Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Komik untuk Menunjang Keterampilan dan Pemahaman Sejarah pada Mahasiswa Nugroho, Arifin Suryo; Ipong Jazimah; Andriyanto; Faizal Jefri Pratama
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 7 No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v7i2.7762

Abstract

Penelitian ini berjudul Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Komik untukMenunjang Ketrampilan dan Pemahaman Sejarah pada Mahasiswa. Mediapembelajaran dalam bentuk komik dianggap menarik untuk menunjangpembelajaran sejarah karena karakteristik komik yang penuh dengan gambargambar. Media pembelajaran komik tetap mengutamakan cerita sejarah yangberpedoman pada fakta-fakta sejarah yang sudah ada. Penelitian ini bertujuanuntuk mengungkap (1) Bagaimana mengembangkan media pembelajaran sejarahberbasis komik (2) Bagaimana meningkatkan ketrampilan mahasiswa dalammenghasilkan media pembelajaran berbasis komik (3) Bagaimana meningkatkanpemahaman mahasiswa tentang materi sejarah melalui media pembelajaranberbasis komik. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif deskritif. Sumberdata terdiri atas sumber lisan berupa hasil wawancara, sumber tertulis berupabuku dan portofolio tugas mahasiswa. Pengambilan data dengan studi pustaka,observasi, dan wawancara. Validitas data menggunakan trianggulasi. Analisisdata dilakukan dengan cara analisis interaktif meliputi tiga tahapan, yakni reduksidata, penyajian data, dan penarikan simpulan. Penelitian ini menghasilkankesimpulan bahwa 1) Mahasiswa mampu mengembangkan media pembelajaransejarah dengan cara manual dan digital 2) Mahasiswa mampu meningkatkanketrampilan dalam pembuatan media belajar berbasis komik 3) Mahasiswamampu meningkatkan pemahamannya tentang kesejarahan melalui pembuatanmedia komik
Penguatan Pemahaman Metode Penelitian Kuantitatif bagi Mahasiswa Pendidikan Sejarah dalam Penyusunan Tugas Akhir Mahasiswa Wulandari, Nuryuana Dwi; Agung, Rendi Marta; Jazimah, Ipong; Nugroho, Arifin Suryo; Lestari, Siska Nurazizah; Fatimah, Amalia; Azizah, Luna Nurul
Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Kuras Institute & Scidac Plus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51214/002026061881000

Abstract

Metode penelitian merupakan salah satu mata kuliah wajib untuk mahasiswa dan menjadi kunci dalam penulisan tugas akhir mahasiswa. Namun metode penelitian kuantitatif menjadi salah satu mata kuliah yang kurang di minati oleh mahasiswa. Di lingkungan mahasiswa pendidikan sejarah universitas Muhammadiyah Purwokerto menganggap bahwa metode penelitian kuantitatif salah satu mata kuliah yang sulit dan di hindari oleh mahasiswa. Pengabdian ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman mahasiswa program studi pendidikan sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto terkait metode penelitian kuantitatif. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini metode pelatihan yang terdiri dari persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan ini berhasil menarik minat mahasiswa program studi pendidikan sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto untuk mengambil tugas akhir dengan metode penelitian kuantitatif dan meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap metode penelitian kuantitatif sebanyak 3 orang mahasiswa sangat memahami, 12 orang mahasiswa paham, 2 orang mahasiswa kurang memahami, 3 orang mahasiswa tidak memahami.
Land of Hope: British Colonization in New Zealand (1840-1855) Jazimah, Ipong; Suryo Nugroho, Arifin; Marta Agung, Rendi; Amalia, Syifa Nur Tsaltsa
HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 14, No 2 (2026): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah (Issu in Progress)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v14i2.15804

