Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS MOBILE ANDROID UNTUK STUDI KEBOCORAN JARINGAN PIPA PDAM (Studi Kasus: Sub Zona 109, Kota Surabaya) Priangga, Aditya Alden; Budisusanto, Yanto
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1480

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat menyebabkan perubahan yang besar pada kemajuan perangkat elektronik. Salah satunya adalah perangkat mobile. Saat ini perangkat mobile hampir setara dengan perangkat desktop karena perangkat mobile sudah bisa digunakan hampir seperti penggunaan perangkat desktop. Jika dibandingkan dengan perangkat desktop, perangkat mobile memiliki keunggulan dalam mobilitasnya. Dengan adanya perangkat mobile yang canggih, dapat dibuat sebuah Sistem Informasi Geografis dalam basis mobile yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di dalam negeri, salah satunya adalah permasalahan kebocoran yang dialami oleh PDAM. Penelitian ini dilakukan di Kota Surabaya, pada jaringan pipa tersier sub-zona 109 yang telah menerapkan DMA. Analisa jaringan pipa menggunakan perangkat lunak EPANET 2.0 yang kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Sistem Informasi Geografis berbasis mobile memakai perangkat lunak Eclipse 4.4.2 yang mendukung bahasa Java. Selain itu digunakan juga perangat lunak pendukung yaitu Android Development Tools, serta Google Maps Android API v2 yang digunakan untuk mengakses data – data dari Google Maps. Setelah penelitian ini dilakukan, didapatkan nilai maksimum kecepatan aliran air pada sub zona 109 adalah 1,55 m/s. Lokasi yang berpotensi mengalami kebocoran berada pada daerah di sekitar Jalan Manunggal. Aplikasi SIG berbasis mobile android berhasil dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Java. Aplikasi ini bernama MGIS29 dengan ukuran 2,93 mb.
MAP ZONE LAND CHANGES TO MONITORING OF CHANGE THE VALUE OF LAND AT DISTRICT RUNGKUT Deviantari , Udiana Wahyu; Budisusanto, Yanto; Arafah, Feni
GEOID Vol. 11 No. 2 (2016)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i2.1494

Abstract

The rising of land value is closely related to development process. Middle East Ring Road (MERR) development results in the rapid growth of settlement and other business activities around it. Based on RTRW Surabaya no. 3/2007 about Main Road Network Plan,It wasstated that the land use along MERR II-C will be allocated for trading, service, and public facilities. With so many activities at the site, thelimited land will be fought among users in order to gain maximum benefit. The rapid change in the value / market price of land in the region led to users struggling in keeping updates of land value.Determining the land value or land marketcan be obtained by using Land Value Zone (ZNT) map. ZNT map illustrates areas that has arelatively similar land value. Land value data used in this study is the land market in 2010-2014. The production of land value mapwas by using spatial analysis techniques to create zones or polygon-shaped area that represents the land value in accordance with the real conditions in the field on buying or selling value.ZNT processing results in 6 Village in Rungkut District show a change in the land value; the highest is located in the zone AC and AH in Kalirungkut sub district, while the least changes is in zone FH in Rungkut Kidul sub district. Changes in land value occursin Kalirungkut sub district because of population density and high social activities.While the change in the land value in the Rungkut Kidul sub district is due to the development of education activity, availability of education facility (UPN campus) and accessibility to MERR.
ANALISA PERBANDINGAN NILAI TANAH DENGAN NJOP UNTUK MENINGKATKAN POTENSI PAD (PENDAPATAN ASLI DAERAH) KHUSUSNYA PBB DAN BPHTB(Studi Kasus : Area Terdampak Akses Jembatan Suramadu Sisi Madura) Deviantari, Udiana Wahyu; Budisusanto, Yanto; Fadila, Eliya Nur
GEOID Vol. 12 No. 1 (2016)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v12i1.1511

