dihasilkan memiliki kemampuan adsorpsi yang baik untuk degradasi polutan organik seperti metilen biru. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku alternatif untuk sintesis rGO serta evaluasi perbandingan tiga metode reduksi. Hasilnya membuktikan bahwa rGO hidrotermal dari TKKS efektif dalam menurunkan konsentrasi metilen biru, sehingga dapat memberikan solusi pengolahan limbah yang efisien dan berkelanjutan.
Sintesis dan Karakterisasi Karbon Aktif Kulit Kacang Tanah dengan Variasi Suhu Aktivasi sebagai Adsorben Besi pada Air Gambut Wahyuni, Dwiria; Sinaga, Dian Tarni; Asri, Asifa
POSITRON Vol 15, No 2 (2025): Vol. 15 No. 2 Edition
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/positron.v15i2.102283

Abstract

Kulit kacang tanah merupakan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Oleh karenanya, diperlukan upaya pengolahan limbah kulit kacang tanah, misalnya dengan mengubahnya menjadi adsorben yang dapat digunakan dalam proses remediasi lingkungan air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performa karbon aktif kulit kacang tanah teraktivasi H2SO4 dengan variasi suhu aktivasi dalam menyerap kandungan besi pada air tanah gambut. Karbon aktif diperoleh dengan melalui tahap preparasi, karbonisasi, dan aktivasi kimia-fisika. Kulit kacang tanah dikarbonisasi pada suhu 450oC. Kemudian diaktivasi secara kimia menggunakan H2SO4 0,05M selama 24 jam. Pada penelitian ini, digunakan variasi suhu aktivasi yaitu 100oC, 200oC, 300oC, 400oC, 500oC dan 600oC selama 1 jam. Analisis terhadap konsentrasi kandungan besi menggunakan spektrofotometer adsorpsi atom menunjukkan bahwa karbon aktif yang teraktivasi pada suhu 200oC mempunyai kemampuan adsorpsi kandungan besi terbaik sebesar 80%. Analisis terhadap citra SEM terhadap permukaan karbon aktif menunjukkan bentuk pori yang tidak teratur. Namun, jumlah pori pada suhu 200oC adalah yang terbanyak. Uji kandungan air dan kandungan abu pada karbon aktif yang disintesis menunjukkan bahwa seluruh variasi sudah memenuhi standar SNI untuk kedua paramater uji. Dengan demikian, variasi suhu aktivasi 200oC memberikan karbon aktif kulit kacang dengan karakter terbaik.
Analisis Kinerja Metode Elektrokoagulasi Dengan Pelat Berlubang Dalam Upaya Peningkatan Kualitas Air Sumur Bor Asri, Asifa; Kornelia, Yenniarti; Wahyuni, Dwiria
POSITRON Vol 15, No 2 (2025): Vol. 15 No. 2 Edition
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/positron.v15i2.101568

Abstract

Ketersediaan air bersih tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan masyarakat seiring meningkatnya jumlah penduduk, sehingga air sumur bor banyak dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif. Namun, air sumur bor cenderung mengandung padatan tersuspensi, logam terlarut seperti besi, serta memiliki nilai pH yang tidak stabil sehingga perlu diproses melalui pengolahan awal untuk memenuhi standar kualitas air bersih. Penelitian ini mengevaluasi kinerja proses elektrokoagulasi dalam meningkatkan kualitas air sumur bor menggunakan elektroda pelat berlubang dengan variasi diameter lubang 7 mm, 5 mm, dan 3 mm, serta pelat tanpa lubang. Efisiensi proses dinilai menggunakan metode pembobotan multikriteria berdasarkan parameter kualitas air (kadar besi, kekeruhan, TDS, dan pH) serta performa operasi (massa anoda terlarut dan konsumsi energi listrik). Hasil menunjukkan bahwa pelat berdiameter 5 mm menghasilkan perbaikan kualitas air paling tinggi, dengan reduksi kadar besi sebesar 67,31%, kekeruhan 98,50%, TDS 30,65%, serta pH yang mencapai rentang normal. Dari aspek performa alat, pelat 5 mm menghasilkan pelarutan anoda minimum, sedangkan konsumsi energi terendah diperoleh pada pelat berdiameter 7 mm dengan nilai 42,44 kWh/m³. Berdasarkan skor pembobotan keseluruhan, pelat berlubang berdiameter 5 mm merupakan konfigurasi paling efisien dengan nilai efisiensi 76% dalam meningkatkan kualitas air sumur bor melalui proses elektrokoagulasi.