Niniek Widyorini
Aquatic Resources Management Study Program, Department Of Aquatic Resources, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. H. Soedarto, SH., Tembalang, Semarang, 50725, Indonesia

Published : 86 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

KELIMPAHAN BAKTERI HETEROTROF SEDIMEN PADA BERBAGAI TIPE KERAPATAN DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE DESA BEDONO, KECAMATAN SAYUNG, DEMAK Supriyati, Siti; Anggoro, Sutrisno; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.995 KB)

Abstract

ABSTRAK Kawasan mangrove di Desa Bedono Demak merupakan kawasan mangrove yang dijadikan tempat konservasi sekaligus sebagai tempat wisata. Hutan mangrove merupakan tempat berkembangnya berbagai bakteri, keberadaan bakteri memiliki arti yang sangat penting dalam proses dekomposisi pada sedimen. Informasi tentang hubungan kerapatan dengan jumlah bakteri heterotrof diperlukan untuk pengeloaan dan pengkajian lebih lanjut pada kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kerapatan mangrove dan hubungannya terhadap kelimpahan bakteri heterotrof sedimen di kawasan konservasi mangrove Bedono. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2017 di kawasan konservasi mangrove Bedono, Demak. Sampel sedimen diambil pada masing-masing jenis kerapatan (jarang, sedang dan rapat) dengan 3 kali pengulangan, serta dibedakan pada saat pasang dan surut. Hasil yang didapat yaitu kerapatan mangrove pada kawasan konservasi mangrove Desa Bedono Demak yaitu 900 pohon/ha termasuk pada tingkat kerapatan jarang dengan kelimpahan rata-rata bakteri heterotrof sedimen 1,30x10-5 cfu/gr pada saat pasang dan 0,97x10-5 cfu/gr pada saat surut, 1.200 pohon/ha termasuk sedang dengan kelimpahan rata-rata bakteri heterotrof sedimen 0,65x10-5 cfu/gr pada saat pasang dan 0,60x10-5 cfu/gr pada saat surut, serta 2.400 pohon/ha termasuk kawasan mangrove rapat 1,32x10-5 cfu/gr pada saat pasang dan 1,35x10-5 cfu/gr pada saat surut. Diperoleh kesimpulan bahwa kelimpahan bakteri tidak berhubungan dengan kerapatan mangrove dengan nilai p-value sebesar 0,428 (R= 0,206 dan R2= 0,042). Kata Kunci: Total Plate Count; Bakteri Heterotrof Sedimen; Mangrove Bedono Demak ABSTRAK Mangrove area in the Bedono village, Demak is a mangrove area used as a conservation place as well as a tourist attraction. Mangrove forest is a growing place of bacterias, the presence of bacteria has a very important role in the decomposition process of sediment. Information on the density relationship with the number of heterotrophic bacteria is required for the management and further assessment of the area. This study purpose is to determine the condition of mangrove density and its relationship to the abundance of sediment heterotrophic bacteria in Bedono mangrove conservation area. This research was conducted in March 2017 at Bedono mangrove conservation area, Demak. Sediment samples were taken on each density type (low, medium and high) with 3 repetitions, and differentiated at high and low tide. The results obtained are mangrove densities in the mangrove conservation area of Bedono village, 900 trees/ha included at low density levels with an average abundance of 1,30×10-5 cfu/gr heterotrophic bacteria at high tide and 0,97x10-5 cfu/gr at low tide, 1.200 trees/ha included at moderate with an average abundance of sediment heterotroph bacteria 0,65x10-5 cfu/gr at high tide and 0,60x10-5 cfu/gr at low tide, and 2.400 trees/ha included at dense mangrove area of 1,32x10-5 cfu/gr at high tide and 1,35x10-5 cfu/gr at low tide. It is concluded that bacterial abundance is not related to mangrove density with p-value amount at 0,428 (R= 0,206 and R2= 0,042).  Key Words: Total Plate Count; Sediment Heterotrophic Bacteria; Mangrove Bedono Demak
PENGARUH KONSENTRASI FENOL YANG BERBEDA TERHADAP SINTASAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio L.) Oktaviana, Errinda Pramesti; Haeruddin, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.526 KB)

