Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Function of Swearing Expressions on Women's Instagram Accounts Wahyuni, Wika
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 10, No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Mandala Educartion (April)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jime.v10i2.6691

Abstract

This research is motivated by differences in the language varieties of women and men in society. The difference focused on in this research is the swearing expressions used by female users on Instagram. Society's views and language theories related to gender show that the use of swear words by men can be considered normal, whereas it is very bad if used by women. The problem to be answered in this research is the function and reasons for the expression of swear words in women's writing on Instagram accounts. The target of this research was 115 quotes (status and comments) written by female Instagram users. The theory used to study the function of swear expressions is Anderson and Trudgill's theory. Data was collected using observation and documentation methods. Data were analyzed using the content analysis method which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Data is presented in the form of tables and narrative text. Based on the results of the analysis, the functions of swear expressions found were expletive function, humorous function and auxiliary function. Other findings are the reasons for the use of swearing expressions by women on Instagram, namely 1) swearing is seen as the most effective way to express feelings of dislike, anger, disgust, disappointment, etc. towards the physique or actions of celebrities seen through Instagram social media accounts, 2) social media is a forum for indirect communication, so that communication activities are carried out remotely, the speaker and the interlocutor do not meet face to face, do not interact face to face, do not even know each other or have met before, this condition causes women to dare to write harsh words because they think they will not meet so there is no need to feel guilty, and 3) there are examples of public figures or celebrities who are accustomed to using swear words on the basis of freedom of expression
Sosialisasi Penguasaan Kaidah Kebahasaan Mahasiswa Sebagai Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Jenjang Pendidikan Menengah Hidayat, Rahmad; Asyhar, Mochammad; Wahyuni, Wika; Ramdhani, Marlinda; Febriani, Elya
Jurnal Pengabdian Inovasi Masyarakat Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024): Edisi Februari
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpimi.v3i1.3008

Abstract

Penguasaan kaidah kebahasaan merupakan bagian integral dari pembelajaran Bahasa Indonesia yang berbasis teks. Pemberlakuan pembelajaran berbasis teks di jenjang pendidikan menengah yang juga selaras dengan pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi tentu saja harus menghasilkan peserta didik yang mampu memahami dan menerapkan kaidah kebahasaan dengan baik. Namun, berdasarkan hasil penelitian, tingkat penguasaan kaidah kebahasaan mahasiswa di perguruan tinggi belum signifikan mencerminkan kemantapan pembelajaran berbasis teks khususnya kaidah kebahasaan di jenjang pendidikan menengah. Dengan demikian, diperlukan sosialisasi hasil penelitian sekaligus diskusi kelompok terpumpun untuk mengidentifikasi bagaimana gambaran pembelajaran kaidah kebahasaan dilakukan di jenjang pendidikan menengah. Gambaran yang dimaksud kemudian menjadi bahan evaluasi untuk dapat mengoptimalkan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Kegiatan pengabdian dilaksanakan dalam bentuk diskusi kelompok terpumpun bersama para guru Bahasa Indonesia SMA yang telah menerapkan pembelajaran berbasis teks di sekolah. Pada akhirnya, kegiatan pengabdian ini merumuskan beberapa catatan dan rekomendasi sebagai berikut: (1) tingkat penguasaan kaidah kebahasaan rendah disebabkan oleh ketidakoptimalan guru di jenjang pendidikan menengah dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa, (2) ketidakoptimalan itu disebabkan oleh ketidakseimbangan beban tugas pokok dan fungsi guru dengan waktu guru melaksanakan tugas pokok dan fungsi, (3) sangat diperlukan strategi dan metode sederhana dalam penyampaian materi kaidah kebahasaan yang diakui kompleksitas kesulitannya.
Family Disorganization in Short Stories by Female Writers on the WebsiteBasabasi.co Ramdhani, Marlinda; Wahyuni, Wika
JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala Vol 10, No 2 (2025): JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala (Juni)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jupe.v10i2.8797

Abstract

Social problems that are often raised by female writers in literary works tend to be diverse. However, one of the social problems that often appears in literary works by female writers is the problem of family disorganization. This study aims to describe the problem of family disorganization in short stories by female writers on the Basabasi.co site. This study is classified as a descriptive qualitative research type with a sociology of literature approach. The data for this study are sentences or paragraphs that contain the problem of family disorganization in short stories. The data sources for this study were eight short stories by female writers that raised the problem of family disorganization and were published throughout 2024 on the Basabasi.co site. The method of collecting research data used literature studies. The results of the study showed that there were 10 indicators of family disorganization found, namely unclear roles in the family, poor communication, conflict between family members, lack of emotional attachment, inability to make joint decisions, violence in the family, disharmony in parent-child relationships, deviant behavior in the family, and unstable economic conditions.  
Pelatihan Pemanfaatan Media Pembelajaran Digital pada Kegiatan Menulis Puisi bagi Guru Bahasa Indonesia di Tingkat SMK : Training on Utilizing Digital Instructional Media for Poetry Writing Activities by Indonesian Language Teachers in Vocational High Schools Mahyudi, Johan; Wahyuni, Wika; Ramdhani, Marlinda; Susanti, Pipit Aprilia
DARMADIKSANI Vol 5 No 1 (2025): Edisi Juni
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i1.7139

