Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

STRATEGY FOR THE DEVELOPMENT OF VANILLA (Vanilla planifolia) FARMING IN THE KALAITI FARMER GROUP, KELAISI TENGAH VILLAGE, SOUTH ALOR DISTRICT, ALOR REGENCY Maulaling, Yudhi Ariston; Hendrik, Ernantje; Chamdra, Santhy; Pellokila, Marthen Robinson
Buletin Ilmiah Impas Vol 26 No 3 (2025): Volume: 26 No.: 3 November Edition 2025
Publisher : Undana Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/impas.v26i3.28330

Abstract

This study was conducted in the Kalaiti Farmer Group, Kelaisi Tengah Village, South Alor District, Alor Regency, from November to December 2024. The objectives of this study were to describe vanilla farming in the Kalaiti Farmer Group, identify the internal and external factors related to vanilla farming, and formulate development strategies for vanilla farming in the study area. The study used descriptive qualitative and quantitative approaches. The respondents for internal-factor analysis consisted of 26 vanilla farmers selected using a census technique, while the external-factor respondents consisted of five key informants, namely village government representatives, an agricultural extension worker, and traders. Data were analyzed using IFAS, EFAS, and SWOT matrices. The results showed that the main internal strengths were skilled and experienced human resources, good road and transportation access, sound production-process planning, and complete farming equipment. The main weaknesses were limited production land, low use of social media for promotion, persistent pest and disease problems, and production dependence on weather conditions. External opportunities included relatively high vanilla prices, community participation and mutual cooperation, supportive government permits and regulations, and a relatively suitable production climate. External threats consisted of limited working capital, production security risks, limited extension support, and insufficient government assistance in the distribution of fertilizers and pesticides. The SWOT position was in Quadrant I, indicating an aggressive strategy. Therefore, vanilla farming development should prioritize SO strategies by maximizing existing strengths to exploit market and institutional opportunities.
PELATIHAN PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI KERIPIK PARE: PENDEKATAN AKUNTANSI BIAYA PADA KELOMPOK WANITA TANI KANAAN DESA MANUSAK KECAMATAN KUPANG TIMUR KABUPATEN KUPANG Maria Bano; Santhy Chamdra; Bayu Mahendra; Maximilian M.J. Kapa
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.37164

Abstract

Artikel ini membahas pelatihan perhitungan harga pokok produksi keripik pare sebagai makanan siap saji dari pare (Momordica charantia). Keripik pare merupakan makanan ringan yang mulai banyak diminati karena manfaatnya bagi kesehatan. Dalam rangka memastikan kelayakan usaha, penting untuk mendalami perhitungan harga pokok produksi secar. Pelatihan ini menggunakan pendekatan akuntansi biaya, meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead. Hasil Pelatihan ini berdampak pada peningkatan pemahaman terkait biaya yang harus ditanggung dalam proses pengolahan hingga produksi keripik pare serta implikasinya terhadap penentuan harga jual.
ANALISIS PENGARUH ANTARA INDEKS HARGA KONSUMEN (IHK) DAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Arlindo Johanes Kami; Doppy Roy Nendissa; Santhy Chamdra
PRIMA EKSAKTA Vol 3 No 2 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/pe.v3i2.8938

Abstract

Perubahan harga barang dan jasa yang tercermin dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) dapat memengaruhi daya beli rumah tangga petani dan kesejahteraan petani yang diukur melalui Nilai Tukar Petani (NTP). Penelitian ini bertujuan menganalisis tren IHK dan NTP serta menguji pengaruh IHK terhadap NTP di Provinsi Nusa Tenggara Timur selama periode 2020–2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan asosiatif. Data yang digunakan berupa data sekunder bulanan IHK dan NTP yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. Analisis data dilakukan melalui statistik deskriptif, analisis tren, korelasi Pearson, regresi linier sederhana, serta uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NTP cenderung meningkat meskipun mengalami fluktuasi, sedangkan IHK meningkat hingga tahun 2023 dan relatif stabil pada tahun 2024. Hasil korelasi menunjukkan hubungan positif yang sangat lemah antara IHK dan NTP dengan koefisien korelasi sebesar 0,183. Namun, hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik dengan nilai signifikansi sebesar 0,166 (>0,05). Nilai koefisien determinasi sebesar 0,033 menunjukkan bahwa IHK hanya menjelaskan 3,3% variasi NTP. Dengan demikian, IHK belum berpengaruh signifikan terhadap NTP di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Perubahan NTP diduga lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lain, seperti harga komoditas pertanian, biaya produksi, kondisi cuaca, distribusi, dan kebijakan pertanian.
ALLOCATIVE EFFICIENCY AS A MANAGERIAL INNOVATION FOR SUSTAINABLE RICE PRODUCTIVITY IN KUPANG REGENCY Ayu Fitriani; Santhy Chamdra; Putri Manno Raga
SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 23, No 1 (2026): FEBRUARY
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/sepa.v23i1.114530