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu biota perairan yang peka terhadap perubahan kualitas lingkungan dan menjadi salah satu jenis ikan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Masuknya zat pencemar seperti fenol ke dalam perairan dalam jangka waktu yang lama dan terus-menerus akan mengganggu kehidupan ikan mas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi (LC50) 96 jam fenol terhadap Ikan Mas, dan pengaruh senyawa fenol terhadap sintasan ikan mas akibat pengaruh konsentrasi sublethal fenol yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2015 di Laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah Eksperimental Laboratoris, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua kali ulangan. Tahapan penelitian terdiri dari aklimatisasi, uji penetapan selang konsentrasi, uji definitif dan uji utama. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data sintasan (SR). Hasil uji penetapan selang konsentrasi menunjukkan bahwa fenol memiliki ambang atas 0,1 mg/l dan ambang bawah 0,01 mg/l. Uji definitive menunjukkan bahwa diperoleh nilai LC50-96 jam sebesar 0,047 mg/l. Nilai sintasan (SR) yang diperoleh yaitu pada perlakuan A (0 mg/l) dan B (0,0059 mg/l) 100%, C (0,0117 mg/l) 95% dan D (0,0235 mg/l) 85%. Pemberian berbagai konsentrasi fenol yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap sintasan ikan mas, pada selang kepercayaan 95%, F hitung < F tabel (4,00 < 6,59). Common Carp (Cyprinus carpio) is one kind of the aquatic biota that is sensitive to changes in environmental. The entry of polluted substances such as phenol into the waters in the long term will interfere the life of common carp. The objective of this study was to know the media lethal concentration (LC50) 96 hours of phenol to Common carp and the effect of phenol on the survival of common carp due to the influence of the different sublethal concentration of phenol. This research was held in September-October 2015 in the Laboratory of Fish Resources and Environmental Management, Department of Fisheries, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University, Semarang. The research was conducted by experimental laboratory with a completely randomized design (CRD) with two replications. Steps being taken are acclimatization, a preliminary test, the definitive test and the main test. Data taken in this research are survival rate (SR). Range finding test results showed that phenol has a threshold above 0.1 mg / L and below the threshold of 0.01 mg / L. The definitive test showed that the values obtained LC50-96 hours at 0,047 mg / L. Survival Rate (SR) value were A (0 mg / L) and B (0.0059 mg / L) 100%, C (0.0117 mg / L) by 95% and D (0 , 0235 mg / L) by 85%. The different concentration of phenol did not significantly affect survival rate of common carp, in the 95% confidence interval, F arithmetic <F table (4.00 <6.59).
STRUKTUR POPULASI DAN ANALISIS PARASITOLOGI KEONG MAS (Pomacea canaliculata Lamarck 1819) DI DESA JABUNGAN, SEMARANG Widiastuti, Lusiana Rahayu; Afiati, Norma; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.269 KB)

Abstract

Desa Jabungan memiliki sawah yang cukup luas dengan beberapa jenis Gastropoda didalamnya. Gastropoda yang banyak ditemui adalah keong mas (Pomacea canaliculata) yang merupakan salah satu sumberdaya perikanan tawar yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. Penelitian yang dilaksanakan pada Juni – Juli 2014 ini bertujuan untuk mengaji struktur populasi serta mengetahui jenis parasit yang dikandung keong mas. Sampel dikumpulkan dari sawah irigasi Desa Jabungan, Kecamatan Tembalang. Area pengambilan sampel dibedakan menjadi tiga lokasi di perairan sawah Desa Jabungan, yaitu: inlet, tengah, dan outlet. Metode studi kasus digunakan dalam penelitian ini, sedangkan teknik pengambilan sampel bersifat purposive sampling. Ukuran keong mas yang didapat selama 4 kali sampling berkisar antara 9,1 mm – 40,5 mm, dengan total kerapatan populasi tertinggi pada inlet, yaitu sebanyak 100 ind/m2, di bagian tengah 40 ind/m2, dan di outlet sawah 96 ind/m2. Pola distribusi populasi keong mas selama penelitian bersifat mengelompok. Sifat pertumbuhan alometrik yang ditaksir dari variabel panjang cangkang terhadap berat kering jaringan, antara tanggal 19 Juni 2014 dan 3 Juli 2014 diketahui bersifat alometrik positif, sedangkan pada tanggal 26 Juni 2014 dan 10 Juli 2014 bersifat alometrik negatif. Pengamatan parasit dilakukan pada individu dengan kisaran ukuran 13,3 mm – 40,7 mm. Sampel tanggal 19 Juni 2014 mengandung 8 spesies parasit yaitu Opistorchis viverrini, Strongyloides stercoralis, Paragonimus westermani, Miracidium, Schitosoma japonicum, Echinostoma lindoense, Gnathostoma spinigerum, dan Echinococcus granulosus. Adapun sampel tanggal 10 Juli 2014 mengandung 13 spesies parasit yaitu Schitosoma mansoni, Opistorchis viverrini, Echinostoma lindoense, Paragonium westermani, Clomorchis sinensis, Echinococcus granulosus, Oxyuris vermicuralis, Strongyloides stercoralis, Trichinella spiralis, Fasciola hepatica, Gnathostoma spinigerum, Schitosoma japonicum, dan Telur Echinostoma sp.Jabungan is a village with a fairly extensive rice fields with some type of gastropod therein. Gastropods mostly found is the golden snail (Pomacea canaliculata) which is one of the freshwater fishery resources consumed by local residents. This study was carried out in June-July 201, aimed to examine the structure of the golden snail population and knowing the type of parasite contained within the golden snail. Snail collected from rice fields irrigated Village Jabungan, district Tembalang. Sampling area were divided into three locations in the waters of the rice field Jabungan village, namely: the inlet, middle, and outlet. The Case study method is used in this study, whereas the technique of sampling is purposive sampling. Size of golden snail obtained from 4 times sampling ranged between 9,1 mm – 40,5 mm, with a total population of highest density on the inlet i.e., 100 ind/m2, in the central part of the rice fields 40 ind/m2, and at the outlet of the rice fields 96 ind/m2. The snail population distribution patterns during the study is clumped. Type of allometric growth obtained from dry tissue weight against shell length varied, between June 19, 2014 and July 3, 2014 is positive allometric, while on June 26, 2014 and July 10, 2014 is a negative allometric. Observation of parasite performed on individuals with a range of size 13.3 mm – 40,7 mm. A sample on June 19, 2014 contained 8 species of parasites i.e., Opistorchis viverrini Strongyloides stercoralis, Paragonimus westermani, Miracidium, Schitosoma japonicum, Echinostoma lindoense, Gnathostoma spinigerum, and Echinococcus granulosus. Whereas a sample on July 10, 2014 13 species of parasites were found Schitosoma mansoni, Opistorchis viverrini, Echinostoma lindoense, Paragonium westermani, Clomorchis sinensis, Echinococcus granulosus, Oxyuris vermicuralis, Strongyloides stercoralis, Trichinella spirallis, Fasciola hepatica, Gnathostoma spinigerum, Schitosoma japonicum, and Echinostoma sp’s egg.
ANALISIS KELIMPAHAN BAKTERI DI PERAIRAN BERMANGROVE DAN TIDAK BERMANGROVE DI PERAIRAN PANTAI UJUNG PIRING, JEPARA Mahrus, Ilham Hauzan; Widyorini, Niniek; Taufani, Wiwiet Teguh
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.644 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26482

