Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

TERAPI JUS MENTIMUN UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI Iwan Sulis Setiawan; Rita Dewi Sunarno
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 13, No 1 (2022): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v13i1.1300

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif umumnya tekanan darah bertambah secara perlahan dengan bertambahnya umur. Risiko untuk menderita hipertensi pada populasi yang berusia lebih dari 55 tahun dengan diagnosis hipertensi terjadi pada usia di antara dekade ketiga dan dekade kelima sampai dengan umur 55 tahun. laki-laki lebih banyak menderita hipertensi daripada perempuan dari usia 55 tahun sampai 74 tahun. Prevelensi hipertensi Pada populasi lansia usia lebih dari 60 tahun sebesar 65,4%. Penderita hipertensi dengan tekanan darah yang tinggi akan menjalani hidup dengan bergantung pada obat-obatan dan kunjungan teratur ke dokter untuk mendapatkan resep ulang dan check-up. Penggunaan obat-obatan hipertensi sering menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Penderita hipertensi sebaiknya menghindari ketergantungan terhadap obat-obatan yang merupakan hal yang harus dihindari oleh penderita hipertensi. Salah satu contoh efek samping penggunaan obat-obatan farmakologis yang umum terjadi adalah meningkatnya kadar gula darah, kolesterol, kelelahan serta kehilangan energi. Tidak sedikit penderita yang harus mengkonsumsi obat lain untuk menghilangkan efek samping dari pengobatan hipertensi. Cara yang dapat dilakukan untuk menghindari efek samping tersebut adalah dengan menggunakan terapi non farmakologis. Salah satu terapi non farmakologis yang dapat diberikan pada penderita hipertensi adalah terapi jus mentimun.Tujuan: Mengetahui manfaat dan efektifitas terapi jus mentimun sebagai salah satu terapi non farmakologis dalam menurunkan tekanan darah.Metode: Laporan ini merupakan suatu literature review dari 5 jurnal yang membahas tentang terapi jus mentimun untuk mengatasi hipertensi, diawali dengan pemilihan topik kemudian ditentukan keyword untuk pencarian jurnal menggunakan Bahasa Indonesia melalui Google Scholar. Pencarian ini dibatasi untuk jurnal mulai tahun 2012 sampai dengan tahun 2020, keyword bahasa Indonesia menggunakan kata kunci “Hipertensi, Efektivitas, Terapi, Jus Mentimun”.Kesimpulan: Mengkonsumsi jus mentimun sangat bermanfaat dan efektif sebagai terapi non farmakologi untuk hipertensi. terapi jus mentimun pada kelompok perlakuan dari beberapa hasil penelitian yang penulis temukan,  bahwa jus mentimun dapat menurunkan tekanan darah, hasil tersebut sebagai berikut ; hasil penelitian dari Rahma (2016) menyatakan bahwa pada penderita hipertensi yang sebelum diberikan jus mentimun (Cucumis sativus) di UPTD Panti Sosial Lanjut Usia Tresna Werdha Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2015 mempunyai nilai rata-rata tekanan darah 163,33 mmHg, sedangkan sesudah diberikan jus mentimun (Cucumis sativus) turun menjadi 139,79 mmHg. Sedangkan menurut hasil penelitian Cerry (2015) menyatakan bahwa Mean tekanan darah sistolik sebelum diberikan jus mentimun pada kelompok intervensi 167,50 dan kelompok control 161,88 dan mean tekanan darah diastolic sebelum diberikan jus mentimun pada kelompok intervensi 103,75 dan kelompok kontrol 101,88. Mean tekanan darah sistolik sesudah diberikan jus mentimun pada kelompok intervensi 113,13 dan kelompok kontrol 123,75 dan mean tekanan darah diastolic sesudah diberikan jus mentimun pada kelompok intervensi 83,13 dan kelompok kontrol 84,38. Ada pengaruh pemberian jus mentimun terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi dengan nilai p Value adalah 0,000 dengan a 0,05, yang berarti p Value a (0,000 0,05). Abstract Background: Hypertension is a degenerative disease, generally blood pressure increases slowly with age. The risk for suffering from hypertension in the population aged over 55 years with a diagnosis of hypertension occurs between the third and fifth decades of life until the age of 55 years. Men suffer from hypertension more than women from the age of 55 to 74 years. The prevalence of hypertension in the elderly population aged more than 60 years is 65.4%. Hypertensive sufferers with high blood pressure will live a life dependent on drugs and regular visits to the doctor for repeat prescriptions and check-up. The use of hypertension drugs often causes unwanted side effects. Patients with hypertension should avoid dependence on drugs which are things that should be avoided by people with hypertension. One example of the common side effects of using pharmacological drugs is increased blood sugar, cholesterol, fatigue and loss of energy. Not a few patients who have to take other drugs to eliminate the side effects of hypertension treatment. The way that can be done to avoid these side effects is to use non-pharmacological therapy. One of the non-pharmacological therapies that can be given to patients with hypertension is cucumber juice therapy.Purpose: Knowing the benefits and effectiveness of cucumber juice therapy as a non-pharmacological therapy in lowering blood pressure.Methods: This report is a literature review of 5 journals that discuss cucumber juice therapy to treat hypertension, starting with topic selection and then determining keywords to search for journals using Indonesian through Google Scholar. This search is limited to journals from 2012 to 2020, the Indonesian keywords use the keywords "Hypertension, Effectiveness, Therapy, Cucumber Juice".Conclusion: Consuming cucumber juice is very useful and effective as a non-pharmacological therapy for hypertension. Cucumber juice therapy in the treatment group from several research results that the authors found, that cucumber juice can lower blood pressure, the results are as follows; The results of research from Rahma (2016) stated that hypertension patients who were given cucumber juice (Cucumis sativus) before UPTD Tresna Werdha Social Institution for the Elderly, Natar District, South Lampung Regency in 2015 had an average blood pressure of 163.33 mmHg, while after given cucumber juice (Cucumis sativus) it decreased to 139.79 mmHg. Meanwhile, according to the results of the study by Cerry (2015) which stated that the mean systolic blood pressure before being given cucumber juice in the intervention group was 167.50 and the control group was 161.88 and the mean diastolic blood pressure before being given cucumber juice in the intervention group was 103.75 and the control group was 101, 88. The mean systolic blood pressure after being given cucumber juice in the intervention group was 113.13 and the control group was 123.75 and the mean diastolic blood pressure after being given cucumber juice was 83.13 and the control group was 84.38. There is an effect of giving cucumber juice on blood pressure in patients with hypertension with a p value of 0.000 with a 0.05, which means p value a (0.000 0.05).
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN LANSIA DALAM KEGIATAN POSYANDU LANSIA Noor Eswanti; Rita Dewi Sunarno
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 13, No 1 (2022): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v13i1.1317

