Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Hubungan Antara Lokasi Sekolah terhadap Metode Mengajar Guru dan Hasil Ujian Nasional Geografi Arvina Meyzilia; Darsiharjo Darsiharjo; Mamat Ruhimat
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2018): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v4i1.13948

Abstract

Lokasi sekolah mempengaruhi hasil belajar siswa. Sekolah yang terletak di desa dan di kota memiliki hasil belajar yang berbeda. Sekolah yang terletak di kota memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada sekolah yang terletak di desa (Musa, 2013; Owoeye dan Yara, 2011). Selain itu, penelitian Olurotimi, dkk (2013) melaporkan bahwa ada perbedaan efektifitas mengajar guru di desa dan di kota sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa. Salah satu pengukuran hasil belajar yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah dengan Ujian Nasional (UN). Geografi merupakan salah satu mata pelajaran peminatan yang diikut sertakan dalam UN. Berdasarkan penilaian Puspendik, hasil UN Geografi di Kabupaten Bangka tahun 2017 tergolong dalam kategori sedang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskritif. Sampel penelitian yaitu seluruh SMA Negeri di Kabupaten Bangka. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa angket. Hasil penelitian menunjukkan (1) Ada hubungan positif antara lokasi sekolah terhadap hasil UN geografi siswa SMA Negeri Se-Kabupaten Bangka Tahun 2017, (2) Tidak ada hubungan positif antara lokasi sekolah terhadap metode mengajar guru geografi SMA Negeri Se-Kabupaten Bangka Tahun 2017, (3) Tidak ada hubungan positif antara metode mengajar guru terhadap hasil UN geografi siswa SMA Negeri Se-Kabupaten Bangka Tahun 2017.
PENGARUH LITERASI BENCANA TERHADAP KESIAPSIAGAAN PESERTA DIDIK PADA BENCANA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR Ari Putra Pratama; Enok Maryani; Darsiharjo Darsiharjo
Edusentris Vol 9, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edusentris.v9i1.573

Abstract

ABSTRAK Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Provinsi Sumatera Selatan, termasuk Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang memiliki lahan gambut terluas. Salah satu cara untuk meminimalkan dampak bencana adalah dengan meningkatkan keterampilan literasi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi bencana siswa, pengaruh pembelajaran literasi bencana dan geografi terhadap kesiapsiagaan bencana kebakaran hutan dan lahan. Metode yang digunakan adalah survei. Jumlah sampel yang diteliti adalah 234 siswa kelas 11 dan 12 SMA di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Temuan menunjukkan tingkat literasi bencana siswa secara umum dapat dikategorikan tinggi di setiap zona rawan kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, terdapat pengaruh mata pelajaran literasi bencana dan geografi pada materi mitigasi bencana terhadap kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi bencana walaupun pengaruhnya cukup kecil. Rekomendasi dari penelitian ini adalah agar pengambil kebijakan melaksanakan simulasi dan seminar kebencanaan secara konsisten, serta memperdalam materi tentang mitigasi bencana dalam kurikulum sekolah.
Bencana Alam dan Etika Lingkungan Hidup dalam Al-Qur’an Mustolikh Mustolikh; Dasim Budimansyah; Darsiharjo Darsiharjo; Encep Syarief Nurdin
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 6 (2022): Proceedings of Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pssh.v6i.459

