Claim Missing Document
Check
Articles

Sifat campuran herbisida berbahan atrazin 500g/L+ mesutrion 50 g/L terhadap beberapa jenis gulma Dedi Widayat; Uum Umiyati; Yayan Sumekar; Dani Riswandi
Kultivasi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.575 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i2.17646

Abstract

AbstrakGulma bila tidak dikendalikan dapat menurunkah hasil tanaman 20% sd 80%, untuk itu pengendalian gulma mutlak diperlukan. Pengandalian gulma dengan menggunakan herbisida tunggal bila dilakukan terus menerus akan menimbulkan gulma resisten, untuk mengnangulanginya perlu dilakukan pencampuran herbisida. Campuran herbisida dengan dua atau lebih jenis bahan aktif dapat bersifat sinergis, aditif, atau antagonis. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sifat campuran herbisida Atrazin 500g/L + Mesutrion 50 g/L terhadap beberapa jenis gulma. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Juni 2017, di Laboratorium Kultur Terkendali Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Perlakuan terdiri dari tiga jenis herbisida dengan empat tingkat dosis, yaitu herbisida tunggal Atrazine (1080, 540, 270, 135, 0  g /ha), Mesutrion (196, 98, 49, 24,5, 0 g/ha) dan campuran herbisida dari Atrazin 500g/L+ Mesutrion 50 g/L (880,440, 220,110,0 g/ha) dengan empat ulangan. Gulma target adalah Cyperus rotundus, Axonopus compressus, Digitaria sanguinalis, Ageratum conyzoides, Alternanthera piloxeroide,, Cleome rutidosperma.  Data dianalisis dengan analisis regresi linier dan metode MSM untuk menentukan perlakuan LD50 dan harapan LD50. Hasil penelitian menunjukkan Herbisida Campuran Atrazin 500g/L + Mesutrion 50 g/L memiliki nilai LD50 Harapan sebesar 0.097 g ai/ha dan nilai LD50 perlakuan sebesar 0.0283 g ai/ha dengan kotoksisitas sebesar 3.416 ( > 1) menandakan sifat campuran yang sinergis pada keenam gulma yang diuji yaitu A. conyzoides, A. piloxeroide,, C. rutidosperma, C. rotundus, A. compressus, D. sanguinalis.Keywords: Atrazine, Mesutrion , Herbisida campuran, gulma.AbstractWeed can decrease the yield of plants 20% to 80% if they cannot be controlled, so weed control is absolutely necessary. Weed control by using a single herbicide continuously will cause weeds resistant, so it is necessary to mix herbicides. Combinations of herbicide with two or more types of active ingredient can be synergistic, additive, or antagonistic. The purpose of the study was to determine the characteristic of the herbicide mixture of Atrazine 500 g / l + Mesutrion 50 g / l for several types of weeds. The study was conducted in March – June 2017, at the Controlled Culture Laboratory, Padjadjaran University, Jatinangor. The treatment consisted of three types of herbicides with four levels of dosage, namely Atrazine herbicide (1080, 540, 270, 135, 0 g/ha), Mesutrion herbicide (196, 98, 49, 24.5, 0 g/ha) and herbicides mixtures Atrazine 500 g/L + Mesutrion 50 g/L (880,440, 220,110.0 g/ha) with four replications. Target weeds were Cyperus rotundus, Axonopus compressus, Digitaria sanguinalis, Ageratum conyzoides, Alternanthera piloxeroide, Cleome rutidosperma. Data were analyzed by linear regression analysis and MSM method to determine LD50 treatment and LD50 expectations. The results showed that Atrazine 500 g/L + Mesutrion 50 g/L Herbicides Mixed had a value of Hopeful LD50 of 0.097 g ai/ha and LD50 treatment value of 0.0283 g ai/ha with a co-toxicity of 3.416 (> 1) that indicating a synergistic mixture in the sixth weeds tested are A. conyzoides, A. piloxeroide, C. rutidosperma, C. rotundus, A. compressus, D. sanguinalis.Keywords: Atrazine, Mesutrion , herbicide mixtures, weeds
Pengaruh dosis herbisida glifosat terhadap gulma, pertumbuhan, dan hasil tiga kultivar kedelai (Glycine max (L.) pada sistem tanpa olah tanah (TOT) Dedi Widayat; R. Ganilda Yustisiyanika
Kultivasi Vol 14, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.028 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v14i2.12070

