Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

The KARAKTERISASI ENZIM Β-SIKLODEKSTRIN DARI ISOLAT LOKAL (BTS3A, BTS3-B DAN CK-2) PROVINSI JAMBI Desi Sagita; Rahmadevi
JURNAL KATALISATOR Vol. 6 No. 1 (2021): jurnal Katalisator Volume 6 No 1, 2021
Publisher : LLDIKTI X Sumbar, Riau, Jambi, Kepri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.126 KB) | DOI: 10.62769/katalisator.v6i1.215

Abstract

The β-cyclodextrin glucosyltransferase (β-CGTase) enzyme is an extracellular enzyme that converts starch to cyclodextrins. Cyclodextrins are widely used in the pharmaceutical industry, one of which is to increase solubility. This enzyme is produced by bacteria, especially the genus Bacillus sp. BTS3A, BTS3B and CK-2 isolates that produce CGTase enzymes have been isolated from the soil of cassava and potato plantations. The bacteria are fermented in liquid Horikoshi media, then centrifuged at 4 ° C and then concentrated by freeze dry. The enzyme was purified by the ammonium sulfate precipitation method up to 59.61% for BTS3A, 59.6% for BTS3B and 58.1% for CK-2. Then dialyzed using a cellophane membrane with cut off 14 KDa in phosphate buffer. The cyclization activity of crude enzymes was characterized by varying incubation times of 30, 60, 120 minutes and incubation temperatures of 30 ℃, 37 ℃, 55 ℃. CGTase cyclization activity was measured based on the decrease in phenolphthalein absorbance at a wavelength of 550 nm. The β-CGTase enzyme from the three isolates showed the optimum percentage reduction at 55°C for 30 minutes incubation
Pemanfaatan Tanaman Tradisional Sebagai Penunjang Kesehatan di Kelurahan Olak Kemang Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi Santi Perawati; Lia Anggresani; Yuni Andriani; Lili Andriani; Barmi Hartesi; Rahmadevi Rahmadevi; Desi Sagita; Deny Sutrisno; Fhatia Medina; Muhammad Randa; Indah Astridawati
Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI) Vol 2 No 1 (2020): Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.389 KB) | DOI: 10.30644/jphi.v2i1.371

Abstract

Latar Belakang:Survei dan sosialisasi tentang pemanfaatan tanaman tradisional, penggunaan obat sintetis yang baik dan benar, bahaya kosmetik ilegal dan kanker serviks dilakukan atas dasar menyadarkan kembali kepada masyarakat akan pentingnya pengobatan yang berasal dari alam, bahaya penggunaan kosmetik yang tidak terdaftar serta cara mendeteksi kanker serviks khususnya pada wanita. Penggunaan obat sintetis dipilih jika suatu penyakit tidak dapat diatasi oleh obat-obatan tradisional. Selain itu, perlu diimbau kembali kepada masyarakat khususnya para wanita agar mewaspadai kosmetik ilegal yang masih beredar karena bahaya yang ditimbulkan akan sangat serius di kemudian hari. Adapun pengenalan tentang kanker serviks dimana penyakit ini masih menjadi ancaman yang mematikan bagi kaum wanita dikarenakan sulitnya untuk mendeteksi penyakit ini. Metode:Data survei dikumpulkan melalui pemberian kuesioner ke masing-masing rumah warga.Menindaklanjuti hasil survei, maka diadakan sosialisasi yang disampaikan dengan metode ceramah dan tanya jawab seputar tema yang dibicarakan Hasil: Hasil survei didapatkan bahwa pertama, warga belum banyak mengetahui kegunaan atau cara memanfaatkan tanaman di sekitar rumah mereka untuk tujuan pengobatan. Kedua, warga sebagian besar tidak mengetahui cara membuang obat yang benar, ketiga para wanita atau ibu-ibu di RT.06 masih ada memakai kosmetik yang ternyata mengandung zat berbahaya dan keempat para wanita atau ibu di RT.06 belum mengetahui apa itu kanker serviks dan bagaimana cara mendeteksi penyakit ini. Kesimpulan:setelah diadakannya sosialisasi masyarakat telah mengetahui manfaat tanaman tradisional, informasi seputar penggunaan obat, bahaya kosmetik ilegal, dan cara mendeteksi sejak dini kanker serviks.
PENGARUH VARIASI WAKTU TAHAN SINTERING TERHADAP HIDROKSIAPATIT BERPORI DARI TULANG IKAN TENGGIRI (Scomberomorus guttatus) Lia Anggresani; Rizka Afrina; Armini Hadriyati; Rahmadevi Rahmadevi; Mukhlis Sanuddin
Jurnal Katalisator Vol 5, No 1 (2020): KATALISATOR
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22216/jk.v5i1.5030

