Claim Missing Document
Check
Articles

PERKUATAN DINDING PENAHAN TANAH EKSISTING SETINGGI 8 -1000mm YANG MEMBAHAYAKAN MASYARAKAT DI RANGKASBITUNG Susilo, Alfred Jonathan; Prihatiningsih, Aniek; Ongga, Fernando Putra; Tarigan, Kezia Demelia Khovi Br
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i2.25794

Abstract

ABSTRACT The team observed the condition of the walls, gathered information from building owners, combined the received information and finally conducted an engineering analysis. Based on this study, the best recommendation was obtained for the building owner to make an additional strengthening structure in the form of a combination of reinforced concrete column and beam with a cross section size of 300 x 300mm. The strengthening structure installed in the form of right triangles as high as the retaining wall. The strengthening structure located 1500mm apart. The strengthening column and beam are supported by two 300mm diameter drilled pile foundations tied together by 1500 x 300 x 300mm pile caps. The drilled pile foundation is buried to a depth of 600mm lying on above hard layer soil. Between strengthening structures that are 1500mm apart are tied with reinforced concrete beam with a 300 x 300mm cross section to unite the strengthening structure. In conducting this study of solving the continuing damage of retaining wall the lecturers and students discussed to find the most appropriate study for the solution to the existing retaining walls. Detailed calculations and drawings are carried out by students and lecturers giving suggestions and directions until conclusions are obtained and recommendations are made to building owners. Recommendations were submitted to the building owner and then implemented the Team's recommendations by constructing the strengthening structure, until finally the strengthening structures had been installed on the 8000 and 10000mm high retaining walls.
ANALISIS POTENSI LIKUIFAKSI DAN CYCLIC MOBILITY AKIBAT GEMPA BUMI DI TANGERANG SELATAN DAN WAKATOBI Jonathan, Jonathan; Prihatiningsih, Aniek; Leman, Sunarjo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 4, November 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i4.34110

Abstract

ABSTRACT Indonesia has a high potential for natural disasters due to its geological and geographical factors, such as tectonic activity at the convergence of three major world plates and the presence of many active volcanoes. The country’s high vulnerability to earthquakes also makes it prone to liquefaction and cyclic mobility, which can trigger ground settlement and structural damage. This research aims to expand understanding of liquefaction and cyclic mobility potential in South Tangerang and Wakatobi based on soil types and earthquake magnitudes. Two types of analysis were conducted. The cyclic stress method analysis compares cyclic resistance ratio (CRR) and cyclic stress ratio (CSR) using Idriss-Boulanger, Youd-Idriss, Seed et al., and Tokimatsu-Yoshimi methods. The Tsuchida (1970) method maps grain size distribution test data into curves with boundaries indicating susceptibility to liquefaction and cyclic mobility. Soil is considered to have potential for liquefaction and cyclic mobility if the majority of analysis methods confirm this potential. The results show that Wakatobi has a higher potential for liquefaction and cyclic mobility compared to South Tangerang, with susceptible soil layers reaching depths up to 24 meters. This is due to lower N-SPT values and shallow groundwater levels, increasing vulnerability during earthquakes.   ABSTRAK Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana alam yang tinggi akibat faktor geologis dan geografis, seperti aktivitas tektonik di pertemuan tiga lempeng dunia serta keberadaan banyak gunung api aktif. Hal tersebut menyebabkan Indonesia berpotensi mengalami likuifaksi dan cyclic mobility yang dapat memicu penurunan tanah dan kerusakan struktur. Penelitian ini bertujuan untuk memperluas pemahaman tentang potensi likuifaksi dan cyclic mobility pada tanah di Tangerang Selatan dan Wakatobi berdasarkan jenis tanah dan skala kekuatan gempa. Penelitian menggunakan dua jenis analisis. Analisis cyclic stress method membandingkan nilai cyclic resistance ratio (CRR) dan cyclic stress ratio (CSR) menggunakan metode Idriss-Boulanger, Youd-Idriss, Seed et al., serta Tokimatsu-Yoshimi. Analisis menggunakan metode Tsuchida memetakan data uji distribusi ukuran butir tanah ke dalam bentuk kurva dengan batas-batas distribusi yang rentan mengalami likuifaksi dan cyclic mobility. Tanah dianggap berpotensi mengalami likuifaksi dan cyclic mobility apabila mayoritas dari metode analisis mengkonfirmasi potensi tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanah di Wakatobi memiliki potensi likuifaksi dan cyclic mobility yang lebih besar dibandingkan Tangerang Selatan, dengan rentang lapisan tanah rentan hingga kedalaman 24 meter. Hal ini disebabkan oleh nilai N-SPT yang lebih kecil dan elevasi muka air tanah yang dangkal, sehingga lebih rentan mengalami likuifaksi dan cyclic mobility saat terjadi gempa bumi.  
ANALISIS PRILAKU TIANG BOR KELOMPOK UNTUK BERBAGAI KONFIGURASI Aniek Prihatiningsih; Andryan Suhendra; Jasson Buntara; Jevin Wijaya; Andreas Gerald
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/2xr07406

Abstract

Prilaku dan deformasi kelompok fondasi tiang dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks yang saling berinteraksi, yang masing-masing berperan dalam menentukan kinerja fondasi secara keseluruhan. Salah satu faktor yang akan mempengaruhi kinerja ini adalah konfigurasi atau formasi tiang dalam kelompok fondasi tersebut. Faktor-faktor seperti jarak antar tiang, orientasi, kedalaman tiang dan posisi tiang dapat mempengaruhi seberapa efektif kelompok tiang menyalurkan beban ke lapisan tanah, serta bagaimana deformasi atau pergeseran terjadi selama pembebanan. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang pengaruh konfigurasi tiang pada kelompok fondasi menjadi penting untuk merancang fondasi yang aman, efisien, dan dapat mengoptimalkan daya dukung sesuai dengan karakteristik tanah tempat fondasi itu diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prilaku dari kelompok tiang bor untuk berbagai konfigurasi seperti besar deformasi, gaya-gaya yang bekerja pada tiang terhadap lima variasi konfigurasi, yang terdiri dari jumlah tiang antara tiga hingga enam tiang. Acuan konfigurasi yang dianalisis adalah berdasarkan dengan luas penampang total kelompok tiang bor yang sama untuk setiap konfigurasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan analitis melalui penggunaan perangkat lunak berbasis metode elemen hingga untuk menganalisis setiap konfigurasi. Hasil analisis menunjukkan konfigurasi 3 dengan lima tiang bor menghasilkan displacement vertikal yang paling rendah, namun gaya dan momen paling kecil yang harus dipikul oleh tiang adalah pada konfigurasi 4 dengan enam tiang bor.