Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

INOVASI SMART FARMING MODEL ELECTICAL CONDUCTIVITY DAN INTERVAL SIRKULASI LARUTAN NUTRISI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN MELON DI AGROWISATA DESA SUMBERGEDANG Sujono, Sujono; Muhidin, Muhidin; Roeswitawati, Dyah
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2676

Abstract

Desa Sumbergedang memiliki Potensi alam desa yaitu: 1) Sungai dengan sumber air sepanjang tahun; 2) Pertanian tanaman pisang di sepanjang sungai; 3) Sumber Mata Air Ada Sekitar 30 Titik yang tersebar di 13 Dusun dan lahan belum termanfaatkan seluas 6 ha. Lahan ini sudah disiapkan untuk agrowisata desa salah satu nya adalah tanaman pisang dan tanaman melon. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh interval sirkulasi yang efektif bagi tanaman melon, nilai konduktivitas listrik yang sesuai bagi pertumbuhan dan hasil tanaman melon, kombinasi perlakuan interval sirkulasi pada smart farming tanaman melon di Desa Sumbergedang.Metode kegiatan instalasi hidroponik DFT dengan membuat instalasi hidroponik dengan menggunakan pipa berukuran 4” dengan panjang 8 meter dan melubangi pipa dengan jarak 30cm, dan pemberian tali rambatan untuk merambatkan tanaman melon. Selanjutnya yaitu membuat media tanam,media tanam yang digunakan dalam budidaya tanaman melon (Cucumis melo) pada sistem hidroponik DFT yaitu menggunakan busa. Media busa dipotong membentuk persegi dengan ukuran 2x2 cm pada lahan greenhouse ukuran 11 x 25 meter. Penyemaian benih, benih yang disemai sebanyak 480, persemaian menggunakan Teknik pemeraman menggunakan tisu sebanyak 5 lembar untuk alas benih dan dibasahi menggunakan sedikit air dan memberikan 7 lembar tisu sebagai penutup. Transplanting dilakukan ketika bibit sudah berusia 14 hss. Bibit melon yang menggunakan media busa diletakkan ke netpot hidroponik berukuran tinggi 7cm dengan diameter 5,8cm kemudian diletakkan pada media tanaman dft. pemeliharaan yang dilakukan dengan memberikan nutrisi AB mix, mengecek nutrisi dilakukan setiap pagi dengan menggunakan ec meter. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa ada interaksi nyata perilaku konduktivitas elektronik dan interval sirkulasi nyata terhadap parameter pertumbuhan tanaman, tinggi tanaman dan jumlah daun. Kombinasi perlakuan menghasilkan pertumbuhan tertinggi pada umur 35 HST yaitu pada perlakuan konduktivitas listrik 2000 uS/cm + interval sirkulasi 120 menit dengan rata-rata tinggi 179,00 cm, perlakuan konduktivitas listrik 2000 uS/cm + interval sirkulasi 120 menit dengan rata-rata tinggi helaian daun 22,50.
Optimizing organic waste and tillage for post-mining soil rehabilitation with response surface methodology ZAINUDIN, ZAINUDIN; ROESWITAWATI, DYAH; SUTANTO, ADI; IKHWAN, ALI; KESUMANINGWATI, RORO
Asian Journal of Agriculture Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Smujo International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/

Abstract

Abstract. Zainudin, Roeswitawati D, Sutanto A, Ikhwan A, Kesumaningwati R. 2025. Optimizing organic waste and tillage for post-mining soil rehabilitation with response surface methodology. Asian J Agric 9: 739-753. Rapid urban population growth has significantly increased Municipal Organic Waste (MOW) generation, creating ecological challenges but also opportunities for sustainable land rehabilitation. In Samarinda, East Kalimantan, Indonesia, post mining degradation is a critical environmental issue that requires innovative restoration strategies. This study examined the application of MOW as a soil amendment, combined with Soil Tillage (ST), to improve chemical properties of degraded post-mining soils. A Box-Behnken design under Response Surface Methodology (RSM) was used to evaluate the effect of tillage depth (5-15 cm), Incubation Time (IT) (60-120 days) and waste dosage (20-60 t ha-1), resulting in 17 treatment combinations. The MOW included food scraps, vegetable residues, and fruit waste, excluding fish and shrimp residues. Soil analysis covered pH, Organic Carbon (OC), Total Nitrogen (TN), C/N ratio, available phosphorous (P), potassium (K), Cation Exchange Capacity (CEC), and Base Saturation (BS). The optimal condition was identified at 15 cm tillage depth, 103.48 days incubation, and 36.48 t ha-¹ waste, resulting in improvements in the characteristics of post–coal mining soil (pH: 7.43; OC: 1.26%; TN: 0.17%; C/N: 7.58; P: 36.34 ppm; K: 168.73 ppm; CEC: 15.54 me 100-¹ g; BISA: 96.61.