Abstract

Productivity in lowland rice farming within dryland archipelagic regions is often constrained by imprecise input management rather than a lack of technology. Farmers in Kupang Regency typically employ conventional intensification by increasing fertilizer inputs without considering marginal efficiency, leading to cost escalation. This study aims to deconstruct the structure of input usage, analyze allocative inefficiency, and formulate strategies for managerial redesign. A survey was conducted on 80 rice farmers in Noelbaki Village, Central Kupang District, selected using Proportional Random Sampling. Data were analyzed using the Cobb-Douglas production function and the ratio of Marginal Value Product (MVP) to input price. The findings reveal a significant efficiency gap: seeds have an elasticity of 0.418 but are underutilized, while fertilizers have an elasticity of 0.499 but are overutilized. The scale of operation is at decreasing return to scale (0.967). This study recommends reallocating budgets from fertilizer expenditure to high-quality seeds and strengthening farmers' financial literacy as managerial innovations to achieve economic sustainability and food security in East Nusa Tenggara
FAKTOR-FAKTOR PENENTU PRODUKSI BAWANG MERAH DI KECAMATAN ROTE BARAT DAYA KABUPATEN ROTE NDAO Viviyati Messakh; Doppy Roy Nendissa; Santhy Chamdra
PRIMA EKSAKTA Vol 3 No 2 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/pe.v3i2.8971

Abstract

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan dan bernilai ekonomi tinggi di Kabupaten Rote Ndao, namun produksinya masih berfluktuasi dan belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi bawang merah serta menentukan faktor yang paling dominan berpengaruh di Kecamatan Rote Barat Daya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga selesai tahun 2026 dengan menggunakan metode deskriptif verifikatif. Sampel penelitian berjumlah 42 petani bawang merah yang diambil secara acak sederhana dari populasi sebanyak 168 orang. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial seluruh variabel bebas yaitu luas lahan, jumlah benih, tenaga kerja, penggunaan pupuk, dan pengalaman usahatani berpengaruh signifikan terhadap produksi bawang merah (nilai signifikansi < 0,05). Secara simultan kelima variabel tersebut juga berpengaruh signifikan dengan nilai F hitung sebesar 2,820 dan nilai signifikansi 0,030. Faktor yang paling dominan berpengaruh adalah luas lahan dengan nilai koefisien beta sebesar 0,502. Nilai koefisien determinasi Adjusted R² sebesar 0,182 menunjukkan bahwa 18,2% variasi produksi bawang merah dapat dijelaskan oleh kelima variabel tersebut, sedangkan sisanya 81,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
DISPARITAS HARGA KOMODITAS CABAI RAWIT DI KOTA KUPANG PADA PERIODE SEBELUM, SAAT, DAN SETELAH PANDEMI COVID-19 Afrin Melania Mari; Doppy Roy Nendissa; Santhy Chamdra
PRIMA EKSAKTA Vol 3 No 2 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/pe.v3i2.8984

Abstract

Harga cabai rawit di indonesia sering mengalami fluktuasi tajam karena sifatnya mudah rusak dan sangat bergantung pada musim serta distribusi. Pandemi COVID-19 menambah tekanan pada rantai pasok pangan dan memperbesar ketidakstabilan harga, Penelitian ini bertujuan menganalisis mengukur tingkat disparitas harga, menganalisis tingkat disparitas harga dan membandingkan disparitas harga cabai rawit di kota kupang pada periode sebelum, saat, dan setelah pandemic COVID-19. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif komparatif. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi atas data harga cabai rawit bulanan periode Januari 2018 sampai Desember 2025, dengan total 96 observasi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa rata-rata, nilai minimum, nilai maksimum, rentang harga, dan standar deviasi, serta koefisien variasi untuk mengukur tingkat fluktuasi harga antarperiode. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata harga meningkat dari Rp36.868,75/kg sebelum COVID-19 menjadi Rp40.076,39/kg saat COVID-19, dan Rp50.188,89/kg setelah COVID-19. Koefisien variasi tertinggi terjadi saat COVID-19 sebesar 47,92 persen, sedangkan setelah COVID-19 sebesar 38,25 persen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pandemi COVID-19 berkaitan dengan naiknya ketidakstabilan harga, tetapi disparitas harga tetap tinggi setelah pandemi akibat faktor struktural seperti pasokan, distribusi, dan musim panen. Temuan ini menjadi dasar bagi perumusan kebijakan stabilisasi harga pangan daerah yang berkelanjutan.
INCOME ANALYSIS OF WATER SWEETENER FARMING IN PENKASE - OELETA VILLAGE, ALAK DISTRICT, KUPANG CITY (CASE STUDY OF EL LABORA FARMING GROUP) Matelda Febiati Olivia Ello; Santhy Chamdra; Bayu Mahendra
Buletin Ilmiah Impas Vol 27 No 1 (2026): Volume: 27 No.: 1 April Edition 2026
Publisher : Undana Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/impas.v27i1.28679

