Claim Missing Document
Check
Articles

GENETIC DIVERSITY OF OLIVE RIDLEY Lepidochelys olivacea ASSOCIATED WITH CURRENT PATTERN IN CENDRAWASIH BAY, PAPUA Samsul Bahri; Agus S. Atmadipoera; Hawis H. Madduppa
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 2 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1322.338 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v9i2.19307

Abstract

Cendrawasih Bay is habitat for olive ridley (Lepidochelys olivacea) which is directly adjacent to the Pacific Ocean. The presence and the diversity of L. olivacea in Cendrawasih Bay has been threatened. Genetics can be the key to conservation because they play an important role in maintaining population and recovering from damage. This study aims to determine the genetic diversity of L. olivacea and its association to the current pattern in the waters of Cendrawasih Bay. Samples of L. olivacea (n=20) were collected in Kwatisore (n=8) and Yapen Island (n=12) in Cendrawasih Bay waters from August 2015 to December 2016. The molecular analysis was based on 791-bp fragment of D-Loop on the non-coding region gen. The current pattern analysis was performed through INDESO data and visualized by using Ferret software. Phylogenetic analysis showed that 2 groups of L. olivacea from a total of 2 haplotypes, whose population from Kwatisore was dispersed in two haplotypes, while the population from Yapen Island was only dispersed in one haplotype. Populations from Kwatisore showed higher variations than populations from Yapen Island. The current pattern analysis suggests that the two study sites, Kwatisore and Yapen islands are different. Both populations are only connected by the Northwest monsoon currents period that indicates a little geneflow between this populations. Thus causing differences variation between Kwatisore and Yapen Island populations genetically. Keywords: genetic diversity, current pattern, coral triangle, olive ridley
SHALLOW-WATER HABITAT CHANGE DETECTION OF KALEDUPA ISLAND, WAKATOBI NATIONAL PARK (WNP) FOR 14 YEARS Al Azhar Al Azhar; Ario Damar; Dietriech Geoffrey Bengen; Agus Atmadipoera
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1726.499 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.21316

Abstract

Metode penginderaan jauh sangat membantu dalam pemetaan kondisi habitat perairan dangkal secara spasial pada cakupan area yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan habitat perairan dangkal Pulau Kaledupa, Taman Nasional Wakatobi (TNW), selama 14 tahun, dari tahun 2002 hingga 2016. Data citra yang digunakan dalam penelitian ini adalah Landsat 8 OLI (2016), Landsat 5TM (2009), dan Landsat 7ETM+ (2002), yang dikombinasikan dengan data in-situ dan TNW. Klasifikasi Mahalanobis dimanfaatkan untuk memproduksi peta habitat perairan dangkal (karang hidup, karang mati, lamun, dan pasir) dan mendeteksi perubahannya. Hasil yang diperoleh bahwa perubahan yang terjadi dari tahun 2002 sampai 2016 adalah tutupan karang hidup menurun dari 2217 ha menjadi 2039 ha, tutupan karang mati juga menurun dari 3327 ha menjadi 2108 ha, luas pasir meningkat dari 1201 ha menjadi 1346 ha, area lamun naik dari 4130 ha menjadi 5294 ha. Metode ini merupakan alat analisis yang baik untuk menilai efektivitas upaya perlindungan ekosistem terumbu karang dan lamun di perairan Pulau Kaledupa, serta dapat diterapkan pada 3 pulau utama lainnya di TNW dan pulau-pulau kecil di Indonesia.
RANCANG BANGUN DAN UJI KINERJA WAVE BUOY SEBAGAI ALAT PENGUKUR TINGGI GELOMBANG PESISIR Erik Munandar; Indra Jaya; Agus S Atmadipoera
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 1 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.712 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i1.21664

