Claim Missing Document
Check
Articles

Significant Wave Height Forecasting using Long-Short Term Memory (LSTM) in Seribu Island Waters Khatimah, Husnul; Jaya, Indra; Atmadipoera, Agus Saleh
IJCCS (Indonesian Journal of Computing and Cybernetics Systems) Vol 18, No 2 (2024): April
Publisher : IndoCEISS in colaboration with Universitas Gadjah Mada, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijccs.95044

Abstract

Wind waves are natural phenomena primarily generated by the wind. Information about wave height and period is highly crucial in various marine fields such as coastal engineering, fisheries, and maritime transportation. However, accurately predicting wave height remains a challenge due to the stochastic nature of ocean waves themselves. Several approaches to predicting wave height have been developed, including numerical models and machine learning methods, such as the Long-Short Term Memory (LSTM) algorithm, which has currently garnered significant attention from researchers. The objective of this research is to develop a forecast model for wind wave height using the LSTM algorithm in Seibu Island Waters, DKI Jakarta. The ERA5 dataset comprises zonal and meridional wind components and significant wave height, along with wind measurement data using the Automatic Weather System (AWS) instrument, are used to train and test to train and test the LSTM model. The research results show that the LSTM model can predict significant wave height effectively. Predictions using the ERA5 significant height dataset are observed to be closer to field data, with RMSE, MAE, and MAPE values of 0.1535 m, 0.1181 m, and 37.11% respectively. Thus, the model evaluation results indicate good performance, with relatively low RMSE and MAE values, and a good MAPE value. The highest accuracy in significant wave height prediction is found for forecasts one week (7 days) ahead
FISHING GROUND DAN POLA DISTRIBUSI SPASIAL TEMPORAL IKAN PELAGIS KECIL DI JMF TRIANGLE Panggabean, Donwill; Wiryawan, Budy; Monintja, Daniel Rudolph Oktavianus; Jaya, Indra; Atmadipoera, Agus Saleh
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.3.2023.147-162

Abstract

Potensi perikanan pelagis di JMF triangle (Java sea-Makassar strait-Flores sea) salah satu yang terbesar di Indonesia, untuk itu perlu didukung informasi akurat mengenai lokasi fishing ground dan pola distribusinya agar stakeholder perikanan dapat mengelola dan memanfaatkan lebih baik. Penelitian ini bertujuan memetakan fishing ground dan pola distribusi ikan pelagis kecil di JMF triangle. Data yang digunakan: 1) hasil tangkapan yang didaratkan di pelabuhan perikanan Pekalongan, Paotere dan Batu Licin; 2) citra satelit AQUA-MODIS dan SNPP-VIIRS. Analisis klorofil-a dan SPL menggunakan ArcGis, uji korelasi dan regresi sederhana untuk mengetahui hubungan sebaran ikan pelagis kecil dengan SPL dan klorofil-a, selanjutnya dipertajam dengan teknik overlay untuk menentukan pola sebaran. Informasi disajikan dalam peta tematik spasial-temporal dan info grafis. Hasil penelitian menunjukkan tangkapan ikan pelagis kecil menurut jumlahnya adalah Layang dengan total 77.288,16 ton (54,48 %), Lemuru 32.612,77 ton (22,99 %), Banyar 25.339,36 ton (17,86 %), dan Bentong 6.619,22 ton (4,67 %). Pola distribusi pada Musim Barat menunjukkan ikan pelagis kecil tersebar dengan konsentrasi tinggi di Lumu-lumu, Matasiri dan Aura yang didominasi Layang dan Lemuru, pada Musim Peralihan I masih tersebar dengan konsentrasi tinggi di Lumu-lumu dan Aura yang didominasi Lemuru, pada Musim Timur tersebar dengan konsentrasi tinggi di Matasiri yang didominasi Layang, dan pada Musim Peralihan II masih tersebar dengan konsentrasi tinggi di Matasiri dengan dominasi Layang. Lokasi fishing ground di JMF triangle tergambar dari lokasi yang paling tinggi sebaran ikan dan yang paling dominan menghasilkan tangkapan, yaitu Matasiri, Lumu-lumu dan Aura.
Karakteristik Proses Pendangkalan Gelombang Soliter Internal di Sisi Utara Perairan Laut Flores Putra, I Wayan Sumardana Eka; Atmadipoera, Agus Saleh; Manik, Henry Munandar; Harsono, Gentio; Purwandana, Adi
Jurnal Kelautan Nasional Vol 19, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v19i2.14049