Abstract

Tulang ikan tenggiri memiliki kandungan  kalsium dan fosfor. Sehingga tulang ikan dapat dibuat biomaterial hydroxyapatite berpori, Hydroxyapatite berpori  cocok untuk merekontruksi tulang.  pori yang terbentuk berfungsi sebagai media pembentukan jaringan sel tulang yang tumbuh untuk meningkatkan regenerasi tulang. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh variasi waktu tahan sintering dari hydroxyapatite berpori pada tulang ikan tenggiri. Bubuk CaO dibuat dari tulang ikan yang di rendam menggunakan NaOH dan aseton lalu difurnace 800°C. Bubuk CaO ditambahkan H3PO4. Atur pH hingga 10 dengan menambahkan NaOH lalu difurnace  900oC dengan lama pengendapan 12 dan 24 jam lalu dianalisa XRD. Hydroxyapatite yang didapatkan ditambahkan Polimer kitosan. selanjutnya dianalisa dengan SEM,PSA dan Hardness tester. Hasil Analisa XRF didapatkan CaO  50,814%. Hasil XRD pada pengendapan 12jam terbentuk senyawa hydroxyapatite dan trikalsium bis(phosphate(V)Ca3(PO4)2), sedangkan pengendapan 24jam terbentuk senyawa hydroxyapatite (Ca5(PO4)3(OH) murni. Analisa SEM dilakukan pada variasi waktu sintering 4,5 dan 6 jam didapatkan morfologi yang tidak seragam. Hasil PSA pada waktu 4jam 0,873μm, 5jam 0,808μm dan 6jam 1,123μm. Uji Hardness Tester pada waktu 4jam 50 N, 5jam 54,1 N dan 6 jam 32,6 N. Dapat disimpulkan bahwa variasi waktu tahan sintering mempengaruhi sifat mekanik dan pada variasi lama pengendapan akan mempengaruhi pembentukan senyawa hydroksiapatite.Mackerel fish bones contain calcium and phosphorus. So that fish bones can be made porous hydroxyapatite biomaterial, porous Hydroxyapatite is suitable for bone reconstruction. The pore formed functions as a medium for the formation of bone tissue that grows to increase bone regeneration. This study aims to look at the effect of variations in the sintering resistant time of porous hydroxyapatite on mackerel fish bones. CaO powder is made from fish bones soaked using NaOH and acetone and then mixed with 800 ° C. CaO powder added H3PO4. Set the pH to 10 by adding NaOH then 900oC refined with a deposition time of 12 and 24 hours and then analyzed by XRD. Hydroxyapatite obtained was added with chitosan polymer. then analyzed with SEM, PSA and Hardness tester. XRF analysis results obtained CaO 50,814%. XRD results on 12 hours deposition of pure hydroxyapatite and tricalcium bis (phosphate (V)Ca3(PO4)2) compounds, while 24 hours deposition of pure hydroxyapatite (Ca5(PO4)3(OH) compounds were formed. and 6 hours obtained non-uniform morphology, PSA results at 4 hours 0.873μm, 5 hours 0.808μm and 6 hours 1.123μm Hardness Tester test at 4 hours 50 N, 5 hours 54.1 N and 6 hours 32.6 N. It can be concluded that variation of sintering holding time affects the mechanical properties and the variation of the depositional time will affect the formation of hydroxyapatite compounds.
STUDI ETNOFARFARMASI PADA SUKU ANAK DALAM (SAD) DI DESA PEMAYONGAN KECAMATAN SUMAY KABUPATEN TEBO PROVINSI JAMBI: STUDI ETNOFARFARMASI PADA SUKU ANAK DALAM (SAD) DI DESA PEMAYONGAN KECAMATAN SUMAY KABUPATEN TEBO PROVINSI JAMBI Perawati, Santi; Sutrisno, Deny; Ara Ofiana; Deny Sutrisno; Siti Hamidatul 'Aliyah; Lili Andriani; Rizky Yulion Putra; Rahmadevi; Desi Sagita; Yuni Andriani; Lia Anggresani; Barmi Hartesi
Jurnal Khazanah Intelektual Vol. 7 No. 2 (2023): Khazanah Intelektual
Publisher : Balitbangda Provinsi Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37250/khazanah.v7i2.198

