Claim Missing Document
Check
Articles

Family-Centered Care as A Cadre Empowerment Strategy For Early Detection Of High-Risk Pregnancies in The Community Fitriana Kurniasari Solikhah; Taufan Arif; Maria Diah Ciptaning Tyas
Inovasi Lokal: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembangunan Berkelanjutan Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Tarqabin Nusantara Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62255/noval.v4i1.274

Abstract

High-risk pregnancies remain a significant contributor to maternal complications and elevated maternal mortality rates, necessitating early detection efforts that involve communities and families. This community service program aimed to enhance the knowledge and skills of community health cadres in early detection of high-risk pregnancies using a Family-Centered Care (FCC) approach in the working area of Wagir Primary Health Center, Malang Regency. Methods used included health education, training on the use of screening forms, simulation exercises, family education sessions, and on-site mentoring of cadres at integrated health posts (posyandu). Evaluation was conducted using a pretest-posttest design among 64 health cadres. Results showed an increase in the average knowledge score from 54.90 at pretest to 88.75 at posttest. In addition, cadres demonstrated the ability to identify pregnancy risk factors, detect pregnant women in the high-risk category, and coordinate with village midwives for case follow-up. Family involvement in pregnancy monitoring also increased through improved awareness of danger signs and greater support for antenatal care visits. Statistical analysis showed that Family-Centered Care-based training and mentoring are effective in enhancing cadre capacity and family participation in the early detection of high-risk pregnancies. This program can serve as a community empowerment strategy that supports the prevention of pregnancy complications and the sustainable improvement of maternal health.
Sholawat Listening Therapy Reduces Anxiety of Preoperative Patients Undergoing General Anesthesia Devi Ayu Oktavia; Taufan Arif; Rudi Hamarno; Supono
Journal of Ners and Midwifery Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk..v13i1.ART.p083-092

Abstract

Anxiety experienced by pre-general anesthesia patients increases respiratory frequency and heart rate, potentially leading to surgery cancellation. This study aims to evaluate the effect of listening to sholawat on anxiety of pre general anesthesia patients at Karsa Husada Hospital Batu, East Java, in March 2024. Quasi-experimental method. Non-Equivalent Group Pre and Post Test design and purposive sampling. The sample consisted of 20 patients divided into control and treatment groups. The independent variable is listening, with anxiety as the dependent variable. Therapy was given before surgery for 5-10 minutes. Data analysis used paired t test and independent t test. The study showed a significant difference between the pre-test and post-test results of the control group (p-value: 0.000). However, the post-test results in the control group showed a non-significant difference (p-value: 0.083). Independent t-test confirmed the effect between the two variables, with the significance value of the post-test of both groups <0.05. Ear stimulation, the pituitary gland and the right brain release endorphins that lower blood levels of stress hormones such as adrenocorticotropic hormone and increase feelings of happiness. It is expected that health workers apply non-pharmacological therapy listening to sholawat to reduce the anxiety of pre general anesthesia patients. Keywords: listening to prayers, anxiety, pre operative general anasthesia.
Head-up Position did not Correlated with the Recovery Time of Lower Extremity Motor Function in Spinal Anesthesia Patiens Taufan Arif; Rudi Hamarno; Bisma Surya Bharata; Arief Bachtiar
Journal of Ners and Midwifery Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v12i2.ART.p115-123

Abstract

Patients who are delayed in recovery after spinal anesthesia will be transferred to the post anesthesia care unit (PACU) which can lead to increased service costs and patient dissatisfaction. Lower extremity motor function recovery time after spinal anesthesia is the time it takes for patients to be able to move from the recovery room to the patient's original room. The purpose of this study was to determine the correlation of Head-up position to the recovery time of lower extremity motor function in spinal anesthesia patients in the recovery room. The design of the study was correlation with a “cross-sectional” approach. The population was post-spinal anesthesia patients in the recovery room who meet the criteria. The study used "purposive sampling" with 96 post-spinal anesthesia patients. The independent variable was the head-up position, while the dependent variable was the recovery time of lower extremity motor function. The analysis test used the Pearson correlation test. The results of the correlation test showed no correlation between head-up position and recovery time of lower extremity motor function in spinal anesthesia patients with p-value = 0.099 (>0.05). This was due to the longer the duration of surgery, the faster the effect of spinal anesthesia drugs will run out. It is recommended to apply the results of this study as a review of SOPs related to the intervention of giving a head-up position to post-spinal anesthesia patients in the recovery room.
Hubungan Status Fisik ASA (American Society Of Anesthesiologists) Dengan Proses Penyembuhan Luka Fase Proliferasi Pasien Post Laparatomi Di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Ahmad Fauzan; Rudi Hamarno; Taufan Arif
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1136

Abstract

Penyembuhan luka pasca operasi laparatomi merupakan proses kompleks yang dipengaruhi oleh kondisi fisiologis dan status kesehatan pasien. Status fisik ASA (American Society of Anesthesiologists) digunakan secara klinis untuk menilai tingkat risiko perioperatif berdasarkan kondisi sistemik pasien, sehingga berpotensi berkaitan dengan kualitas penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara status fisik ASA dengan proses penyembuhan luka fase proliferasi pada pasien post laparatomi di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional dan analisis bivariat korelasi Spearman Rank dengan populasi 53 responden yang diambil menggunakan Teknik purposive sampling. Sebagian besar pasien memiliki status fisik ASA I, dan sebagian besar penyembuhan luka berada pada kategori sangat baik. Hasil uji Spearman Rank memperoleh nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) dengan nilai koefisien korelasi 0,760. Terdapat hubungan yang bermakna antara status fisik ASA dengan proses penyembuhan luka fase proliferasi pasien post laparatomi di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah status fisik ASA, semakin baik proses penyembuhan luka yang dialami pasien.
Hubungan Kadar Glukosa Darah dan Jumlah Limfosit dengan Derajat Infeksi Luka pada Pasien Ulkus Diabetikum Sevia Putri; Sulastyawati; Taufan Arif; Budiono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1070