Abstract

  Gelombang di laut memiliki pergerakan yang acak dan komplek, sehingga tinggi dan periode gelombang sulit untuk diukur dan dirumuskan secara akurat. Wahana terapung seperti wave buoy dengan sensor percepatan telah banyak digunakan untuk mengukur gelombang permukaan. Penelitian ini bertujuan merancang dan membuat wave buoy sederhana sebagai pengukur tinggi gelombang di perairan pantai serta menguji coba kinerja alat yang dihasilkan pada skala laboratorium dan skala lapang, sehingga alat yang dihasilkan mampu bekerja dengan baik. Hasil perhitungan terhadap dimensi atau ukuran buoy diperoleh nilai metasentrum sebesar 2,5 dimana hal ini menunjukkan bahwa wahana pelampung stabil. Selain itu, perbedaan kecepatan pada uji coba di laboratorium berhasil diperoleh gelombang yang memiliki dua frekuensi yang berbeda, dengan galat pengukuran yang diperoleh sebesar 0,01-0,07 m dengan periode yang terukur sebesar. Kinerja alat yang dilakukan di Teluk Palabuhan Ratu diperoleh beberapa tipe gelombang yang dihasilkan. Pengujian selama 24 jam diperoleh 4 periode yang signifikan yang terbagi ke dalam tiga kelompok gelombang yakni periode 1 detik, 3,37 detik kelompok gelombang angin, 1,20 jam kelompok gelombang variasi angin dan 12 jam kelompok gelombang pasang surut. Alat yang dihasilkan dapat berfungsi dengan baik mampu menyimpan data, memiliki nilai akurasi yang tinggi dapat merekam gelombang dengan periode kecil hingga periode besar.  
DISIPASI ENERGI KINETIK PASANG SURUT BAROTROPIK DAN BAROKLINIK DI LAUT SULAWESI Hadi Hermansyah; Dwiyoga Nugroho; Agus Saleh Atmadipoera; Tri Prartono; Indra Jaya; Fadli Syamsudin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1988.522 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.21793

Abstract

Laut Sulawesi merupakan salah satu jalur penting perlintasan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang memiliki energi pasang surut internal yang kuat. Arus pasang surut tinggi yang berinteraksi dengan topografi yang kasar akan menciptakan gelombang internal yang kuat. Disipasi dari pasang surut internal akan menyebabkan terjadinya percampuran yang akan memberikan efek penting untuk sistem perubahan iklim dan sumber daya laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi dinamika dan energetik gelombang internal di Laut Sulawesi dengan pendekatan pemodelan laut tiga dimensi NEMO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelombang internal dibangkitkan pada daerah Kepulauan Sulu dan Sangihe-Talaud dengan nilai konversi energi lebih dari 10-3Wm-2 dan berpropagasi masuk ke area basin Laut Sulawesi. Disipasi energi yang terjadi pada pusat pembangkitan berkisar 10,8 GW dan berpopagasi pada area dekat pusat pembangkitan dan area basin Laut Sulawesi. Sekitar 25% (5 GW) didisipasi terjadi dekat pusat pembangkitan, peningkatan disipasi energi baroklinik terjadi pada saat gelombang internal berpopagasi menjauhi daerah pusat pembangkitan dengan nilai yang bervariasi antara 1,4 sampai 4,8 GW. Daerah dengan jarak 36 km sampai 54 km terjadi penurunan disipasi energi baroklinik, signal yang kuat dari Kepulaun Sangihe-Talaud berangsur menurun pada saat propagasi dari 10-2sampai 10-3W/m2.
Pola Musiman dan Antar Tahunan Salinitas Permukaan Laut Di Perairan Utara Jawa-Madura Ahmad Najid; John I Pariwono; Dietriech G Bengen; Subhat Nurhakim; Agus S Atmadipoera
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 4, No 2 (2012): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.856 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v4i2.1383

