Niniek Widyorini
Aquatic Resources Management Study Program, Department Of Aquatic Resources, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. H. Soedarto, SH., Tembalang, Semarang, 50725, Indonesia

Published : 86 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTHOS DENGAN KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG DAN TELUK AWUR JEPARA Prasetya, Derry Kurnia; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.903 KB)

Abstract

Perairan Pulau Panjang dan Teluk Awur terletak di Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragaman ekosistem perairan, antara lain ekosistem lamun. Kondisi dari ekosistem lamun dikedua lokasi tersebut akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan selanjutnya akan mempengaruhi hewan makrobenthos yang hidup di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerapatan lamun yang berbeda dan kelimpahan hewan makrobenthos serta hubungan antara tingkat kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan hewan makrobenthos yang ada di perairan Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan April 2015 di perairan pantai Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus yang bersifat deskriptif. Langkah penelitian yang dilakukan yaitu sampling, identifikasi, analisis data dan evaluasi data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 jenis lamun yang ditemukan di Pulau Panjang yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp dan Sryngodium sp dan terdapat 4 jenis lamun yang ditemukan di Teluk Awur yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp dan Halophila sp. Kelimpahan hewan makrobenthos di kerapatan lamun jarang, sedang dan padat di Pulau Panjang adalah 68 ind/m3, 77 ind/m3 dan 103 ind/m3, sedangkan kelimpahan hewan makrobenthos di kerapatan lamun jarang, sedang dan padat di Teluk Awur adalah 43 ind/m3, 62 ind/m3 dan 84 ind/m3. Berdasarkan hasil regresi menunjukkan antara kelimpahan hewan makrobenthos dengan kerapatan lamun terdapat korelasi yang erat, sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh tingginya kelimpahan hewan makrobenthos. Awur Bay and Panjang Island which are located in Jepara, have a diversity of ecosystems such as seagrass. Conditions of seagrass ecosystems in both location will affect the level of density macrobenthic animal who live there. The purpose of the research was to know the relationship between density level of different seagrass and abundance of macrobenthic animal both in Panjang Island and Awur Bay, Jepara. The research has been done in April 2015. The method used was case study and analyzed descriptive. Research carried out measures that take sample, identification, data analysis and data evaluation. The result showed that there were 5 type of seagrass found in Panjang Island Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp and Sryngodium sp and there were 4 type of seagrass found in Awur Bay Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp dan Halophila sp. The abundance of macrobenthic animal from sparse, medium and dense density of seagrass in Panjang Island was 68 ind/m3, 77 ind/m3 and 103 ind/m3. While the abundance of macrobenthic animal from sparse, medium and dense density of seagrass in Awur Bay was 43 ind/m3, 62 ind/m3 and 84 ind/m3. Based on regression result showed that between abundance of macrobenthic animal with seagrass density there were a close correlation so that the higher seagrass density will be followed by higher abundance of macrobenthic animal.
ASPEK BIOLOGI IKAN MENDO (Acentrogobius sp) DI WADUK MALAHAYU KABUPATEN BREBES Soekiswo, Yasintia Aryanov; Widyorini, Niniek; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.609 KB)

