Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Multikulturalisme di SMA Muhammadiyah Studi Kasus: Pelayanan Terhadap Siswa Non Muslim di SMA Muhammadiyah Kota Jayapura Khoirunnisa, Ulfa; Sileuw, Marwan; Rofiki, A.Arif; Umkabu, Talabuddin; Muhyidin, Syaiful
Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. 13 No. 3 (2025): EQUILIBRIUM: JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/sa7hvp78

Abstract

Multicultural education is an education that seriously considers the background of students from various aspects such as ethnicity, race, religion, and culture. SMA Muhammadiyah Jayapura City is a school established by the Muhammadiyah organization based on Islamic ideology, but the school is still open to anyone who wants to study at the school, including non-Muslim students. This can create its own challenges in providing fair and inclusive services for non-Muslim students. This study aims to (1) describe the variety of multiculturalism in SMA Muhammadiyah Jayapura City (2) describe the services to non-Muslim students at SMA Muhammadiyah Jayapura City (3) describe the behavior shown by non-Muslim students at SMA Muhammadiyah Jayapura City. Through a qualitative approach and data collection through in-depth interviews and observations, this study gained an in-depth understanding of the variety of multiculturalism, services, and behaviors of non-Muslim students. Data analysis techniques included data reduction, data presentation, and conclusion. The validity of the data was carried out by triangulating sources and techniques. The results of the study show that SMA Muhammadiyah Jayapura shows multicultural diversity in religious (Islamic-Christian), ethnic (Javanese, Papuan, etc.), and economic aspects (ability-based tuition policy). However, services for non-Muslim students still have structural gaps: (1) The unavailability of special worship spaces and non-Muslim religious teachers, contrary to Law No. 20 of 2003; (2) Although consistent in academic equality (reliability), non-Muslim students are only required to attend PAI lessons without a substantial understanding. On the other hand, schools provide responsive services (minority religious holidays, schedule adjustments), justice guarantees (freedom not to wear the hijab), and empathy (tuition discounts/meal vouchers). The response of non-Muslim students was characterized by harmonious interaction, compliance with the rules (despite being constrained by attendance due to distance), and active tolerance by respecting Muslim worship and participating in Islamic celebrations.
INTERNALISASI NILAI TOLERANSI MELALUI PEMBELAJARAN PAI PADA SISWA DI KELAS X AKUNTANSI KEUANGAN LEMBAGA I SMKS YPKP TIK SENTANI Hanif Larasati; Marwan Sileuw; A. Arif Rofiki
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 5 (2025): Oktober - November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberagaman budaya, agama, dan sosial di Papua, khususnya di SMKS YPKP TIK Sentani, menghadirkan tantangan sekaligus peluang dalam pendidikan. Siswa Kelas X jurusan Akuntansi Keuangan Lembaga I berasal dari latar belakang yang heterogen, sehingga mereka rentan terhadap perilaku intoleran seperti mengejek teman sebaya, mengabaikan pendapat orang lain, atau berbicara saat guru sedang mengajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam (PAI), kepala sekolah, siswa, dan orang tua, observasi kelas, dan analisis dokumen sekolah. Proses analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori belajar sosial Bandura, teori sosiokultural Vygotsky, dan teori behavioris untuk memahami pola internalisasi nilai-nilai toleransi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) keberagaman siswa kelas X Akuntansi Keuangan Lembaga I di SMKS YPKP TIK Sentani, yang terdiri dari 24 siswa dengan latar belakang agama dan etnis yang berbeda, menciptakan lingkungan belajar yang harmonis dan inklusif. (2) Proses internalisasi nilai-nilai toleransi dalam Pendidikan Agama Islam berlangsung dalam tiga tahap: penanaman nilai, dengan menanamkan konsep-konsep toleransi berdasarkan ajaran Islam, pembiasaan nilai, melalui pengamalan sikap toleran dalam interaksi sehari-hari, dan penguatan nilai, melalui penguatan positif dan evaluasi berkelanjutan. (3) Penelitian ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai toleransi tercermin dalam ranah kognitif berupa pemahaman konseptual, ranah afektif melalui empati dan saling menghormati, serta ranah psikomotorik berupa kerja sama dan gotong royong di lingkungan sekolah.