Claim Missing Document
Check
Articles

Analysis Of Lifestyle Risk Factors On The Occurrence Of Type 2 Diabetes Mellitus: A Systematic Literature Review Devi Titik Aprila; Asriadi Prihandika Widianto; Budi Widiyanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59419

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is becoming increasingly prevalent over the world, posing a serious challenge to public health systems. This rise in prevalence not only affects morbidity and death, but it also imposes a significant economic burden due to treatment expenses, long-term consequences, and reduced productivity. The goal of this study is to discover and assess the most important lifestyle factors in the development of T2DM. Methods: A Systematic Literature Review (SLR) was conducted to consolidate and critically analyze recent epidemiological evidence from 2022 to 2026 regarding lifestyle-related risk factors for Type 2 Diabetes Mellitus. Results: The synthesis reveals that Type 2 Diabetes Mellitus is influenced by a variety of factors, including metabolic and anthropometric factors such as obesity, dietary features such as sugar intake, physical activity, smoking and alcohol consumption, and sleep quality. Conclusion: Obesity, particularly abdominal adiposity, is the most common lifestyle factor contributing to the development of Type 2 Diabetes Mellitus, followed by an unhealthy diet, a lack of physical activity, smoking and alcohol intake, and inadequate sleep quality.
Pengaruh Transcutaneous Electrical Auricular Acupressure Stimulation (Teaas) Terhadap Xerostomia dan Rasa Haus pada Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisis Fhadilah Rahmadini; Ta'adi Ta'adi; Budi Widiyanto; Suharsono Suharsono; Sri Endang Windiarti
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.25437

Abstract

ABSTRACT Chronic Kidney Disease (CKD) patients undergoing hemodialysis often experience xerostomia and excessive thirst, which impact their comfort and quality of life. Available interventions are limited, necessitating alternative non-pharmacological approaches such as Transcutaneous Electrical Auricular Acupressure Stimulation (TEAAS). Analyzed the effect of TEAAS on reducing xerostomia and thirst in CKD patients undergoing hemodialysis and compared its effectiveness with a control intervention (gargling with boiled water). This study used a quasi-experimental design with a pre-test and post-test with a control group. A sample of 34 respondents was selected using purposive sampling and divided into the intervention (TEAAS) and control (gargling with boiled water) groups. The interventions were administered six times over three weeks. Measurements were made using the SXI-ID and TDS. Data were analyzed using the Wilcoxon, Mann–Whitney, and GEE tests. Results: TEAAS significantly reduced xerostomia (p 0,001) and thirst (p 0,001), with better results compared to the control group. There were significant differences between groups at post-test for xerostomia (p = 0,007) and thirst (p = 0,008). Fluid hydration status significantly influenced both variables (p 0,001). TEAAS is more effective than gargling with boiled water in reducing xerostomia and thirst in CKD patients undergoing hemodialysis, and hydration status is a significant influencing factor. Keywords: Chronic Kidney Disease, Hemodialysis, Transcutaneous Electrical Auricular Acupressure Stimulation, Xerostomia, Thirst.  ABSTRAK Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang menjalani hemodialisis sering mengalami xerostomia dan rasa haus berlebih yang berdampak pada kenyamanan serta kualitas hidup. Intervensi yang tersedia masih memiliki keterbatasan sehingga diperlukan pendekatan nonfarmakologis alternatif seperti Transcutaneous Electrical Auricular Acupressure Stimulation (TEAAS). Menganalisis pengaruh TEAAS terhadap penurunan xerostomia dan rasa haus pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis serta membandingkan efektivitasnya dengan intervensi kontrol (berkumur air matang).Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan pre-test dan post-test with control group. Sampel berjumlah 34 responden yang dipilih secara purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi (TEAAS) dan kontrol (berkumur air matang). Intervensi diberikan sebanyak enam kali selama tiga minggu. Pengukuran menggunakan SXI-ID dan TDS. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, Mann–Whitney, dan GEE. Hasil: TEAAS secara signifikan menurunkan xerostomia (p 0,001) dan rasa haus (p 0,001), dengan hasil yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Terdapat perbedaan signifikan antar kelompok pada post-test untuk xerostomia (p = 0,007) dan rasa haus (p = 0,008). Status hidrasi cairan berpengaruh signifikan terhadap kedua variabel (p 0,001). TEAAS lebih efektif dibandingkan berkumur air matang dalam menurunkan xerostomia dan rasa haus, serta status hidrasi menjadi faktor yang memengaruhi kedua kondisi tersebut. Kata Kunci: Chronic Kidney Disease, Hemodialisis, Transcutaneous Electrical Auricular Acupressure Stimulation, Xerostomia, Rasa Haus.
PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI DENGAN MEDIA PROTOTYPE APLIKASI PANDUAN KEPUTIHAN TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 3 SURUH KAB. SEMARANG Maulina Ayu Meidiastuti; Budi Widiyanto; Maria Ulfah
Juru Rawat. Jurnal Update Keperawatan Vol 2 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Prodi Keperawatan Tegal Program Diploma III Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/juk.v2i2.8805

Abstract

Latar Belakang: Masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja  putri yaitu keputihan. Namun, tingkat pengetahuan remaja putri tentang kesehatan reproduksi seperti keputihan masih rendah. Salah satu upaya dalam rangka meningkatkan pengetahuan remaja putri mengenai keputihan yaitu dengan pendidikan kesehatan. Tujuan: Mengidentifikasi pengaruh pemberian edukasi dengan media prototype aplikasi panduan keputihan terhadap tingkat pengetahuan remaja putri di SMP Negeri 3 Suruh Kab. Semarang. Desain Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain penelitian pra experiment dengan menggunakan pendekatan one group pre-test dan post-test. jumlah sampel yang digunakan sebanyak 74 siswi kelas VII di SMP Negeri 3 Suruh, dengan teknik pengambilan sempel yang digunakan adalah total sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa prototype aplikasi Panduan Keputihan dan kuisioner pengetahuan keputihan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan remaja putri sebelum dan setelah pemberian edukasi kesehatan dengan media prototype aplikasi yang berarti terdapat pengaruh edukasi kesehatan dengan media prototype aplikasi terhadap pengetahuan remaja putri mengenai keputihan dengan p-value 0,000. Kesimpulan: Pemanfaatan media teknologi atau media yang menarik dapat meningkatan pengetahuan siswi karena mereka cenderung lebih senang membaca dan mempelajari sesuatu yang baru dan menarik. Prototype sebagai media pembelajaran yang digunakan oleh peneliti ini sangat menarik perhatian responden sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan responden mendengarkan dan menjalankan aplikasi prototype panduan keputihan dengan antusias. Saran: Diharapkan dapat menjadikan dan menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan edukasi khususnya terkait kesehatan reproduksi kepada siswi menggunakan media yang menarik perhatian seperti memanfaatkan teknologi dengan membuat prototype aplikasi.Kata Kunci : Keputihan, Kesehatan Reproduksi, Prototype Panduan Keputihan.Â