Abstract

Background : Suku Anak Dalam is one of the tribes in Indonesia who still upholds their customs and culture, including their local knowledge about medicine using medicinal plants. One of the Suku Anak Dalam community lives in Pemayongan Village, Tebo Regency, Jambi Province. This ethnopharmaceutical research was conducted to find out various diseases experienced by Suku Anak Dalam and to know various natural resources that are used as treatment. Method : This type of research is a descriptive study using qualitative methods and sampling techniques, namely snowball sampling through open-ended interviews with informants. Results: The results of the study stated that diseases that was often experienced by the Suku Anak Dalam included fever, coughing, itching, shortness of breath and abdominal pain. Treatment of the disease by utilizing natural resources in the form of plants and animals. Plant parts used are roots, leaves, bark, and fruit sap, while for animals the parts used are fat, scales, and meat. The processing method is scraped, crushed, boiled, fried, while the use of these ingredients is eaten, drunk, and applied to the affected part. Conclusion : Based on the results of research that has been done there are 5 diseases that often occur and there are 9 kinds of plants and 5 animals that are used as traditional medicine. Keywords : Ethnopharmacy, Disease, Jambi, Suku Anak Dalam, Natural Resources
Tannin Extraction from Bark of Cinnamomum burmannii and Its Application for use as Natural Dye and as Antioxidant Rizki, Widya Twiny; Wahyuni, Winika Sri; Sari, Ririn Depita; Lestari, Siti Marwah; Rahmadevi, Rahmadevi
IJFAC (Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry) Vol 9, No 1 (2024): February 2024
Publisher : IJFAC (Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24845/ijfac.v9.i1.35

Abstract

Cinnamon bark (Cinnamomum burmannii) contains tannins which have the potential to act as natural dyes. This research is to synthesize natural dye from cinnamon bark extract (Cinnamomum burmannii). The research was carried out by making cinnamon bark extract by comparing the amount of solvent by maceration using 96% ethanol, calculating the yield, tannin analysis, FTIR analysis, and stability test color. The comparison of the amount of cinnamon bark extraction solvent affected the resulting yield. Testing the tannin compound with 1% gelatin reagent in 10% NaCl showed a white precipitate and 1% FeCl3 reagent produced a greenish-brown color so the extract was positive for tannin, analysis FTIR ratio 1:10 for the presence of O-H, C-H, C=C, C-O groups, ratio 1:15 for the presence of O-H, C-H, C=C, C-O group. The color stability test of cinnamon bark extract is more stable than Rhodamine-B. Based on the extraction results, it was concluded that cinnamon bark extract can be used as an alternative to natural dye in cosmetic products.Keywords: Cinnamon Bark, Extract, FTIR Analysis, Natural dyes, Tannin
Phytochemical Analysis and Determination of MIC and MFC of Cacao Leaves Extract (Theobroma cacao L.) against Malassezia furfur Lestari, Siti Marwah; Camelia, Leonyta; Rizki, Widya Twini; Pratama, Septa; Khutami, Chindiana; Amelia, Amraini; Rahmadevi, Rahmadevi; Andriani, Yuni
Jurnal Jamu Indonesia Vol. 9 No. 2 (2024): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Tropical Biopharmaca Research Center, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jji.v9i2.316