Abstract

This research has been conducted at the El Labora Farmers Group in Penkase - Oeleta Village, Alak District, Kupang City from April 2025 until completion. The purpose of this study was to determine the income of kale farming in the El Labora Farmers Group in Penkase - Oeleta Village, Alak District, Kupang City to find out the feasibility of kale farming in the El Labora Farmers Group in Penkase - Oeleta Village. The research location is Penkase - Oeleta Village, Alak District, Kupang City, which was done intentionally because the location is one of the centers of kale production. The determination of respondents in this study was carried out saturated, meaning that all members of the population were used as respondents. In this case, the population in question is kale farmers who are members of the El Labora Farmers Group in Penkase - Oeleta Village, Alak District, Kupang City, which totals 20 people. The results of the study showed that the average income of kale farmers was Rp. 221. 771 per month. The feasibility of water spinach farming in the El Labora Farmers Group in Penkase-Oeleta Village is indicated by the R/C ratio of 1.80. This value means that every Rp1.00 spent can generate revenue of Rp1.80. Thus, water spinach farming is declared feasible because it provides benefits to farmers.
STRATEGI PEMASARAN BAWANG MERAH DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI DI DESA OEHANDI, KECAMATAN ROTE BARAT DAYA, KABUPATEN ROTE NDAO Nelin Afita Adu; Charles Kapioru; Santhy Chamdra
Journal Education and Government Wiyata Vol 4 No 3 (2026): Agustus 2026
Publisher : Yayasan Panca Bakti Wiyata Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71128/e-gov.v4i3.463

Abstract

Marketing plays a significant role in determining the success of shallot farming because it directly affects farmers' income. Shallot farmers in Oehandi Village face several challenges, including unstable market prices, limited market access, weak digital promotion, and inadequate packaging practices that reduce product value. This study aims to analyze the internal and external factors affecting shallot marketing and formulate appropriate marketing strategies to improve farmers' income. The research was conducted in Oehandi Village, Southwest Rote District, Rote Ndao Regency using a survey method. Respondents consisted of 40 shallot farmers and 6 traders selected through purposive and saturated sampling techniques. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation. The analysis employed Internal Factor Analysis Summary (IFAS), External Factor Analysis Summary (EFAS), and SWOT analysis. The results indicate that the main strengths include high-quality products, suitable agro-climatic conditions, competitive prices, and the initial adoption of social media for promotion. The main weaknesses are limited capital, inadequate storage facilities, low utilization of digital technology, and short product shelf life. Opportunities include increasing market demand, digital marketing development, processed product diversification, and higher prices during supply shortages. Meanwhile, threats consist of price fluctuations, climate change, increasing competition, and limited market access. SWOT analysis places the business in Quadrant I, indicating a growth-oriented strategy. Recommended strategies include improving product quality, strengthening farmer institutions, expanding digital marketing, developing value-added products, and broadening market networks. These strategies are expected to enhance competitiveness and sustainably increase farmers' income.
ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L) DI KECAMATAN ROTE BARAT DAYA KABUPATEN ROTE NDAO Jekob Adrian Ndaong; Charles Kapioru; Santhy Chamdra
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 6 (2026): Desember
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i6.3135

Abstract

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berperan penting dalam meningkatkan pendapatan petani. Meskipun demikian, tingginya biaya produksi serta fluktuasi harga jual menyebabkan tingkat keuntungan usahatani bawang merah menjadi tidak pasti. Penelitian ini bertujuan menganalisis pendapatan serta kelayakan finansial usahatani bawang merah di Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao. Penelitian dilaksanakan pada Februari–April 2026 menggunakan metode survei terhadap 173 petani yang dipilih dengan teknik proportional purposive sampling dari populasi sebanyak 1.153 petani. Data dianalisis menggunakan analisis biaya, penerimaan, pendapatan, Break Even Point (BEP), dan Revenue Cost Ratio (R/C Ratio). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi petani sebesar 1.345 kg per musim tanam dengan harga jual rata-rata Rp20.618/kg. Rata-rata penerimaan mencapai Rp27.731.210 per petani per musim tanam. Nilai Break Even Point produksi sebesar 667 kg dan Break Even Point harga sebesar Rp10.232/kg, sedangkan nilai R/C Ratio Rp2,01 lebih besar dari satu. Hasil tersebut menunjukkan bahwa produksi dan harga jual aktual telah berada di atas titik impas sehingga usahatani bawang merah di Kecamatan Rote Barat Daya layak secara finansial untuk dikembangkan. Peningkatan efisiensi penggunaan input produksi serta penguatan sistem pemasaran diperlukan untuk meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi risiko akibat fluktuasi harga.