Abstract

Dalam pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan Pedesaan (PBB P2), selain penetapan tarif pajak, Pemerintah Daerah juga mempunyai kewenangan untuk menetapkan besarnya Nilai Jual Objek Pajak NJOP tanah per m2,dipakai sebagai dasar untuk menghitung NJOP tanah masing-masing bidang tanah. Penetapan NJOP dilakukan dengan metode perbandingan data pasar (market data approach). Dalam penelitian ini berdasarkan nilai tanah dengan penilaian massal dengan pendekatan data harga pasar yang menggunakan metode massal dan dibandingkan dengan nilai tanah berdasarkan NJOP. Data harga tanah yang dihitung adalah data harga pasar tanah dengan nilai bangunan yang sudah dikeluarkan dan disesuaikan juga dengankarakteristik kondisi sosial ekonomi daerah. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perbandingan yang sangat signifikan adalah besarnya penerimaan dari data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) untuk PBB sebesar Rp1,488,000,000 dan BPHTB sebesar Rp2,344,000,000. Sedangkan dari data harga pasar untuk PBB Rp5,465,000,000 dan BPHTB Rp 13,842,000,000. Dan besarnya kenaikan untuk PBB adalah 367% dan BPHTB 590% Kata Kunci :Penilaian Massal, Metode Penilaian Tanah, PBB (Pajak Bumi dan Bangunan),BPHTB (Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan).
PENGADAAN DATA GEOSPASIAL DESA MENGGUNAKAN WAHANA DRONE-QUADCOPTER (STUDI KASUS : DESA SUGENG, KEC.TRAWAS, KABUPATEN MOJOKERTO) Cahyono, Agung Budi; Hidayat, Husnul; Handayani, Hepi Hapsari; Budisusanto, Yanto
GEOID Vol. 12 No. 1 (2016)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kemajuan dibidang ilmu dan teknologi spasial adalah dengan berkembangnya wahana UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau nir awak yang semakin terjangkau baik harga (low cost) dan siap terbang (Ready To Fly / RTF) maupun kemudahan pengoperasiannya terutama untuk pemetaan secara fotogrametris. Fotogrametri sebuah proses untuk memperoleh informasi metris mengenai sebuah obyek melalui pengukuran yang dibuat pada hasil foto udara sebuah obyek. Sedangkan interpretasi foto didefinisikan sebagai ekstraksi dari informasi kualitatif mengenai foto udara dari sebuah obyek oleh analisis visual manusia dan evaluasi fotografi (Edward dan James 2004). Terminologi baru menggunakan pesawat tanpa awak atau yang biasa disebut UAV (Unmanned Aerial Vehicle) merupakan platform yang mendukung untuk pengukuran fotogrametri. UAV standar ini memungkinkan untuk melakukan pelacakan posisi dan orientasi dari sensor yang diimplementasikan dalam sistem lokal atau koordinat global (Eisenbeiss, 2008 dalam Rukmana, 2013).Penelitian ini merupakan kegiatan pemetaan spasial dengan menggunakan alat berupa wahana terbang nir-awak RTF modifikasi yang digunakan untuk memetakan lokasi bencana longsor. Adapun sensor yang digunakan adalah kamera amatir non-metrik. Adapun wahana yang digunakan adalah sejenis Quadcopter dengan ketinggian terbang sekitar 250 meter dan dalam waktu 15 menit pemotretan dilakukan.Dengan metode Fotogrametri maka akan dapat melakukan rapid mapping (pemetaan cepat) yang berupa informasi berupa peta desa dalam rangka menunjang program pemetaan partisipatif nasional (BIG, 2014).Hasil akhir dari kegiatan ini berupa pemetaan desa Sugeng Kec. Mojokerto seluas 270 ha. Peta desa yang dihasilkan dengan format peta ortofoto. Dari 378 foto tersebut telah dipilih dengan pertimbangan tingkat ketajaman, blur dan ketinggian terpilih 232 foto. Dimana satu kelemahan adalah daya baterai litium yang digunakan selama 8 menit/baterai. Untuk kegiatan ini digunakan 4 baterai sehingga total terbang 1 x untuk flight test sedangkan total pemotretan menggunakan 3 baterai atau sepanjang 8 x 3 = 24 menit.
PEMANFAATAN PETA KONTUR ZONA NILAI TANAH PADA DATA NILAI JUAL OBJEK PAJAK TAHUN 2015 UNTUK IDENTIFIKASI LOKASI CENTRAL BUSSINESS DISTRICT (STUDI KASUS: UPTD 8 KOTA SURABAYA) Deviantari, Udiana Wahyu; Budisusanto, Yanto; Majdi , Naufal
GEOID Vol. 12 No. 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v12i2.1533