Abstract

Waduk Malahayu memiliki luas 620 Ha, terletak di Kabupaten Brebes. Waduk yang memiliki jenis ikan dari ikan domestik dan introduksi, berpotensi untuk dimanfaatkan salah satunya dibidang perikanan seperti kegiatan penangkapan dan budidaya ikan. Ikan Mendo adalah salah satu ikan domestik yang masih jarang di kenal masyarakat luas, ikan yang memiliki potensi sebagai salah satu komuditas penangkapan. Belum banyak informasi tentang ikan Mendo dan menurunnya populasi di alam menjadi permasalahan untuk populasinya, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian dan pengelolaan lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui aspek biologi (aspek pertumbuhan dan aspek reproduksi) dan melihat perkembangan produksinya. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga bulan Juli 2014. Metode yang digunakan yaitu metode simple random sampling. Dalam penelitian ini diperlukan data primer dan sekunder. Data primer merupakan 10% dari total tangkapan, sedangkan data sekunder meliputi data produksi ikan Mendo tahun 2006 sampai 2011. Hasil penelitian yang telah dilakukan pada ikan Mendo sebanyak 822 ekor, pertumbuhan ikan Mendo bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,202. Faktor kondisi yang diperoleh sebesar 1,088 yang tergolong dalam ikan yang pipih atau tidak gemuk. Ukuran ikan Mendo yang tertangkap sudah layak untuk ditangkap, karena Lc50% > ½ L∞ dan ikan sudah pernah melakukan pemijahan, karena Lm50% < Lc50%. Tingkat kematangan gonad ikan Mendo menurut Holden dan Raitt (1974) didominasi oleh TKG III dan IV yaitu fase matang. IKG tertinggi pada ikan Mendo selama penelitian yaitu 22,50%. Fekunditas tertinggi sebesar 8250 butir dengan panjang tubuh 28 mm dan berat tubuh 0,7 gram. Pada perkembangan produksi ikan Mendo terjadi penurunan pada tahun 2009 hingga sekarang. Malahayu Reservoir has an area of 620 Ha, which located in Brebes Town. The reservoir which has a kind of fish from domestic and introduction of fish, one of which has the potential to be used as fishing activities in the field of fisheries and fish cultivation. Mendo fish is one of the domestic fish were still rare in the general public know, which have potential as one of the commodities arrest. There has not been much information about the Mendo fish and the declining populations in the world became problems for the population, therefore it is necessary to more conduect research and management. The purpose of this research is to know the biological aspects (aspect of growth and reproduction aspect) and see the development of production. This research has been done in Juni to July 2014. The metode used is simple random sampling method. This research needed primary and secondary data. Primary data is 10% from all catches, while secondary data includes data production of Mendo fish in 2006 to 2011. The result of this research which has been done with 822 Mendo fishes, the growth of Mendo fish has the quality negative allometric of the b value is 2,202. The condition factor of obtained is 1,088 classified to the flat or not fat. The size of Mendo fish which caught was suitable, because Lc50%> ½ L∞.The gonad maturity level of Mendo fish based on Holden & Raitt (1974) is domination by TKG IV, it is mature fase. The highest IKG of Mendo fish during the research is 22,50%. The highest fecundity is 8250 eggs with the lenght of the body is 28mm and the weight is 0,7 gram. In the development of production Mendo fish, there was a decrease in 2009 until now.
HUBUNGAN PENGELOLAAN KUALITAS AIR DENGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK, NO2 DAN NH3 PADA BUDIDAYA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) DI DESA KEBURUHAN PURWOREJO Wulandari, Tjatur; Widyorini, Niniek; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.235 KB)

Abstract

Kegiatan budidaya udang Vannamei di desa Keburuhan, Purworejo dilakukan di kawasan gumuk pasir. Air yang digunakan untuk media budidaya berasal dari sumur pengeboran. Semakin meningkatnya masa pemeliharaan udang diikuti oleh meningkatnya bahan organik yang berpotensi terdekomposisi menjadi senyawa toksik yaitu nitrit (NO2) dan amonia (NH3). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan kadar bahan organik, NO2, NH3 dan untuk mengetahui hubungan pengelolaan kualitas air dengan kandungan bahan organik, NO2 dan NH3 pada budidaya udang Vannamei di Desa Keburuhan, Purworejo. Metode penelitian yang digunakan adalah survei lapangan. Lokasi pengambilan sampel air dilakukan pada tiga taraf umur pemeliharaan yaitu Tambak dengan periode umur pemeliharaan 0-20 hari, Tambak dengan periode umur 21-50 hari dan Tambak dengan periode umur 51-70 hari. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi dengan taraf nyata (α) 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan umur berhubungan dengan peningkatan bahan organik, NO2 dan NH3. Hasil penghitungan persamaan regresi menunjukkan apabila kadar bahan organik 17,73 mg/l dapat menghasilkan amonia 0,1 mg/l (batas maksimum), sedangkan apabila bahan organik sebesar 88,4 mg/l dapat menghasilkan nitrit 0,06 mg/l (batas maksimum). Amonia dan nitrit mencapai batas maksimum sebelum masa panen yaitu umur 20 hari dan umur 55 hari. Kandungan bahan organik, nitrit (NO2) dan amonia (NH3) mengalami peningkatan seiring bertambahnya umur udang. Adanya hubungan antara pengelolaan kualitas air dengan kandungan bahan organik, NO2 dan NH3 menunjukkan pengelolaan kualitas air pada budidaya udang Vannamei di Desa Keburuhan Purworejo kurang efektif dilakukan. Vannamei shrimp aquaculture activities in Keburuhan Village, Purworejo are done in sand dunes areas. Besides, well water utilized as aquaculture media. Increasingly, the keeping periods of shrimp followed by the increase of organic matter in which potentially decompose into toxic compounds, namely nitrite (NO2) and ammonia (NH3).  The aim of this study is to determine the level changes in organic matter, NO2, and NH3 as well as correlation of the water quality management with the contents of organic matter, NO2, and NH3 in Vannamei shrimp aquaculture in Keburuhan Village, Purworejo. The research method used in this study is field survey. The locations of water sampling conducted at the age of three of the level maintenance, among others the Pond at the age of 0-20 days, the Pond  at the age of 21-50 days and the Pond at the age of 51-70 days. Regression test used for the data analysis with significance level (α) 0,05. The research result shows that the age significantly effects the enhancement of organic matter, NO2 and NH3. The calculation results of regression equation indicate if the organic matter level is 17,73 mg/l may produce 0,1 mg/l ammonia (maximum limit),whereas 88,4 mg/l organic matter may produce 0,06 mg/l nitrite (maximum limit). Ammonia and nitrite reach the maximum limit before their harvest periods which are at the age of 20 days and 55 days. The contents of organic matter, nitrite (NO2) and ammonia (NH3) have increased as the shrimp grows older. The correlations between water quality management with organic matter, NO2 and NH3 indicate that water quality management of Vannamei shrimp aquaculture in Keburuhan village Purworejo is carried out less effectively.
KEMAMPUAN APU-APU (Pistia sp.) SEBAGAI BIOREMEDIATOR LIMBAH PABRIK PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN (SKALA LABORATORIUM) Ni’ma, Nazla; Widyorini, Niniek; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.503 KB)

