Claim Missing Document
Check
Articles

REDESAIN PESISIR PANTAI RIA SEBAGAI WISATA BAHARI DIKOTA ENDE, FLORES – NTT Ramadan, Ramadan; Setyabudi, Irawan; Nailufar, Balqis
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marine Tourism is a tourism activity carried out by a person or group of people. include several activities such as, walking, relaxing, culinary, swimming, diving, boating, fishing and education. Since its establishment in 2004, Ria Beach has only few facilities for leisure and enjoying culinary delights. There are still many marine tourism activities that have not been provided and facilitated. In terms of tourist attractions, Ria Beach is still lack in infrastructure such as parking area and good trash bins. So that it still does not show a character as Marine Tourism spot. This study aimed to increase the existence of marine tourism in Ria Beach in Ende through a redesigning process. Redesign is an activity of planning and redesigning a change so that physical changes occur without changing its function either through expansion or relocation of location. The method in this study was a design method with the steps was data inventory, analysis, synthesis, planning (concept) and design. The designed area was 21,602.07 m². The design concept of Ria Beach consisted of philosophical concepts, form concepts, space concepts, activities and facilities concepts, circulation concepts, material concepts, vegetation concepts and sclupture layout concepts. The design results divided Ria Beach into two namely active and passive space. And the division of areas according to the needs of activities and marine tourism facilities such as parking area, supporting area, plaza area, culinary area, playing area, educational area, selfie area, water tourism area, fishing area and garbage dump area (TPS). Ria Beach an aesthetic marine tourism area, amenity and educative. Wisata Bahari merupakan kegiatan wisata yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang meliputi beberapa aktivitas seperti, jalan-jalan, bersantai, kuliner, berenang, menyelam, berperahu, memancing dan edukasi. Semenjak berdiri di tahun 2004, Wisata Bahari Pantai Ria hanya memiliki fasilitas untuk kegiatan bersantai dan menikmati kuliner. Masih banyak aktifitas wisata bahari yang belum disediakan dan difasilitasi. Dari segi lokasi wisata Pantai Ria masih kurang dalam infrastrukur seperti belum tersedianya tempat parkir dan tempat sampah yang baik. Sehingga masih belum menunjukan karakter sebagai sebuah tempat Wisata Bahari. Penelitian ini bertujuan menambah eksistensi sebagai wisata bahari pada Wisata Bahari Pantai Ria Kota Ende melalui proses Redesain. Redesain adalah kegiatan perencanaan dan perancangan kembali suatu perubahan sehingga terjadi perubahan fisik tanpa merubah fungsinya baik melalui perluasan maupun pemindahan lokasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode desain dengan tahapan yang dilakukan antara lain: inventarisasi data, analisis, sintesis, pencanaan (konsep) dan desain. Luas area yang dirancang 21.602,07 m². Konsep desain Pantai Ria terdiri dari konsep filosofis, konsep bentuk, konsep ruang, konsep aktifitas & fasilitas, konsep sirkulasi, konsep material, konsep vegetasi dan konsep tata letak sclupture. Penyataan konsep dilanjutkan dengan desain. Hasil desain, Pantai Ria dibagi menjadi 2 yakni ruang aktif dan pasif. Dan pembagian area sesuai kebutuhan aktifitas dan fasilitas wisata bahari antara lain: area parkir, area penunjang, area plaza, area kuliner, area bermain, area edukasi, area selfie, area wisata air, area pancing dan area TPS. Pantai Ria menjadi sebuah kawasan Wisata Bahari yang estetis. ameniti dan edukatif.
MODEL DESAIN RUANG TERBUKA HIJAU PADA PERMUKIMAN LAHAN TERBATAS DI KELURAHAN TLOGOMAS KECAMATAN LOWOKWARU KOTA MALANG DA COSTA, OSVALDO ANTONIO; Djoko, Riyanto; Setyabudi, Irawan
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokaru berada di kawasan pendidikan yang memiliki potensi secara ekonomi membuka usaha sewa tempat tinggal, kos (shared-house) dan warung untuk mahasiswa. Area ini dipadati dengan bangunan rumah penduduk, kost mahasiswa, toko dan bangunan komersial lainnya. Mayoritas permukiman di Kelurahan Tlogomas adalah berkembang dari ?perumahan yang tumbuh? artinya hunian yang sudah diatur secara grid dengan luasan hampir sama, namun perubahan ruang dipengaruhi kebutuhan yang bertambah sehingga akhirnya sekarang hanya memiliki lahan sisa yang sempit. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain ruang terbuka hijau (RTH) pada Permukiman lahan terbatas di KelurahanTlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Tlogomas, kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode kualiatatif. Peroleh kesimpulan bahwa desain taman ruang terbuka hijau pada permukiman lahan terbatas menjadi sebuah taman minimalis, taman lahan terbatas, taman merambat, taman dalam pot, dan taman gantung. Konsep ruang yang direncanakan terdiri dari 5 konsep yaitu : konsep pengembangan taman kontekstual dengan langgam rumah, konsep pengembangan taman lahan terbatas, konsep pengambangan taman dalam pot, dan konsep pengembangan taman gantung. Konsep tata hijau pada tapak tersebut diharapkan dapat menberi kenyamanan, keindahan, dan estetika, bagi masyarakat Kelurahan Tlogomas Kota Malang.