Abstract

Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronis diabetes melitus yang sering ditemukan dalam praktik klinis dan menjadi penyebab utama morbiditas akibat tingginya resiko infeksi, ganggren, serta amputasi pada ekstermitas bawah. Faktor kadar glukosa darah dan jumlah limfosit diduga berperan penting dalam menentukan derajat infeksi luka. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar glukosa darah dan jumlah limfosit dengan derajat infeksi luka pada pasien ulkus diabetikum. Penelitian menerapkan desain cross sectional dengan teknik purposive sampling, melibatkan 35 pasien ulkus diabetikum. Instrumen penelitian berupa lembar observasi derajat infeksi kaki diabetes. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kadar glukosa darah dengan derajat infeksi luka (p = 0,001; r = 0,704), yang menandakan hubungan kuat dan searah. Selain itu, jumlah limfosit juga berhubungan signifikan dengan derajat infeksi luka (p = 0,001; r = -0,753), menunjukkan hubungan kuat namun berlawanan arah. Hiperglikemia kronis menimbulkan mikroangiopati yang ditandai dengan penebalan dinding kapiler, berkurangnya elastisitas, serta hambatan aliran darah ke jaringan perifer. Akibatnya, suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan kulit maupun saraf motorik tidak optimal, sehingga kulit menjadi rapuh, mudah rusak, dan fungsi motorik terganggu. Lebih lanjut, hambatan aliran darah ini menimbulkan hipoksia jaringan yang memperburuk kerusakan sel sekaligus menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri. Dalam kondisi tersebut, terjadi peradangan aktif yang ditandai dengan peningkatan jumlah neutrofil. Sebaliknya, limfosit sebagai bagian dari sistem imun adaptif mengalami penurunan akibat apoptosis yang dipicu mediator inflamasi, redistribusi ke jaringan terinfeksi, serta gangguan proliferasi akibat stres sistemik.
Hubungan Kepatuhan Pembatasan Cairan dan Diet Rendah Garam dengan Hipertensi Intradialitik pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa Indah Permata Nurhayati; Sulastyawati; Taufan Arif; Supono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1071

Abstract

Hipertensi intradialitik merupakan komplikasi yang terjadi pada pasien hemodialisis ditandai dengan peningkatan tekanan darah selama atau menjelang akhir sesi dialisis. Hipertensi intradialitik dapat dipengaruhi oleh retensi cairan dan natrium, pengaturan ultrafiltrasi, serta peningkatan aktivitas Renin-Angiotensin-Aldosterone System (RAAS). Kondisi ini berdampak serius karena dapat menurunkan efektivitas terapi serta meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian. Untuk mencegah terjadinya hipertensi intradialitik pasien perlu melakukan pembatasan cairan dan pengurangan asupan garam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan terhadap pembatasan cairan dan diet rendah garam dengan kejadian hipertensi intradialitik pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross-sectional pada 64 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen Fluid Control in Hemodialysis Patients Scale (FCHPS) dan Dietary Salt Reduction Self-Care Behavior (DSR-SCB). Tekanan darah diukur menggunakan tensimeter digital. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan antara kepatuhan pembatasan cairan dengan hipertensi intradialitik (p = 0,000) dan terdapat hubungan antara kepatuhan diet rendah garam dengan hipertensi intradialitik (p = 0,000). Kepatuhan pembatasan cairan dan diet rendah garam berperan penting dalam menurunkan risiko hipertensi intradialitik. Ketidakpatuhan dapat memicu kelebihan volume cairan yang berdampak pada peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, edukasi dan pemantauan kepatuhan diet pada pasien hemodialisis menjadi langkah penting dalam mencegah hipertensi intradialitik.
Hubungan Durasi Puasa Pre-Operatif dan Durasi Operasi dengan Kejadian Post Operative Nausea and Vomiting Pasien General Anestesi Ria Rizqy Vidaroini; Sulastyawati; Taufan Arif; Joko Wiyono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1072

Abstract

Postoperative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi pascaoperasi yang sering muncul pada pasien dengan general anestesi yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan memperlambat proses pemulihan serta meningkatkan risiko komplikasi lanjutan. Durasi puasa yang terlalu panjang dan lamanya tindakan pembedahan diduga berperan terhadap peningkatan kejadian PONV. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi puasa preoperatif dan durasi operasi dengan kejadian PONV pada pasien general anestesi di salah satu Rumah Sakit di Kota Batu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 60 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan instrumen Rhodes Index of Nausea, Vomiting, and Retching (RINVR). Analisis menggunakan uji Spearman’s Rank dan Quantile Regression menunjukkan bahwa kedua variabel berhubungan signifikan dengan kejadian PONV (p<0,001). Model Quantile Regression pada median (q=0,5) menghasilkan nilai Pseudo R² sebesar 0,180, yang berarti 18% variasi skor PONV dijelaskan oleh kedua variable, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Durasi puasa preoperatif memiliki pengaruh paling dominan (B=0,644; p<0,001) dibandingkan durasi operasi (B=0,036; p=0,007). Hasil ini menunjukkan bahwa lamanya durasi puasa preoperative memberikan pengaruh yang lebih dominan terhadap peningkatan kejadian PONV dibandingkan dengan durasi operasi. Puasa berkepanjangan dapat menyebabkan hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, dan peningkatan sekresi asam lambung yang menstimulasi Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ) dan pusat muntah di batang otak, sehingga meningkatkan sensitivitas terhadap mual dan muntah pascaoperasi.