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara dosis herbisida Glifosat dan kultivar kedelai terhadap gulma, pertum-buhan, dan hasil tanaman kedelai. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Saung Meeting Ciparanje Universitas Padjadjaran Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok pola faktorial yang terdiri dari dua faktor dan diulang 3 kali. Faktor yang pertama adalah kultivar kedelai yang tediri dari tiga yaitu kultivar Tidar, Burangrang, dan Slamet. Faktor yang kedua dosis herbisida glifosat yang terdiri dari 3 taraf yaitu 1,5l/ha, 3l/ha, dan 4,5l/ha. Kombinasi perlakuan kultivar dan dosis herbisida glifosat tidak memberikan pengaruh interaksi terhadap bobot kering gulma rumput,bobot kering daun lebar, bobot gulma total, tinggi tanaman 2 mst dan 4 mst, laju pertumbuhan tanaman 2 - 4 mst dan komponen hasil. Tetapi memberikan pengaruh interaksi pada tinggi tanaman umur 6 mst dan 8 mst serta pada laju pertumbuhan 4-6 mst dan 6-8 mst. Kata kunci  : Umur kedelai ∙ Gulma ∙ Dosis ∙  Herbisida glifosat 
Produktivitas tanaman dan kehilangan hasil tanaman padi (Oryza sativa L.) kultivar Ciherang pada kombinasi jarak tanam dengan frekuensi penyiangan berbeda Dedi Widayat; C. O. Purba
Kultivasi Vol 14, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.499 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v14i1.12098

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menge-tahui pengaruh kombinasi jarak tanam dan frekuensi penyiangan gulma yang berbeda terhadap produktivitas dan kehilangan hasil padi sawah kultivar Ciherang. Percobaan ini dilak-sanakan di lahan sawah Sanggar Penelitian Latihan dan Pengembangan Pertanian (SPLPP) Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran unit Ciparay dari bulan November 2010 sampai Februari 2011. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari dua belas perlakuan, dengan tiga kali ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan adalah sebagai berikut : A (jarak tanam 25 x 25 cm dengan tanpa penyiangan), B (jarak tanam 25 x 25 cm dengan disiang satu kali), C (jarak tanam 25 x 25 cm dengan, disiang dua kali), D (jarak tanam 25 x 25 cm dengan disiang tiga kali), E (jarak tanam 28 x 28 cm dengan tanpa penyiangan), F (jarak tanam 28 x 28 cm dengan disiang satu kali), G (jarak tanam 28 x 28 cm dengan disiang dua kali), H (jarak tanam 28 x 28 cm dengan disiang tiga kali), I (jarak tanam 30 x 30 cm dengan tanpa penyiangan), J (jarak tanam 30 x 30 cm dengan disiang satu kali), K (jarak tanam 30 x 30 cm  dengan disiang dua kali), L (jarak tanam 30 x 30 cm dengan disiang tiga kali). Hasil per-cobaan menunjukkan bahwa dengan jarak tanam 30 x 30 cm, disiang tiga kali akan memberikan hasil yang paling baik terhadap hasil panen padi kultivar Ciherang dan akan meningkatkan hasil panen dibanding dengan jarak tanam standar, yaitu 25 cm x 25 cm, disiang tiga kali. Kehilangan hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan jarak tanam 30 x 30 cm dengan tanpa penyiangan.Kata kunci : Produktivitas padi ∙ Kehilangan hasil ∙ Kultivar Ciherang ∙ Jarak tanam ∙ Prekuensi penyiangan
Pengaruh sitokinin dan paklobutrazol terhadap pertumbuhan dan hasil benih kentang (Solanum tuberosum L.) G2 kultivar granola dengan sistem nutrient film technique M. Ibrahim; Anne Nuraini; Dedi Widayat
Kultivasi Vol 14, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.039 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v14i2.12073

