Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

KAJIAN Bacillus thuringiensis DIPERBANYAK PADA MEDIA PADAT HASIL SAMPING AGROINDUSTRI TERHADAP MORTALITAS LARVA Oryctes rhinoceros DI RUMAH BAYANG Pujiastuti, Yulia; Hakari, Irfan Mohandis; SHK, Suparman; Umayah, Abu; Gunawan, Bambang; Herlin, Weri
Jurnal Agrotek Tropika Vol 11, No 4 (2023): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 11, November 2023
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v11i4.6841

Abstract

Hama Oryctes rhinoceros (Coleoptera:Scarabaeidae) merupakan hama  penting pada kelapa sawit. Pengendalian secara terpadu dan berkelanjutan harus senantiasa dilakukan. Penggunaan bakteri entomopatogen Bacillus thuringiensis menjadi alternatif bagi pengendalian kimiawi. Tujuan penelitian untuk mempelajari efektivitas B. thuringiensis yang diperbanyak dengan  bahan limbah padat terhadap mortalitas O. rhinoceros. Percobaan dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok dan dilakukan di rumah bayang, dengan 6 perlakuan meliputi :  P1: onggok + bungkil kelapa sawit (2:1), P2: onggok + ampas tahu (2:1), P3 : onggok + bungkil kacang tanah (2:1), P4 : onggok + ampok jagung (2:1), P5 (kontrol air), P6 (kontrol insektisida) dan dilakukan sebanyak 4 ulangan. Serangga uji berupa larva Oryctes instar 3, sebanyak 10 ekor per ulangan. Keadaan di rumah bayang dengan suhu udara berkisar 25,1˗40,2 oC dan kelembaban udara 52,9˗99%. Mortalitas larva tertinggi pada hari ke 20 (82,50 %) pada perlakuan P1 (onggok+bungkil kelapa sawit, 2:1), dan terendah pada P3 (onggok + bungkil kacang tanah, 2:1) (47.5%). Larva yang tetap hidup menunjukkan gejala penurunan berat dan panjang tubuh. Gejala infeksi berupa perubahan warna tubuh, tidak aktif dan gejala kematian berupa tubuh lunak dan berair. Penggunaan B. thuringiensis sebagai agens pengendali hama merupakan cara pengendalian  yang prospektif.
Budidaya Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) di Desa Payakabung, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan Rahayu, Rafael Ika; Pratama, Rahmat; Umayah, Abu; Saputra, M. Ramadhan; Jo Andreansya, Destian; Billah, Ela Aisyah; Saputri, Kharisma Ayu; Ningsi, Selvi Yulia
Seminar Nasional Lahan Suboptimal Vol 12, No 1 (2024): Vol 12, No 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-12 “Revital
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rahayu, R. I., Pratama, R., Umayah, A., Saputra, M. R., Andreansya, D, J., Billah, E, A., Saputri, K., A. & Ningsi, S. Y. (2024). Cultivation of white oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) in Payakabung Village, North Indralaya District, Ogan Ilir Regency, South Sumatera Province. In: Herlinda S et al. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-12 Tahun 2024, Palembang 21 Oktober 2024. (pp. 720–730).  Palembang: Penerbit & Percetakan Universitas Sriwijaya (UNSRI).White Oyster Mushroom (Pleurotus ostreatus) is a unique mushroom with a high market price, although the cultivation of white oyster mushrooms has become one of the agricultural product development efforts in Indonesia. The purpose of this research was to find out what ingredients are really and how they affect the cultivation of white oyster mushrooms, as well as their development in the blog. White oyster mushrooms have a very high value in food production and cultivation. The use of baglogs is one of our studies in the development of white mushrooms. One important factor in harvesting high quality mushrooms is the durability and quality of the mushrooms themselves. The more optimal the harvesting method, the better the durability and quality of the picked mushrooms. Conclusions are based on the results obtained, taking into account the formulation of the problem and the objectives of the study. The stages of Mr. Eko Supandi's white oyster mushroom cultivation process are making a barn, preparing and making seedlings, making planting media or baglogs which consist of several stages, namely preparation of planting media, mixing ingredients and composting, packaging media, pasteurization, the next stage of seedling inoculation, incubation of seedlings for 40-60 days, baglog maintenance, harvesting and post-harvest.
Analisis keragaman genetik Phytophthora palmivora dari tanaman kakao di Indonesia menggunakan AFLP Genetic diversity analysis of Phytophthora palmivora from cocoa in Indonesia using AFLP Agus PURWANTARA; Abu UMAYAH
Menara Perkebunan Vol. 78 No. 2: 78 (2), 2010
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v78i2.65