Abstract

Pityriasis versicolor is a disease caused by Malassezia furfur. One of the plants that can potentially act as antifungal is cacao leaves (Theobroma cacao L.), which contain several secondary metabolite compounds, including alkaloids, flavonoids, tannins, quinones, terpenoids, and saponins. This study aims to determine the phytochemical analysis and the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Fungicidal Concentration (MFC) of cacao leaves ethanolic extract against M. furfur. Extracts were obtained by maceration using 70% ethanol and phytochemicals analysis using Herborne’s method. Furthermore, the extracts were made into concentrations’ variations of 3.125%; 6.25%; 12.5%; 25%; 50%; and 100% for testing antifungal activity, with 10% DMSO as negative control and 2% Ketoconazole and Itraconazole as positive controls. MIC was performed with liquid macrodilution method, and MFC was performed with spread method. The results of phytochemical analysis showed that the extract contained alkaloids, flavonoids, phenols, tannins, quinones, terpenoids and saponins. MIC value was obtained at concentration of 50% and MFC value was obtained at 100%. Cacao leaves ethanolic extract with concentration of 50% can inhibit M. furfur’s growth and with 100% can eliminate M. furfur.
Penggunaan Antibiotik Restriksi pada Pasien Sepsis di Ruang ICU RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi Periode 2017-2019: Use of Restricted Antibiotics in Sepsis Patients in the ICU at H. Abdul Manap Hospital, Jambi City for the 2017-2019 Period Fidya Rizky Bardani; Yuni Andriani; Rahmadevi Rahmadevi
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2021): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v3i2.282

Abstract

Saat ini resistensi antibiotik menjadi perhatian dunia karena dampaknya terhadap peningkatan angka morbiditas, mortalitas, biaya terapi dan kegagalan terapi. Pada ruang yang dibatasi disebut juga dengan antibiotik restriksi. Penelitian ini bertujuan mengetahui persentase penggunaan antibiotik restriksi pasien Sepsis di Ruang ICU RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi periode 2017-2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan ICU, penggunaan antibiotik terbilang tinggi, sehingga risiko resistensi antibiotik juga tinggi. Restriksi antibiotik merupakan strategi di dunia kesehatan untuk mengurangi kejadian resistensi antibiotik dengan cara membatasi penggunaan antibiotik, antibiotik data secara retrospektif dan menggunakan teknik purposive sampling. Terdapat 38 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian karakteristik pasien menunjukkan sampel dominan perempuan 21 pasien (55,3%), rentang usia >65 tahun 15 pasien (39,5%), lama rawatan <7 hari 21 pasien (55,3%), meninggal 23 pasien (60,5%) dan penyakit penyerta DM Tipe II 4 pasien (12,5%). Hasil penelitian antibiotik restriksi yang digunakan pasien meliputi: meropenem 31 pasien (69%), levofloxacin 7 pasien (15,6%), ciprofloxacin 2 pasien (4,5%), cipoferazon 1 pasien (2,2%) dan ceftazidim 1 pasien (2,2%). Angka persentase penggunaan antibiotik restriksi dari tahun 2017 – 2019 adalah 100%, 75% dan 76%. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu nilai persentase penggunaan antibiotik restriksi pada pasien Sepsis mengalami penurunan pada tahun ke-2 dan cenderung menetap di tahun berikutnya. Nilai persentase tertinggi yaitu ditahun 2017 sebesar 100% terendah ditahun 2018 sebesar 75%.
Penggunaan Antibiotik Restriksi pada Pasien Ulkus, Abses dan Batu Kandung Kemih di Bangsal Bedah RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi Periode 2017-2019: Use of Restrictive Antibiotics in Patients with Ulcers, Abscesses and Bladder Stones in the Surgical Ward of H. Abdul Manap Hospital, Jambi City, 2017-2019 Satiya Ningsih; Yuni Andriani; Rahmadevi Rahmadevi
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2021): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v3i3.297