Abstract

Environmental conservation has become an actual thought and issue amid the threat of various natural disasters. The environmental crisis is one of the biggest problems of this century that has an impact on the present and future inhabitants of the world. Experts have mapped out that the environmental crisis has caused various natural disasters. Whereas God has given the laws inherent in all creation, and they proceed according to sunnatullah, but if they are corrupted, they will have a negative effect. Therefore, humans around the world are constantly looking for common solutions to overcome this environmental crisis. There are about 800 verses that talk about the universe and the environment, and man is given the mandate of being the kholifatul fil ardhi with the task of maintaining and preserving the environment, so that there is a balance between nature and man. This literary research provides answers to the impact of environmental damage on humans which has been expressly explained by Allah Swt through his words collected in the Qur'an. For this reason, the analysis method used is through the study of ecological verses in the Qur'an using thematic and semantic approaches. The findings of this study are that environmental damage due to human actions has a multidimensional negative impact that is shaded not only by the perpetrators of the damage, but also felt by society in general. For this reason, several solutions, including: (1) believing that the Qur'an is the source that underlies beliefs, attitudes, and behaviors that provide a theological basis for environmental conservation; (2) increase faith and piety implemented towards awareness of the importance of the environment, and sustainable management of natural resources; and (3) apply environmental ethics to maintain ecosystem balance according to the views of the Qur'an: (a) ethics of conservation (maintaining and maintaining) the environment (al-sama wat wa al-ard wa ma bainahuma) as a whole; (b) environmental cleansing and health ethics; (c) the ethics of protecting the environment from harm; and (d) environmental management ethics.
Analysis of Students' Preparednes In Public and Private High School Students For Landslide Disaster Risk In Maja District Arie Ramadhan Pribudianto; Enok Maryani; Darsiharjo Darsiharjo
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 23, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v23i1.56185

Abstract

Disasters are the result of natural and social processes. The natural condition of an area has the potential for danger; it can appear as a natural disaster. Efforts to reduce disaster risk can be done by changing human behavior and increasing awareness and concern for preserving the environment. Changing human behavior can be done by changing the mindset and getting used to it from an early age to always care about the environment and be aware of disasters. Through disaster education in schools, it is hoped that it will be able to increase disaster preparedness. Maja District, which is in Majalengka Regency, is one of the areas that has a high risk of landslides, which can pose a hazard if the community and students around the area have low disaster preparedness. The purpose of this study was to find out how big the risk of landslides is in Maja District and to see the level of preparedness of high school students in facing the risk of landslides. The population in this study were all high school students in Maja District. The method used by researchers is a survey research method with descriptive analysis. While this research approach, uses a quantitative approach. In 2017, Maja District had 7 cases of landslides, which is the second most-cases number in Majalengka Regency. Given the large potential for landslides, the local government should have implemented an optimal disaster mitigation process as stated in Law Number 24 of 2007 concerning Disaster Management.Keywords: Student Preparedness, Disaster Risk, Landslide Disaster, Maja District
Assessing The Potential for The Development of Waterfront Recreational Area in The Coastal Area of Indramayu Regency Reza Rahmat Djunaedi Junyar; Darsiharjo; Nandi
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 6 No. 1 (2022): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jgel.v6i1.8118

Abstract

Indonesia merupakan negara maritim dengan garis pantai yang panjang. Hal ini merupakan sesuatu yang harus dimanfaatkan. Provinsi Jawa Barat secara umum mencakup dua wilayah pesisir, satu di utara dan satu di selatan, salah satunya area pesisir Indramayu yang memiliki garis pantai sepanjang 147 kilometer di wilayah utara. Dengan kondisi pariwisata Kabupaten Indramayu yang terus meningkat, khususnya di sektor wisata pantai, penerapan konsep recreational waterfront sangat relevan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pengembangan recreational waterfront di Kawasan Pesisir Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan mix method, dimulai dengan menganalisis kondisi fisik dan sosial, menganalisis tingkat kesesuaian, serta memetakan persebaran potensinya. Mengacu pada hasil penelitian, nilai kesesuaian sebagai recreational waterfront sebesar 4.316 dengan nilai maskimal lima. Berdasarkan kondisi fisik dan sosialnya, kawasan Pesisir Indramayu sudah mempunyai profil yang baik dan cocok untuk pengembangan recreational waterfront. Wilayah Pesisir Kabupaten Indramayu memiliki tingkat potensi tinggi, sedang, sangat rendah, dan tidak masuk dalam kategori apa pun. Area Sukra dan Juntinyuat berada di kategori tinggi, sedangkan Pasekan, Balongan, Indramayu berada dalam kategori sedang, area Kandanghaur berada dalam kategori sangat rendah, dan Krangkeng, Karangampel, Cantigi, Losarang dan Patrol tidak termasuk dalam kategori apapun.
Identification of Marine Landforms as a Form of Coastal Area Management in Pangandaran District Hakim, Erwin Hilman; Darsiharjo, Darsiharjo; Yani, Ahmad; Nandi, Nandi
Tunas Geografi Vol 13, No 1 (2024): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v13i1.51546

