Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Hidden Ideologies in Indonesia’s World Water Forum 2024 Speech Haikal Fadhil Anam; Hilma Erfiani Baroroh
Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol. 23 No. 1 (2026)
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jik.v23i1.11258

Abstract

This study analyzes the ecological and ideological dimensions of President Jokowi’s speech at the World Water Forum 2024 using Norman Fairclough’s critical discourse analysis model and Arran Stibbe’s ecolinguistic framework. The findings reveal an interplay of beneficial, ambivalent, and destructive ideologies. The speech emphasizes moral responsibility and global cooperation in water conservation, while also reflecting economic growth and consumerist ideologies that may undermine ecological sustainability. This study highlights the importance of critical evaluation to promote communication and policymaking aligned with ecological and sustainable principles.
Linguistic Politeness in Digital Academic Communication: Lecturer-Student Whatsapp Interaction at Universitas Terbuka Hilma Erfiani Baroroh; Ifan Iskandar; Miftahulkhairah Anwar
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 02 (2026)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v7i02.14808

Abstract

The digital transformation of higher education has fundamentally reshaped academic communication, particularly in Distance Higher Education (DHE) institutions. This study investigates linguistic politeness in lecturer–student WhatsApp interactions at Universitas Terbuka, Indonesia. Using a qualitative instrumental case study approach, 851 WhatsApp messages representing seven communicative genres were analyzed. The study contributes by proposing the Indonesian Academic Digital Politeness Model (IADPM), an integrative framework that explains how linguistic politeness is shaped by communicative genre, sociocultural norms, digital affordances, and institutional power within Indonesian digital academic communication. The findings show that students predominantly employ Extreme Negative Politeness through apologies and honorific expressions, whereas lecturers rely on Bald On-Record strategies legitimized by institutional authority. The folded hands emoji functions as a digital marker of respect, while platform features such as blue ticks reinforce institutional accountability and hierarchical relationships. These findings demonstrate that asynchronous digital communication does not diminish academic hierarchy but instead reconfigures its expression through culturally embedded digital practices. The study recommends the development of institutional guidelines for digital academic communication to promote more effective and culturally appropriate interactions in online higher education. Transformasi digital dalam pendidikan tinggi telah secara fundamental mengubah komunikasi akademik, khususnya di institusi Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (Distance Higher Education/DHE). Studi ini mengkaji kesantunan berbahasa dalam interaksi WhatsApp antara dosen dan mahasiswa di Universitas Terbuka, Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus instrumental kualitatif, sebanyak 851 pesan WhatsApp yang merepresentasikan tujuh genre komunikatif dianalisis.Penelitian ini memberikan kontribusi dengan mengusulkan Indonesian Academic Digital Politeness Model (IADPM), sebuah kerangka integratif yang menjelaskan bagaimana kesantunan berbahasa dibentuk oleh genre komunikasi, norma sosiokultural, afordansi digital, dan relasi kuasa institusional dalam komunikasi akademik digital di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa didominasi oleh strategi Extreme Negative Politeness melalui penggunaan ungkapan permohonan maaf dan ekspresi honorifik, sedangkan dosen lebih banyak menggunakan strategi Bald On-Record yang dilegitimasi oleh otoritas institusional. Emoji tangan berdoa berfungsi sebagai penanda digital penghormatan, sementara fitur platform seperti blue ticks memperkuat akuntabilitas institusional dan relasi hierarkis. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi digital asinkron tidak mengurangi hierarki akademik, melainkan merekonfigurasi ekspresinya melalui praktik digital yang berakar pada budaya. Studi ini merekomendasikan pengembangan pedoman institusional untuk komunikasi akademik digital guna mendorong interaksi yang lebih efektif dan sesuai budaya dalam pendidikan tinggi daring.
Analisis Kesantunan Berbahasa dalam Debat Kelima Calon Presiden 2024: Kajian Pragmatik Certika Novianty Lubis; Hilma Erfiani Baroroh
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 6 No. 2 (2024): Indonesian Language and Literature Studies
Publisher : LP2M UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v6i2.7754