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai meningkatkan kasus terjadinya resistensi antibiotik. Pembatasan jenis antibiotik atau antibiotik restriksi merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kejadian resistensi antibiotik, menekan biaya antibiotik serta menurunkan pemakaian antibiotik yang berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase penggunaan antibiotik restriksi pada pasien Ulkus, Abses dan Batu Kandung Kemih di Bangsal Bedah RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi Periode 2017-2019. Penelitian ini menggunakan desain penelitian non-eksperimental yang bersifat deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara restrospektif dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Hasil perolehan sampel pada penelitian ini sebanyak 43 sampel yang memenuhi kriteria dari 135 pasien populasi diantaranya dengan diagnosis ulkus 15 sampel terdiri dari 40% pasien laki-laki dan 60% pasien perempuan, 40% usia 56-65 tahun dengan komorbid diabetes melitus tipe 2. Pasien dengan diagnosis abses 18 sampel terdiri dari 61,1% pasien laki-laki dan 38,9% pasien perempuan, 27,8% usia 36-45 tahun dengan komorbid sepsis dan diabetes melitus tipe 2. Pasien dengan diagnosis batu kandung kemih 10 sampel terdiri dari 30% pasien laki-laki dan 70% pasien perempuan, 60% usia 46-65 tahun. Selama periode 2017 sampai 2019 untuk pasien ulkus, abses dan batu kandung kemih menggunakan 2 jenis antibiotik restriksi yaitu ciprofloxacin dan levofloxacin. Pada pasien ulkus, abses dan batu kandung kemih jumlah penggunaan antibiotik restriksi yang banyak digunakan ialah antibiotik ciprofloxacin dengan persentase 21%, sedangkan penggunaan levofloxacin dengan persentase sebesar 10%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan antibiotik restriksi periode 2017-2019 pada diagnosis ulkus yaitu 41%, 35,7% dan 25%. Pada diagnosis abses yaitu 40%, 25% dan 35,2% serta pada diagnosis batu kandung kemih yaitu 18,1%, 33,3% dan 20%.
Formulasi Nanoemulsi dengan Bahan Dasar Minyak Ikan (Oleum Iecoris Aselli): Nanoemulsion Formulation with Fish Oil (Oleum Iecoris Aselli) Base Ingredients Ayu Aprilya; Rahmadevi Rahmadevi; Indri Meirista
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2021): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v3i3.309