Abstract

ABSTRAKEkosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem penting yang terdapat disepanjang garis pantai perairan tropis. Ekosistem mangrove memiliki peranan ekologi yang sangat penting, salah satunya yaitu tempat berlangsungnya proses dekomposisi. Bakteri sebagai dekomposer memiliki peran penting, sehingga kelimpahan bakteri pada perairan dapat dijadikan indikator kualitas lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan bakteri, hubungannya dengan bahan organik dan mengetahui perbedaan total bakteri pada kawasan bermangrove dan tidak bermangrove. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2019 di perairan Pantai Ujung Piring, Jepara dan analisis total bakteri dilaksanakan di Laboratorium Manajemen Kesehatan Hewan Akuatik (MKHA), Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Penanaman bakteri dilakukan menggunakan metode spread plate. Perhitungan total bakteri menggunakan metode Total Plate Count (TPC). Analisis data menggunakan T-test dan Principal Component Analysis (PCA). Mangrove pada lokasi penelitian mayoritas jenis Rhizophora apiculata kemudian kelimpahan bakteri yang didapat pada kawasan bermangrove yaitu 2,5 x 103 CFU/ml sampai dengan 8,0 x 103 CFU/ml. Sedangkan tidak bermangrove 1,4 x 103 CFU/ml sampai dengan 4,6 x 103 CFU/ml. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai total bakteri termasuk kategori rendah, kemudian terdapat hubungan yang kuat antara total bakteri dengan bahan organik dan terdapat perbedaan nilai kelimpahan bakteri pada kawasan bermangrove dan tidak bermangrove. ABSTRACTMangrove ecosystem is one of the important ecosystems along the tropical coastline. Mangrove ecosystems have a very important ecological role which is the place where decomposition takes place. Bacteria as decomposer have an important role , therefore total bacteria in the waters can be used as indicator of environmental quality. The purpose of this study was to determine the total bacteria, its relationship with organic matter and to know the difference in total bacteria in mangrove and non-mangrove areas. This research was conducted in April 2019 at Ujung Piring Beach, Jepara and a total bacterial analysis was carried out at the Laboratory of Aquatic Animal Health Management (MKHA), Brackishwater Aquaculture Center, Jepara. Sampling used purposive sampling method, bacterial planting used Spread Plate Method, total bacterial calculation used the Total Plate Count (TPC) method, data analysis used T-test and Principal Component Analysis (PCA). the majority of mangrove species are Rhizophora apiculata then total bacteria obtained in the mangrove area were 2.5 x 103 CFU/ml to 8.0 x 103 CFU/ml. While in the non-mangrove area were 1.4 x 103 CFU/ml to 4.6 x 103 CFU/ml. The conclusion is that the total bacterial value is in the low category, then there is a strong relationship between total bacteria and organic matter and there are differences in total bacteria among mangrove and non- mangrove area. 
PENGARUH KERAPATAN LAMUN Thalassia hemprichii TERHADAP KELIMPAHAN BAKTERI HETEROTROF DI PANTAI PRAWEAN, JEPARA Yunita, Isnaini Dian; Widyorini, Niniek; Supriharyono, Supriharyono
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.226 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22664