Abstract

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh sitokinin dan paklobutrazol terhadap pertumbuhan dan hasil benih kentang (Solanum tuberosum L.) G2 kultivar Granola dengan menggunakan sistem Nutrient Film Technique. Percobaan dilakukan di rumah plastik CV. Alam Pasundan, Cibiru, Bandung dari bulan April sampai dengan Agustus 2014 dengan ketinggian lokasi penelitian ± 700 m dpl. Rancangan perco-baan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan enambelas perlakuan dan masing-masing terdiri dari tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah : A (kontrol), B (25 ppm sitokinin), C (50 ppm sitokinin), D (75 ppm sitokinin), E (50 ppm paklobutrazol), F (100 ppm paklobutrazol), G (150 ppm paklobutrazol), H (25 ppm sitokinin + 50 ppm paklobutrazol), I (25 ppm sitokinin + 100 ppm paklobutrazol), J (25 ppm sitokinin + 150 ppm paklobutrazol), K (50 ppm sitokinin + 50 ppm paklobutrazol), L (50 ppm sitokinin + 100 ppm paklobutrazol), M (50 ppm sitokinin + 150 ppm paklobutrazol), N (75 ppm sitokinin + 50 ppm paklobutrazol), O (75 ppm sitokinin + 100 ppm paklobutrazol), P (75 ppm sitokinin + 150 ppm paklobutrazol). Hasil perco-baan menunjukan bahwa terdapat pengaruh pemberian kombinasi konsentrasi sitokinin dan paklobutrazol terhadap tinggi tanaman, jumlah daun majemuk, bobot segartanaman, dan bobot kering tanaman, tetapi tidak terdapat pengaruh terhadap komponen hasil. Pemberian sitokinin dan paklobutrazol masih belum mampu meningkatkan hasil benih kentang.Kata kunci : Benih ∙ Kentang ∙ Sitokinin, paklobutrazol ∙ Nutrient film technique 
Efektivitas herbisida bentazone sodium (370 g/L) dan MCPA DMA (62 g/L) dalam mengendalikan gulma pada budidaya padi sawah Uum Umiyati; Denny Kurniadie; Dedi Widayat; Yayan Sumekar; A. Iim
Kultivasi Vol 17, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.532 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i3.18731

Abstract

Sari. Pengendalian gulma pada budidaya padi sawah perlu dilakukan, karena gulma dapat menyebabkan penurunan hasil padi sawah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keefektifan campuran  herbisida Bentazone sodium dan MCPA DMA dalam mengendalikan gulma pada budidaya padi sawah. Percobaan dilaksanakan pada bulan November sampai bulan Desember 2017 di Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Rancangan percobaan yang dilakukan yaitu Rancangan Acak Kelompok dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan, percobaan yang diuji yaitu: campuran herbisida Bentazone sodium + MCPA DMA dosis 0,75 L/ha; 1 L/ha; 1,25 L/ha; 1,5 L/ha; 1,75 L/ha; penyiangan manual, dan tanpa perlakuan (kontrol). Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan campuran herbisida Bentazone Sodium + MCPA DMA 0,75 L/ha efektif mengendalikan gulma Fimbristylis miliaceae, Ludwigia adscendes, Cyperus difformis, dan Leptochloa chinensis dan tidak menimbulkan keracunan pada tanaman padi. Campuran herbisida Bentazone Sodium + MCPA DMA 0,75 L/ha – 1,75 L/ha dapat meningkatkan bobot biji kering padi.Kata Kunci: Bentazone sodium, MCPA DMA, Herbisida Campuran, PadiAbstract. Weed control in rice cultivation must be improved, because weeds can decrease rice yield. The purpose of this experiment was to quantify the effectiveness of herbicide mixture of Bentazone sodium and MCPA DMA in controlling weeds on rice field.  The experiment was conducted in Ciparay district, Bandung Regency, from September to Desember 2017. The experiment used experimental method. It used Randomized Block Design (RBD) that consisted of 7 treatments and 4 replications. The treatment was  dosage 0,75 L/ha; 1 L/ha; 1,25 L/ha; 1,5 L/ha; and 1,75 L/ha of herbicide mixture Bentazone sodium + MCPA DMA, Manual weeding, and Without treatment (control). Dosage 0,75 L/ha of herbicide mixture of Bentazone sodium + MCPA DMA effectively control weeds Fimbristylis miliaceae, Ludwigia adscendens, Cyperus difformis, and Leptochloa chinensis. Herbicide mixture of Bentazone sodium + MCPA DMA at all tested doses showed that there was no symptoms of herbicide toxication in rice crops. Herbicide mixture of Bentazone sodium + MCPA DMA at dose 0,75 L/ha – 1,75 L/ha improved dry grain weight.Keyword ; Bentazone sodium, MCPA DMA, mixture herbicide, rice
Rekayasa source – sink dengan pemberian zat pengatur tumbuh untuk meningkatkan produksi benih kentang di dataran medium desa Margawati kabupaten Garut Anne Nuraini; Yayat Rochayat; Dedi Widayat
Kultivasi Vol 15, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.058 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v15i1.12002