REDESAIN TAMAN KOTA ATAMBUA BERBASIS BUDAYA LOKAL Neksen Bere, Huanda Gregorius; Setyabudi, Irawan; Nailufar, Balqis
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The city of Atambua is the capital of Belu district, has many tourism potential, one of which is the Garden City of Atambua which is located in the middle of the city close to the settlement, offices, times talau, tennis general, and senggol market. Early development of the city park Atambua many visitors, by constructing the city facilities such as Plaza Atambua, make people more and more people visit the site compared to the city park in Atambua. The condition is caused by the lack of supporting facilities in the garden make visitors feel bored, modular garden design and does not follow the changes in the behavior of the society that the more modern, lack the characteristic of the garden so that the garden is not functional. For that we need to restore the city park Atambua as a landmark in Atambua with local culture as the characteristic of the garden, and designed with the adjectives adjust the urban life. The method used to design by modifying the method Rustam Judges (2012) and Gold (1980) and produce modern design using the concept of local culture. Kota Atambua adalah Ibukota Kabupaten Belu, mempunyai banyak potensi wisata, salah satunya adalah Taman Kota Atambua yang terletak di tengah-tengah Kota, yang dekat dengan pemukiman, perkantoran, kali talau, lapangan umum, dan pasar senggol. Awal pembangunan Taman Kota Atambua ramai pengunjung, dengan dibangunnya fasilitas kota seperti Plaza Atambua, membuat orang lebih ramai mengunjungi tempat tersebut dibandingkan Taman Kota Atambua. Kondisi tersebut disebabkan oleh kurangnya fasilitas pendukung didalam taman membuat pengunjung merasa bosan, desain taman yang modular dan tidak mengikuti perubahan perilaku masyarakat yang semakin modern, tidak adanya ciri khas dari taman sehingga taman tidak fungsional. Untuk itu perlu mengembalikan Taman Kota Atambua sebagai landmark Kota Atambua dengan budaya lokal sebagai ciri khas taman, dan didesain dengan bentukan yang menyesuaikan kehidupan masyarakat urban. Metode yang dipakai untuk mendesain yaitu dengan memodifikasi metode Rustam Hakim (2012) dan Gold (1980) dan menghasilkan desain modern dengan mengunakan konsep budaya lokal.
KAJIAN POTENSI DAN PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA COBAN RONDO SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA KABUPATEN MALANG Kogoya, Wes; Setyabudi, Irawan; Alfian, Rizki
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is an agrarian country with all its natural and cultural resources. Indonesia's strategic location is a major factor that is very influential on the development of the nation and state. Currently, tourism is growing rapidly along with the increasing number of visitors visiting. In addition, tourism is also an important sector for economic growth in Indonesia. In this research is done by collecting data by direct observation to the object to know the daily activities of the local community. The management in Coban Rondo area development as ecotourism. From the results of research on the potential assessment and development of Coban Rondo area as an ecotourism area of Malang Regency. Can be concluded in the form of sustainable development strategy of Coban Rondo natural tourist area. The main one is an aggressive management strategy that is a very profitable strategy because it addresses opportunities and strengths so that it can take advantage of existing opportunities in the form of local government policy in the implementation of natural ecotourism area management Coban Rondo. Indonesia merupakan negara agraris dengan segala potensi sumber daya alam dan budaya yang dimiliki. Letak Indonesia yang strategis merupakan faktor utama yang sangat berpengaruh pada pembangunan bangsa dan negara. Saat ini pariwisata berkembang pesat seiring meningkatnya jumlah wisatan yang berkunjung. Selain itu pariwisara juga merupakan sektor penting bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dalam penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung ke objek untuk mengetahui aktivitas sehari-hari masyarakat setempat. Pihak pengelola dalam pengembangan kawasan Coban Rondo sebagai ekowisata. Dari hasil penelitian tentang kajian potensi dan pengembangan kawasan Coban Rondo sebagai kawasan ekowisata Kabupaten Malang. Dapat di simpulankan berupa strategi pengembangan secara berkelanjutan kawasan wisata alam Coban Rondo. Yang utama yaitu strategi pengelolaan yang agresif yaitu strategi yang sangat menguntungkan karna menujukan peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada berupa kebijakan pemerintah daerah dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan ekowisata alam Coban Rondo.