Abstract

Kemunculan Gelombang Soliter Internal (GSI) di Laut Flores sering kali tertangkap oleh citra satelit dengan pusat pembangkitan yang berasal dari Selat Ombai. Namun, belum ada penelitian yang mengungkap secara detail nasib fenomena tersebut sesaat setelah dibangkitan. Karakteristik GSI tersebut diselidiki berdasarkan kemunculannya pada Synthetic Aperture Radar (SAR) dan citra kolom air (Water Coloum Imaging-WCI) peralatan akustik hidrografi (multibeams echosounders-MBES) saat kegiatan Ekspedisi Jala Citra (EJC) 3-2023 di Perairan Flores pada tanggal 25 April 2023. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa dan mengungkapkan nasib perambatan GSI dari Selat Ombai hingga mengalami pendangkalan dan pemecahan di perairan Teluk Bone, Sulawesi. Metode dalam penelitian ini adalah menggunakan data hasil perekaman citra satelit dan peralatan akustik hidrografi (MBES). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Perairan Teluk Bone dikarekteristikan sebagai lokasi propagasi, pendangkalan dan pemecahan yang berasal dari pembangkitan GSI di Selat Ombai. Nilai amplitudo GSI yang mengalamai pendangkalan di Teluk Bone dikarakterisasi berubah menjadi 4-10 kali lebih kecil dari pusat pembangkitan GSI (Selat Ombai) akibat perubahan kedalaman dan memecah akibat menabrak dinding tebing/lereng topografi dasar laut dan diduga berubah menjadi boluses. Karakteritik massa air saat kenampakan GSI di Laut Flores tanggal 25 April 2023 di dominasi oleh massa air Samudera Pasifik yang terbawa oleh Arlindo dari Selat Makassar. Kemunculan GSI juga merubah struktur kolom air yaitu suhu, salinitas dan densitas yang merupakan faktor penting dalam propagasi akustik serta berimplikasi terhadap proses kegiatan maritim di Perairan Indonesia.
RESPONSE OF SEA SURFACE TEMPERATURE (SST) AND CHLOROPHYLL-A ON MADDEN JULIAN OSCILLATION (MJO) IN INDONESIAN SEAS Nabil; Atmadipoera, Agus Saleh; Koropitan, Alan Frendy
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 7 No. 2 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.47 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v7i2.11035

Abstract

Madden-Julian Oscillation (MJO) is a large-scale phenomenon that occurs in equatorial area, parti-cularly Indonesia. This research aimed to investigate the MJO propagation process and studied the correlation between MJO and sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a. Sea variables (SST and chlorophyll-a) and atmosphere variables (outgoing longwave radiation/OLR, 1,5 km wind, and surface wind) were band-pass filtered for 20-100 days period. Spectral density from OLR and 1,5 km wind (2003-2012) shows that the MJO period was dominantly occurred for 40–50 days. Average pro-pagation of  MJO velocity resulted from the atmospheric variable analysis by Hovmöller diagram was 4,7 m/s. Cross correlation between SST and OLR in South Java and Banda Sea results a strong corre-lation during MJO active phase, where MJO took  place first and was then followed by the decreasing SST along the equatorial region. Increasing chlorophyll-a concentration occured at some areas du-ring MJO active phase with relatively short phase delay. During the MJO active phase, fluctuation of wind velocity generates variation over mixed layer depth and triggers upwelling /entrainment. Nutri-ent was upwelled to the water surface and hence increase phytoplankton production and chlorophyll-a concentration. Keywords: Madden Julian Oscillation, OLR, sea surface temperature, surface chlorophyll-a
UPWELLING INFLUENCE ON ENVIRONMENTAL CHANGE AND SEDIMENTATION DYNAMICS FROM TRACE FOSSILS IN THE MOLUCCA SEA: IMPLICATIONS FOR SEDIMENT DATING Wiguna, Taufan; Zuraida, Rina; Atmadipoera, Agus Saleh; Yuwono, Fareza Sasongko; Hernawan, Undang; Christanti, Vera; Tournier, Nicolas; Damanik, Adrianus; Vogel, Hendrik; Cahyarini, Sri Yudawati
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 40, No 1 (2025)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.40.1.2025.896