Abstract

Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) 8 di kota Surabaya merupakan salah satu wilayah UPTD Dinas Pendapatan Daerah kota Surabaya yang terletak di bagian timur kota Surabaya. Wilayah ini terdiri dari 4 kecamatan yaitu kecamatan Mulyorejo, kecamatan Sukolillo, kecamatan Rungkut, dan kecamatan Gunung Anyar. Di wilayah UPTD 8 ini merupakan daerah berkembang yang banyak tumbuh pusat perekonomian kota yaitu mall, pusat pertokoan, dan pusat kuliner. Zona nilai tanah yang merupakan kumpulan wilayah atau area yang terdiri dari nilai harga tanah yang sama. Dalam zona nilai tanah ini akan ditentukan titik tengahnya (centroid) sebagai perwakilan harga di zona tersebut yang akan digunakan untuk pembuatan peta kontur zona nilai tanah. Setelah dibuat peta kontur zona niali tanah akan ditentukan lokasi CBD dan akan disesuaikan lokasinya dengan data existing. Central Bussiness District (CBD) merupakan suatu wilayah yang menjadi pusat perekonomian suatu daerah atau kota. Dalam suatu kota dapat memiliki satu atau lebih dari lokasi CBD. Dari hasil penelitian ini didapat bahwa di wilayah UPTD 8 kota Surabaya terdapat 346 zona nilai tanah yang berasal dari data nilai jual objek pajak (NJOP) tahun 2015. Setelah dibuat peta kontur zona nilai tanah dari data NJOP diwilayah UPTD 8 kota Surabaya didapat 25 lokasi CBD. Dari 25 lokasi CBD didapat data kontur zona nilai tanah hanya 15 lokasi yang sesuai dengan lapangan. Dan dari profil harga tanah dapat dilihat bahwa harga tanah yang jaraknya semakin menjauh dari lokasi CBD mengalami penurunan harga, begitu sebaliknya dengan harga tanah yang lokasinya mendekati lokasi CBD mengalami peningkatan harga tanah.
PEMBUATAN SISTEM INFORMASI PENDAFTARAN KADASTER 3D BERBASIS WEB (STUDI KASUS: RUMAH SUSUN GRUDO, SURABAYA) Lestari , Isna Dwi; Budisusanto, Yanto
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1543

Abstract

Pada saat ini tingkat kebutuhan akan ruang sangat tinggi, sehingga dirasakan konsep ruang, baik hunian maupun komersial pada umumnya bangunan fisik yang berdiri di atas permukaan tanah (landed house) menjadi kurang efisien. Selain itu, pertumbuhan populasi manusia yang cukup tinggi menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan lahan. Untuk mengatasi kebutuhan tersebut sejak tahun 1985 di Indonesia diperkenalkan konsep hunian secara vertikal. Salah satu contoh hunian vertikal yaitu Rumah Susun. Untuk bangunan rumah susun penerapan sistem kadaster dua dimensi (2D) menjadi kurang tepat, karena tidak dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Keterbatasan persil 2D ini mendorong lahirnya konsep kadaster tiga dimensi (3D) yang diharapkan dapat memberikan kepastian hukum bagi kepemilikan atas bagian properti rumah susun. Pada pembuatan sistem informasi kadaster 3D, perlu dilakukan pembuatan model 3D dan basis datanya. Pembuatan model 3D dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SketchUp Make, sedangkan untuk pembuatan basis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak PostgreSQL. Setelah kedua komponen tersebut terbentuk, kemudian komponen tersebut dihubungkan dan divisualisasikan pada website. Dalam pembuatan website dilakukan dengan bahasa pemrograman HTML, CSS dan PHP. Pada penelitian ini berhasil dilakukan pembuatan model 3D dari Rumah Susun Grudo Surabaya dengan tingkat kedetailan dari model 3D yang dibuat didasarkan pada LOD1 (Level of Detail 1), dan pembuatan sistem basis data kadaster 3D. Selain itu, model 3D dari Rumah Susun Grudo berhasil divisualisasikan pada website Sistem Informasi Pendaftaran Kadaster 3D yang telah dibuat. Website tersebut dapat diakses secara online dengan domain www.tridisun-grudo.com. Dari website yang telah dibuat dilakukan pengujian dengan cara pemberian penilaian dari pengguna melalui kuesioner uji kebergunaan atau usability yang terdapat pada website. Berdasarkan hasil rekapitulasi uji kebergunaan total 94 responden dengan presentase hasil sebesar 84,56%, artinya website Sistem Informasi Pendaftaran Kadaster 3D dikategorikan sangat layak.
ANALISIS PERUBAHAN NILAI TANAH DI AREA LERENG GUNUNG KELUD PASCA ERUPSI 2014 (Studi Kasus: Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri) Deviantari, Udiana Wahyu; Budisusanto, Yanto; Aqil, Mohammad Ibnu
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1547