STUDI IDENTIFIKASI LANSKAP ALUN-ALUN MERDEKA SEBAGAI IDENTITAS KOTA MALANG Minggu, Hendrikus; Setyabudi, Irawan; Djoko, Riyanto
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The square is the identity of the city and district in Java in general. The concept of spatial Alun-alun is a symbol of unity of activities that are philosophical-religious, political, economic and cultural, but in its development from the time of the kingdom until now it has always undergone changes and shifts in meaning. Merdeka Square Malang is one of the administrative centers of Malang Regency in the past and also the location of the initial growth of Malang city area. This research aims to internalize and identify landscapes in Merdeka Malang. Identification of the history and development of Malang City Square was carried out to find conservation potential in the plaza area, as a form of respecting cultural heritage, the realization of identity and inheriting historical values. in this study researchers used descriptive analysis methods, synchronous-diachronic analysis of regional development and conservation potential with an assessment of cultural meaning, use value and regional development. The results of the identification of the landscape of the Merdeka Malang square found that Merdeka Malang Square was one of the identities of Malang City. The law on sugar and agrarian policy in 1870 and decentralization in 1903 affected the development of the Merdeka Malang plaza. the development of Merdeka Malang square is very visible in changes in building mass, building style, building functions, changes in land use, physical condition of the square and activities. Based on the history and results of registration and identifying it can be concluded that the Malang Merdeka Square Landscape is one of the identities of Malang City Alun-alun merupakan salah satu identitas kota maupun kabupaten. Konsep keruangan Alun-alun merupakan simbol kesatuan aktivitas yang bersifat filosofis-religius, politis, ekonomis dan kultural, namun dalam perkembangannya dari jaman kerajaan hingga sekarang selalu mengalami perubahan maupun pergeseran makna. Alun-alun Merdeka Malang termasuk salah satu kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Malang pada masa lalu dan juga menjadi lokasi pertumbuhan awal wilayah kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengiventarisasi dan mengidentifikasi lanskap pada Alun-alun merdeka malang. Identifikasi terhadap sejarah dan perkembangan Alun-alun Merdeka Malang dilakukan untuk menemukan potensi pelestarian pada kawasan alun-alun, sebagai wujud menghargai warisan budaya, perwujudan identitas dan mewarisi nilai sejarah. dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode analisis deskriptif, analisis sinkronik-diakronik perkembangan kawasan serta potensi pelestarian dengan penilaian makna kultural, nilai guna serta perkembangan kawasan. Hasil dari identifikasi lanskap menemukan bahwa alun-alun merdeka malang merupakan salah satu Identitas Kota Malang. UU tentang kebijakan gula dan agraria pada tahun 1870 dan desentralisasi pada tahun 1903 berpengaruh terhadap perkembangan kawasan alun-alun merdeka malang. perkembangan alun-alun merdeka malang sangat terlihat pada perubahan massa bangunan, gaya bangunan, fungsi bangunan, perubahan guna lahan, kondisi fisik alun-alun serta aktivitas. Berdasarkan dari sejarah dan hasil iventarisasi serta mengidentifikasi dapat menyimpulkan bahwa Lanskap Alun-alun Merdeka malang merupakan salah satu dari identitas kota malang.