Abstract

Produksi kentang dipengaruhi oleh keter-sediaan benihnya. Kurangnya pasokan atau ketersediaan benih kentang  akan berpengaruh pada produksi kentang. Penelitian ini dilakukan untuk menguji kualitas ubi kentang G2 yang dihasilkan dengan sistem Nutrient Film Technique (NFT) di lapangan. Percobaan dilakukan pada dataran medium di Garut dengan ketinggian tempat sekitar 700 m di atas permukaan laut untuk menghasilkan benih kentang G3 dengan perlakuan aplikasi sitokinin 0, 5, 10 dan 15 ml/L dan paklobutrazol 0, 15, 30 dan 45 ml/L. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Pola Faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi sitokinin yaitu : 0, 5, 10 dan 15 ml/L, dan faktor kedua adalah konsentrasi  paklo-butrazol yaitu : 0, 15, 30 dan 45 ml/L. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak terjadi pengaruh interaksi konsentrasi sitokinin dengan konsentrasi paklobutrazol  terhadap kuantitas dan kualitas benih kentang G3. Konsentrasi sitokinin yang paling baik dalam menghasilkan kuantitas dan kualitas benih kentang G3 adalah 5 ml/L, sedangkan konsentrasi paklobutazol yang paling baik adalah 15 ml/L. Kata kunci: Benih ∙ Kentang ∙ Sitokinin ∙ Paklobutrazol ∙ Dataran medium
PENGARUH PUPUK MIKRO MAJEMUK TERHADAP PEMBIBITAN TANAMAN KARET (Hevea Brasiliensis L) PADA TANAH INSEPTISOL JATINANGOR Dedi Widayat; Uum Umiyati; Dani Riswandi; Deden Deden
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v8i1.4054

Abstract

Percobaan yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas pupuk mikro majemuk Pupuk Mikro terhadap pertumbuhan tanaman karet dipembibitan pada tanah inceptisol Jatinangor telah dilaksanakan di Laboratorium Kultur Terkendali Fakultas Pertanian UNPAD pada bulan Januari sampai bulan September 2019. Pengujian mengunakan rancangan Acak Kelompok dengan 8 perlakuan diulang 4 kali. Perlakuan terdiri dari kontrol (tanpa pemupukan); NPK stndar; NPK+Pupuk Mikro 0,5 g/pohon; NPK+Pupuk Mikro 1,0 g/pohon; NPK+Pupuk Mikro 1,5 g/pohon; NPK+Pupuk Mikro 2,0 g/pohon; NPK+Pupuk Mikro 2,5 g/pohon, NPK+Pupuk Mikro 3,0 g/pohon. Hasil pengujian menunjukan Aplikasi pupuk mikro dengan dosis 1,5 sd 2,5 g/pohon dapat meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, bobot segar dan bobot keing bibit tanaman karet sampai 6 BST. Aplikasi pupuk mikro dengan dosis 2 g/pohon efektif meningkatkan bobot tanaman karet umur 6 BST di pembibitan pada tanah inseptisol asal jatinangor, dibandingkan dengan perlakuan pupuk NPK standar dengan nilai RAE 151 %.
Pengaruh Perlakuan Ratun, Jenis Hanjeli dan Kadar Air terhadap Pertumbuhan Tanaman Hanjeli Jenis Pulut (Coix lacryma-jobi var. ma-yuen) dan Batu (Coix lacryma-jobi var. stenocarpa) A. Miftah Fauzi; Dedi Widayat; Tati Nurmala
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29205