Abstract

Limbah cair industri perikanan dapat bersumber dari air pencucian, air pembersihan peralatan, lelehan es dari ruang produksi dan lain sebagainya. Limbah cair ini mengandung bahan-bahan organik dan berpotensi untuk menimbulkan efek negatif bagi lingkungan. Bioremediasi merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi lingkungan dengan memanfaatkan proses biologi dalam mengendalikan pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Pistia sp dan bakteri terhadap penurunan kandungan bahan organik limbah pengolahan hasil perikanan. Metode yang digunakan adalah eksperimen skala laboratorium dengan menggunakan wadah percobaan berupa akuarium bervolume 10 l yang diisi dengan limbah dengan konsentrasi 12,5% sebanyak 10 l. Variabel utama penelitian adalah kandungan bahan organik pada media percobaan yang didukung dengan berat basah tanaman, total bakteri serta kualitas air (suhu, cahaya, BOD, COD, DO dan pH,). Rancangan percobaan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan berupa penutupan Pistia sp. dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%. Data bahan organik dan total bakteri dianalisis dengan analisis Regresi dan Korelasi dengan taraf signifikan 95%. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara luas penutupan Pistia sp. dan bakteri terhadap penurunan kandungan bahan organik dengan penutupan yang baik adalah 25%, 50% dan 75%. Wastewater in fishery industry occurs because of washing water, equipment cleaning, melted ice from production room, and so on. Wastewater consists of organic materials, which potentially cause negative effect toward the environment. Bioremediation is the development of environmental biotechnology by utilizing biological process in controlling pollution. The purpose of the research is to find correlation between Pistia sp, and bacteria as bioremediator, and the reduction of organic materials from fishery waste. The method used in this research was laboratory scale experiments using a container which form a 10 l aquarium filled with 10 l of wastewater with 12,5% of concentration. The independent variable of the study was the content of organic material in the experiment media and the support variable were the wet weight of plants, total bacteria as well as the water quality (temperature, light, BOD, COD, DO, pH, and total bacteria). The design of experiment used in this research was Completely Randomized Design consist of 4 treatments and 3 times of repetition. The treatments were a closure of Pistia sp. with a concentration of 25%, 50%, 75%, and 100%. Data of organic material and total bacteri was analyzed using Regression and Correlation analysis with a significant level of 95%. The result showed a correlation between the closure and bacteria to reduction of organic material content, which the good closure was at 25%, 50% and 75%.
ANALISIS KELIMPAHAN PERIFITON PADA KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU PANJANG, JEPARA Novianti, Merlyna; Suprapto, Djoko; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.257 KB)