DESAIN LANSKAP JALAN PADA KAWASAN PERUMAHAN VILLA BUKIT TIDAR, MALANG-JAWA TIMUR Lak'apu, Mieswandi Petronikus; Setyabudi, Irawan; Alfian, Rizki
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Landscape is one of the most important parts in a residential area. The existence of a road landscape In a residential area is also very important for the surrounding community. In the city of Malang there are many housing, one of which is ousing Bukit Tidar-Malang. Facilities provided by the manager of housing that is educational facilities, health, mini market, environmental parks and so forth. This research was conducted in the residential area of Villa Bukit Tidar-Malang. The method used in this research is qualitative method. The concept developed in this study is the concept of space consists of the reception area (welcome area), the concept of vegetation (shade vegetation, steering, noise control), the concept of circulation (pedestrian circulation), the concept of facilities (environmental park) and the concept of activity (jogging track ). The result of this research is the image of site plan, perspective, and detail which is expected to give comfort, beauty, and aesthetics and can be enjoyed for the people who live In Bukit Tidar-Malang housing complex. Lanskap jalan merupakan satu bagian terpenting dalam suatu kawasan perumahan. Keberadaan lanskap jalan Di kawasan perumahan juga sangat penting bagi masyarakat sekitar. Di kota Malang terdapat terdapat banyak perumahan, salah satunya yaitu perumahan Villa Bukit Tidar-Malang. Fasilitas yang disediakan oleh pihak pengelola perumahan yaitu fasilitas pendidikan, kesehatan, mini market, taman lingkungan dan lain sebagainya. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan perumahan Villa Bukit Tidar-Malang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Konsep yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu konsep ruang terdiri dari ruang penerima (welcome area), konsep vegetasi (vegetasi peneduh, pengarah, pengendali bising), konsep sirkulasi (sirkulasi pejalan kaki), konsep fasilitas (taman lingkungan) dan konsep aktivitas (jogging track). Hasil dari penelitian ini berupa gambar site plan, perspektif,dan detail yang diharapkan dapat memberi kenyamanan, keindahan, dan estetika serta dapat dinikmati bagi masyarakat yang tinggal Di perumahan Villa Bukit Tidar-Malang.
DESAIN TAMAN LINGKUNGAN BERBASIS BUDAYA MELAYU DI JALAN BATU DAYA I, KABUPATEN KAYONG UTARA Hidayatullah, Wawan; Setyabudi, Irawan; Djoko, Riyanto
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayong Utara Regency is an area that is under construction but ironically the development is not accompanied by the construction of green open space in the form of an environmental park which is one of the needs for the community to express and move. The process of community development and development increasingly shifts the characteristics of the cultural landscape so that Kayong Utara Regency does not have an identity in architectural or cultural landscape characteristics. This study aims to design a Melayu-based environmental park to fulfill the existence of green open space and to show the identity of the Melayu cultural landscape. The research consisted of the stage of historical search to explore elements of Melayu culture using descriptive methods through alliteration, field surveys and interviews and design activities that refer to the Booth (1983) design process with stages namely reviewing the location of research and data inventory, analysis and synthesis, design process, planning and design drawings. This park is designed with a recreational and cultural-value park concept with a form inspired by durian batik motifs and forest flowers applied to the park and circulation patterns and amphitheater and sclupture formations which have the meaning of a story about the meeting of Princess Junjung Buih from Kalimantan and Prince Indrawijaya from The Majapahit Kingdom is called the Pupuk Teguih story. Kabupaten Kayong Utara merupakan daerah yang sedang dalam masa pembangunan tetapi ironinya pembangunan tersebut tidak disertai dengan pembangunan ruang terbuka hijau berupa taman lingkungan yang menjadi salah satu kebutuhan bagi masyarakat untuk berekspresi maupun beraktivitas. Proses pembangunan dan perkembangan masyarakat semakin menggeser karakteristik lanskap budaya sehingga Kabupaten Kayong Utara tidak memiliki identitas dalam karakteristik arsitektur maupun lanskap budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain taman lingkungan berbasis budaya Melayu untuk memenuhi keberadaan ruang terbuka hijau serta untuk menunjukkan identitas lanskap budaya Melayu. Pelaksanaan penelitian terdiri dari tahap penelusuran sejarah untuk menggali unsur budaya Melayu menggunakan metode deskriptif melalui aliterasi, survei lapang dan wawancara dan kegiatan desain yang mengacu pada proses desain Booth (1983) dengan tahapan-tahapan yaitu peninjauan lokasi penelitian dan inventarisasi data, analisis dan sintesis, proses desain, gambar perencanaan dan perancangan. Taman ini didesain dengan konsep taman yang bersifat rekreatif dan bernilai budaya dengan bentukan yang terinspirasi dari motif batik durian dan bunga hutan yang diaplikasikan pada pola taman dan sirkulasi serta amphitheater dan bentukan sclupture yang memiliki makna cerita tentang pertemuan Putri Junjung Buih dari Kalimantan dan Pangeran Indrawijaya dari Kerajaan Majapahit yang disebut dengan kisah Pupuk Teguih.