Abstract

Latar Belakang : Menurus Bidang Pusat Statisti (BPS) Jumlah penduduk hasil sinkronisasi antara SP2020 per september 2020 adalah sejumlah 270,20 juta jiwa, sedangkan rilis dari hasil Kemendagri per desember 2020 adalah 271,35 juta jiwa.  Laju pertumbuhan penduduk lansia menurut Kemenkes RI pada tahun 2019-2024 masuk di kategori Aging Society dengan jumlah lansia ≥ 7% total penduduk dan akan memasuki kategori Super Aged Society pada tahun 2045 dengan jumlah lansia ≥ 21 total penduduk (Kemenkes RI, 2020). Oleh karena itu kita harus melakukan antisipatif untuk lonjakan jumlah lansia dengan mempersiapkan sarana pelayanan kesehatan lansia.Tujuan : Untuk menjawab pertanyaan tentang faktor – faktor yang mempengaruhi kunjungan lansia pada Posyandu lansiaMetode : Laporan ini merupakan suatu literature review, di dalamnya terdapat 10 artikel yang diambil dari data base komputer melalui  International Journal of Caring Sciences dan Google Scholar.Kesimpulan : Faktor yang tidak berpengaruh dalam kunjungan lansia : Jenis kelamin. Faktor yang berpengaruh dalam kunjungan lansia : pekerjaan , pendidikan, pengetahuan , sikap. Ada perbedaan dari hasil penelitian yangdilakukan dari beberapa literatur, menurut penelitian Susilowati, Rixi dan Nina  menunjukan dukungan keluarga berpengaruh dalam kunjungan lansia. Sedangkan menurut penelitian Ni Putu menyatakan tidak ada pengaruh antara dukungan keluarga dengan kunjungan posyandu lansia. Sedangkan untuk kategori umur ada perbedaan antara penelitian yan dilakukan oleh Nina (2014) yang menyebutkan ada pengaruh antara usia dengan kunjungan lansia dalam posyandu lansia. Dan menurut penelitian yang dilakukan oleh Susilowati (2014) menyebutkan tidak ada pengaruh antara usia dan kunjungan lansia.
MOTIVASI MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN KEPATUHAN PROTOKOL KESEHATAN DALAM PENCEGAHAN COVID 19 Yulisetyaningrum Yulisetyaningrum; Rita Dewi Sunarno
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 13, No 1 (2022): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v13i1.1294

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Corona Virus Disease adalah virus yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan Cina pada bulan Desember 2019. Virus ini merupakan penyakit jenis baru yang ada di Indonesia. Covid 19 dapat menyebar dan menginfeksi pada saluran pernafasan manusia.  Bulan Juni – Juli 2021, Kabupaten Kudus menjadi sorotan nasional karena angka kejadian COVID 19 melonjak sampai angka di atas 2000 dengan angka kematian mencapai 286 orang sehingga Kudus masuk di zona merah. Salah satu penyebabnya karena kurangnya kepatuhan protokol kesehatan terutama pasca lebaran. Peran masyarakat sangat penting dalam memutus rantai penyebaran covid 19 dengan cara meningkatkan motivasi masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan.Tujuan : Mengetahui motivasi masyarakat untuk meningkatkan kepatuhan protokol kesehatan dalam pencegahan Covid 19.Metode : Jenis penelitian ini analitik korelasional dengan metode pendekatan cross sectional. Peneliti menggunakan purposive sampling dengan mengambil sampel sebanyak 40 responden. Analisis data menggunakan uji Spearman Rho.Hasil Penelitian : Ada hubungan motivasi masyarakat dapat meningkatkan kepatuhan protokol kesehatan dalam pencegahan Covid 19 dengan nilai p value 0,000 0,05.Kata Kunci : Motivasi Masyarakat, Kepatuhan, Protokol Kesehatan. ABSTRACT Background: The Corona Virus Disease is a virus that was first discovered in Wuhan City, China in Desember 2019. This virus is a new type of disease that exists in Indonesia. The Covid 19 can spread an infect the human respiratory tract. In June-July 2021, Kudus Regency became the national spotlight because the number of cases of COVID 19 soared to a number above 2000 with the death toll reaching 286 people, so Kudus was included in the red zone. One of the reasons is the lack of compliance with health protocols, especially after Eid. The role of the community is very important in in breaking the chain of spread of covid 19 by increasing the motivation of community to comply with health protocols.Objective: To find out the motivation of the community to improve compliance with health protocols in preventing covid 19. Methods: This type of research is correlational analytic with a cross sectional approach. Researchers used purposive sampling by taking a sample of 40 respondents. Data analysis using Spearman Rho test. Research Results: There is a relationship between community motivation to increase compliance with health protocols in preventing Covid 19 with a p value of 0.000 0.05.Keywords: Community Motivation, Health Protocol, Compliance
EFEKTIFITAS SENAM TAI CHI TERHADAP KESEIMBANGAN TUBUH DAN PENURUNAN RISIKO JATUH PADA LANSIA Novi Tiara; Rita Dewi Sunarno
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 13, No 1 (2022): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v13i1.1310