Abstract

Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api aktif di Pulau Jawa. Gunung ini terakhir erupsi pada tahun 2014. Erupsi gunung ini mengakibatkan kerusakan pemukiman, kerusakan fasilitas umum, serta kerusakan lading-landang masyarakat sekitar Gunung Kelud yang menyebabkan gagal panen. Terjadinya perubahan kondisi fisik suatu wilayah dapat memicu perubahan nilai tanah di tersebut. Melihat status gunung yang aktif, keadaan seperti ini bisa dipastikan akan terulang di kemudian hari. Sehingga perlu adanya penelitan tentang perubahan nilai tanah di area lereng Gunung Kelud untuk mengetahui seberapa pengaruh erupsi gunung terhadap nilai tanah. Penelitian ini dilakukan dengan menumpang susunkan peta zona nilai tanah Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri tahun 2013, 2014, dan 2015 menggunakan perangkat lunak pengolah data spasial. Untuk mengetahui besar nilai tanah yang terjadi di lokasi penelitian. Data perubahan nilai tanah tersebut kemudian dilakukan uji korelasi dan regresi linear berganda dengan variabel bebas yang sudah ditentukan yaitu jarak zona terhadap pusat letusan, jarak zona dari CBD, dan jarak zona dari jalan kolektor. Tujuannya ialah mengetahui seberapa besar pengaruh erupsi Gunung Kelud dan variabel lainnya terhadap perubahan nilai tanah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terjadi perubahan nilai tanah di Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri. Menurut hasil uji korelasi, erupsi Gunung Kelud 2014 tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan nilai tanah. Dari hasil analisa regresi linear berganda yang dilakukan variabel yang dipilih hanya mampu menggambarkan 11,9% pada tahun 2013-2014 dan 47,7% pada tahun 2014-2015. Sehingga masih banyak faktor lain yang belum diketahui sebagai penyebab perubahan nilai tanah di Kecamatan Ngancar.
ANALISIS TINGKAT KEKUMUHAN DAN POLA PENANGANANNYA PADA LOKASI PERMUKIMAN (Studi Kasus: Kelurahan Keputih, Surabaya) Crysta, Elpidia Agatha; Budisusanto, Yanto
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1561

Abstract

Kota Surabaya sebagai ibukota dari Provinsi Jawa Timur merupakan kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan tingginya tingkat migrasi mengakibatkan sebagian besar masyarakat menempati lokasi tempat tinggal yang tidak sesuai standar sehingga menimbulkan permasalahan permukiman kumuh. Kelurahan Keputih sebagai salah satu kawasan dengan perkembangan kegiatan bisnis, pendidikan dan perdagangan yang pesat, terindikasi terdapat kawasan kumuh. Oleh karena itu, dilakukan pemetaan kawasan kumuh yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan empat tingkat kekumuhan yakni, bukan kawasan kumuh, kawasan kumuh ringan, kawasan kumuh sedang dan kawasan kumuh berat. Dari klasifikasi tersebut ditambah dengan variabel legalitas lahan dapat direncanakan pola penanganan sesuai penetapan lokasi kawasan kumuh. Metode skoring digunakan penelitian ini dalam melakukan identifikasi kawasan permukiman kumuh dengan menggunakan tujuh indikator kekumuhan dari Direktorat Pengembangan Kawasan Pemukiman, 2016 yaitu: kondisi bangunan, kondisi jalan lingkungan, kondisi drainase lingkungan, kondisi penyediaan air minum, kondisi pengelolaan air limbah, kondisi pengelolaan persampahan dan kondisi proteksi kebakaran. Hasil penelitian menunjukkan di Kelurahan Keputih hanya menghasilkan dua klasifikasi tingkat kekumuhan, 14 RT termasuk dalam bukan kawasan kumuh dengan luas total wilayah permukiman 39,839 Ha dan 10 RT termasuk dalam kawasan kumuh ringan dengan luas total wilayah permukiman 21,137 Ha. Sedangkan dari rencana pola penanganan didapatkan, 2 wilayah RT perlu pemugaran, 6 wilayah RT dilakukan permukiman kembali dan 2 wilayah RT perlu dilakukan pemugaran dan permukiman kembali.
PEMBUATAN BASIS DATA SPASIAL NILAI TANAH UNTUK MENGIDENTIFIKASI PERUBAHAN NILAI TANAH PADA TAHUN 2015-2016 (Studi Kasus : Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban) Budisusanto, Yanto; Nabilah, Balqis Imania
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1564