Abstract

ABSTRACTWatermass of Java Sea is already known having a strongly connection with monsoon system in Indonesian region. Study of temperature valiability for and/or its relation to exploitation of marine and coastal resources have been done by scientists before hand. But the salinity condition is rare to studied, while the characteristic is important to the real life application. The sea surface salinity data archive, is primarily used in this study, is a monthly average within January 1994 – December 2010 by a spatial resolution of 1o x1o. Dataset of wind from ECMWF as a secondary parameter, have been monthly averages both for east-west (zonal) component and north-south (meridional) component, it is derived from 10 meters above sea level within period of January 1994 – December 2010, by a spatial resolution of 2.5o x 2.5o. Descriptive analysis have been done in order to get a complete picture of the SSS seasonal fluctuation. The results shows that SSS in Java Sea having a seasonal variability, which indicated by appearences of two SSS maximum and two SSS minimum annualy. Based on monthly average in the northern part of Java-Madura Seas, the SSS is haveing range of 32,0 PSU – 34,4 PSU. In the first transitional monsoon (Maret-April-Mei), SSS is relatively lower than others, i.e. NW monsoon, SE monsoon, and the second transitional monsoon, where it is found a core low SSS consentrated in the western part of Java Sea and also in south of Makassar strait.Keywords: Sea surface salinity, seasonal fluctuation, wind monsoon system, Java sea ABSTRAKMassa air Laut Jawa telah diketahui memiliki hubungan yang erat dengan sistem muson di Indonesia. Kajian variabilitas temperatur terhadap dan/atau keterkaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir juga telah banyak dilakukan. Sedangkan untuk kondisi salinitas belum banyak dikaji, padahal secara aplikasi adalah penting untuk diketahui karakteristiknya. Data arsip Salinitas Permukaan Laut (SSS), digunakan sebagai data primer dalam penelitian ini, merupakan rerata bulanan dari Januari 1994 – Desember 2010 dengan resolusi spasial 1o x1o. Data angin yang bersumber dari ECMWF sebagai data sekunder merupakan rerata bulanan  untuk komponen timur-barat (zonal) dan komponen utara selatan (meridional) pada ketinggian 10 meter di atas permukaan laut dari Januari 1994 – Desember 2010, dengan resolusi spasial 2,5o x 2,5o. Analisa deskriptif dilakukan untuk menghasilkan pemahaman yang komplit. Hasil kajian menunjukkan bahwa SSS di perairan Laut Jawa memilik variabilitas antar musim yang diindikasikan dengan dua puncak SSS maksimum dan dua lembah SSS minimum dalam setahun. Berdasarkan rerata bulanan pada tahun 1994 – 2010 di Laut Utara Jawa-Madura, SSS berkisar antara 32,0 PSU – 34,4 PSU. Musim peralihan I (Maret-April-Mei) SSS relatif terendah dibandingkan pada musim yang lain, yakni musim barat, musim timur, dan musim peralihan II, dimana SSS rendah terkonsentrasi di bagian timur laut Jawa, di selatan Selat Makasar.Kata kunci: salinitas permukaan laut, fluktuasi musiman, sistem angin muson, Laut Jawa
Analysis of Characteristics and Turbulent Mixing of Seawater Mass in Lombok Strait Amir Yarkhasy Yuliardi; Agus S. Atmadipoera; Gentio Harsono; Nyoman Metta N. Natih; Kentaro Ando
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.26.2.95-109

Abstract

The Lombok Strait, as one of the outlet straits, is part of the ITF route, which is directly adjacent to the Indian Ocean. There is a sill in the Lombok Strait, which is a place for internal wave generation. Leg-1 data from the Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology in collaboration with the Agency for the Assessment and Application of Technology which is part of the Tropical Ocean Climate Study Expedition including CTD Yoyo and ADCP taken using ship vehicles R/V Kaiyo. CTD Snapshot from PUSHIDROSAL using the KRI Spica 934 vehicle part of the Opssurta Baruna Jaya 2 Expedition. Determination of seawater mass stratification with the criteria for the thermocline layer is ≥ 0.05 °C.m-1. Four types of water masses were identified, Java Sea, mixed seawater mass (Java Sea - ITF) which occurred diapycnal mixing, North Pacific Subtropical Water (NPSW) and North Pacific Intermediate Water (NPIW). The seawater mass stratification in the Lombok Strait based on temperature, salinity and density which are seen to follow the internal tidal pattern. The average values for energy dissipation and vertical diffusivity for each layer and replication were 5.73 x 10-7 W.Kg-1 and 3.67 x 10-2 m2.s-1 for CTD Yoyo and 2.25 x 10-6 W.Kg-1 and 7.38 x 10-2 m2.s-1 for CTD Snapshot. The value obtained is greater than the open ocean and straits in other studies. The high shear value confirms this in the thermocline layer. The Richardson gradient value> 0.25 is relatively constant in the thermocline layer.
Distribusi Percampuran Turbulen di Perairan Selat Alor (Distribution of Turbulence Mixing in Alor Strait) Adi Purwandana; Mulia Purba; Agus S Atmadipoera
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.139 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.1.43-54