Abstract

Latar Belakang:.Keseimbangan tubuh merupakan kemampuan tubuh untuk mempertahankan postur tegak dan tetap dengan gravitasi mencakup seluruh aktivitas baik statik maupun dinamis sehingga tidak muncul risiko jatuh. Salah satu upaya untuk mempertahankan keseimbangan terutama pada lansia adalah dengan Latihan Senam Tai Chi.Tujuan: Untuk mengetahui manfaat dan efektivitas penerapan senam Tai Chi terhadap keseimbangan tubuh dan penurunan risiko jatuh pada lansia.Metode: Laporan ini merupakan suatu literature review, di dalamnya terdapat 5 jurnal yang diambil dari data base komputer melalui International Journal of Caring Science, dan Google Scholar yang membahas tentang senam Tai Chi terhadap keseimbangan tubuh dan penurunan risiko jatuh pada lansia.Kesimpulan: Hasil dari penelusuran studi literatur menunjukkan bahwa senam Tai Chi efektif menjaga keseimbangan pada lansia serta meminimalisir penurunan risiko jatuh. Senam Tai chi yang dilakukan secara teratur sebanyak 3- 5 kali dengan durasi 30-60 menit dan selama 4-8 minggu ini membuat lansia bisa meningkatkan keseimbangan, kekuatan, kelenturan, daya tahan, kekuatan, koordinasi. Latihan Tai Chi dapat memperkuat tulang dan menunda pengapuran tulang sehingga efektif untuk mempertahankan keseimbangan dan menurunkan risiko jatuh pada lansia.  Background: Body balance is the body's ability to maintain posture and maintain gravity covering all activities both static and dynamic so that there is no risk of falling. One of the efforts to maintain balance, especially in the elderly, is Tai Chi Gymnastics.Objective: To determine the benefits and effectiveness of Tai Chi exercise on body balance and reducing the risk of falls in the elderly.Methods: This report is a literature review, in which there are 5 journals taken from the International Journal of Caring Science computer database, and Google Scholar which discuss Tai Chi exercise on body balance through and reducing the risk of falling in the elderly.Conclusion: The results of a literature study show that Tai Chi is effective in maintaining balance in the elderly and minimizing the risk of falling. Tai chi exercise which is done regularly 3-5 times with a duration of 30-60 minutes and 4-8 weeks allows the elderly to improve balance, strength, flexibility, endurance, strength, coordination. Tai Chi exercises can strengthen bones and delay bone calcification so that it is effective in maintaining balance and reducing the risk of falling in the elderly.
EFIKASI DIRI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS Faridha Alfiatur Rohmaniah; Rita Dewi Sunarno
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 13, No 1 (2022): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v13i1.1305

