Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Conservation Policy, Indigeneity, and Changing Traditional Hunting Practices in West Papua Fatem, Sepus M.; Runtuboi, Yubelince Y.; Fisher, Micah R.; Sufi, Yafed; Maryudi, Ahmad; Sirimorok, Nurhady
Forest and Society Vol. 7 No. 2 (2023): NOVEMBER
Publisher : Forestry Faculty, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/fs.v7i2.27420

Abstract

Regional governments are increasingly developing conservation policy initiatives that are framed alongside the empowerment of Indigenous Peoples. This paper examines the case of Tambrauw, West Papua, that set out to establish one of the first ever Conservation Regencies in Indonesia. To understand the implications of conservation policy developments, we explored from an environmental justice perspective the ways that one of the most important forest-based activities of local communities – hunting – has changed in recent years. Data was collected using qualitative methods of participatory observation and interviews between 2015-2018 across three Tambrauw districts. The study shows how policy changes are increasing clashes between local hunters and conservation officials. This has implications for broader issues of conservation policy and local livelihoods, and sheds light on the more recent trend of foregrounding Indigenous identity in forest management. Although on the face of it the emergence of conservation regencies represents a trend in downscaling authority to empower local communities, findings shows that place-based and more locally responsive policies need to be established to address emerging conflicts that can also meet broader conservation outcomes.
Dinamika Populasi Sagu (Metroxylon sagu Rottb) pada Berbagai Tipe Habitat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sentani Kabupaten Jayapura, Papua Dimara, Petrus Abraham; Auri, Amilda; Runtuboi, Yubelince Y.
Igya ser hanjop: Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Papua Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47039/ish.6.2024.43-55

Abstract

Pohon sagu dapat dimanfaatkan untuk ketahanan pangan lokal. Penelitian ini mengkaji komposisi dan struktur sagu Metroxylon sagu Rottb. di daerah DAS Sentani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis vegetasi dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Simpson. Diketahui komposisi tanaman sagu di DAS Sentani didominasi oleh tiga belas varietas sagu lokal. Karakteristik Metroxylon sagu Rottb. di habitat kering ditemukan 10 varietas dengan nilai Indeks Keanekaragaman Simpson 0,85 dan kemerataan 0,94; pada habitat tergenang sementara ditemukan 13 varietas. Rumpun sagu pada habitat tergenang memiliki rata-rata tutupan tertinggi (161,43 m2) atau rumpun sagu seluas 14 meter, sedangkan pada habitat kering mempunyai rata-rata tutupan terendah 116,58 m2) atau rumpun sagu berdiameter 12 meter. Dengan menghitung Indeks Nilai Penting (INP) pada seluruh wilayah pengamatan, diketahui bahwa phara dan yebha mempunyai nilai tertinggi, sedangkan INP terendah terdapat pada varietas wani, phane, yakhe, yakhalobe, hobholo dan osukhulu.
Kolaborasi perguruan tinggi, gereja, dan masyarakat adat dalam advokasi isu lingkungan dan tenurial di Lembah Kebar Kabupaten Tambrauw: Collaboration of universities, spirituall organization and indigenous peoples in advocacy for environmental and tenure issues in Kebar Valley, Tambrauw Regency Padang, Dina Arung; Runtuboi, Yubelince Y.; Nebore , Idola Dian Y.; Tampang, Ana; Sebayang, Sri Rosepda; Ayomi, Adomina; Mambraku , Selviana; Bauw, Naswa Anissa Az Zahra Sanusi; Fatem, Sepus M.
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i3.578