Abstract

Bioturbation, the alteration of sediment layers by organism activities, plays a crucial role in shaping sedimentary environments. This process affects nutrient cycling, sediment stability, and habitat health, particularly in marine ecosystems like the Molucca Sea. Bioturbation can complicate age determination by disrupting the natural layering of sediments and potentially altering chronological records, which challenges the accuracy of dating methods. This study investigates bioturbation patterns and Zr/Rb ratios in sediment cores from the Molucca Sea to better understand past environmental conditions and assess the suitability of these sediments for age determination. Sediment samples were collected using a box corer from BUDEE22-29BC (within the upwelling region) and BUDEE22-57BC (outside the upwelling area). The cores were analyzed using CT scanning to identify bioturbation features, and the Bioturbation Index (BI) was applied to evaluate the intensity and impact of bioturbation on sediment dynamics. The Zr/Rb ratios were determined using an X-ray fluorescence (XRF) spectrometer, providing insights into grain size distribution. The results suggest the potential shifting of the upwelling center (BUDEE22-29BC) and variations in upwelling intensity (BUDEE22-57BC). Although Zr/Rb ratio shows that BUDEE22-29BC is a high-energy environment, as opposed to BUDEE22-57BC, both sites retain chronological integrity, making them suitable for paleoenvironmental and geochronological analysis.
Shoreline Changes for 20 Years (2001-2021) and 2041 Predictions and Adaptation of Coastal Communities Amalia, Febrianti; Zairion, Zairion; Atmadipoera, Agus Saleh
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 12 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jstundiksha.v12i1.53107

Abstract

Perubahan garis pantai di pesisir Semarang terus meningkat sehingga menyebabkan abrasi dan akresi serta banjir rob setiap tahunnya. Selama dua dekade terakhir terjadi kerusakan pantai yang mengakibatkan ekosistem utama di wilayah pesisir Semarang kehilangan perannya dalam menjaga kestabilan garis pantai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai selama tahun 2001-2021 dan memprediksi perubahan garis pantai dalam 20 tahun mendatang serta alternatif adaptasi masyarakat pesisirnya di Semarang. Metode analisis yang digunakan adalah DSAS 5.0 dengan pendekatan statistik End Point Rate untuk perubahan garis pantai, sedangkan untuk tahun 2041 menggunakan analisis Linier Regretion Rate. Wawancara dan observasi langsung dilakukan untuk mengetahui adaptasi masyarakat pesisir dengan target responden adalah masyarakat yang terkena perubahan garis pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2001-2021 Kota Semarang telah mengalami abrasi sekitar 10,31 m/tahun dan akresi sebesar 20,95 m/tahun. Prediksi pada tahun 2041 abrasi dan akresi sedikit menurun, masing-masing sekitar 10,15 m/tahun dan 19,69 m/tahun. Usulan strategi adaptasi yang digunakan untuk perubahan di masa mendatang yaitu Protektif dan Akomodatif. Kombinasi kedua strategi tersebut dapat menghasilkan kinerja yang sinergis, menghemat biaya dan meningkatkan kesiapsiagaan.  
Oceanographic Characteristics in the Three International Indonesian Archipelago Sea Lanes (IASLs) Region: Implications for Underwater Acoustics System Putra, I Wayan Sumardana Eka; Atmadipoera, Agus Saleh; Manik, Henry Munandar; Harsono, Gentio; Purwandana , Adi
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2025): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v17i2.56045