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem yang memiliki kompleksitas dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Padang lamun merupakan hamparan vegetasi lamun yang menutupi suatu kawasan pesisir. Selain memiliki fungsi ekonomi, lamun juga memiliki fungsi ekologis yakni berperan penting sebagai pendaur zat hara oleh mikroorganime yaitu bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan lamun, kelimpahan bakteri heterotrof yang berasosiasi dengan lamun serta pengaruh kerapatan lamun dengan kelimpahan bakteri heterotrof di Pantai Prawean, Jepara. Metode yang digunakan yakni deskriptif eksplanatif dengan pengambilan sampel secara purposive dan dianalisis dengan IBM SPSS Statistic 22. Jenis lamun yang ditemukan di Pantai Prawean ada 5 (lima): Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis dan Halodule pinifolia. Kerapatan tertinggi didapat dari jenis Thalassia hemprichii sebesar 78 Ind/m2 dan terendah adalah Enhalus acoroides 10 Ind/m2 dan kelimpahan bakteri heterotrof tertinggi diperoleh dari tingkat kerapatan rapat di stasiun 3 yakni 29,4x108 Upk/ml dan kelimpahan terendah diperoleh dari tingkat kerapatan jarang di stasiun 2 yakni 3,3x108 Upk/ml. Korelasi antara kerapatan lamun dengan kelimpahan bakteri heterotrof tinggi atau kuat yakni 0,896 dan korelasi ini dinyatakan sangat signifikan terbukti nilai sig. 0,001 dengan tingkat kesalahan 0,1%. Artinya bertambahnya kerapatan lamun dapat meningkatkan pula kelimpahan bakteri heterotrof. Seagrass ecosystem is one ecosytems that has high complexity and biodiversity. Seagrass beds are a stretch of seagrass vegetation that covers a coastal area. Beside its economic function, seagrass also have ecological function that play an important role of nutrient cycle for microorganism its bacteria. This study aims to determine the density of seagrass, the abundance of heterothropic bacteria and influence of seagrass density with abundance of heterotrophic bacteria at Prawean beach, Jepara. The method used in this study is descriptive explanative with purposive sampling and the data analyzed by IBM SPSS Statistic 22. There are 5 (five) species of seagrass that can be found in Prawean beach: Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis and Halodule pinifolia. The highest density obtained from Thalassia hemprichii species is 78 sprouts of seagrass/m2 and the lowest density obtained from Enhalus acoroides is 10 obtained from seagrass density at station 3 its value 29,4x108Cfu/ml and the lowest abundance of heterotrophic bacteria was obtained from rare seagrass at station 2 its value 3,3x108Cfu/ml.  The corelation between seagrass density with abundance heterotrophic bacteria is high or strong that has value 0,846 and this correlation is very significantly proven has sig value 0,001 with error rate 0,1%, it can be conclude that increase of seagrass density can also increase the abundance of heterotrophic bacteria.  
KELIMPAHAN LARVA UDANG Penaeid PADA SAAT PASANG DI SALURAN TAMBAK DESA GEMPOLSEWU, KAB. KENDAL Riyana, Hesty; Hutabarat, Sahala; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.864 KB)