Abstract

Selat Alor merupakan kanal terdalam setelah Selat Ombai di kepulauan Alor. Kontribusinya sebagai salah satu celah keluar Arus Lintas Indonesia (Arlindo) belum banyak dikaji hingga saat ini. Selat Alor memisahkan Laut Flores dan Laut Sawu, dan memiliki sill yang tinggi di dalamnya, diduga turbulensi akibat interaksi antara aliran selat dengan topografi dasar dapat memicu percampuran dan memodifikasi properti massa air yang melaluinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi transformasi massa air yang melalui Selat Alor dan mengkaji kemungkinan percampuran di dalam selat berdasarkan estimasi sesaat properti percampuran, yakni percampuran turbulen menggunakan metode skala Thorpe. Penurunan CTD dilakukan di 15 stasiun di perairan Selat Alor. Diperoleh hasil bahwa kontur kedalaman yang menghubungkan Laut Flores dengan Laut Sawu adalah ~300 m pada kanal utama. Salinitas maksimum massa air Subtropis Pasifik Utara (NPSW) dar i Laut Flores di Selat Alor banyak mengalami reduksi akibat intensifnya percampuran yang diduga dipicu oleh topografi dasar dan aliran selat yang menghasilkan turbulensi. Lapisan salinitas maksimum Massa Air Subtropis Samudera Hindia Utara (NISW) pada σθ = 23,5-24,5 terdeteksi di bagian selatan selat (Laut sawu). Jejak massa air NISW menurun dan banyak tereduksi mendekati pintu selatan selat. Intrusi Massa Air Lapisan Menengah Samudera Hindia Utara (NIIW) juga dijumpai di lapisan bawah Laut Sawu, konsisten dengan profil arus pada lapisan bawah. Rata-rata nilai difusivitas vertikal eddy (Kρ)  di Selat Alor bagian utara memiliki orde of 10-3 m2 s-1, dan di bagian selatan memiliki orde bervariasi, 10-6-10-4 m2 s-1. Penyempitan celah Selat Alor diduga merupakan pemicu turbulensi tinggi aliran yang berkontribusi pada tingginya nilai difusivitas vertikal. Kata kunci: Arlindo, percampuran turbulen, difusivitas vertikal, Selat Alor Alor Strait is the deepest channel in Alor islands after Ombai Strait. Contribution of the strait as one of the secondary exit passages of Indonesian Throughflow (ITF) has not been studied yet. The strait separates Flores Sea and Sawu Sea, and is featured by the existence of high sill within the strait, suggested that turbulence due to interaction between strait flow and bottom topography could drive mixing and then modify the water mass properties. The purpose of this study is to investigate transformation of ITF water mass and turbulent mixing process with Thorpe scale method. A hydrographic survey has been carried out in July 2011, in which 15 CTD casts were lowered in the strait. The results show that Alor sill depth is about 300 ms in the main gate. Maximum salinity of NPSW from Flores Sea within Alor Strait is significantly reduced due to strong mixing, perhaps driven by bottom topography and strait flow which creates turbulence. NISW (Northern Indian Subtropical Water) with maximum salinity layer at σθ = 23,5-24,5 is dominant in the southern part of Alor Strait (i.e. Sawu Sea). The existence of NIIW (North Indian Intermediate Water) is also found in the deeper layer of Sawu Sea. The average value of vertical eddy diffussivity (Kρ) estimate in the thermocline layer and deep layer in northern part and central part of strait channel is within the order of 10-3 m2 s-1. Lower order of Kρ in the thermocline layer and deep layer were found in southern part of the Strait (Sawu Sea), ranging from 10-6 to 10-4 m2 s-1. These indicate that the existence of sills in the northern part and central part of Alor Strait could drive mixing significantly. Narrowing passage of Alor Strait probably contribute to the high value of vertical eddy diffusivity due to highly turbulence flow. Keywords: Indonesian Throughflow (ITF), turbulent mixing, vertical diffussivity, Alor Strait
Current Structure and Spatial Variation of Indonesian Throughflow in Makassar Strait Under Ewin 2013 (Struktur Arus dan Variasi Spasial Arlindo di Selat Makassar dari Ewin 2013) Selfrida Missmar Horhoruw; Agus Saleh Atmadipoera; Mulia Purba; Adi Purwandana
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1118.092 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.2.87-100