Abstract

Perifiton merupakan jasad – jasad yang dapat hidup melekat pada permukaan daun lamundengan demikian penelitian ini ditekankan untuk mengetahui struktur komunitas perifiton pada komunitas lamun serta membedakannya pada setiap jenis lamun. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang keberadaan perifiton pada komunitas lamun dalam menunjang fungsi-fungsinya di perairan Pulau Panjang, Jepara sebagai areal konservasi. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada antara bulan Juni - Juli 2012 selama 1 bulan di pantai perairan Pulau Panjang, Jepara, Jawa tengah. Proses mengidentifikasi diadakan di laboratorium Fakultas Perikanan dan Kelautan. Metode yang digunakan adalah pengambilan sampel lamun dan perifiton dengan menentukkan tiga titik pengambilan sampel lamun dengan kepadatan jarang, sedang dan padat serta pengukuran .  Jenis Perifiton yang paling banyak ditemui di pada perairan Pulau Panjang pada rata-rata kerapatan berasal dari kelas Bacillariophyceae yaitu berkisar antara 63.134-98.910 ind/cm2, perifiton dengan kelimpahan relatif tertinggi adalah Nizchia sp berkisar 32,26-34,18 % Persen penutupannya pada kerapatan sedang yaitu 39,08%, pada kerapatan padat yaitu 45,01% dan pada kerapatan jarang yaitu 15,89%. Pada sampel daun lamun yang diambil secara acak, ditemukan 16 spesies dengan indeks keanekaragaman (H’) perifiton pada kerapatan jarang mempunyai nilai indekskeanekaragaman sebesar 2,35 dengani keseragamannya sebesar 0,84 kerapatan sedang sebesar 2,39 dan keseragaman (e) sebesar 0,86 dan perifiton pada kerapatan padat mempunyai nilai indeks keanekaragaman  2,45 dan keseragaman 0,87.
HUBUNGAN KELIMPAHAN LARVA IKAN DENGAN KERAPATAN MANGROVE YANG BERBEDA DI KAWASAN DELTA WULAN, KABUPATEN DEMAK Ramadhian, Dimas Rahmat; Widyorini, Niniek; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.34 KB)

Abstract

ABSTRAK              Larva adalah biota perairan yang bersifat planktonik dan termasuk ke dalam jenis meroplankton.      Stadia larva merupakan fase awal daur kehidupan bagi ikan. Perairan delta merupakan perairan yang subur karena di kawasan tersebut terjadi penumpukan nutrien maupun bahan organik yang berasal baik dari daratan maupun lautan yang terjebak atau terendapkan. Delta-delta yang ada di daerah tropis hampir seluruhnya ditumbuhi oleh mangrove. Hal tersebut seperti yang terlihat di beberapa delta besar di daerah tropis yang salah satunya terdapat di Delta Wulan, Demak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove merupakan perairan yang subur dan berfungsi sebagai daerah asuhan dari berbagai jenis larva ikan.           Kondisi kerapatan mangrove yang berbeda dapat pula mempengaruhi kelimpahan dan komposisi larva ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan komposisi larva ikan pada kerapatan mangrove yang berbeda dan mengetahui hubungan antara kelimpahan larva ikan dengan kerapatan mangrove yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus. Hasil yang diperoleh adalah pada stasiun I tingkat kerapatan mangrove padat (3200 Pohon/Ha) nilai kelimpahan larva ikan sebesar 290 individu/250 m3 terdiri dari 16 famili. Stasiun II tingkat kerapatan mangrove sedang  (1500 Pohon/Ha) nilai kelimpahan larva ikan sebesar 133 individu/250 m3 terdiri dari 11 famili, dan stasiun III tingkat kerapatan mangrove jarang (600 Pohon/Ha) nilai kelimpahan larva ikan sebesar 79 individu/250 m3 terdiri dari 11 famili. Nilai koefisien korelasi antara kelimpahan larva ikan dengan kerapatan mangrove yaitu sebesar r = 0,980. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara kelimpahan larva ikan dengan kerapatan mangrove. Kata kunci: kelimpahan; larva ikan; kerapatan mangrove; Delta Wulan  ABSTRACT              Larvae is one of aquatic organism with behavior as same as the plankton and belongs to the type            of meroplankton. The first life form of fish is known as larvae. Delta as one of aquatic environment is a rich area with high productivity due to the accumulation both of nutrient and organic matter derived from                       the headwaters and sea. Most of the deltas in tropical area that occupied with     the tree of mangroves. Such as in several large delta in the tropics that one of them include Delta Wulan, Demak. Several study has shown     the result that the ecosystem of mangrove is a high flourish area. Many species of larval fish depends                on mangroves as the nursery area. The different condition of mangrove density can affect the abundance and composition of larval fish. The purposes of this research are to determine the abundance and composition         of larval fish in the different condition on mangrove density and to determine relation between the abundance   of larval fish with different condition of mangrove density. This research were used the case study method.     The results of this research on three different station are: high density with total of 3200 trees/Ha and total         of  the abundance of larval fish are 290 Individual/250 m3consist of 16 families. On station 2, medium density with total of 1500 trees/Ha and total of the abundance of  larval fish are 133 Individual/250 m3 consist              of 11 families, while on station 3, rare density with total of 600 trees/Ha and total of the abundance of larval fish are 79 Individual/250 m3 consist of 11 families. The correlation value of statistic between the abundance           of larval fish with the different condition of mangrove density is shown with total r value of 0,980.       Conclusion of this research shows there is a correlation between the abundance   of larval fish with the density of mangrove. Keywords : abundance; larval fish; mangrove density; Delta Wulan
KELIMPAHAN MAKROZOOBENTOS BERDASARKAN STRATIFIKASI SALINITAS DARI HULU – HILIR SUNGAI SIANGKER SEMARANG Macrozoobentos Abundance Based on Salinity Stratification from Upstream - Lower Siangker River Semarang Hariawansyah, Fathul Aziz; Widyorini, Niniek; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 2 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.795 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i2.24227