Abstract

Larva udang merupakan organisme yang bersifat planktonik, hidupnya mengapung atau melayang yang pergerakannya dipengaruhi oleh arus. Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus membawanya. Distribusi dan kelimpahan larva udang di perairan dipengaruhi oleh arus pasang surut. Pergerakan arus saat pasang yang terjadi di perairan pantai akan membawa larva udang menuju muara, kemudian memasuki sungai yang nantinya akan masuk ke dalam saluran tambak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan larva udang penaeid yang masuk ke dalam saluran tambak dan mengetahui pengaruh perbedaan jarak lokasi saluran tambak dengan muara terhadap ketersediaan larva udang Penaeid di Desa Gempolsewu, Kab. Kendal. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2014 -Januari 2015. Lokasi penelitian terdiri dari dua stasiun dengan jarak 300 m dari stasiun I ke stasiun II. Teknik pengambilan sampel larva udang dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel larva udang dilaksanakan dengan menggunakan metode pasif di mana plankton net diameter 45 cm dan mesh size jaring 150 mikron dipasang di tengan saluran tambak menghadap muara selama 1 jam. Spesies Larva udang Penaeid yang ditemukan selama penelitian pada kedua stasiun yaitu Penaeus merguiensis dan Metapenaeus sp. Kelimpahan yang diperoleh selama penelitian pada stasiun I sebanyak 412 ind/100m3 dengan jumlah stadia mysis 240 ind/100m3 dan postlarva 172 ind/100m3. Pada stasiun II sebanyak 312 ind/100m3 dengan jumlah stadia Mysis 214 ind/100m3 dan postlarva 98 ind/100m3. Kelimpahan Relatif Penaeus merguiensis 84% pada stasiun I dan 90% pada stasiun II. Sedangkan Kelimpahan Relatif  Metapenaeus sp. 16% pada stasiun I dan 10% pada stasiun II. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jarak dari bibir sungai/ estuari berpengaruh pada kelimpahan larva udang.    Shrimp larvae is planktonic organisms that live by floating or drifting, and its movement is affected by current. Its Swimming ability is very limited, so the presence is determined where the flow through. Distribution and abundance of shrimp larvae in waters influenced by tidal current. The current when flood tide that transport shrimp larvae to the estuary, then enter the river until to the channel brackish water ponds. The purpose of this study was to determine the composition and abundance of penaeid shrimp larvae that enter the channel ponds and to determine the effect of different distance of channel pond locations with the estuary toward the availability of Penaeid shrimp larvae in the Gempolsewu Village, Kendal. The study was conducted from December 2014 to January 2015. Location of the study consists of two stations with a distance 300 m from stasiun I to stasiun II. The sampling technique of collecting shrimp larvae in this study used purposive sampling method. Sampling of the shrimp larvae was carried out by using the passive method in which the plankton net of 45 cm diameter and 150 micron mesh size nets were installed in the middle of channel facing the estuary when flood tide for 1 hour. The result showed that two spesies of Penaeid shrimp larvae i.e  Penaeus merguiensis and Metapenaeus sp. were found in both stasions. The abundance of both spesies obtained during the research in the station I was 412 ind / 100m3 consist of stadia mysis 240 ind / 100m3 and postlarva 172 ind / 100m3. While at the station II was 312 ind / 100m3  consist of stadia Mysis 214 ind / 100m3 and postlarva 98 ind / 100m3. Relative abundance of Penaeus merguiensis 84% at station I and 90% at station II. While the Relative Abundance Metapenaeus sp. 16% at station I and 10% at station II. Based on the results of this research could be concluded that the distance from mouth of river/ estuary influenced the abundance of shrimp larvae.
KOMPOSISI LARVA IKAN DI KAWASAN KOSERVASI MANGROVE DUSUN SENIK, DESA BEDONO, KECAMATAN SAYUNG, DEMAK Rinaldi, Rexa Kurnia; Widyorini, Niniek; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 2 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.937 KB)

Abstract

ABSTRAK Stadia larva merupakan fase pertumbuhan awal ikan. Distribusi dan Kelimpahan larva ikan di Ekosistem Mangrove merupakan proses rekruitmen alami. Kawasan Konservasi Mangrove Dusun Senik Desa Bedono merupakan daerah asuhan dan daerah mencari makan bagi larva ikan, saat ini daerah tersebut terkena abrasi. Hilangnya sebagian besar daratan memberikan pengaruh terhadap distribusi dan kelimpahan larva ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kelimpahan, dan sebaran larva ikan di kawasan konservasi mangrove Desa Bedono. Penelitian dilakukan di Kawasan Konservasi Mangrove Desa Bedono bulan September - Oktober 2016.  Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan penentuan titik sampling secara purposive. Hasil yang diperoleh jumlah larva ikan yang tertangkap sebanyak 20.320 individu/150m3 yang terdiri dari 12 famili yaitu: Mugilidae (1.120 ind/150m3), Chanidae (20 ind/150m3), Gerreidae (60 ind/150m3), Apogonidae (17.360 ind/150m3),  Scatophagidae (40 ind/150m3), Gobiidae (180 ind/150m3), Belonidae (40 ind/150m3), Ambassidae (20 ind/150m3), Lutjanidae (620 ind/150m3), Engraulidae (60 ind/150m3), Nemipteridae (40 ind/150m3), dan Oryziatidae (760 ind/150m3). Nilai kelimpahan larva ikan pada titik I sebesar 393 ind/150m3, titik II sebesar 607 ind/150m3, titik III sebesar 800 ind/150m3, titik IV sebesar 1.687 ind/150m3, titik V sebesar 1.633 ind/150m3, titik VI sebesar 607 ind/150m3, titik VII sebesar 235 ind/150m3, titik VIII sebesar 793 ind/150m3. Berdasarkan indeks morisita, pola sebaran larva ikan adalah acak. Kesimpulan yang dapat diambil adalah famili Apogonidae mendominasi dengan persentase 85,43%, nilai kelimpahan tertinggi terdapat pada titik IV, dan pola distribusi larva ikan menyebar secara acak yaitu keberadaan spesies tidak memiliki kecenderungan untuk hidup berkoloni dan dapat bertahan hidup di mana saja pada suatu ekosistem. Kata Kunci : Larva ikan; Komposisi; Kelimpahan; Pola Distribusi; Kawasan Konservasi Mangrove ABSTRACT Larval stage is the early growth phase of fish. Distribution and abundance of larval fish in mangrove ecosystem is a natural recruitment process. Mangrove Conservation Area at Senik hamlet Bedono village is the breeding and feeding areas for fish larvae, now the area is damaged by abrasion. The loss of the most mainland affects to the distribution and abundance of fish larvae. This study aims to determine the type, abundance and distribution of fish larvae in mangrove conservation area at Bedono village. The study was conducted in Bedono village Mangrove Conservation Area in September-October 2016. The research method that is used is a survey with purposive sampling point determination. The results obtained, the number of fish larvae caught are 20.320 individuals/150m3 consisting of 12 families, namely: Mugilidae (1.120 ind/150m3), Chanidae (20 ind/150m3), Gerreidae (60 ind/150m3), Apogonidae (17.360 ind/150m3), Scatophagidae (40 ind/150m3), Gobiidae (180 ind/150m3), Belonidae (40 ind/150m3), Ambassidae (20 ind/150m3), Lutjanidae (620 ind/150m3), Engraulidae (60 ind/150m3), Nemipteridae (40 ind/150m3), and Oryziatidae (760 ind/150m3). The value abundance of fish larvae in point I is 393 ind/150m3, in point II is 607 ind/150m3, in point III is 800 ind/150m3, point IV is 1.687 ind/150m3, point V is 1.633 ind/150m3, point VI is 607 ind/150m3, point VII is 235 ind/150m3, point VIII is 793 ind/150m3. Based on morisita index, the distribution pattern of fish larvae is random. The conclusion of this research are family Apogonidae dominates by percentage 85.43%, the highest abundance values is contained in point IV, and the  distribution pattern of fish larvae randomly spread, means that the species does not live in colonies and can survive anywhere in an ecosystem. Keywords     : Fish Larvae; Composition; Abundance; Distribution; Mangrove Conservation Area
HUBUNGAN KELIMPAHAN MEIOFAUNA PADA KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG, JEPARA Assy, Dwi; Widyorini, Niniek; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.278 KB)