Abstract

Selat Makassar (SM) merupakan pintu masuk utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo) membawa transport Arlindo sekitar 75% dari total 15 Sv.  Pengukuran mooring arus di Kanal Labani telah dilakukan sejak tahun 1996, namun pengukuran hidrografi yang mencakup seluruh kawasan SM jarang dilakukan. Kontur selat yang berupa kanal dengan keragaman batimetri sangat mempengaruhi karakteristik massa air yang bergerak di dalamnya sehingga diperlukan penelitian mencakup seluruh kawasan SM. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji variasi spasial dan struktur arus dan massa air Arlindo di kawasan SM dari hasil ekspedisi EWIN Juni 2013. Data hidrografi yang digunakan terdiri dari 29 casts CTD yang tersebar di kawasan SM dan data arus di kedalaman 0-125 m dari shipboard ADCP sepanjang lintasan survei. Hasil penelitian menunjukkan Arlindo Makassar dicirikan arus jet kuat intensif di kedalaman termoklin (75-125 m), dimana pola alirannya mengarah ke selatan sampai barat daya di pintu masuk utara SM. Arus ini berlanjut sampai mendekati lintang 2°LS, yang selanjutnya arah alirannya berubah ke tenggara menyusuri lereng dangkalan Kalimantan yang mengarah ke Kanal Labani.  Arus jet berubah ke arah selatan sampai tenggara di kanal ini dan menjadi lebih kuat. Sirkulasi di sisi tepi barat laut SM terbentuk pusaran arus searah jarum jam. Stratifikasi massa air Arlindo Makassar didominasi massa air Pasifik Utara, yaitu North Pacific Subtropical Water (NPSW) di kedalaman termoklin dan North Pacific Intermediate Water (NPIW) di bawah termoklin. Terdapat variasi spasial massa air NPSW dan NPIW, dimana semakin kearah selatan nilai salinitas maksimum (minimum) NPSW (NPIW) semakin berkurang sekitar 0.03 psu. Ketebalan lapisan termoklin sisi timur selat lebih besar sehingga distribusi vertikal massa air Pasifik Utara tersebut cenderung lebih kuat di sisi timur sehingga ditemukan intensifikasi Arlindo ke arah barat Selat Makassar.
Percampuran Turbulen Di Laut Sulawesi Menggunakan Estimasi Thorpe Analisis Hadi Hermansyah; Agus Saleh Atmadipoera; Tri Prartono; Indra Jaya; Fadli Syamsudin
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 2 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i2.7352