Abstract

ABSTRACT  Natural resources, environmental sustainability, and tenure rights represent complex and persistent challenges faced by Indigenous communities across Indonesia, including in Kebar Valley, Tambrauw Regency, West Papua. This region has been under growing pressure from oil palm plantation expansion, leading to land conflicts, violence, and ecological degradation. This study explores the strategic collaboration among universities, churches, and Indigenous communities in advancing advocacy rooted in ecological justice and tenure recognition. A descriptive qualitative approach with a naturalistic paradigm and ethnographic methods was employed to uncover local narratives, social practices, and customary values that shape collective strategies in addressing structural inequalities. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation of advocacy activities. The findings reveal that such cross-sector collaboration has successfully mobilized socio-political strength to promote ulayat land rights, environmental preservation, and community-based economic resilience. The 2024 Declaration of Kebar Valley as the Land of the Gospel marks both a symbolic and strategic milestone, reinforcing solidarity among actors. This partnership has created momentum for progressive policy development, including both regulatory and non-regulatory frameworks at local and national levels. The study underscores the critical role of participatory approaches, recognition of Indigenous knowledge, and integration of spiritual values in empowering Indigenous peoples in resource governance. Future advocacy efforts must encompass sociocultural, economic, and legal dimensions to ensure the sustainability of Indigenous territories and the well-being of local communities.  Keywords: Advocacy; Collaboration; Community; Kebar; Tambrauw   ABSTRAK  Isu sumber daya alam, lingkungan, dan hak tenurial merupakan permasalahan kompleks yang dihadapi masyarakat adat di Indonesia, termasuk di Lembah Kebar, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Kawasan ini mengalami tekanan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit yang menimbulkan konflik lahan, kekerasan, dan degradasi ekologis. Penelitian ini mengkaji kolaborasi antara perguruan tinggi, gereja, dan masyarakat adat dalam upaya advokasi berbasis keadilan ekologis dan hak tenurial. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma naturalistik dan metode etnografi digunakan untuk menggali narasi lokal, praktik sosial, dan nilai-nilai adat yang membentuk strategi kolektif komunitas dalam menghadapi ketimpangan struktural. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi aktivitas advokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi lintas aktor ini mampu membangun kekuatan sosial-politik dalam mendorong pengakuan hak ulayat, pelestarian lingkungan, serta penguatan ekonomi komunitas. Deklarasi Lembah Kebar sebagai Tanah Injil (2024) menjadi tonggak simbolik sekaligus strategis dalam memperkuat solidaritas antar aktor. Kolaborasi tersebut membuka ruang bagi terobosan kebijakan baik dalam bentuk regulasi maupun non-regulasi di tingkat lokal dan nasional. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan partisipatif, pengakuan terhadap kearifan lokal, dan integrasi nilai spiritual dalam memperkuat posisi masyarakat adat dalam tata kelola sumber daya alam. Advokasi ke depan harus mencakup dimensi sosial-budaya, ekonomi, dan hukum untuk menjamin keberlanjutan ruang hidup dan kesejahteraan komunitas adat secara menyeluruh. Kata kunci: Advokasi;  Kebar;  Kolaborasi; Mayarakat; Tambrauw
CATATAN LAPANGAN MENGENAI SATWALIAR DI LOKASI EKOWISATA SYURGAR SAUSAPOR, KABUPATEN TAMBRAUW Fatem, Sepus; Worabai, Meliza S; Beljai, Matheus; Wanma, Alfredo O; Ungirwalu, Antoni; Runtuboi, Yubelince; Dian Nebore, Idola; M Jitmau, Anjeli; Ayomi, Adomina; S Erari, Semuel
Jurnal Belantara Vol 7 No 2 (2024)
Publisher : Forestry Study Program University Of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbl.v7i2.1000