Abstract

Abstrak Latar Belakang : GGK (gagal ginjal kronik) atau Chronic Kidney Disease kini menjadi masalah kesehatan serius di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), penyakit gagal ginjal kronis berkontribusi pada beban penyakit dunia dengan angka kematian sebesar 850.000 jiwa per tahun (Pongsibidang, 2016). Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 dan 2018 menunjukan bahwa prevalensi penyakit gagal ginjal kronis di Indonesia ≥ 15 tahun berdasarkan diagnosis dokter pada tahun 2013 adalah 0,2% dan terjadi peningkatan pada tahun 2018 sebesar 0,38%. GGK (gagal ginjal kronik)  merupakan suatu penyakit pada sistem perkemihan karena penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif : keadaan klinis yang timbul pada pasien GGK adalah tidak ada nafsu makan, mual, muntah, pusing, sesak nafas, rasa lelah, edema pada kaki dan tangan, serta uremia (Almatsier, 2006), yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal. Gagal ginjal kronik (CKD) merupakan penyakit karena adanya kerusakan pada fungsi ginjal sehingga tubuh kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia. Efikasi diri merupakan kemajuan diri dari pasien untuk sembuh dan sebagai suatu perkiraan individu terhadap kemampuannya sendiri dalam mengatasi situasi tertentu.  Perlunya self efficacy pada penderita gagal ginjal kronik untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Pasien GGK (gagal ginjal kronik) yang menjalani hemodialisis mengalami perubahan dalam berbagai dimensi kehidupan yang berakibat menurunnya kualitas hidup. Pasien GGK (gagal ginjal kronik) harus menjalani perawatan mandiri seperti yang dianjurkan oleh tim medis supaya kualitas hidupnya tidak semakin rendah. Peran efikasi diri dalam perawatan mandiri pasien GGK (gagal ginjal kronik)  menentukan tinggi rendahnya kualitas hidup pasien.Tujuan: Untuk menjawab pertanyaan tentang Efikasi diri untuk meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani HemodialisisMetode: Laporan ini merupakan suatu literature review, di dalamnya terdapat 10 artikel yang diambil dari data base komputer melalui researchGate, International Journal of Caring Sciences, PubMed, Elsevier, Semantic Scholar Kesimpulan: Penerapan hemodialisis mempengaruhi kemampuan perawatan diri dan tingkat efikasi diri pasien. Ada korelasi positif antara kemampuan perawatan diri dan efikasi diri. Berdasarkan hasil penelitian ini, direkomendasikan untuk menyelenggarakan program pendidikan untuk meningkatkan kemampuan perawatan diri dan tingkat efikasi diri pasien HD dan menyiapkan rencana yang komprehensif termasuk keluarga pasien.     Abstract Background: CKD (chronic kidney failure) or Chronic Kidney Disease is now a serious health problem in the world. According to the World Health Organization (WHO), chronic kidney failure contributes to the world's disease burden with a mortality rate of 850,000 people per year (Pongsi Field, 2016). The results of Basic Health Research in 2013 and 2018 show that the prevalence of chronic kidney failure in Indonesia 15 years based on a doctor's diagnosis in 2013 was 0.2% and there was an increase in 2018 of 0.38%. CKD (chronic kidney failure) is a disease of the urinary system due to a progressive decline in kidney function: clinical conditions that arise in patients with CKD are no appetite, nausea, vomiting, dizziness, shortness of breath, fatigue, edema of the feet and hands. , and uremia (Almatsier, 2006), which is characterized by an irreversible decline in kidney function, to a degree that requires permanent renal replacement therapy, in the form of dialysis or kidney transplantation. Chronic kidney failure (CKD) is a disease due to damage to kidney function so that the body loses its ability to maintain metabolism, fluid and electrolyte balance which causes uremia. Self-efficacy is a patient's self-advancement to recover and as an individual estimate of his own ability to cope with certain situations. The need for self-efficacy in patients with chronic kidney failure to increase their self-confidence. Patients with CKD (chronic kidney failure) who undergo hemodialysis experience changes in various dimensions of life which result in decreased quality of life. Patients with CKD (chronic kidney failure) must undergo independent treatment as recommended by the medical team so that their quality of life does not get lower. The role of self-efficacy in self-care of patients with CKD (chronic kidney failure) determines the high and low quality of life of the patient.Objective: To answer questions about self-efficacy to improve the quality of life of chronic kidney failure patients undergoing hemodialysisMethods: This report is a literature review, in which there are 10 articles taken from a computer database through researchGate, International Journal of Caring Sciences, PubMed, Elsevier, Semantic ScholarConclusion: The application of hemodialysis affects the ability of self-care and the level of self-efficacy of the patient. There is a positive correlation between self-care ability and self-efficacy. Based on the results of this study, it is recommended to organize an educational program to improve self-care abilities and self-efficacy levels of HD patients and prepare a comprehensive plan including the patient's family.
PENERAPAN SENAM OTAK (BRAIN GYM) TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DENGAN DIMENSIA Lasmini Lasmini; Rita Dewi Sunarno
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 13, No 1 (2022): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v13i1.1308