Abstract

Changes in marine landforms in coastal areas are relatively rapid and need to be analyzed to determine environmental management policies. Complex marine landforms are found in the coastal areas of Pangandaran Regency and have strong pressure to fulfill community activities, not only for local communities but also for outside communities. Basically, community activities are adapted to regional environmental conditions. The aim is to optimize the potential of natural resources and minimize environmental degradation, but in reality, this has not been fully implemented. The method used in this research is a descriptive method using a field survey approach. Marine landforms resulting from the accretion process in the Pangandaran coastal area are spit landforms, aeolian-marine sedimentation in the form of coastal dunes, fluvio-marine sedimentation in the form of estuaries and alates, organic-marine landforms and white sand beaches associated with reefs. The landforms resulting from erosion are Cliffs, notches, wave-cut platforms, stacks, and stumps. The impact of landforms resulting from sedimentation in the Pangandaran coastal area is mainly spit landforms that cover river mouths and the occurrence of flooding, puddles, and even accumulation of organic waste, landforms resulting from erosion, the impact of which is the decline of the coastline accompanied by avalanches of material towards the sea, especially on beaches that have non-resistant rocks such as sedimentary rocks and alluvial deposits. Management of the Pangandaran coastal environmental area must be carried out in an integrated manner, land buritan (hinterland), which has steep slopes and resistant rock, is designated as limited production land, and the development of the spit at the river mouth is made into a jetty, and the beach has beach cups waves with rip currents and water bathymetry. -10 meters above sea level, a wave-protecting wall must be built, and the coastal border area must be used as vegetative-based conservation land.Keywords:  Marine landforms, Coastal Management, Pangandaran
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN CIMAHI SELATAN SEBAGAI REKOMENDASI ARAHANPOLA RUANG PERMUKIMAN Susilo, Khairunnisa; Darsiharjo; Somantri, Lili; Din Haq, Harun
CREATIVE RESEARCH JOURNAL Vol 8 No 02 (2022): Creative Research Journal
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34147/crj.v8i2.308

Abstract

Peningkatan luas penggunaan lahan permukiman di Kecamatan Cimahi Selatan pada tahun 2010 sampai tahun 2019 seluas 0,5 km2 dan akan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik lahan dan mengevaluasi penggunaan lahan untuk permukiman serta memberikan rekomendasi arahan pengembangan kawasan permukiman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analytical Hierarchy Process (AHP) dan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian mendapati hasil bahwa karakteristik lahan untuk permukiman di Kecamatan Cimahi Selatan yang menjadi prioritas dalam penilaian kesesuaian lahan adalah karakteristik drainase, gerakan tanah, banjir. Lahan dengan kategori sangat sesuai (S1) seluas 10,32 km2, cukup sesuai (S2) seluas 2,5 km2, dan kategori sesuai marginal (S3) seluas 3,4 km2. Kesesuaian permukiman aktual di Kecamatan Cimahi Selatan terdapat tiga kategori kelas yaitu sangat sesuai (S1) seluas 7,661 km2, cukup sesuai (S2) seluas 1,188 km2, dan sesuai marginal (S3) seluas 1,850 km2. Sedangkan hasil analisis permukiman aktual, didapati hasil bahwa seluas 2,847 km2 atau 26,6% merupakan lahan yang tidak sesuai dengan RT RW Kota Cimahi Tahun 2012-2032. Lahan permukiman yang sesuai dengan arahan pada RT RW Kota Cimahi Tahun 2012-2032 seluas 7,852 km2 yaitu 73,4%. Hasil analisis RT RW Kota Cimahi tahun 2012-2032 dengan penggunaan lahan aktual, didapatkan hasil rekomendasi luas wilayah pengembangan permukiman sesuai dengan Pola Ruang Kota Cimahi tahun 2012 seluas 1,6223 km2. 
ANALISIS PERKEMBANGAN BENTUKLAHAN MARINE TERAPANNYA UNTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN WILAYAH PESISIR DI KABUPATEN PANGANDARAN Hakim, Erwin Hilman; Darsiharjo, Darsiharjo; Yani, Ahmad; Nandi, Nandi
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 13, No 1 (2025): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v13i1.20892