Abstract

ABSTRAKSungai sebagai salah satu jenis media hidup bagi organisme perairan, seringkali tidak dapat terhindarkan dari masalah penurunan kualitas perairan sebagai akibat dari perkembangan aktivitas manusia. Sungai Siangker merupakan salah satu subsistem drainase di wilayah Semarang Barat yang bermuara ke Teluk Semarang yang mengalami pendangkalan akibat reklamasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui stratifikasi salinitas, komposisi makrozoobentos berdasarkan stratifikasi salinitas, dan hubungan stratifikasi salinitas dengan komposisi makrozoobentos pada perairan Sungai Siangker. Metode yang digunakan pada penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, menggunakan  teknik secara sistematik sampling. Untuk mengetahui hubungan kedua variabel dilakukan uji regresi kolerasi. Pengambilan sampel dilakukan pada 9 (Sembilan) titik sampling dari hulu-hilir sungai berdasarkan stratifikasi salinitas dengan jarak antar titik sejauh 200 m pada perairan Sungai Siangker. Nilai salinitas di Sungai Siangker pada Hulu sungai (K1) berkisar antara (0‰ - 4‰)  pada Tengah sungai (K2) berkisar antara (20‰ - 23‰), dan pada Hilir sungai (K3) berkisar antara (29‰ - 30‰). Pada stratifikasi salinitas yang berbeda di temukan jenis makrozoobentos yang bermacam-macam dengan kelimpahan yang berbeda pula, seperti pada K1 (0‰ - 4‰) ditemukan jenis Telescopium dan Casidula sp , pada K2 (20‰ - 23‰) ditemukan jenis Terebralia sp dan Cerithidae, dan pada K3 (29‰ - 30‰) ditemukan jenis Terebralia sp, Melanoides, dan Nereidae. Hasil regresi korelasi yang dihasilkan menunjukkan  bahwa stratifikasi salinitas di suatu perairan memberikan pengaruh terhadap kelimpahan dan persebaran makrozoobentos. ABSTRACTRivers as one type of living media for aquatic organisms, cannot be avoided from the problem of decreasing water quality as a result of the development of human activities. Siangker River is one of the drainage subsystems in the West Semarang region which empties into Semarang Bay which have been silting due to reclamation. Study was to determine the salinity stratification, composition of macrozoobenthos based on salinity stratification, and relationship of salinity stratification with the composition of macrozoobenthos in the waters of River Siangker. The method used in this study was descriptive with a quantitative approach, using systematic sampling techniques. To find out the relationship between the two variables, the regression test was conducted. Sampling was carried out on 9 (nine) sampling points from upstream-downstream of the river based on salinity stratification with a distance between points as far as 200 m in the waters of the Siangker River. The salinity value in the Siangker River on the Upper River (K1) ranged from (0‰ - 4‰) to the middle of the river (K2) ranging from (20‰ - 23‰), and downstream (K3) ranged from (29‰ - 30‰). Different strains of salinity were found in various types of macrozoobenthos with different abundances, such as in K1 (0‰ - 4‰) found in the type of Telescopium and Casidula sp, in K2 (20‰ - 23 ‰) found Terebralia sp and Cerithidae, and in K3 (29‰ - 30‰), Terebralia sp, Melanoides, and Nereidae were found. The resulting correlation regression results show that salinity stratification in a waters influences the abundance and distribution of macrozoobenthos.
SEBARAN SPASIAL DAN KELIMPAHAN JUVENIL UDANG DI PERAIRAN MUARA SUNGAI WULAN, DEMAK Ferdiansyah, Ferdiansyah; Hartoko, Agus; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.03 KB)