Abstract

Materi penulisan puisi yang disampaikan secara monoton di lingkungan sekolah sering kali menimbulkan kejenuhan bagi siswa. Penyajian yang bersifat konvensional, tanpa dukungan media pembelajaran yang menarik, membuat siswa kurang termotivasi untuk mengembangkan kemampuan kreatif mereka dalam menulis puisi. Dalam konteks ini, pemanfaatan media digital menjadi salah satu alternatif strategis untuk mengatasi kebosanan dalam proses pembelajaran sastra, khususnya pada materi penulisan puisi. Media pembelajaran digital merupakan inovasi teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Melalui media ini, guru dan siswa dapat berinteraksi dengan materi pembelajaran secara lebih menarik, kreatif, dan interaktif, sehingga proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan efektif. Berdasarkan hal tersebut, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMK Kabupaten Lombok Tengah dalam merancang media pembelajaran yang menarik untuk materi penulisan puisi. Metode yang digunakan dalam kegiatan pelatihan ini adalah metode ceramah, diskusi, dan penugasan. Kegiatan ini dilaksanakan di SMKN 1 Batukliang yang dihadiri oleh guru-guru Bahasa Indonesia sebanyak 25 orang. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pelatihan ini adalah para guru 1) memahami konsep puisi digital, 2) mampu merancang tugas proyek untuk pembuatan media digital pada materi penulisan puisi, dan 3) mengetahui cara membuat puisi digital dengan menggunakan beberapa aplikasi yang telah diajarkan. Untuk selanjutnya, disarankan pembelajaran penulisan puisi tidak lagi monoton dan membosankan bagi para peserta didik.
REPRESENTASI GENDER DALAM TINDAK TUTUR ILOKUSI SELEBGRAM LOMBOK DI INSTAGRAM: KAJIAN PRAGMATIK DIGITAL Wahyuni, Wika; Ramdhani, Marlinda; Susanti, Pipit Aprilia; Pratama, Januari Rizki
SEBASA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 8 No 2 (2025): SeBaSa
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sbs.v8i2.30492

Abstract

This research is motivated by the growing popularity of Instagram influencers (selebgram) in Indonesia, including in Lombok, who have now become role models and promotional media for various business sectors. The aim of this study is to analyze illocutionary speech acts, gender dominance, and the interests of the Lombok community as reflected in their engagement with selebgram content. Data were collected through observation and documentation, then analyzed using content analysis methods. The study reveals three main findings. First, selebgram in Lombok are predominantly female, with popular content focusing on fesyen, culinary arts, tourism, and entertainment. Second, female selebgram tend to use more commissive and expressive speech acts, while male selebgram are more inclined to use assertive and expressive forms. Third, Instagram audiences in Lombok show greater interest in following female selebgram and favor entertainment-related content. This study indicates that the popularity of selebgram in Lombok shapes communication patterns that reflect gender differences and, pragmatically, influence audience interests in the digital sphere. These findings highlight the importance of linguistic studies in understanding the role of selebgram as representations of popular culture and constructions of gender identity on social media.
Sosialisasi Model Pengembangan Pembelajaran Kaidah Kebahasaan Berbasis Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMPN Se-Kabupaten Lombok Barat: Disseminaton on the Model for Developing Text-Based Language Rules Teaching Materials for Indonesian Language Subject in Junior High Schools of West Lombok Regency Sudika, I Nyoman; Wahidah, Baiq; Asyhar, Mochammad; Wahyuni, Wika
DARMADIKSANI Vol 5 No 2 (2025): Edisi September
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i2.7624

Abstract

Pembelajaran kaidah kebahasaan di SMP menunjukkan bahwa proses pembelajarannya masih terbatas pada tahap pengidentifikasian jenis kaidah kebahasaan yang diperoleh dari materi pembelajaran teks. Padahal, kaidah bunyi dan kaidah kalimat dalam bahasa Indonesia perlu mendapat perhatian lebih dari guru. Dengan menerapkan pola pengembangan kaidah kebahasaan ini diasumsikan dapat meningkatkan kemampuan dan penguasaan peserta didik dalam memanfaatkan kemampuan kaidah kebahasaan tersebut untuk mengembangkan daya pikir dan daya gagasan siswa yang dituangkan dalam tataran bahasa, mulai dari tataran yang paling kecil sampai tataran yang paling tinggi adalah wacana. Hal ini akan dapat menjadi dasar dalam mengekspresikan pikiran dan gagasan siswa dalam bentuk teks. Berdasarkan kondisi ini, tujuan kegiatan yakni memberikan pemahaman konsep kepada para guru Bahasa Indonesia mengenai model pembelajaran kaidah kebahasaan berbasis teks dengan beberapa pola pengembangannya. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi penyuluhan, diskusi, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap model pembelajaran kaidah kebahasaan yang disusun secara berjenjang sesuai dengan tingkat kelas masing-masing. Hal yang sama juga berlaku pada jenis teks yang diajarkan, yang disesuaikan dengan level peserta didik melalui penerapan model pengembangan kaidah kebahasaan yang diperkenalkan dalam kegiatan penyuluhan ini. Untuk tindak lanjut, disarankan agar model ini tidak hanya diterapkan dalam kegiatan pelatihan, tetapi juga diintegrasikan secara konsisten dalam proses pembelajaran di kelas, serta diperkuat dengan pendampingan berkelanjutan agar hasil yang diperoleh lebih optimal.