Abstract

Dissipation of internal tides will cause mixing, The mixing process at sea plays a key role in controlling large-scale circulation and ocean energy distribution. The purpose of this research was to estimate the turbulent mixing values  (vertical eddy diffusivity) of water mass using Thorpe analysis. The results showed that the  location where strong mixing occurred in the “near-field” area around Sangihe Island with vertical diffusivity value . Even in areas far-field(far from the generating site) are found vertical diffusivity , the result of internal propagation tides dissipation. Based on the result of the observation, it shows that the level of kinetic energy of eddy turbulen dissipation (ε) in the Sulawesi Sea on all layers has an average value of . The value of ε in the thermocline layer is greatest  compared to the mixed surface layer and the almost homogeneous deep layer, the increase in mixing in the area near the ridge due to the closer water column to the base topography. The average turbulent rate of , the strongest fluctuation of value occurs in the thermocline layer, ranging from  to  with an average of about . The value of this turbulent mixing is higher than the previous measurements in some Indonesian ocean. This is allegedly due to the existence of a strong internal tidal energy and its interaction with topography in the Sulawesi Sea.Disipasi dari pasang surut internal akan menyebabkan terjadinya percampuran, proses percampuran di laut memainkan peran kunci dalam mengendalikan sirkulasi skala besar dan distribusi energi lautan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengestimasi nilai percampuran turbulen (difusivitas eddy vertikal) massa air dengan analisis Thorpe. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa percampuran yang kuat terjadi di area sekitar Pulau Sangihe-Talaud dengan nilai difusivitas vertikal . Bahkan pada area yang jauh dari pusat pembangkitan ditemukan difusivitas vertikal , hasil disipasi propagasi pasang surut internal. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukan bahwa rata-rata tingkat energi kinetik disipasi turbulen eddy  Laut Sulawesi pada semua lapisan adalah . Nilai  di lapisan termoklin paling besar  dibandingkan dengan lapisan permukaan tercampur dan lapisan dalam yang hampir homogen, peningkatan percampuran di daerah dekat ridge disebabkan makin mendekatnya kolom air dengan topografi dasar. Rata-rata nilai percampuran turbulen sebesar , fluktuasi nilai yang paling kuat terjadi di lapisan termoklin, yang berkisar yaitu antara  sampai  dengan rerata sekitar . Nilai percampuran turbulen ini lebih tinggi dibandingkan dengan pengukuran sebelumnya di beberapa perairan Indonesia. Hal ini diduga karena adanya energi pasang surut internal yang kuat serta interaksinya dengan topografi yang ada di Laut Sulawesi.
REKAM SEDIMEN INTI UNTUK MEMPERKIRAKAN PERUBAHAN LINGKUNGAN DI PERAIRAN LERENG KANGEAN Yani Permanawati; Tri Prartono; Agus Saleh Atmadipoera; Rina Zuraida; Yuanpin Chang
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3960.359 KB) | DOI: 10.32693/jgk.14.2.2016.347