Abstract

Lamun merupakan salah satu sumberdaya laut yang sangat potensial dan dapat dimanfaatkan. Organisme benthos seperti meiofauna menepati posisi yang sangat penting dalam proses biodegradasi di ekosistem pantai. Meiofauna bersifat relatif menetap pada dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan meiofauna pada kerapatan lamun yang berbeda di Pantai Pulau Panjang, Jepara dan mengetahui hubungan antara kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan meiofauna. Metode pengambilan sampel dan pengamatan meiofauna adalah sampel diambil 7 titik dari setiap stasiun, pengambilan sampel meiofauna dengan menggunakan pralon 20 cm, sampel kemudian disaring dengan menggunakan saringan sampel 0,5 mm dan diberi formalin sebanyak 4% ,larutan rose bengale™ dan larutan ludox. Jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian ini didapatkan 5 genera lamun yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhalus sp, Syringodium sp dan Halodule sp. Jumlah spesies individu meiofauna pada stasiun A yaitu 34.666 individu/m3 dari 22 spesies, pada stasiun B yaitu 42.666 individu/m3 dari 22 spesies dan pada stasiun C yaitu 54.000 individu/m3 dari 22 spesies. Uji korelasi pearson didapatkan nilai sebesar 0,565 ( ≥ 0,05 ) dengan kesimpulan H0 diterima dan H1 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara meiofauna dengan kerapatan lamun yang berbeda di Pulau Panjang Jepara. Nilai korelasi antara meiofauna dengan kerapatan lamun sebesar -0,632, hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan yang erat antara meiofauna dengan kerapatan lamun di Pulau Panjang, Jepara.
ANALISIS KUALITAS PERAIRAN BERDASARKAN KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI SUNGAI LANANGAN, KLATEN Azzam, Faudzi Ath Tho; Widyorini, Niniek; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 3 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.493 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i3.22549