Abstract

Latar Belakang:.Dimensia merupakan gejala menurunya daya ingat, berfikir, berperilaku, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari – hari. Hilangnya kapasitas intelektual pada dimensia tidak hanya pada memori tetapi juga pada kognitif dan kepribadian. Salah satu upaya pencegahan kognitif pada dimensia pada lansia adalah dengan melakukan senam otak.Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas penerapan senam otak (Brain Gym) terhadap peningkatan fungsi kognitif pada lansia dengan dimensia.Metode: Laporan ini merupakan suatu literature review, di dalamnya terdapat 5 jurnal yang diambil dari data base komputer melalui International Journal of Caring Sciences dan Google Scholar yang membahas tentang senam otak terhadap fungsi kognitif pada lansia dengan dimensia.Kesimpulan: Senam otak sebagai gerakan akivitas tubuh dapat memperlancar aliran darah serta suplai oksigen ke otak sehingga dapat mempertahankan kebugaran dan kesehatan otak. Melakukan latihan senam otak secara teratur dapat mengaktifkan kembali pusat kewaspadaan di otak sehingga memperbaiki kembali kondisi orang yang pelupa. Senam otak secara teratur berdampak positif pada peningkatan fungsi kognitif pada lansia.Background:Dimension is a symptom of decreased memory, thinking, behavior, and ability to perform daily activities. The loss of intellectual capacity in dementia is not only in memory but also in cognitive and personality. One effort to prevent cognitive dementia in the elderly is to do brain exercises.Objective: To determine the effectiveness of the application of brain exercise (Brain Gym) on improving cognitive function in the elderly with dementia.Methods: This report is a literature review, in which there are 5 journals taken from a computer database through the International Journal of Caring Sciences and Google Scholar which discuss brain exercise on cognitive function in the elderly with dementia.Conclusion: Brain exercise as a body activity movement can improve blood flow and oxygen supply to the brain so that it can maintain brain fitness and health. Doing brain exercise regularly can reactivate the alert center in the brain, thereby improving the condition of forgetful people. Regular brain exercise has a positive impact on improving cognitive function in the elderly.
PENGARUH SLOW DEEP BREATHING DALAM MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA PRAMBATAN LOR Mohamad Khafidh Rio; Rita Dewi Sunarno
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 13, No 1 (2022): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v13i1.1306

Abstract

Abstrak Latar Belakang : Hipertensi adalah permasalahan pada sirkulasi darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik diatas 130 mmHg dan tekanan diastolik di atas 80 mmHg. Jika pasien hipertensi tidak dapat mengontrol tekanan darah dalam batas normal, maka akan terjadi komplikasi seperti gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Oleh karena itu upaya untuk menurunkan tekanan darah tinggi harus dilakukan secara aman dan nyaman untuk pasien hipertensi.Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh terapi Slow Deep Breathing terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi di Desa Prambatan Lor Kudus.Metode : Rancangan penelitian ini adalah eksperimen quasy experiment non equivalent control group design. Populasi adalah penderita hipertensi di Desa Prambatan Lor Kudus. Sampel sebanyak 32 responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi secara purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan sphygmomanometer . Hal ini dianalisis dengan menggunakan uji wilcoxcon dengan tingkat signifikan α 0,05.Kesimpulan : Ada pengaruh yang bermakna dalam pemberian Slow Deep Breathing terhadap penurunan tekanan darah kelompok Intervensi sebesar p.0,002. Tidak ada pengaruh yang bermakna dalam komunikasi terapeutik terhadap penurunan tekanan darah kelompok kontrol sebesar 0.0,083.AbstractBackground: Hypertension is a result of blood circulation problem, which is characterized by an increase in systolic blood pressure above 130 mmHg and diastolic pressure above 80 mmHg. If the hypertensive patient cannot control blood pressure within normal limits complications such as heart failure, stroke, and kidney failure will occur. Therefore, efforts to reduce high blood pressure must be carried out safely and comfortably for hypertensive patients. Purpose: The purpose of the research is to analyze the influence slow deep breathing toward the change of blood pressure on hypertension’s patient at prambatan lor village kudus . Methods: The design of this research was quasy experiment non equivalent control group design. Population was the Primary hypertension’s patient at prambatan lor village kudus The samples were 32 respondents based on inclusion and exclusion criterion on purposive sampling. The data was collected using mercurial sphygmomanometer. It was analyzed using wilcoxcon test with significant level α 0.05. Conclusion : The conclusion There are significant influence of  slow deep breathing therapy toward the change of blood pressure of the Intervention group with p value = 0,002. There was no significant effect in therapeutic communication on the control group's blood pressure with p value = 0.083.
Foot Exercise Therapy to Alleviate Peripheral Neuropathy Severity in Elderly Patients with Diabetes Mellitus Pratiwi, Wahyu Nur; Firmanda, Giovanni Iga; Sunarno, Rita Dewi; Gayatri, Paramita Ratna; Prodyanatasari, Arshy
Adi Husada Nursing Journal Vol 11 No 2 (2025): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKES Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37036/ahnj.v11i2.654

