Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Kepemimpinan Transformatif dalam Perubahan Sosial era Demokrasi di Kota Jayapura Abisay Rollo; Avelinus Lefaan; Ferry R. P. P. Sitorus; Sugeng Bayu Wahyono
JURNAL EKOLOGI BIROKRASI Vol 13 No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Doktor Ilmu Sosial Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/jeb.v13i3.5328

Abstract

This study examines the role of transformational leadership in encouraging social participation and shaping the dynamics of social change in the democratic era, particularly within the community of Jayapura City. Transformational leadership is recognized as a leadership model that inspires followers, encourages active participation, and strengthens collective commitment toward shared goals. In democratic governance, this leadership approach is important because it facilitates collaboration between leaders and communities in addressing social challenges and promoting sustainable development. This research employs a qualitative case study approach to explore how transformational leadership influences community participation and social transformation in a multicultural urban society. Data were collected through field research methods, including in-depth interviews, observation, and document analysis, and were analyzed using descriptive qualitative techniques. The findings indicate that transformational leadership significantly strengthens social participation by fostering trust, encouraging dialogue, and empowering citizens to engage in community development initiatives. Leaders who adopt transformational practices are able to mobilize collective action and build social capital, thereby enhancing civic engagement and cooperation among diverse social groups. Moreover, transformational leadership plays a strategic role in managing social change by promoting inclusive governance, encouraging innovation, and strengthening community resilience amid social and political transformation. In the context of Jayapura City, the interaction between visionary leadership and community participation creates a dynamic environment that supports democratic development and social cohesion. Therefore, transformational leadership can be regarded as an important factor in facilitating constructive social change and strengthening participatory governance in contemporary democratic societies.
Partisipasi Masyarakat dalam Program Percepatan Penurunan Stunting di Kampung Yoka Distrik Heram Kota Jayapura Alosius Karubaba; Avelinus Lefaan; Ferry R. P. P. Sitorus
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 9 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia (Issue in Progress)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i9.3795

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya prevalensi stunting di Kota Jayapura, khususnya di Kampung Yoka, Distrik Heram, yang mengindikasikan bahwa keberhasilan Program Percepatan Penurunan Stunting tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat. Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi kondisi stunting di Kampung Yoka, bentuk partisipasi masyarakat dalam program percepatan penurunan stunting, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat partisipasi tersebut. Penelitian ini menggunakan teori partisipasi masyarakat dari Cohen dan Uphoff, Ndraha, serta tangga partisipasi Arnstein untuk menganalisis keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan program. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap sembilan informan yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas tenaga kesehatan, kader posyandu, ibu hamil, ibu balita, aparat kampung, dan penyuluh KB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunting di Kampung Yoka dipengaruhi oleh faktor multidimensional, seperti rendahnya pengetahuan gizi, keterbatasan ekonomi, pola konsumsi tradisional, serta akses layanan kesehatan yang belum optimal. Partisipasi masyarakat terlihat dalam bentuk kehadiran pada kegiatan posyandu, penyuluhan gizi, gotong royong, dukungan tokoh adat dan agama, serta kerja sama dengan aparat kampung, meskipun tingkat keterlibatannya belum merata. Faktor pendukung partisipasi meliputi budaya gotong royong, dukungan tokoh masyarakat, ketersediaan pangan lokal, dan keberadaan program pemerintah, sedangkan faktor penghambat meliputi rendahnya pengetahuan gizi, keterbatasan ekonomi, kebiasaan budaya tertentu, dan kesibukan masyarakat. Pembahasan menunjukkan bahwa modal sosial dan budaya lokal berperan strategis dalam memperkuat partisipasi masyarakat dan menentukan keberhasilan program percepatan penurunan stunting. Oleh karena itu, disarankan agar pemerintah dan pemangku kepentingan meningkatkan edukasi gizi berbasis budaya lokal, memperkuat peran posyandu dan kader, serta mendorong kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan partisipasi masyarakat secara berkelanjutan dalam upaya percepatan penurunan stunting.