Abstract

Sungai Lanangan merupakan bagian hulu Sungai Bengawan Solo yang terletak di Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten. Jenis limbah seperti limbah domestik, industri, pertanian, perikanan dan peternakan telah mencemari Sungai Lanangan. Limbah organik dari industri tepung aren dan mie soun yang dibuang di Sungai Lanangan mencapai 50 ton limbah per hari. Hal tersebut menyebabkan perubahan kualitas air dan komposisi fitoplankton di Sungai Lanangan.Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari - Februari 2018 di Sungai Lanangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan komposisifitoplankton serta mengetahui kualitas perairan berdasarkan struktur komunitas fitoplankton di Sungai Lanangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode survei denganpengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Frekuensi pengambilan sampel dilakukan setiap 1 minggu sekali selama 3 minggu. Sampel diambil dari 3 stasiun, dimana stasiun 1 dengan karakteristik perairan terbuka; Stasiun 2 dengan karakteristik dekat industri pengolahan tepung aren; dan stasiun 3 dengan karakteristik dekat dengan daerah budidaya air tawar.Hasil penelitian didapatkan 11 genera fitoplankton yaitu dari kelas Bacillariophyceae (4 genera), Cyanophyceae (2 genera), Chrysophyceae (1 genus), Ulvophyceae (2 genera), Zygnematophyceae (1 genus) dan Chlorophyceae (1 genus). Kelimpahan rata-rata fitoplankton tertinggi terdapat pada stasiun 2 dengan kelimpahan 1.989 ind/l yang didominasi oleh genus Oscillatoria. Indeks keanekaragaman rata-rata pada setiap stasiun adalah 1,68 pada stasiun 1; 1,63 pada stasiun 2; dan 1,52 pada stasiun 3. Dari hasil indeks keanekaragaman yang didapatkan tersebut menunjukkan kisaran nilai antara 1,52 hingga 1,68 yang berarti bahwa kualitas perairan Sungai Lanangan tercemar ringan.  Lanangan river is one upstream of Bengawan Solo river which located at Daleman, Tulung, Klaten. types of waste such as domestic waste, industrial waste, agriculture, fishery and animal husbandry polluted Lanangan river. Especially organic waste from palm starch and soun noodle industry that are dumped in the Lanangan river reaches 50 tonnes waste per day. This research was conducted from January to February 2018 in the Lanangan river. The purpose of this research is to find out the abundance and composition of phytoplankton; and to determine the water qualitybased on the structure of the phytoplankton community in Lanangan river. This research uses survey method and use purposive sampling method. The Frequency of sampling is done once a week for 3 week. The samples taken from 3 stations, where station 1 is open water; Station 2 is near palm starch and soun noodle industry; and station 3 is close to freshwater aquaculture area.The resultsof the research found 11 genus of phytoplankton in class Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Chrysophyceae, Ulvophyceae, Zygnematophyceae and Chlorophyceae. The highest average of phytoplankton abundance found in station 2 with 1,989 ind/l which is dominated by the genus of Oscillatoria. The average diversity index each station is 1.68 at station 1; 1.63 at station 2; and 1.52 at station 3. From the results obtained the diversity index indicates the range of values between 1.52 to 1.68 which show that the water quality of Lanangan River is lightly to moderate polluted.  
HUBUNGAN KELIMPAHAN IKAN DAN TUTUPAN KARANG LUNAK DENGAN KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PULAU MENJANGAN KECIL TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA, JAWA TENGAH Putra, Aryo Ganesha; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.067 KB)