Abstract

Foot neuropathy is a common condition experienced by older adults with diabetes mellitus. This complication can be managed through physical activity, including foot exercises. This study aimed to evaluate the effect of foot exercises on the severity of foot neuropathy in older adults with diabetes mellitus at the Tarokan Community Health Center. This quasi-experimental study employed a non-equivalent control group design and involved 30 older adults with diabetes mellitus who exhibited neuropathic symptoms. Participants were divided into two groups: 15 individuals in the intervention group and 15 in the control group, selected through purposive sampling. The intervention group performed foot exercises three times per week for three weeks, with each session lasting 15–20 minutes. A 10 g monofilament and an observation sheet were used as instruments, and data were analyzed using the Wilcoxon and Mann–Whitney tests. The Wilcoxon test revealed a significant reduction in the degree of foot neuropathy in the intervention group (p = 0.001), whereas the control group showed no significant change (p = 0.527). The Mann–Whitney test indicated a significant difference between the two groups (p = 0.000). These findings demonstrate that foot exercises effectively reduce the severity of foot neuropathy in older adults with diabetes mellitus. Regular implementation of foot exercises is recommended as a non-pharmacological approach to decreasing the degree of foot neuropathy among older adults with diabetes mellitus.
Peningkatan Kesadaran Lingkungan Melalui Penyuluhan Pengelolaan Sampah dengan Program SAMPILAH (Sampah Pilah Alam Lestari) Maharani, Clarisa; Rita Dewi Sunarno; Giovanni Iga Firmanda
Journal of Community Engagement and Empowerment Vol. 8 No. 1 (2026): .
Publisher : Institut Ilmu Kesehatah Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan sampah menjadi isu serius di Indonesia, termasuk di Desa Janti, Kabupaten Kediri, di mana masyarakat masih terbiasa membakar sampah akibat ketiadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan rendahnya kesadaran lingkungan. Program pengabdian masyarakat bertajuk “SAMPILAH: Sampah Pilah, Alam Lestari” dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran warga, khususnya ibu rumah tangga, mengenai pentingnya memilah sampah organik dan anorganik serta dampak negatif pembakaran sampah. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, diskusi, pre-test dan post-test, serta lomba menghias tempat sampah sebagai bentuk implementasi langsung. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dengan rata-rata nilai peserta meningkat dari 82 pada pre-test menjadi 93,5 pada post-test, yang menandakan peningkatan pemahaman terhadap materi. Selain itu, lomba kreatifitas menghias tempat sampah mampu mendorong penerapan praktik pemilahan sampah di rumah masing-masing. Kesimpulannya, edukasi berbasis partisipasi aktif masyarakat efektif dalam mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran pengelolaan sampah. Program SAMPILAH berpotensi menjadi model alternatif edukasi lingkungan yang berkelanjutan di tingkat desa. Kata Kunci: sampah, pemilahan, penyuluhan, pengabdian masyarakat, lingkungan