Abstract

Abstrak: Wilayah kepesisiran selatan Jawa Barat memiliki kondisi geologi dan geomorfologi serta aktivitas masyarakat yang kompleks, terlihat dari beragamnya jenis batuan, dan bentuk lahan marine seperti: cliff, tombolo, notch, spit, estuari, stump, stack, coastal dune, pasir putih berasosiasi Reeffrom. Tujuan penelitian menganalisis terhadap perubahan bentuk lahan marine relatif dinamis yang bersifat abrasi maupun akresi, analisis tersebut dapat dijadikan sebagai bahan rujukan atau referensi terhadap pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir di Kabupaten Pangandaran. Metode yang digunakan untuk menganalisis bentuk lahan marine menggunakan metode penelitian deskriptif survei, teknik pengumpulan data melalui survei lapangan, wawancara, studi dokumentasi, dan studi literatur. Analisis data dilakukan melalui pengamatan lapangan dan mengklasifikasikan perkembangan bentuk lahan abrasi atau akresi, serta pemetaan. Perkembangan bentuk lahan yang bersifat akresi di wilayah pesisir Kabupaten Pangandaran pada bentuk lahan spit dapat menutupi muara sungai berpotensi terjadinya banjir. Bentuk lahan hasil abrasi dampaknya terjadi kemunduran garis pantai yang disertai dengan longsoran. Pengelolaan lingkungan pesisir di Kabupaten Pangandaran harus dilakukan secara terintergrasi, daratan yang memiliki  ketinggian 300 – 600 mdpl dan kemiringan lereng >150 digunakan lahan konservatif, bentulahan spit yang berkembang pada muara sungai perlu dibuatkan jetty dan groin, tembok penahan gelombang pada pantai yang mengalami kemunduran, wilayah sempadan pantai digunakan sebagai lahan konvervatif berbasis vegetatif.  Abstract: The coastal area of West Java has complex geological and geomorphological conditions and community activities, seen from the variety of rock types, and marine landforms such as: cliff, Tombolo, notch, spit, estuary, stump, stack, coastal dune, white sand associated with Reefform. The purpose of the study was to analyze changes in relatively dynamic marine landforms that are abrasion and accretion, the analysis can be used as a reference material for the management and utilization of coastal areas in Pangandaran Regency. The method used to analyze marine landforms uses a descriptive survey research method, data collection techniques through field surveys, interviews, documentation studies, and literature studies. Data analysis was carried out through field observations and classifying the development of abrasion or accretion landforms, and mapping. The development of accretionary landforms in the coastal area of Pangandaran Regency on the spit landform can cover river mouths that have the potential for flooding. The impact of abrasion landforms is the decline of the coastline accompanied by landslides. Coastal environmental management in Pangandaran Regency must be carried out in an integrated manner, land with an altitude of 300 - 600 meters above sea level and a slope of >150 is used as conservative land, spit formations that develop at river mouths need to be made into jetties and groins, wave retaining walls on beaches that are receding, coastal border areas are used as vegetative-based conservative land.Keywords: Marine landform; Coastal Management; Pangandaran
Analisis Efektivitas Metode Digitasi On-Screen dan Object-Based Image Analysis (OBIA) Melalui Foto Udara dalam Pemetaan Bidang Tanah Kawasan Permukiman (Studi Kasus di Desa Ciwaruga, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat) Putri, Nandia; Darsiharjo, Darsiharjo; Sugito, Nanin Trianawati
GEOID Vol. 19 No. 1 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v19i1.1792