Abstract

Kedalaman memberikan pengaruh terhadap biodiversitas secara vertikal dan berasosiasi dengan faktor abiotik yang membuat keanekaragaman biota laut memiliki spesialisasi masing-masing. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tutupan dan jenis karang lunak, mengetahui jenis serta kelimpahan ikan dan mengetahui hubungan kelimpahan ikan dan tutupan karang lunak dengan kedalaman yang berbeda. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2014, lokasi penelitian terbagi menjadi 2 lokasi, yaitu pengamatan lapangan di Pulau Menjangan Kecil dan pengamatan checklist karang lunak dan ikan di Pulau Karimunjawa. Metode penelitian menggunakan metode line intercept transect (LIT) dan sensus visual ikan. LIT dilakukan dengan menarik rol meter sepanjang 100 m sebagai lintasan pengamatan karang lunak dengan interval 1 m dan metode sensus visual ikan dengan batas luas pengamatan ke sisi kanan dan kiri line transect sepanjang 2,5 m hingga terbentuk kuadran seluas 5 x 5 meter, pengamatan dilakukan sepanjang 100 m dengan total luas pengamatan 500 m2. Analisis data yang digunakan yaitu perhitungan indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, Komposisi jenis dan analisis statistik korelasi berganda. Hasil pengamatan kelimpahan ikan terbesar pada kedalaman 3 dan 10 m berasal dari famili Pomacentridae sebesar 60,66 % dan 53,32 %. Indeks keanekaragaman dan keseragaman kelimpahan ikan di kedalaman 3 m sebesar 1,100 dan 0,793 terdiri dari 4 famili ikan, pada kedalaman 10 m yaitu 1,443 dan 0,694 terdiri dari 8 famili ikan. Hasil tutupan karang lunak terbesar di kedalaman 3 dan 10 m yaitu genus Lobophtyum sebesar 5,29 % dan 3,39 %. Indeks keanekaragaman dan keseragaman karang lunak sebesar 1,238 dan 0,893 pada kedalaman 3 m terdiri dari 4 genera dan di kedalaman 10 m tidak dapat dilakukan perhitungan, karena hanya terdapat 1 jenis. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kelimpahan ikan dan tutupan karang lunak memiliki hubungan dengan kedalaman yang berbeda. Influence of depth on biodiversity vertically associated with abiotic factors that make the diversity of marine life have their respective specialties. This study aims to determine the types and soft corals cover, know the type and abundance of fish and to determine correllations of different depths on the abundance of fish and soft coral cover. The study was conducted in June 2014, the location of study is divided into two locations, namely in the field observation Menjangan Kecil island and observation checklist soft corals and fish on the Karimunjawa island. The research method using line intercept transect (LIT) and visual census technique. LIT is done by pulling roll meters along 100 m as soft coral observation path with intervals of 1 m and visual census methods by a wide margin to the observation on the right and left side of the line transect along 2.5 m to form a quadrant area of 5 x 5 meters, observations were made along 100 m with a total area of 500 m2. Data analysis calculation used diversity index (H '), uniformity index (e), species composition (KJ) and statistical analysis multiple correlation. The observation of abundance of the biggest fish at a depth of 3 and 10 m comes from the family Pomacentridae with percentage of 60,66% and 53,32%. Diversity and uniformity index of fish abundance at a depth of 3 m is 1,100 and 0,793 consists of four families of fish, at a depth of 10 m is 1,443 and 0,694 consists of 8 fish families. The results of the largest soft coral cover in depth of 3 and 10 m from genus Lobophtyum with percentage 5,29% and 3,39%. Diversity and uniformity index of 1,238 and soft corals at a depth 3 m is 0,893 consists of 4 genera and at a depth of 10 m cannot be calculated, cause there is only one kind of soft coral. Based on these results, in conclusion, that the abundance of fish and soft coral cover correlated with difference of depth.
Co-Authors - Ruswahyuni Abdul Ghofar Adi, Faiz Prasetya Agus Hartoko Ahmad Hadi Marwan, Ahmad Hadi Alfian Dony Saputra Alva W, Silvia Silvia Grandies Angelia Maharani Setya Putri Anggieta, Yayank Dita Anhar Solichin Aninditia Sabdaningsih Anjani, Putri Dewi Arizal Rusdiyato Aryo Ganesha Putra, Aryo Ganesha Asih, Dilia Puspita Astari, Findiani Dwi Azzam, Faudzi Ath Tho Bambang Sulardiono Banuaji, Heru Boedi Hendrarto Churun Ain Churun Ain Churun A’in Deni Kristiawan Derry Kurnia Prasetya, Derry Kurnia Dewinta, Raisa Diah Ayuningrum, Diah Dianti Eka Yurnaningsih Dimas Rahmat Ramadhian, Dimas Rahmat Dimas Surya Mahendra Wijayanto Djoko Suprapto Dwi Assy Dwi Tasha Maulida, Dwi Tasha Errinda Pramesti Oktaviana, Errinda Pramesti Fadya Rachmi Puteri Fahmy Barik Falensia, Talita Safa Fauzi, Reyhan Fathullah Febrianto, Sigit Ferdiansyah Ferdiansyah Frida Purwanti Haeruddin Haeruddin Hana Nisau Shalihah Hariawansyah, Fathul Aziz Hesty Riyana, Hesty Iswahyuni Iswahyuni Janisa Ferril Indriyastuti Kiai Agoes Septyadi Kurnia, Rahanti Lailatussyifa, Ayu Lani Febriana Safitri Lolo Ray Marbun Lusiana Rahayu Widiastuti Lustianto, Anggi Febri M. Mujiya Ulkhaq Mahdy Rohmadoni Mahrus, Ilham Hauzan Maruli Albert Max Rudolf Muskananfola Merlyna Novianti Mersi Liwa&#039;u Dina Moh Hidayat Muhammad Ilham Mulkan Nuzapril Munandar - Mustofa Nitisupardjo Nasution, Afiah Ni’ma, Nazla Norma Afiati Nur Ain Nur’aini, Estri Nursubekhi, Rijal Galih Amta Oktavianto Eko Jati Pradita Yusi Akshinta Pujiono Wahyu Purnomo Putri Nur Arifah, Putri Nur Rachmawan, Dicky Setya Rakhim, Lutfi Nur Ria Purnama Dewi Rinaldi, Rexa Kurnia Rizka Alifianita Saputri Ruswahyuni - Ruswahyuni Ruswahyuni Sahala Hutabarat Sakti, Akbar Parasukma Satrio, Budi Savitri Taurusiana Sianturi, Yenti Agustina Siti Nur Hidayah, Siti Nur Siti Rudiyanti Stephanus Jeanua Widyalistyo Putra Subiyanto Subiyanto Supriharyono Supriharyono Supriharyono Supriharyono Supriyati, Siti Suryanti - Suryanti Suryanti Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Syiva Nur Anggraeni, Syiva Nur Taufani, Wiwiet Teguh Temmy Temmy Tiara Surya Dewi Tito Firmansyah Yuanto Tjatur Wulandari, Tjatur Tri Kusuma Oktaviana Tyas, Diani Estining Untung Ismoyo Uswah Hasanah Utari, Erni Dwi Vera Nabila Ariyanti, Vera Nabila Vina Aulia Firdausa Wiwid Widyaningsih, Wiwid Yasintia Aryanov Soekiswo Yaya Fitriyah, Yaya Yunita, Isnaini Dian Yurnaningsih, Dianti Eka