Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Agripet

Kajian Kualitatif Dampak Bantuan Pemerintah pada Peternakan Sapi Potong Menggunakan Pendekatan Model Novie Andri Setianto
Jurnal Agripet Vol 16, No 2 (2016): Volume 16, No. 2, Oktober 2016
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v16i2.5696

Abstract

ABSTRAK. Pemerintah telah mengimplementasikan banyak program untuk meningkatkan populasi sapi di Indonesia, namun untuk memenuhi kebutuhan daging nasional Indonesia masih tergantung pada impor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dampak bantuan pemerintah terhadap kinerja kelompok peternak sapi potong, terutama pada aspek sosial ekonomi. Pemodelan kualitatif menggunakan Causal Loop Diagram (CLD) dipilih untuk memetakan hubungan antar elemen yang terkait. Penelitian dilakukan dengan observasi langsung, wawancara semi-terstruktur, dan lokakarya pada dua kelompok ternak di Kabupaten Banjarnegara dan Banyumas. Diagram menunjukkan bahwa dalam di dalam sistem teridentifikasi enam buah loops yang terbagi atas tiga loops penyeimbang dan tiga loops saling memperkuat. Berdasarkan studi ini dapat diketahui bahwa program pemerintah yang pada awalnya didesain untuk memacu populasi sapi potong, pada kenyataanya di level peternak tidak sepenuhnya teradopsi dengan baik. Peternak hanya mengadopsi aktifitas yang dinilai lebih mudah dan lebih cepat mendatangkan keuntungan. Besarnya nilai bantuan berupa uang tunai yang langsung masuk ke rekening kelompok memicu keinginan peternak untuk dapat memperoleh keuntungan secepat-cepatnya, sehingga peternak lebih memilih penggemukan yang memiliki siklus lebih cepat.(Qualitative modelling of the impact of government grant on beef cattle farming performance)ABSTRACT. The Government of Indonesia has introduced various programs to increase the cattle population. However, Indonesia still relies on imports to meet national demand. This study aimed to explore the impact of government program on the performance of farmer groups, particularly in socioeconomic aspect. Qualitative modelling using Causal Loop Diagram (CLD) of System Dynamics methodology was applied to connect the linkages among elements. A series of observations, semi-structured interviews, and workshops were undertaken involving two farmer groups from two districts; Banjarnegara and Banyumas. CLD showed a total of 6 loops; 3 balancing and 3 reinforcing loops. Each loop represented certain behaviour of the system. The study revealed that the program which initially designed to build engine of growth to boost population from farmers group level were not entirely implemented as it is. There were indications of selective adoption and side tracking. Farmers tended to prefer activities which more profitable and generate cash fasterly. A large amount of cash flow into farmers bank account provoked farmers to get immediate benefit, thus farmers choose the fattening over breeding which considered having shorter production cycle and disregarding the breeding which took longer time to produce cash.
An Exploratory Study of Beef Cattle Farming Systems: A Comparative Analysis of Cut and Carry in Java vs. the Pastoral System in Sumba Island, Indonesia Setianto, Novie Andri; Sodiq, Akhmad; Sumarmono, Juni; Kii, Wilhelmus Yape; Widiyanti, Rahayu; Haryoko, Imbang
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.34072

Abstract

ABSTRACT. This study aims to explore the differences between beef cattle farming systems in Java and Sumba. The research was conducted using a survey method in three districts, two districts in Central Java and one district in Sumba Island, NTT. Data analysis used a descriptive qualitative approach, with the CATWOE Analysis framework to determine the perspectives of stakeholders involved in the beef cattle farming business system. Beef cattle farming in Java has been characterized by a cut and carry system, while in Sumba with a pasture grazing system. The research shows that the main purpose of cattle rearing in Java is to generate income for the family, so more and more are running enlargement and fattening businesses. Cattle rearing in Sumba is prioritized for savings for traditional purposes. Farmers in Sumba predominantly breed cattle without additional feed to save on maintenance costs. Farmers are still faced with the problem of unfairness in pricing. The study concluded that farmers show adaptive ability in allocating their resources to obtain profits. Differences in farming paradigms need to be considered in the preparation of livestock development programs.(Studi eksploratif pada sistem pemeliharaan sapi potong: analisis komparatif pada sistem cut and carry di jawa dengan sistem penggembalaan pastura di pulau Sumba, Indonesia)ABSTRAK. Peternakan sapi potong di Jawa selama ini dicirikan dengan cut and carry sistem, sedangkan di Sumba dengan sistem penggembalaan di pastura. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi lebih mendalam tentang perbedaan sistem usaha peternakan sapi potong di Jawa dengan di Sumba. Penelitian dilakukan dengan metode survey di tiga kabupaten, dua kabupaten di Jawa Tengah dan satu kabupaten di Pulau Sumba, NTT. Analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan kerangka CATWOE Analysis untuk mengetahui perspektif dari para stakeholders yang terlibat dalam sistem usaha peternakan sapi potong. Penelitian menunjukkan bahwa tujuan utama pemeliharaan sapi di Jawa adalah untuk menghasilkan pendapatan untuk keluarga, sehingga semakin banyak yang lebih menjalankan usaha pembesaran dan penggemukan. Pemeliharaan sapi di Sumba lebih diutamakan untuk tabungan untuk keperluan adat. Peternak di Sumba didominasi pembiakan sapi tanpa tambahan pakan untuk menghemat biaya pemeliharaan. Peternak masih dihadapkan pada permasalahan ketidakadilan dalam penentuan harga. Penelitian menyimpulkan bahwa peternak menunjukkan kemampuan adaptif dalam mengalokasikan sumber daya yang dimiliki untuk memperoleh keuntungan. Perbedaan paradigma beternak perlu untuk diperhatikan dalam penyusunan program pembangunan peternakan.