Abstract

This research is undermined by the importance of understanding the language chaos applied in the context of political debate. The aim of this study is to describe the principle of linguistic chaos and to analyze the chaos of the presidential candidates in the fifth debate in 2024 using the theory of chaos principle. The methods used in this research are qualitative descriptive with data reduction techniques, data classification, and analysis of linguistic fluency. Based on the data analysis, it can be concluded that in the debate of the fifth presidential candidate in 2024 there was more compliance with Leech's principle of compliance because of 51 data, there were 42 data matching compliance of language compliance at 82.3% with indicators 5 maxims of wisdom; 10 maxims of charity; 8 maxims of appreciation; 9 maxims of simplicity; 7 maxims permufaction; and 3 maxims sympathy. Out of the six categories, the author also found some violations in the maxims, such as 3 maxims of wisdom, 4 maxims for charity, and 2 maxims permufaction. Keywords: Debate, maxim, pragmatics, presidential candidate, election
Teun A. van Dijk’s Critical Discourse Analysis of the Film Budi Pekerti Hilma Erfiani Baroroh; Umni Syahda Zalfa; Ayu Qurratul A'yuni; Ferdi Arifin
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v6i01.11020

Abstract

This study aims to analyze the film Budi Pekerti (2023) directed by Wregas Bhanuteja using Teun A. van Dijk’s critical discourse analysis approach. The background of this research is based on the importance of understanding morality and the influence of social media in contemporary society, particularly within the contexts of education and family. This research employs a qualitative descriptive method, focusing on three levels of discourse structure: macrostructure, superstructure, and microstructure. The findings indicate that Budi Pekerti not only conveys messages of personal ethics but also critiques the social system that reinforces prejudice and stereotypes through media discourse. The study reveals that public perception of individuals is heavily shaped by the dynamics of public opinion constructed through digital media. Thus, the film contributes to a broader understanding of the importance of media literacy and social empathy.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis film Budi Pekerti (2023) karya Wregas Bhanuteja dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk. Latar belakang penelitian ini dilandasi oleh pentingnya pemaknaan moralitas dan pengaruh media sosial dalam kehidupan masyarakat modern, khususnya dalam konteks pendidikan dan keluarga. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan fokus pada tiga struktur wacana, yaitu struktur makro, suprastruktur, dan struktur mikro. Hasil analisis menunjukkan bahwa film Budi Pekerti tidak hanya menyampaikan pesan etika personal, tetapi juga mengkritik sistem sosial yang memperkuat prasangka dan stereotip melalui konstruksi wacana media. Temuan ini mengindikasikan bahwa persepsi masyarakat terhadap individu sangat dipengaruhi oleh dinamika opini publik yang terbentuk melalui media digital. Dengan demikian, film ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman masyarakat mengenai pentingnya literasi media dan empati sosial.
Revitalisasi Pupujian Sunda sebagai Memori Kultural Digital dan Dampak Sosial-Budaya bagi Generasi Muda Hilma Erfiani Baroroh
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.09

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Pupujian Sunda sebagai memori kultural digital dan menganalisis potensi dampak sosial-budayanya bagi generasi muda. Pendekatan kualitatif-interpretatif digunakan dengan mengintegrasikan analisis sastra lisan, teori memori kultural, pencermatan digital, dan deskripsi kuesioner. Data utama bersumber dari lima teks pupujian dan didukung oleh tiga dokumentasi performansi YouTube serta respons kuesioner dari 18 siswa MAN 4 Ciamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pupujian Sunda berfungsi sebagai medium penyimpanan ingatan kolektif masyarakat Sunda-Muslim terkait dimensi waktu, ilmu, amal, kefanaan, kematian, akhlak, dan identitas religius. Meskipun platform YouTube memperluas aksesibilitas pupujian sebagai arsip suara digital, media ini tidak dapat menggantikan kedalaman pengalaman komunal langsung. Oleh karena itu, strategi revitalisasi yang dinilai paling efektif adalah model hibrida (komunal-digital) yang mengontegrasikan pelantunan langsung, penyediaan teks-terjemahan, kontekstualisasi makna, dan pemanfaatan media digital.