KAJIAN LANSKAP KAWASAN WISATA PANTAI TANJUNG BASTIAN SEBAGAI KAWASAN WISATA BUDAYA DI KEFAMENANU KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Niis, Maria Sofiana; Setyabudi, Irawan; Nuraini, Nuraini
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanjung Bastian Beach has an important role for the development and Kefamenanu community in terms of the economic aspects of the beach, the socio-cultural and ecological aspects have the potential to bring benefits to the local community. But the beach is less attention from the government and surrounding communities. the condition of the beach is poorly maintained, has not been well ordered and the culture is increasingly extinct. In this research a study is needed to identify the area of cultural tourism. The results of the study of the development of the Tanjung Bastian coastal tourism area as a cultural tourism area will be useful in the management, preservation, and development and cultural potential. This analysis process uses a SWOT Analysis to find out more about the development of cultural tourism, as well as the possibilities that can be done relating to strengths, weaknesses, opportunities, and threats in the development of Cultural tourism. From the research results obtained several strategies from the SWOT matrix which are categorized into a number of strategies to develop Tanjung Bastian Beach Tourism area, namely the community must make Pokdarwis and develop local culture as cultural attractions, then the Government plays an active role in the tourist areas and provides facilities to support cultural activities on the Tanjung beach. Bastian, the Government cooperates with the local community, so that the community participates in protecting its nature and enhancing its social culture. Based on the results of a study of the cultural tourism area, it can be concluded that the Tanjung Bastian Beach is not in accordance with the criteria as a Cultural Tourism area. Pantai Tanjung Bastian mempunyai peranan penting bagi pembangunan dan masyarakat Kefamenanu ditinjau dari aspek ekonomi Pantai, sosial budaya dan aspek ekologi sangat berpotensi mengutungkan masyarakat setempat. Namun pantai tersebut kurang perhatian dari pemerintah dan masyarakat sekitar. kondisi pantai tidak terawat, belum tertata dengan baik dan kebudayaannya semakin punah. Dalam penelitian ini perlu diadakan suatu kajian untuk mengidentifikasi kawasan wisata budaya. Hasil kajian pengembangan kawasan wisata pantai Tanjung Bastian sebagai kawasan wisata budaya akan berguna dalam kegiatan pengelolaan, pelestarian, serta pengembangan dan potensi budaya. Proses analisis ini menggunakan Analisis SWOT untuk mengetahui lebih lanjut dari perkembangan wisata budaya, serta kemungkinan yang dapat dilakukan berkaitan dengan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan wisata Budaya. Dari hasil penelitian diperoleh beberapa strategi dari matriks SWOT yang dikategori menjadi beberapa strategi pengembangan kawasan Wisata Pantai Tanjung Bastian yaitu Masyarakat harus membuat pokdarwis dan mengembangkan budaya lokal sebagai atraksi budaya, kemudian Pemerintah berperan aktif akan daerah wisata dan menyediakan fasilitas untuk mendukung kegiatan budaya di pantai Tanjung Bastian, Pemerintah bekerja sama dengan masyarakat setempat, sehingga masyarakat ikut dalam menjaga alamnya serta meningkatkan sosial budaya. Berdasarkan hasil kajian dari kawasan wisata budaya dapat menyimpulkan bahwa Pantai Tanjung Bastian belum sesuai dengan kriteria sebagai kawasan Wisata Budaya.
KONSEP TAMAN PEKARANGAN SEBAGAI ZONA TERAPI DAN EDUKASI BAGI ANAK AUTIS (STUDI KASUS : SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) SUMBER DHARMA MALANG) Irawan Setyabudi; Wahidyanti Rahayu Hastutiningtyas
Jurnal Lanskap Indonesia Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Lanskap Indonesia
Publisher : http://arl.faperta.ipb.ac.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jli.v9i1.15451

Abstract

Architecture in space-making is not only for normal people but also adapted for people with disabilities need, for example : people with mentally disabled or autistic. Children with autism have disturbances about sensory system that failed to respond and are not adaptive to their environment. As a therapy facility, outdoor space should be involved to stimulate the senses or sensory, besides functioning for recreation, ecological, and aesthetic. It became the basic concept of the sensory garden. Generally, the space required is quite extensive because it includes a lot of special zones for the garden that stimuli visual, hearing, touch, smell, and taste. but there is a tendency to be a challenge of limited space architects in preparing the organization of space. The case study was conducted at a school that has a limited space, that is school for disabilities (SLB) Sumber Dharma Malang. In existing conditions, there were plants, pavement, and play areas are not arranged so it makes the urgency for the garden arrangement. Qualitative research methods implemented by the architectural design with the approach of agricultural science and health. The purpose of this study is to provide an alternative concept as a recommendation to accommodate the design capable of autistic children ranging from kindergarten to high school. The conclusion of this study is the concept of gardening landscape. It is not only functioned as an aesthetic part but also as the therapy facility for all children age level in a particular zone.