Abstract

esa Ciwaruga berada di wilayah suburban yang berpotensi mengakibatkan perubahan penggunaan dan kepemilikan tanah kawasan permukiman secara cepat. Kondisi ini berdampak pada upaya pemantauan kepemilikan bidang tanah permukiman yang perlu dilakukan pembaruan data bidang tanah. Proses untuk memetakan dan mengetahui letak, batas, dan luas suatu bidang tanah kawasan permukiman di atas peta tidak terlepas dari beberapa kendala. Khususnya pemetaan dengan metode direct techniques seperti terestrial ataupun survei satelit memiliki keterbatasan dan kendala dari segi teknis, waktu, biaya, dan sumber daya manusia. Kendala tersebut dapat diatasi dengan metode pemetaan indirect techniques dengan data foto udara. Metode ini dapat memetakan dan memperbarui data bidang tanah dengan lebih cepat untuk cakupan wilayah yang lebih luas. Terdapat dua metode untuk pemetaan bidang tanah menggunakan data foto udara yaitu metode digitasi on-screen dan metode object-based image analysis (OBIA). Melalui penelitian ini, akan dikaji analisis efektivitas kedua metode dalam memetakan bidang tanah kawasan permukiman menggunakan data foto udara. Analisis ini menggunakan pengujian toleransi ketelitian planimetrik luas dan jarak berdasarkan peraturan Badan Pertanahan Nasional. Toleransi kesalahan luas adalah +- 0.5  luas sebenarnya, dan toleransi kesalahan jarak adalah <= 0.3 mm pada skala peta. Berdasarkan pengujian dan perbandingan ketelitian luas dan jarak, jumlah bidang, dan bentuk bidang yang dihasilkan, dapat dikatakan bahwa pemetaan dengan metode digitasi on-screen lebih unggul dari metode object-based image analysis (OBIA). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peta bidang tanah hasil digitasi on-screen dapat dipertimbangkan menjadi peta bidang dalam sertifikat tanah, karena memenuhi toleransi kesalahan planimetrik luas dan jarak berdasarkan peraturan Badan Pertanahan Nasional.
Identification of Marine Landforms as a Form of Coastal Area Management in Pangandaran District Hakim, Erwin Hilman; Darsiharjo, Darsiharjo; Yani, Ahmad; Nandi, Nandi
Tunas Geografi Vol. 13 No. 1 (2024): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v13i1.51546

Abstract

Changes in marine landforms in coastal areas are relatively rapid and need to be analyzed to determine environmental management policies. Complex marine landforms are found in the coastal areas of Pangandaran Regency and have strong pressure to fulfill community activities, not only for local communities but also for outside communities. Basically, community activities are adapted to regional environmental conditions. The aim is to optimize the potential of natural resources and minimize environmental degradation, but in reality, this has not been fully implemented. The method used in this research is a descriptive method using a field survey approach. Marine landforms resulting from the accretion process in the Pangandaran coastal area are spit landforms, aeolian-marine sedimentation in the form of coastal dunes, fluvio-marine sedimentation in the form of estuaries and alates, organic-marine landforms and white sand beaches associated with reefs. The landforms resulting from erosion are Cliffs, notches, wave-cut platforms, stacks, and stumps. The impact of landforms resulting from sedimentation in the Pangandaran coastal area is mainly spit landforms that cover river mouths and the occurrence of flooding, puddles, and even accumulation of organic waste, landforms resulting from erosion, the impact of which is the decline of the coastline accompanied by avalanches of material towards the sea, especially on beaches that have non-resistant rocks such as sedimentary rocks and alluvial deposits. Management of the Pangandaran coastal environmental area must be carried out in an integrated manner, land buritan (hinterland), which has steep slopes and resistant rock, is designated as limited production land, and the development of the spit at the river mouth is made into a jetty, and the beach has beach cups waves with rip currents and water bathymetry. -10 meters above sea level, a wave-protecting wall must be built, and the coastal border area must be used as vegetative-based conservation land.Keywords:  Marine landforms, Coastal Management, Pangandaran