Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Efektivitas Power Pumping dan Breast Care Stimulation Terhadap Produksi ASI, Onset Laktasi, dan Self-Efikasi Pada Ibu Post Seksio Sesarea Ni Nyoman Surti; Murtiningsih Murtiningsih; Fauziah Rudhiati; Hemi Fitriani; Monna Maharani Hidayat
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026): OKTOBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62836

Abstract

Ibu post seksio sesarea memiliki risiko mengalami keterlambatan onset laktasi dan produksi ASI yang tidak adekuat akibat nyeri pascaoperasi, keterbatasan mobilisasi, serta stres psikologis. Intervensi stimulasi laktasi yang efektif diperlukan untuk mendukung keberhasilan menyusui pada periode kritis 48-72 jam postpartum. Penelitian ini bertujuan menganalisis Efektivitas Power Pumping dan Breastcare Stimulation terhadap Produksi Asi, Onset Laktasi dan Self-Efikasi Pada Ibu Post Seksio Caesaria. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental pre-test post-test control group. Sampel sebanyak 60 ibu post seksio sesarea di RS Mitra Keluarga Bekasi dibagi menjadi kelompok intervensi (n=30) dan kontrol (n=30). Intervensi berupa kombinasi Power Pumping dan Breast Care Gentle Stimulation diberikan setiap 8 jam selama 48 jam. Pengukuran meliputi onset laktasi, produksi ASI hari ke-3, dan skor Breastfeeding Self-Efficacy Scale-Short Form (BSES-SF). Analisis data menggunakan uji Chi-Square, Mann-Whitney U, Independent Samples T-Test, dan regresi logistik. Intervensi berpengaruh signifikan terhadap percepatan onset laktasi (p<0,001) dan peningkatan produksi ASI hari ke-3 (p<0,001). Proporsi onset laktasi cepat pada kelompok intervensi sebesar 93,3% dibandingkan 43,3% pada kelompok kontrol. Median produksi ASI kelompok intervensi 13,00 mL (IQR 3) versus 9,00 mL (IQR 6) pada kelompok kontrol. Namun, tidak terdapat perbedaan bermakna pada Breastfeeding Self-Efficacy antara kedua kelompok (p=0,530). Analisis multivariat menunjukkan intervensi tetap menjadi faktor dominan terhadap onset laktasi (OR=13,69; 95% CI: 2,96-63,24) dan produksi ASI (OR=6,67; 95% CI: 1,89-23,55) setelah dikontrol faktor perancu. Kombinasi Power Pumping dan Breast Care Gentle Stimulation efektif mempercepat onset laktasi dan meningkatkan produksi ASI pada ibu post seksio sesarea. Intervensi ini direkomendasikan sebagai bagian dari asuhan keperawatan maternitas berbasis bukti untuk mendukung keberhasilan laktasi dini.
Pengaruh Program Mentorship Terhadap Kompetensi Pengkajian Keperawatan Perawat Klinis I di RSPAD Gatot Soebroto Hermayanti Hermayanti; Iin Inayah; Fauziah Rudhiati; Chatarina Suryaningsih; Lilis Rohayani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026): OKTOBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63120

Abstract

Kompetensi pengkajian keperawatan merupakan kemampuan fundamental yang menjadi dasar proses keperawatan. Perawat Klinis I (PK I) berada pada tahap awal pengembangan kompetensi klinis sehingga memerlukan pembimbingan terstruktur. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh program mentorship terhadap kompetensi pengkajian keperawatan PK I di RSPAD Gatot Soebroto. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest-posttest control group melibatkan 48 PK I yang dibagi menjadi kelompok intervensi (n=24) dan kontrol (n=24). Kelompok intervensi memperoleh program mentorship selama 4 minggu, sedangkan kelompok kontrol menjalani pembinaan rutin. Kompetensi diukur menggunakan instrumen 20 butir yang telah divalidasi (I-CVI=1,00; S-CVI=1,00). Data yang belum memenuhi asumsi normalitas dilakukan reflected logarithmic transformation. Analisis menggunakan paired t-test dan independent t-test. Rata-rata skor kelompok intervensi meningkat dari 65,75±7,46 menjadi 96,08±2,12, sedangkan kelompok kontrol meningkat dari 65,08±7,66 menjadi 88,42±3,75. Paired t-test menunjukkan perbedaan bermakna antara pretest dan posttest pada kedua kelompok (p<0,001). Independent t-test menunjukkan perbedaan bermakna pada skor posttest antara kelompok intervensi dan kontrol (p<0,001), dengan rata-rata kelompok intervensi lebih tinggi. Program mentorship berpengaruh terhadap kompetensi pengkajian keperawatan PK I dan dapat dipertimbangkan sebagai strategi pembinaan klinis untuk mendukung pengembangan kompetensi perawat.
Perbandingan Mecfix Support dan Konvensional Terhadap Penyembuhan Luka Pada Anak Post Operasi Posterior Sagittal Anorectoplasty (PSARP) di Ruang Perawatan Lantai 1 Paviliun Ade Irma Suryani Rspad Gatot Soebroto Hamimah Hamimah; Budiman Budiman; Fauziah Rudhiati; Dyna Apriany; Chatarina Suryaningsih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026): OKTOBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63165