Abstract

Abstract Phytophthora palmivora is the causal agent of pod rot, stem canker, seedling and leaf blight and cherelle wilt of cacao (Theobroma cacao) in Indonesia.  The genetic structure of the pathogen population across the country is unknown.  In this study, a population of 20 cultures of P. palmivora isolated from cocoa at six major cocoa producing provinces namely Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan and Sulawesi Tenggara in Indonesia was evaluated for genotypic diversity using amplified fragment length polymorphisms (AFLP).  Ten primer combinations were used to evaluate all isolates, 68 out of 347 AFLP markers (19.6 %) produced were polymorphic.  Results of the AFLP analyses showed that the P. palmivora population in Indonesia possessed high degree of similarity (96 %). AFLP banding patterns indicated that the isolates form two distinct groups, but with no genetic differentiation based on geography, types of cocoa or the part of the tree from which the isolates were obtained.  These data suggest that frequent outbreaks of Phytophthora pod rot in various growing regions is probably resulted from changing of local climatic condition which is condusive for the disease epidemic rather than from different genetic structure or pathogenic populations of this pathogen, which would affect recommendations for disease management.Abstrak Phytophthora palmivora adalah penyebab penyakit busuk buah, kanker batang, hawar bibit dan daun, dan layu pentil pada tanaman kakao (Theobroma cacao) di Indonesia.  Struktur genetik dari populasi patogen di seluruh negeri belum diketahui.  Pada kajian ini, 20 kultur P. palmivora yang diisolasi dari berbagai bagian tanaman kakao dari enam provinsi penghasil kakao di Indonesia, yaitu Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara diuji keragaman genetiknya mengguna-kan amplified fragment length polymorphisms (AFLP). Sepuluh kombinasi primer digunakan untuk menguji semua isolat, 68 di antara 347 penanda AFLP (19,6 %) yang dihasilkan adalah polimorfik.  Hasil analisis AFLP menun-jukkan bahwa populasi P. palmivora di Indonesia mempunyai tingkat kekerabatan yang tinggi (96 %).  Pola pita AFLP menunjukkan bahwa kedua puluh isolat membentuk dua kelompok, tetapi tidak ada perbedaan berdasar letak geografis, tipe kakao atau bagian tanaman kakao asal isolat diperoleh. Data ini menunjukkan bahwa ledakan penyakit busuk buah Phytophthora yang sering terjadi di berbagai daerah diduga lebih diakibatkan oleh perubahan kondisi iklim setempat yang memicu terjadinya epidemi daripada karena perbedaan genetik atau patogenisitas dari populasi patogen, sehingga hasil ini dapat melengkapi saran-saran dalam pengelolaan penyakit.
Identifikasi isolat Phytophthora asal kakao Identification of isolates of Phytophthora from cocoa Abu UMAYAH; Agus PURWANTARA
Menara Perkebunan Vol. 74 No. 2: 74 (2), 2006
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v74i2.108