Abstract

Informasi mengenai pengaruh kadar air tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman hanjeli pulut dan batu sampai ratun sangat penting dalam peningkatan hasil panen dari budidaya tanaman hanjeli. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji seberapa besar pengaruh kadar air tanah yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil hanjeli jenis pulut dan batu tanaman asal biji dan ratun. Tanaman hanjeli jenis batu dan pulut ditanam di kebun percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Percobaan dilaksanakan dari bulan Juli 2018 sampai Agustus 2019. Uji statistik data dianalisis dengan uji F. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh perlakuan ratun terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah srisip, nisbah pupus akar, jumlah biji, rendemen biji pecah kulit, indeks panen, dan bobot biji. Pengaruh perlakuan jenis pada kadar air tanah berbeda terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah srisip, jumlah biji, rendeman biji pecah kulit, indeks panen, dan bobot biji. Interaksi perlakuan ratun dan jenis pada kadar air tanah berbeda terhadap jumlah biji, indeks panen, dan bobot biji.
Dinamika Populasi Gulma Akibat Aplikasi Herbisida Metil Metsulfuron pada Padi Sawah Sistem Tanam Pindah (Tapin) dan Tanam Benih Langsung (Tabela) Sri Utami; Denny Kurniadie; Dedi Widayat
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29231

Abstract

Perubahan jenis, komposisi dan dominasi gulma merupakan masalah yang sering timbul akibat adanya pengendalian gulma, terutama pengendalian gulma menggunakan herbisida. Gulma dapat menjadi lebih berbahaya, sulit dikendalikan dan menjadi resisten jika tidak diatasi dengan baik. Perubahan jenis dan komposisi juga dipengaruhi oleh sistem budidaya tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergeseran atau perubahan gulma akibat aplikasi herbisida metil metsulfuron pada penanaman padi sistem Tapin dan sistem Tabela. Penelitian ini menggunakan rancangan split plot yang diulang sebanyak empat kali. Faktor utama adalah sistem tanam dengan dua taraf, yaitu sistem Tabela (T2) dan Tapin (T1). Anak petak adalah penyiangan gulma dengan tiga taraf, yaitu penyiangan menggunakan herbisida metil metsulfuron (H1), penyiangan manual (H2) dan tanpa penyiangan atau kontrol (H3). Hasil penelitian menunjukan bahwa selain perlakuan kontrol pada sistem Tabela (T2H3), dominasi gulma berubah dari gulma golongan daun lebar menjadi gulma golongan teki. Perlakuan herbisida metil metsulfuron sistem Tabela (T2H1) memiliki tingkat kesamaan komunitas gulma yang paling berbeda terhadap Anveg awal dan perlakuan kontrol pada sistem Tapin (T1H3) maupun Tabela (T2H3). Keanekaragaman gulma menurun, terutama pada perlakuan herbisida metil metsulfuron sistem Tabela (T2H1) yang memiliki tingkat keanekaragaman gulma paling rendah dan nilai dominsi paling tinggi.
KEMAMPUAN BERKOMPETISI KEDELAI (Glycine max) KACANG TANAH (Arachis hypogaea) dan KACANG HIJAU (Vigna radiata) terhadap TEKI (Cyperus rotundus) Dedi Widayat
Bionatura Vol 4, No 2 (2002): Bionatura Juli 2002
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian UniversitasPadjadjaran,Jatinangor,dari bulan April sampai bulan Juni 1996. Tujuan penelitian daripercobaan ini adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan berkompetisi diantaratanaman-tanaman kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau terhadap gulma teki.Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas 12perlakuan kompetisi tanaman dengan gulma tekidan 3 ulangan. Hasil percobaanmenunjukkan bahwa didasarkan atas nilai indeks kompetisinya, kacang tanahmempunyai kemampuan kompetisi tertinggi terhadap gulma teki, kedua tertinggi adalahkedelai, dan yang terrendah adalah kacang hijau. Penurunan hasil tertinggi (40,95%)yang ditunjukkan oleh kacang hijau diperoleh oleh perlakuan kacang hijau + 9 umbiteki, sedangkan penurunan hasil terrendah (8,33%) yang ditunjukkan oleh kacangtanah diperoleh oleh perlakuan kacang tanah +3 umbi teki.Kata kunci : Kemampuan kompetisi, indeks kompetisi, nilai kompetisi, kedelai, kacang tanah, kacang hijau,teki