Abstract

Kecamatan Tuban merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Untuk memperlancar transportasi di Kecamatan Tuban direncanakan pengembangan jaringan jalan. Dengan adanya pengembangan jaringan jalan tersebut menyebabkan nilai tanah disekitarnya menjadi naik. Oleh karena itu dibutuhkan basis data nilai tanah yang sistematis sehingga dapat digunakan dalam penyelenggaraan layanan komputerisasi pertanahan. Layanan komputerisasi tersebut menyediakan informasi tentang nilai tanah berikut memberikan informasi tentang perubahannya. Disamping itu untuk kegiatan mendokumentasikan data nilai tanah menggunakan sistem basisdata inventarisasi nilai tanah sehingga pengelolaan data dan informasi nilai tanah menjadi lebioh efektif. Penelitian dilakukan dalam rangka membuat suatu basis data spasial yang dapat dimanfaatkan sebagai inventarisasi data nilai tanah sekaligus bahan pertimbangan untuk analisis perubahan nilai tanah yang berubah tiap tahunnya. Basisdata dibangun menggunakan teknologi Sistem Menejemen Basisdata (SMBD) PostgreSQL beserta ekstensinya PostGIS. Penelitian ini menggunakan data-data berupa data spasial berupa peta administrasi dan data non – spasial berupa data tabular zona nilai tanah. Perancangan basisdata dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu perancangan model konseptual, model logika, dan model fisik hingga implementasi basis data. Basis data spasial yang terbentuk kemudian dilakukan uji transaksi basis data dengan query spasial basisdata di postgreSQL. Kemudian dilakukan validasi pada perangkat lunak pengolah data sistem informasi geografis dengan query yang sama. Sehingga terbentuk basis data spasial nilai tanah Kecamatan Tuban yang tervalidasi. Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini berhasil membuat basis data spasial inventarisasi data nilai tanah. Basisdata yang telah dibuat dapat dijadikan sebagai data pendukung dalam mengidentifikasi perubahan nilai tanah di Kecamatan Tuban. Informasi nilai tanah terdapat perubahan nilai tanah disetiap zonanya dimana yang tertinggi yaitu pada zona 138 dengan perubahan sebesar Rp. 100.000,00 sedangkan zona yang tidak mengalami perubahan nilai tanah yaitu pada zona 122 dengan harga tanah tetap sebesar Rp 110.000,00.
KAJIAN PEMANFAATAN KADASTER LAUT DAN VISUALISASI 3 DIMENSI (Studi Kasus : Pulau Maratua, Berau, Kalimantan Timur) Astuti, Resti Yully; Budisusanto, Yanto; Pratomo, Danar Guruh
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1569

Abstract

Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan lautan seluas 2,9 juta km2. Indonesia memiliki wewenang mengelola ruang lautnya. Namun, kerangka kebijakan dan kelembagaan yang mengatur pemanfaatan ruang laut tersebut masih rumit. Sehingga perlu adanya pertimbangan dari aspek legal maupun teknis dalam penerapannya. Rencana Zonasi adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumber daya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin. penelitian ini membuat peta dasar implementasi kadaster laut dan visualisasi 3 dimensi ruang laut berdasarkan kedalaman pada zona perikanan budidaya di Pulau Maratua sebagai salah satu dari 111 pulau kecil terluar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu melakukan overlay pada data RZWP-3-K dan data eksisting pemanfaatan ruang laut untuk memperolah informasi wilayah KJA yang tidak sesuai dengan rencana zonasinya. Selanjutnya hasil overlay tersebut digabungkan dengan data kontur laut untuk memperoleh informasi kedalaman di wilayah yang tumpang tindih dan divisualisasikan menjadi model 3 dimensi. Dari hasil analisis peta dasar kadaster laut diketahui bahwa di Pulau Maratua saat ini terdapat 6 keramba jaring apung (KJA). Namun terdapat 3 KJA yang lokasinya tidak sesuai dengan rencana zonasi Pulau Maratua, sehingga terjadi tumpang tindih pemanfaatan ruang laut. Salah satu KJA yang tidak sesuai adalah KJA5, yang tumpang tindih dengan subzona perlindungan ekosistem. Pada KJA5 ini dibuat model 3 dimensi untuk menunjukkan pembagian pemanfaatan ruang laut berdasarkan pada kedalaman