Abstract

Graphical Abstract Highlight Research The IASL-1 entry portal in the southern and northern regions shows the emergent SOFAR channels. The shadow zone and the existence of a SOFAR deep sound channel in the IASL-2 and IASL-3 routes can be triggered by the emergent “saddle” SVP pattern.  The variability seasonally and interannually due to variations in seawater properties stratification plays an important role in SOFAR channel appearances in IASLs. The diverse oceanographic characteristics of IASLs necessitate the implementation of sustainable marine geospatial data. Abstract Indonesian Maritime Continent (IMC) is responsible for the three international sea lanes, known as Indonesian Archipelago Sea Lanes (IASLs), which allowed ships to navigate across territorial waters between Pacific and Indian Oceans and vice versa. Gaining knowledge about the distinct oceanographic characteristics of the three IASLs can offer valuable insight into maritime safety and sustainable marine resource management. Therefore, this research aims to review oceanographic characteristics in IASLs regions from available previous research to provide a comprehensive insight into the processes and dynamical oceanography in IASLs region as well as determine the implications for underwater acoustic patterns. The results showed that IASL-1 route is characterized by a shallow shelf passage with homogeneous sound velocity profile (SVP), which has a deep and narrow entry portal in the southern and northern Sound Fixing and Ranging Channel (SOFAR) channels. Seasonal reversal monsoonal wind-driven current dominates the circulation. IASL-2 and IASL-3 routes transported a deep and narrow passage with complexity of seaair interactions that vary on seasonal and interannual time scales. These IASLs were established with the saddle SVP, which trigger the shadow zone and the existence of SOFAR deep sound channel with seasonal and interannual variations in seawater properties stratification. The diverse oceanographic characteristics discussed significantly influence the underwater object detection equipment, the planning time, and the strategies for underwater defense systems. Due to the implications, it is necessary to use marine geospatial database, which may be adopted to facilitate policy-making, providing approximations for marine activities and management along IASLs.
Using Pollution Index to determine water quality in Banda Aceh waters, Indonesia ondara, Koko; Wisha, Ulung Jantama; Agustina, Sri; Atmadipoera, Agus saleh; Purnawan, Syahrul
Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan Vol 17, No 1 (2022): Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan (June, 2022)
Publisher : Chemical Engineering Department, Syiah Kuala University, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23955/rkl.v17i1.25155

Abstract

The northern waters of Banda Aceh are connected with the Indian Ocean, the Andaman Sea, and the Malacca Strait, thus making the study of water quality parameters in this region is important for enviromental management. In this study, water quality parameters are measured spatially and then continued with assessing the pollution index. The results can be helpful for development planning and coastal pollution mitigation in Banda Aceh. The data was collected from 21 seawater samples from 11 stations representing the water of Banda Aceh on 10-11 September 2019. VanDorn bottles were used to store the seawater samples for laboratory analysis. Several parameters such as temperature, salinity, and pH were measured in situ, while other parameters were tested in the laboratory. Most heavy metal parameters showed values below the minimal and maximal value limit detection of the instrument, indicating a small potential for heavy metal contamination. However, the pollution index (PI) indicates the potential for water pollution dominated by nitrate and phosphate with a value that exceeds the water quality standard. The indications are shown from the high aquaculture and anthropogenic activities around the coast of Banda Aceh.
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DI WILAYAH PANTAI BARAT KABUPATEN TANAH LAUT KALIMANTAN SELATAN Darmiati; Nurjaya, I Wayan; Atmadipoera, Agus S.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.166 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v12i1.22815

Abstract

Perubahan garis pantai merupakan proses yang terjadi akibat adanya pengaruh dari kondisi pantai dalam mencapai keseimbangan terhadap dampak yang terjadi dari faktor alami dan kegiatan manusia. Secara geografis, wilayah pesisir pantai Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan mencakup dua wilayah yang berada di tepi barat dan tepi selatan. Secara fisik wilayah ini dipengaruhi oleh dinamika oseanografi dari perairan Laut Jawa serta aliran Sungai Barito yang bervariasi secara musiman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai di wilayah pesisir Pantai Barat Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Data yang digunakan adalah citra Landsat 8 tahun 2016 untuk menggambarkan kondisi terkini dan citra Landsat 7 tahun 2003 sebagai kondisi awal. Citra tersebut dianalisis untuk dipetakan perubahan garis pantai yang mengalami akresi atau abrasi. Hasil penelitan menunjukkan bahwa garis pantai wilayah studi mengalami perubahan, dimana sebagian telah mengalami abrasi dan sebagian garis pantai telah mengalami akresi. Secara keseluruhan garis pantai wilayah Pantai Barat Kabupaten Tanah Laut dominan mengalami akresi dibandingkan abrasi karena adanya proses sedimentasi tinggi dari sungai Barito. Tetapi, di segmen garis pantai sel 3 dan 4 telah mengalami abrasi, meskipun area ini dekat dengan estuari Sungai Barito.
KARAKTERISTIK UPWELLING DI PERAIRAN SELATAN JAWA PADA TAHUN STRONG LA NINA 2010 DAN SUPER EL NINO 2015 Atmadipoera, Agus S.; Jasmine, Agitha S.; Purba, Mulia; Kuswardani, Anastasia R.T.D.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1154.577 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v12i1.28977