Abstract

ABSTRAK Perairan muara sungai Wulan merupakan wilayah perairan yang sangat penting fungsinya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, karena wilayah perairan tersebut dimanfaatkan para nelayan sebagai tempat penangkapan biota perairan seperti udang. Aktifitas tersebut dapat berpengaruh terhadap siklus hidup udang, kelimpahan maupun sebarannya. Oleh karena itu, informasi tentang sebaran spasial dan kelimpahan juvenil udang dapat digunakan sebagai dasar dalam usaha pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2016 di perairan muara sungai Wulan, Demak yang bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis juvenil udang, sebaran spasial kelimpahan juvenil udang dan hubungan faktor fisika-kimia perairan terhadap kelimpahan juvenil udang. Metode yang digunakan yaitu metode Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukan total kelimpahan juvenil udang berjumlah 584 ind/105m3 terdiri dari 4 genera yang teridentifikasi yaitu Penaeus, Metapenaeus, Macrobrachium, dan Cloridopsis. Jenis juvenil yang paling melimpah adalah genus Metapenaeus dengan hasil tangkapan sebanyak 286 ind/105m3. Sebaran kelimpahan juvenil udang yang tertinggi terdapat pada daerah kawasan mangrove yang memiliki kecepatan arus perairan yang lambat dan kedalaman perairan yang tinggi. Berdasarkan hasil uji regresi menunjukkan antara kecepatan arus dan kedalaman perairan berkorelasi dengan kelimpahan juvenil udang. Kata kunci: Muara Sungai, Juvenil Udang, Kelimpahan, Sebaran Spasial ABSTRACT Wulan estuarine is the territorial waters which highly important function in fulfilling the needs of society, because that have been aquatic biota catchment area such as shrimp. Activity can influence the life cycle, the abundance and spreading of shrimp. Therefore, knowing the spatial distribution and the abundance of the shrimp juvenile may provide such information that can be used as a basis for sustainable fisheries resource management efforts. The study is conducted in May to June 2016 in the waters of the Wulan River estuary, Demak aiming to determine the types, spatial distribution and the abundance of the shrimp juvenile. The method used in this study is purposive sampling method. The results show the total of shrimp juvenile abundance amounted to 584 ind/105m3 consists of 4 genera are identified i.e. Penaeus, Metapenaeus, Macrobrachium, and Cloridopsis. The most abundant of juvenile type is Metapenaeus genus with catches up to 286 ind/105m3. The spatial distribution shows the highest abundance of shrimp juvenile is in mangroves area. Based on the regression test results shows the flow speed and depth of the waters with the abundance of juvenile shrimp are correlated. Keywords: Estuary, Shrimp Juvenile, Abundance, Spatial Distribution
PENGARUH DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes (Mart) Solms, 1824) TERHADAP NITRAT (NO3) DAN TOTAL BAKTERI PADA SKALA LABORATORIUM Maulida, Dwi Tasha; Widyorini, Niniek; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.324 KB)