Abstract

Anak pascaoperasi Posterior Sagittal Anorectoplasty (PSARP) memiliki risiko gangguan penyembuhan luka karena lokasi luka berada pada area perineum yang rentan terhadap kontaminasi, kelembapan, gesekan, dan gangguan stabilitas. MECFIX Support dikembangkan sebagai alat fiksasi untuk mempertahankan posisi ekstremitas bawah, mengurangi tarikan mekanik pada luka, serta memberikan perlindungan selama proses penyembuhan. Mengetahui perbandingan MECFIX Support dan perawatan konvensional terhadap penyembuhan luka pada anak post operasi PSARP di Ruang Perawatan Lantai 1 Paviliun Ade Irma Suryani RSPAD Gatot Soebroto. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan quasi experimental with control group design. Sampel penelitian berjumlah 34 responden yang dibagi menjadi kelompok MECFIX Support dan kelompok perawatan konvensional, masing-masing 17 responden. Penyembuhan luka diukur menggunakan instrumen REEDA melalui pengukuran pretest dan posttest. Analisis data menggunakan uji statistik nonparametrik Mann-Whitney. Rata-rata skor penyembuhan luka pada kelompok MECFIX Support mengalami penurunan dari 10,41 (SD 3,280) menjadi 3,12 (SD 1,269). Kelompok konvensional mengalami peningkatan dari 10,41 (SD 2,425) menjadi 12,35 (SD 2,668). Uji pengaruh MECFIX Support menunjukkan hasil signifikan (p=0,000). Uji perbedaan setelah intervensi menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok MECFIX Support dan konvensional (p=0,000), dengan mean rank kelompok MECFIX Support sebesar 9,00 dan kelompok konvensional sebesar 26,00. MECFIX Support berpengaruh signifikan dan memberikan hasil penyembuhan luka yang lebih baik dibandingkan perawatan konvensional pada anak post operasi PSARP di RSPAD Gatot Soebroto. MECFIX Support dapat dipertimbangkan sebagai alternatif metode fiksasi dalam mendukung stabilitas, perlindungan, dan proses penyembuhan luka post operasi PSARP pada anak.
Comparison of Effectiveness Between Buteyko Breathing and Balloon Blowing Technique on Oxygen Saturation, Peak Expiratory Flow, and Respiratory Rate in Children (Aged 6-12 Years) With Asthma Sherly Widianti; Murtiningsih Murtiningsih; Fauziah Rudhiati; Dyna Apriany; Sri Wulandari Novianti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026): OKTOBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63315

Abstract

Asthma in children can cause airflow obstruction and changes in breathing patterns. Buteyko Breathing and Balloon Blowing can be used as complementary non-pharmacological interventions. This study aimed to determine the effectiveness of Buteyko Breathing and Balloon Blowing on Peak Expiratory Flow (PEF), Respiratory Rate (RR), and Oxygen Saturation (SpO₂), and to compare the effectiveness of both exercises in children with asthma. This study used a quasi-experimental design with a two-group pretest-posttest design. The sample consisted of 70 children aged 6-12 years with asthma, comprising 35 participants in the Buteyko Breathing group and 35 in the Balloon Blowing group, selected using purposive sampling. Buteyko Breathing was administered for 15 minutes twice daily for three days, while Balloon Blowing was administered for 15 minutes once daily for three days. PEF was measured using a peak flow meter, RR was counted for one minute, and SpO₂ was measured using a pulse oximeter. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test and Mann-Whitney U Test. Both groups showed significant changes in PEF, RR, and SpO₂ (p<0.05). The changes in PEF were 9.43 L/min in the Buteyko Breathing group and 8.57 L/min in the Balloon Blowing group; RR changes were 2.17 and 0.80 breaths/min, respectively; and SpO₂ changes were 0.60% and 0.57%, respectively. A significant difference was found in RR changes between groups (p=0.001), whereas PEF (p=0.755) and SpO₂ (p=0.969) did not differ significantly. Buteyko Breathing was more effective in reducing RR, while both exercises showed comparable effectiveness in changing PEF and SpO₂ in children with asthma.