Abstract

ABSTRACT Fish oil is a natural source of omega-3 (n-3) polyunsaturated fatty acids (PUFA), especially eicosapentaenoic acid (C20: 5n-3; EPA) and docosahexaenoic acid (C22: 6n-3; DHA) . Fish oil is beneficial for health Fish oil is generally made in the form of an emulsion, but the absorption is not good and creaming often occurs during the storage period, causing a decrease in dose. There is a need to modify the emulsion dosage form into nanoemulsion because it can increase absorption, and help dissolve lipophilic drugs, improve bioavailability. The aim of this research is to get the best surfactant and cosurfactant comparison to produce nanoemulsion. Formula Consists of a ratio of oil: surfactant: cosurfactant 9 tween80: PEG400 ratio and 9 tween80: propylenglycol ratio, from the results of stirring magnetic stirer with a rotation of 600rpm heating temperature 700C for 1 hour, and stored. and after 24 hours the% transmittance test was obtained, the six highest comparisons were selected, namely the Tween80: PEG400 G (7: 1) 94.02%, H (8: 1) 95.32%, I (9: 1) 96, 88%, and tween80: propyleneglycol O (6: 1) 96.20%, Q (8: 1) 96.14%, R (9: 1) 96.25%. input into the preparation formula into F1-F6. From the six dosage formulas the ratio of tween80: propylenglycol (8: 1) was obtained which produced nanoemulsion preparations with 88nm particle size, with% transmittance> 96%. Keywords: Nanoemulsion, Fish oil, Tween80, PEG400, Propylenglycol. ABSTRAK Minyak ikan merupakan sumber alami asam lemak tidak jenuh atau minyak polyunsaturated fatty acid (PUFA) omega-3 (n-3), terutama eicosapentaenoic acid (C20: 5n-3; EPA) dan docosahexaenoic acid (C22: 6n-3; DHA). Minyak ikan bermanfaat bagi kesehatan Minyak ikan umumnya dibuat dalam bentuk sediaan emulsi, namun absorbsinya kurang bagus dan sering kali terjadi creaming selama masa penyimpanan sehingga menyebabkan terjadinya penurunan dosis. Perlu adanya modifikasi bentuk sediaan emulsi menjadi nanoemulsi karena dapat meningkatkan absorbsinya, dan membantu melarutkan obat yang lipofilik, meningkatkan bioavailabilitas. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan perbandingan surfaktan dan kosurfaktan yang paling baik untuk menghasilkan nanoemulsi. Formula Terdiri dari perbandingan minyak:surfaktan:kosurfaktan 9 perbandingan tween80:PEG400 dan 9 perbandingan tween80:propilenglikol, dari hasil pengadukan magnetik stirer dengan perputaran 600rpm suhu pemanasan 700C selama 1 jam, dan disimpan. dan setelah 24 jam dilakukan uji % transmitan yang didapatkan, dipilih enam perbandingan tertinggi yaitu perbandingan Tween80:PEG400 G (7:1) 94,02%, H (8:1) 95,32%, I (9:1) 96,88%, dan tween80:propilenglikol O (6:1) 96,20%, Q (8:1) 96,14%, R (9:1) 96,25%. dimasukan kedalam formula sediaan menjadi F1-F6. Dari ke-6 formula sediaan didapatkan perbandingan tween80:propilenglikol (8:1) yang menghasilkan sediaan nanoemulsi dengan ukuran partikel 88nm, dengan %transmitan >96%. Kata kunci: Nanoemulsi, Minyak ikan, Tween80, PEG400, Propilenglikol.
Lulur Gosok Tradisional BERSERI (Beras, Serai Wangi, Kunyit) sebagai Antioksidan Rahmadevi Rahmadevi; Fitriani Arin; Oktaviani Puspita; Armayana Firda; Yasnawati Yasnawati
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol 2, No 3 (2020): November
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v2i3.125

Abstract

Traditional body scrubis one cosmetic sedian that is made from fresh natural or ingredients that have been dried from plants and fruit. The basic ingredient of making scrubs commonly used in traditional cosmetics is rice flour. Rice has a rich content of protein, vitamins, minerals and water. The content found in rice flour is gamma oryzanol. And this compound can renew the formation of melanin pigment, as an antioxidant and also effective to ward off ultrafiolet rays. Besides turmeric also has activity as an antioxidant derived from kukumin contained in turmeric. Lemongrass also gives romatherapy to the body scrub because it contains essential oils which give a distinctive odor. The purpose of this research is to increase the knowledge of the women of Lubuk Dalam Hamlet on Traditional Scrub Scrub derived from rice and spices such as turmeric which has antioxidant activity and Lemongrass that can give aromatherapy to the scrub. This community service method uses a participatory method that involves the community of Kemingking Dalam Village. The results of this study found that the increased knowledge of the community of Kemingking Dalam Village regarding the efficacy and ways of making scrubs derived from rice, turmeric and lemongrass