Redesain Taman Kota Trunojoyo Kota Malang Melalui Pendekatan Lanskap Kota Irawan Setyabudi; Viktor Tharigas Sianus Agus
Jurnal Lanskap Indonesia Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Lanskap Indonesia
Publisher : http://arl.faperta.ipb.ac.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jli.v12i2.32690

Abstract

Malang City has a number of tourism potentials that can attract tourists. The location of Malang City is very strategic because it is in a highland and has a comfortable temperature. The existence of Malang City is very strategic because access to and tourist attractions in Malang City is very easy, one of which is via train. Malang City has various potential natural, man-made, and indigenous landscapes. Natural resources and unique culture of the community need to be maintained and preserved. One of them is the Trunojoyo City park which is located in front of the entrance or the entrance gate for tourists from the New Station of Malang City. For that, it is necessary to evaluate the characteristics of the city of Malang so that it can support a positive destination image regarding the city of Malang as a tourist destination. The problems in the research location, apart from the unorganized condition of the park, also the lack of a strong character as a city identity, the lack of public appreciation of the existence of city parks. The main function of several parks is not yet clear and is not yet supported by landscape elements that are able to accommodate the activities of its users. This study aims to redesign Trunojoyo City Park, Malang City, so that it can be developed as an ideal and sustainable New City Park. The resulting output is in the form of site plans, cutout drawings, and detailed drawings. While the method used to analyze is descriptive qualitative by referring to the Judge design process (2018). The results of this study indicate that the Trunojoyo city park is not suitable and does not meet the existing standards on the carrying capacity of the park so that a park design recommendation must be provided.
Co-Authors Ade Rohan ahmad yani Akbar, Moch. Azkari Hisbulloh Albina, Katarina Alfian, Rizki Alfian, Rizki Amir Hamzah Angwarmas, Faustinus Balqis Nailufar Bere, Orry Boro, Hendrikus Menasa Budiyono, Debora Christo Mario Fraya Diaz DA COSTA, OSVALDO ANTONIO Desi Kurnia Eri Yusnita Arvianti Fedrich Pernandes Funan, Nemesius Hadriyono, Hadriyono Hastutiningtas‬, ‪Wahidyanti Rahayu Hendra Kurniawan Hendra Kurniawan Hendrikus Ngaga Hesti Triana Soelistyari Hidayatullah, Wawan Istikomayanti, Yuswa Jeko, Heribertus Karunia Setyowati Suroto Kogoya, Wes Kristoforus Wasa Ngama Lak'apu, Mieswandi Petronikus Leki, Agripina Lesu, Yohanes S. Lomes, Klementinus Lodofikus Lorenzo Agustino Soget Maemunah, Neni Mali, Benyamin Arkadius Maria Nelde Olo Masito, Masito Meta Jitro Gege Minggu, Hendrikus Mochmmad Azkari Hisbulloh Akbar Nailufar, Balqis Nailufar, Balqis Nailufar, Balqis Nailufar, Balqis Nau, Dominggus Pati Maramba Neksen Bere, Huanda Gregorius Neto Nunes, Francisco do Everaldo Niis, Maria Sofiana Novita, Retno Ayu Dewi Nubatonis, Wardy Nuraini Nuraini Nuraini Nuraini Nuraini Nuraini Pain Pati, Petrus Paulus Pareira, Novica Christiani Permana, Deril Aria Petrus Paulus Pain Pati Pora, Maria Parni Pratama, Wanda Andika Ramadan Ramadan Riyanto Djoko Rizki Alfian Rizki Alfian Sahid, Ali Umar Santoso, Dian Kartika Suroto, Karunia Setyowati Talu, Timotius Tuangu Viktor Tharigas Sianus Agus Wahidyanti Rahayu Hastutiningtyas Wahidyanti Rahayu Hastutiningtyas Wilhelmus Bernadus Bisa Wiwin Seputri Kariam