Claim Missing Document
Check
Articles

EDUKASI PEMERIKSAAN ANTROPOMETRI, PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL DAN PRAKTIK 5 MEJA POSYANDU BAGI SISWA SMK GIRI HANDAYANI Ditya Yankusuma Setiani; Ratna Indriati; Warsini Warsini; Sri Aminingsih
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.497

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, dengan prevalensi nasional Indonesia sebesar 19,8% pada tahun 2024. Penguasaan keterampilan pemeriksaan antropometri, tanda-tanda vital, dan sistem 5 meja Posyandu merupakan kompetensi esensial bagi siswa SMK jurusan kesehatan sebagai bekal deteksi dini masalah gizi di masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa SMK Giri Handayani dalam pemeriksaan antropometri, tanda-tanda vital, dan pelaksanaan sistem 5 meja Posyandu. Metode yang digunakan meliputi ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung, dengan evaluasi menggunakan pre-test dan post-test pada 67 peserta. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan dari 67,16 (SD 9,82) menjadi 85,82 (SD 8,73), dengan hasil uji paired sample t-test yang bermakna secara statistik (t=18,75; p<0,001). Proporsi peserta berkategori pengetahuan baik meningkat dari 20,9% menjadi 89,6%, dan tidak ditemukan lagi peserta berkategori kurang. Peserta juga mampu mempraktikkan pengukuran antropometri, tanda vital, dan alur pelayanan 5 meja Posyandu dengan baik. Disimpulkan bahwa edukasi disertai demonstrasi dan praktik langsung efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar kesehatan masyarakat pada siswa SMK, sekaligus memperkuat bekal kompetensi mereka sebagai calon tenaga kesehatan maupun kader kesehatan remaja. Kata kunci: antropometri; lima meja Posyandu; pengetahuan; siswa; tanda-tanda vital Stunting remains a significant public health issue, with Indonesia's national prevalence reaching 19.8% in 2024. Mastery of anthropometric measurement, vital sign assessment, and the Posyandu five-table system constitutes an essential competency for vocational high school (SMK) health students in supporting early detection of nutritional problems in the community. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of SMK Giri Handayani students in anthropometric measurement, vital signs examination, and implementation of the Posyandu five-table system. The methods applied included lectures, demonstrations, and hands-on practice, evaluated through pre-test and post-test administered to 67 participants. Results showed an increase in mean knowledge scores from 67.16 (SD 9.82) to 85.82 (SD 8.73), with a statistically significant paired sample t-test result (t=18.75; p<0.001). The proportion of participants in the good knowledge category rose from 20.9% to 89.6%, and no participants remained in the poor category after the intervention. Participants were also able to competently practice anthropometric and vital sign measurements as well as the Posyandu five-table service flow. It is concluded that education combined with demonstration and direct practice effectively improved public health knowledge and basic skills among vocational high school students, while strengthening their competency as prospective health workers and adolescent health cadres. Keywords: anthropometry; five Posyandu service tables; knowledge; students; vital signs  
EDUKASI PENANGANAN CEDERA PADA SITUASI PRA-RUMAH SAKIT DI SEKOLAH Warsini Warsini; Budi Kristanto; Diyono Diyono; Tunjung Sri Yulianti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i1.461

Abstract

Cedera dapat terjadi dimana saja, tempat yang paling sering menyebabkan cedera pada anak adalah lingkungan sekolah, karena anak menghabiskan banyak waktunya di sekolah. Pemahaman siswa tentang penanganan cedera pada situasi pra-rumah sakit masih menjadi masalah di sekolah karena sebagian besar siswa-siswi belum paham tentang penanganan cedera pada situasi pra-rumah sakit. Pertolongan yang buruk sebelum pasien mendapatkan pertolongan di rumah sakit sampai saat ini masih menjadi masalah yang sulit dipecahkan karena siswa-siswi sering menyepelekan cedera yang dialami. Untuk itu perlu diberikan edukasi tentang penanganan cedera pada situasi pra-rumah sakit di sekolah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa-siswi tentang penanganan cedera pada situasi pra-rumah sakit. Kegiatan ini dilakukan di SMA Batik 1 Surakarta yang dihadiri oleh 63 siswa. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab. Sebelum dan setelah kegiatan tim pengabdi memberikan kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta sebelum dan setelah diberikan edukasi. Hasil analisis tingkat pengetahuan mayoritas dengan tingkat pengetahuan baik sebesar 71% dan meningkat menjadi 77%. Dapat disimpulkan bahwa setelah diberikan edukasi pengetahuan peserta tentang penanganan cedera pada situasi pra-rumah sakit di sekolah meningkat. Kata kunci: cedera, edukasi, luka, pra rumah sakit Injuries can occur anywhere, the most common place causing injuries to children is the school environment, because children spend a lot of time at school. Students' understanding of pre-hospital injury management remains a problem in schools because most students do not understand how to handle injuries in pre-hospital situations. Poor care before patients receive help at the hospital remains a difficult problem to solve because students often underestimate the extent of injuries they experience. Therefore, it is necessary to provide education about pre-hospital injury management in schools. This community service activity aims to increase students' knowledge about pre-hospital injury management. This activity was carried out at SMA Batik 1 Surakarta and was attended by 63 students. The methods used in this activity were lectures, demonstrations, and questions and answers. Before and after the activity, the community service team administered questionnaires to measure the level of knowledge of participants before and after being given education. The results of the analysis of the level of knowledge of the majority with a good level of knowledge of 71% and increased to 77%. It can be concluded that after being given education, participants' knowledge about pre-hospital injury management in schools increased. Keywords: education, injury, pre-hospital, wound