Abstract

Eceng gondok (E. crassipes) menjadi salah satu permasalahan yang serius pada kondisi perairan di Rawa Pening. Bahan organik dalam perairan memerlukan proses perombakan melalui dekomposisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dekomposisi bahan organik eceng gondok (E. crassipes) terhadap NO3 dan total bakteri. Penelitian dekomposisi bahan organik eceng gondok ini mengacu pada penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terhadap perlakuan kadar 80%, 60%, dan 40%. Data dikoleksi dengan 3 pengulangan selama 5 kali dengan periode satu minggu. Data yang diukur meliputi kandungan bahan organik, nitrat (NO3), total bakteri, suhu, pH air, dan DO pada setiap wadah percobaan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2015 di Laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan FPIK UNDIP Tembalang, Semarang. Hasil penelitian adalah dekomposisi eceng gondok memberikan pengaruh yang berbeda terhadap bahan organik air, total bakteri, dan NO3. Pengaruh bahan organik pada kadar 80% lebih dari 60%, lebih dari 40%. Pengaruh terhadap total bakteri pada kadar bahan organik 80% lebih dari 60%, lebih dari 40%. Dekomposisi eceng gondok pada kadar bahan organik 80% menghasilkan kelebihan NO3, sedangkan dekomposisi eceng gondok dengan kadar bahan organik 60% dan 40% hasil NO3 cenderung menurun. Water hyacinth (E. crassipes) became one of the serious problems to the water conditions in the Pening Swamp. Organic matter in the water needs recast process through decomposition. This study aimed to determine the effect of organic matter decomposition hyacinth (E. crassipes) to NO3 and total bacteria. This research on decomposition of organic matter hyacinths refers to experimental studies with completely randomized design (CRD) of the treatment levels 80%, 60%, and 40%. Data collected by 3 repeated for 5 times with a period of one week. Measured Data includes organic matter content, nitrate (NO3), total bacteria, temperature, water pH, and DO in each of container experimental research. This study was conducted in January 2015 in the Laboratory of Fisheries Resources Management and Environment FPIK Tembalang Diponegoro, Semarang. The results showed that the decomposition of water hyacinths give a different effect in water organic matter, total bacteria, and NO3. Effect of organic material at the rate of 80% more than 60%, more than 40%. Effect of total bacterial content on organic matter level of  80% more than 60%, more than 40%. Decomposition of water hyacinth on organic matter level of 80% has excess NO3, while the decomposition of water hyacinths with organic matter levels of 60% and 40% of the NO3 tended to decline.
ANALISIS PERBEDAAN MORFOLOGI DAN KELIMPAHAN KARANG PADA DAERAH RATAAN TERUMBU (Reef Flate) DENGAN DAERAH TUBIR (Reef Slope) DI PULAU PANJANG, JEPARA Septyadi, Kiai Agoes; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.979 KB)

