Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Awig-Awig Effectiveness In Protection Of Marine Natural Resources, Indigenous Communities Of Lombok Wiwin Yulianingsih; Frans Simangunsong; Maria Novita Apriyani
International Journal of Educational Research & Social Sciences Vol. 2 No. 4 (2021): August 2021
Publisher : CV. Inara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijersc.v2i4.146

Abstract

Sources of income for fishermen are not only generated through fishery resources but also carry out fish cultivation in ponds, seaweed cultivation and traditional fish processing. Fish farming, and development activities are carried out by fishermen because the results obtained from the sea are not sufficient for their daily needs. This study is to determine the effectiveness of the application of Awig-Awig in the protection of marine natural resources of the indigenous peoples of East Lombok. The approach chosen in this research is empirical juridical. The choice of this approach was taken because what will be studied in addition to laws and regulations is also the influence of customary law that develops in society, especially in East Lombok. Awig-awig Teluk Jor area is divided into 13 chapters and consists of 17 articles. The chapters contained in the awig-awig of the Teluk Jor area regulates general provisions, types and facilities of fishing gear, fishing areas, and the operation of fishing gear, cultivation, conservation, pollution of the coastal environment, security, shipping, institutions and sources. management funds, sanctions, procedures for administering sanctions, additional and transitional rule, and closings. About  conservation, the awig-awig of the Teluk Jor area regulate  the use of mangroves that can be used for research, tourism, and other business activities that do not damage the surrounding environment as well as protection from illegal logging, and conversion of mangrove land into ponds.
Hubungan Pembelajaran Humanistik dengan Kemandirian Belajar Peserta Didik di Kampoeng Sinaoe, Buduran Kabupaten Sidoarjo Atika Sabrina; Wiwin Yulianingsih
J+PLUS UNESA Vol. 15 No. 1 (2026): J+PLUS, Juni 2026
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh kebutuhan mendasar akan kemandirian belajar dari peserta didik dalam menghadapi tantangan pendidikan yang lebih kompleks, terutama dalam pendidikan nonformal. Kampoeng Sinaoe sebagai lembaga pendidikan nonformal menerapkan pembelajaran humanistik melalui berbagai program pembentukan karakter dan kepemimpinan. Program yang diterapkan meliputi Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat, mentoring personal dan coaching, serta kegiatan Cafe Sinau (Karya Nyata Kader) yang dikelola langsung oleh peserta didik. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara partisipatif dengan tutor berperan sebagai fasilitator sehingga peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional untuk menganalisis hubungan pembelajaran humanistik dengan kemandirian belajar peserta didik. Sampel berjumlah 40 siswa (anak kader) dengan dengan teknik pengambilan sampel jenuh. Data dikumpulkan melalui kuisioner skala likert yang telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas. Analisis data mencakup uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji linearitas, dan uji korelasi Spearman Rank karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi Spearman Rank adalah 0,875 dengan nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,000 < 0,05. Nilai tersebut berada pada kategori sangat kuat dan menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara pembelajaran humanistik dengan kemandirian belajar peserta didik. Artinya, semakin baik penerapan prinsip-prinsip pembelajaran humanistik seperti empati, penerimaan tanpa syarat, kebebasan berekspresi, dan pengalaman belajar yang bermakna, maka semakin tinggi tingkat kemandirian belajar peserta didik. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran humanistik memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan kemandirian belajar para peserta didik di Kampoeng Sinaoe. Metode pembelajaran yang fokus pada peserta didik terbukti membantu menciptakan individu yang mandiri, bertanggung jawab, serta mampu mengelola proses belajarnya secara optimal.
Membangun Budaya Komunikasi Digital yang Beretika pada Warga Kelurahan Babat Jerawat Dinda Bhawika Wimala Pastika; Miko Aditiya Suharto; Maria Novita Apriyani; Wiwin Yulianingsih; Yana Indawati
BERBAKTI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 04 (2026): ISSUE APRIL
Publisher : PT. Mifandi Mandiri Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengubah cara masyarakat berinteraksi dan menyampaikan informasi. Di Kelurahan Babat Jerawat, fenomena penggunaan media sosial dan platform digital semakin meningkat, terutama di kalangan usia produktif. Namun, peningkatan akses digital ini tidak selalu diiringi dengan kesadaran pentingnya etika komunikasi digital. Masalah seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, pelanggaran privasi, serta konflik akibat miskomunikasi di ruang siber menjadi tantangan tersendiri. Tujuan dari makalah ini adalah untuk menganalisis kondisi aktual budaya komunikasi digital masyarakat di Kelurahan Babat Jerawat serta merumuskan strategi membangun budaya komunikasi digital yang beretika. Kegiatan Pengabdian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pelaksanaan di lapangan, dan dokumentasi kegiatan literasi digital yang telah dilakukan. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa sebagian besar warga masih memiliki pemahaman terbatas mengenai prinsip-prinsip komunikasi etis di ruang digital. Namun, terdapat antusiasme yang cukup tinggi dalam mengikuti kegiatan edukatif yang berkaitan dengan literasi digital. Kesimpulan dari kegiatan pengabdian ini adalah bahwa pembangunan budaya komunikasi digital yang beretika sangat mungkin dilakukan jika didukung oleh keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah kelurahan, organisasi kemasyarakatan, hingga pemuda. Sebagai saran, diperlukan program literasi digital yang berkelanjutan, berbasis komunitas, dan menyesuaikan dengan kebutuhan lokal, agar kesadaran serta keterampilan etis warga dalam berkomunikasi di dunia digital dapat meningkat secara signifikan.