Abstract

Sedimen inti dianalisis secara vertikal untuk memprediksi perubahan lingkungan saat sedimen terendapkan. Perairan segitiga Laut Jawa-Selat Makassar-Laut Flores (JMF) dilalui jalur arus lintas Indonesia/ARLINDO. Distribusi aliran ARLINDO yang masuk ke Selat Makassar terbagi dua arah aliran karena adanya Ambang Dewakang. Satu mengalir ke arah Tenggara melalui Laut Flores, sementara itu aliran lainnya bergerak ke arah Baratdaya menuju Selat Lombok melalui Laut Jawa. Penelitian ini menganalisis sedimen inti dari perairan Laut Jawa yang diwakili oleh Lereng Kangean. Metode penelitian menggunakan metode non-destructive yaitu pengamatan megaskopis dan pemindaian, dan metode destructive yaitu pencuplikan sistematis menggunakan 2 cm setiap interval 4 cm. Hasil cluster menunjukkan proses pengendapan tampak relatif seragam (88-0 cm) dari analisis sembilan variabel, antara lain: ukuran butir (mean) antara lempung–pasir sangat halus, kecerahan sedimen (L*) sekitar 40,14-44,17, kerentanan magnet (Magnetik Susceptibility/MS) sekitar 13,60-116,70, karbonat biogenik (BC) dari pengamatan mikroskopis sekitar 3-10%, karbonat sekitar 17,36-50,17%, Total Organic Carbon (TOC) sekitar 0,76-2,01%, C/N sekitar 9,11-13,57, ln K/Ti sekitar 0,58-1,09, dan ln Mn/Cl sekitar -4,97- -4,24. Interpretasi karakter sedimen dari hasil deskriptif Principal Component Analysis/PCA menunjukkan penciri utama/F1 sebesar 28,10% dicirikan oleh pengaruh kuat dari variabel MS, ln K/Ti, dan ln Mn/Cl, menggambarkan karakter sedimen dengan pengaruh yang kuat dari daratan. Kata kunci: analisis vertikal, perubahan lingkungan, arus lintas Indonesia, karakter sedimen, penciri utamaA core sediment was vertically analyzed to predict environmental changes of the sediments deposition. Triangle waters of Java Sea-Makassar Strait-Flores Sea (JMF) are traversed by the Indonesian Throughflow or ARLINDO. Distribution of  ARLINDO splited by morphological condition of the Dewakang Sill : Southeast ward of the Flores Sea and Southwest ward of the Lombok Strait through the Java Sea. The purpose of this study is to elaborate characteristics of the Kangean Slope’s core sediment corresponding to the Java Sea. The research method using non-destructive such as megaskopis and scanning method, and destructive such as sampling method which used 2 cm every interval 4 cm.  The cluster analysis showed that deposition process seemed of one kind (88-0 cm) by nine variables. They are : main of grain size between clay to lower very fine sand, lightness sediment (L*) about 40,14-44,17,  Magnetic Susceptibility (MS) about 13,60-116,70, biogenic carbonate (BC) by microscopic observation about 3-10%, carbonate about 17,36-50,17%, Total Organic Carbon (TOC) about 0,76-2,01%, C/N ratio about 9,11-13,57, ln K / Ti about 0,58-1,09, and  ln Mn / Cl about -4,97- -4,24. Sediment character by Principal Component Analysis/PCA showed principle component/F1 as 28,10% indicated Magnetic Susceptibility (MS) and ln K/Ti and ln Mn/Cl were the main character of the Kangean Slope’s sediment and suggested to very strong influence from mainland.Keywords:    vertically analysis, environmental changes, Indonesian throughflow, sediment character, principle component
Co-Authors . Apriansyah . Zairion Adi Purwandana Adi Purwandana Adi Purwandana Adi Purwandana Adi Purwandana Ahmad Najid Al Azhar Al Azhar Alan Frendy Koropitan Amalia, Febrianti Amir Yarkhasy Yuliardi Ariane Koch-Larrouy Ario Damar Asha Aulia Zahara Budy Wiryawan Catur Purwanto, Catur Christanti, Vera D Manurung Dadang Handoko Damanik, Adrianus Darmawan, Aldo Darmiati Dietriech Geoffrey Bengen Domu Simbolon Donwill Panggabean Dwi Y. Nugroho Dwiyoga Nugroho Dwiyoga Nugroho Edi Kusmanto Endang Hilmi Fadli Syamsudin Fadli Syamsudin Fadlt Syamsudin Firdaus, Randi Galang L. Mubaraq Gentio Harsono Gentio Harsono Gentio Harsono Giu, La Ode M. Gunawan Hadi Hermansyah Hadi Hermansyah Hascaryo, Anom Puji Hawis H Madduppa Henry Munandar Manik Herwi Rahmawitri Husnul Khatimah Husnul Khatimah I Wayan Nurjaya I Wayan Nurjaya I Wayan Sumardana Eka Putra Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Isnaini Prihatiningsih Jasmine, Agitha S. Johar Setiyadi John I Pariwono John I. Pariwono Kadarwan Soewardi Kentaro Ando Koko ondara Koko Ondara, Koko Kuswardani, Anastasia R.T.D. Lilik Kartika Sari Luky Adrianto M. Fedi A. Sondita M.Rizal Keulana Marlin C Wattimena Mohammad Mukhlis Kamal Mohammad Tri Hartanto Mohd. Fadzil Akhir Monintja, Daniel Rudolph Oktavianus Muhammad Syahdan Mulia Purba Mulia Purba Mulia Purba Mulia Purba Mulia Purba Mulia Purba Mulyono S. Baskoro Munandar, Erik Nabil Nabil Balbeid Nabil Nabil, Nabil Najid, Ahmad Nugroho, Dwiyoga Nyoman M N Natih Paradita Hasanah Priska Widyastuti Purwandana , Adi Putra, Andry Purnama Putra, I Wayan Sumardana Eka Rina Zuraida Rina Zuraida Rina Zuraida RR. Ella Evrita Hestiandari Samsul Bahri Selfrida M. Horhoruw Selfrida Missmar Horhoruw Situmorang, Edriyan Sri Agustina Sri Agustina, Sri Sri Suryo Sukoraharjo Sri Yudawati Cahyarini Subhat Nurhakim Supartono Supartono Syahrul Purnawan Syahrul Purnawan Taufan Wiguna, Taufan Tournier, Nicolas Tri Prartono Ulung Jantama Wisha Ulung Jantama Wisha Undang Hernawan, Undang Vogel, Hendrik Widodo Setiyo Pranowo Yani Permanawati Yuanpin Chang Yuli Naulita Yuli Naulita Yulianto Suteja Yuwono, Fareza Sasongko