Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JAS (Journal of Animal Science)

Prevalensi Escherichia coli pada Produk Asal Hewan serta Olahannya di Beberapa Swalayan Kota Bandar Lampung Ros Sari, Rakhmi; Zelpina, Engki; Wardhana, Vinsen Willi
JAS Vol. 9 No. 3 (2024): Journal of Animal Science (JAS) - Juli 2024
Publisher : Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains dan Kesehatan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan protein dalam makanan sehari-hari sering dipenuhi melalui konsumsi produk peternakan, seperti daging merah, daging ayam, dan olahan lainnya. Pemerintah bertanggung jawab untuk memastikan keamanan dan kelayakan produk tersebut agar dapat dikonsumsi dengan nyaman oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keberadaan E. coli pada produk asal hewan dan olahannya di swalayan Kota Bandar Lampung. Dengan menggunakan metode purposive sampling sebanyak 20 sampel daging sapi, daging ayam, dan produk olahannya diambil dari enam lokasi swalayan. Metode isolasi dan identifikasi mengacu pada SNI 2897:2008, dan hasilnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 sampel, 40% positif E. coli. Prevalensi tertinggi terdapat di Super Market A dan B, masing-masing mencapai 100%, diikuti oleh Super Market F dengan prevalensi 66,66%. Temuan ini mengindikasikan adanya risiko kontaminasi E. coli pada produk asal hewan di swalayan Kota Bandar Lampung. Keberadaan E. coli dapat berasal dari proses produksi, pemrosesan, atau penanganan yang tidak higienis selama distribusi.
Prevalensi Fasciola sp. pada Sapi di Rumah Potong Hewan Payakumbuh Zelpina, Engki
JAS Vol. 10 No. 1 (2025): Journal of Animal Science (JAS) - Januari 2025
Publisher : Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains dan Kesehatan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fasciolosis adalah penyakit parasitik yang disebabkan oleh cacing pipih dari genus Fasciola, yang mempengaruhi ternak ruminansia seperti sapi. Penyakit ini memiliki dampak ekonomi signifikan karena penurunan produktivitas, kualitas daging, dan peningkatan biaya pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi fasciolosis pada sapi yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) Payakumbuh. Pengambilan sampel feses dilakukan di RPH Payakumbuh dengan jumlah 30 sampel, yang dianalisis menggunakan metode flotasi dan sedimentasi untuk mendeteksi keberadaan Fasciola sp. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infeksi Fasciola sp. pada sampel feses sebesar 33,3%. Prevalensi berdasarkan umur bahwa pada sapi yang berumur ≥8 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok umur lainnya. Jenis kelamin, prevalensi pada sapi jantan adalah 28,57%, dan pada sapi betina adalah 30,43%. Bangsa sapi, prevalensi infeksi tertinggi ditemukan pada sapi Brahman Cross (50%), diikuti oleh Simmental (30%) dan Peranakan Ongole (25%). Penelitian ini memberikan data penting bagi pemerintah daerah dan dinas terkait untuk meningkatkan strategi pengendalian penyakit serta meningkatkan kesadaran peternak tentang pentingnya pencegahan fasciolosis, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak.
Correlation Analysis of Slaughter Weight and Body Dimensions on Bali Cattle Carcass Production Based on Sexes Hafid, Harapin; Zelpina, Engki
JAS Vol. 10 No. 3 (2025): Journal of Animal Science (JAS) - Juli 2025
Publisher : Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains dan Kesehatan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Carcass production in Bali cattle is an important indicator in the livestock industry, influenced by genetic and environmental factors, particularly live weight and body dimensions. However, studies comparing the contribution of slaughter weight and body dimensions to carcass production based on the sex of Bali cattle remain limited. This study aims to analyze the relationship between slaughter weight and body dimensions with carcass production in male and female Bali cattle in order to provide precise information for slaughter animal selection. The research was conducted using a survey method and direct measurements of slaughter weight, body dimensions (body length, withers height, and chest girth), and carcass production in 30 Bali cattle (15 males and 15 females) slaughtered at the Kendari City Slaughterhouse. Samples were randomly selected from the population of slaughter-ready cattle. The results showed that slaughter weight had a very strong correlation with carcass production in both male (r = 0.99) and female (r = 0.91) Bali cattle. Among all the measured body dimensions, chest girth showed the most significant influence on carcass production. In conclusion, slaughter weight is the main predictor of carcass production, and chest girth can be used as an additional indicator in selecting Bali cattle, regardless of sex. The contribution of this study is to provide deeper insight into the size-related factors affecting carcass productivity by sex, which can be utilized in breeding programs and livestock slaughter management.
Tingkat Higiene Pedagang Telur di Pasar Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur Berdasarkan Total Plate Count, Kolifrom dan Salmonella sp. Zelpina, Engki
JAS Vol. 10 No. 3 (2025): Journal of Animal Science (JAS) - Juli 2025
Publisher : Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains dan Kesehatan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telur ayam merupakan bahan pangan hewani yang banyak dikonsumsi karena nilai gizi tinggi dan harga terjangkau. Namun, potensi kontaminasi mikroorganisme patogen seperti Salmonella sp. dan koliform pada telur menjadi perhatian utama dalam keamanan pangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas mikrobiologis telur yang dijual di Pasar Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, menggunakan parameter Total Plate Count (TPC), koliform, dan keberadaan Salmonella sp. Sebanyak 25 butir telur dari lima pedagang diuji di Laboratorium Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kalimantan Tengah. Pengujian TPC dan koliform mengikuti metode SNI 2897:2008, sedangkan Salmonella sp. diuji menggunakan Kit Compact Dry SL. Hasil menunjukkan rata-rata TPC <1,0 × 10² CFU/gram dan koliform <3,6 CFU/gram, sesuai standar SNI 3926:2008, mengindikasikan bahwa telur berada dalam kondisi higienis selama distribusi dan penyimpanan. Semua sampel negatif terhadap Salmonella sp., mencerminkan praktik penanganan yang baik sudah dilakukan oleh para pedagang telur sehingga rendah dari potensi risiko terhadap penyakit bawaan makanan.