Abstract

Upwelling pantai musiman di perairan Selatan Jawa diduga dapat dimodulasi oleh variabilitas antar-tahunan laut-atmosfer El Nino Southern Oscillation (ENSO). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan karakteristik upwelling musiman selama kejadian La Nina 2010 dan El Nino 2015, berdasarkan multi-dataset dari keluaran model INDESO dan dari data satelit. Karakteristik yang berbeda dari upwelling musiman terlihat jelas. Di La Nina, variabel laut-atmosfer permukaan jauh lebih rendah daripada yang diamati di El Nino, kecuali untuk tingkat curah hujan, suhu permukaan laut, dan tinggi permukaan laut. Di La Nina, air laut yang lebih hangat (27-28°C) dan lebih tawar (<33,80psu) mendominasi di atas lapisan kedalaman 45m, yang menahan air dingin upwelling tetap di bawah permukaan. Sebaliknya, di El Nino, air bawah permukaan naik secara drastis dari isoterm 25-26°C dan isohalin dari 34,24-34,44psu tersingkapkan di permukaan laut. Indeks upwelling berbasis suhu adalah -2°C dan +4°C, menunjukkan ENSO telah sangat memodulasi intensitas upwelling. Arus Pantai Selatan Jawa (SJCC) yang kuat mengalir kearah timur hanya ditemukan pada kejadian La Nina. Aliran Arlindo yang persisten di selatan 9,5°S terlihat pada ENSO berbeda. Perkiraan angkutan Ekman yang diturunkan dari model arus meridional telah diintervensi secara kuat oleh kehadiran SJCC dan Arlindo.
Co-Authors . Apriansyah . Zairion Adi Purwandana Adi Purwandana Adi Purwandana Adi Purwandana Adi Purwandana Ahmad Najid Al Azhar Al Azhar Alan Frendy Koropitan Amalia, Febrianti Amir Yarkhasy Yuliardi Ariane Koch-Larrouy Ario Damar Asha Aulia Zahara Budy Wiryawan Catur Purwanto, Catur Christanti, Vera D Manurung Dadang Handoko Damanik, Adrianus Darmawan, Aldo Darmiati Dietriech Geoffrey Bengen Domu Simbolon Donwill Panggabean Dwi Y. Nugroho Dwiyoga Nugroho Dwiyoga Nugroho Edi Kusmanto Endang Hilmi Fadli Syamsudin Fadli Syamsudin Fadlt Syamsudin Firdaus, Randi Galang L. Mubaraq Gentio Harsono Gentio Harsono Gentio Harsono Giu, La Ode M. Gunawan Hadi Hermansyah Hadi Hermansyah Hascaryo, Anom Puji Hawis H Madduppa Henry Munandar Manik Herwi Rahmawitri Husnul Khatimah Husnul Khatimah I Wayan Nurjaya I Wayan Nurjaya I Wayan Sumardana Eka Putra Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Isnaini Prihatiningsih Jasmine, Agitha S. Johar Setiyadi John I Pariwono John I. Pariwono Kadarwan Soewardi Kentaro Ando Koko ondara Koko Ondara, Koko Kuswardani, Anastasia R.T.D. Lilik Kartika Sari Luky Adrianto M. Fedi A. Sondita M.Rizal Keulana Marlin C Wattimena Mohammad Mukhlis Kamal Mohammad Tri Hartanto Mohd. Fadzil Akhir Monintja, Daniel Rudolph Oktavianus Muhammad Syahdan Mulia Purba Mulia Purba Mulia Purba Mulia Purba Mulia Purba Mulia Purba Mulyono S. Baskoro Munandar, Erik Nabil Nabil Balbeid Nabil Nabil, Nabil Najid, Ahmad Nugroho, Dwiyoga Nyoman M N Natih Paradita Hasanah Priska Widyastuti Purwandana , Adi Putra, Andry Purnama Putra, I Wayan Sumardana Eka Rina Zuraida Rina Zuraida Rina Zuraida RR. Ella Evrita Hestiandari Samsul Bahri Selfrida M. Horhoruw Selfrida Missmar Horhoruw Situmorang, Edriyan Sri Agustina Sri Agustina, Sri Sri Suryo Sukoraharjo Sri Yudawati Cahyarini Subhat Nurhakim Supartono Supartono Syahrul Purnawan Syahrul Purnawan Taufan Wiguna, Taufan Tournier, Nicolas Tri Prartono Ulung Jantama Wisha Ulung Jantama Wisha Undang Hernawan, Undang Vogel, Hendrik Widodo Setiyo Pranowo Yani Permanawati Yuanpin Chang Yuli Naulita Yuli Naulita Yulianto Suteja Yuwono, Fareza Sasongko