Abstract

Summary Phytophthora spp. are responsible for some serious diseases of cocoa including pod rot, stem canker, leaf blight, seedling blight, and chupon wilt. Eight species of Phytophthora have been isolated from diseased cocoa worldwide, even though only three species cause most losses in cocoa production.  Twenty isolates of  Phytophthora sp. were isolated from various parts of the cocoa tree collected from six cocoa producing provinces in Indonesia, viz. North Sumatera, Lampung, West Java, East Java, South Sulawesi and Southeast Sulawesi.  All isolates were then identified using their morphological charac-teristics and it was concluded that all of the isolates are Phytophthora palmivora. This identification was then confirmed with molecular identification by amplification of ITS of rDNA of the isolates with primers ITS 4 and ITS 5, followed by restriction of the amplicon with enzymes.  The molecular identification confirmed that all isolates are P. palmivora. Ringkasan Phytophthora spp. merupakan penyebab beberapa penyakit penting pada kakao, termasuk busuk buah, kanker batang, hawar daun, hawar bibit, dan layu tunas air.  Delapan spesies Phytophthora telah berhasil diisolasi dari tanaman kakao sakit di seluruh dunia, meskipun hanya tiga spesies yang meng-akibatkan kehilangan produksi kakao yang nyata.  Dua puluh isolat Phytophthora sp. telah diisolasi dari berbagai bagian tanaman kakao yang dikumpulkan dari enam provinsi sentra produksi kakao di Indonesia, yaitu Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.  Semua isolat diidentifikasi berdasarkan sifat-sifat morfologi dan dapat disimpulkan bahwa semua isolat adalah Phytophthora palmivora.  Identifikasi selanjutnya dilakukan secara molekuler dengan amplifikasi daerah ITS dari rDNA isolat menggunakan pasangan primer ITS 4 dan ITS 5, kemudian diikuti dengan pemotongan amplikon menggunakan enzim restriksi. Identifikasi molekuler juga menun-jukkan bahwa semua isolat Phytophthora penyebab penyakit pada kakao adalah P. palmivora.
Co-Authors Ade Gilang Rhomadon Adelia, Elda Adrian, Rian Agus PURWANTARA Agustine, Sarah Dean Ahmad Sultoni Pulungan Aksel Santoso Alfaiz, Salahuddin Alfian Bustommi Andika Tiara Sukma Andika, Rafi Andriyani, Laja Anggreni, Uus Amelia Anisa Putri, Rizki Ana Apriani, Regina Aprilia, Phillia Arisandi, Faisal Ariska, Meylia Aristva, Putri Arrahsal, Uwais Ars Arsi Arsi Arsi Arsi Arsi Arsi, Arsi Auda, Nilam Naslatul Ayu, Ardia Baihaqi, Bayu Bahtiar Bambang Gunawan Bambang Gunawan Billah, Ela Aisyah Carolin, Jenia Chandra Irsan Chandra Irsan Chandra Isran Cindi, Aulia Darma Prasatya Dea Abbellia Desi Fitriyani Desriza Rahma Dani Devi Anggraini Dini Wahyuni Djulian, Dhanillo Dona, Rama Elfin Meidi Erfiari Palami, KMS Kahesa Fakhriyah Putri, Aisyah Faraszahy, Dwiki Fauziah Nabila Febriani, Bella Febrianti, Bella Annisa Febriyanti, Nabila Figo Ardatha Sutarma Firmanto, Riko Fitra Gustiar, Fitra Fuan Ambar Rahma Ghozi, M Alif Gresya Ginting, Cesey Gunawan Ade Putra Sihite Hakari, Irfan Mohandis Hanny Lia Anggraini Hariyanto, Muhamad Agus Harman Hamidson Harman Hamidson Hawaryah Istiqomah Hidayat, Ginanjar Wahyu Indayani Indayani Intania, Try Irenius Tegar Setiawan Irmawati Irmawati Jo Andreansya, Destian Keshya, Aaliyah Kevin Christian Bakkit P Kevin Christian BP Khodijah Khodijah Kusuma, Maghfira Widya Kusuma, Muhammad Luthfi Lailaturrahmi Lailaturrahmi, Lailaturrahmi Liana Liana Lusy Triani M Rafii F Madya, Sakha Prawira Mariana, Ivana Septa Masnita Sinaga, Tessia Mawarni, Aprilliyah Mega Zakria Ferisya Miranda Miranda Mita Ameilia Monalisah, Monalisah Muhammad Aziz Muhammad Rasyid, Muhammad Muhammad Ryan Asrul Muhari, Muhari Mukri Purnama Nasution Musliyadi Singarimbun Nabella Mevika Nadia Nadia Ningrahayu, Seviyanti Ningsi, Selvi Yulia Nisa U Mardiyah Novhela, Shelly Noviani, Noviani Novita Sari, Karlinda Novitasari J Nugroho, Akmal Nurhayati Nurhayati Nurjannah Nurjannah Prasetyo, Julia Cassandra Pratiwi, Fannia Aristika Putri, Nadila Adiansyah Rachmatika, Devita Rafael Ika Rahayu Rahayu, Rafael Ika Rahmat Pratama, Rahmat Rahmawati, Lusi Rama Doni Reza Demaila Miranda Riana, Nanda Riansyah, Wanda Helmi Riki Suranta Sembiring Riyanto Riyanto Riyanto Riyanto Romansah, Evi Safira Cahaya Ramadhani Safira Siti Khodijah Saputra, M. Ramadhan Saputri, Kharisma Ayu Saripudin Saripudin Sephiani, Erliza Rizki Setiawati, Tiyas SHK, Suparman SITI HERLINDA Suhada, M Barokah Sulha, Niken Ayu Suparman SHK Suwandi Suwandi Suwandi Thosin, Thosin Tia Ellisa Riyanti Tiara Aprilya Tria Anggraini Uary, Zucey Wati, Manila Weri Herlin Yanse Masliana Pakpahan Yanti, Pari Yeni, Belia Yuana Yuana YULIA PUJIASTUTI YULIA PUJIASTUTI Yuliana Yuliana Yunita Nurfadila Zahir, M Ibrahim Zahra, Melia Zaki Mubarok, Zaki