Abstract

Pulau Panjang merupakan kawasan wisata di Jepara yang memiliki potensi salah satunya adalah ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu karang mempunyai fungsi ekologis yaitu sebagai habitat untuk berkembang biak, mencari makan dan berlindung bagi biota lain. Terumbu karang juga mempunyai fungsi melindungi pantai dari hempasan ombak dan arus laut. Selain itu keindahan alam laut dan terumbu karang sendiri dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sebagai daerah pariwisata bahari.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan morfologi karang pada zona rataan (reef flat) dengan terumbu karang daerah tubir (reef slope) di perairan pulau Panjang, Jepara. Dan mengetahui kelimpahan terumbu karang pada zona rataan (reef flat) dan terumbu karang pada zona tubir (reef slope) di perairan pulau Panjang, jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Dimana metode yang digunakan tergolong dalam metode survei yang bersifat deskriptif. Metode yang digunakan pada pengambilan data adalah Line Intercept Transect (LIT). Penelitian dilakukan pada dua lokasi yaitu daerah rataan terumbu dan daerah tubir. Panjang line transek adalah 10 m, di letakkan sejajar garis pantai, transek yang digunakan di daerah rataan terumbu sebanyak 3 line dan daerah tubir sebanyak 3 line. Jarak antara line dimasing-masing lokasi sampling 5 m.Hasil penelitian jenis karang yang ditemukan di rataan terumbu dan tubir yaitu  adalah jenis Porites sp., Acropora sp., Echinopora sp., Turbinaria sp., Goniastrea sp., Pavona  sp., Favites sp., Leptoseries sp., Pectinia sp., dan Goniopora sp. Prosentase penutupan karang hidup tertinggi di rataan terumbu yaitu jenis Porites sp. 26,73% , Goniastrea sp. 4,10% dan Acropora sp 3,67%. Sedangkan presentase penutupan karang hidup tertinggi di tubir yaitu jenis Porites  sp. 35,67%, Echinopora sp. 6,50% dan Acropora sp. 6,33%. Nilai prosentase penutupan karang hidup di daerah rataan terumbu sebesar 36,40% yang termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan nilai prosentase penutupan karang hidup di tubir sebesar 65,50% termasuk kategori baik. Pada rataan terdapat jenis morfologi Acropora yaitu  jenis Acropora Branching (ACB) sebesar 3,67%, sedangkan pada tubir  sebesar 6,33%. Jenis morfologi yaitu jenis Acropora terdapat satu jenis yaitu Acropora Branching (ACB), Baik daerah rataan dan tubir.  Sedangkan untuk non Acropora yang paling banyak adalah jenis Coral Encrusting (CE) baik pada rataan dan tubir.
Co-Authors - Ruswahyuni Abdul Ghofar Adi, Faiz Prasetya Agus Hartoko Ahmad Hadi Marwan, Ahmad Hadi Alfian Dony Saputra Alva W, Silvia Silvia Grandies Angelia Maharani Setya Putri Anggieta, Yayank Dita Anhar Solichin Aninditia Sabdaningsih Anjani, Putri Dewi Arizal Rusdiyato Aryo Ganesha Putra, Aryo Ganesha Asih, Dilia Puspita Astari, Findiani Dwi Azzam, Faudzi Ath Tho Bambang Sulardiono Banuaji, Heru Boedi Hendrarto Churun Ain Churun Ain Churun A’in Deni Kristiawan Derry Kurnia Prasetya, Derry Kurnia Dewinta, Raisa Diah Ayuningrum, Diah Dianti Eka Yurnaningsih Dimas Rahmat Ramadhian, Dimas Rahmat Dimas Surya Mahendra Wijayanto Djoko Suprapto Dwi Assy Dwi Tasha Maulida, Dwi Tasha Errinda Pramesti Oktaviana, Errinda Pramesti Fadya Rachmi Puteri Fahmy Barik Falensia, Talita Safa Fauzi, Reyhan Fathullah Febrianto, Sigit Ferdiansyah Ferdiansyah Frida Purwanti Haeruddin Haeruddin Hana Nisau Shalihah Hariawansyah, Fathul Aziz Hesty Riyana, Hesty Iswahyuni Iswahyuni Janisa Ferril Indriyastuti Kiai Agoes Septyadi Kurnia, Rahanti Lailatussyifa, Ayu Lani Febriana Safitri Lolo Ray Marbun Lusiana Rahayu Widiastuti Lustianto, Anggi Febri M. Mujiya Ulkhaq Mahdy Rohmadoni Mahrus, Ilham Hauzan Maruli Albert Max Rudolf Muskananfola Merlyna Novianti Mersi Liwa&#039;u Dina Moh Hidayat Muhammad Ilham Mulkan Nuzapril Munandar - Mustofa Nitisupardjo Nasution, Afiah Ni’ma, Nazla Norma Afiati Nur Ain Nur’aini, Estri Nursubekhi, Rijal Galih Amta Oktavianto Eko Jati Pradita Yusi Akshinta Pujiono Wahyu Purnomo Putri Nur Arifah, Putri Nur Rachmawan, Dicky Setya Rakhim, Lutfi Nur Ria Purnama Dewi Rinaldi, Rexa Kurnia Rizka Alifianita Saputri Ruswahyuni - Ruswahyuni Ruswahyuni Sahala Hutabarat Sakti, Akbar Parasukma Satrio, Budi Savitri Taurusiana Sianturi, Yenti Agustina Siti Nur Hidayah, Siti Nur Siti Rudiyanti Stephanus Jeanua Widyalistyo Putra Subiyanto Subiyanto Supriharyono Supriharyono Supriharyono Supriharyono Supriyati, Siti Suryanti - Suryanti Suryanti Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Syiva Nur Anggraeni, Syiva Nur Taufani, Wiwiet Teguh Temmy Temmy Tiara Surya Dewi Tito Firmansyah Yuanto Tjatur Wulandari, Tjatur Tri Kusuma Oktaviana Tyas, Diani Estining Untung Ismoyo Uswah Hasanah Utari, Erni Dwi Vera Nabila Ariyanti, Vera Nabila Vina Aulia Firdausa Wiwid Widyaningsih, Wiwid Yasintia Aryanov Soekiswo Yaya Fitriyah, Yaya Yunita, Isnaini Dian Yurnaningsih, Dianti Eka