Abstract

New Zealand was initially a refuge for British convicts from Australia and was regarded as a land of hope for rebuilding their lives. Over time, however, New Zealand was inhabited not only by convicts but also by various other groups seeking economic opportunity and a new livelihood. This development prompted the British government to establish a colonial state in New Zealand in 1840, appointing William Hobson as its first governor. This study aims to examine British colonization in New Zealand, encompassing the Treaty of Waitangi and the early formation of the colony, New Zealand’s transformation into a British crown colony, and the situation in New Zealand between 1852 and 1855. The research employs the historical method, which consists of several stages: topic selection, source collection (utilizing heuristics), verification (external and internal criticism), interpretation (analysis and synthesis), and historiography. The findings suggest that the need for territorial expansion and competition with France contributed to the establishment of a British colonial state in New Zealand. The colony of New Zealand was formally established through the Treaty of Waitangi, signed by British representatives and Maori chiefs. In 1841, New Zealand officially became a crown colony, meaning that it possessed a structured system of colonial governance under a governor with authority comparable to that of other British colonies worldwide. During the period 1852–1855, New Zealand experienced numerous conflicts over land disputes between European settlers (pakeha) and the Maori.
FROM FORCED CULTIVATION TO INDUSTRIALISATION: SOCIO ECONOMIC IMPACTS AND THE EMERGENCE OF THE KALIBAGOR SUGAR FACTORY: Dari Tanam Paksa Ke Industrialisasi: Dampak Sosial Ekonomi Dan Kemunculan Pabrik Gula Kalibagor Jefri Pratama, Faizal; Arifin Suryo Nugroho
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 10 No 2 (2026): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA) 
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v10i2.6500

Abstract

This study examines the forced cultivation system or culturstelsel in Banyumas until the era of industrialisation, focusing on the socioeconomic impact of the Kalibagor Sugar Factory. This study employs historical methods, including the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography, utilizing primary sources such as colonial archives and supported by secondary sources. The findings of this study indicate that Cultuurstelsel in Banyumas was an adaptation of the land tax policy, which aimed to produce export commodities and increase colonial revenue. Established in 1839, the Kalibagor Sugar Factory functioned as the main hub for the implementation of this system through the processing of sugas cane from surrounding village lands. Entering the era of industrialisation, the use of steam engines brought major changes to the socio economic order, as the wage labour system replaced the traditional agrarian pattern. This research concludes that the Kalibagor Sugar Factory transformed the pattern of Banyumas society from agrarian to industrial, as well as creating economic dependence by giving rise to a capitalist system and social inequality between the local elite and workers.
Developing Ethnomathematics-Based Worksheets for Junior High School: A Research and Development Approach Anggun Badu Kusuma; Anton Jaelani; Arifin Suryo Nugroho
EduMa: Mathematics education learning and teaching Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Matematika UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/eduma.v14i1.18820

Abstract

Worksheets are frequently utilized as educational tools to assist teachers in learning. Integrating ethnomathematics into lessons enhances the significance of mathematics education. This study aims to develop ethnomathematics-based worksheets for junior high school students. The research employs a research and development methodology, following the stages of defining, designing, and developing as outlined by Thiagarajan. The participants include material experts, media experts, teachers, and junior high school students. The findings indicate that the worksheets are valid and suitable for further research. Feedback from teachers and students suggests that the worksheets are practical and effective. Observations from limited trials show that students and teachers are enthusiastic about learning.
Peningkatan Profil Pelajar Pancasila: Gotong Royong melalui Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Kelas 3 SD Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Indriyansyah, Fera; Nugroho, Arifin Suryo; Inayah, Tessari
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 2 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i2.106385

Abstract

Kemendikbudristek Republik Indonesia menyatakan bahwa tujuan dari pendidikan saat ini yaitu untuk membentuk karakter peserta didik menjadi pelajar Pancasila khususnya gotong royong. Tujuan penelitian ini ialah meningkatkan profil pelajar Pancasila dimensi gotong royong pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila melalui penerapan model PjBL. Metode yang digunakan yakni Penelitian Tindakan Kelas (PTK), subjek penelitian kelas 3D SD Al Irsyad 01 Purwokerto sebanyak 25 peserta didik.  Data dan sumber data dalam penelitian berupa dekripsi data dan hasil observasi dimensi gotong royong dari peserta didik. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan, siklus 1 mendapatkan persentase keberhasilan sebesar 78.00% dan siklus 2 sebesar 86.67%. Peningkatan persentase keberhasilan dalam penellitian ini sebesar 8.67%. Penerapan model PjBL dapat meningkatkan profil pelajar Pancasila dimensi gotong royong pada mata pelajaran pendidikan Pancasila kelas 3 SD Al Irsyad 01 Purwokerto. Hasil penerapan model PjBL didapati bahwa dimensi gotong royong peserta didik mengalami peningkatan, peserta didik menjadi lebih aktif dan bersemangat, menghargai pendapat satu sama lainnya.