Abstract

This study was conducted at Syurgar ecoutourism site, subdistrict of Sausapor Tambrauw district. Data was collected from June to July 2020 using survey method, direct catching, cage trap and interview. This study aimed to list the wildlife species, especially Birds, Mammals Herpetofauna, and Butterflies in order to complete data of the government of Tambrauw District for the purpose of Syurgar ecotourism development. This study recorded that there were 15 birds’ species of 13 families, 12 mammals’ species of 6 family, 4 herpetofauna’s species of 4 families, and 25 butterflies of 4 families. Syurgar has a potential to be a birdwatching site. There are several appealing birds, including Lesser bird-of-paradise (Paradisaea minor), king bird of paradise (Cincinurus regius), blyth’s hornbill (Rhyncetores plicatus), sulphur-crested cockatoo (Cacatua galerita). Endemic species of mammals include long-beaked echidna (Zaglosus bruijnii), dorcopsis/forest’s wallaby (Dorcopsis sp.), northern common cuscus (Phalanger orientalis), common spotted cuscus (Spilocuscus maculates), old world fruit bats (Dobsonia sp.), great flying fox (Pteropus neohibernicus). Endemic species of herpetofauna include frogs (Papurana sp.), Papua wrinkled ground frog (Cornufer papuensis). Eventually, some butterflies’ species include redeye bushbrown (Mycalesis aethiops), bushbrown (Mycalesis elia), and Papuan gull (Cepora abnormis). It is strongly suspected that several birds, mammals, herpetofauna, and butterflies have not been recorded due to time constraints. Therefore, further study is recommended for data completion.
Satwa Liar di Hutan Ndaer, Kampung Ayapokiar, Miyah Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Fatem, Sepus Marten; Erari, Semuel Sander; Tuririday, Helena Trivona; Worabay, Meliza Sartje; Belja, Matheus; Wanma, Alfredo Ottow; Runtuboi, Yubelince; Ungirwalu, Antoni; Nebor, Idola Dian
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i3.6503

Abstract

Hutan Ndaer yang terletak di Kabupaten Tambrauw memiliki potensi berbagai spesies satwa liar yang unik dan menjadi daya tarik wisata tetapi juga pendidikan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi satwa liar yang berada di Hutan Ndaer dan analisis status konservasi berdasarkan P.106.Tahun 2018, IUCN dan CITES 2022, untuk menunjang upaya pelestarian dan larangan perdagangan satwa liar illegal, juga sebagai media edukasi bagi masyarakat lokal dan berbagai pihak untuk kepentingan pelestarian satwa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, eksplorasi, dan studi pustaka yang relevan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan satwa liar yang terdiri dari avifauna (29 spesies), mamal (6 spesies), amfibi (4 spesies) dan reptil (1 spesies). Status perlindungan berdasarkan PERMENLHK.No. 106/2018 terdapat 22% satwa liar dilindungi (D) dan 21% tidak dilindungi (TD). Merujuk pada daftar merah redlist IUCN 2022 terdapat 37% satwa liar dengan resiko terancam rendah (LC), 3% satwa liar sedang menghadapi resiko tinggi kepunahan (VU), 1% beresiko tinggi menuju kepunahan (CR). Seseuai dengan CITES 2022 terdapat 15% satwa liar yang terancam punah apabila perdagangan dibiarkan berlanjut dan 1% dilarang diperdagangkan di Tingkat Internasional.
POLA INTERAKSI PADA PETERNAKAN BABI DAN SUMBERDAYA ALAM DI DISTRIK NUMFOR BARAT PULAU NUMFOR-BIAK, PAPUA Sumpe, Iriani; Iyai, Deny Anjelus; Bajari, Makarius; Widayati, Trisiwi Wahyu; Rumbrawer, Erastus; Mamboai, Hans; Woran, Djonly; Hutabarat, Martua; Runtuboi, Yubelince; Inriani, Novelin; Awom, Sarce
OPTIMA: Jurnal Ilmiah Agribinis, Ekonomi, dan Sosial Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/optima.v9i2.6171

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola interaksi lingkungan terhadap sistem pemeliharaan ternak babi di Distrik Numfor Barat Pulau Numfor. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Sebagai kasus dalam penelitian ini adalah 10 kampung di Distrik Numfor Barat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pola interaksi lingkungan terhadap sistem pemeliharaan ternak babi di Distrik Numfor Barat Pulau Numfor adalah sangat tersedianya sumber daya alam di lingkungan seperti pakan, minum, bahan kandang, lahan, dengan frekuensi 2-3 pemberian makan sehari.